Layar laptop memantulkan cahaya putih pucat ke wajah Vanya yang kusut. Email dari universitas terbuka di hadapannya, huruf-huruf hitam yang seolah menari mengejek di atas latar putih. "Kami menyesal harus menginformasikan bahwa permohonan beasiswa Anda tidak dapat kami setujui untuk periode ini..."
"Sialan!" Vanya memukul meja hingga cangkir kopinya bergetar. Kopi dingin yang tersisa sedikit tumpah, meninggalkan noda coklat di atas kertas tugas yang belum selesai.
Jemarinya yang gemetar mengklik tab browser lain. Sistem pembayaran universitas menampilkan angka yang membuat perutnya mual-lima belas juta rupiah untuk semester depan. Deadline pembayaran: dua minggu lagi.
Vanya menjatuhkan kepalanya ke meja, hidungnya mencium aroma kayu lapis murah yang bercampur dengan bau kopi basi. Rambutnya yang kusut menutupi wajah, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
"Kenapa sih selalu gini..." bisiknya pada dinding kamar kos yang mengelupas catnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari mama.
"Vanya sayang, papa baru dapat resep dokter lagi. Ada obat yang gak dicover asuransi. Obatnya mahal sekali. Maaf ya nak, bulan ini mama belum bisa kirim uang untuk kamu."
Vanya menggigit bibir bawahnya sampai terasa asin darah. Dia tidak bisa, dan tidak akan menambah beban orang tuanya. Papa sudah cukup menderita dengan penyakit diabetesnya yang semakin parah. Mama sudah bekerja dari pagi sampai malam di warung.
Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak.
"Van? Kamu di dalam?" Suara Riska terdengar khawatir.
Vanya cepat-cepat menghapus air mata dengan punggung tangan. "Masuk aja, Ris. Nggak dikunci."
Riska melongokkan kepala, rambut bob burgundy-nya berayun. "Wah, mukamu kenapa? Kayak orang habis nonton drama Korea tiga episode berturut-turut."
"Beasiswa ditolak." Vanya menunjuk layar laptop dengan dagu.
"Anjir, yang bener?" Riska masuk dan menutup pintu. Dia menjatuhkan diri di kasur Vanya yang berderit protes. "Padahal IPK-mu kan 3,8?"
"3,85." Vanya tertawa pahit. "Tapi tetep aja kalah sama anak-anak yang punya 'prestasi non-akademik'. Alias yang bapaknya pejabat."
"Kampret emang sistem negara ini." Riska meraih tas keripik singkong dari meja Vanya dan mulai mengunyah dengan berisik. "Terus gimana? Semester depan?"
Vanya memutar laptopnya menghadap Riska, menunjukkan halaman pembayaran. Riska tersedak keripik.
"Lima belas juta?! Itu mah bisa buat beli motor!"
"Makanya." Vanya menutup laptop dengan kasar. "Dua minggu lagi deadline-nya. Kerjaan part-time di kafe cuma dapat tiga juta sebulan. Mau ngutang ke siapa coba?"
***
Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang gemerlap, Erick Wijaya melempar ponselnya ke sofa kulit Italia yang empuk. iPhone terbarunya mendarat tanpa suara di permukaan yang lembut. Suara ibunya masih terngiang di telinga.
"Erick, kamu sudah 32 tahun! Anak teman mama yang umurnya 28 aja sudah punya dua anak. Kamu kapan? Mama mau cucu!"
Erick mengusap wajah dengan telapak tangan. Parfum Tom Ford yang dipakainya tercium samar, bercampur dengan aroma whisky yang baru dituangnya. Liquid emas itu berputar pelan di dalam gelas kristal saat dia mengangkatnya.
Jendela floor to ceiling apartemennya menampilkan pemandangan Jakarta malam hari. Lampu-lampu gedung berkelap-kelip seperti bintang buatan. Dari lantai 45 ini, semua masalah terlihat kecil. Kecuali satu masalah yang terus menghantuinya.
Kesendirian.
"Persetan," gumamnya, meneguk whisky sampai tenggorokannya panas.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini email dari sekretarisnya.
"Pak Erick, pengingat untuk makan malam dengan Ms. Clarissa Tanujaya besok malam di Amuz. Reservasi sudah saya buatkan untuk pukul 19.00."
Clarissa. Anak pengusaha properti yang sudah tiga kali di set up sama tantenya. Cantik? Jelas. Pintar? Lulusan Wharton. Tapi Erick sudah tahu endingnya. Sama seperti yang lain-lain.
Minggu lalu, dia tidak sengaja mendengar Clarissa telepon sama temannya. "Gila, Erick Wijaya lho! Net worth-nya triliunan. Gue harus bisa dapetin dia. Lo bayangin, jadi nyonya Wijaya..."
Erick memutar kursinya menghadap koleksi foto di meja. Satu-satunya foto yang ada dirinya bersama Jonas di hari wisuda MBA mereka. Dua orang bodoh yang percaya mereka bisa mengubah dunia. Sekarang perusahaannya memang mengubah landscape teknologi Indonesia, tapi hidupnya? Tetap kosong.
Dia membuka laptop. Email dari investor, proposal merger, laporan kuartalan, semua menunggu perhatiannya. Tapi malam ini, Erick tidak peduli. Jarinya malah mengetik sesuatu yang lain di search bar.
"Cara mengatasi kesepian"
Hasil pencarian membuatnya mendengus. Artikel-artikel klise tentang hobi baru, adopsi hewan peliharaan, atau... online dating?
"Yang bener aja," Erick menutup laptop.
Tapi pikirannya terus berputar. Setiap hubungan yang dia jalani selalu berakhir sama. Begitu tahu siapa dia sebenarnya, topeng-topeng mulai terlepas. Yang tersisa hanya keserakahan dan kepalsuan.
***
Vanya menatap layar laptopnya dengan mata sembab. Riska sudah pulang sejak sejam lalu, meninggalkannya sendirian dengan pikiran yang kacau. Jari-jarinya bergerak tanpa sadar, scrolling media sosial tanpa tujuan.
Sebuah iklan muncul di timeline-nya. Banner merah muda dengan font elegan.
"Elite Companionship - Where Successful People Meet"
"Raih impianmu bersama partner yang tepat. Pendidikan? Karir? Lifestyle? Kami hubungkan Anda dengan mereka yang bisa membantu mewujudkannya."
Vanya hampir scroll melewatinya, tapi kata "pendidikan" membuatnya berhenti. Jarinya ragu-ragu di atas trackpad. Dia tahu apa ini. Sugar dating. Fenomena yang lagi marak di kalangan mahasiswi yang butuh biaya kuliah.
"Nggak, nggak, nggak." Vanya menggeleng keras. "Gue gak serendah itu."
Tapi tab pembayaran kuliah masih terbuka di browser. Lima belas juta. Dua minggu.
Vanya menggigit kuku ibu jarinya-kebiasaan buruk saat stress. Rasa pahit cat kuku murah tercecap di lidah. Pikirannya berkelana ke teman-teman seangkatannya. Putri yang tiba-tiba punya iPhone terbaru. Mela yang posting foto dari Bali tiap bulan. Semuanya punya "sponsor".
"Mereka bisa lulus tepat waktu," bisik Vanya pada dirinya sendiri. "Nggak kayak gue yang harus cuti semester depan."
Tangannya bergerak sendiri, mengklik iklan itu.
Website-nya terlihat profesional. Bukan seperti situs murahan. Testimoni dari member yang sudah berhasil menyelesaikan S2 di luar negeri. Foto-foto couple yang terlihat bahagia-meski Vanya tahu itu semua pasti rekayasa.
Sebuah pop up muncul. "Daftar sekarang dan dapatkan verification badge GRATIS!"
Vanya menutup laptop dengan keras. Dia merebahkan diri di kasur. Spring bed murahan berdecit di bawah berat badannya. Dari celah gorden, lampu jalanan menerangi poster motivasi di dinding-hadiah dari papa saat dia diterima kuliah.
"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia - Nelson Mandela"
Air mata mengalir lagi. Papa yang rela jual motor untuk bayar uang pangkal kuliah. Mama yang nggak pernah beli baju baru demi bisa kirim uang bulanan. Dan sekarang dia mempertimbangkan untuk...
"Maafin Vanya, Pa, Ma," isak tangisnya teredam bantal.
***
Erick terbangun dari lamunan saat ponselnya berdering. Jonas.
"Bro, lagi ngapain? Suara lo tadi di telepon kayak orang mau loncat dari balkon."
"Gue baik-baik aja." Erick menyalakan speaker phone sambil menuang whisky lagi.
"Baik-baik aja pantat lo. Gue kenal lo dari jaman masih miskin, inget? Cerita aja."
Erick tersenyum tipis. Jonas memang satu-satunya orang yang berani ngomong frontal ke dia. "Nyokap nelpon lagi. Maksa gue nikah."
"Ya udah nikah aja. Clarissa kan lumayan. Cantik, pinter, tajir juga."
"Dan cuma pengen duit gue."
"Lah, semua juga gitu kan?" Jonas tertawa. "Sorry bro, tapi dengan status lo sekarang, susah cari yang bener-bener tulus. Kecuali lo mau nyamar jadi tukang fotokopi dulu."
"Gue serius, Jon."
Hening sebentar. Suara Jonas berubah serius. "Lo kesepian ya?"
Erick tidak menjawab. Dia tidak perlu. Jonas sudah tahu.
"Dengerin gue," kata Jonas. "Lo butuh sesuatu yang... berbeda. Nggak usah yang conventional. Cari yang jujur dari awal. No bullshit. No drama."
"Maksud lo?"
"Pernah denger Elite Companionship?"
Erick mengerutkan kening. "Sugar dating?"
"Jangan judgemental dulu. Ini beda. Professional. Mereka screen membernya ketat. Dan yang penting, semua jelas dari awal. Nggak ada yang pura-pura cinta, nggak ada yang bohongin niat. Lo dapet companion, mereka dapet support. Win-win."
"Jon, lo gila?"
"Gue cuma kasih opsi. Daripada lo stress terus tiap kali ketemu cewek yang cuma mau duit lo tapi pura-pura nggak. Ini at least lebih jujur."
Setelah Jonas tutup telepon, Erick duduk terdiam. Layar laptopnya masih menyala. Jarinya bergerak mengetik.
"Elite Companionship"
Website yang sama yang dilihat Vanya muncul di layarnya. Erick membaca dengan seksama. Professional. Discreet. Mutual benefit.
"Ini gila," gumamnya.
Tapi tangannya tetap scrolling. Membaca testimoni. Melihat-lihat prosedur. Semua tampak... masuk akal? Tidak ada drama. Tidak ada kebohongan. Semua clear dari awal.
Chat dari sekretarisnya masuk. Reminder untuk makan malam dengan Clarissa besok.
Erick menatap bergantian antara email dan website Elite Companionship. Antara kebohongan yang dibungkus cantik dan kejujuran yang telanjang.
Pukul tiga pagi, Vanya masih terjaga. Matanya perih menatap langit-langit kamar yang retak. Pikirannya berperang.
Di satu sisi, harga dirinya menjerit. Apa kata orang tua kalau tahu? Apa kata Riska? Apa kata... dirinya sendiri di masa depan?
Di sisi lain, realita mencekik. Tagihan yang menumpuk. Orang tua yang sakit. Mimpi yang semakin jauh.
Ponselnya menyala. Notification dari kampus. Reminder pembayaran.
"Persetan," Vanya bangkit. "Persetan dengan semuanya."
Dia membuka laptop. Website Elite Companionship masih tersimpan di history. Dengan tangan gemetar, dia klik tombol "Daftar".
***
Di apartemen mewahnya, Erick melakukan hal yang sama. Formulir pendaftaran terbuka di hadapannya.
Nama: Erick W
Umur: 32
Mencari: Companion yang intelligent, genuine, dan...
Erick berhenti mengetik. Apa yang dia cari sebenarnya? Seseorang yang tidak akan mengkhianatinya? Seseorang yang jujur? Atau hanya... seseorang?
Dia menghapus semua dan mulai lagi.
Mencari: Koneksi yang real.
Sebelum sempat berubah pikiran, Erick klik submit.
***
Fajar mulai menyingsing di Jakarta. Di dua tempat berbeda, dua jiwa kesepian baru saja mengambil keputusan yang akan mengubah hidup mereka. Vanya meringkuk di kasurnya, merasa seperti baru saja menjual jiwanya. Erick berdiri di balkon, memandang kota yang mulai terbangun, bertanya-tanya apa yang baru saja dia lakukan.
Mereka belum tahu bahwa takdir sedang merajut benang merah di antara mereka. Bahwa keputusan desperasi di malam yang kelam ini akan membawa mereka pada sesuatu yang tidak pernah mereka sangka.
Cinta yang dimulai dari sebuah kebohongan. Atau mungkin... kejujuran yang paling telanjang?
Notification "Pendaftaran Berhasil" muncul bersamaan di kedua layar mereka.
***
Aroma kopi robusta menguar dari mesin espresso, bercampur dengan wangi croissant yang baru matang. Vanya mengelap meja nomor tujuh dengan gerakan mekanis, pikirannya melayang jauh dari kafe tempatnya bekerja paruh waktu.
"Van, lo kenapa sih dari tadi ngelamun mulu?" Riska muncul membawa nampan kosong. "Udah tiga kali lo lap meja yang sama."
Vanya menghentikan gerakannya. Lap basah di tangannya menetes ke lantai. "Ris, gue ada yang mau cerita."
"Tunggu." Riska melirik jam dinding. "Shift kita selesai lima menit lagi. Ntar aja di pojokan sana." Dia menunjuk booth favorit mereka di sudut kafe.
Lima menit terasa seperti lima jam. Vanya melayani customer terakhir dengan senyum yang dipaksakan, menuang latte dengan tangan sedikit gemetar. Begitu pergantian shift tiba, dia melepas apron dan menyeret Riska ke booth pojok.
"Oke, spill." Riska menyeruput ice americano-nya. "Lo kelihatan kayak orang abis liat hantu."
Vanya menarik napas dalam. "Gue... gue daftar di Elite Companionship."
Bunyi cangkir yang hampir jatuh dari tangan Riska memecah keheningan. "APAAN?!"
"Ssst! Jangan keras-keras!" Vanya melirik panik ke sekeliling kafe.
"Vanya Listiani, mahasiswi teladan dengan IPK 3,85, daftar jadi sugar baby?" Riska mencondongkan badan. "Lo demam?"
"Mau gimana lagi, Ris. Deadline bayaran kuliah dua minggu lagi. Papa sakit. Mama udah kerja mati-matian." Kata-kata keluar berondong-rondong dari mulut Vanya. "Gue nggak punya pilihan lain."
Riska terdiam. Lipstik merahnya yang biasanya membentuk senyum lebar kini mengatup rapat. "Van..."
"Gue tahu ini salah. Gue tahu ini..." Vanya menelan ludah. "...murahan. Tapi apa lagi yang bisa gue lakuin?"
"Hey." Riska meraih tangan Vanya. "Gue nggak akan judge lo. Tapi lo yakin? Ini bukan cuma soal duit, Van. Ini soal perasaan juga. Lo pikir bisa misahin keduanya?"
"Harus bisa." Vanya memandang sisa kopi di cangkirnya. "Ini cuma transaksi bisnis. Gue kasih waktu dan perhatian, dia kasih support finansial. That's it."
Riska menggeleng pelan. "Masalahnya, hati nggak bisa diatur kayak spreadsheet Excel, sayang. Trust me, gue pernah pacaran sama bad boy yang awalnya cuma for fun. Ending-nya? Gue nangis seminggu nonstop."
"Ini beda, Ris."
"Beda gimana? Lo tetep akan spending time sama dia. Makan bareng, jalan bareng, maybe more. Lo pikir bisa tetap dingin?"
Vanya tidak menjawab. Dia teringat foto-foto di website Elite Companionship. Pria-pria sukses dengan senyum menawan. Bagaimana kalau...
"Pokoknya hati-hati," Riska melanjutkan. "Jangan sampe lo jatuh cinta beneran. Karena di dunia mereka, lo cuma temporary. Begitu kontrak selesai, ya udah. Move on ke yang berikutnya."
***
Sinar matahari siang menyilaukan mata Erick saat dia melangkah masuk ke gedung kantornya. AC sentral langsung menyambutnya dengan hawa dingin yang familiar. Beberapa karyawan membungkuk hormat saat berpapasan.
"Afternoon, Pak Erick."
Dia hanya mengangguk singkat, pikiran masih tertuju pada keputusan semalam. Langkahnya terhenti saat melihat Jonas sudah duduk santai di ruang kerjanya.
"Anjir, Jon. Lo kayak hantu aja tiba-tiba nongol."
Jonas memutar kursi menghadapnya. "Well, someone's cranky. Gimana? Jadi daftar?"
Erick melepas jas dan melonggarkan dasi. "How the hell did you know?"
"Bro, gue kenal lo 10 tahun. Plus, lo ada dark circles. Antara begadang mikirin kerjaan-which is unlikely karena lo udah kaya-atau mikirin keputusan yang lo ambil semalam."
"Show off." Erick menjatuhkan diri di kursi. Kulitnya yang empuk langsung menyesuaikan dengan kontur tubuhnya.
"So? Spill the tea, bro." Jonas menyeringai.
"Gue daftar." Erick mengusap wajah. "Dan sekarang gue ngerasa kayak orang bodoh. Apa-apaan coba, CEO tech company nyari cewek di situs begituan."
"Whoa, stop right there." Jonas mengangkat tangan. "Pertama, itu bukan 'situs begituan'. Elite Companionship itu legitimate platform. Kedua, lo nyari companion, bukan cewek murahan. Ada bedanya."
"Apa bedanya?"
"Bedanya adalah transparency, bro." Jonas condong ke depan. "Lo capek dibohongin kan? Capek sama cewek-cewek yang pura-pura cinta tapi sebenernya cuma mau duit lo? Nah, di sini everything is clear. No lies, no fake feelings. Just... companionship dengan mutual benefit."
Erick memutar-mutar pena di tangannya. "Tapi tetep aja, Jon. Gue literally bayar someone untuk-"
"Untuk nemenin lo. That's it. Lo butuh someone yang bisa lo ajak dinner tanpa worry dia akan jual info lo ke media. Someone yang nggak akan bikin drama. Someone yang..." Jonas tersenyum. "...nggak akan nyakitin lo kayak dulu-dulu."
Kata-kata terakhir Jonas menusuk tepat. Erick terdiam.
"Look," Jonas melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Gue nggak bilang ini perfect solution. Tapi at least, lo bisa dapat apa yang lo butuhin sekarang. Companionship tanpa drama. And who knows? Maybe lo akan ketemu someone special."
"Di sugar dating site?" Erick mendengus. "Yeah, right."
"Stranger things have happened, bro. Inget aja, hubungan yang paling tulus dimulai dari tempat yang paling tidak terduga."
***
Perpustakaan kampus sepi sore itu. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sibuk dengan tugas akhir mereka. Vanya duduk di pojokan favoritnya, dikelilingi tumpukan buku yang tidak dibacanya. Laptop terbuka menampilkan profil Elite Companionship yang baru dibuatnya.
"Mahasiswi semester 6 jurusan Sastra Digital. Passionate tentang literasi dan teknologi. Mencari arrangement yang mutual beneficial dengan seseorang yang menghargai intelligence dan ambisi."
Vanya menggigit bibir. Apa profilnya terlalu serius? Terlalu kaku? Dia scroll profil sugar baby lain. Kebanyakan menonjolkan penampilan fisik dan ketersediaan waktu.
"Gue beda," bisiknya pada diri sendiri. "Gue nggak cuma cari sugar daddy. Gue cari someone yang bisa appreciate otak gue juga."
Tapi kata-kata Riska terngiang lagi. "Lo pikir bisa tetep dingin?"
Vanya menggeleng keras, membuat rambut hitamnya yang diikat berantakan. Ini cuma business. Dia harus ingat itu. Tidak boleh ada perasaan. Tidak boleh-
"Vanya?"
Dia terlonjak. Dosen pembimbingnya berdiri di samping meja.
"Pak Handoko! Maaf, saya kaget."
"Santai saja." Dosen berkacamata itu tersenyum. "Saya mau tanya, kamu sudah dapat kabar tentang beasiswa?"
Tenggorokan Vanya terasa kering. "Sudah, Pak. Ditolak."
"Oh." Wajah Pak Handoko berubah prihatin. "Padahal saya sudah rekomendasikan kamu. Sayang sekali. Ada rencana lain?"
"Ada, Pak." Vanya menutup laptop cepat-cepat. "Saya... saya akan cari alternatif funding."
"Bagus. Jangan menyerah. Kamu salah satu mahasiswa terbaik saya. Sayang kalau harus berhenti di tengah jalan."
Setelah dosennya pergi, Vanya membenamkan wajah di tangan. Apa yang akan Pak Handoko pikirkan kalau tahu "alternatif funding" yang dimaksud?
Erick menatap layar smartphone-nya. Aplikasi Elite Companionship sudah ter-install, icon-nya berwarna emas dengan siluet dua orang. Jarinya hover di atas icon tersebut.
"This is stupid," gumamnya.
Tapi dia tetap membukanya. Profil-profil muncul berjejer. Foto-foto profesional, bio yang carefully crafted. Kebanyakan terlihat... generik? Sama saja dengan profil di Tinder atau dating app lainnya.
Lalu matanya menangkap satu profil. Bukan fotonya yang menarik perhatian-meski gadis itu clearly attractive dengan rambut hitamnya yang simpel. Tapi bio-nya.
"Mahasiswi semester 6 jurusan Sastra Digital. Passionate tentang literasi dan teknologi. Mencari arrangement yang mutual beneficial dengan seseorang yang menghargai intelligence dan ambisi."
Sastra Digital? Erick mengangkat alis. Kombinasi unik. Dan cara dia menulis... formal tapi ada hint of personality. Tidak trying too hard untuk membuat laki-laki terkesan.
Dia klik profilnya. Lebih banyak foto. Gadis itu di perpustakaan, dikelilingi buku. Selfie dengan laptop yang menampilkan coding. Candid shot lagi presentasi.
"Interesting," Erick bergumam.
Tanpa berpikir panjang, dia swipe right. Match.
***
Ponsel Vanya bergetar. Notification dari Elite Companionship.
"You have a new match! Erick W. wants to connect with you."
Dengan tangan gemetar, Vanya membuka profilnya. Foto pertama membuat nafasnya tercekat. Pria itu... tampan. Bukan tampan yang dibuat-buat, tapi natural. Jas mahal, jam tangan yang clearly harganya fantastic, tapi ada something di matanya yang... lelah?
Bio-nya singkat. "32, entrepreneur. Looking for genuine connection without the games. Privacy is priority."
Vanya scroll lebih jauh. Tidak banyak info detail, tapi verified badge-nya legit. Income range yang tertera membuat mata Vanya melebar. Ini... ini jackpot. Kalau bisa dapat arrangement dengan dia...
Tapi kemudian Vanya melihat fotonya lebih detail. Ada yang familiar. Dimana ya dia pernah lihat wajah ini?
"Whatever." Vanya menggeleng. "Fokus, Vanya. Ini untuk kuliah."
Dia menarik napas dan mulai mengetik message.
"Hi, terima kasih sudah match. Saya tertarik dengan bio Anda yang straightforward. Mungkin kita bisa diskusi lebih lanjut tentang arrangement yang mutual beneficial?"
Delete. Terlalu kaku.
"Hai! Thanks for the match. Kamu kelihatan interesting. Mau ngobrol?"
Delete. Terlalu casual.
Setelah menulis-hapus belasan kali, akhirnya Vanya settle dengan:
"Hi Erick, senang bisa match dengan Anda. Saya appreciate pendekatan Anda yang direct. Mungkin kita bisa mulai dengan coffee dan melihat apakah kita cocok?"
Send.
***
Notification muncul di ponsel Erick. Dia tersenyum tipis membaca pesan Vanya. Sopan tapi tidak kaku. Smart enough untuk tidak langsung bicara soal uang.
"Coffee sounds good. Besok lusa? Saya ada meeting sampai jam 12 siang. Bisa setelah itu?"
Reply datang cepat.
"Saya ada kelas sampai jam 2. Setelah itu free. Di mana?"
Erick berpikir. Tempat public tapi private enough untuk talk. "Kafe Tanamera, Pacific Place? Agak ramai tapi ada spot yang cukup private."
"Oke. See you there. Saya akan pakai..." Ada jeda sebelum pesan lanjutan masuk. "...kemeja putih dan jeans. Biar gampang ketemu."
Erick tersenyum. Practical. Dia suka itu.
"I'll be in navy suit. Probably masih pakai badge kantor. Till tomorrow then."
"Looking forward to it."
Erick meletakkan ponsel. Jonas masuk tanpa ketuk-seperti biasa.
"Judging from that smile, lo dapat match?"
"Maybe."
"Maybe my ass. Lo literally grinning kayak anak SMA dapat DM dari crush." Jonas duduk di sofa. "Details!"
"Nothing to tell yet. Baru ngobrol bentar. Besok coffee."
"And?"
"And what? Itu aja."
Jonas menatapnya lama. "Lo nervous."
"Gue nggak-"
"Lo nervous!" Jonas tertawa. "Erick Wijaya, yang biasa negotiating million dollar deals, nervous untuk coffee date!"
"It's not a date," Erick menekankan. "It's... arrangement discussion."
"Whatever helps you sleep at night, bro." Jonas bangkit. "Have fun besok. And hey, remember-no expectations. Just... be yourself."
"Aku yang mana? CEO Erick atau Erick yang-"
"Yang genuine. Karena that's what you're looking for, kan? Something real?" Jonas menepuk pundak Erick sebelum keluar. "Trust the process, bro. Kadang hal terbaik datang dari tempat yang nggak kita sangka."
Erick menatap foto Vanya di aplikasi lagi. Gadis itu sedang tersenyum ke kamera, mata coklatnya berbinar. Ada something tentang senyum itu. Tidak dibuat-buat. Natural. Like she was genuinely happy saat foto itu diambil.
"Trust the process," ulang Erick pelan.
***
Vanya berbaring di kasurnya, menatap langit-langit. Besok. Besok dia akan bertemu potential sugar daddy pertamanya. Perut terasa mual.
Ponselnya berbunyi. Riska.
"Van, lo yakin? Belum telat untuk cancel."
Vanya mengetik balik. "Gue yakin. Ini untuk masa depan gue."
"Just... hati-hati ya. Jangan jatuh cinta. Ingat, mereka nggak akan pernah liat lo sebagai equal. You're just temporary entertainment."
Vanya tidak reply. Dia tahu Riska benar. Ini hanya business. Nothing more, nothing less.
Tapi kenapa jantungnya berdebar saat memikirkan besok?
"Get it together, Vanya," dia berbisik pada kegelapan. "Ini cuma transaksi. Kamu kasih waktu, dia kasih uang. That's it. No feelings. No complications. Just business."
Dia memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi wajah Erick W. dari foto profil terus muncul. Those tired eyes. That small smile.
Stop.
Business. Only business.
Jauh di apartemen mewahnya, Erick juga berbaring terjaga. Menatap city lights Jakarta. Wondering what tomorrow would bring. Hoping, despite everything, that maybe... just maybe... this time would be different.
Dua jiwa, di dua tempat berbeda. Sama-sama mencari sesuatu. Sama-sama takut kecewa. Sama-sama berharap.
Besok, takdir akan mempertemukan mereka. Di atas secangkir kopi dan honest conversation.
Or at least, as honest as two guarded hearts could be.
***
Sinar matahari pagi menerobos celah gorden tipis kamar kos Vanya. Mata sembabnya terbuka perlahan, kelopak mata terasa berat dan lengket. Ponsel di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul 06.47. H-1 pertemuan dengan Erick W.
"Sial." Vanya mengusap wajahnya kasar.
Semalam dia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria dari foto profil itu muncul. Wajah tampan dengan mata coklat yang terlihat lelah. Jas mahal yang membungkus tubuh tinggi tegap. Jam tangan yang harganya mungkin bisa bayar kuliahnya sampai lulus.
Vanya bangkit dari kasur yang berderit keras. Kakinya menginjak lantai keramik dingin, membuat tubuhnya bergidik. Dia melangkah ke lemari pakaian-kalau benda kayu lapuk dengan pintu yang tidak bisa menutup sempurna itu bisa disebut lemari.
"Oke, Vanya. Fokus." Dia menarik napas dalam, membuka pintu lemari.
Kemeja putih pertama diangkat, diperiksa di bawah cahaya. Ada noda samar di bagian kerah. "Nggak bisa." Dilempar ke tempat tidur.
Kemeja kedua. Warnanya sudah pudar karena terlalu sering dicuci. "Nope."
Blouse biru muda. Kancingnya ada yang longgar. "Definitely not."
Satu per satu pakaian dikeluarkan, diperiksa, dan ditolak. Tumpukan di tempat tidur semakin tinggi. Lemari semakin kosong.
"Kenapa sih gue nggak punya baju yang bener?" Vanya menjambak rambutnya frustasi. "Dia pasti udah biasa sama cewek-cewek yang pakai branded semua. Gue mau pakai apa coba?"
Ponselnya bergetar. Notification dari aplikasi Elite Companionship. Jantung Vanya mencelos.
Tapi bukan dari Erick. Hanya reminder tentang safety tips untuk first meeting.
Vanya melempar kemeja terakhir ke tempat tidur dengan kesal. Semuanya salah. Terlalu murahan, terlalu kusam, atau terlalu berusaha keras.
"Apa yang gue pikirin sih?" Dia duduk di lantai, punggung bersandar di tempat tidur. "Orang kayak dia pasti udah biasa sama cewek-cewek berkelas. Yang bajunya dari butik, makeup-nya sempurna, ngomongnya fasih bahasa Inggris."
Suara tetangga sebelah yang menyalakan TV terdengar melalui dinding tipis. Iklan shampo dengan model rambut sempurna berkibar. Vanya melirik rambutnya sendiri yang kusut di cermin kecil.
"Gue bahkan nggak punya conditioner yang bener."
Dia memeluk lututnya, menenggelamkan wajah. Besok dia akan bertemu sugar daddy pertamanya. Pria kaya yang bisa dengan mudah membayar kuliahnya. Dan Vanya bahkan tidak punya satu baju layak untuk dipakai.
***
Gedung pencakar langit di kawasan Sudirman berdiri menjulang, membelah langit Jakarta yang cerah. Di lantai 37, Erick Wijaya duduk di ruang kerjanya yang luas. Jendela floor-to-ceiling menampilkan pemandangan kota yang sibuk di bawah.
Tapi Erick tidak melihat pemandangan itu. Matanya terpaku pada layar ponsel. Aplikasi Elite Companionship terbuka, menampilkan profil Vanya.
Foto gadis itu di perpustakaan. Rambut hitam diikat asal, beberapa helai jatuh membingkai wajah. Senyum kecil yang terlihat tulus, tidak dibuat-buat. Mata cokelat yang menatap kamera dengan percaya diri tapi juga ada hint of vulnerability.
"Bodoh," gumam Erick pada dirinya sendiri. "Apa-apaan lo, Erick? Stalking profil cewek kayak ABG."
Tapi jarinya tetap scrolling. Membaca ulang bio Vanya. Mahasiswi Sastra Digital. Kombinasi unik. Passionate about literacy and technology. Cara penulisannya formal tapi tidak kaku. Smart.
Erick menutup aplikasi, melempar ponsel ke meja. Quarterly report terbuka di laptop, grafik dan angka menunggu perhatiannya. Tapi pikirannya melayang.
Apa yang dia harapkan dari pertemuan besok? Companion? Someone to talk to? Or something more?
"Jangan naive, Erick." Dia mengusap wajah. "Dia cuma tertarik sama duit lo. Nothing more."
Tapi kenapa foto Vanya terasa berbeda? Kenapa senyum gadis itu terlihat... genuine?
Ketukan di pintu membuatnya tersentak.
"Pak Erick? Meeting dengan tim finance lima menit lagi." Sekretarisnya melongok.
"Cancel."
"Maaf, Pak?"
"Cancel semua jadwal besok siang." Erick menatap sekretarisnya. "Ada urusan penting."
Sekretaris profesional itu hanya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut. "Baik, Pak. Saya akan atur ulang."
Setelah pintu tertutup, Erick kembali meraih ponselnya. Membuka profil Vanya lagi.
Ada sesuatu di mata gadis itu. Something real. Something... different.
"Bodoh," ulangnya lagi. Tapi kali ini dengan senyum kecil.