Bab 1

Langit mendadak berubah kelabu.

Langit pasti akan menangis.

“Ah, hujan akan datang, ya?” guman Alia sembari melihat langit dari jendela kamar tidur lalu mendengar suara mobil masuk ke garasi. Wanita itu hanya mematung berdiri di jendala melihat sang suami baru saja keluar dari mobil. Tidak ada pancaran kebahagian dari raut wajahnya ketika suami pulang bekerja. Hanya terdengar suara helaan napas. “Mungkin ini waktu yang tepat untuk bertanya padanya,” batin Alia gundah.

Fahmi sebagai suami Alia tersenyum sumringah setelah membuka pintu kamar, melangkah lambat, dan mendekati istrinya, melingkarkan tangan di perut ramping Alia. “Hei sayang. Aku pulang,” bisiknya tepat di telinga Alia. “Aku merindukanmu. Jadi pulang lebih awal,” imbuhnya sembari mencium leher Alia.

Alia tak menanggapi ucapan Fahmi. Dia menunduk melihat tangan Fahmi yang bergerak agresif di perutnya. Perut Alia mulai melilit nyeri, bersama dengan perasaan gelisah, bimbang, dan takut pikiran negatif itu benar-benar sesuai dugaan. Rasanya semakin tak nyaman. Apa mungkin Alia belum sanggup mengajukan pertanya pada Fahmi?

“Sayang. Kok diam, sih?” tanya Fahmi dibuat heran. “Apa kamu tak senang aku pulang cepat?”

Memang, Fahmi setiap hari pulang telat dan baru pertama kali dia pulang bekerja lebih awal.

Alia melepaskan tangan Fahmi yang melingkar di perutnya. Dia membalikkan badan, menghadap Fahmi.  Alia terpaku di tempat, membeku tak bergerak, mengerjabkan sepasang matanya sekali. “Apa benar kamu selingkuh, Mas?” Pertanyaan yang sejak kemarin Alia tahan akhirnya terlontar juga.

Fahmi  membuka mata lebar-lebar sehingga bola matanya terlihat besar. Tentu saja, Fahmi sangat terkejut dengan pertanyaan Alia yang secara tiba-tiba. “Sweetheart, kenapa kamu bertanya seperti itu?” Fahmi bertanya balik untuk menutupi rasa keterkejutan.

Reaksi Fahmi tercengang.

“Sekarang katakan padaku dengan sejujur-jujurnya,” perintah Alia.

“Alia ... dengarkan aku! A-ku sama sekali tidak ....”

“Stop! Jangan berusaha untuk membohongiku,” potong Alia.

“Aku nggak bohong!”

“Oh ya?!” Alia mengambil ponselnya dengan cepat. “Liat! Jelaskan Ini foto apa, Mas?!” Alia menyodorkan ponselnya dengan kasar.

Fahmi mengusap wajahnya dengan kasar, matanya sudah panik sejak tadi. “Ini ... ini tidak seperti yang kamu liat,” elak Fahmi menunduk kepala, tak berani menatap mata Alia.

Alia tersenyum sinis.  “Kamu masih mengelak?”

Kepala Fahmi terangkat, memberanikan diri menatap wajah Alia yang sudah memerah. “Ini semua nggak benar, Alia. Aku bisa menjelaskan ... dengarkan aku dulu.”

Alia tidak tahan mendengar kebohongan Fahmi, tangannya menarik paksa kerah kemeja Fahmi dan memandang wajahnya secara dekat dengan tatapan begitu tajam. “You fucked her?” tanya Alia dengan nada penuh penekanan. “Kamu menidurinya?” ulang Alia.

Fahmi melototkan mata setelah mendengar pertanyaan Alia. “What? Fucked her?” Lelaki itu menggeleng. “Aku sama sekali tidak menidurinya!”

“Really?!” Senyuman sinis dari Alia membuat Fahmi mengangguk ragu.

Alia tertawa pelan suaminya terus berbohong. Tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya.

“APA SIH KURANGNYA AKU HAH?! SAMPAI KAMU MENDUAKANKU DENGAN WANITA LAIN!”

Suara Alia semakin meninggi. Melampiaskan segala perasaan saat itu juga.

Fahmi menepis tangan Alia dengan kasar. “Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik. Tak perlu berteriak seperti itu,” pinta Fahmi.

“Okay. Fine.” Alia menurut. Menyilangkan kedua tangannya di bawah dada. Alia sedang berada dipuncak emosinya. Dia mengatur napas untuk berusaha tenang.

Hening beberapa saat.

“Ini yang pertama. Kalau memang iya kamu berselingkuh, akan aku berikan kesempatan kedua.” Suara Alia tidak setinggi tadi, sekarang lebih terdengar serak, menahan tangis. Sangat berat untuk mengatakan, lebih tepatnya takut dengan jawaban dari lelaki yang dia cintai selama ini. Lelaki yang belum lama menikahi dirinya, pernikahan baru berjalan tiga bulan.

Hati Fahmi mulai lunak. Ada perasaan bersalah pada Alia. “I'm so sorry, Alia.”

Permintaan maaf yang tidak ada artinya bagi Alia.

“Aku hanya butuh jawaban jujur dan pasti, Mas!” desak Alia. “Tidak membutuhkan permintaan maaf darimu.”

Beberapa menit kemudian Fahmi membuka mulut. “Aku memang berselingkuh,” jawab Fahmi dengan jujur. Menunduk kepala secara perlahan, memainkan jemarinya. “Tapi aku sama sekali tidak menidurinya, Li. Percayalah.”

Perselingkuhan satu bulan ini terjaga kerahasiaan, akhirnya terbongkar. Seperti kata, 'sepandai pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga, serapih apapun bangkai ditutupi tetap saja bau busuk akan menyebar kemana-mana, dan begitupun kebenaran akan muncul ke permukaan dengan jalan yang terdengar sama sekali tidak terduga.'

Untuk sepersekian detik di sana, Alia bungkam. Mata terasa begitu panas setelah mendengar jawaban Fahmi. Wanita itu membukam mulutnya dengan sekuat tenaga agar tidak menangis, tetapi tetap saja dia menangis dengan bersamaan air hujan yang mulai turun.

Keduanya bungkam seribu bahasa, telinga mereka sama-sama mendengar rintik yang mengetuk di luar jendela disusul luapan hujan yang turun dengan deras.

Benar bukan?

Langitnya benar-benar menangis.

“Aku minta maaf, Alia,” ungkap Fahmi dengan rasa bersalah. “Aku benar-benar minta maaf padamu.”

“Berhentilah untuk meminta maaf.” Permintaan maaf tidak akan menyembuhkan luka hati Alia. “Kenapa kamu melakukan itu?”

Alia berusaha mengendalikan diri walaupun susah untuk menghirup oksigen, dan menahan tangis agar tidak pecah. Dia tahu suaminya berselingkuh setelah mendapatkan pesan dari orang misterius. Ternyata benar, terjawab sudah. “Kenapa kamu menduakanku?”

Fahmi  menggeleng. Tidak bisa menjawab pertanyaan Alia. “Aku sayang kamu, Li. Aku tidak akan mengulangi lagi. Sungguh!”

Membela diri setelah hal bodoh dilakukan. Tampaknya Fahmi ingin memeluk Alia, tapi diurungkan. Mungkin lelaki itu merasa tak pantas setelah apa yang dilakukan kepada istrinya.

Sial! Benar-benar sialan!

Hati Alia mulai meradang. Pengakuan itu membuat hatinya terluka. Selama ini Alia menaruh kepercayaan suaminya, namun dikhianati.

Tidak ada penjelasan detail dari Fahmi. Alia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan. Dia memutar badannya ‘tuk menatap hujan yang turun. Menggigit bibir bawah sembari menahan amarah, kesedihan, dan rasa sesak di dada. Bulir-bulir nestapa langit tampak benar-benar menumpahkan segala keluh kesahnya.

Bab 2

Alia menegakkan tubuhnya di kursi dan memalingkan pandangan. Sudah pukul sepuluh malam. Kendati di luar nampak gelap gurita, tidak ada bulan yang bersinar di langit, dan beberapa rumah gelap mungkin lampu sudah telah dimatikan. Tubuh Alia terduduk tenang terlihat sedikit membungkuk sebab kelelahan. Secangkir kopi di atas meja telah tandas, kopi itu untuk menghilangkan rasa kantuk. Dua jam lebih Alia habiskan untuk menonton film The Medium sembari menunggu kepulangan sang suami.

Sudah menonton film The Medium? Menceritakan  tentang warisan seorang dukun yang merasuki sebuah keluarga di Isan, daerah terpencil di Thailand. Warga di tempat yakin apabila roh jahat dapat hadir dan masuk ke dalam tubuh dukun pada upacara tertentu. Alia hanya bisa mengatakan film ini gila, sangat menakjubkan. Tapi ada efek traumatis setelah menonton, karena banyak adegan ritual pemujaan, balok, penghafalan mantra, dan mistik.

Setelah selesai menonton, wanita itu terdiam. Sejenak memutuskan konsentrasi dari layar laptop, dia memutar kursi menghadap jendela lalu bungkam seribu bahasa saat mendengar suara rintik air hujan yang mengetuk di luar jendala. Di luar sedang hujan turun dengan deras. Pikiran Alia langsung tertuju pada Fahmi. Sebenarnya Alia percaya saja bahwa Fahmi sedang lembur bekerja di rumah sakit, tapi Fahmi masuk shift pagi. Seharusnya suaminya pulang lebih awal.

Sudah biasa menunggu Fahmi pulang, jadi tak mengherankan lagi. Alia kemudian meloloskan hela napas berat, bangkit, melangkah lambat menuju jendela dan melebarkan tirai yang tadinya terbuka hanya sedikit, sekarang dia bisa mengintip keluar. Alia berdiri sambil memperhatikan air hujan yang turun.

Ah, Alia tidak menyukai hujan malam ini.

“Aku benci hujan,” lirih Alia dengan perasaan tak tenang sama sekali. Sejenak membuat Alia terkesiap saat sepenggal memori melintas cepat di dalam kepala, tatkala Fahmi pernah berkata padanya, “Itu hanya kecelakaan. Aku sayang kamu, Li. Aku tidak akan mengulangi lagi.”

Ah, bullshits!

Itu perkataan dari Fahmi saat mengakui dirinya telah berselingkuh dengan dokter salah satu dokter wanita di tempat kerjanya.

Sebelumnya Alia percaya saja, tapi semakin membuat hati dan pikiran menjadi kacau saat mendapati pesan dari seseorang, orang itu mengirimkan foto yang diambil secara diam-diam, foto postur badan Fahmi sedang berjalan bersama wanita. Alia tak bisa membayangkan jika suaminya sedang bercengkrama bersama selingkuhannya, saling menatap, berjalan berdampingan, dan berpegangan tangan. Damn! Membayangkan saja membuat hatinya sakit sekali, apalagi melihat secara langsung. Ingin rasanya Alia mendatangi mereka berdua saat ketahuan selingkuh dan bila perlu membabi buta di sana.

Muak!

Frustasi sudah.

Bagaimana caranya agar Fahmi kembali kepelukkan Alia dan meninggalkan wanita itu?

Saking terpikirkan hubungan mereka berdua hingga membuat Alia tanpa disadari meneteskan air mata. Kepalanya sakit. Semuanya terasa sakit. Badai di sini masih tetap gaduh. Berisik. Gemuruh. Mirip seperti hatinya. Sakit seperti tertusuk ribuan panah. Sialan! Alia benci perasaan seperti ini.

***

Memang indah masa-masa baru menikah, menjadi penganti baru dan diperlakukan layaknya ratu. Alia mencintai Fahmi, sangat mencintai. Kalau Fahmi terus bermain di belakang Alia, mungkin saja Alia meminta berpisah, daripada terus-terusan sakit hati. Akan Alia ceritakan sepenggal kisah bersama Fahmi. Keduanya bertemu saat di Universitas dan menjalin hubungan dekat. Tepat tiga bulan yang lalu, Fahmi menikahi Alia berdasarkan cinta. Satu hari usai pesta dan resepsi pernikahan selesai, sikap Fahmi sangat manis dan romantis, menjadikan Alia merasa wanita paling beruntung.

Pagi itu keduanya baru saja bangun dari tidur.

“Alia, kita buat panggilan khusus, yuk!” ucap Fahmi membuat Alia mengerutkan  kening tak mengerti.

“Panggilan khusus?” Kepala Alia terasa pening dan matanya silau karena cahaya matahari menerobos ventilasi kamar tidur.

Fahmi mengangguk antusiasme dan duduk bersila di ranjang. “Iya. Panggilan khusus aku buat kamu, dan kamu buat aku,” jawabnya. “Kamu mau, ‘kan?”

“Kenapa harus ada panggilan khusus?” tanya Alia sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang belum lengkap mengenakan busana. Dalam hati dia berkata, “Bukannya terlalu alay dan lebay kalau ada panggilan khusus? Itu memalukan.”

“Biar romantis dong,” tutur Fahmi. “Kalau begitu, Aku panggil kamu sweetheart, dan kamu panggil aku My lord,” lanjutnya, dengan manis mencium pipi Alia.

Tanpa disadari pipi Alia merah merona, antara malu dan sebal. Bagaimana tidak sebal? Fahmi menciumnya tanpa permintaan izin darinya, mencuri namanya! Malu? Tentu saja, panggilan khusus itu ternyata tak alay dan tak lebay seperti pikiran Alia tadi, melainkan itu sangat romantis.

“Apa-apaan coba,” dumel Alia. “Kok menciumku tanpa seizin dariku, huh?”

Fahmi tertawa ngikik. “Gemes banget sih, sweetheart.” Fahmi memajukan tubuhnya ‘tuk mencubit pipi cubby Alia karena saking gemesnya. “Seneng  deh, punya istri kayak kamu.”

Alia tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya menarik sudut bibir, matanya memperhatikan Fahmi tengah memeluk dirinya dengan gembira. Ah, Fahmi tampan sekali di mata Alia. Baru pertama kali ini melihat wajah dan rambut berantakan membuat terkesan sexy. “Seharusnya aku ... aku menjadi wanita paling beruntung mendapatkanmu, My lord,” jerit Alia dalam hati.

“Kenapa kamu memilihku?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Alia.

“Karena kamu begitu spesial di mataku, sweetheart,” jawab Fahmi cepat tanpa keraguan. “Lalu kenapa kamu mau menjadi istriku?” Fahmi bertanya balik dengan ekspresi penuh penasaran.

Alia menutup bibirnya, tak menjawab. Entah ... dirinya juga tidak tahu mau menikah dengan Fahmi. Jika ditanya, apakah dia mencintai Fahmi? Tentu saja sangat mencintai, namun sejujurnya ada tidak kenyakinan dan takut pernikahan ini akan berakhir dengan perpisahan. Alia takut ditinggalkan, Alia takut menjadi kepribadian seperti dulu lagi. Dingin, cuek, dan anti sosial.

“Aku mau mandi,” ujar Alia tak menjawab pertanyaan Fahmi.

“Aku ikut!”

Alia menaikan satu alisnya. “Ngapain ikut?”

“Ayo, kita mandi bareng.”

“Dasar suami mesum!”

Itu hanya kenangan Alia tiga bulan lalu. Sikap Fahmi yang dulu romantis, manja, dan sekarang berubah.

Bab 3

Pukul lima pagi Alia sudah terjaga dari tidurnya. Wanita itu selalu ingat dengan perkataan ibunya, dia harus terbiasa bangun pagi setelah menikah. Alia menurunkan kedua kaki jenjangnya dari ranjang, melakukan pergerakan tubuh sebentar, dan menarik napas panjang lalu dihembuskan, ibaratnya menikmati udara di pagi. Kepalanya menoleh ke samping, mendapati Fahmi sedang tertidur pulas. Terlihat dari raut wajahnya nampak kelelahan.

Alia termenung, sejak terungkap suaminya berselingkuh. Ada yang aneh, Fahmi benar-benar tidak menginginkan dirinya disetiap malam, dan malam-malam selanjutnya. Alia tidak pernah lagi meminta sentuhan dari Fahmi, karena akan dibuat merasa harga dirinya terinjak.

Apa Alia sama sekali tidak lagi membuat gairah Fahmi terusik?

Ah, memikirkan hal itu membuat Alia sakit hati.

Semalam Alia menunggu Fahmi pulang, namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri. Alia pun ketiduran. Sudahlah, sekarang lupakan kejadian tadi malam. Sekarang waktunya mandi, membuat sarapan, dan bersiap untuk bekerja karena dirinya masuk shift pagi. Alia bekerja di rumah sakit sebagai perawat  di bagian Perinatologi, sedangkan Fahmi dokter obgyn. Namun berbeda rumah sakit, keduanya tidak bekerja di rumah sakit yang sama. Jika mereka bekerja berada dalam rumah sakit yang sama, mungkin Alia akan mengetahui, siapa wanita yang menjadi orang ketiga di rumah tangganya. Masih menjadi misteri, karena Alia sudah mencari tahu wanita itu, tak mendapatkan informasi apapun.

“Jam berapa sekarang?”

Alia berjingkat kaget saat mendengar pertanyaan khas orang baru bangun tidur. Astaga! Hampir saja jarinya teriris oleh pisau, dia tadi sedang mengiris bawang merah. Dia sedang berada di dapur untuk membuat sarapan. Alia memutar balik badannya. Di sana Fahmi berdiri dengan mata mengantuk dan nyawa masih belum terkumpul.

“Masih jam tujuh, Mas,” jawab Alia setelah melihat ke arah jam dinding.

Mata Fahmi yang tadi menyipit menahan kantuk sekarang membelalak lebar. Raut wajah berubah dalam sekejap. “Kok kamu nggak bangunin aku, sih? Aku telat jadinya,” dumel Fahmi menyalahkan Alia yang tidak membangunkan tidur.

Alia mengerutkan kening bingung. “Kenapa jadi nyalahin aku?” Agak tidak terima disalahkan. Lagipula semalam Alia menunggu Fahmi pulang hingga ketiduran. Di sisi lain, dia salah. Bangun pagi, tapi tak membangunkan sang suami, untuk sekedar bertanyapun tidak. Bertanya masuk shift pagi atau malam. “Maaf, Mas. Aku kelupaan dan tak tega membangunkanmu karena wajahmu terlihat sangat kelelahan.”

Walaupun kecewa, kesal, dan marah. Alia harus mengalah dan selalu minta maaf terlebih dahulu.

Fahmi menatap Alia tanpa berkedip. “Kamu istriku, Alia. Sudah sepantasnya membangunkan tidur suami yang masih tidur untuk bekerja,” jawab Fahmi. “Aku shift pagi, Alia,” imbuhnya dan buru-buru bersiap-siap untuk bekerja.

“Maaf, Mas.”

“Jangan ulangi lagi.”

Huh. Alia menghela napas panjang. Dia merindukan suara Fahmi ketika memanggil dirinya dengan sebutan khusus, ‘sweetheart.’ Kapan lagi mereka berdua memanggil panggilan khusus? My lord dan sweetheart. Rasanya Alia ingin kembali ke masa tersebut. Masa-masa di mana hari terasa bahagia tiada henti. Tapi, bagaimanapun juga telah berlalu, kenyataan Fahmi pernah menduakan dirinya dan perlakuan tidak seromantis dulu.

Setelah Fahmi sudah siap untuk berangkat bekerja, lelaki itu segara turun dari tangga dan menghampiri Alia yang sedang menaruh nasi di atas piring.

“Semalam pulang jam berapa, Mas?” tanya Alia berusaha untuk tenang. Menyembunyikan rasa kekecewaan semalam. Sebenarnya Alia ingin mengintrogasi perihal semalam, kenapa Fahmi tak mengangkat panggilannya dan tidak membalas pesan.

Tidak ada jawaban dari Fahmi. Hanya ada suara tarikan kursi.

“Aku nungguin sampai ketiduran lho, Mas,” ungkap Alia saat pertanyaan tidak dijawab, dia menaruh lauk pauk dan menyodorkan sarapan di hadapan Fahmi, malahan tangan Fahmi mengambil roti dan selai. “Tidak sarapan?”

Fahmi tersenyum tipis. “Aku sedang tidak ingin sarapan nasi. Aku makan roti saja,” jawab Fahmi sambil mengoles selai nanas di atas roti lalu memakan tiga kali gigitan saja, selesai makan roti, lelaki itu meneguk setengah gelas air putih. “Lain kali jangan menunggu aku pulang, tidur saja kalau kamu sudah mengantuk.”

Alia tidak bisa berkata apa-apa. Bodoh memang, menunggu suami pulang bekerja, malah dikecewakan dengan serangkaian kata yang menyakitkan.

Fahmi berdiri. “Aku berangkat dulu. Sudah telat,” pamit Fahmi dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Alia saat itu juga.

“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”

Tidak ada morning kiss. Tidak ada kecupan kasih sayang di kening Alia lagi. Semua keadaan berubah begitu saja. Rumah yang dulu dipenuhi kehangatan, canda tawa kini terasa dingin.

Alia menatap punggung kosong Fahmi yang perlahan menghilang dari penglihatannya. Setelah bunyi mesin mobil menyala, Alia menunduk melihat makanan buatannya yang sama sekali tidak dimakan oleh Fahmi. Perasaan Alia mendadak menjadi kacau, tidak tenang. Pikiran overthinking mulai berseliweran. “Apa mungkin Fahmi sengaja tidak sarapan agar nanti bisa sarapan bersama wanita selingkuhannya?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED