Sampul Novel Ketika Cinta Tak Memilihku

Ketika Cinta Tak Memilihku

8.8 / 10.0
Dua bersaudara yang hidup bertetangga harus menghadapi kenyataan pahit setelah pasangan masing-masing kembali dari ibu kota. Awalnya, kedekatan antara suami sang adik dan istri sang kakak dianggap biasa. Namun, kejanggalan demi kejanggalan mulai memicu kecurigaan. Saat melihat gelagat kedua pasangan mereka yang kian intim, mereka pun mulai menyelidiki dugaan perselingkuhan ini. Kini, mereka terjebak teka-teki pengkhianatan yang mengancam keutuhan rumah tangga keduanya.

Ketika Cinta Tak Memilihku Bab 1

"Ayo, Buk. Buruan berangkat. Aku dah gak sabar pengen ketemu Bapak," Teriak bocah lelakiku yang masih berusia tiga tahun. Sudah sejak semalam anak itu terus menerus merengek, tak sabar ingin segera menjemput kepulangan Bapaknya di Terminal bus Pacitan.

Sudah dua tahun Mas Tirta merantau ke Malaysia, mengadu nasip untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami ini. Sejak Bagas baru berusia satu tahun, anak kecil itu harus rela berjauhan dengan Bapaknya. Mereka hanya sesekali bercengkrama lewat video call.

Lalu, tiga hari lalu. Ketika Mas Tirta mengabarkan kepulangannya, Bagas tiap saat selalu merengek. Bertanya kapan bapaknya akan tiba di rumah. Puncaknya adalah tadi malam, Mas Tirta memjnta kami untuk menjemput di Terminal bus.

Karena kebetulan, ia pulang berbarengan dengan Mbak Kirana, istri kakakku satu-satunya. Mas Catra. Yang setahun belakangan ini bekerja di Ibu kota. Entah karena apa, sebelum ia pergi ke sana, yang kutau sesekali terdengar pertengkaran antara mbak Kirana dan Mas Catra. Mungkin karena keadaan ekonomi yang belum stabil, hingga akhirnya Mbak Kirana memutuskan untuk bekerja di Jakarta.

Karena Mas Catra tidak mungkin Jauh-jauh dari rumah, keahliannya sebagai tukang kayu sering kali membuatnya kewalahan. Akibat saking banyaknya orang memesan meja kursi dan lainnya.

Maka hari ini, aku dan Bagas. Juga Mas Catra dan anaknya telah bersepakat untuk menjemput pasangan kami yang baru pulang dari perantauan. Kami meminta bantuan tetangga yang telah memiliki mobil, untuk mengantarkan kami ke Terminal.

"Ayo, Buk!" Suara Bagas lagi, ketika aku masih memasang cardigan dengan terburu-buru. Lalu segera menyusul bocah yang sudah bersemangat itu, menuju mobil di halaman.

"Pak De udah datang belum?" Tanyaku memastikan.

"Udah, kok. Tuh, Pak De sama Mbak Mega nunguin di depan." Tunjuknya ke arah luar, ketika tangan mungilnya kugandeng melewati pintu depan dan menguncinya.

"Mbak!" Anak lelakiku berseru. Berhambur ke arah Mbaknya yang hanya berselisih satu tahun saja. Sejak kecil mereka terbiasa main bersama karena rumah kami yang memang berdekatan.

Ia mendekat sepupunya yang sudah berlonjak kegirangan. Berebut masuk mobil ketika Pak Anding membuka pintunya.

"Pelan-pelan, masuknya gantian," Ucap Mas Catra. Pria penyabar itu terkadang menemani dua bocah balita ketika aku sedang repot, atau pergi ke pasar. Begitu juga jika Mas Catra sedang ada panggilan kerja, anaknya akan dititipkan di rumahku.

Saking seringnya bersama, membuat anak kami saling menyayangi satu sama lain. Seperti saudara kandung sendiri.

"Apa mereka sudah sampai di Terminal?" Tanya Mas Catra ketika kami sudah berada di dalam mobil yang melaju kencang. Sementara anak-anak kami berceloteh riang.

"Mungkin sudah, Mas. Emang Mbak Kirana ndak ngasih kabar?" Tanyaku pada Mas Catra. Ia hanya menggeleng, "cuma tadi pagi, katanya sekitar jam tiga sore nyampai terminal," Jawabnya langsung menunduk. Aneh sekali, istri pulang kok wajahnya ditekuk? Tanyaku dalam hati. Namun, tak sampai hati menanyakan. Mengingat, pertengkaran yang kerap terjadi di antara mereka.

Pikiranku kembali ketika benda pipih dalam tas berbunyi nyaring. Nama Mas Tirta memenuhi layar. Sebelum menekan tombol hijau, terlebih dahulu kuarahkan layar itu pada Mas Catra. Agar ia tau, yang ditunggu mungkin sudah tiba di terminal.

"Iya, Mas?" Sapaku pada suami di seberang telepon.

"Udah berangkat, belum? Aku sama Mbak Kirana udah di Terminal ini," Suara Mas Tirta timbul tenggelam karena riuhnya suara di sana.

"Iya, Mas. Kami sudah perjalanan, sebentar lagi sampai kok," Jawabku menenangkan Mas Tirta yang sepertinya sudah lelah. Perjalanan jauh mungkin saja membutuhkan untuk segera merebahkan badan.

"Ok. Tak tunggu, ya,"

"Iya, Mas," Jawabku menenangkan sebelum sambungan telepon itu terputus. Lalu menengok ke arah Mas Catra yang memasang muka penuh tanya.

"Mereka sudah sampai, Mas," Ucapku penuh semangat. Jadi tak sabar ingin segera bertemu dengan belahan jiwa yang telah sekian lama berpisah.

Mobil mulai memasuki gerbang tinggi bertuliskan Terminal bus kota Pacitan. Anak-anak langsung meloncat dari tempat duduknya, mengintip keadaan luar melalui kaca jendela mobil. Begitu semangatnya mereka menyebutkan satu persatu mobil dan bus yang dilihatnya. Maklum saja, anak desa yang baru beberapa kali menginjakkan kaki di daerah kota.

Apalagi, ketika mobil berhenti di depan orang dirindukan. Tangan mungilnya melambai-lambai dan berteriak memanggil orang terkasih. Pak Anding membuka pintu mobil, mereka langsung meloncat girang. Berlari menubruk masing-masing orang yang ditunggu kedatangannya selama ini.

Mas Tirta memeluk erat anak lelakinya, serta menciumnya beberapa kali. Lantas menatap ke arahku, ketika aku berjalan mendekat, dengan menerbitkan senyum manis penuh kerinduan mendalam.

"Mas," Ucapku. Mengulurkan tangan, menyalami dan menempelkan punggung tangannya pada hidung dan kening ini. Tak ada kata terucap, hanya memperlama menggenggam tangan kokoh itu. Mewakilkan sejuta ungkapan rindu mengungkung jiwa.

Apalagi melihat senyum pada wajah tegas berhias bulu halus tumbuh di dagu dan bawah hidung mancung. Wajah yang selalu membuat hati ini kian meleleh, enggan melirik yang lain. Ah, mungkin kedengarannya lebay. Tapi inilah aku, wanita setia sehidup semati. Semuanya hanya untuk dia seorang. Semuanya hanya untuk kebahagiaannya.

Iya, meski dari dulu sesekali Mas Tirta memperlihatkan sikap dingin dan datar. Namun, aku selalu luluh dengan rayuan maut ketika ia hendak meminta maaf karena telah membuat kecewa hati ini.

"Kamu, apa kabar?" Tanya Mas Tirta dengan suaranya yang khas di telinga ini.

"Seperti yang Mas lihat, aku baik. Apalagi ketika dengar Mas pulang," Sahutku tak kalah dramatis. Ia mengusap pucuk kepala berambut lurus sebahu ini.

"Kita makan dulu, apa langsung pulang, Mas?" Tanya Mas Tirta pada Mas Catra.

"Langsung pulang saja, kalian pasti butuh segera istirahat," Jawab Mas Catra yang langsung di setujui oleh suamiku.

Setelah membawa seluruh oleh-oleh mereka yang berupa tas besar dan kardus. Kami semua naik kembali ke dalam mobil. Pak Anding membawa kami melaju dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan pulang menuju rumah ini, aku melihat Mas Catra tak banyak bicara dengan istrinya. Meski baru ketemu setelah berpisah setahun lamanya.

Mungkin, mereka tidak terbiasa bermesraan di depan orang lain. Pikirku berusaha tenang. Meski sebenarnya ada yang sedikit mengusik kepala ini. Sejak tadi, Mas Tirta dan Mbak Kirana sesekali saling menatap dan tersenyum tipis, nyaris tak terlihat jika orang belum terbiasa di dekatnya.

Apa itu juga yang membuat Mas Catra enggan berbicara dengan istrinya? Ah, entahlah. Aku menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha menepis pikiran buruk yang bisa saja semakin memperkeruh keadaan.

Toh, tatapan mereka wajar. Tak ada yang aneh, mungkin hanya aku saja merasa aneh. Lagipula tak ada salahnya, jika kepada saudara ipar saling bertegur sapa. Tak ada larangan, bukan?

Kami turun ketika mobil berhenti di depan rumah. Lalu kembali berjalan mengantarkan mas istrinya pulang ke rumah yang terletak hanya dua ratus meter dari sini. Jarak lumayan dekat untuk ukuran dua bersaudara yang telah membina rumah tangga masing-masing.

Di sini aku sekarang, bercengkrama bersama anak dan suami tercinta. Setelah membedah semua oleh-oleh yang dibawa Mas Tirta, kami saling berbagi cerita tentang apa saja untuk melepas kerinduan ini.

Apalagi Bagas, jagoan kami. Tak henti-hentinya lengan mungil itu bergelayut manja di leher Bapaknya. Meski telah beberapa kali aku membujuk untuk melepas Bapaknya supaya bisa beristirahat, yang ada anak itu malah merajuk.

"Bagas, Bapak kan capek. Biar istirahat dulu, ya. Bagas main dulu sama robot barunya ini," Bujuk ku dengan menyodorkan robot baru dari Bapaknya. Akhirnya anak itu mengangguk. Melepaskan leher Bapaknya yang segera bangkit.

Gawai tak jauh dariku itu meraung, nampak ada tanda panggilan. Sekilas dapat terbaca tulisan di layar itu, bernama Kiran. Mas Tirta langsung menyambar gawai itu dan meminta ijin ke depan. Menimbulkan rasa penuh tanya dalam benak ini. Jika benar yang memanggil tadi adalah Mbak Kirana untuk apa?

Kenapa Mas Tirta harus menjauh dariku ketika mengangkat telepon darinya? Jika hanya sekedar bertanya kabar, bukankah dari jakarta mereka sudah satu kendaraan? Karena rasa penasaran, badan ini bangkit hendak memastikan apa yang dibicarakan.

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Ketika Cinta Tak Memilihku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali meminta cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru menurunkannya di jalan demi menjawab telepon sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan berani pergi. Dia tidak sadar bahwa pengabaiannya kali ini telah melewati batas. Di sisi lain, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera menyelesaikan perceraiannya dan pergi meninggalkan negara ini untuk selamanya.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya yang koma, tetapi saat terbangun, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan umum. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Di hari pernikahan, ia tega membuangku di jalan tol demi Stella. Akhirnya, aku memilih pergi meninggalkan semuanya menuju bandara.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia justru memeluk Evelyn dan mengucap janji setia yang biasa ia katakan padaku. Lewat tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami saat ia amnesia hanyalah aib rahasia yang kini harus ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters sirna seketika saat mengetahui dirinya hamil. Sang suami, Julian Ryder, sejak awal sudah menegaskan enggan memiliki anak dalam pernikahan mereka. Berada di posisi sulit antara naluri keibuan dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras untuk menggugurkan kandungannya. Demi melindungi sang buah hati, ia pun terpaksa menyusun rencana rahasia untuk melarikan diri dan menyembunyikan kehamilan ini dari suaminya.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki sangat geram karena ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan klasik bahwa mereka tidak saling kenal membuat Yuki berang hingga mengatai calon suaminya itu sebagai lelaki tua yang menjengkelkan. Namun, kekesalan tersebut tidak bertahan lama. Sebuah senyum licik merekah di wajah Yuki saat sebuah ide brilian muncul di benaknya. Ia pun menyusun rencana cerdik untuk memberi pelajaran bagi pria yang telah menolaknya tersebut.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED