Sampul Novel TestPack Di Tas Sekolah Anak Lelakiku

TestPack Di Tas Sekolah Anak Lelakiku

8.7 / 10.0
Dunia Mayra dan Ardi runtuh seketika saat rahasia kelam putra mereka terbongkar. Nathan, anak laki-laki yang selama ini mereka kenal sangat lugu, ternyata telah menghamili seorang gadis di masa SMA-nya. Kenyataan pahit ini menjadi pukulan yang sangat telak bagi kedua orang tuanya. Di tengah badai rasa malu dan kesedihan, Mayra dan Ardi terus didera rasa bersalah yang mendalam karena merasa telah gagal mendidik serta menjaga masa depan Nathan.
Ringkasan TestPack Di Tas Sekolah Anak Lelakiku
Dunia Mayra dan Ardi runtuh seketika saat rahasia kelam putra mereka terbongkar. Nathan, anak laki-laki yang selama ini mereka kenal sangat lugu, ternyata telah menghamili seorang gadis di masa SMA-nya. Kenyataan pahit ini menjadi pukulan yang sangat telak bagi kedua orang tuanya. Di tengah badai rasa malu dan kesedihan, Mayra dan Ardi terus didera rasa bersalah yang mendalam karena merasa telah gagal mendidik serta menjaga masa depan Nathan.
Baca Selengkapnya

TestPack Di Tas Sekolah Anak Lelakiku Bab 1

TEST PACK DI TAS SEKOLAH ANAK LELAKIKU

POV MAYRA

Jantungku berpacu dua kali lipat saat mendapati benda pipih terjatuh dari tas sekolah anak lelakiku. Dengan tangan yang gemetar aku mengambil benda yang memiliki garis dua itu, bau air seni masih tercium dari benda itu. Jelas jika test pack yang ku pegang itu bekas pakai.

“May, mana sarapannya?” Suara Mas Ardi berteriak dari dapur. Aku menyimpan benda itu di saku daster, belum saatnya mengatakan pada suamiku. Bahkan aku masih berharap jika apa yang ada dalam benak ini hanya kesalahpahaman saja.

“Aku tadi beresin dulu kamar Nathan, Mas,” jelasku. Tangan ini dengan cekatan menyiapkan makanan untuk suami dan anakku. Nathan masih berada di kamar mandi.

“May, bonus lembur bulan ini mau Mas kasih buat ibu semuanya, Ibu lagi sakit. Nggak apa-apa 'kan?” tanyanya sambil menyantap sarapan.

Mas Ardi selalu mengatakan padaku untuk apa saja uangnya dipakai. Biasanya Mas Ardi akan memberikan setengah dari bonus lembur untuk ibu mertua, sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan soal itu, karena Mas Ardi tetap mengutamakan kebutuhanku dan Nathan.

“Iya, Mas.” Aku hanya menjawab singkat.

“Kamu sakit? kok wajahnya pucet gitu,” tanya Mas Ardi.

Aku menjawabnya dengan gelengan kepala sambil tersenyum. Mungkin efek tadi aku terlalu kaget dengan apa yang kulihat. Nathan datang dengan seragam sekolahnya, ia hanya berdiri mematung.

“Duduk, Nak. Sarapan dulu,” seruku.

“Nathan belum laper, Bu. Nanti makan di kantin aja,” jawabnya.

“Ayah bangga sama kamu, Nak. Kamu bisa mempertahankan juara umum pertama di sekolah selama dua tahun berturut-turut,” tutur Mas Ardi sambil menepuk pelan pundak Nathan.

Anakku memang sangat ulet dan tidak neko-neko. Ia juga tidak seperti anak-anak pada umumnya yang suka jalan-jalan bersama temannya saat weekend. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah, kadang aku yang memaksanya untuk pergi bersama teman-temannya yang lain. Tidak ingin anakku menjadi orang yang punya jiwa introvert.

“Ya udah, yok berangkat!” ajak Mas Ardi, ia merangkul pundak Nathan sambil berjalan ke depan.

Aku merasa menjadi wanita beruntung karena memiliki suami pengertian seperti Mas Ardi dan anak penurut seperti Nathan. Aku menatap mobil yang membawa suami dan anakku berjalan menjauh. Tempat kerja Mas Ardi dan sekolah Nathan satu arah, makanya mereka selalu berangkat bersama.

Aku menepuk jidat saat mengingat jika tadi aku di buat cemas dengan testpeck bergaris dua itu. Saat Nathan pulang sekolah akan kutanyakan padanya mengenai benda ini.

***

Aku menunggu dengan cemas Nathan yang belum pulang, sudah jam lima sore tapi anak itu belum terlihat batang hidungnya. Tidak biasanya Nathan pulang telat, jikapun telat ia akan mengatakannya padaku. Mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat.

Deru suara mobil membuatku langsung melangkah ke arah pintu dan menyambut kepulangan Mas Ardi. Mencium tangannya dan membawakan tas kerjanya. Mas Ardi bekerja sebagai staff HRD di salah satu perusahaan swasta.

“Mana Nathan? Aku udah beliin kado buat dia.” Mas Ardi terlihat antusias. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam paper bag dan memperlihatkannya padaku. Sebuah ponsel dengan logo apel tergigit itu adalah ponsel impian Nathan.

“Nathan belum pulang, Mas. Mungkin ada kelas tambahan,” jawabku asal. Aku saja tidak tahu dimana Nathan saat ini.

Mas Ardi memilih untuk mandi dulu sebelum Nathan datang, ia juga mengatakan akan mengajakku dan Nathan untuk makan malam di luar. Jika sudha seperti ini suasana hati Mas Ardi pastilah sedang senang.

“May ….”

Suara teriakan Mas Ardi membuatku berlari menghampirinya. Mataku erbelalak saat melihat ia memegang test pack di tangannya, test pack yang aku temukan di tas Nathan tadi pagi.

“Ka–kamu hamil, May?” tanyanya. Senyum merekah di wajahnya, mungkin ia mengira jika aku hamil. Memang aku dan Mas Ardi sedang program untuk memiliki anak kedua.

“Ma–mas … a–ku.” Lidah ini rasanya kelu, tidak sanggup untuk berkata-kata.

“Aku seneng banget.” Mas Ardi berkata sambil memeluk tubuh ini dengan erat.

Suara Nathan yang mengucapkan salam membuatku melepaskan diri dari dekapan Mas Ardi dan menemui anakku itu.

“Kena–” perkataanku terhenti saat melihat wajah Nathan yang lebam dan darah segar terlihat di sudut bibirnya.

“Kamu kenapa, Nak?” tanyaku cemas sambil memegang wajah anakku itu.

Nathan tidak berbicara, ia menunduk. Setetes air mata terjun bebas membuatku semakin cemas. Aku langsung memanggil Mas Ardi.

“Ma–maafin, Nathan ….”

Aku dan Mas Ardi terdiam, menunggu Nathan menyelesaikan ucapannya.

“Nathan di pukuli sama Papanya Kayra,” uangkapnya.

“Kamu ada salah apa sampai di pukuli kayak gini?” tanya Mas Ardi.

“Kayra ha–hamil,” jelasnya.

Aku menggeleng pelan sambil mengguncang pundak Nathan.

“Katakan, bukan kamu yang melakukannya 'kan? Ayahnya Kayra cuman salah paham?” tanyaku bertubi-tubi. Aku menarik nafas dalam sebelum mendengar apa yang akan dikatakan oleh putraku itu.

“Maaf ….”

Lutut langsung lemas seketika, tubuhku roboh ke lantai. Netra ini memanas diiringi buliran bening yang berlomba keluar dari pelupuk mata. Kata maaf yang dikatakan Nathan mewakili pertanyaan yang sedari pagi bersarang di benakku.

“Hahaha … Ternyata kamu juga bisa ikutan kaya orang-orang, ya. Masa orangtua sendiri di prank kayak gini?” seru Mas Ardi sambil tertawa, ia berjalan mendekat pada Nathan dan menepuk pundak anak itu. Aku menggelengkan kepala dan mencoba berdiri menghampiri suamiku.

“Mana mungkin 'kan kamu melakukan hal bejat itu, kamu itu kebanggan Ayah!” lanjutnya.

“Maaf, Yah. Tapi anak kebanggaan Ayah ini memang melakukan hal bejat itu,” tutur Nathan pelan.

Aku tidak sanggup untuk berkata-kata, dada ini rasanya sesak. Duniaku rasanya runtuh saat mengetahui putra yang selalu kubanggakan bisa melakukan hal sekeji itu. Aku merasa menjadi orangtua yang gagal untuk Nathan.

“Apa? coba katakan sekali lagi! Yakinkan Ayahmu ini kalau semua yang kamu katakan itu cuman omong kosong!” seru Mas Ardi, tangannya mengguncang pundak Nathan dan mencengkramnya.

“Ma–maaf, Yah. Nathan yang melakukannya, Nathan yang bertanggung jawab atas kehamilan Kayra,” akunya.

Bisa kulihat kemarahan dari sorot mata Mas Ardi, tangannya mengepal. Bahkan netranya kini memerah dan setitik air mata lolos membasahi pipinya yang langsung dihapus dengan kasar.

“May, apa dia putra kita? putra kita yang polos dan penurut? atau ini cuman mimpi?” tanya Mas Ardi padaku, aku semakin tergugu. Air mata sudah tidak bisa lagi dibendung. Mulut ini seperti terkunci, tidak bisa mengatakan apapun.

“May … katakan padaku kalau semua ini tidak benar!” sentaknya.

“Maafin Nathan, Yah, Bu. Nathan salah,” seru Nathan. Ia berlutut di depanku dan Mas Ardi sambil menangis.

“Maaf? Kau bilang maaf … setelah mendapatkan akibatnya baru kau menyadari betapa hinanya perbuatanmu itu!? Kasih sayang yang kami berikan kau balas dengan melemparkan kotoran ke wajahku dan Ibumu! Apa masih kurang segala yang kuberikan? Apa aku terlalu keras padamu atau kasih sayang yang kuberikan kurang hingga kau menghadiahi ini sebagai balasan atas ketidak puasan itu!” seru Mas Ardi dengan berapi-api.

“Nathan khilaf, Yah,” sesalnya sambil mencoba memeluk kaki ayahnya itu tapi langsung ditepis dengan keras oleh Mas Ardi. Mas Ardi pergi ke kamar Nathan, entah apa yang dilakukannya. Ku akui, diri ini memang terluka tapi seorang ibu tidak akan pernah tega mengabaikan anaknya dalam keadaan seperti ini.

Bersambung ....

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi TestPack Di Tas Sekolah Anak Lelakiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra hancur setelah kesuciannya dirampas paksa akibat rencana jahat kakek pacarnya sendiri. Tragisnya, sang kekasih justru mencampakannya demi menikahi wanita lain. Di titik terendah, Lula diselamatkan oleh orang tua kandungnya yang ternyata konglomerat kaya raya. Didukung kekuatan keluarganya, ia pun menyusun rencana balas dendam demi menghancurkan mantan kekasih beserta keluarganya. Namun, akankah kehancuran mereka membawa kedamaian yang dicarinya?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan. Alih-alih bahagia, ia justru menjadi sasaran kekejaman Adnan, suaminya yang menyimpan dendam membara kepada sang mertua. Setiap hari, Saschya harus bertahan menghadapi siksaan fisik dan mental yang keji. Namun, di tengah keputusasaan yang mendalam, sosok dari masa lalunya mendadak hadir kembali. Apakah kemunculan mereka akan menjadi penyelamat yang membebaskan Saschya, atau malah memicu prahara baru di hidupnya?
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang terjadi menyisakan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan, serta pengorbanan tulus. Walau mengenalmu membawa kesedihan dan rasa sakit, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, saat kesadaran terlambat itu datang, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik berharga bersamamu.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita kontroversial yang kerap dicap perusak hubungan, bertekad mengubah hidupnya. Demi belajar dari desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menerjang musim dingin utara yang ekstrem. Sialnya, Amber dirampok hingga tersesat di tengah hutan beku. Harapan hidupnya kini bergantung pada Tuan Dingin, duda misterius pembenci wanita yang dirumorkan sebagai kanibal. Bisakah Amber menaklukkan hati pria tersebut, atau ia justru akan menjadi korban dari kebenciannya?
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki sangat geram karena ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan klasik bahwa mereka tidak saling kenal membuat Yuki berang hingga mengatai calon suaminya itu sebagai lelaki tua yang menjengkelkan. Namun, kekesalan tersebut tidak bertahan lama. Sebuah senyum licik merekah di wajah Yuki saat sebuah ide brilian muncul di benaknya. Ia pun menyusun rencana cerdik untuk memberi pelajaran bagi pria yang telah menolaknya tersebut.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Puluhan ribu anak berusia di bawah sepuluh tahun berkumpul khidmat di Puncak Lundao, Pulau Sepuluh Ribu Binatang. Sebagai murid baru yang telah menemukan akar spiritual mereka, mereka menyimak kisah dari tetua berjubah hijau. Ia menceritakan sejarah sekte yang dirintis oleh sang pendiri legendaris, Wan Beast Immortal Li. Sebelum meraih keabadian, Li hanyalah seorang kultivator biasa dari Kerajaan Qin di Alam Qianyang.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED