Bab 1

Seorang wanita tampak bergoyang dengan liar di atas tubuh seorang pria. Tubuh keduanya polos tanpa sehelai benang yang yang menutupi.

"Lebih cepat sayang! Lebih cepat! Aku sudah ingin keluar!!."

Seru sang pria sambil terus menepuk bagian paha wanita itu yang tidak terbungkus apapun.

"Oh!! Aku juga sudah ingin keluar! Ayo cepat bersamaan!!."

Pekik si wanita sambil menambah ritme goyangannya dengan cepat. Dan pria itu pun ikut bergerak seirama dengan tubuhnya. Tubuh keduanya sudah dibanjiri oleh peluh, tidak terhitung Sudah berapa jam mereka melakukan hal tersebut.

Mengejar kenikmatan dunia sesaat, dalam hubungan terlarang. Karena Wanita itu berstatus istri orang. Sementara pria tersebut adalah seorang pria yang masih berusia muda. Namun sudah menjadi selingkuhan seorang wanita bersuami.

Aaarrggghh!!!

Keduanya akhirnya mengerang hebat saat pelepasan dahsyat itu datang. Wanita itu pun roboh di dada si pria dengan nafas kembang kempis.

"Kamu begitu liar dan hebat! Apa kamu juga melakukannya kepada suamimu?."

Tanya pria itu dengan nada menyelidik.

"Tentu saja tidak! Aku sudah tidak bernafsu padanya."

Jawab wanita itu tanpa memisahkan tubuh mereka yang masih terus melengket di bawah sana.

"Kamu sudah tidak bernafsu. Lalu kenapa kamu tidak menceraikannya saja?."

Pria itu kembali bertanya sembari menatap wajah wanita yang berada di atasnya.

"Karena aku masih membutuhkan dia sayang! Aku membutuhkan uang dan statusnya. Dia adalah pria terhormat yang disegani banyak orang. Aku menginginkan nama dan juga kartu atm-nya. Jika tidak seperti itu, bagaimana kau bisa hidup? Aku tidak akan bisa memberikan uang padamu Jika sampai aku bercerai darinya."

Pria itu terlihat menghela napas panjang. Sejujurnya dia juga tidak memiliki perasaan kepada wanita itu. Hubungan mereka tidak lebih dari simbiosis mutualisme. Karena Wanita itu sangat royal menggelontorkan uang dalam jumlah banyak jika terpuaskan.

"Aku masih mau! Ayo kita main lagi."

Ucap wanita itu sembari meraba rahang pria muda tersebut.

"Sesuai dengan keinginanmu sayang! Kali ini aku yang di atas!."

Pria muda yang bernama Charles itu segera membalik posisi mereka sehingga posisinya kini berada di atas.

"Ayo tunjukkan keperkasaan dan kejantananmu sayang."

Ucap Sonia, demikian nama wanita itu. Dan Charles pun kini memulai kembali aksinya. Dia meraba seluruh bagian tubuh Sonia membuat wanita itu menggelinjang kenikmatan

**

"Sudah enam bulan kamu bekerja di sini, tapi kamu bahkan belum mendapatkan customer satu pun yang mau membeli properti kita."

Seorang wanita tampak tertunduk di hadapan bosnya saat mendapatkan amarah. Beberapa karyawan rekan kerjanya tampak berbisik-bisik melihatnya, ada yang merasa iba, Ada pula yang menatapnya dengan pandangan mengejek.

"Maafkan saya pak, Saya berjanji akan bekerja lebih keras lagi "

Jawab wanita itu sembari tertunduk.

"Selalu seperti itu jawaban kamu! Tapi sama sekali tidak ada hasil yang kau tunjukkan."

Wanita itu terlihat memasang wajah sendu saat mendapatkan makian dari bosnya.

"Saya akan memberikan kamu satu kali kesempatan lagi! Jika sampai kamu melewatkan kesempatan ini dan tidak mendapatkan seorang customer satu pun. Maka kamu akan saya pecat."

Mendengar ucapan bosnya, wanita itu pun terlihat panik.

"Jangan pak!! Saya mohon!."

Seru wanita itu hendak meraih tangan bosnya, namun dengan cepat pria tersebut menepisnya.

"Kamu lihat dia!." Pria itu menunjuk seorang wanita yang tengah bercakap-cakap dengan yang lain.

"Dia bahkan baru tiga bulan bekerja di sini, tapi dia sudah mendapatkan customer yang banyak. Bahkan sudah menjual puluhan unit rumah. Dia adalah seles terbaik di perusahaan ini."

Wanita itu pun segera menatap Nanar rekan sejawatnya yang terlihat Tengah berbincang dengan rekan-rekannya.

"Maaf saya datang telat pak!."

Wanita yang dibicarakan oleh bosnya itu tiba-tiba mendekat.

"Ya sudah! Lanjutkan pekerjaan kamu!."

Gina menatap datar wajah rekannya itu yang bahkan tidak mendapatkan omelan sama seperti dirinya.

"Padahal dia juga datang terlambat! Tapi dia tidak pernah mendapatkan omelan seperti saya!."

"Kamu tidak akan bisa dibandingkan dengannya. Jadi kamu harus sadar diri."

Bosnya terlihat benar-benar menatap remeh wajah Gina.

"Iya pak! Saya mengerti."

Jawab Gina menelan ludah getirnya, padahal sejujurnya dia juga sudah berusaha keras untuk mendapatkan customer. Namun tidak ada satupun yang nyantol membeli unit rumah yang ditawarkannya.

"Makanya kamu harus memiliki strategi untuk menarik pelanggan. Sama seperti yang dia lakukan!."

Bisikan Bosnya itu membuat Gina menatap tidak mengerti padanya.

"Lihatlah wanita yang disana, suaminya itu dulunya adalah costumer disini, dan dia adalah sales yang menanganinya, pria itu adalah pengusaha kaya raya. Tapi dia berhasil menggodanya, dan sekarang mereka telah menikah."

Gina kembali menelan ludah saat mendengar ucapan bosnya, kemudian beralih menatap seorang pria dan wanita yang tampak tengah berdiri sembari melihat miniatur bangunan rumah yang mereka miliki.

"Menjadi seorang sales properti! Kamu harus sedikit genit agar bisa menarik pelanggan. Kalau tidak seperti itu, mana mungkin ada pelanggan yang akan kamu dapatkan."

Gina benar-benar terlihat berpikir saat mendengar bisikan Bosnya itu.

"Lihatlah sepatunya, harga sepatunya bahkan cukup untuk menggaji dirimu selama tiga tahun. Sedangkan dirimu, hanya memakai sepatu buluk."

Gina segera menunduk menatap sepatunya, dan ternyata ujung sepatu itu telah rusak dan masih dipakainya juga.

"Sebenarnya kamu itu memiliki body yang cukup memadai, tubuhnya bagus dan langsing. Aku rasa itu cukup untuk dirimu memiliki modal agar mendapatkan seorang customer. Kamu hanya perlu Memanfaatkan kesempatan, dengan menggunakan tubuh indahmu itu."

Pria itu terlihat memindai Gina dari atas hingga bawah. Perawakan Gina yang tinggi langsing serta memiliki kulit putih bersih memang menjadi nilai plus baginya. Apalagi di tunjang dengan wajah menawan, hidung mancung serta bibir tipis merah alami yang menggoda.

"Kamu juga masih muda. Masih memiliki kesempatan besar untuk berkembang.

Body bagus serta usia muda, adalah modal utama bagi seorang wanita."

Pria yang bernama pak Danu Itu tampak kembali memindai tubuh Gina dengan pandangannya yang aneh.

Gina pun mendadak salah tingkah dibuatnya.

"Jika kamu ingin mendapatkan uang banyak! Kamu harus berani mengambil resiko!."

Seru pak Danu kembali sembari melempar sebuah map berwarna merah kepada Gina yang segera ditangkap oleh wanita itu.

"Klien ini adalah peluang terakhirmu!."

Gina segera membuka map itu dan membaca identitas seorang pria berwajah tampan yang usianya kira-kira sekitar tiga puluh delapan tahun.

"Dia adalah seorang CEO dari perusahaan besar, dan memiliki penghasilan miliaran per bulan. Menurut rumor yang beredar, hubungannya dengan istrinya sedang tidak baik-baik saja. Aku rasa kamu akan bisa memanfaatkan kesempatan untuk mendekatinya."

Gluk!!

Gina menelan ludah dengan susah payah saat mendengar ucapan pak Danu. Haruskah dia melakukan hal seperti itu hanya untuk mempertahankan pekerjaan yang saat ini dirintisnya?.

"Namun jika kamu tidak bisa menaklukkan dia kali ini, Aku tidak akan bisa lagi mempertahankan mu."

Gina benar-benar terlihat berpikir keras dengan ucapan Bosnya itu.

"Memilih jalan hidup beserta pria yang baik, adalah kesempatan berharga dalam hidup seorang wanita. Jadi aku rasa kamu harus memanfaatkan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya. Tapi semua itu tergantung kemampuanmu."

Pak Danu menepuk kedua bahu Gina sebelum akhirnya meninggalkan wanita itu dengan pikirannya.

"Haruskah aku memilih jalan seperti yang dikatakan oleh pak Danu? Tapi ini satu-satunya kesempatan yang tersisa untukku! Atau aku akan kehilangan segalanya!."

*..*

Bab 2

*..*..*

"Ya halo!."

"Maaf pak Erik, saya Gina Gunawan, sales properti perusahaan RANS, apa anda jadi datang untuk melihat-lihat rumah yang kami tawarkan?."

"Emm! Kita lihat nanti, karena saat ini saya masih memiliki urusan."

"Tapi pak!! Unit yang kami tawarkan ini tinggal satu-satunya, jika anda melewatkan kesempatan. Maka rumah ini akan kami berikan kepada orang lain."

Seorang pria tampak terlihat berpikir saat menerima telepon dari seseorang.

Dia sempat menatap arlojinya dan berpikir lama.

Sementara itu, Gina tampak gelisah di seberang sana. Dia mondar mandir sambil menunggu jawaban Erik.

"Baiklah saya akan datang! Tapi sebentar saja karena saya masih ada urusan!."

Gina hampir bersorak kegirangan saat mendengar ucapan Erik.

"Ya Pak tentu saja! Saya akan menunggu bapak di sini, karena kebetulan saya sudah berada di unitnya!."

Seru Gina dengan nada senang kemudian menutup sambungan telepon.

Dia pun segera memperbaiki tatanan pakaiannya. Rok pendek sebatas paha, beserta dengan blazer berwarna senada. Rambutnya sengaja ia kuncir kuda, agar leher jenjangnya yang putih bersih bisa terlihat.

Sementara itu, tampak Erik yang sudah keluar dari mobilnya. Pria itu hendak melangkah dengan lebar memasuki sebuah perumahan elit yang menawarkan properti mewah.

"Kak Erik!!."

Pria itu segera menghentikan langkah saat mendengar suara seseorang.

Dia pun melihat seorang pria dan wanita yang bergerak mendekatinya.

Dia memindai pria dan wanita tersebut yang tampak saling bergandengan.

"Apa kamu akan melihat unit rumah di sini?."

Erik segera mengangguk saat mendengar pertanyaan pria itu.

"Kamu sendiri?."

Erik balik bertanya.

"Oh aku juga sedang ingin melihat-lihat."

Jawab pria itu, sementara si wanita tampak tak melepaskan rangkulan tangannya. Hal itu membuat Erik mengerutkan kening.

"Lalu di mana kakak ipar?."

Tanya pria itu lagi.

"Dia! dia tidak ikut! Karena sedang banyak urusan."

Jawab Erik sambil memindai wanita yang bersama dengan pria yang mengobrol dengannya. Wanita itu terlihat berpenampilan seksi.

"Randy! Aku ingin berbicara denganmu!."

Pria yang bernama Randy itu pun segera mengikuti Erik saat ditarik paksa oleh pria itu.

"Kamu membawa seorang wanita ke sana kemari! Memangnya kamu tidak takut kalau istrimu tahu dan dia marah?."

Tanya Erik dengan nada rendah. Randy memang sudah memiliki seorang Istri. Namun pria itu tengah berjalan dengan wanita lain yang bukan istrinya.

"Aduh kakak!! Jangan ungkit dia di sini. Istriku itu sama seperti istrimu. Hampir mendekati menopause. Mereka berdua sudah tidak bergairah lagi kepada kita. Kita ini wajar jika mencari hiburan di luar."

"Ada-ada saja kamu ini. Walaupun istrimu tidak mampu melayanimu. Kamu juga tidak bisa berbuat seenaknya di luar."

"Aduh kak Erik. Sebagai seorang pria normal, kita juga memiliki kebutuhan. Jika istri tidak bisa memenuhi kebutuhan kita, tentunya kita bisa mencari di luar. Lihatlah sudut bibir dan lehermu sudah ditumbuhi jerawat. Aku yakin kamu sudah lama memendam hasratmu. Tidak perlu berbohong kepadaku, karena kita berdua sama."

Mendengar ucapan Randy, Erik hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Kamu dan istrimu pasti sudah lama tidak melakukannya, atau mungkin kalian sudah pisah ranjang. Sepertinya kali ini kamu harus mendengar nasehatku, cari saja seorang wanita di luar, Yang bisa memberimu kepuasan. Kita sebagai seorang pria, harus kenyang dulu baru bisa harmonis dengan pasangan. Bukan begitu?."

Randy tampak mengedip mengedipkan matanya ke arah Erik. Namun pria itu hanya mengukir senyum tipis di bibirnya sambil terus geleng-geleng kepala.

"Kak! Aku tidak ada waktu itu berbicara panjang lebar denganmu! Tapi aku harap kamu memikirkan ucapanku ini baik-baik! Aku pergi dulu!!."

Erik hanya bisa menepuk pundak Randy, sebelum akhirnya pria itu meraih wanita yang sejak tadi menunggunya. Dan mereka pun berjalan menuju unit rumah yang akan mereka lihat.

"Benar-benar pria brengsek kamu Randy."

Gumam Erik sembari menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba ponselnya terasa bergetar. Dia pun segera merogoh saku jasnya.

"Iya halo! Saya sudah berada di depan tunggu saja."

Erik bergerak melangkah setelah menerima telepon dari Gina.

Ting tong!!

Gina yang sejak tadi sudah menunggu, bergerak bangkit berdiri saat mendengar suara bel pintu berbunyi.

Namun dia sempat menata penampilannya di cermin sebelum akhirnya membuka pintu.

Erik langsung tertegun saat melihat penampakan Gina. Wanita itu langsung mengulas senyum manis di bibirnya. Sementara Erik memindai penampilannya dari atas hingga bawah. Rok pendek serta kemeja dalam yang kancing bagian atasnya sengaja dibuka hingga bagian dada Gina pun terlihat.

Erik sempat menelan ludah saat melihat pemandangan indah itu.

"Pak Erik Erlangga?."

Erik segera tersadar saat mendengar suara Gina.

"I-ya!!."

Jawabnya segera meraba dasi untuk mengurai rasa gugupnya. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya saat melihat Gina.

"Silakan masuk Pak. Saya akan menunjukkan ruangan demi ruangan yang ada di rumah ini."

Erik pun segera melangkah masuk dan memindai ruangan tamu dengan pandangannya.

"Mungkin anda sudah menempuh perjalanan jauh untuk bisa kemari pak. Mari silakan duduk dulu, saya akan menuangkan teh untuk anda."

Gina segera mendudukkan tubuhnya di samping meja dengan gaya sensual tentunya. Sementara Erik mendudukkan tubuhnya di sofa.

Namun dia salah fokus dengan pose Gina yang sedang menuangkan teh. Paha mulus wanita itu terlihat nyata, begitu berkilau dan menyilaukan mata. Apalagi wanita itu hanya memakai rok mini yang begitu pendek.

Gluk!!

Erik tiba-tiba kegerahan melihat pemandangan tersebut. Dia pun segera melerai dasi yang tiba-tiba terasa mencekik leher.

"Silakan diminum tehnya Pak!."

Gina segera memberikan cangkir yang sudah diisi teh hangat.

Erik pun segera menerima cangkir itu dengan tangan yang bergetar. Hal itu terlihat jelas di mata Gina.

"Anda kenapa pak? Apa suhu ac-nya terlalu dingin sehingga Anda kedinginan?."

Gina segera meraih remote AC, namun dengan cepat Erik menahan tangannya hingga membuat teh yang ada di tangannya pun tumpah di tangan Gina.

"Aduh duh!!."

Wanita itu langsung memekik saat terkena tumpahan teh panas.

"Maaf! Aku tidak sengaja!."

Seru Erik dengan panik. Dia berusaha membantu Gina.

"Saya tidak apa-apa pak!."

Jawab Gina yang hendak bangkit berdiri. Namun tiba-tiba, kakinya keseleo dan tubuhnya pun oleng, untunglah Erik dengan cepat menangkap tubuhnya.

Aahhh!!

Untuk beberapa saat lamanya, kedua orang itu saling tatap dalam kondisi Gina yang terjatuh dalam pangkuan Erik.

Sementara Erik sendiri sudah panas dingin. Apalagi menatap wajah cantik Gina. Dan tangannya jatuh tepat diatas paha mulus wanita itu.

"Eeh maaf!!."

Brruukkkk

Aaauu!

Bokong indah Gina pun mencium lantai dengan apik

"Sepertinya saya harus segera pergi! Kebetulan masih ada urusan! Nanti saya akan datang lagi untuk melihat unit ini!."

Erik benar-benar sadar akan situasi yang menimpa dirinya saat ini. Sebagai pria normal, ada sesuatu yang bangkit saat bersentuhan dengan Gina.

Apalagi dirinya adalah seorang pria dewasa yang sudah pernah merasakan indahnya bercinta dengan lawan jenis. Namun akhir-akhir Ini hubungannya dengan sang istri tidak berjalan seperti biasa. Istrinya berubah dingin dan sulit untuk disentuh.

"Pak Erik!!."

Seru Gina berusaha menahan pria itu.

"Kapan-kapan kita membuat janji temu lagi."

Jawab Erik yang segera melangkah lebar keluar dari ruangan itu.

"Sial!! Aku pasti akan mendapatkanmu!."

*..*

Bab 3

Gina mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya agar bisa bertemu lagi dengan Erik, dan bagaimana agar pria itu bisa kembali melihat rumah yang ditawarkannya, sungguh Gina tidak ingin gagal, pekerjaannya sedang terancam.

"Sepertinya aku harus kembali menghubungi Pak Erik, yah! Aku harus kembali menghubunginya. Dan aku harus bisa meyakinkannya."

Gumam Gina segera meraih ponsel dan menghubungi nomor Erik.

Sementara pria yang sedang fokus di atas meja kerjanya itu segera melihat layar ponsel.

Nama Gina sebagai sales properti pun tertulis di sana.

"Iya halo!."

"Halo pak Erik, kapan anda akan datang lagi melihat-lihat rumah ini? Saya sungguh sangat berharap kepada bapak."

Erik terlihat termenung dan tidak langsung menjawab pertanyaan Gina.

"Pak!! Saya bekerja sebagai sales sudah enam bulan, dan selama itu saya belum berhasil mendapatkan pelanggan yang membeli rumah yang Saya tawarkan. Dan bos saya sudah mengancam untuk memecat saya jika kali ini saya tidak berhasil meyakinkan bapak. Jadi saya mohon pak, tolong bantu saya kali ini. Dan saya berjanji akan berterima kasih seumur hidupku kepada bapak."

Terdengar suara Gina yang begitu memelas di seberang sana, membuat Erik gamang. Sejujurnya bukan karena tidak menyukai rumah yang ditawarkan oleh Gina. Melainkan ada sesuatu yang membuat Erik merasa harus menghindari wanita itu.

Gina memiliki energi yang bisa menariknya, membuatnya canggung dan salah tingkah. Bahkan membangkitkan sesuatu dalam dirinya, hasrat yang berkobar sebagai seorang pria dewasa. Erik sangat sadar hal itu.

"Pak Erik!! Anda masih di seberang sana kan? Masih mendengar suara saya kan?."

Erik segera tersadar dari lamunannya, saat mendengar pekikan kencang Gina diseberang sana. Padahal dia sedang mengingat Gina dengan penampilannya yang seksi kemarin.

"Ah iya!! Maaf kalau saya tidak konsentrasi. Kebetulan saat ini saya sedang mengerjakan pekerjaan yang banyak. Kalau masalah rumah, Saya pasti akan melihatnya kembali. Tapi saya belum bisa memastikan kapan karena saat ini saya sedang sibuk."

Jawab Erik akhirnya dengan suara parau.

"Yah pak Erik!! Padahal saya sangat berharap Anda bisa datang sekarang,

Karena saat ini saya sedang menunggu Anda."

Ucap Gina terdengar kecewa.

Erik kembali hendak berkata, namun tiba-tiba sebuah pesan masuk dalam ponselnya, dan dia melihat Kalau pesan tersebut dikirim oleh istrinya. Dia pun memutuskan panggilan Gina begitu saja tanpa pamit.

"Jangan lupa Kalau hari ini adalah hari anniversary pernikahan kita. Cepatlah pulang karena aku sudah memasak untukmu."

Wajah Erik langsung berbinar saat membaca pesan yang dikirim oleh istrinya. Dia sungguh sangat berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan wanita yang sudah dinikahinya selama sepuluh tahun itu.

"Sebaiknya aku segera pulang saja! Aku sampai lupa kalau hari ini adalah anniversary pernikahan kami."

Dengan wajah yang berbinar, Erik segera bangkit berdiri. Dia memang sangat mencintai istrinya. Mereka menikah setelah berpacaran beberapa tahun. Tentu saja hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri baginya, walaupun pernikahan mereka belum dikaruniai seorang anak. Namun tak masalah bagi Erik, dia tidak pernah menuntut apapun dari istri yang dicintainya itu.

"Tolong urus pekerjaanku. Aku harus segera pulang!."

Serunya kepada seorang pria yang menjadi asisten pribadinya. Pria itu pun langsung mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya. Sementara Erik bergerak cepat keluar dari kantor.

"Sebaiknya aku singgah membeli bunga untuknya, semoga hubungan kami akan kembali membaik seperti dulu?."

Erik benar-benar memiliki harapan yang tinggi bisa memperbaiki hubungannya dengan sang istri yang sudah satu setengah tahun ini sangat dingin dan tidak sehangat dulu, entah apa yang membuat istrinya berubah, Erik pun tak mengerti.

Pria itu pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Erik singgah sebentar untuk membeli bunga yang begitu cantik kesukaan istrinya. Seketika, wajah Gina menghilang dari benaknya berganti dengan wajah istrinya yang cantik dan juga seksi.

"Kak Erik! Mau beli bunga juga?."

Ternyata di sana sudah ada Randy. Erik tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria yang merupakan sepupunya itu.

"Iya!! Aku ingin membeli bunga untuk kakak iparmu!."

Randy terlihat melotot tidak percaya saat mendengar ucapan Erik.

"Wah!! Sepertinya hubungan kalian sudah berkembang dan lebih baik dari hari kemarin!"

Seru pria itu lagi sambil menatap wajah Erik yang saat ini tengah memilih bunga.

"Iya begitulah! Hari ini adalah anniversary pernikahan kami. Semoga semuanya kembali membaik."

Randy segera menepuk pundak kakak sepupunya itu.

"Semoga berhasil! Tapi kalau tidak berhasil, kamu perlu memikirkan langkah ke depannya. Agar kamu tidak merasa kesepian terus, karena sebagai seorang lelaki normal. Kita perlu mengganti oli sekali-sekali agar hidup tetap bersemangat!."

Randy sempak terkekeh sambil memberikan sebuah botol kecil kepada Erik.

"Apa ini?."

Tanya Erik memindai botol itu.

"Aku baru saja membeli penambah energi, tapi sepertinya kamu lebih membutuhkan, untuk malam anniversary pernikahan kalian. Agar malam nanti kakak jadi lebih bersemangat, taklukan kembali kakak ipar!!."

Randy berucap sambil mengedipkan satu mata ke arah Erik.

"Aku tidak butuh ini!!."

Seru Erik menolak.

"Eh jangan ditolak! Aku yakin kakak nanti akan membutuhkannya. Lagi pula anggap saja ini sebagai obat, jadi minum saja, nggak ada ruginya juga."

Ucap Randy sebelum akhirnya keluar dari sana, sementara Erik menatap tak suka padanya, namun dia menyimpan juga botol itu dibalik jasnya.

Setelah membeli bunga, Erik kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju arah rumah kediamannya. Sebuah hunian mewah yang diperuntukkan untuk istrinya. Dan di sanalah mereka tinggal setelah menikah.

"Sayang!!."

Serunya dengan penuh semangat sambil membawa bunga yang baru saja dibelinya. Tampak sang istri yang sudah menunggunya di depan pintu.

"Ini untukmu!!."

Erik segera memberikan bunga itu kepada istrinya, berharap akan mendapatkan sambutan dengan kecupan atau ciuman yang sudah hilang beberapa tahun ini.

"Kamu ini seperti anak-anak saja. Kenapa harus memberi bunga segala?."

Jawab Dona yang segera membuang bunga itu ke tempat sampah. Jantung Erik pun langsung bertalu melihat hal tersebut, dia merasa benar-benar tidak dihargai. Namun dia berusaha mengubah mimik wajahnya dan mengikuti Dona masuk ke dalam.

"Sayang!! Apa benar kamu sudah memasak untukku?."

Tanyanya segera untuk mencairkan suasana hatinya.

"Bukankah sudah kubilang dipesan tadi? Kalau aku sudah memasak untukmu! Jadi duduklah, dan Jangan banyak bicara."

Lagi-lagi Dona menjawab dengan ketus. Erik pun langsung melayangkan tatapan ke arah sederetan makanan yang sudah tersedia di atas meja.

"Sayang!! Tapi semua makanan ini terlihat pedas, kamu kan tahu kalau aku tidak bisa makan pedas Karena Aku memiliki masalah dengan lambung?."

"Sudah makan saja, tidak perlu cerewet seperti itu. Makan saja apa yang ada, kamu harus menghargai makanan yang aku masak untukmu. Karena aku sudah bersusah payah memasaknya."

Jawab Dona lagi dengan kencang lalu berjalan masuk ke area dapur.

Sementara Erik masih menatap sederetan makanan yang ada di hadapannya.

Lalu dia pun teringat dengan botol yang diberikan oleh Randy. Dia segera meraih botol itu dan meminum isinya hingga habis.

"Aku harus kembali mendapatkan hubungan yang dulu! Aku akan membuat Dona kembali mencintaiku."

Dengan tekad dan harapan yang kuat, Erik meminum habis cairan yang ada di dalam botol.

"Kenapa tiba-tiba aku menjadi kegerahan?."

Erik melerai dasi yang membelit lehernya saat merasakan kegerahan.

"Apa karena efek minuman itu?."

Gumamnya lagi.

"Kamu kenapa?."

**..**

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED