Sampul Novel Tangisan Pilu Sang Istri

Tangisan Pilu Sang Istri

9.6 / 10.0
Manda memilih melepaskan pekerjaan impiannya demi mengabdi pada pernikahan yang harmonis. Sayang, kenyataan pahit harus ia hadapi setelah menikah dengan Dimas. Bukannya kebahagiaan, perlakuan buruk dari keluarga suaminya justru menyisakan luka psikologis yang mendalam. Kini, Manda berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia bimbang antara bertahan dalam hubungan yang toksik atau melangkah pergi demi menyembuhkan batinnya dari tekanan konstan mertua dan kerabat Dimas.
Ringkasan Tangisan Pilu Sang Istri
Manda memilih melepaskan pekerjaan impiannya demi mengabdi pada pernikahan yang harmonis. Sayang, kenyataan pahit harus ia hadapi setelah menikah dengan Dimas. Bukannya kebahagiaan, perlakuan buruk dari keluarga suaminya justru menyisakan luka psikologis yang mendalam. Kini, Manda berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia bimbang antara bertahan dalam hubungan yang toksik atau melangkah pergi demi menyembuhkan batinnya dari tekanan konstan mertua dan kerabat Dimas.
Baca Selengkapnya

Tangisan Pilu Sang Istri Bab 1

Tok.

Tok.

"Manda," panggil seseorang sambil mengetuk pintu kamar.

Manda, yang saat itu sedang bersantai di dalam kamar sambil memainkan ponsel, langsung menajamkan pendengarannya, merasa ada seseorang yang memanggil dan mengetuk pintu kamar.

"Manda!" serunya lagi sambil mengetuk pintu kamar lebih keras, bukan hanya mengetuk, tapi juga menggedor pintunya.

Manda terkejut dan langsung bangun dari rebahannya, ia bergegas menghampiri suara yang sejak tadi memanggilnya.

"Mama?"

Manda menatap heran mertuanya yang berdiri di depan kamar dengan senyum yang tidak jelas.

"Kenapa lama sekali membukanya? Kamu ini, kerjaannya rebahan saja! Mbok ya, bangun. Mengerjakan apa, gitu," ucapnya sambil tersenyum.

Manda memutar bola matanya malas, sambil menahan rasa kesal yang mendera hatinya. Bagaimana bisa mertuanya itu bicara seakan-akan Manda tidak mengerjakan apapun, padahal sejak pagi tadi sudah membuat sarapan untuk semua orang, menyapu dan mengepel.

"Aku saja baru masuk ke dalam kamar dan beristirahat, Ma," jawabnya mencoba selembut mungkin.

"Ah alasan saja kamu itu–"

"Ada apa, Ma?" potong Manda karena tidak ingin mendengar omelan dari mertuanya.

"Mama minta uang," jawab Mama Hilda sambil menyadong pada Manda.

"Hah?"

"Kok, hah? Mama minta uang, mana sini cepat! Jangan pelit dong! Mama butuh buat modal dagang lagi," tekannya.

Manda menghela nafas panjang, lalu mengangguk. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil tiga lembar uang berwarna merah. Dan kembali lagi menemui mertuanya.

"Kok segini? Kurang! Pelit banget kamu jadi menantu!" hardiknya.

"Mama butuh lima ratus ribu," lanjutnya. "Mana cepat, ambilkan!"

"Banyak sekali, untuk apa, Ma? Bukannya kemarin Manda sudah membeli semua stock yang Mama butuhkan?"

"Kamu ini benar-benar banyak tanya banget ya! Apa susahnya sih kasih uang? Aku ini mertua kamu! Ingat, uang kamu itu uang anakku!"

Tidak ingin berdebat panjang, Manda kembali masuk ke dalam dan mengambil dua lembar uang berwarna merah lagi. Sengaja, tidak ingin memberikan apa yang diminta karena memang dirinya sudah mengeluarkan banyak uang untuk mertuanya itu.

Bukan maksud hitungan, tapi mertuanya itu terkadang sangat keterlaluan sekali jika minta uang, tidak pernah berpikir ada atau tidak uang yang diminta itu. Dalam pikirannya, yang penting adalah mendapatkan uang dari anak dan menantu.

"Nih, cuman ada tiga ratus ribu. Kalau mau ambil silahkan, kalau tidak ya gak usah!" tegasnya mengulurkan kembali dua lembar.

"Minta lima ratus ribu, dikasihnya tiga ratus ribu! Dasar menantu pelit!" hardiknya.

"Mbak, jangan pelit jadi menantu! Mama minta segitu saja perhitungan! Kamu itu harus bisa menghidupi kami disini, karena uang yang kamu peroleh itu adalah uang dari Mas Dimas," timpal Lena yang baru keluar dari kamarnya karena mendengar keributan yang sebenarnya tidak perlu diributkan itu.

"Iya nih, Mama laporkan sama Dimas tahu rasa kamu," ancam Mama Hilda berharap gertakannya itu membuat Manda takut tapi ternyata sebaliknya.

"Silahkan, aku gak takut!" tantang Manda yang memang sudah sangat muak sekali sama mertuanya itu.

Lena dan Mama Hilda saling menatap satu sama lainnya. Lena memberikan isyarat agar Mamanya kali ini tidak mencari masalah, mereka langsung meninggalkan Manda yang masih kesal dengan tingkah keduanya.

"Ya Allah, tenangkan hatiku, sabarkan hati," lirih Manda dengan suara bergetar.

Manda tampak sangat sedih dan terhuyung-huyung. Dia memasuki kamar dengan hati yang berat, kemudian dengan perlahan merebahkan diri di atas ranjangnya. Ekspresi wajahnya penuh dengan kebingungan dan kesedihan yang mendalam. Air mata mengalir dari matanya tanpa henti, dan dia tampaknya sangat terluka oleh sesuatu. Suasana hatinya dipenuhi dengan kekecewaan yang sangat mendalam. Itu adalah momen yang sulit baginya, dan dia merasa hancur secara emosional.

Menikah adalah impian semua orang. Mendapatkan keluarga yang baik, termasuk mertua dan ipar yang baik, juga menjadi impian semua orang. Namun, ternyata keinginan Manda untuk memiliki mertua dan ipar yang baik menjadi hal yang tampaknya mustahil. Mereka memang bersikap baik, tetapi hanya selama satu tahun pertama. Setelah itu, perangai mereka sungguh sangat buruk dan sering melukai hatinya.

Ternyata, semua tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan dipikirkan oleh Manda. Ia lebih sering tersakiti dan disakiti oleh sikap Mama Hilda dan Lena. Selalu berharap, suatu saat nanti mertua dan iparnya itu bisa berubah menjadi lebih baik.

Manda menarik nafas panjang setelah puas menangis dalam diam. Bayangan keadaan sebelum menikah kembali menari-nari di dalam pikirannya.

Dulu, ia begitu sangat bahagia sebelum menikah. Menata karirnya sebagai guru face painting untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan juga menjadi penata rias profesional. Manda rela meninggalkan semua karirnya yang sedang berada di atas puncak untuk memulai kehidupan baru, yaitu menikah.

Dunianya benar-benar berbeda sekali, dan perbedaannya sangat terasa setelah menjadi seorang istri dan menantu, namun belum tercapai menjadi seorang ibu. Hidupnya merasa sangat sepi. Tidak lagi bisa berinteraksi dengan para kerabat, dan belum ada momongan, semakin membuat hidupnya sepi dan hampa. Belum lagi, perangai mertua dan ipar yang semakin membuatnya terluka karena sering kali disindir mengenai momongan.

Terdengar suara pintu kamar yang dibuka, ia segera menghapus air matanya. Manda menyadari bahwa suaminya yang masuk ke dalam kamar dan benar saja Dimas melangkah dengan pasti masuk ke dalam kamar untuk mendekati Manda.

"Sayang," panggilnya dengan suara lirih.

Manda menoleh dan menatapnya dengan sendu, senyum terukir di bibir indahnya namun mata sedihnya tidak bisa dibohongi.

"Kamu nangis?" tebaknya membingkai wajah cantik Manda dan menatap lekat manik mata indah itu.

Manda terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Ia tidak ingin suaminya itu kembali sakit hati dan terluka karena sikap Mama Hilda yang seringkali menyakiti hati istrinya.

"Sayang, kali ini apa yang sudah diperbuat oleh Mama?'

Manda menggelengkan kepalanya lalu memeluk tubuh Dimas dengan sangat erat sekali. Menumpahkan semua rasa sakitnya dengan menangis di dalam pelukan suaminya.

Manda merasa campur aduk emosinya saat ia menangis dalam pelukan suaminya. Awalnya, dia mungkin merasa sangat sedih dan terluka oleh sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Air mata adalah cara alami untuk mengungkapkan perasaan seperti itu.

Saat suaminya memeluk tubuhnya yang rapuh, Manda merasa aman, didengar, dan dicintai. Pelukan suaminya bisa memberikan rasa kenyamanan dan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan dalam saat-saat sulit. Mungkin dia juga merasa terhibur oleh suara napas suaminya yang tenang atau detak jantung yang meresapi ke dalamnya, yang bisa memberikan perasaan kedekatan yang mendalam.

Manda mulai merasa lega dan tenang, itu artinya memang pelukan sang suami adalah obat yang paling mujarab dari segala macam obat sakit hati yang ada. Dalam seketika, rasa sedih dan kecewa berubah menjadi tenang. Memang, jika hati yang mengobati maka semua rasa yang membuat luka akan hilang dalam sekejap.

Perlahan, Manda mulai melepaskan pelukan suaminya. Ia sudah merasa lebih baik, kuat dan seakan mendapatkan energi baru untuk menghadapi situasi atau masalah yang akan datang di depan. Memang berbeda jika pelukan suami, sebab di dalamnya terdapat dukungan dan ketenangan yang dibutuhkan untuk melewati rasa sakit yang datang menghampiri.

"Maaf," tuturnya meminta maaf seraya menundukkan kepala.

"Apa yang kamu rasakan?"

"Tidak ada."

"Jangan berbohong. Kamu itu tidak pandai untuk berbohong, Manda. Katakan, apa yang mereka perbuat kali ini?"

"Tidak ada, Mas. Aku baik-baik saja dan tidak ada yang diperbuat oleh Mama dan Lena."

"Baiklah kalau kamu merasa tidak ada yang mereka perbuat, maka mungkin lebih baik aku memastikannya sendiri!" tegas Dimas bangkit dan akan mempertanyakan langsung pada Mama dan adiknya.

Sungguh, Dimas merasa tidak pernah terima jika mereka menyakiti hati istrinya. Bagi Dimas, setelah menikah maka keluarga yang dimiliki olehnya hanya Manda seorang. Kenapa? Ya itu semua karena perangai keluarganya sendiri yang tidak bisa membuatnya tenang.

"Mas, jangan–"

"Tidak, Manda! Kamu jangan terus melarang untuk memberikan peringatan pada mereka!" tegas Dimas. "Mas benar-benar merasa tidak terima jika mereka terus-menerus menyakiti hatimu. Kamu itu istriku dan wajib kulindungi."

"Tapi, Mas–"

"Diam kamu di dalam kamar. Aku akan keluar dan menemui mereka!"

"Mas, tidak! Jangan, aku mohon," lirih Manda langsung mendekap erat tubuh suaminya.

Manda benar-benar tidak ingin ada keributan dan ujungnya maka ia yang akan disalahkan nantinya.

"Kamu bisa tidak sih jangan terus membela mereka, Manda!" teriak Dimas dengan suara yang lantang dan berhasil membuat tubuh Manda membeku.

"Mas ...."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Tangisan Pilu Sang Istri

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
9.3
Divonis hanya memiliki sisa tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya, David, memberikan kuota uji klinis terakhir kepada Emma, sang adik angkat. Alih-alih melawan, ia memilih menghentikan pengobatan, menyetujui perceraian, serta merelakan anak dan bisnis perhiasannya diambil alih oleh Emma. Di saat seluruh keluarganya memuji keputusan tersebut tanpa rasa curiga, ia menanti reaksi mereka saat ajal akhirnya menjemputnya.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia justru memeluk Evelyn dan mengucap janji setia yang biasa ia katakan padaku. Lewat tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami saat ia amnesia hanyalah aib rahasia yang kini harus ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Elena mengira hidupnya sempurna bersama Samuel Adinata, CEO Royal Adinata yang menjadi suami sekaligus ayah idaman bagi Eliott. Namun, topeng kepedulian Samuel perlahan terkikis, menyingkap rahasia gelap yang selama ini tersembunyi rapat. Elena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka bukanlah didasari cinta, melainkan sebuah rencana licik. Menyadari dirinya hanya diperalat demi ambisi terselubung sang suami, amarah Elena pun meledak.
Sampul Novel PRIME MINISTRE'S DAUGHTER
8.2
Demi menikahi Eleanore, putri perdana menteri yang dingin, Ken nekat memakai cara licik. Kebahagiaan keponakan raja itu sirna setelah pernikahan terwujud, karena Ken justru mengungkap rahasia kelam masa lalu istrinya. Hal ini memicu kebencian mendalam dan mengubah sikap Ken menjadi sangat drastis. Meski hatinya hancur disakiti oleh sang suami, Eleanore tetap bertahan dalam cinta di tengah konflik masa lalu yang sulit dimaafkan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED