Aku menyusut hidung yang mulai terasa berat menghirup udara. Menyeka airmata yang mengaburkan pandangan dengan punggung tangan. Menatap dengan perasaan teriris setiap lembar hasil goresan tanganku dilahap api yang menyala di dalam drum bekas.
"Lo lagi ngapain bakar-bakar malam-malam, Beb?" sapa sebuah suara merdu bagai alunan lagu.
"Aku mau move-on, Ta," sahutku lirih dengan suara sengau.
"Eh itu sketsa wajah si Ares? Kok lo bakar?" cecar Tania sahabat satu kosanku setengah berteriak.
"Udah ngga guna." Aku menyahut sambil terus memasukkan lembaran sketsa cowok berwajah seksi itu satu persatu ke dalam drum. Setiap satu lembar yang kulemparkan ke dalam api, setiap itu pula ada yang terasa ditarik dari hatiku.
"Eh, pelet si Ares dah habis ya?" Tania menanggapi dengan kekehan geli. Mengabaikan wajahku yang sembab karena seharian menangis. "Ya sudah, sini gue bantu." Gadis berparas ayu itu menarik setumpukan kertas sketsa wajah dengan gambar orang yang sama, dari tanganku. Tanpa dapat kucegah, ia melemparkannya ke dalam drum, disambut lidah api yang seakan bersorak menerima.
Aku hanya tertegun menyaksikan puluhan, bahkan mungkin sudah hitungan ratusan lembar kertas sketsa berakhir menjadi bahan bakar api.
"Mau cerita malam ini apa besok?" Kembali suara Tania memecah kesunyian halaman belakang kosan yang mendadak terang karena api di dalam drum makin membesar.
"Besok aja ya, Ta. Malam ini aku mau sendiri dulu," sahutku merapatkan sweater rajut yang kukenakan. Berharap sedikit mengusir dingin udara Bandung yang mulai menggigit.
"Okay." Lalu tak ada lagi suara yang terdengar dari bibir mungilnya. Tania ikut duduk di bangku kosong seberang bangku yang kududuki.
"Kok masih di sini? Kamu nggak mau masuk?" tanyaku heran.
"Gue mau nemenin lo sampai kertasnya habis kebakar. Takut tiba-tiba lo berubah pikiran, terus ngambil lagi itu kertas," sahutnya santai.
"Eh buset, aku nggak sebego itu kali, Ta!" protesku memanyunkan bibir dan melipat lengan di depan dada.
"Tuh kan masih enggak ngaku aja kalau lo bego," sahutnya acuh sambil memainkan ponsel. Tania memang teman yang paling ceplas ceplos, kendati demikian aku tak pernah merasa sakit hati karena apa yang dia katakan memang ada benarnya.
****
Aku mengenal Ares—cowok yang menjadi model dalam setiap skestaku—empat tahun yang lalu. Bertemu dengannya di sebuah acara kebudayaan yang diadakan oleh salah satu Kementrian di Jakarta. Kala itu aku masih kelas dua SMA.
Cowok itu berada di atas panggung, memetik gitar dengan kosentrasi penuh. Aku bagai tersihir mendengar alunan Kiss the rain dari gitar akustik yang dimainkannya. Petikannya begitu penuh penghayatan. Aku seakan terhanyut dalam setiap nada yang ia mainkan.
Bukan hanya petikan gitarnya yang membuatku terpana, wajah si pemetik gitar pun membuat mata tak mampu berkedip. Cowok dengan style cuek, rambut ikalnya agak sedikit berantakan pada bagian poni. Hidung mancung dengan mata sayu. Pipi tirus dengan tulang pipi yang cukup tinggi.
Melihat indahnya ciptaan Tuhan yang berada di atas panggung itu, tanganku merasa gatal untuk mengabadikannya pada buku sketsa. Tanpa sadar, tanganku pun dengan mudahnya menggambarkan setiap garis wajahnya.
"Itu sketsa wajah gue?" tiba-tiba suara cempreng khas anak laki-laki yang sedang mengalami puber mengagetkanku.
Aku mendongak. Mendadak membeku pada bangku kecil yang kududuki.
"I-iya, maaf kalau kamu tidak suka," kataku dengan muka memelas.
"Kok malah gantengan sketsanya." Dia menyeringai jahil.
"Emang dasar Lo udah cakep, Bambang!" sahutku dalam hati. "Pe-de amat!" Hanya kata itu yang terlontar dari bibirku karena grogi. Dari dekat ternyata wajahnya lebih ganteng. Mungkin karena efek mata minusku, jadi kegantengannya terdistorsi oleh retina yang tidak berfungsi dengan baik.
"Ha-ha, jadi orang harus pe-de. Eh iya, gue Ares. Lo?" Dia menyodorkan tangannya. Sebuah senyum tercetak di bibirnya.
Aku yang selalu grogi berhadapan dengan cowok, apalagi cowok ganteng seperti yang tengah berdiri di hadapanku, makin membeku. Tak lantas menyambut uluran tangannya.
"Tangan gue bersih, kok." Kembali suara cemprengnya terdengar.
"Nalia." Akhirnya aku mampu bersuara meski keringat membanjiri telapak tangan dan keningku.
"Dari daerah?" Ares kembali bertanya, lalu dengan santainya duduk di sampingku.
"Iya." Aku tak berani menatapnya langsung. Terlalu silau untuk ukuran mataku. Khawatir minus mataku makin bertambah.
"Stand-nya di mana?" Seperti kesan pertama yang kutangkap dari sosok Ares, dia memang tipe cowok cuek. Mengajakku mengobrol layaknya teman lama.
"Boleh liat sketsa lo yang lain?" Dia menggeser duduknya mendekat. Memupus jarak yang tadinya cukup jauh.
"Cuma coretan-coretan iseng aja, 'kok ini," elakku.
Meski telah ditunjuk oleh pihak sekolah sebagai perwakilan bagian seni rupa, aku masih belum terlalu percaya diri untuk menunjukkan hasil karyaku kepada orang lain. Jangankan pada orang yang baru saja kukenal, pada teman-teman dekat pun aku sungkan.
Bukan karena sketsaku yang tidak layak untuk diunjukkan, tapi karena merasa bakat yang kupunya hanyalah bakat yang tidak berguna. Setidaknya itu yang sering kudengar setiap hari saat di rumah. Mama, Papa dan kedua orang kakakku selalu memandang sebelah mata hobi maupun bakat yang kupunya.
Aku lahir di keluarga yang berprofesi sebagai dokter. Papa dokter spesialis penyakit dalam, sementara Mama spesialis kandungan. Kakak tertuaku juga berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Kakak kedua, sedang kuliah di Fakultas Kedokteran di universitas negeri ternama di Bandung.
Sementara aku, jangankan hendak bercita-cita menjadi dokter, nilai esaktaku saja hanya memenuhi syarat untuk kenaikan kelas.
"Lia beneran anak Mama, nggak sih? Mama enggak salah ambil, kan, dulu abis lahiran?" ledek Daren kakak keduaku saat melihat nilai raportku yang pas-pasan.
"Liburan ini kamu ikutan les kimia sama fisika, Lia. Mama enggak mau kamu pas liburan seharian ngegambar terus," titah Mama dengan nada datar.
"Ya ampun, Ma. Mama tau, kan gunanya liburan buat apa? Masa Mama tega aku gantung diri karena ngurusin rumus terus setiap hari?" ujarku memelas.
Jika aku sudah bicara seperti itu, Mama akhirnya mengalah.
"Mama terlalu lembek sama Lia, makanya jadi ngelunjak." Papa bersuara di ujung meja tanpa melepaskan tatapannya dari surat kabar yang sedang ia baca.
Hampir setiap hari aku di cecar dengan petuah-petuah agar fokus belajar. Mama masih agak memberi kelonggaran. Sebaliknya Papa selalu bersikap dingin padaku. Terlebih setiap kali menerima raport.
Karena perlakuan seperti itulah, aku tidak pernah bisa menganggap bakatku itu menjadi sebuah kelebihan. Justru aku merasa hanya sebatas kecacatan yang tak seharusnya kupunya.
***
"Buat gue ya, sketsa yang baru saja lo bikin?" Suara cempreng Ares menarikku kembali ke hiruk pikuknya suasana lokasi pameran.
"Eh? Sketsa jelek begini?" tanyaku heran.
"Lo ngatain gue jelek?" sergahnya.
"Bu-bukan ... uhm ... maksudku, gambarku yang jelek," sahutku menghapus keringat yang kembali mengalir.
"Kan, udah gue bilang, gantengan gue di sketsa dari asli," kekehnya.
Dari dekat, aku bisa melihat ceruk kecil di ujung kedua matanya jika cowok itu sedang tertawa. Lalu, sepasang gingsul mempermanis senyumnya.
"Eh, apa gue harus bayar?" Kembali dia bertanya karena aku masih belum merespon permintaannya.
"Eh, enggak perlu. Ini buat kamu aja." Aku merobek sketsa wajah Ares dan menyerahkan padanya.
"Sekalian minta nomor hape dan pin bb," cengirnya menyodorkan ponsel.
"Aku enggak punya bb."
"Tapi hp punya kan?"
Perlahan kekagumanku pada cowok yang di hadapanku memudar. Ternyata dia sama saja, cowok yang senang menggoda.
"Punya, tapi aku enggak bisa asal kasih nomor hp." Dengan tegas aku menolak. Aku paling anti dengan cowok yang senang menggoda cewek-cewek. Dengan mudahnya meminta nomor ponsel lalu merayunya dengan pesan-pesan singkat.
"Oh, okay. Maaf kalau gue sok kenal." Sekilas, aku melihat ada kilatan kekecewaan dari matanya. Akan tetapi aku berusaha tak peduli. Dia bukan siapa-siapa, mengenalnya pun baru hitungan menit. Kenapa aku harus peduli.
Karena tak mendapat respon apa-apa lagi dariku, akhirnya Ares bangkit berdiri.
"Thanks, yah sketsanya," ucapnya tersenyum tipis.
"Sama-sama."
Ares melangkah menjauh. Aku masih tetap bergeming di tempatku duduk tak berniat untuk melihat kemana cowok itu pergi.
"Lia! Dicariin dari tadi malah nyantai di sini," sergah sebuah suara. Kulihat sesosok cowok jangkung berkacamata menghampiri.
"Eh, Do. Sorry, aku kelamaan, ya istirahatnya?"
"Bukan masalah itu, takutnya kamu nyasar," sahutnya menepis perasaan sungkanku. "Kamu sudah jadi makan?"
"Belum."
"Pantas saja konsumsi masih sisa. Buruan makan, daripada nanti kamu malah sakit."
Sebelum meninggalkan pelataran tempatku sedari tadi duduk, entah kenapa aku menoleh kembali ke arah tempat Ares tadi pergi. Tentu saja cowok itu sudah tak ada lagi di sana.
Pertemuan pertama hanya sesingkat itu. Dan kala itu pun aku tak berniat untuk mengenalnya lebih jauh. Karena kesan pertama yang ditunjukkannya membuatku mundur meski dia memiliki wajah yang masuk kriteria cowok idamanku. Sampai hari terakhir acara, aku tak lagi melihatnya. Namun entah kenapa pikiranku seakan terikat pada sosok cowok cuek itu.
Hari-hari berikutnya kembali berjalan normal. Aku kembali ke daerahku di kota kecil Pulau Sumatera, menjalani kembali aktivitas menjadi murid di salah satu SMA favorit di kotaku. Namun ada satu hal yang tidak bisa kuhentikan sekembalinya dari Jakarta, pikiranku seolah dipenuhi bayangan Ares.
Sekelebat ada rasa sesal, kenapa aku menolak bertukar nomor ponsel, tapi sisi lain pikiran idealisku berkata, aku tidak mau menjadi korban cowok playboy.
*****
"Ini siapa, Lia? Cakep!" sembur Aini teman sebangkuku di kelas, saat melihat sketsa wajah yang baru saja kuselesaikan.
"Bukan siapa-siapa," sahutku masih terus menebalkan garis-garis pada wajah yang kugambar. Ares, wajah cowok itu kembali tertuang pada buku sketsaku. Entah kenapa pikiran dan tanganku seolah berkhianat. Setiap kali aku mencoba melupakan sosok cowok yang hanya kukenal hitungan menit itu. Setiap itu pula ia makin menjejak dalam ruang pikiran.
Dimulai saat itulah, aku seolah tak berhenti menggoreskan lekuk wajahnya pada buku skestaku. Seakan melukiskan wajahnya pada kertas itu menjadi obat penyesalan karena penolakanku.
Aku kembali ke kamar setelah semua sketsa Ares menjelma jadi jelaga. Tak ada lagi yang bersisa. Namun entah kenapa masih saja ada sesak yang kurasa mengganjal.
"Nih, diminum dulu. Terus ini kompresan buat mata lo," ujar Tania menyerahkan segelas teh lemon hangat dan eye pad gel ke tanganku. "Lo udah makan?" kembali dia bertanya sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih.
"Sudah."
"Makan apa?" selidiknya seakan tak percaya dengan jawabanku.
"Tadi Aldo datang bawa kwetiaw."
"Oh, ya sudah. Istirahat kalau bisa." Tania berlalu meninggalkanku seorang diri di kamar.
"Ta!" Aku mencegatnya sebelum gadis itu menutup pintu.
"Uhm? Kenapa?" Mojang Kuningan berparas kemayu itu melongokkan kembali kepalanya di antara celah pintu yang hampir ditutup.
"Kayaknya aku cerita sekarang aja, deh. Kamu udah mau tidur?" tanyaku ragu-ragu.
"Belum, sih. Ya sudah kalau mau cerita, sok mangga." Tania kembali masuk kamar dan menghempaskan tubuh lampainya di bean bag lantai kamar. Kemudian duduk bersila menatapku penuh perhatian.
"Ta, emang salah ya kalau aku selama ini suka sama Ares?" tanyaku dengan mata kembali berembun.
"Enggak salah, sih. Cuma rada bego aja menurut gue. Emang Ares cakep, perhatian sama lo, tapi kalau ngga ngasih kepastian kayak gitu buat apa ditungguin terus sampai menutup diri dari cowok yang beneran suka sama lo," cecar Tania dengan berapi-api. "Terus kenapa tiba-tiba lo jadi bakar-bakarin tuh sketsa si Ares?" tanyanya penasaran.
"Aku baru tau, ternyata selama ini Ares ngerasa keganggu sama aku."
"Tau dari mana?"
"Rio yang bilang." Aku kembali menyusut ingus dengan suara bergetar kembali melanjutkan bercerita, "Katanya, selama ini Ares cuma terpaksa bersikap baik sama aku karena dia memang orangnya enggak enakan."
"Masa sih? Kok gue enggak percaya, selama yang gue kenal, Ares itu ceplas ceplos aja kayak gue," ungkap Tania menyangsikan ceritaku.
Memang benar apa yang dikatakan Tania. Ares tipe cowok ceplas ceplos dan terkesan cuek. Dia hampir seperti buku yang terkembang. Apa yang ada di pikirannya, selalu ia ungkapkan tanpa memikirkan efeknya. Hingga apa yang disampaikan Rio siang tadi tentang apa yang dikatakan Ares, terasa begitu mengejutkan.
*****
Satu setengah tahun setelah gelar budaya yang diadakan di Jakarta, aku kembali disibukkan dengan segala urusan sekolah. Terlebih lagi ketika naik kelas tiga, semua bimbingan belajar untuk mata pelajaran yang tak kuminati, harus kuikuti.
Papa memberi ultimatum, jika sampai nilai-nilaiku jeblok dan tidak bisa lulus Fakultas Kedokteran seperti kakak-kakakku, aku harus membiayai sendiri kuliahku nanti jika masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana.
Ditengah-tengah rasa frustasi menghadapi semua modul-modul tugas sekolah dan bimbingan belajar, wajah Ares masih belum bisa sepenuhnya minggat dari pikiranku. Di sela-sela waktu yang kupunya, aku masih saja terus menggoreskan sketsa wajahnya. Entah kenapa, setiap kali pensilku menggoreskan garis wajahnya di buku sketsa, seperti ada rasa tenang yang kurasa.
"Cowok ini lagi. Ini siapanya kamu, Lia?" Suara bass Aldo mengagetkanku.
Aldo, dia tadinya kakak kelasku. Hanya saja ketika kelas dua, dia mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang dengan konsekuensi, tertinggal satu tahun di sekolah formal. Lalu ketika kembali ke Indonesia, dia sekelas denganku.
Hobinya menggambar membuat kami menjadi dekat. Jika Aldo lebih menyukai sketsa desain ruang, aku lebih menyukai sketsa wajah.
"Eh malah bengong ditanya." Aldo menyentil ujung hidungku.
"Enggak kenal juga, sih. Tiba-tiba tanganku gerak aja ngegambar wajah ini," sahutku sedikit berbohong.
"Kalau aku perhatikan, kamu mulai sering menggambar wajah ini setelah pulang dari Jakarta. Kenal di pameran, ya?" Tembaknya dengan cengiran lebar.
"Hu-uhm. Aku tiba-tiba nggak bisa melenyapkannya dari pikiran. Dengan menggambar sketsa begini sedikit membuatku bisa mengurangi bayangannya."
"Kamu jatuh cinta sama cowok di sketsa itu?" Aldo kembali bertanya.
"Ketinggian mungkin kalau dibilang cinta, ya. Mungkin lebih tepatnya kagum. Kamu ingat pas pementasan musik, ada yang mainin Kiss the rain pakai gitar akustik, nggak?"
Aldo terlihat mencoba mengingat-ingat sesuatu. Satu setengah tahun berlalu dari acara kebudayaan itu, wajar dia lupa.
"Enggak," sahutnya menyerah. "Kalau disuruh ingat cewek, aku bisa ingat," kekehnya.
"Huu ...." Tepukan ringan melayang ke bahunya yang bidang.
"Terus, kamu suka sama cowok ini?" tanyanya dengan wajah serius.
"Enggak tau deh, cuma suka lihat garis wajahnya," sahutku menatap hasil goresanku di buku sketsa.
Aldo hanya diam. Mengalihkan tatapannya dariku.
"Eh, kamu sudah tau lomba bikin komik yang kemarin ditempel di mading belum?" tanyanya tiba-tiba.
"Belum, Memangnya ada?"
"Ada, lusa hari terakhir. Aku pikir kamu sudah tau. Tadinya mau ngajak kolaborasi, kamu bikin karakternya, aku bikin background," ujarnya antusias.
"Ya ... Do, kamu 'kan tau, aku nggak punya waktu lagi buat bikin-bikin komik. Semua alat gambarku disita Papa," sahutku memasang raut kecewa.
"Kalau kamu mau bandel dikit, bilang sama Papamu belajar kelompok aja. Entar kita bikin di rumahku, aku baru beli tablet untuk gambar." Aldo menyeringai jahil. "Lumayan kalau menang, hadiahnya jalan-jalan ke Jepang," lanjutnya antusias.
Aku membuang napas pelan. Merasa tidak tega mematahkan semangat yang tampak berkibar dari balik kacamata cowok berkulit pucat itu.
"It's over, finito!" sahutku pelan.
"Yah!" Kecewa jelas terjejak pada wajahnya.
"Sorry, Do. Hidupku bakal tamat kalau Papa tau aku berbohong. Aku enggak berani," sesalku.
"Sayang banget, sih, Li. Banyak orang harus les buat bisa gambar kayak kamu. Giliran kamu punya bakat malah nggak dikembangkan." Dia masih berusaha membujuk.
"Ya ... mau gimana lagi. Tuhan juga salah ngasih kayaknya ke aku," keluhku mendengkus lemah.
"Hush! Malah nyalahin Tuhan," sergahnya.
"Yang ngasih aku bakat seperti ini, 'kan Tuhan. Lalu, yang nempatin aku di keluarga yang enggak ngehargain bakatku, juga Tuhan. Aku mau nyalahin siapa lagi." Aku mengendikkan bahu.
Aldo tak lagi bersuara. Selalu seperti itu. Bagai menemukan jalan buntu, setiap kali membicarakan perihal talenta yang kupunya. Aldo mempunyai orangtua yang mendukung penuh bakatnya, segala fasilitas yang di butuhkannya untuk mengembangkan bakat, disediakan lengkap.
Sementara aku, jangankan mendapatkan fasilitas serupa, sekedar melepas lelah dengan menggambar pun aku tak mendapat izin.
Lulus SMA, aku dan Aldo sama-sama berangkat ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan kami. Aldo sudah mantap memilih Fakultas Seni Rupa di kampus tertua di Bandung. Sedangkan aku, tetap harus menjejal otakku dengan bimbingan belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi.
[Lia, di kosanku ada cowok yang mirip sama sketsamu] satu pesan singkat dari Aldo sontak membuat pikiranku kembali terfokus pada cowok berhidung mancung itu.
[Namanya Ares, bukan?] balasku cepat.
[Iya. What a small world! Ntar deh aku ajak ketemuan, ya.]
Mendadak bingung harus membalas apa. Ketemuan? Lalu nanti hendak membicarakan apa. Bahkan mungkin namaku tak lagi diingat cowok itu.
[Ih, enggak usah, Do. Kamu, kan tau kalau aku paling males ketemuan sama orang baru, apalagi cowok.] Akhirnya kalimat penolakan yang bisa kukirimkan pada Aldo.
[Dia masih ingat kamu, kok, Lia.] Kembali satu kalimat singkat dari Aldo itu berhasil membuat jantungku berlompatan.
"Eh, kamu memangnya cerita apa sama Ares? Kok tau-tau bilang dia masih ingat aku?" semburku ketika Aldo menerima panggilan telponku.
Bolak balik membaca dan membalas pesan dari Aldo mengenai Ares membuatku gugup membalas pesan darinya. Entah berapa kali aku mengetikkan kalimat yang kacau karena mendadak tanganku gemetar. Entah karena apa.
"Enggak cerita apa-apa. Pas ada anak baru pindah di depan kamar, aku merasa familiar melihat wajahnya. Iseng deh nanya apa dia kenal sama kamu. Pas aku kasih tau nama kamu, dia langsung inget, tuh," papar Aldo.
Serasa diterbangkan ke langit begitu mendengar apa yang dikatakan Aldo. Selama ini, aku bagai punguk merindukan bulan. Setiap hari menggambar sketsa orang yang sama tanpa tau kabarnya bagaimana. Ternyata orang yang telah memonopoli pikiranku, juga masih mengingatku. Berbagai kata andai mulai memenuhi pikiranku.
"Lia, masih disana?" Suara Aldo menyeretku kembali pada kenyataan.
"Iya, masih," sahutku meredakan euforia sesaat.
"Jadi, mau nggak, ketemuan nanti malam?"
"Uhm, aku nggak berani keluar malam, Do. Takut tiba-tiba Kak Daren datang ke kosan. Bisa dicincang sama Papa kalau ketauan keluar malam." Membayangkan Kak Daren dengan wajah kakunya melapor pada Papa seketika membuatku bergidik.
"Atau aku yang main ke sana sama Ares?"
"Eh, kan kosanku enggak boleh nerima tamu cowok, Do. Lagian kenapa sih harus malam ini? Masih bisa besok, 'kan ketemuannya?" tanyaku sedikit heran.
"Nih, ngomong sendiri." Terdengar suara Aldo seperti berbicara pada orang lain.
"Halo, Li," sapa sebuah suara yang tak kukenal dari seberang sambungan.
"Iya. Ini siapa?"
"Ares. Masih ingat, kan?"
Otomatis aku membekap mulut agar tidak ada jeritan yang keluar. Semua ini terasa begitu tiba-tiba. Ruangan mendadak terasa panas. Entah aku terkena sindrom apa. Suara cempreng yang dulu kuingat berganti dengan suara lelaki dewasa. Aku salah tingkah sendiri meski orangnya tak berada di hadapanku.
"Halo, Li?" Suara renyah dan empuk di telinga itu kembali terdengar.
"Iya. Maaf aku lagi mencoba mengingat," ujarku menetralkan rasa grogi.
"Cowok yang kamu bikinin sketsa waktu di pameran budaya," ungkapnya seakan menimpakan sebongkah batu besar di kepala.
"Iya, aku ingat." Aku menyerah untuk terus berpura-pura. Khawatir jika Aldo juga sempat mengatakan bahwa setelah pameran budaya itu, aku masih terus memenuhi bukuku dengan sketsa wajahnya. Bisa hancur harga diriku.
"Besok bisa ketemuan?" tanyanya sekali lagi.
"Abis pulang bimbel kali, ya." kalimat itu lepas begitu saja, lalu menyesal telah mengucapkannya.
"Ok. Sekalian makan siang, ya. See you. Ini aku balikin lagi sama Aldo." Aku hanya melongo tanpa sempat menjawab.
"Sampai ketemu besok, Lia!" Aldo pun memutuskan sambungan.
"Hei! Kalian kenapa seenaknya saja menyudahi pembicaraan tanpa menunggu orang lain menjawab sih?" teriakku pada handphone yang masih kupegang.
Arrgh! Besok aku harus bagaimana? Rasa panik mulai menjalar. Tak pernah terpikirkan olehku akan bertemu kembali dengan orang yang tanpa sengaja sempat masuk dalam alur cerita hidupku. Aku berpikir, dia hanya salah seorang figuran yang berperan sekilas dalam ceritaku.
Kembali, aku mengambil buku sketsa. Menorehkan kembali garis-garis yang membentuk wajah Ares. Membayangkan seperti apa wajahnya sekarang. Gugup, tapi tak sabar menunggu besok.
Jangan-jangan Ares jodohku, gumamku dalam hati, tak mampu menghentikan bibir yang tak berhenti tersenyum.
Keesokan harinya, Aldo menjemputku ke tempat bimbingan belajar bersama Ares. Gaya Ares masih sama dengan pertama kali aku mengenalnya, cuek. Siang itu dia memakai jaket jeans belel dengan kaus oblong longgar di baliknya. Rambut bagian poni pun masih seperti kuingat, agak gondrong berantakan. Bedanya, dia terlihat lebih tinggi.
"Hai, Li. Ketemu lagi," sapanya dengan cengiran lebar.
"Hai ...." balasku kikuk.
"Yuk ah, cabs udah laper," ajaknya sambil mengusap perut.
Tanpa banyak basa-basi, aku, Aldo dan Ares meninggalkan gedung bimbingan belajar. Menyusuri jalan Juanda ke arah Gasibu. Aku berboncengan dengan Aldo, sementara Ares sendirian mengendarai skuter tuanya.
Tempat makan pilihan kedua cowok itu di sebuah rumah makan dengan gaya prasmanan.
"Di sini restoran all you can eat dengan kearifan lokal," terang Ares sambil menyendok beberapa centong nasi ke piringnya. "Cocoklah buat mahasiswa budget pas-pasan, tapi mau makan kenyang," lanjutnya sambil terus menyendok beberapa lauk ke piringnya.
Aku terperangah melihat porsi makan cowok berpostur kurus itu.
"Kenapa? Kaget liat porsi makan gue?" tanyanya saat melihat sorot mataku ke arah piringnya. "Gue 'kan masih dalam masa pertumbuhan," kekehnya seakan mampu membaca isi pikiranku.
"Ha-ha, enggak, biasa aja," sahutku mengalihkan perhatian pada menu lauk yang disajikan di meja prasmanan.
Makanan yang disajikan cukup menggugah selera. Hampir sebulan tinggal di Bandung, nafsu makanku berkurang. Pasalnya, masakan Sunda rata-rata terasa agak manis di lidahku.
"Gimana? Not bad, kan?" tanya Ares setelah isi piring kami berpindah ke perut.
"Hu-uhm, enak, kok," sahutku menyetujui.
Makan siang kala itu terasa begitu nikmat, entah karena memang masakan dari rumah makan itu yang memang nikmat, atau karena hatiku sedang berbunga-bunga bertemu kembali dengan seseorang yang selama ini selalu memenuhi pikiranku.
"Masih suka bikin sketsa, Li?" Ares kembali bertanya.
"Masih, tapi udah nggak sesering dulu."
"Lho, kenapa? Kamu enggak mau daftar di FSRD? (Fakultas Seni Rupa dan Desain). Sayang lho bakat kayak gitu dibiarkan begitu saja," tukasnya penuh semangat.
Aku mengendikkan bahu. "Nggak dapat ijin ortu," sahutku tersenyum getir.
"Yah, sayang banget." Tampak wajahnya juga turut prihatin. "But, someday, gue yakin lo bakal sukses sama bakat lo itu, nggak usah sedih," hiburnya dengan senyum khasnya. Salah satu ujung bibirnya tertarik ke atas, dan di ujung matanya seperti ada ceruk layaknya selung pipi.
Siang itu kami hanya banyak bertukar cerita di rumah makan. Mengobrol ngalor ngidul hingga sore. Aldo yang mengantarkanku kembali ke kosan.
*****
Setelah hari itu, pertemuan demi pertemuan pun kami lakukan. Jika Aldo tidak bisa menemani, maka aku hanya jalan berdua dengan Ares. Dari pertemuan-pertemuan itu kami saling bertukar cerita. Dan dari cerita itu aku juga tau bahwa Ares juga mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan keluarganya.
Orangtua Ares telah bercerai ketika dia berumur delapan tahun. Setelah perceraian itu, hidupnya seakan kehilangan arah. Hingga ia mencari pelarian dengan bermain musik.
"Setiap kali aku memetik senar, seakan ada beban yang ikut larut dalam setiap petikan nadanya," ujarnya ketika kutanyakan alasannya.
Yang kusuka dari Ares, meski bisa dikatakan bahwa dia berasal dari keluarga broken home, tak lantas ia menyalahkan keadaan. Dia tetap optimis menjalani hidupnya.
"Banyak hal indah yang harus disyukuri dalam hidup, Li. Masalah dalam keluargaku belum seberapa jika dibandingkan dengan masalah yang dihadapi orang lain. Di jalani santai aja," kekehnya ringan. "Don't think about what you've lost. Think what will you get if you happy live your life," sambungnya dengan senyum tipis.
Rasa kagumku makin bertambah pada sosok cowok cuek itu. Jika selama ini yang kutau anak-anak korban broken home akan menjadi anak-anak yang bermasalah dengan menyalahkan keadaan orangtua mereka, justru sebaliknya Ares tidak demikian.
"Besok ujian, ya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Iya, tapi aku enggak yakin bisa lolos FK. Nilai try out-ku selalu rendah," sahutku pesimis.
"Lokasi ujian sudah tau?" tanyanya mengabaikan nada pesimisku.
"Sudah, tadi diantar Aldo."
"Nonton, yuk!"
"Eh, aku harus belajar. Besok ujian." Aku menjawab setengah mendelik heran dengan usulannya.
"Justru itu, otak harus dibikin fresh dulu. Kalau kepenuhan sama pelajaran, yang ada otakmu panas," ujarnya berteori.
Aku berpikir sejenak. Semenjak pindah ke Bandung, aku memang tidak pernah menikmati fasilitas hiburan yang ditawarkan oleh kota itu. Pikiranku selalu tertuju pada tujuan awalku pindah ke kota kembang itu.
Rasa takut akan kegagalan untuk memasuki fakultas yang di titahkan oleh orangtuaku membuatku melupakan kesenangan yang sebagian teman-teman sebayaku nikmati.
"Gimana? Mau?" tanyanya kembali.
"Uhm, boleh deh," sahutku menyetujui.
Sekali dalam hidup, mencoba untuk keluar dari aturan yang diterapkan oleh orangtuaku, mungkin tidak ada salahnya.
Sore itu aku benar-benar menikmati waktuku bersama Ares. Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam ketika dia mengantarku ke kosan.
Setibanya di kosan, wajah garang kak Daren menyambutku.
"Enak ya, yang pulang pacaran," semburnya ketus. "Aku ke sini bela-belain beres kuliah, karena khawatir sama kamu, kamunya malah enak-enakan pacaran sampai malam. Kamu sudah yakin banget bisa lulus FK?" tukasnya seolah merendahkan.
"A-aku ... habis lihat lokasi ujian, Kak," sahutku mencari alasan.
"Nyari lokasi ujian enggak harus sampai malam juga kali, Lia. Kamu pikir aku sebodoh itu bisa dibohongi." Kak Daren menatapku tajam dari balik kacamata tebalnya.
Seketika udara dingin kota Bandung makin terasa menusuk. Tatapan Kak Daren selalu mengitimidasi.
"Kak, Lia juga butuh untuk menyegarkan otak, biar besok bisa segar menghadapi ujian," ujarku dengan suara putus asa.
"Yang ada otak kamu blank!" ujarnya dengan nada mengesalkan.
Kupikir lulus SMA, tinggal di kosan, jauh dari orangtua, bisa sedikit melegakan pikiranku yang selama ini selalu ditekan oleh keluarga. Namun, semua harapanku hanya tinggal angan-angan. Ada Kak Daren yang mengawasi.
"Jangan harap kamu bisa selamat kalau tidak bisa lolos FK," ancam Kak Daren sebelum berlalu meninggalkanku mematung di depan beranda kosan.
Semalaman pikiranku terus meresonansi ucapan Kak Daren sebelum dia pergi. Membuat mataku sulit terpejam. Ketakutan yang sempat mencair selama seharian bersama Ares mendadak kembali muncul.
Bagaimana jika aku tidak lolos Fakultas Kedokteran? Apa benar Papa akan mencoretku dari kartu keluarga seperti yang diancamkan oleh Kak Daren semenjak menjejakkan kaki di Bandung?
Tak terasa pagi menjelang. Kecemasan yang menderaku semalaman suntuk membuat kepalaku terasa berat. Entah nanti disaat ujian aku bisa berkonsentrasi dengan kondisi seperti ini atau tidak.
Baru saja aku mengunci pintu kamar, ponselku berdering. Nama Ares tertera di layar.
"Ya, Res?" sapaku heran, untuk apa cowok itu menelpon pagi-pagi.
"Aku di depan," sahutnya singkat. Lalu mematikan sambungan.
Keluar bangunan utama kosan, aku melihat Ares menunggu di depan gerbang dengan skuter tuanya. Memakai jaket jeans belel kesayangannya seperti biasa.
Senyumnya terkembang ketika aku keluar.
"Belum sarapan, 'kan, Li?"
"Belum, tadinya mau beli sarapan dekat tempat ujian aja," sahutku masih heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Ya, sudah. Yuk cabs." Ares menyerahkan helm berlapis kulit dengan google besar berwarna coklat.
"Eh?"
"Gue kan setempat lokasi ujiannya sama lo," terangnya seakan menjawab keherananku.
"Oh. Kok nggak bilang dari kemarin?"
"Kan udah bilang barusan," sahutnya cuek.
"Yok, buruan!" sergahnya tak sabaran.
"Iya." Aku mengenakan helm yang diberikannya. Baru setengah kaki yang naik ke jok penumpang, kulihat tali sepatuku masih belum terikat sempurna.
Mengurungkan niat untuk naik ke skuter Ares, aku berjongkok mengikatkan kembali tali sepatu yang lepas.
Tiba-tiba saja skuter Ares melaju. Masih bingung kenapa aku ditinggal, aku menatap heran tanpa mampu bersuara. Skuter yang dikendarai Ares melesat keluar ke jalan utama.
"Areees! Kok aku ditinggal?" Aku berteriak sambil berlari ke arah jalan utama setelah sadar cowok itu tak sadar kalau penumpangnya belum naik.
"Gue pikir lo udah naik, Li!" tiba-tiba Ares muncul lagi dari arah jalan utama dengan wajah pias.
"Memangnya kamu enggak ngerasa kalau aku turun lagi?" rutukku melayangkan pukulan ringan ke punggungnya sambil mengatur napas. "Aku pikir kamu ngerjain." Kembali aku menggerutu setelah duduk sempurna di jok penumpang.
"Ha-ha! Suer Li! Gue enggak ngeuh lo turun lagi!" Tawanya pecah. "Untung belum terlalu jauh, gue heran kok lo enggak jawab-jawab pas gue nanya, pas gue ngelongok ke belakang, orangnya enggak ada. Ha-ha!" Tawanya makin terpingkal-pingkal.
"Dasar cowok aneh!" sungutku mencubit pinggangnya.
Di sepanjang perjalanan menuju lokasi ujian, tawa Ares tak berhenti. Menertawakan kekonyolannya sendiri. Jika ada yang berkata tawa adalah obat kecemasan, terbukti benar adanya. Gelak tawa Ares yang begitu lepas seolah membawaku ikut masuk pada dunianya yang seolah tanpa beban.
"Kamu ambil Fakultas apa, Res?" tanyaku saat kami telah sampai di lokasi.
"Enggak penting Fakultasnya, yang penting gue lulus Universitas negeri, belajar yang bener, lulus dalam waktu singkat," paparnya, seperti biasa, tanpa beban.
"Enak, ya," sahutku lemah.
"Pilihan kedua lo apa?" tanyanya kemudian.
"Aku pilih Kedokteran dua-duanya."
"Apa enggak terlalu beban, tuh? Kenapa enggak pilih Fakultas lain?"
"Aku enggak punya pilihan lain."
"Sekarang lo yang bisa nentuin hidup lo, Li. Coba lo pikirin, deh. Kalau misalnya lo enggak lolos dua-duanya, konsekuensinya apa?"
"Aku tetap harus mencari cara untuk bisa kuliah sendiri tanpa bantuan ortu," sahutku. Bingung kemana arah pembicaraan Ares.
"Lo yakin bakal lolos FK? Maaf, gue bukan ngeraguin kemampuan lo. Cuma, selama jalan sama lo, gue ngeliat passion lo bukan di sana."
Aku tercenung. Memang benar kata Ares. Aku seolah tak menemukan jiwaku di dunia Kedokteran.
"Terus, maksudnya apa?" Aku masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Ares.
"Coba lo sedikit take the challenge, ambil jurusan yang kira-kira lo suka untuk pilihan kedua," usulnya dengan mata berbinar.
"Ih, enggak deh! Kalau gue lolos di sana juga enggak bakal diaku sama ortu." Aku menolak mentah-mentah usulannya yang terasa tak masuk akal.
"Maksud gue gini, Li. Kalaupun ortu lo melaksanakan ancamannya, seengganya Lo masih bisa kuliah di PTN, biayanya nggak semahal kuliah di swasta," terangnya menoleh ke belakang dengan wajah serius. Untuk pertama kali aku melihat ekspresinya seperti itu.
"Gue juga nanti kuliah bakal nyari biaya sendiri. Kalau lo benar-benar di coret dari kartu keluarga, kita bikin kartu keluarga sendiri aja," kekehnya kembali dengan ekspresi jail seperti biasa.
"Apaan, sih!" sungutku menampar keras lengannya.
"Ha-ha! Abis daripada lo enggak tercatat di kartu keluarga." Ares tertawa terpingkal-pingkal.
Usulan Ares terdengar masuk akal. Sekelebat pikiran pemberontakku pun muncul. Jika memang nanti Papa benar-benar melaksanakan ancamannya, tentu aku harus memikirkan bagaimana melanjutkan pendidikanku tanpa bantuan orangtua.
Aku menyeringai seakan mendapatkan jalan setelah menemui jalan buntu. Berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukanku dengan cowok yang mempunyai banyak ide ini.
"Malah nyengir!" Sebuah jitakan pelan melayang di jidatku.
"I'll try!" sahutku dengan semangat baru.
"Good! Tentukan jalan hidupmu sendiri!" sahutnya.
Meski rasa berat di kepala karena kurang tidur semalam belum reda. Namun, seolah ada separuh beban yang terasa terangkat. Apapun yang akan terjadi nanti, biarlah kupasrahkan semua pada Tuhan. Karena Tuhan yang telah menempatkanku pada posisi sulit saat ini.