Sampul Novel Sekretaris Sang Presdir

Sekretaris Sang Presdir

8.0 / 10.0
Di tengah kepedihan akibat dikhianati kekasihnya, Pijar dipertemukan dengan Elang Bamantara. Pertemuan buruk ini rupanya menyimpan rahasia masa lalu yang mengikat mereka. Elang merasa sangat beruntung, namun bagi Pijar, kehadiran pria itu justru menjadi bencana. Sialnya, takdir memaksa Pijar untuk terus mendampingi sang presdir tanpa celah untuk menghindar. Kini, ia harus bertahan di dekat Elang walau hatinya masih didera luka lama.
Ringkasan Sekretaris Sang Presdir
Di tengah kepedihan akibat dikhianati kekasihnya, Pijar dipertemukan dengan Elang Bamantara. Pertemuan buruk ini rupanya menyimpan rahasia masa lalu yang mengikat mereka. Elang merasa sangat beruntung, namun bagi Pijar, kehadiran pria itu justru menjadi bencana. Sialnya, takdir memaksa Pijar untuk terus mendampingi sang presdir tanpa celah untuk menghindar. Kini, ia harus bertahan di dekat Elang walau hatinya masih didera luka lama.
Baca Selengkapnya

Sekretaris Sang Presdir Bab 1

"Argh, sial! Aku kesiangan!"

Pijar, wanita yang tengah tergopoh-gopoh bersiap menuju kantor itu mengumpat. Dia kesiangan, di saat hari pertama kedatangan presdir baru di kantornya. Padahal, sebagai seorang sekretaris pribadi, dia seharusnya telah tiba lebih dulu untuk mempersiapkan segala hal untuk bosnya.

"Semua ini gara-gara pria brengsek itu!" umpatnya lagi, merujuk pada mantan kekasihnya yang kemarin baru saja mengakhiri hubungan mereka.

Setahun menjalin kasih, Pijar tak tahu jika orang tua mantannya tak pernah sekalipun memberikan restu. Kemudian, alih-alih berkata jujur dan mengajak untuk berjuang bersama, pria itu bersikap pecundang dengan memilih lari dengan wanita lain yang diinginkan orangtuanya.

Sekarang, dia hanya berharap bos barunya bisa memaklumi dan memaafkan keterlambatannya kali ini.

Jam telah menunjukkan pukul 9 pagi lebih sedikit. Dengan napas yang masih tersengal karena berlarian mengejar waktu, Pijar mengatur napas dan membenahi penampilannya sebelum akhirnya memasuki ruangan besar milik sang bos.

"Permisi, Pak."

Pijar bisa melihat sosok tinggi berdiri membelakanginya dengan angkuh. Kedua tangannya dijejalkan ke dalam saku celananya, rambutnya disisir rapi ke belakang. Aura dinginnya terasa membekukan.

Ucapan Pijar seolah hanyalah angin lalu. Lelaki itu tetap pada posisinya berdiri, tampak tidak tertarik dengan kedatangan sang sekretaris pribadi. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Lelaki itu pastilah menilai dirinya tidak kompeten karena keterlambatannya. Pijar meremas kedua tangannya, mencari ide untuk bisa menarik perhatian sang bos. Setidaknya agar dia tidak diabaikan.

Pijar melangkah dengan jantung bertalu keras. "Maaf atas keterlambatan saya. Perkenalkan, saya Pijar, sekretaris pribadi Bapak–" Lelaki itu berbalik dan menatapnya dengan dingin. Untuk beberapa saat, tubuh Pijar terpaku, kalimatnya bahkan menggantung begitu melihat sosok lelaki yang akan menjadi bosnya ini. "Elang," ujarnya lirih.

'Kenapa dia? Apa yang harus aku lakukan?'

Elang bukanlah sosok asing di hidup Pijar. Mereka pernah menghabiskan waktu yang cukup lama menjalin kasih. Sayang, karena masalah besar yang menimpa keluarganya, gadis itu menyerah dan merasa rendah diri untuk terus berada di sisi lelaki itu.

Kesalahpahaman kemudian semakin merembet, kala Elang menemukan alibi lain di balik keputusan Pijar untuk mengakhiri hubungan mereka, berbekal sebuah foto dirinya bersama seorang lelaki lain yang entah bagaimana bisa sampai di tangan lelaki itu.

Waktu itu, Pijar tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan. Kala itu, dia terlalu sibuk mengurus hidupnya yang seketika berubah drastis karena masalah yang tengah dihadapi. Dan rupanya, ketika kembali dipertemukan ... lelaki itu masih menaruh dendam padanya.

Berdiri di hadapan Elang bukan perkara mudah. Ada rasa takut dari trauma masa lalu yang kembali terbayang. Namun, Pijar sadar ... jika kali ini hubungan mereka hanyalah sekretaris dan atasan. Untuk itu, dia mencoba bersikap profesional.

"Pak, saya minta maaf atas keterlambatan saya. Saya ...." Pijar tidak melanjutkan ucapannya ketika lelaki itu kembali menatapnya dengan sinis dari balik singgasana.

"Keluar!" katanya dengan dingin. Suara baritonnya itu seolah mengaung di seluruh ruangan.

Wajah Pijar memerah. Delapan tahun bekerja di perusahaan ini, baru kali ini dia mendapat bentakan keras dari atasan karena keterlambatannya datang.

"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya janji–"

"Kamu tidak dengar saya? Keluar!" usir lelaki itu sekali lagi.

Pijar mengangguk kaku setelah itu. Dia tidak ingin mendebat lagi lelaki yang berstatus sebagai bosnya tersebut.

Dia pikir, mungkin Elang butuh sedikit waktu untuk meredakan emosiya, tapi ketika dia hampir keluar, suara bosnya kembali terdengar membuat Pijar mengeratkan rahangnya kuat. "Kamu dipecat!"

"Dipecat?" Pijar mengulang kembali perkataan bosnya.

Awalnya, Pijar berpikir rasional, tidak mungkin sang atasan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Namun, melihat bagaimana Elang dengan enteng mengucapkan kata-kata barusan, Pijar jadi sanksi kalau lelaki itu mampu bersikap profesional.

Alih-alih keluar dari ruangan bosnya, Pijar justru membalikkan tubuhnya menatap Elang yang kini juga tengah menatapnya.

"Apa ini ada kaitannya dengan masa lalu?" Sejujurnya, ada perasaan takut yang dia rasakan ketika menatap netra tajam Elang. Lelaki itu benar-benar terlihat muak dan begitu siap melenyapkannya hanya dari tatapan.

Sayangnya, Elang menutup mulutnya rapat-rapat. Lelaki itu tidak memberikan reaksi apa pun pada kalimat yang Pijar ucapakan selain wajahnya yang datar.

Pijar menghela napas panjang, lalu kembali berujar, "Kalau ini tentang keterlambatan saya, saya minta maaf. Saya berjanji, ini yang terakhir."

Lelaki yang dulu pernah memberikan tatapan lembut itu kini mendengus. Tatapannya kini tidak lagi memancarkan cinta, tetapi dendam yang membara.

"Saya tidak bekerja dengan pengkhianat. Selagi saya masih berbaik hati, maka pergilah. Sebelum hidupmu hancur di sini."

Wajah Pijar memerah sepenuhnya. Dari ucapan Elang, kebencian lelaki itu sepertinya sudah tidak tertolong lagi.

Kendati demikian, Pijar bukanlah perempuan yang akan merengek dengan keadaan. Kalimat hidupnya akan hancur yang dikatakan Elang justru membuat dia penasaran, apa yang akan dilakukan Elang untuk menghancurkannya?

"Saya bukan pengkhianat. Dan saya tidak pernah berkhianat." Pijar mengepalkan dua tangannya di sisi tubuh, guna menghalau emosinya yang siap meledak.

"Bahkan saya memiliki bukti kalau kamu berkhianat," ujar lelaki itu dengan dingin.

Tatapan Elang kembali mengintimidasinya. Pijar tahu, Elang mencoba mengungkit masa lalu mereka yang berakhir buruk. Namun, kini mereka berada di kantor. Hubungan mereka pun bukan lagi sekadar pasangan kekasih, melainkan bos dan sekretaris pribadi.

Untuk itu, Pijar tidak ingin terpancing. "Apa Bapak punya bukti jika saya pernah membocorkan rahasia perusahaan? Jika tidak, Bapak tidak berhak menilai saya sebagai pengkhianat!" ujarnya dengan lantang.

"Saya tidak peduli. Di mata saya, kamu tetaplah pengkhianat, dan saya berhak memutuskan kerja sama dengan pengkhianat sepertimu." Elang lalu menelepon seseorang setelah mengatakan itu.

Tak lama, seorang lelaki yang merupakan seorang manajer HRD datang. "Bapak membutuhkan sesuatu?" tanyanya pada Elang.

"Saya membutuhkan sekretaris."

Kalimat itu membuat manajer tersebut kebingungan. Lelaki itu menoleh ke arah Pijar dengan tatapan penuh tanya. "Tapi, Mbak Pijar adalah sekretaris Bapak," tegas Manajer.

"Saya membutuhkan sekretaris yang kompeten."

Pijar seketika menatap tajam ke arah Elang. Bagaimana mungkin ucapan itu keluar dari mulut Elang ketika Pijar bahkan belum menunjukkan kinerjanya di depan lelaki itu? Beruntung untuk Pijar, Manajer itu mengatakan hal yang membuat Elang menutup mulutnya dengan rahang mengerat.

"Maafkan saya, Pak. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, Bapak tidak diizinkan mengganti sekretaris Bapak." Manajer HRD tersebut berkata lugas, seolah tidak terpengaruh oleh tatapan mengintimidasi yang diberika oleh Elang. "Pak Gema sudah mengaturnya dan mempercayakan Mbak Pijar untuk mendampingi Bapak."

'T-tunggu! Jadi, Pak Gema dan Elang... mereka....'

Manajer HRD kembali undur diri. Dalam waktu beberapa detik, tatapan Elang dan Pijar saling beradu.

Pijar dengan tatapan terkejutnya, sementara Elang dengan kilatan amarah.

"Saya telah memberikan kamu pilihan untuk pergi. Sekarang, lihatlah ... seberapa kuat kamu akan bertahan di neraka yang akan saya ciptakan, Pijar Kemuning!"

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Sekretaris Sang Presdir

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Demi keselamatan buah hatinya, Neva rela bertahan melewati penderitaan batin dan tekanan konstan. Kisah perjuangan penuh pengorbanan ini memperlihatkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi peliknya dinamika hubungan yang menjerat hidupnya.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.0
Demi melindungi ayahnya, sang protagonis rela disiksa penculik hingga tewas. Tragisnya, sang ayah justru sibuk merayakan ulang tahun putri adopsinya dan mengabaikan telepon terakhir korban dengan sumpah serapah. Jasadnya kemudian ditemukan di dalam pot bunga depan kantor polisi. Sang ayah yang bertugas melakukan otopsi menyadari kekejaman luar biasa sang pelaku, tanpa pernah menyadari bahwa korban di hadapannya adalah anak kandung yang sangat ia benci.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan Mira Aditya dan Rafiq Jaya yang didasari perjodohan orang tua berujung duka. Mira harus menelan pil pahit setelah tahu suaminya telah menikahi cinta lamanya, Elena Faris, secara sembunyi-sembunyi. Tersisih dan terabaikan di rumahnya sendiri, Mira merasakan kepedihan yang luar biasa. Di tengah keputusasaan yang terus menyiksa batinnya, kini ia harus menentukan sikap: tetap bertahan dalam hubungan toxic ini atau melangkah pergi demi meraih kebahagiaannya sendiri.
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando diam-diam terobsesi pada adik tirinya, Laily, yang dikenal anggun. Suatu malam, ia mencoba melecehkan Laily saat gadis itu bersiap ibadah. Beruntung, Abdi yang sedang mabuk datang menolong. Sialnya, keadaan justru berbalik hingga Abdi difitnah sebagai pelaku asusila. Akibat tuduhan keji tersebut, Abdi terpaksa menikahi Laily guna mempertanggungjawabkan kesalahpahaman yang merusak nama baiknya.
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Elena mengira hidupnya sempurna bersama Samuel Adinata, CEO Royal Adinata yang menjadi suami sekaligus ayah idaman bagi Eliott. Namun, topeng kepedulian Samuel perlahan terkikis, menyingkap rahasia gelap yang selama ini tersembunyi rapat. Elena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka bukanlah didasari cinta, melainkan sebuah rencana licik. Menyadari dirinya hanya diperalat demi ambisi terselubung sang suami, amarah Elena pun meledak.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED