Sampul Novel Sugar Baby

Sugar Baby

9.0 / 10.0
Terdesak biaya kuliah, Vanya terpaksa mendaftar di situs kencan elite sebagai sugar baby. Takdir mempertemukannya dengan Erick, CEO berparas tampan yang tidak lagi memercayai ketulusan cinta. Hubungan mereka awalnya murni kontrak bisnis yang kaku. Namun, ketertarikan kuat yang tak terduga mulai tumbuh di antara keduanya. Kesepakatan profesional itu pun perlahan berubah menjadi hubungan emosional rumit yang kini mempertaruhkan hati mereka.

Sugar Baby Bab 1

Layar laptop memantulkan cahaya putih pucat ke wajah Vanya yang kusut. Email dari universitas terbuka di hadapannya, huruf-huruf hitam yang seolah menari mengejek di atas latar putih. "Kami menyesal harus menginformasikan bahwa permohonan beasiswa Anda tidak dapat kami setujui untuk periode ini..."

"Sialan!" Vanya memukul meja hingga cangkir kopinya bergetar. Kopi dingin yang tersisa sedikit tumpah, meninggalkan noda coklat di atas kertas tugas yang belum selesai.

Jemarinya yang gemetar mengklik tab browser lain. Sistem pembayaran universitas menampilkan angka yang membuat perutnya mual-lima belas juta rupiah untuk semester depan. Deadline pembayaran: dua minggu lagi.

Vanya menjatuhkan kepalanya ke meja, hidungnya mencium aroma kayu lapis murah yang bercampur dengan bau kopi basi. Rambutnya yang kusut menutupi wajah, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

"Kenapa sih selalu gini..." bisiknya pada dinding kamar kos yang mengelupas catnya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari mama.

"Vanya sayang, papa baru dapat resep dokter lagi. Ada obat yang gak dicover asuransi. Obatnya mahal sekali. Maaf ya nak, bulan ini mama belum bisa kirim uang untuk kamu."

Vanya menggigit bibir bawahnya sampai terasa asin darah. Dia tidak bisa, dan tidak akan menambah beban orang tuanya. Papa sudah cukup menderita dengan penyakit diabetesnya yang semakin parah. Mama sudah bekerja dari pagi sampai malam di warung.

Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak.

"Van? Kamu di dalam?" Suara Riska terdengar khawatir.

Vanya cepat-cepat menghapus air mata dengan punggung tangan. "Masuk aja, Ris. Nggak dikunci."

Riska melongokkan kepala, rambut bob burgundy-nya berayun. "Wah, mukamu kenapa? Kayak orang habis nonton drama Korea tiga episode berturut-turut."

"Beasiswa ditolak." Vanya menunjuk layar laptop dengan dagu.

"Anjir, yang bener?" Riska masuk dan menutup pintu. Dia menjatuhkan diri di kasur Vanya yang berderit protes. "Padahal IPK-mu kan 3,8?"

"3,85." Vanya tertawa pahit. "Tapi tetep aja kalah sama anak-anak yang punya 'prestasi non-akademik'. Alias yang bapaknya pejabat."

"Kampret emang sistem negara ini." Riska meraih tas keripik singkong dari meja Vanya dan mulai mengunyah dengan berisik. "Terus gimana? Semester depan?"

Vanya memutar laptopnya menghadap Riska, menunjukkan halaman pembayaran. Riska tersedak keripik.

"Lima belas juta?! Itu mah bisa buat beli motor!"

"Makanya." Vanya menutup laptop dengan kasar. "Dua minggu lagi deadline-nya. Kerjaan part-time di kafe cuma dapat tiga juta sebulan. Mau ngutang ke siapa coba?"

*** 

Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang gemerlap, Erick Wijaya melempar ponselnya ke sofa kulit Italia yang empuk. iPhone terbarunya mendarat tanpa suara di permukaan yang lembut. Suara ibunya masih terngiang di telinga.

"Erick, kamu sudah 32 tahun! Anak teman mama yang umurnya 28 aja sudah punya dua anak. Kamu kapan? Mama mau cucu!"

Erick mengusap wajah dengan telapak tangan. Parfum Tom Ford yang dipakainya tercium samar, bercampur dengan aroma whisky yang baru dituangnya. Liquid emas itu berputar pelan di dalam gelas kristal saat dia mengangkatnya.

Jendela floor to ceiling apartemennya menampilkan pemandangan Jakarta malam hari. Lampu-lampu gedung berkelap-kelip seperti bintang buatan. Dari lantai 45 ini, semua masalah terlihat kecil. Kecuali satu masalah yang terus menghantuinya.

Kesendirian.

"Persetan," gumamnya, meneguk whisky sampai tenggorokannya panas.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini email dari sekretarisnya.

"Pak Erick, pengingat untuk makan malam dengan Ms. Clarissa Tanujaya besok malam di Amuz. Reservasi sudah saya buatkan untuk pukul 19.00."

Clarissa. Anak pengusaha properti yang sudah tiga kali di set up sama tantenya. Cantik? Jelas. Pintar? Lulusan Wharton. Tapi Erick sudah tahu endingnya. Sama seperti yang lain-lain.

Minggu lalu, dia tidak sengaja mendengar Clarissa telepon sama temannya. "Gila, Erick Wijaya lho! Net worth-nya triliunan. Gue harus bisa dapetin dia. Lo bayangin, jadi nyonya Wijaya..."

Erick memutar kursinya menghadap koleksi foto di meja. Satu-satunya foto yang ada dirinya bersama Jonas di hari wisuda MBA mereka. Dua orang bodoh yang percaya mereka bisa mengubah dunia. Sekarang perusahaannya memang mengubah landscape teknologi Indonesia, tapi hidupnya? Tetap kosong.

Dia membuka laptop. Email dari investor, proposal merger, laporan kuartalan, semua menunggu perhatiannya. Tapi malam ini, Erick tidak peduli. Jarinya malah mengetik sesuatu yang lain di search bar.

"Cara mengatasi kesepian"

Hasil pencarian membuatnya mendengus. Artikel-artikel klise tentang hobi baru, adopsi hewan peliharaan, atau... online dating?

"Yang bener aja," Erick menutup laptop.

Tapi pikirannya terus berputar. Setiap hubungan yang dia jalani selalu berakhir sama. Begitu tahu siapa dia sebenarnya, topeng-topeng mulai terlepas. Yang tersisa hanya keserakahan dan kepalsuan.

***

Vanya menatap layar laptopnya dengan mata sembab. Riska sudah pulang sejak sejam lalu, meninggalkannya sendirian dengan pikiran yang kacau. Jari-jarinya bergerak tanpa sadar, scrolling media sosial tanpa tujuan.

Sebuah iklan muncul di timeline-nya. Banner merah muda dengan font elegan.

"Elite Companionship - Where Successful People Meet"

"Raih impianmu bersama partner yang tepat. Pendidikan? Karir? Lifestyle? Kami hubungkan Anda dengan mereka yang bisa membantu mewujudkannya."

Vanya hampir scroll melewatinya, tapi kata "pendidikan" membuatnya berhenti. Jarinya ragu-ragu di atas trackpad. Dia tahu apa ini. Sugar dating. Fenomena yang lagi marak di kalangan mahasiswi yang butuh biaya kuliah.

"Nggak, nggak, nggak." Vanya menggeleng keras. "Gue gak serendah itu."

Tapi tab pembayaran kuliah masih terbuka di browser. Lima belas juta. Dua minggu.

Vanya menggigit kuku ibu jarinya-kebiasaan buruk saat stress. Rasa pahit cat kuku murah tercecap di lidah. Pikirannya berkelana ke teman-teman seangkatannya. Putri yang tiba-tiba punya iPhone terbaru. Mela yang posting foto dari Bali tiap bulan. Semuanya punya "sponsor".

"Mereka bisa lulus tepat waktu," bisik Vanya pada dirinya sendiri. "Nggak kayak gue yang harus cuti semester depan."

Tangannya bergerak sendiri, mengklik iklan itu.

Website-nya terlihat profesional. Bukan seperti situs murahan. Testimoni dari member yang sudah berhasil menyelesaikan S2 di luar negeri. Foto-foto couple yang terlihat bahagia-meski Vanya tahu itu semua pasti rekayasa.

Sebuah pop up muncul. "Daftar sekarang dan dapatkan verification badge GRATIS!"

Vanya menutup laptop dengan keras. Dia merebahkan diri di kasur. Spring bed murahan berdecit di bawah berat badannya. Dari celah gorden, lampu jalanan menerangi poster motivasi di dinding-hadiah dari papa saat dia diterima kuliah.

"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia - Nelson Mandela"

Air mata mengalir lagi. Papa yang rela jual motor untuk bayar uang pangkal kuliah. Mama yang nggak pernah beli baju baru demi bisa kirim uang bulanan. Dan sekarang dia mempertimbangkan untuk...

"Maafin Vanya, Pa, Ma," isak tangisnya teredam bantal.

***

Erick terbangun dari lamunan saat ponselnya berdering. Jonas.

"Bro, lagi ngapain? Suara lo tadi di telepon kayak orang mau loncat dari balkon."

"Gue baik-baik aja." Erick menyalakan speaker phone sambil menuang whisky lagi.

"Baik-baik aja pantat lo. Gue kenal lo dari jaman masih miskin, inget? Cerita aja."

Erick tersenyum tipis. Jonas memang satu-satunya orang yang berani ngomong frontal ke dia. "Nyokap nelpon lagi. Maksa gue nikah."

"Ya udah nikah aja. Clarissa kan lumayan. Cantik, pinter, tajir juga."

"Dan cuma pengen duit gue."

"Lah, semua juga gitu kan?" Jonas tertawa. "Sorry bro, tapi dengan status lo sekarang, susah cari yang bener-bener tulus. Kecuali lo mau nyamar jadi tukang fotokopi dulu."

"Gue serius, Jon."

Hening sebentar. Suara Jonas berubah serius. "Lo kesepian ya?"

Erick tidak menjawab. Dia tidak perlu. Jonas sudah tahu.

"Dengerin gue," kata Jonas. "Lo butuh sesuatu yang... berbeda. Nggak usah yang conventional. Cari yang jujur dari awal. No bullshit. No drama."

"Maksud lo?"

"Pernah denger Elite Companionship?"

Erick mengerutkan kening. "Sugar dating?"

"Jangan judgemental dulu. Ini beda. Professional. Mereka screen membernya ketat. Dan yang penting, semua jelas dari awal. Nggak ada yang pura-pura cinta, nggak ada yang bohongin niat. Lo dapet companion, mereka dapet support. Win-win."

"Jon, lo gila?"

"Gue cuma kasih opsi. Daripada lo stress terus tiap kali ketemu cewek yang cuma mau duit lo tapi pura-pura nggak. Ini at least lebih jujur."

Setelah Jonas tutup telepon, Erick duduk terdiam. Layar laptopnya masih menyala. Jarinya bergerak mengetik.

"Elite Companionship"

Website yang sama yang dilihat Vanya muncul di layarnya. Erick membaca dengan seksama. Professional. Discreet. Mutual benefit.

"Ini gila," gumamnya.

Tapi tangannya tetap scrolling. Membaca testimoni. Melihat-lihat prosedur. Semua tampak... masuk akal? Tidak ada drama. Tidak ada kebohongan. Semua clear dari awal.

Chat dari sekretarisnya masuk. Reminder untuk makan malam dengan Clarissa besok.

Erick menatap bergantian antara email dan website Elite Companionship. Antara kebohongan yang dibungkus cantik dan kejujuran yang telanjang.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Sugar Baby

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam. Apakah pernikahan ini berjalan atas sisa cinta, atau justru menjadi ajang pembalasan dendam atas sakit hati masa lalu? Kini, sebagai suami istri, keduanya harus berkomitmen meski bayang-bayang masa lalu terus mengusik. Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, berbagai rahasia dan konflik pun mulai bermunculan, menguji kesetiaan serta keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali meminta cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru menurunkannya di jalan demi menjawab telepon sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan berani pergi. Dia tidak sadar bahwa pengabaiannya kali ini telah melewati batas. Di sisi lain, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera menyelesaikan perceraiannya dan pergi meninggalkan negara ini untuk selamanya.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung petaka. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke pusaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi makian dan adegan dewasa, gadis lugu ini terperangkap dalam cinta segitiga yang rumit bersama dua pria. Simak perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters sirna seketika saat mengetahui dirinya hamil. Sang suami, Julian Ryder, sejak awal sudah menegaskan enggan memiliki anak dalam pernikahan mereka. Berada di posisi sulit antara naluri keibuan dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras untuk menggugurkan kandungannya. Demi melindungi sang buah hati, ia pun terpaksa menyusun rencana rahasia untuk melarikan diri dan menyembunyikan kehamilan ini dari suaminya.
Sampul Novel Satu Malam Bersama Calon Besan
8.5
Setelah sekian lama menyendiri, sebuah kesalahan fatal terjadi dalam hidup Mira akibat pengaruh alkohol di malam ulang tahunnya. Ia melewati malam yang intim bersama Rendi, lalu pergi tanpa sempat mengenali wajah pria itu. Saat mencoba melupakan kejadian tersebut, Mira justru dikejutkan oleh kenyataan pahit saat bertemu calon besannya. Rendi ternyata adalah ayah dari calon menantunya. Kini, keduanya terjebak dilema antara melupakan malam itu atau berselingkuh di belakang anak-anak mereka.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED