Deep House Bar and Cassino Club, Chicago, US, 01.10 AM
Bunyi dentuman musik terdengar dengan nyaring disertai seruan orang-orang yang berada di lantai dansa. Seorang wanita cantik dengan cocktail dress pendek berwarna merah berkilau itu melangkah dengan percaya diri. Membuat orang-orang yang berada di depannya otomatis menyingkir, membuka jalan bagi sosok wanita yang menjadi primadona para pria di tempat itu.
Relova Luvena, wanita cantik yang menjadi perhatian semua pria ditempat itu kini berjalan menuju seorang wanita lain dengan mini dress berwarna hitam yang duduk di depan sebuah meja bar. Tangan wanita itu memutar gelas bening berisi cairan berwarna merah keunguan.
"Kamu terlambat" Ucap Emily, wanita yang mengenakan mini dress hitam dan duduk di depan meja bar itu adalah Emily Yonsen, sahabat seorang Relova Luvena.
"Bukannya bintang memang selalu muncul belakangan" Seru Lova membuat Emily mendengus keras, dia meneguk minuman beralkohol itu sambil menatap Lova dengan tatapan menilai
"Ngomong-ngomong, kenapa merah? Kau sengaja ingin membuat para lelaki di sini bertekuk lutut di depanmu yaa?" Seru Emily seraya meletakan gelas koktailnya
Lova tertawa renyah. Suara tawa itu membuatnya terlihat semakin menawan. Dibawah gemerlap lampu yang kelap-kelip Lova terlihat sangat bersinar terlebih dress yang gadis itu kenakan memang tersusun dari beberapa manik permata hingga menyebabkan kilauan pada tubuhnya.
Lova mendudukkan diri di kursi samping Emily. "Kamu pintar menebak Emi" ucap Lova membenarkan, Lova sengaja menggunakan dress merah untuk menarik perhatian para pria di tempat ini.
Hal yang perlu dicatat adalah bahwa Lova tidak sembarangan menggoda pria. Ada kriteria khusus untuknya. Selain kaya tentu wajahnya harus tampan dan sesuai dengan standarnya.
"Halo Ben" Sapa Lova pada sang bartender yang meletakan gelas kaca di depannya.
"Hai, Angelic, seperti biasa?" Tanya Ben dengan senyuman, berapa kalipun Ben melihat Lova, pria gondrong itu selalu merasa terpesona. Lova selalu menarik di mata siapapun, wanita itu memiliki magnet yang sangat susah di tangkis.
"Yes, Please.." Seru Lova pelan nyaris mendesis
"Sialan, mulutmu itu bahaya sekali Angelic" Ucap Ben yang dibuat terbuat oleh ucapan Lova
Lova tertawa lalu memperhatikan Ben yang menuangkan minuman dengan kadar alkohol rendah pada gelas Lova.
"Silahkan"
"Thanks"
Lova menyesap minuman itu dengan mata hazelnya yang melirik Emily "What's wrong?" Tanya Lova
Emily menggeleng singkat "Aku baru sadar jika dress kita dari brand yang sama" Ucap Emily sambil tersenyum tipis. Emily menatap Lova lalu beralih pada dirinya sendiri.
"From sugar?" tanya Emily
"Nope, aku membelinya sendiri" Sanggah Lova
"Hah.. kita benar-benar terlihat seperti bitches sekarang" Emily tersenyum geli "Eh salah, kita bukan bitches biasa. We're queen bitches" Seru Emily lagi, membuat Lova tertawa. Inilah yang dia sukai dari Emily, wanita itu berbicara blak-blakan dan apa adanya. Tidak seperti orang-orang yang selalu berusaha menyanjungnya dan melontarkan pujian mulia untuknya.
Sebuah sentuhan di pundak Lova yang terbuka membuat wanita bersurai coklat itu tersadar, dia menoleh pada sang pemilik tangan yang menyentuh pundaknya.
"Angelic?" Ucap pria itu. Lova menatapnya sebentar lalu tersenyum lebar.
"Who are you, pretty boy?" Ucap Lova menggoda hingga membuat wajah pria itu memerah di buatnya, ternyata benar kata temannya, Angelic adalah orang yang sangat ramah.
"Aku Enid Malkin, bisa kau menemaniku malam ini?" tanya pria bernama Enid itu
"Umm maaf boy" Sesal Lova dengan berpura-pura. Enid tertawa kecil
"It's oke. Bagaimana jika besok? Dinner?" tanyanya
"Emm.." Lova bergumam membuat Enid menahan gemas. Bagaimana bisa Lova terlihat lugu padahal saat ini mereka sedang berada di sebuah club malam. Sebuah tempat bagi orang yang telah dicap sebagai 'orang-orang tidak benar'
"Aku akan bayar sesuai dengan keinginanmu" Ujar Enid lagi kekeh, pria itu tidak mungkin melepaskan kesempatan emas untuk bersama wanita primadona disana.
Lova terlihat berpikir lalu semenit kemudian senyum manis terukir di bibirnya disertai dengan anggukan pelan, demi tuhan Enid sangat menahan diri untuk tidak menyerang wanita itu sekarang.
"Kau yakin? Aku tidak mau membuatmu jatuh miskin" Gumam Lova lirih. Percayalah jika saat ini Emily sedang menahan mual melihat tingkah sahabatnya itu
Enid tertawa lalu mengelus rambut Lova, bahkan rambut wanita itu saja terasa sangat lembut ditangan Enid membuat pria itu memikirkan bagaimana dengan bagian lainnya. Apakah akan sama lembutnya?
"Enid kau keberatan?" Ucap Lova menyadarkan Enid dari lamunannya, pria itu memberikan senyuman tipis sebelum menjawab pertanyaan Lova
"Tenang saja, berapapun yang kau inginkan aku dapat memberikannya"
Lova mengangguk cepat, Enid menyodorkan sebuah ponsel ke arah Lova. Ponsel keluaran terbaru yang Lova perkirakan hampir menyentuh 30 juta itu diserahkan Enid ke genggaman Lova.
"Di ponsel itu hanya ada nomorku, aku tau kau tidak suka di jemput jadi aku akan mengirimkan alamat dinner kita ke ponsel itu"
"Oke" Lova berdiri dan mendekat ke arah Enid, wanita itu mengelus rahangnya membuat Enid meremang, mata pria itu menutup menikmati sentuhan Lova. Melihat itu Lova bersmirk dan mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga pria itu sebelum berbisik "Thanks, Darling"
Lova menjauhkan tubuhnya dan melepaskan tangannya dari rahang Enid. Mata hijau pria itu terbuka dan bibirnya tersenyum lebar membuat tatapannya terlihat sayu.
"Aku menunggumu" Enid mengecup pipi Lova lalu kembali ke arah teman-temannya yang berada di meja lain. Mereka terlihat menyoraki Enid yang kembali dengan senyum lebar.
"EKHEM!" Lova menatap Emily yang berdehem keras, ia kembali mendudukan diri di tempat semula sambil tersenyum tipis
"Aku tidak mau membuatmu jatuh miskin..." Cicit Emily mengulang hal yang tadi Lova katakan. "Bahkan mengulangi ucapanmu saja sudah membuatku mual, Lova"
"Pelan-pelan saat menyebut namaku" Peringat Lova. Ditempat ini dirinya dikenal sebagai Angelic bukan Relova Luvena. Namun pengecualian untuk Emily yang memang mengenal Lova
"Oke.. oke" Cicit Emily
"Menurutmu bagaimana?" Lova bertanya sambil memutar ponsel pemberian Enid
"Maksudmu? Kau tidak mengenal Enid Malkin?" Tanya Emily tak percaya setelah menyadari maksud pertanyaan Lova.
"Kenal, tadi aku baru berkenalan dengannya" Seru Lova, wanita itu menyesap cocktailnya.
"Oh My Lova, kau tidak tau keluarga Malkin?" Lova menggeleng, Emily menghela nafas
"Dia itu putra kedua keluarga Malkin, sayangnya rumor bilang dia itu amat sangat playboy. By the way, Aku pernah melihatnya masuk ke dalam hotel dengan tiga wanita sekaligus"
"Wow, sampah masyarakat" Gumam Lova
"Hei, jika kau menyebutnya seperti itu lalu sebutan apa yang cocok untuk dirimu?"
"Bukankah aku sudah punya julukan, Angelic namanya jika kau lupa"
"Lalu... apakah Angelic kita ini akan kembali melancarkan aksinya pada Tuan muda Malkin?" Goda Emily
Lova tersenyum lebar, matanya tertutup membentuk bulan sabit. Emily menangkup wajah wanita itu dengan gemas membuat para kaum adam iri dengan Emily yang bisa menyentuh Lova seenaknya "Kenapa sih wajahmu ini terlihat bisa terlihat polos dan sangat cantik padahal otakmu penuh dengan rencana licik?!" Seru nya tak terima
"Mungkin karena itulah aku diciptakan Em, untuk membuktikan bahwa tidak semua yang terlihat polos dan cantik itu baik" Ucap Lova lugas, Emily menatap Lova dengan pandangan menerawang. Bahkan selama ini Emily sendiri tidak bisa mengerti jalan pikiran Lova.
"Aku benar-benar tidak bisa memahami mu Lova"
"Setidaknya aku bisa memahamimu Emily" Lova tersenyum sedangkan Emily mendengus.
Lova menatap ke arah meja tempat Enid berada bersamaan dengan itu juga pandangan Enid tertuju padanya. Lova tersenyum manis "Welcome, darling" gumam Lova.
Darling. Satu kata panggilan dari Lova yang menandakan bahwa permainannya akan dimulai bisa dipastikan setelah semuanya berakhir akan ada perasaan yang hancur ditangan cantiknya.
President Private Suite Room, Hotel in Milan, Italia
03.32 AM
"Shit!" Pria dengan tubuh atletis itu mengumpat sambil mendorong wanita seksi yang berada di depannya dengan kasar. Mata abu-abu itu menatap penuh amarah
"Sudah ku bilang jangan pernah menciumku!" Pria itu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, seakan jijik dengan tingkah wanita yang baru saja mencium dirinya. Membuat wanita itu menatapnya dengan bingung akan penolakan sang pria
"Bukankah kita harus berciuman sebelum bermain, Caid?" Seru wanita berpakaian minim yang sudah nyaris terbuka bagian depannya.
"Kau sudah melanggar persyaratan nya Georgina" Suara berat dan sarat akan aura berbahaya itu sontak membuat tubuh Georgina memanas. Matanya menatap sosok Caid dengan penuh damba, dia mendekat dengan sensual lalu memeluk tubuh Caid dan mengusap dada pria itu.
"Itu hanya ciuman Caid, kenapa kau sensitive sekali" Ucap Georgina dengan suara yang dibuat manja.
Jika pria lain mungkin mereka akan langsung menerjang Georgina secara spontan, terlebih lagi wanita itu sudah bermain pada area sensitif seorang pria yang masih tertutup pakaian.
Namun berbeda dengan Caid, pria yang sangat rupawan itu menyorotkan mata abu-abu dalamnya pada si wanita murahan yang baru saja di bawanya dari sebuah club ternama di Milan.
"Lepas!" Suara beratnya kembali terdengar
"Tidak mau! Kita bahkan belum memulainya" Georgina memeluk tubuh Caid semakin erat, dia menempelkan dadanya pada Caid, tubuhnya bergerak menggesek bagian sensitive tubuh Caid, merangsang pria itu agar mau menyerangnya.
"Pergi! Aku akan tetap mengirimkan uangnya padamu" Caid menggeram. Dia melepaskan tangan wanita itu dan menepisnya kasar hingga Georgina menampakan raut tak terima. Jelas dia tidak terima jika ini adalah kesempatan emasnya untuk menjadi wanita Caid Walton, pewaris Walton grup.
"Tapi kenapa? Kita belum melakukannya, kau juga belum puas denganku kan?" Tanya Georgina, dia menatap Caid dengan mengigit bibir merahnya, berusaha menggoda pria berkemeja hitam dengan dua kancing yang sengaja dibuka menampakan tubuh sempurna pria itu.
Caid mengabaikan Georgina, dia melangkah menuju balkon dan menyalakan rokoknya. Kepulan asap keluar dari bibir tebal seksi Caid, dia menghembuskan asap itu sambil menatap kota Milan yang sangat terang meskipun cuaca hari ini sangat dingin.
Kegiatan Caid terhenti kala sepasang tangan melingkari pinggangnya, tanpa menolehpun Caid tau jika itu adalah Georgina. "Disini dingin, ayo masuk, aku akan menghangatkanmu" Ucap Georgina dengan mendayu. Dia menempelkan tubuh terbukanya yang tidak mengenakan pakaian apapun agar aksinya berjalan lancar.
"Telingamu itu hanya pajangan ya?" tanya Caid tanpa menghentikan kegiatan menatap kota Milan sambil menyesap rokoknya.
"Telingaku masih berfungsi dengan baik apalagi jika bisa mendengar geramanmu yang terus menerjangku dengan kasar.. Uh aku bahkan tidak sanggup membayangkannya" Ucap Georgina dengan erotis, tubuhnya sudah terlalu mendamba sosok Caid. Pria paling sempurna yang menjadi incaran kaum hawa di benua eropa ini.
"Kau sangat liar dan keras kepala, Georgina. Dan kau tau..." Caid membalik tubuhnya, dia menatap Georgina dengan sebelah sudut bibir yang terangkat, membentuk seringaian yang justru membuat tubuh Georgina semakin meremang.
"Yes Caid" Jawab Georgina lemah terlebih saat tangan kekar mengelus lehernya
"Aku selalu menghabisi orang yang telah mengabaikan ucapanku!" Caid bisa melihat Georgina yang menegang. Dia menatap tubuh telanjang wanita itu dengan tatapan menilai lalu mendekatkan kepalanya di samping wajah Georgina. Tangannya mencengram leher wanita itu
"Harusnya kau pergi saat aku memaafkanmu karena melanggar persyaratan kita tapi kau justru mengabaikan ucapanku!" Bisik Caid pada telinga Georgina. Seringain Caid semakin melebar saat tubuh wanita itu mulai bergetar di bawah kendalinya. Dengan kasar dia menarik Georgina masuk ke dalam kamar hotel.
Dia melemparkan Georgina pada ranjang. Rintihan kesakitan wanita itu tak menghentikan aksi kejinya. Caid menyalurkan bakat melukisnya pada tubuh Georgina. Penyiksaan itu berakhir dengan seprai yang terpenuhi oleh warna merah, warna kesukaan seorang Caid Walton. Senyum lebar terpatri dibibirnya saat melihat sosok Georgina yang terkapar tak berdaya.
"Kau lemah sekali, sepertinya aku harus mencari hiburan baru" dia menampakan senyum meremehkan lalu menjauh dari ranjang sambil melepaskan kemejanya yang dipenuhi darah milik Georgina
"Brain, bersihkan kamar hotelku" Perintahnya pada seorang pria yang menunggu tepat di lorong kamar hotel. Caid melewati lorong hotel itu dengan santai, lorong itu sepi tanpa seorang pun dilantai tersebut.
-
Boston, Amerika
Seorang reporter di dalam telivisi tengah membacakan script mengenai berita kematian. Yang tewas adalah seorang wanita muda dan diketahui sebagai wanita penghibur. Namun bukan identitas sang korban yang menjadi bahan pembicaraan melainkan lokasi wanita itu yang ditemukan pada sebuah kamar hotel mewah milik keluarga Walton.
"Dimana Caid?" Pria berumur akhir 50 tahunan itu bertanya pada seorang pria berjas hitam yang berdiri di dekatnya
"Tuan muda belum kembali dari Milan, Tuan" Pria berjas itu menjawab pertanyaan dari tuannya
"Ah, anak itu" Pria tua itu melepaskan kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya. Dia meraih ponselnya dan menelpon sang putra yang berada di negara bagian lain
"Kau benar-benar ingin membuatku bangkrut ya" Ucap Calton, Ayah Caid begitu panggilan telponnya terhubung
"Ayolah itu cuma sekali, Dad. Lagipula jika Daddy bangkrut pun aku masih bisa menghidupi Daddy" Jawab Caid di sebrang sana.
"Cuma sekali dalam bulan ini. Jangan lupa kau sudah banyak membuat nyawa orang menghilang, Caid" Calton menghela nafas. Ia tahu betul sudah berapa banyak nyawa yang diambil oleh putranya itu.
Caid tertawa pelan "Bukannya itu ajaran Daddy" Seru Caid dengan nada berat, ada banyak emosi tertahan dalam ucapannya namun tatapan pria itu sangat jauh berbeda dari perasaannya yang tersembunyi.
Calton terdiam. Dia memang mengajarkan Caid untuk memberantas para penganggu yang berani mengusiknya, didikan yang Calton berikan tergolong keras dan kejam karena Calton ingin putranya itu dapat berdiri dengan kokoh tanpa goyah. Namun dia tidak menyangka jika putranya yang sekarang itu bagaikan mesin pembunuh.
"Mommymu pasti akan marah jika tahu"
"Mommy tidak akan tahu Dad, selama aku ataupun Daddy tidak memberitahukannya"
"Dengar Caid, kau tidak seharusnya melakukan hal itu, kontrol emosimu dengan benar"
"Jadi maksud Daddy aku tidak bisa mengontrol emosi, begitu?" Tanya Caid dengan tawa kering. Calton menghela nafas, dia sendiri bahkan tidak bisa menebak bagaimana sosok asli putranya itu dan sekarang dia seolah ingin berperan sebagai ayah yang baik, hah lucu sekali.
"Jadi kapan kau akan mengambil alih perusahaan?" Akhirnya hanya pikirkan itulah yang mampu Calton ucapkan
"Bukannya Dad sudah mengubah kepemilikan perusahaan atas namaku" Sela Caid
"Dari mana kau tau?" Tanya Calton dengan semirk di bibirnya
"Aku menerima undangan dari kampus, katanya untuk CEO Walton Grup" Seru Caid dengan nada mengejek hingga membuat Calton tertawa.
"Jadi kapan kau akan ke Boston?"
"Aku kembali lusa setelah membereskan beberapa hama yang sudah menggelapkan uangku disini"
"Baiklah, bersenang-senanglah di sana sebelum kau disibukkan dengan tugas sebagai CEO Walton grup" Pada akhirnya Calton selalu mendukung apa yang putranya lakukan bahkan jika putranya lebih memilih untuk menghabisi musuhnya secara langsung dari pada memasukkannya ke penjara.
Boston, Amerika 11.00 AM
"Relova" mendengar namanya dipanggil sontak gadis dengan rambut coklat yang diikat menjadi satu dan sebuah kacamata bulat dengan frame bening itu menoleh ke belakang. Tampilannya disiang hari jauh berbeda dibanding saat malam hari.
Namun meski Lova menggunakan kaca mata dengan setelah sederhana, dia tidak terlihat seperti mahsiswa kolot justru tampilannya terlihat lebih sederhana dan polos.
"Ya?" Jawabnya sambil tersenyum tipis
"Ha-hai aku Alex Ederson" ucapnya sambil menjabat tangan Lova
"Oke dan sepertinya kau sudah mengenalku" Lova tertawa kecil membuat pria itu salah tingkah namun tak ayal dia mengangguk meng'iya'kan ucapan Lova jika Alex mengenal wanita itu
"Emm, apa kau akan pulang?"
"Tidak, rencananya aku ingin ke perpustakaan lalu auditorium. Kau butuh sesuatu?" Lova bertanya bukan karena tak tau, namun Lova memilih pura-pura tak tau jika lelaki itu tertarik padanya.
"A-apa kau bisa membantuku dengan tugas Mrs. Suya. Aku tidak bisa mengerjakannya?" tanyanya malu-malu
"Kau kesusahan di bagian mana?" Tanya Lova masih dengan wajah polosnya
"Analisis Data" Jawab Alex cepat. Lova berpikir sebentar lalu mengangguk
"kau ingin mengerjakannya sekarang? Aku punya waktu 2 jam sebelum penerimaan penghargaanku" Tawar Lova, Alex mengangguk cepat
"Aku tau tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas, kita pergi menggunakan mobilku saja" Ucap Alex membuat Lova mengerutkan kening.
"Tidak perlu, kita kerjakan di sana saja. Akan memakan waktu lama untuk pergi ke tempat lain" Lova menunjuk sebuah café kecil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tanpa menunggu jawaban Alex, Lova melangkah lebih dulu meninggalkan pria itu.
Alex berbalik, menatap punggung Lova yang berjalan didepannya. Dia menghembuskan nafas pasrah, seharusnya dia jujur saja jika ingin mengajak Lova berkencan.
Hampir 2 jam berlalu begitu saja sejak Lova duduk di dalam café sambil membantu Alex yang mengetikan sesuatu pada laptopnya, Lova melirik jam tangannya lalu menatap Alex yang terus memperhatikan dirinya.
"Aku harus pergi sekarang, kau tinggal merapikan susunannya" Ucap Lova
"T-tunggu" Alex terlonjak lalu menahan tangan Lova "Biar ku antar, anggap saja sebagai ucapan terimakasih"
"Tidak perlu, aku masih ingat letak auditorium dengan benar" Lova tersenyum tipis, dia melepaskan tangan Alex yang menahan tangannya dan meninggalkan Alex.
Alex menatap Lova yang menjauh, dia tau alasan Lova menuju auditorium. Hari ini kampusnya kedatangan donatur besar dan Lova akan menerima penghargaan sebagai mahasiswa terbaik.
Alex tersenyum miris, betapa beruntungnya pria yang menjadi kekasih Lova nanti, Lova bukan hanya cantik namun dia juga sangat pintar dan berbakat jadi tak heran jika banyak pria yang menyukainya meskipun tampilan Lova tidak seperti wanita glamour yang penuh dengan perhiasan di jurusannya.
Beralih pada Lova, wanita itu kini berada di dalam toilet sambil merapikan penampilannya. Tangannya membenarkan letak kacamata lalu beralih meraih handphone yang baru didapatnya semalam.
Ada sebuah pesan masuk dari satu-satunya nomor yang tersimpan di handphone itu, setelah mengirimkan balasan Lova langsung menonaktifkan handphone itu hingga mati total.
Lova memoleskan lipstick berwarna peach untuk menghiasi bibirnya. Wajah itu tersenyum lebar, menampakan kesan polos dan murni dalam tatapannya. Merasa cukup, Lova menyimpan lipstick itu dan membuka pintu toilet.
Bruk..
"Akh" Lova berdesis saat tubuhnya terjatuh ke lantai. Tubuhnya seperti menabrak sesuatu yang keras. Lova membenarkan letak kacamatanya lalu mendongak menatap objek yang menabraknya, tatapannya jatuh pada seorang pria yang juga sedang menatapnya datar. Jika Lova amati mungkin usia pria itu sekitar dua puluh lima tahunan.
"Anda tidak berniat meminta maaf, sir?" ucap Lova sambil berdiri dan menepuk pakaiannya sendiri. Lova menatap pria itu, harus Lova akui pria itu terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja dan jas mewahnya.
Caid menatap sosok wanita yang tanpa sengaja dia tabrak. Awalnya dia ingin ke toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita namun sepertinya pria itu menemukan sesuatu yang menarik disini.
Mata abu-abunya menatap sosok wanita dengan tampilan sederhana itu. Selain sederhana, tidak ada kesan spesial yang Caid dapatkan tetapi ketika wanita itu sudah berdiri dan menatapnya dengan berani, mata hazel yang di halangi oleh kaca mata itu terlihat sangat menggoda bagi Caid.
Rasanya seperti ada sesuatu yang berbeda dari mata hazel itu atau mungkin karena bentuk matanya yang terlihat seperti seekor rubah licik. Caid tidak bisa menjelaskannya dengan benar karena kacamata itu menutupinya. Rasanya Caid ingin mengambil kacamata itu dan menatap matanya dengan lebih seksama.
"Sir?" Lova kembali membuka mulutnya. Caid tersadar namun pria itu tidak melakukan apapun selain menatap Lova tanpa ada tanda-tanda dirinya yang akan pergi. Untuk pertama kalinya Caid ingin terus menatap wajah wanita yang baru saja di tabraknya.
"Sepertinya gengsi anda terlalu tinggi hanya untuk sebuah kata maaf. Kalau begitu saya pergi dulu sir, semoga kita tidak bertemu lagi" Lova tersenyum manis lalu berlalu dari sana, meninggalkan Caid yang masih terdiam.
Lova berjalan dengan bibir yang terus menggerutu. Dia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan lalu membuka pintu Auditorium. Lova mengernyit bingung, dia tidak menyangka jika Auditorium yang biasanya hanya terisi setengah itu kini sudah dipenuhi oleh para mahasiswi. Bahkan mereka memenuhi kursi bagian depan yang dekat dengan panggung.
Lova melangkah acuh, dia segera mencari kursi. Lova duduk dikursi kosong yang bersebelahan dengan seorang wanita cantik berambut pirang. Wanita itu sedang memoleskan lipstick merah pada bibirnya. Sepertinya wanita itu tidak menyadari jika Lova duduk disebelahnya.
"Andai aku tau jika Mr. Walton akan datang aku pasti akan lebih cepat ke sini dan mengambil kursi dibagian bawah" Ucap wanita itu pada seorang temannya yang juga berambut pirang namun lebih gelap.
"Aku yakin pasti Scarlet akan langsung mendekatinya dengan agresif" Seru temannya yang lain. Lova hanya diam sambil menatap kursi bagian bawah, letak kursi bagian bawah sangat berdekatan dengan panggung di auditorium itu. Lova mendapati seorang wanita dengan rambut merah yang Lova ketahui bernama Scarlet, wanita itulah yang menjadi bahan gossip orang di sampingnya.
"Apa menurutmu Scarlet akan berhasil? Kau lupa rumornya jika Mr. Walton itu pria yang sangat dingin dan panas secara bersamaan"
"Tapi dia juga sangat tampan" Sambung wanita disebelah Lova sambil terkikik geli
Lova menghela napas jengah. Wanita itu memfokuskan perhatiannya MC yang mulai menyapa dan membuka acara.
"Sambutan selanjutnya adalah sambutan dari donatur sekaligus alumni kampus kita, seorang pengusaha muda terkenal yang kini menjabat sebagai CEO Waltern Corp. mari kita sambut dengan hormat Caid Waltern!"
Lova menutup telinganya saat wanita di sebelahnya bertepuk tangan dengan kuat sambil bersorak pada seorang pria yang menaiki panggung dengan setelan jas mahalnya. Lova mengamati pria itu, mata coklatnya melotot. Pria itu adalah orang yang tadi menabraknya di depan toilet.
Mata coklat Lova terkunci pada pembawaan pria itu yang sangat berbeda dengan tadi. Di saat yang bersamaan mata abu-abu itu juga tertuju padanya. Tatapan mereka saling terkunci selama beberapa detik sebelum Lova membuang pandangannya kearah lain.
Pria itu Caid Walton menampakan smirk tipisnya setelah sepasang mata coklat yang sempat bertatapan dengannya kini justru menghindarinya.
Caid terus menyampaikan sambutannya dengan tatapan yang tertuju pada satu titik. Seorang mahasiswi dengan rambut kuncir satu dan kacamata yang sangat ingin Caid lepaskan.