Sore ini aku berdandan nggak seperti biasanya. Ada hal yang harus aku lakukan untuk merayakan dua tahun pernikahanku.
"Ahh, Mas hmm enak Mas ahh terus Mas ... disitu enak banget, Mas!"
Suara desahan dari seorang wanita, dia sedang menikmati luapan emosi saat seorang laki-laki membuka kakinya lebar dan kepalanya sedang mengaduk-aduk belahan bibir bawahnya yang sudah merekah, basah, ber len dir juga licin.
"Ah Rania, kenapa ini begitu enak, kamu benar-benar yang paling hot dan terbaik," puja puji laki-laki itu diberikan agar gelora mereka semakin tinggi dan membara.
"Umm Ah Mas juga sangat pintar memanjakan aku, ah Mas ... aku udah nggak tahan, masukin sekarang aja Mas," suara wanita itu semakin manja- benar-benar membuat buluk kuduk meremang, siapapun yang mendengarnya.
"Dasar wanita penggoda suami orang, kamu benar-benar nakal," si laki-laki juga sepertinya sudah terlena dan sudah nggak akan mundur lagi dengan tindakannya.
"Emm ahh ahh siapa suruh pedang kamu begitu enak Mas, aku sekali coba malah ketagihan pengen berkali-kali, ahh umm, Mbak Amel pasti sangat seneng banget setiap hari mendapatkan ini dari kamu ya Mas, ah umm, Mas lebih kencang Mas ahh aku pengen lebih kencang dan dalam lagi, Mas ...," suara wanita itu makin serak dengan semua gelora berbahaya, dia benar-benar menikmati pedang pusaka milik suami orang.
"Itu kamu juga enak banget Rania aagh si Amel mana bisa kasih service seperti kamu, dia mah lewat nggak ada apa-apa nya. Pokoknya, aku lebih berselera bersama dengan kamu ketimbang dia. Apalagi setelah aku tahu kenyataan itu, huh ahh sia-sia saja selama ini aku usaha, ternyata dia wanita yang nggak ada isinya," keluh laki-laki itu sambil dia membalikkan tubuh wanita itu lalu memompanya makin kencang dari belakang.
"Ah ah Mas bisa aja ngerayu aku ump Maaas Ah terus Mas ahh aku mau keluar Mas UMM ahhh!" wanita tadi makin menggeliat saat pedang pusaka laki-laki itu dipercepat dan sama–sama ingin mengeluarkan cairan mereka.
"Ahh Rania kamu memang sangat hebat ah umm kamu benar benar bisa memuaskan aku aah aku juga mau keluar, Ran," laki-laki itu makin memompa lebih dalam hingga mereka benar benar sudah berada pada titik langit ke tujuh.
Surga dunia yang nggak mungkin ditolak siapapun. Titik kenikmatan yang nggak mungkin mereka ragukan dan hindari. Mereka benar benar mengeluarkan suara-suara yang bergelora. Kamar itu seolah menjadi saksi kenikmatan gairah mereka.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata membeku menatap adegan panas tersebut. Bukan hanya wajahnya yang panas, hatinya pun ikutan terbakar.
Aku baru saja pulang dari membeli kue. Aku ingat, hari ini adalah hari perayaan pernikahan kami yang kedua. Mas Yuda memintaku keluar rumah dan jangan pulang ke rumah sebelum jam 9 malam.
Aku nggak tahu apa yang Mas Yuda rencanakan, tapi pastinya aku memang mengharapkan sesuatu yang bahagia juga spesial untuk perayaan pernikahan kami.
Di Luar cuaca sedang tak bersahabat. Bahkan sejak sore tadi langit sudah mulai gelap dan rintikan air hujan mulai membasahi bumi. Aku tetap keluar rumah sejak sore karena Mas Yuda yang meminta dan berpesan seperti itu.
Aku yakin, Mas Yuda sedang mempersiapkan kejutan untukku. Kejutan yang benar-benar aku harapkan, nggak lain dan bukan adalah hari dimana yang selalu aku tunggu ketika Mas Yuda lebih memanjakan diriku.
Mas Yuda belakang ini sering sekali sibuk dan keluar rumah padahal itu hari liburnya bekerja. Aku nggak punya alasan menahan Mas Yuda karena setiap kali aku tanya dia selalu bilang ada urusan kantor yang mendesak. Tentu saja aku percaya, karena dia adalah suamiku yang nggak pernah berbohong.
Meski dingin menyapu seluruh kulitku dan rintikan hujan sampai membuat bajuku basah, aku tetap nggak peduli karena aku membayangkan saat pulang nanti Mas Yuda akan memeluk tubuhku dengan erat. Harapan itu adalah pemicu agar aku bisa menghilangkan rasa dingin yang menjalar di seluruh tubuhku.
Aku nggak percaya dengan apa yang aku lihat. Mas Yuda sepertinya baru saja selesai dengan adegan panas mereka dan tubuhnya masih terlihat penuh dengan keringat. Wajahnya bahkan biasa saja saat melihatku di hadapannya.
Hingga kue yang ada di kedua tanganku, yang sudah dibuka dari boxnya begitu saja terjatuh di lantai.
"Oh, rupanya kamu sudah pulang, Amel!" kata Mas Yuda, wajahnya bahkan nggak menunjukkan rasa bersalah padaku. Sepertinya, itu memang benar-benar sudah direncanakan.
"Apa maksudnya ini, Mas? Ke-–Kenapa kamu dengan Rania ada di ranjang kita?" tentu saja aku mengenal siapa wanita yang sedang bertelanjang bulat di samping tubuh suamiku dan duduk di tepi ranjang sambil membenahi rambutnya yang masih basah karena keringat pertempuran nya tadi.
Mungkin itu adalah pertanyaan bodoh, jelas sekali aku tahu kalau suamiku sedang ena ena dengan anak dari teman ibu mertuaku. Aku mengenal Rania, dia pernah datang pada arisan keluarga beberapa bulan lalu. Aku nggak pernah menyangka kalau hari seperti ini akan terjadi pada diriku.
Layaknya seperti sinetron unggulan televisi yang tayang istri yang teraniaya oleh anak arisan teman ibu mertuaku.
Mas Yuda tiba-tiba saja mendekat dan satu tamparan keras langsung menyapa pipiku. Aku nggak tahu kenapa Mas Yuda menamparku.
"A–ada apa Mas? Apa salahku?" suaraku bergetar dan leherku tercekik saking kagetnya. Harusnya aku yang marah, kenapa ini malah Mas Yuda.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini kejutan yang mas Yuda rencanakan untukku?
"Pikir saja pakai otakmu, Amel? Apa yang kamu lakukan? Hah! Kamu benar-benar menikmati waktu yang aku berikan dengan laki-laki itu kan?" tudung mas Yuda membuat tubuhku bergetar.
Aku bingung dengan apa yang diucapkan Mas Yuda. Kenapa dia mengatakan hal seperti itu?
"Aku? Aku kenapa, Mas? Memangnya aku kenapa?" Mas Yuda nggak menjawab, dia hanya berjalan ke dekat ranjang kami dan kembali dia melemparkan sesuatu ke wajahku.
Aku semakin bingung? Aku merasa nggak melakukan satu kesalahan dan aku yakin pagi tadi kami masih baik baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku melihat beberapa lembar foto yang berserakan dekat kakiku. Aku berjongkok dan memungutnya. Melihat apa yang berada dalam foto tersebut.
Mataku membulat nggak percaya dengan apa yang ada di dalam foto tersebut. Aku berada di dalam foto tersebut dalam kondisi nggak mengenakan pakaian dan dalam dekapan seorang laki-laki. Aku sendiri bahkan nggak sadar kalau pernah ada kejadian seperti itu.
"Seharusnya kamu sudah tahu dong kenapa aku bersikap seperti ini. Ibarat kata, mata dibayar dengan mata dan kamu selingkuh dengan laki-laki lain, aku nggak salah dong kalau aku juga bersama dengan wanita lain. Toh, kamu itu juga nggak bisa memberikan yang aku mau," suara Mas Yuda lantang penuh dengan kemarahan. Sepertinya, dia benar-benar serius dengan ucapannya.
"Se–selingkuh? Apa sih, Mas? Aku nggak ngerti. Aku nggak pernah melakukan itu. Aku rasa ini ada kesalahan. Sungguh Mas, aku gak serendah itu dan melakukan hal yang kamu tuduhkan apalagi sampai bersama dengan laki-laki selain kamu, Mas. Sungguh ... mas Yuda aku nggak melakukan itu," seketika air mataku mengalir, aku nggak bisa terima. Bisa-bisa mas Yuda menuduhku seperti itu.
"Kamu buta ya, Amel? Nggak usah mengelak. Bukti sudah ada kok. Aku nggak suka dengan wanita yang nggak setia dan tukang selingkuh. Kamu kelihatan aja baik-baik dan polos, ternyata kalau keluar seperti wanita gila yang kekurangan belaian," kata–kata Mas Yuda begitu kejam.
Aku bahkan nggak menyangka kalau Mas Yuda akan mengatakan hal seperti itu. Dia suamiku, tapi bahkan penjelasanku pun nggak didengarnya.
"Apa maksudnya, Mas? Aku nggak ngerti? Aku ngerasa nggak pernah ngelakuin itu Mas, tolong percaya aku, Mas," aku mencoba mendekat akan memegang tangannya, namun Mas Yuda menolak juga menepis tanganku.
Sakitnya hatiku. Mas Yuda, suamiku sendiri, bahkan nggak mau mendengarkan penjelasanku.
"Kamu ini benar-benar tukang selingkuh. Bersikap polos di hadapanku, tapi ini hasilnya. Apa ini semua rencanamu, kamu sengaja melakukan itu demi membuatku cemburu?" mata Mas Yuda melotot dan dia mendorong-dorong keningku dengan telunjuknya.
"Sungguh Mas, aku nggak mungkin melakukan itu. Aku nggak pernah melakukan itu, Mas."
Mau berapa kalipun tuduhan itu, aku nggak akan mengakuinya. Aku nggak merasa salah. Ini bukan kesalahanku. Aku yakin pasti ada kesalahan yang terjadi.
"Sudahlah Mbak Amel, akui saja, buktinya itu sudah ada loh ...," seperti kompor meleduk, Rania melipir dan mendekap tubuh telanjang Mas Yuda-ku dari belakang. Rania bahkan nggak malu, tubuhnya masih telajang dan berani sekali dia terang-terangan memeluk suamiku tanpa sedikitpun merasa bersalah.
"Diam kamu, Rania, kamu nggak berhak ikut campur. Ini urusanku dengan Mas Yuda," kataku, aku bukan wanita yang begitu saja menerima cacian, aku pasti akan melawannya. Apalagi menghadapi wanita yang sudah menggoda suamiku.
"Sebaiknya kamu pergi, Rania" suaraku tak bisa disembunyikan, bergetar tak karuan. Bagaimanapun kuatnya aku, tetap saja perilaku mereka membuat aku gila dan nggak percaya.
Aku berusaha menarik tangannya dari tubuh suamiku. Ingin sekali aku menampar dan menjambak rambutnya, namun aku belum punya cukup keberanian, tubuh dan jiwaku masih terguncang dengan kejadian ini.
Aku dikejutkan lagi, Mas Yuda malah menampar dan mendorongku ku lagi.
"Mas!" pekiku, benar-benar sudah nggak kuat menahan perilaku suamiku yang tiba-tiba berubah.
"Jangan sentuh Rania, dia ini lebih baik dari kamu. Setidaknya dia wanita normal, wanita yang bisa memberikan aku keturunan. Sedangkan dirimu? Apa yang bisa kamu berikan padaku? Dasar wanita mandul!" Mas Yuda mengatakan hal yang membuatku bingung lagi. Dia bilang seperti itu, aku sendiri saja nggak tahu apa-apa.
"Sebaiknya kamu yang pergi dan satu hal lagi aku tegaskan, aku menyesal pernah menikah dengan wanita seperti kamu. Aku akan mengurus perceraian kita dan malam ini juga kamu pergi dari rumahku. Aku menceraikanmu dan aku nggak mau lagi melihatmu di sini," sekali lagi aku merasa tertampar, sebenarnya Mas Yuda sedang mengatakan apa? Aku sama sekali nggak ngerti.
"Ma-maksud kamu, apa Mas? Aku nggak seperti itu, Mas? Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu, Mas?" Aku mungkin saja buta karena terlalu dibutakan cinta Mas Yuda.
Aku tahu, Mas Yuda bukan laki-laki seperti ini. Dia nggak mungkin menuduhku tanpa bukti, namun aku tetap merasa bukti yang Mas Yuda tuduhkan adalah mengada-ada. Semua nggak benar.
"Sudahlah Amel, aku malas berdebat dengan wanita tukang selingkuh dan mandul seperti kamu," sekali lagi Mas Yuda berteriak, dia bahkan nggak ragu dan tanpa perasaan saat mengatakan itu padaku.
Aku masih bersikeras, aku yakin Mas Yuda hanya sedang nggak berpikir jernih karena diracuni oleh Rania. Mas Yuda nggak mungkin menuduh sembarangan, selama ini meski kami nggak pernah ribut, Mas Yuda nggak pernah sekalipun bersikap kasar seperti malam ini.
"Ini Amel, baca itu lalu kamu pergi. Jangan pernah muncul lagi dihadapanku," kata Mas Yuda lagi, dia mendorong tubuhku lagi dan melemparkan berkas yang berisi surat pemberitahuan.
"Apa ini, Mas?" Aku memungut yang dilempar Mas Yuda, kali ini pun tepat jatuh di dekat kakiku.
"Baca saja sendiri, kamu nggak buta huruf kan? Aku malas menjelaskan panjang lebar. Intinya, aku ingin menceraikan kamu malam ini juga. Aku mau kamu pergi dari rumah ku detik ini juga. Keluar dari rumahku, pengacara besok akan segera melegalkan perceraian kita setelah kamu tanda tangan!" kata Mas Yuda lagi masih melontarkan kata kasar padaku.
Aku benar-benar nggak mengerti dengan apa yang dikatakan Mas Yuda. Kenapa mas Yuda memaki dengan kasar. Apa sebenarnya ini?
Aku membuka berkas tersebut dan membaca apa yang tertera dalam surat tersebut. Tubuhku menggigil kembali, bukan karena bajuku yang basah dan mulai kering di tubuhku, ini karena aku membaca isi surat tersebut.
Aku mandul. Isi surat tersebut menyatakan aku nggak bisa memiliki keturunan. Air mataku mengalir begitu saja, tega sekali Mas Yuda memperlakukan aku seperti ini di malam perayaan pernikahan kami yang kedua. Bahkan dia terlihat nggak sedih sama sekali.
Dia benar-benar terlihat seperti sudah menunggu sejak lama. Dia seperti sudah merencanakan ini semua. Apa ini maksud Mas Yuda, menyuruhku keluar rumah, inikah kejutan yang mas Yuda siapakan untukku?
Bukan kejutan manis dan indah. Melainkan pahitnya seperti menelan empedu. Bagaimana aku bisa mengelak dan mengajukan banding untuk permasalahan ini. Aku nggak merasa seperti itu. Aku merasa baik-baik saja dan kondisi tubuhku sehat, namun memang nggak bisa dipungkiri, hal yang mas Yuda selalu inginkan aku masih belum bisa mewujudkan di dua tahun pernikahan kami.
"Mas ...." Rasanya aku nggak bisa berkata lagi. Hanya air mata yang terus mengalir di pipi. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Ketika aku melihat wajah Mas Yuda, dia seperti sudah nggak peduli. Dia benar-benar membenci dan enggan menatapku.
"Aku sudah membereskan bajumu. Kamu nggak punya barang berharga apapun yang bisa kamu bawa dari sini. Ini semua adalah milikku," kata Mas Yuda lagi dengan lantang dan aku baru benar-benar menyadari ada satu koper yang sudah dipersiapkan di dekat meja riasku.
"Mas ...," suaraku sudah serak dan benar-benar parau, aku ingin sekali memberikan penjelasan. Aku ingin menjelaskan semua, tapi Mas Yuda menoleh padaku pun enggan. Dia benar-benar ingin aku pergi dari rumahnya malam ini juga.
"Kamu benar-benar tega ngusir aku, Mas? Di luar hujan, Mas, kamu kan tahu, aku nggak kuat dingin," ucapku, mencoba mengiba dan meminta belas kasihnya.
"Aku nggak peduli. Itu bukan tanggung jawabku lagi," sahut Mas Yuda semakin ketus dan dingin, "Kamu bukan istriku lagi. Pergilah, aku sudah muak melihatmu. Dasar perempuan nggak bener," ucapnya masih memaki serampah padaku.
Mas Yuda seakan berubah 180 derajat, bukan seperti suamiku yang baik. Dia nggak pernah berteriak padaku, tapi malam ini dia benar-benar membuatku kecewa.
"Mas!"
"Pergi. Keluar dari rumahku," teriak Mas Yuda makin menggelar dan dia benar-benar mendekati koperku lalu mendorong koperku dengan kasar.
"Bawa barang-barang kotormu. Keluar dari rumahku. Aku nggak mau melihat perempuan seperti mu," tegas mas Yuda, dia dengan kasar menarik paksa tanganku, mendorongku keluar kamar bersama dengan koperku.
"Huhuhu huhuhu ... Mas aku mohon jangan usir aku Mas mas ...," aku menangis tersedu di depan kamar Mas Yuda, kamar dimana biasanya aku dan mas Yuda tiduri. Sekarang aku malah diusir dari sana.
"Tega kamu, Mas, kamu nggak mau mendengar penjelasanku. Aku benar-benar nggak bersalah Mas, aku nggak pernah melakukan itu dan aku nggak tahu kenapa bisa begini, Mas, Mas, tolong buka pintunya, dengarkan penjelasan aku, Mas," raungku di depan pintu kamar Mas Yuda, mencoba menggedor-gedor kamarnya agar Mas Yuda memberikan aku kesempatan bicara.
Tapi, nggak ada sahutan apapun kecuali aku mendengar, "Ahh umm Mas ahh enak banget Mas ahh umm kamu jadi tambah semangat setelah mengusir istri kamu ahh enak Mas," aku membeku kembali saat mendengar suara desahan manja Rania bersama suamiku.
"Ahh lubangmu benar benar nikmat sayang, ahh ini nggak ada duanya. Kamu memang yang paling terbaik. Amel itu nggak sebanding dengan kamu, aku yakin, kamu pasti bisa memberikan apa yang aku inginkan kalau aku genjot terus seperti ini ohh ahh ahh emm," kini sahutan suara dari Mas Yuda bergema, mengisi dan saling bersahutan.
Aku hanya bisa meremas jantungku. Air mataku terus saja mengalir nggak henti. Mas Yuda sudah benar-benar berubah, dia sudah nggak seperti mas Yuda suamiku. Dia seperti orang lain.
Apa yang harus aku lakukan tanpa mas Yuda? Selama ini aku nggak pernah kemana–-mana. Aku selalu menjadi istri penurut dan apapun yang dia inginkan aku selalu menurutinya.
Aku diminta diam di rumah dan menjadi ibu rumah tangga. Mas Yuda selalu melarangku menggunakan kosmetik karena dia bilang aku cantik meski nggak berdandan sekalipun. Padahal selayaknya seorang wanita terkadang aku pun menginginkan merias diri seperti wanita lainnya.
Semua karena mas Yuda, apapun yang dia inginkan aku lakukan. Inikah balasannya, aku seperti barang rongsokan yang tidak berharga dibuang begitu saja tanpa perasaan.
Mas Yuda seperti orang lain. Dia entah sejak kapan berubah. Selama ini aku merasa nggak ada pertengkaran di hubungan kami. Aku merasa rumah tangga kami baik-baik saja.
Dari mana dia bisa mendapatkan laporan kondisi kesehatanku. Aku nggak pernah merasa melakukan tes apapun. Dan tau-tau mas Yuda mendapatkan surat yang menyatakan aku mandul. Jujur aku masih bingung dengan kondisi itu.
Tanganku gemetar menarik koper keluar dari rumah mas Yuda. Air mataku masih saja belum berhenti, aku benar-benar nggak menyangka di malam kami seharusnya merayakan hari bahagia, malah kesedihan ini yang aku rasakan.
Diusir mas Yuda karena aku berselingkuh dengan laki-laki lain yang sama sekali aku nggak pernah tahu. Lalu aku dinyatakan mandul adalah hadiah pernikahan kedua yang sama sekali nggak pernah aku bayangkan. Kemudian diceraikan secara sepihak. Duniaku seketika menjadi gelap dan ruangan terasa sesak. Semakin aku pikir, aku semakin nggak mengerti.
Hujan benar-benar deras mengguyur bumi. Aku kehilangan arah. Hanya bisa menarik koper dan berjalan di sepanjang trotoar, jika mungkin ada orang yang melihatku saat ini mereka akan menyangka kalau aku gila. Mana ada wanita waras dan normal berjalan di tengah hujan sambil menarik koper dan terus menangis.
Saat ini aku nggak tahu harus kemana. Aku merasa nggak punya teman, tujuan atau siapapun yang bisa aku datangi. Benar-benar membuatku makin sesak napas.
"Huhuhu, mas Yuda, huhuhu, tega banget kamu, mas, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini, mas, huhuhu," tangisku di sepanjang jalan dan diguyur air hujan sangatlah lengkap. Seperti butiran batu kerikil yang menimpuki tubuhku, itu terasa sangat menyakitkan.
Aku menghentikan langkahku dan duduk di tengah trotoar. Menangis sekencangnya ditengah hujan agar nggak seorangpun bisa mendengar perasaan terluka diriku.
"Mas Yuda aaagghh kamu benar-benar tega Mas, kamu jahat, Mas, huhuhu!" semua cairan dari hidungku benar-benar sudah nggak bisa terbendung. Suara serak, badan menggigil terus menyapu kulitku.
Semua penghianat mas Yuda sama sekali nggak pernah aku bayangkan. Aku nggak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini. Ini semua karena si Rania wanita penggoda suami orang itu. Kalau bukan dia yang meracuni suamiku, mas Yuda nggak akan pernah melakukan hal seperti ini.
Aku nggak menyadari kalau ada sepasang mata dari dalam mobil sedang mengamatiku. Dia benar-benar melihat kehancuran ku.
"Amel ... Amel. ini beneran elo kan?" Aku hampir nggak mendengar suara teriakan itu karena sudah dibarengi dengan hujan dan juga petir yang bergemuruh.
Suara itu mendekati, aku merasa ada seseorang yang memayungi tubuhku. Aku mengangkat kepalaku perlahan meskipun sudah terasa sangat berat dan pusing.
"Donna ...," suaraku hampir nggak terdengar, aku merasakan tubuhku dipapah berdiri. Dia merangkulku dalam pelukan.
"Ngapain Lo disini? Trus kenapa Lo bisa kayak gini, Mel?" suaranya setengah berteriak, namun yang terdengar di kepalaku seperti dengungan-dengungan yang hampir nggak terdengar. Tubuhku melemah dan aku merasakan pandanganku gelap.
Saat aku terbangun, aku sudah terbaring di ranjang. Mataku menatap sekeliling, nggak ada aksen kamar yang kukenal, jelas sekali ini bukan di kamar Mas Yuda.
"Lo udah bangun, Mel," suara itu menyapa kembali, Donna duduk di pinggir ranjang dengan pandangan yang mengkhawatirkanku.
Aku menatapnya tanpa bicara, namun tanpa terasa air mataku mengalir kembali. Donna terkejut, "Elo, kenapa, Mel? Apa yang terjadi?" Aku nggak kuasa membendung air mata, meraung tambah kencang saat Donna mempertanyakan kondisiku.
"Tarik napas, buang, tarik napas lagi trus buang, Mel, pelan-pelan aja, gue nggak maksain buat Lo cerita sekarang kok," Donna berusaha mengerti kondisiku yang memang belum bisa diajak cerita.
Dia menenangkanku, mengusap punggungku. Rasanya, itu yang paling aku butuhkan sekarang. Aku hanya butuh seseorang yang memelukku dengan erat.
"Donna ...," suaraku berat dengan limbangan air mata, benar-benar terasa sangat sesak.
"Tenang Mel, pelan-pelan aja ceritanya, nggak harus sekarang, uhm ... Lo udah makan belum? Tadi pas Lo pingsan, gue udah sempet buatin makan," kata Donna, dia benar-benar menghawatirkan kondisiku yang lemah dengan tubuh yang terus menggigil. Aku menggeleng pelan.
Makan? Bahkan hari ini sebelum benar-benar berakhir, aku sudah lupa, apa aku sudah makan atau belum. Aku hanya ingat pagi tadi sempat menggigit satu helai roti saking senangnya menerima telepon mas Yuda yang meminta ku untuk keluar rumah siang hari dan jangan pulang sebelum jam 9 malam.