Sampul Novel Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

9.7 / 10.0
Dua tahun membina rumah tangga dengan Gibran tanpa momongan membuat ibu mertuaku murka. Ia terus menuntut perceraian atau poligami, walau usahanya selalu aku bendung. Suatu hari, ketenangan kami pecah oleh suara tangis bayi yang asing, padahal lingkungan sekitar tak ada yang memiliki balita. Begitu pintu dibuka, sesosok bayi merah dengan tali pusar utuh tergeletak di dalam kardus. Siapa sebenarnya orang tua bayi ini, dan apa motif di balik pembuangannya di kediamanku
Ringkasan Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku
Dua tahun membina rumah tangga dengan Gibran tanpa momongan membuat ibu mertuaku murka. Ia terus menuntut perceraian atau poligami, walau usahanya selalu aku bendung. Suatu hari, ketenangan kami pecah oleh suara tangis bayi yang asing, padahal lingkungan sekitar tak ada yang memiliki balita. Begitu pintu dibuka, sesosok bayi merah dengan tali pusar utuh tergeletak di dalam kardus. Siapa sebenarnya orang tua bayi ini, dan apa motif di balik pembuangannya di kediamanku
Baca Selengkapnya

Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku Bab 1

Ku intip pembicaraan suamiku dengan mamah dan papa mertua di ruang tamu. Ternyata mereka tengah membicarakan aku yang tak kunjung hamil juga. Terlihat mas Gibran menatap mamah tak suka dan mamah yang balik memandang mas Gibran nyalang, sedangkan papa hanya diam tidak nampak memihak sang istri ataupun sang anak.

"Udahlah Gib, kalau istrimu tidak bisa memberi kami cucu, ceraikan saja dia! Toh, di luaran sana masih banyak wanita subur yang bisa memberi kamu anak. Si Lastri itu mandul, kalau tidak mana mingkin dua tahun pernikahan kalian tidak dikaruniai anak juga. Kamu itu tampan dan mapan, pasti banyak wanita yang antri ingin dipersunting olehmu."

Terlihat mamah menunjuk-nunjuk mas Gibran kesal.

"Mah, jangan kenceng-kenceng bicaranya! Nanti Lastri dengar, aku gak mau sampai dia sakit hati karena mendengar ucapan mamah. Mau bagaimana pun keadaan Lastri, Gibran tetap cinta sama dia. Mau Lastri ngasih anak ataupun tidak, Gibran tidak akan menceraikan dia."

Mamah menghempaskan tubuh dengan kasar ke atas sopa di samping ayah, lalu mendongak menatap Gibran malas. "Secinta apa sih kamu sama dia sampai rela tidak punya keturunan?"

Mas Gibran menggeleng tak habis pikir dengan pertanyaan mamah, dia ikut mendudukan tubuh di atas sopa singgel. "Lastri itu istri aku, mah. Cinta dan kasih sayang aku seutuhnya untuk dia. Kalau mamah mempertanyakan seberapa besar rasa cintaku untuk Lastri, maka jawabannya adalah setulus ikatan suci dari pertama aku menjabat tangan ayah Diman dua tahun lalu."

Aku menitikan air mata begitu mendengar jawaban mas Gibran tentang pertanyaan mamah. Aku tahu mas Gibran sangat mencintaiku, terlepas dari aku bisa memberi dia anak atau tidak. Mas Gibran memang suami yang baik, karena itu aku masih bertahan selama ini menjadi istrinya walau tekanan mamah mertua tidak main-main sakitnya.

Kini mamah memandang papa protes. Mungkin mamah kesal karena papa tak membelanya, malah terkesan netral antara anak dan istri.

"Papa, jangan diam saja dong! Punya anak satu-satunya nasihatin, napa. Malah diam saja dari tadi. Emangnya papa mau terus diledekin sama teman-teman arisan mamah karena punya mantu tak kunjung ngasih kita cucu?"

"Lah, papa biasa aja tuh." Papa menjawab santai.

Mamah mendelik kesal, "papa sama nak sama saja. Ayo, kita pulang! Kepala mamah makin pusing kalau lama-lama di sini. Cepat!"

Mamah berdiri diikuti papa dan mas Gibran, "Mamah pulang dulu. Ingat, pikirkan baik-baik saran Mamah!" Setelah mengatakan itu, mamah melenggang pergi.

"Sudah, jangan dipikirin apa kata mamahmu! Darah tingginya lagi kumat, makanya marah-marah terus. Papa pulang dulu, sampaikan salam dari Papa untuk istrimu. Assalamaualaikum."

"Waalaikum salam." Mas Gibran menjawab.

Kusandarkan punggung pada tembok. Saat menyusut air mata, aku terlonjak kaget karena mas Gibran sudah berdiri di sampingku. Kapan dia menghampiriku? Kenapa langkah kakinya tidak terdengar?

Tanpa kata, mas Gibran membawa tubuhku ke dalam dekapan hangatnya. Mas Gibran mengelus pelan punggungku, "maafkan perkataan mamah. Mas harap kamu tidak memasukan ucapan mamah barusan ke dalam hati. Mas mungkin terkesan egois, tapi Mas benar-benar tidak mau kamu pergi. Stay with me, tetap di samping Mas Lastri apapun yang terjadi."

Mendengar ucapan mas Gibran yang terdengar begitu tulus, aku tak kuasa menahan air mata. Aku terisak dalam dekapan mas Gibran sambil mengeratkan lingkaran tanganku pada pinggangnya.

Setelah tangusanku agak reda, mas Gibran mengurai pelukannya. Dia mengusap jejak air mata di pipiku, "udah nangisnya?"

Aku mengangguk malu.

"Tadi dapat salam dari papa."

"Waalaikum salam." Aku menjawab serak titipan salam dari papa.

"Nangis gini aja masih cantik, apalagi kalau senyum." Mas Gibran tersenyum guyon ke arahku.

Karena malu kedua sudut bibirku mau tidak mau ikut melengkung tersenyum.

"Ayo, kita tidur! Ini uidah malam."

Aku mengangguk mengiyakan, lalu kami masuk ke dalam kamar guna mengistirahatkan badan dan pikiran yang lelah seharian ini.

Adzan subub berkumandang, aku bangun terlebih dahulu. Setelah mengambil air wudu, barulah kubangunkan mas Gibran untuk shalat berjamah.

Setelah shalat mas Gibran tidur lagi karena ini hari minggu, berbeda denganku yang memilih mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, saat aku sedang memnereskan cucian piringku, aku samar-samar seperti mendengar suara tangisan bayi.

Mungkin itu suara tangisan bayi tetangga, pikirku. Namun, saat aku mengingat-ngingat kembali, semua tetangga yang rumahnya berdekatan dengan rumahku tidak ada yang mempunyai bayi. Lalu, tangisan bayi siapa itu? Kenapa suaranya terdengar dekat?

Bergegas ku dekati sumber suara tangisan itu. Lambat laun langkahku mendekati pintu depan. Saat kubuka pintu, betapa terkejutnya saat melihat sesosok bayi dalam kardus terletak di depan pintu rumahku.

"Astagfirullah, bayi siapa ini?" Ucapku sembari berjongkok. Saat ku lihat, aku lebih terkejut lagi karena bayi ini sepertinya baru lahir banget. Terdapat tali pusar serta di tubuhnya madih ada darahnya.

Segera ku bawa bayi itu masuk ke dalam rumah beserta kardus-kardusnya karena aku tak tahu cara memangku bayi yang benar. Ku panggil-panggil mas Gibran, "mas, mas Gibran."

Tak lama mas Gibran datang sambil mengucek matanya dan menguap, "ada apa, sayang? Kok teriak kayak orang panik gitu?"

"Mas," panggilku gelisah.

Mas Gibran lalu menurunkan tangan dari kucekan matanya, lalu menatap ke arahku. Matanya membola sama terkejutnya denganku saat pertama kali menemukan bayi ini. "Ya Allah, sayang. Bayi siapa ini?" Dengan cepat mas Gibran menghampiriku yang tengah duduk di sopa dengan bayi dalam kardus di atas meja.

"Aku gak tahu."

Mas Gibran memandangku sama gelisahnya, "kamu menemukannya di mana?"

"Di depan pintu rumah kita, Mas." Jawabku apa adanya.

"Astagfirullah, tega-teganya ada yang membuang bayi begini." Mas Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sayang, cepat ambil selimut atau kain apa saja untuk menyelimuti bayi ini!"

Aku mengangguk, lalu bergegas mencari kain atau selimut yang ku punya. Aku bersyukur saat menemukan selembar kain yang akan kubuat baju. Kuambil kain itu dan membawanya untuk kuberikan pada mas Gibran.

"Ini, Mas." Aku mengasongkan kain itu pada mas Gibran.

Dengan telaten mas Gibran membungkus bayi merah yang terlihat kedinginan itu, lalu membawanya ke dalam gendongan.

"Mas, kita harus apa sekarang? Apa melaporkannya pada pak Rt saja?" tanyaku pada mas Gibran yang sedang mengeyong-ngeyong bayi.

Mas Gibran menatap bayi itu lama. Entah apa yang dia pikirkan sehingga begitu larut dalam lamunannya sendiri. Aku menepuk pundaknya gina menyadarkan mas Gibran, "Mas," panggilku.

Perlahan mas Gibran mendongak ke arahku. Kedua sudut bibirnya melengkung menciptakan senyuman teramat manis, "mungkin ini cara Allah SWT. menitipkan amanahnya pada kita. Bagaimana kalah kita rawat saja bayi ini? Tak apa bila bayi ini bukan anak kita, Mas yakin kita bisa menjadi ibu serta ayah yang baik untuk dia."

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali beruntun di arena tak menghalangi Roderick untuk mengkhianatiku. Tunanganku itu justru asyik bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan perempuan itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick lenyap, digantikan pernyataan cinta untuk wanita lain di depanku. Dengan hati dingin, kuhubungi ayahku yang merupakan bos mafia. Aku meminta pertunangan ini dibatalkan demi mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Demi melindungi kehormatan ibu angkatnya, seorang gadis rela menjadi pengantin pengganti. Sayangnya, kesalahpahaman fatal membuat Alex sangat membenci dan memperlakukannya dengan kasar. Meski mendapat perlakuan buruk, ia tidak tinggal diam dan terus berjuang keras menyembunyikan rahasia besar tentang identitas aslinya. Akankah Alex mampu membongkar misteri yang tersimpan rapat ini? Temukan kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka di Bakisah.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Demi menghapus duka setelah kepergian Rizal, Sonia memboyong kedua buah hatinya, Alif dan Hana, ke sebuah apartemen sederhana. Tak disangka, di sana ia bertetangga dengan Yudha, duda menawan yang juga mengasuh putri tunggalnya, Mira, seorang diri akibat tragedi masa lalu. Pertemuan tak sengaja di lorong apartemen perlahan menumbuhkan getaran tak biasa di hati mereka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: terus meratapi kesedihan lama atau berani membuka hati demi cinta yang baru.
Sampul Novel Rahasia Gelap Sang Kekasih
8.2
Sebuah pesan masuk di tengah malam buta membangunkan tidurku, membawa sebuah kiriman video dari sahabat dekatku. Di dalam rekaman tersebut, tampak seorang wanita bergaun tipis nan ketat sedang menari dengan lekuk tubuh yang anggun. Namun, perhatianku seketika terenggut sepenuhnya saat menyadari warna ungu samar di balik gaunnya. Celana dalam yang dikenakan wanita misterius itu ternyata persis seperti milik pacarku sendiri, memicu kecurigaan mendalam tentang rahasia tersembunyi kekasihku.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED