Kenapa Mas Tirta harus menjauh dariku ketika mengangkat telepon darinya? Jika hanya sekedar bertanya kabar, bukankah dari jakarta mereka sudah satu kendaraan? Karena rasa penasaran, badan ini bangkit hendak memastikan apa yang dibicarakan.
Aku pikir, Mas Tirta akan mengangkat telepon di depan pintu. Ternyata salah, ia duduk di pojokan teras rumah. Berbicara dengan suara lirih, tak dapat terjangkau oleh pendengaran ini. Rasa penasaran telah menuntunku berada di ambang pintu, berdiri di sini, menatap penuh tanya ke arah suami yang sedang asyik berbincang dengan seseorang di seberang telepon.
Mas Tirta mengakhiri pembahasannya, ketika melihatku berada di sini. Wajahnya cukup kaget, tetapi segera ditutup dengan senyuman manis yang selalu membuat wajah ini berbinar. Ah, aku memang wanita tak bisa tegas dengan perasaan.
"Telepon dari siapa, Mas?" Tanyaku ketika ia menghampiri dan menggandeng bahuku, mengajak masuk kembali ke dalam rumah.
"Teman kerja. Tanya sudah sampai rumah apa belum gitu," Jawab Mas Tirta santai. Meski aku berusaha menemukan sesuatu di balik wajah tenang itu, tetapi tak dapat. Kalah oleh tatapan teduh yang bagiku selalu menghujani untaian cinta.
Cinta? Iya. Menurutku memang begitu. Meski berulang kali ia membuat hati ini menjerit perih, tetapi satu kali senyumannya mampu meluluhkan segalanya. Apakah aku terlalu gampang mendapat rayuan? Entahlah.
Mas Tirta membimbingku duduk di sofa panjang depan TV, dekat Bagas yang sedang sibuk dengan mainan barunya. Anak itu jika sudah punya barang baru pasti tak peduli apapun. Bahkan kadang makan pun bisa lupa jika tidak disuapi.
"Sayang, kamu masak yang spesial ya buat makan malam kita nanti. Aku kangen banget sama masakan kamu," Pinta Mas Tirta sambil mengerling manja di depanku. Selalu menjadikan diri ini tak kuasa menolak apapun permintaannya.
"Iya, Mas. Mas temenin Bagas main, ya," Aku menyarankan sebelum beranjak, lalu tersenyum ketika Mas Tirta mengacungkan jempolnya. Tanda persetujuan. Aku segera berjalan ke dapur dengan perasaan senang tiada tara.
Benar, kan? Wanita mana yang tak senang, suami yang ditunggu telah pulang. Membawa cinta, membawa uang, membawa oleh-oleh untuk kami. Ah, rasanya sore ini aku menjadi wanita paling bahagia.
Sambil mengeksekusi bahan sayur, sesekali netra ini melirik ke arah ruang TV yang memang terlihat dari sini. Kedua lelaki ayah dan anak itu saling sibuk. Bagas sibuk dengan mainannya, dan Mas Tirta sibuk dengan gawai di tangan. Dapat terlihat jelas dari sini, sesekali wajah tampan itu senyam-senyum sendiri seperti orang jatuh hati.
Di sinilah kami sekarang, berkumpul di depan meja makan. Menikmati makan malam yang menurutku paling enak. Bukan karena makanannya, tetapi suasana yang membuat semua terasa nikmat. Sambil menyuapi Bagas, aku mendengarkan celoteh riang bocah itu berbicara dengan ayahnya.
Sesekali terbahak sambil bertepuk tangan, sesekali beradu tos dengan ayahnya karena alur pembahasan yang sejalan. Inilah yang membuatku merasa seperti di surga. Melihat mereka, orang-orang tercinta bercanda tawa dengan senyum ceria. Seolah tak ingin momen ini segera berakhir.
Malam ini, Bagas juga berbeda. Jika biasanya harus dibujuk agar mau makan, harus diikuti kesana-kemari agar mau makan. Bahkan sambil bermain kemanapun, itu saja tak banyak nasi yang masuk dalam perut kecilnya. Malam ini, tanpa bujukan apapun Bagas melahap cepat suapan demi suapan yang kuberikan.
Menambah keyakinan, bahwa bukan hanya aku yang merasa bahagia, tetapi juga Bagas. Terlihat jelas dari binar wajahnya itu, juga antusiasnya dalam berceloteh tentang sesuatu yang menurutnya menarik.
"Yah, Ayah di sini aja, ya. Nggak usah pergi lagi, kerja di sini aja," Bagas meminta dengan wajahnya yang polos.
Harapan sama seperti yang membumbung tinggi dalam angan ini. Tetapi semua itu tergantung Mas Tirta. Dulu aku pernah menyarankan agar bekerja di sini saja, namun ia menolak mentah-mentah. Katanya bekerja di sini tidak menghasilkan apapun, selain capek yang didapat.
Memang benar, karena selama ia berada di Malaysia, kehidupan kami berangsur membaik. Rumah peninggalan Bapak ini juga telah berubah menjadi bangunan minimalis, meski dengan ukuran kecil.
"Sayang, Ayah kan kerja di sana. Cari duit buat Bagas," Ucap Mas Tirta lembut.
" Kerja di sini apa nggak bisa, Yah?" Netra polos itu menatap sang Ayah tanpa kedip, penuh harapan tinggi. Jika saja aku yang ditatap seperti itu pasti sudah tak bisa berkutik. Tanpa pertimbangan apapun pasti akan langsung memenuhi keinginannya.
"Bisa, tapi kan uangnya nggak banyak kayak yang di sana," Wajah Bagas mengerucut lucu, "jadi Ayah cuma bentar di rumah?" Tanyanya.
"Enggak, sayang. Kali ini Ayah akan lama di rumah,"
"Yei!" Teriak Bagas dengan merentangkan kedua tangan ke atas kepala.
Mas Tirta masa kontraknya memang sudah habis, ia telah bekerja di sana sejak sebelum kami saling kenal. Hingga saat ini, masa kontraknya telah genap sepuluh tahun. Kepulangannya kali ini adalah untuk mengurus masa perpanjangan, juga ijin kerja selama dua tahun.
Dua tahun? Iya. Membayangkan saja sudah membuatku mengulum senyum. Tak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan dengan suami tercinta. Dia tahun itu jika dilewati penuh rasa senang, bukanlah waktu lama.
Usai makan malam, aku menemani Bagas di kamarnya, membelai lembut rambut tipisnya. Sambil membacakan cerita adalah kebiasaan menjelang tidur. Tangan mungilnya selalu memeluk leher ini, jika sudah mengendur itu tandanya ia telah lelap dalam tidurnya.
Aku bangkit perlahan, sambil menutup badan kecil itu menggunakan selimut hingga di lehernya. Lalu mengecup kening sebelum meninggalkannya menuju kamarku sendiri. Mas Tirta yang sudah berada di atas ranjang itu meletakkan gawai ke atas meja ketika aku membuka pintu kamar. Memasang senyum menggoda ketika badan ini menyusul di sebelahnya.
Tangan kokoh itu langsung merengkuh badan ini, membawanya dalam hangatnya dada bidang yang selalu kurindukan siang dan malam.
"Sudah berapa lama, sayang?" Suara Mas Tirta terdengar tepat di telinga ini, hingga terasa hembusan nafasnya yang dingin meniup ujung rambut.
"Apa kamu nggak kangen?" Suaranya kembali terdengar syahdu, membuat darah ini berdesir. Serta menjadikan sesuatu di dalam sana terasa membuncah, kehilangan kata untuk menjawabnya. Kepala ini hanya bisa mengangguk pelan.
Wanita mana yang bisa tahan dengan kondisi seperti ini. Apalagi bersama kekasih halal yang baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah oleh jarak.
"Hm, aku pasti lupa gimana caranya. Ingetin lagi, ya,"
"Apaan, sih?"
Ia tertawa renyah, sebelum akhirnya membimbing diri ini menumpahkan segala rindu. Terendap lama hingga membeku. Tangan kokoh yang pandai bergerak liar itu yang selalu membuat diri ini tak mampu berpaling kemanapun.
Kami berdua melewati malam panjang dengan saling menumpahkan segala rasa yang terpendam selama sekian tahun. Merasakan bulir-bulir cinta meretas melalui aliran keringat membasahi badan menyatu. Mengikis jarak tanpa sekat apapun.
Hanya ada rasa indah tiada berkesudahan. Seperti mengepak sayap tak kasat mata, membumbung tinggi ke atas awan. Melayang-layang di atas sana, menikmati hawa sejuk menyegarkan badan. Lalu perlahan terhempas. Pasrah terkulai.
Mas Tirta bangkit karena gawainya berdering meraung.
"Aku Terima telepon dulu, ya," Ucapnya tanpa menunggu jawaban, melangkah keluar kamar hanya dengan sarung membalut badannya.
Hampir satu jam, bahkan ketika aku telah selesai membersihkan badan. Belum nampak Mas Tirta kembali kemari. Dimana dia menerima telepon itu? Aku melangkah melewati pintu kamar, di depannya tidak ada orang sama sekali.
Lalu menuju ruang TV yang juga kosong, disebelahnya ada ruang tamu. Kosong. Hanya pintu depan nampak sedikit terbuka, netra ini mengernyit melihatnya. Melangkah terendap sambil berjinjit, meraih gagang pintu dan membuka lebar.
Mas Tirta? Kenapa dia menerima telepon di sini? Tanyaku dalam hati.
"Oke. Selamat malam, ya," Ucapnya lembut sebelum menutup sambungan telepon. Hanya itu saja yang terdengar dalam telinga ini.
***
Mas Tirta? Kenapa dia menerima telepon di sini? Tanyaku dalam hati.
"Oke. Selamat malam, ya," Ucapnya lembut sebelum menutup sambungan telepon. Hanya itu saja yang terdengar dalam telinga ini.
Aku berbalik sebelum ia sempat melihat, buru-buru masuk kembali ke dalam kamar. Berusaha menguasai diri untuk bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apapun. Meski rasa penasaran mengalun deras di dasar hati.
Wajah tampan itu kembali dengan membawa senyum lebih lebar dari sebelumnya. Aku menyambut, meski benak mulai bertanya. Apa penyebab senyum lebar itu? Diriku, atau hasil dari ujung telepon tadi?
Mas Tirta masuk ke kamar mandi tanpa meletakkan gawainya terlebih dahulu. Semakin menguatkan pikiran negatif ini, sejak kapan ia berubah jadi selalu mementingkan gawai saat di rumah?
Untuk mengurangi perasan tak nyaman ini, tanganku iseng membuka gawai yang sejak sore tadi tergeletak begitu saja di atas meja. Menggulirkan layar ke atas dan ke bawah, tetap saja tak ada yang menarik.
Jemari ini kembali iseng, tak sadar membuka akun WhatsApp Mas Tirta, di bawah foto profil itu tertera tulisan, online. Apa? Aku mendelik, segera keluar dari akunya, dan kukembalikan lagi. Tetap masih online.
Apa yang dilakukan Mas Tirta di dalam kamar mandi sana? Mengapa ada tanda online pada akun WhatsAppnya? Pertanyaan ini, menggiringku untuk membuka akun lain. Mbak Kirana, wanita itu juga sedang online. Lalu, Mas Catra. Ia juga online. Apa yang sedang mereka lakukan?
Aku terkesiap dan mengembalikan gawai ke atas meja, ketika pintu kamar mandi tebuka, dan Mas Tirta keluar dengan wajah lebih segar. Ia mendekat dan menyusul naik ke atas pembaringan yang mendadak terasa kurang nyaman.
Mas Tirta mengulum senyum tipis sebelum membentangkan selimut untuk menutupi badan kami. Netra ini menatap awas pada wajah berbias bahagia itu, membuat benak ini kembali bertanya. Sebahagia itukah ia berkumpul denganku dan Bagas?
Tatapan ini terus mengiringi wajah mendekat, lalu hidung mancung itu menyentuh lembut kening ini. Aku terkesiap, ia kembali tersenyum ketika mengangkat wajahnya.
"Udah malem, tidur yuk," Ucapnya. Lantas membawa bahu yang masih bersandar di ujung ranjang, untuk ikut bersamanya.
Ia melekatkan tangan kanannya pada pinggang ini, sementara aku terlentang. Menatap nanar ke atas yang tak terlihat jelas karena lampu tidur redup kebiruan. Mas Tirta sebenarnya masih sama. Masih bersikap hangat. Hanya saja entah mengapa benak ini disergap rasa curiga?
Hembusan nafasnya terasa meniup dingin di dekat keningku. Semakin lama, deru nafas itu semakin bergerak teratur. Mas Tirta telah terbuai di alam mimpi.
***
"Mas, makanan udah siap. Sarapan, yuk," Aku membuka pintu kamar, menatap penuh tanya pada Mas Tirta yang sudah rapi. Ia tersenyum melihatku di sini, berjalan mendekatinya.
"Mas udah rapi. Mau kemana?" Tanyaku penasaran.
"Aku ke Pacitan bentar, ya. Ada urusan mendadak," Jawabnya sambil merangkul pundak ini, berjalan melewati pintu menuju dapur.
"Kamu masak apa? Wah, nasi goreng. Enak banget nih, kayaknya," Celoteh Mas Tirta ketika kami sudah berdiri di depan meja makan. Wajahnya berbinar memandangi tiga piring nasi goreng yang masih diselimuti asap. Sengaja pagi ini aku membuatkan menu kesukaannya. Bibir ini hanya menyunggingkan senyum tipis menanggapi ucapannya barusan.
"Bagas belum bangun?" Tanya Mas Tirta sambil menarik kursi, siap di depan piringnya.
"Udah tadi. Aku panggil dulu, ya," Ia mengangguk. Sebelum aku berbalik arah untuk melangkah, sempat terlihat tangan Mas Tirta mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya.
Tak ingin terlihat ingin tahu, aku melanjutkan langkah menuju kamar Bagas. Bocah tiga tahun itu masih meringkuk memeluk guling dengan botol susu memenuhi mulut mungilnya. Kebiasaannya selama ini, sejak disapih dari ASI, teman tidurnya adalah botol susu.
Kubelai rambut hitam lurus turunan Mas Tirta itu, lalu menciumi keningnya. Bocah polos itu hanya menggeliat tanpa melepas botol susunya. "Makan, yuk," Ajakku.
Ia hanya melirik sekilas, tetapi ada binar ingin tahu dari wajah tenangnya. "Aku dimasakin apa?" Tanya Bagas tak jelas karena mulutnya masih dijejali botol. Membuatku tersenyum lucu sambil menggeleng samar.
"Nasi goreng sosis kesukaan Bagas. Tuh, Ayah udah nungguin di sana,"
Bagas mendongak, melepas botol dan dilempar ke arah sembarangan di atas kasurnya. Lalu duduk dengan cepat, "Ayah?" Ia berseru, seperti baru tersadar bahwa Bapaknya sudah berada di rumah sejak kemarin sore.
Aku mengangguk cepat, lalu menyusul bagas yang sudah meloncat, berlari keluar kamar menuju dapur. "Ayah!" Masih kudengar teriakannya ketika sudah berada di dapur.
"Hai, jagoan Ayah," Balas Mas Tirta meletakkan gawai di atas meja, ketika aku menyusul mereka duduk di depan meja.
Bagas sudah merangkul leher bapaknya, cekikikan geli akibat diciumi oleh sang Bapak. Mengembun mata ini melihat pemandangan langka yang tersaji di pagi hari. Jika saja pemandangan indah ini bisa kulihat setiap pagi. Ah, tetapi lagi-lagi desakan ekonomi yang tidak mengizinkannya.
"Makan, yuk. Ayah yang suapin ya?" Bagas nampak manggut-manggut dengan wajah berbinar. Lalu membuka mulutnya lebar-lebar ketika sendok di tangan Mas Tirta mendekatinya. Namun, berteriak melengking sambil menggoyangkan kaki, ketika sendok itu ditarik lagi oleh Bapaknya.
Bagas kembali membuka lebar mulutnya, dan kejadian tadi terulang lagi. Ia berteriak kencang akibat dikerjai Bapaknya, "Ayah, jadi nyuapin nggak, sih?" Bocah itu bergumam kesal.
Tak lama, mereka tertawa-tawa sambil suap-suapan. Aku tersenyum bahagia melihat kedua jagoan terpenting dalam hidup itu. Pagi ini, kami hanyut oleh suasana sarapan yang langka. Tak mesti bisa dilakukan setahun sekali.
Mas Tirta dan Bagas selesai makannya hampir bersamaan. Usai meminum air putih, nampaknya bocah itu baru menyadari penampilan Bapaknya yang hendak kepergian.
"Ayah mau kemana?" Tanya Bagas dengan wajah polosnya.
"Hari ini Ayah mau ke Pacitan bentar, ya. Bagas di rumah aja temenin Ibuk. Nanti Bagas pengen dibelikan apa?" Mas Tirta membujuk. Setelah agak tertegun karena mendengar bapaknya yang hendak pergi, wajah itu kembali cerah ketika ditanya ingin dibelikan apa.
"Es krim, Yah, " Ia berseru sambil mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi.
"Sip!" Mas Tirta mengacungkan jempolnya, lalu mencolek hidung bangir milik Bagas yang kemudian tergelak.
"Nanti Ayah bawain yang jumbo. Tapi Bagas harus di rumah ya, temenin Ibuk,"
"Siyyaap!" Bocah itu berseru dengan berhormat, entah menirukan siapa.
"Tos dulu, dong,"
Ketika kedua telapak tangan berbeda ukuran itu beradu, gawai Mas Tirta yang ada di atas meja meraung keras. Ia menoleh, segera meraih benda pipih itu dan menempelkan di telinga.
"Iya," Sapaan Mas Tirta pada seseorang di seberang telepon. Tak terdengar suara apapun, meski telinga ini berusaha mempertajam pendengaran. Entah ia berbicara dengan siapa.
"Iya. Aku akan segera ke sana," Ia menjauhkan gawai dari telinganya. Lalu kembali tersenyum pada anak semata wayangnya itu.
"Ya udah. Ayah berangkat dulu, ya," Bocah itu mengangguk menjawab ucapan dari bapaknya. Mas Tirta berjalan menuju pintu dan kami mengantarkan hingga di teras depan.
Ia menyalakan motor yang biasa kugunakan untuk pergi kemana-mana. Lalu bergerak keluar pekarangan rumah. Ketika kami hendak berbalik masuk ke dalam rumah, ada motor lagi yang berhenti di halaman.
"Mas Catra?" Sapaku pada sosok yang baru datang itu. Ia membawa wajah semrawut mendekati kami di depan pintu.
"Suamimu tadi mau pergi kemana?" Tanya Mas Catra tanpa basa-basi. Tak ada senyum sama sekali di wajah teduh dan penyabar itu. Aku yang semula mendelik dengan pertanyaannya, segera tersenyum. Mungkin mereka tadi sempat berpapasan di tengah jalan.
"Mas Tirta mau ke Pacitan Mas, ada urusan mendadak katanya," Jawabku enteng. Namun, wajah Mas Catra nampak semakin tak enak di lihat. Membuat benak ini terlintasi pikiran aneh.
"Sama siapa dia?"
***