Bab 1

Farhan baru saja turun dari motor adventure-nya. Narto menghampirinya, lalu menganggukkan kepala sambil membungkukkan badannya sekilas.

"Baru pulang, Mas?" Narto tersenyum ramah dan gerak tubuhnya terlihat sangat sopan.

"Iya, Mas." Farhan membalas basa-basi Narto.

"Kalau Mas tak keberatan, kita ngopi dulu, Mas. Ada hal penting yang mau saya sampaikan." Sikapnya masih sangat sopan, tetapi ada mimik serius di wajahnya.

"Ada apa, Mas?" Farhan belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia berusaha menerka apa yang akan disampaikan Narto.

Lelaki sopan di hadapannya itu hanya terpaut satu tahun lebih muda darinya yang sudah berumur 40 tahun. Saat itu, dia hanya menumpang tinggal di paviliun rumah Narto dan membantunya mengelola seluruh pekerjaan sawah dan kebun milik Narto.

"Saya mohon, Mas Farhan tak keberatan," mohon lelaki itu sambil membungkukkan badannya lagi.

Sebagai orang Sumatera, Farhan tidak terbiasa dengan laku sopan seperti itu. Dia sadar sikapnya kalah sopan jika berhadapan dengan kesopanan keluarga Narto dan penduduk sekitar yang bersuku Jawa.

"Baik, Mas." Farhan menyetujui permintaan Narto lalu mengikutinya ke ruang tamu rumah utama.

Rumah itu terbilang besar untuk ukuran masyarakat desa di kaki bukit itu. Penduduk di situ banyak yang kehidupannya sangat sederhana dengan rumah-rumah kayu. Rumah Narto tampak berbeda dengan dinding dari batu dan ukuran yang lebih besar dari rumah-rumah lainnya. Kakek buyutnya adalah orang yang pertama tinggal di daerah itu dan mempunyai tanah yang luas di sana.

"Buuu ...." Narto memanggil Surti, istrinya.

Tak lama, keluar perempuan dengan kulit sawo matang dan bertubuh sintal. Tubuhnya padat dengan dibalut kain kebaya khas orang Jawa tradisional. Tingginya sedang dan badannya tampak terawat meskipun dia adalah perempuan kampung. Sikapnya tak kalah sopannya dengan suaminya.

Meski sebagian besar orang Jawa sudah berpakaian modern, tetapi di desa itu mereka masih berpakaian tradisional dan tampak agak kuno. Baik lelaki maupun perempuannya masih bertahan dengan segala tradisi Jawa termasuk cara mereka berpakaian.

"Tolong buatkan kopi, Bu!" perintah suaminya, lalu dengan cepat disambut dengan anggukan di kepalanya. Dengan tubuh agak membungkuk dan tangan kanan diturunkannya, dia berbalik ke dalam.

"Tampaknya ada hal serius yang Mas Narto ingin sampaikan." Farhan sudah tak sabar ingin menebus rasa penasarannya.

"Nggih, Mas," jawab Narto sambil menganggukkan kepalanya. Tampangnya menyiratkan bahwa dia sedang mencari kata yang tepat untuk menyampaikan keinginannya.

"Tentang sawah atau kebun?" tanya Farhan memancing karena melihat Narto tampak kesulitan untuk memulai.

"Bukan, Mas. Ada hal pribadi yang ingin saya sampaikan," jawab Narto.

"Silakan, Mas." 

Farhan semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan Narto. Dia berusaha menerka-nerka apa yang hendak dikatakan Narto, tetapi tak mendapatkan petunjuk dalam pikirannya.

"Begini, Mas. Sebelumnya, saya mohon maaf." Narto mulai mengawali omongannya.

"Saya ada permohonan pada Mas Farhan. Saya tahu permohonan ini terlalu berlebihan, tapi setelah saya pikir-pikir, tak ada salahnya saya mencoba mengutarakannya." Narto berusaha mulai menyampaikan maksudnya dengan hati-hati.

"Ya, gak apa-apa, Mas. Katakan saja. Siapa tahu saya bisa memenuhinya," jawab Farhan.

"Mas tahu bahwa Kirana, putri tunggal kami, sudah dewasa. Dia sudah berumur 21 tahun. Para perempuan di desa ini, biasa menikah sejak remaja. Kirana tergolong perawan tua di desa ini. Dengan kekurangannya, tak ada lelaki yang mau menikahinya." Narto tertunduk dan berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.

Farhan mulai menerka lagi apa yang diinginkan Narto untuk putrinya. Gadis itu cantik meskipun dia tuna rungu. Di mata Farhan, Kirana gadis yang sopan dan rajin membantu orang tuanya. Tatapan mata gadis itu menunjukkan kecerdasan meski dia hanya mengenyam pendidikan sampai lulus SMA. Gadis itu terpaksa bersekolah di sekolah biasa karena sekolah luar biasa hanya ada di kota.

"Lalu, apa rencana Mas?" tanya Farhan.

"Saya mohon agar Mas Farhan mau mempersunting anak kami," tukas Narto sambil membungkukkan badannya lagi pertanda memohon dengan hormat.

Meski sudah bisa menduga arah omongan Narto, Farhan cukup kaget dengan permintaan itu. Tak pernah dia menyangka sebelumnya bahwa seorang duda sepertinya dimohon untuk menikahi seorang gadis muda yang cantik seperti Kirana.

Melihat sikap Farhan yang terdiam tanpa langsung menjawab, Narto merasa tak enak. Dia menduga bahwa permohonannya telah menyinggung perasaan Farhan.

"Maaf, Mas, kalau perkataan saya menyinggung perasaan Mas Farhan. Saya sadar kalau permohonan saya kelewatan." Narto bangkit dari tempat duduknya lalu duduk bersimpuh di hadapan Farhan. Dia telah merendahkan dirinya.

Farhan masih terdiam ketika Surti datang membawakan dua cangkir kopi dengan pisang goreng. Melihat suaminya bersimpuh di hadapan Farhan, diletakkannya suguhannya di meja, lalu dia ikut bersimpuh di samping suaminya. Dia sudah mendengar dari dalam apa yang dimohonkan suaminya pada Farhan.

"Mas, saya jadi tak enak melihat Mas dan Mbak bersikap begini." Farhan menjadi canggung diperlakukan dengan penuh hormat oleh sepasang suami-istri itu di rumah mereka sendiri.

"Mas, Mbak, saya ini belum lama bercerai dengan istri saya. Tentu Mas dan Mbak masih ingat dengan cerita saya ketika setahun lalu saya datang ke sini untuk tinggal di sini. Saya sangat terluka dengan perkawinan saya sebelumnya makanya saya rela membuang diri ke desa ini. Maaf, saya belum mau menikah lagi." Farhan berusaha menjelaskan jawabannya.

"Apakah karena putri kami tuna rungu hingga Mas Farhan tak sudi menikahinya?" tanya Narto.

Farhan merasa tak enak dengan pertanyaan itu. Dia sungguh tak bermaksud demikian. Rasa sakit karena perceraiannyalah yang menjadi alasannya belum mau menikah lagi.

"Bukan begitu, Mas. Saya belum siap," jawab Farhan hati-hati.

"Mas, saya mohon jangan tolak permohonan saya. Tolong saya, Mas. Saya tahu, Mas Farhan orang yang baik." Narto pantang menyerah menghadapi penolakan Farhan.

"Saya takut kecewa kalau saya menikah lagi, Mas." Farhan berusaha berterus terang.

"Saya jamin, putri kami tidak akan mengecewakan Mas Farhan. Nanti, ibunya akan mengajari Kirana bagaimana mengurus suami dengan baik."

"Mas, Mas pasti tahu perkawinan itu tak sesederhana itu. Saya sudah menjalani 15 tahun perkawinan waktu saya bercerai."

"Tapi Mas, kami mohon. Kirana adalah satu-satunya harapan kami. Kami rela melakukan apa saja asal dia bahagia. Kalau Mas mau menikahi putri kami, semua yang saya miliki akan saya serahkan pada Mas Farhan asal bisa membahagiakan putri kami. Bahkan, kalau perlu, saya akan mengabdikan hidup saya pada Mas Farhan." Narto semakin merendahkan dirinya demi kebahagiaan putri semata wayangnya. Kedua pasangan suami-istri itu menundukkan kepalanya di hadapan Farhan.

Farhan menghela napas panjang. Dia sudah berusaha untuk menolak dengan cara sesopan mungkin. Dia merasa sungkan dengan perlakuan suami-istri yang masih bersimpuh di hadapannya. Farhan semakin sulit menolak. Terpikir olehnya untuk memberikan syarat yang berat untuk dipenuhi. Mungkin, dengan begitu, mereka akan mengurungkan niatnya, pikir Farhan.

"Tolong panggil putrimu, Mbak!" pinta Farhan sopan. Surti mengangguk, lalu masuk ke ruang dalam.

Farhan berpikir keras tentang syarat apa yang akan dia berikan. Narto tetap menunduk sambil menunggu istri dan putrinya datang tanpa berbicara sepatah kata pun. Keduanya membisu dengan pikiran masing-masing.

Tak lama, Kirana masuk ke ruang tamu mengiringi ibunya dan ikut duduk bersimpuh di hadapan Farhan. Mereka bertiga seolah para pembantu yang sedang menghadap majikan mereka. Setelah keduanya duduk, Farhan mulai bicara.

"Aku cuma mau menikah dengan beberapa syarat," ujar Farhan pelan, tetapi tegas. Dia mulai kehilangan gaya basa-basinya dan mulai ber-aku menyebut dirinya. Suami-istri itu menunggu lawan bicaranya menyampaikan syaratnya.

Surti menepuk tangan Kirana. Dia memberi tanda agar putrinya memperhatikan orang yang sedang berbicara di depan mereka. Kirana mengangkat wajahnya memperhatikan Farhan agar dia mengerti kata-kata Farhan karena telinganya tak bisa mendengar secara normal. Untuk mengerti apa yang lawan bicaranya katakan, dia harus memperhatikan gerak bibir lawan bicaranya.

"Pertama, aku hanya mau menikah dengan perawan. Kedua, dia harus mengabdi kepadaku sebagai suaminya seumur hidupnya. Ketiga, dia harus melayaniku dengan baik sebagai istri. Keempat, dia harus mau ikut ke mana aku pergi." Farhan merasa syarat-syarat yang diberikannya sudah cukup berat. Dia berharap mereka bertiga akan mengurungkan niat mereka.

"Baik, Mas. Syarat pertama pasti terpenuhi. Putri kami tidak pernah didekati lelaki apalagi dijamah lelaki. Syarat kedua, sudah sewajarnya dia mengabdi pada suaminya. Syarat ketiga, tentu saja sebagai istri harus melayani suaminya dengan baik. Saya cuma menawar syarat keempat. Saya mohon agar Kirana jangan dipisahkan dari kami."

Meski Narto hampir memenuhi semua syarat yang diajukannya, Farhan masih merasa bisa memenangkan tantangannya.

"Baiklah. Untuk syarat pertama sampai ketiga, bagaimana kalau putri kalian tak memenuhinya?" tanya Farhan.

"Saya yakin putri kami masih perawan. Untuk syarat kedua dan ketiga, istriku sendiri yang akan mengajari putri kami caranya agar menjadi istri yang baik," jawab Narto.

"Aku minta, istrimu jadi saksi di malam pertama kami," tegas Farhan. Dia yakin Narto takkan mengizinkan istrinya ada di kamar pengantin saat dirinya meniduri anaknya.

Narto berpikir beberapa saat, "Baiklah, saya setuju," jawab Narto mantap.

Farhan kaget mendengar jawaban Narto. Dia tak menyangka Narto akan memenuhi syarat yang diajukannya. Tinggal satu senjata yang dimilikinya untuk menghindar.

"Tapi, bagaimana dengan syarat keempat? Aku berhak membawa istriku ke mana aku mau." Farhan merasa belum kalah. Kali ini dia yakin Narto takkan mengizinkan putri semata wayang mereka dibawa pergi.

"Untuk syarat keempat itu berat kami penuhi. Kami tak mau terpisah dari putri kami."

Farhan merasa menang mendengar apa yang dikatakan Narto. Dia mulai yakin bisa menghindari permintaan Narto.

"Begini, Mas. Seperti yang Mas tahu, saya punya enam petak sawah dan kebun yang luas. Kalau Mas mau, Mas boleh mengambil semuanya asal putri kami jangan dibawa jauh dari kami dan tetap tinggal di sini bersama kami."

Narto telah menawarkan segalanya demi putrinya dinikahi Farhan. Surti tak membantah keinginan suaminya karena dia juga ingin putrinya menikah dan hidup bahagia. Kirana juga pasrah dengan keinginan bapaknya.

Mendengar itu, Farhan merasa kalah. Dia harus memenuhi permintaan Narto. Bagaimanapun, Narto telah menolongnya dengan memberikan tempat tinggal dan pekerjaan. Di samping itu, keluarga ini telah bersikap sangat baik terhadapnya. Terlintas rasa tak enak hati mengingat keempat syarat yang diajukannya barusan, tetapi dia memang terpaksa mencari jalan agar tak sekedar menolak permintaan Narto.

"Baiklah, aku setuju asal kalian pegang janji kalian," ujar Farhan. Bagaimanapun, dia tetap menang dalam negosiasi ini. Dirinya di atas angin.

"Kalau begitu, saya akan mulai persiapan acara pernikahan Mas Farhan dengan putri kami, Kirana." kata Narto senang.

Narto merasa lega karena akhirnya putrinya akan menikah. Surti juga merasa gembira. Kirana sendiri juga sama dan siap mematuhi kehendak orang tuanya.

"Bu, Bapak akan bikin pesta tujuh hari tujuh malam," ujar Narto pada istrinya. Ucapannya tak berlebihan, dia adalah orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik di desa itu. Meski keseharian mereka hidup sederhana, Narto memiliki tabungan yang banyak untuk persiapan pernikahan putrinya yang tak kunjung tiba.

"Menurutku tak perlu begitu, Mas. Kalau boleh usul, cukup acara satu hari saja yang meriah," pinta Farhan.

"Baiklah kalau begitu." Narto mengalah meski dirinya tak benar-benar puas dengan permintaan Farhan. Kirana adalah putrinya satu-satunya. Sudah sewajarnya dia membuat pesta semeriah mungkin untuk acara yang cuma sekali seumur hidup bagi putrinya.

"Mas, Mbak, aku gak enak lihat Mas dan Mbak duduk bersimpuh begitu. Kalian sebentar lagi jadi mertuaku," ujar Farhan berusaha bersikap tahu diri.

Mendengar itu, Narto tertawa. Surti dan Kirana tersenyum malu-malu. Mereka bertiga lalu bangkit dari duduknya. Narto dan Surti duduk di kursi, sementara Kirana meletakkan kopi yang masih tergeletak di nampannya ke hadapan Farhan dan bapaknya.

"Silaa ... kaan ... Mas ...," ujar Kirana terbata dengan suara yang tak pas, tetapi bisa dimengerti. Kirana hanya bisa berbicara dengan terbata-bata mengucapkan kata-kata dan terkadang menggunakan isyarat dengan tangannya.

Farhan memandangi Kirana yang sebentar lagi jadi istrinya. Sejak awal, Farhan suka dengan gadis itu meski tak pernah berpikir mempersuntingnya. Kirana gadis yang cantik. Kulitnya lebih putih dibandingkan kebanyakan perempuan desa itu. Tubuhnya cukup tinggi dengan berat yang ideal. Yang kurang darinya hanyalah kemampuan bicara dan mendengarnya. Selebihnya, dia gadis yang sempurna.

*** Bersambung ***

Bab 2

Semilir angin dingin bertiup lembut menerpa teras pondok. Pondok kecil itu terletak di tengah kebun yang cukup luas. Farhan tengah beristirahat menunggu waktunya makan siang. Dia duduk di kursi kayu yang ada di teras pondok itu sambil merokok.

Pondok kayu itu hanya terdiri dari teras dan satu ruangan di dalam. Ruang yang tak terlalu besar itu berisi meja dapur tempat memasak air untuk membuat kopi dan hamparan tikar tempat dia biasa makan siang dan tiduran di saat tubuhnya lelah. Di teras, terdapat empat buah kursi dan satu meja untuk bersantai dan mengobrol. Dia biasa mengobrol dengan istrinya, Kirana, di sana. Terkadang juga dia mengobrol dengan para pekerja yang kebetulan mampir ke sana.

Meskipun pondok itu sederhana, Farhan merasa betah dan nyaman beristirahat di sana di sela-sela pekerjaan mengurusi sawah dan kebun yang sudah seperti miliknya sendiri.

Sebetulnya, masih agak lama waktunya makan siang, tetapi Farhan merasa lelah setelah berkeliling di kebun memeriksa dan mengarahkan para pekerja yang sedang mengerjakan kebun cabai dan jeruk. Setelah makan siang, dia masih harus ke kebun kopi.

Farhan memandang hamparan kebun yang setahun ini sudah dikelolanya. Kedatangannya di desa ini awalnya hanya bertualang dengan motor adventure-nya ke berbagai daerah pelosok desa. Itu kerap dilakukannya untuk melupakan luka perceraiannya dengan mantan istrinya. Ketika dia sampai ke desa di kaki bukit itu, entah mengapa dirinya merasa nyaman dengan suasana yang ada di desa itu. Udara sejuk dan keasrian desa itu serta penduduknya yang masih tradisional membuat Farhan betah.

Tanpa sengaja, Farhan bertemu dengan Narto yang merupakan orang terpandang di desa itu. Kakek buyutnya adalah generasi pertama penghuni desa itu. Narto adalah anak tunggal dari bapaknya yang juga anak tunggal. Keluarga Soediro turun temurun hanya memiliki satu anak sehingga Narto tak memiliki kerabat. Saat itu, tinggal dia seorang pewaris keluarga Soediro. Tak heran jika Narto mewarisi tanah yang luas berupa sawah dan kebun.

Saat itu, Narto mengajak Farhan mengobrol di kebunnya yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka bertemu. Dari obrolan mereka, ada rasa kecocokan di antara mereka untuk bekerja sama. Farhan yang mantan dosen Fakultas Pertanian memberikan masukan kepada Narto untuk melakukan diversifikasi tanaman di kebunnya dan dikelola secara lebih modern.

Narto lalu menawarkan kerjasama dengan Farhan jika dia berminat untuk mengelola kebun Narto secara bersama-sama dengan bagi hasil. Farhan yang sedang tak punya pekerjaan menerima tawaran Narto asal dia diberi tempat tinggal di desa itu. Narto lalu menawarkan paviliun di rumahnya untuk ditempati Farhan.

Setelah keduanya bersepakat, Narto mengajak Farhan mampir ke rumahnya. Mereka berboncengan dengan motor Farhan. Narto ingin menunjukkan paviliun rumahnya yang bakal ditempati Farhan.

Paviliun itu cukup luas dengan beberapa perabotan sederhana. Narto berjanji akan segera mengganti kasur yang sudah usang dengan yang baru agar Farhan merasa nyaman. Ruangan paviliun itu juga akan segera dibersihkan sebelum Farhan menempatinya.

Setelah melihat paviliun yang bakal ditempatinya dan berkenalan dengan keluarga kecil Narto, Farhan berpamitan pulang ke Solo, tempatnya tinggal sementara. Perjalanan dari desa itu ke Solo tak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar satu setengah jam perjalanan.

Rumah yang ditempatinya di Solo adalah rumah milik Gayatri, anak angkatnya. Dulu, Gayatri adalah mahasiswi kesayangannya yang dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Ada hubungan spesial antara Farhan dengan Gayatri. Perempuan itu bukan sekedar anak angkatnya melainkan sekaligus budak nafsunya.

Setelah lulus kuliah, Gayatri menikah dan diboyong suaminya ke Solo. Dia memiliki usaha sendiri di samping usaha suaminya. Gayatri menggunakan ilmu agrobisnis yang dipelajarinya waktu kuliah dan pengalamannya mengikuti Farhan membina usaha agrobisnis di masyarakat pedesaan.

Perceraian Farhan membuatnya merasa sudah merusak reputasinya di kotanya. Farhan tak sanggup lagi tinggal di kota tempat tinggalnya. Dia lalu menghubungi Gayatri yang dengan senang hati menyediakan tempat tinggal untuk Farhan, ayah angkatnya. Dari situlah petualangan Farhan di Jawa Tengah dimulai.

* * * * *

Bunyi langkah kaki menaiki tangga pondok. Farhan tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah tangga. Tampak istrinya mengumbar senyum manis di wajah cantiknya. Di belakangnya tampak Surti mengiringi putrinya.

"Mas." Kirana menganggukan kepalanya dengan hormat sambil membungkukkan tubuhnya. Dia lalu bersimpuh di lantai teras pondok.

Surti yang mengiringi putrinya mengantar makan siang Farhan duduk di kursi tak jauh dari Farhan.

Farhan mengangkat dagu istrinya agar menatap wajahnya.

"Bikinkan Mas kopi!" ujar Farhan.

Kirana mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Dia mengambil susunan rantang plastik yang diletakkan ibunya di meja, lalu membawanya ke dalam pondok. Setelah dia meletakkan rantang di meja dapur, dia mulai sibuk bersiap untuk memasak air dan membuatkan kopi suaminya.

Farhan menarik tangan Surti mengajaknya masuk pondok. Dia menempatkan Surti berjalan di depannya. Setelah mereka berada di dalam pondok, dipeluknya tubuh Surti dari belakang. Dia tak peduli dengan istrinya yang sedang membelakangi mereka berdua di dapur sana. Diremas-remasnya gemas buah dada ibu mertuanya itu.

"Mmmhhh ...." Surti melenguh. Dia tak menolak perlakuan Farhan terhadapnya.

Farhan lalu membalikkan tubuh Surti menghadap ke arahnya. Dilumatnya bibir Surti dengan penuh nafsu. Surti membalas dengan tak kalah bernafsu.

Getaran di lantai papan pondok membuat Kirana menoleh. Dilihatnya suaminya tengah mencumbui ibunya. Dengan cepat Kirana memalingkan mukanya kembali menghadapi pekerjaan yang sedang dilakukannya. Dia pura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi di belakangnya. Itu kedua kalinya dia memergoki suaminya sedang mencumbui ibunya di pondok itu.

Setelah selesai membuat kopi, dia menoleh sejenak ke arah suami dan ibunya. Mereka sedang duduk di tikar dan sudah tak bercumbu lagi. Kirana lalu mengantarkan kopi ke meja teras pondok. Setelah itu, diambilnya ember kosong lalu pamit pada suaminya untuk mengambil air ke sungai.

Farhan buru-buru menerkam Surti saat bunyi langkah kaki Kirana menjauhi pondok. Disingkapkannya ke atas kain Surti hingga tampaklah bagian bawah tubuh Surti yang indah tanpa celana dalam.

Surti sudah paham kemauan menantunya. Dia sengaja tak memakai celana dalam tadi. Mengerti apa yang dikehendaki menantunya, dia memposisikan tubuhnya menungging membelakangi Farhan. Direnggangkannya kedua kakinya hingga kemaluannya tampak menantang siap untuk digauli.

Farhan sudah menurunkan celana berikut celana dalamnya. Kemaluannya sudah mengacung keras siap menghujam kemaluan Surti. Diarahkannya kemaluannya ke milik mertuanya. Setelah kedua tubuh itu menyatu, kedua tangannya memegang pinggul Surti, lalu mulai bergerak dengan cepat. Mereka tak punya waktu lama untuk bersenggama karena Kirana akan segera pulang ke pondok setelah selesai mengambil air.

Sementara itu, Kirana sengaja memperlambat langkahnya menuju sungai. Sebenarnya sungai itu letakknya tak begitu jauh dari pondok, tetapi firasat Kirana merasakan bahwa suaminya sedang ingin mencumbui ibunya. Sesampainya di sungai, Kirana duduk menatap aliran air jernih dari bukit yang mengalir cukup deras. Tangannya bermain di sejuknya air.

Farhan masih berpacu bersama Surti. Farhan merasakan kontraksi kemaluan Surti semakin kuat. Dia tahu tak lama lagi Surti akan mencapai klimaksnya. Mulut Surti mulai mendesis-desis merasakan kenikmatan dalam selangkangannya. Dia sudah menjelang klimaksnya.

"Aaaahh ...," desahnya tertahan.

Tubuhnya mengejang. Kepalanya terangkat dan mulutnya terbuka merasakan puncak kenikmatan yang baru diraihnya. Otot-otot bagian tengah selangkangannya berkedut-kedut keras.

Farhan tak mau membuang waktu. Dipercepatnya genjotannya dalam tubuh Surti. Dia juga sudah hampir mendapatkan orgasmenya. Ejakulasinya sudah di ujung. Rasa geli di pusat sensitifnya sudah tak tertahankan. Satu hentakan keras mengakhiri genjotannya.

"Oooohhh ...." Farhan melenguh pelan.

Ditekannya bagian tubuhnya sedalam mungkin di rongga selangkangan Surti. Spermanya menembak kencang berkali-kali. Napasnya memburu. Peluhnya bercucuran.

* * * * *

Kirana melangkah perlahan menuju pondok. Tangan kanannya menjinjing ember berwarna merah yang berisi air. Kakinya menapak, menaiki tangga kayu pondok. Bunyi langkah kakinya terdengar sampai ke dalam pondok itu.

Ketika dia masuk ke pondok, didapatinya suaminya sedang mengobrol dengan ibunya. Keringat masih tampak mengucur di wajah suaminya, demikian juga ibunya. Kirana bisa menebak apa yang baru saja terjadi. Setelah tersenyum dan mengangguk pada suaminya, dia melangkah ke dapur mengantarkan ember berisi air yang dibawanya.

Dia lalu sibuk mempersiapkan makan siang mereka. Dituangkannya air minum ke dalam tiga gelas yang disiapkannya. Diisinya nasi ke dalam piring lalu menyodorkan ke hadapan suaminya, ibunya, dan untuk dirinya sendiri. Setelah semuanya siap, mereka lalu makan bersama.

Mereka biasa makan bertiga di pondok itu. Narto biasanya makan siang di rumah karena kesibukannya sehari-hari adalah mengurusi ternak ayam petelur dan ayam potong yang lokasinya di belakang rumah mereka. Setelah menyiapkan makan siang bapaknya, Kirana lalu ditemani ibunya mengantarkan makan siang ke pondok suaminya di kebun.

Setelah makan siang selesai, Kirana membereskan piring dan gelas bekas mereka makan lalu mencucinya dengan air yang tadi diambilnya di sungai. Suami dan ibunya ngobrol berdua di teras.

Kirana menyusul suami dan ibunya ke teras. Dia sudah siap untuk berpamitan pulang pada suaminya. Farhan bangkit dari duduknya ketika istrinya muncul. Dikecupnya bibir istrinya ketika berpamitan untuk pulang. Kirana tersenyum gembira mendapatkan perlakuan mesra dari suaminya. Wajah itu tampak polos dan tak menampakkan kemarahan sama sekali meski dia tahu apa yang telah dilakukan suaminya tadi pada ibunya. Kirana telah menerima itu sebagai takdirnya.

*** Bersambung ***

Bab 3

Kedatangan Farhan untuk tinggal di desa itu semata-mata untuk membangun kehidupannya yang baru dalam bidang pertanian dan agrobisnis sambil mengobati luka hatinya akibat perceraiannya. Dia sama sekali tak pernah berniat mengusik kehidupan pribadi keluarga Narto. Petualangan cintanya justru dipicu oleh Narto yang memohon agar Farhan menikahi Kirana, anak semata wayangnya.

Pribadi Farhan yang dinilainya baik serta keberhasilan Farhan mengelola kebun miliknya hingga menjadi jauh lebih maju membuat Narto sangat menyukai Farhan. Bukan hanya Narto, semua warga desa itu juga menyukai keberadaan Farhan yang mulai mengupayakan kemajuan di desa itu. Farhan kerap mengadakan penyuluhan kepada warga desa untuk bertani dan berkebun dengan cara yang lebih baik.

Seluruh warga desa menyambut gembira ketika Narto mengabarkan bahwa dia akan menikahkan Farhan dengan Kirana, putrinya. Mereka semua bergotong-royong mempersiapkan pesta perkawinan yang meriah bagi pasangan pengantin itu. Sebuah pesta meriah dari pagi sampai malam sesuai permintaan Farhan.

Malam pengantin Farhan dan Kirana merupakan awal petualangan cinta Farhan dalam keluarga Narto. Karena terikat persyaratan yang diminta Farhan. Narto dan Surti tanpa sadar terjebak dalam konsekuensi yang membuat keluarga Narto menjadi budak Farhan.

Sebelum masuk ke kamar pengantin mereka, Farhan menemui Narto yang kini jadi mertuanya. Dia meminta izin untuk mengajak Surti untuk menjadi saksi malam pertamanya bersama Kirana. Sesuai dengan syarat yang diajukannya, Surti harus jadi saksi bahwa Kirana masih perawan.

Sebenarnya, Farhan merasa permintaannya berlebihan. Namun, Narto tak menunjukkan keberatan sama sekali, demikian juga dengan Surti. Dia dengan sukarela memenuhi janji untuk jadi saksi pembuktian keperawanan putrinya. Dia ikut masuk ke kamar pengantin mengikuti Farhan dan Kirana.

Farhan mulai membuka pakaiannya yang dikenakannya tadi di pesta malam itu. Dia dibantu Kirana yang tampak masih malu-malu. Setelah tubuh Farhan telanjang bulat, dengan malu-malu dilucutinya pakaiannya sendiri satu per satu. Sementara itu, Surti mengambil posisi duduk di depan meja rias anaknya sambil memalingkan muka, tak menatap ke arah ranjang pengantin.

Kirana membaringkan tubuhnya telentang di ranjang di samping Farhan yang sudah lebih dulu terbaring di sana. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya dan hanya menunggu suaminya yang memulai permainan. Jantungnya berdegup kencang. Meski dia tahu bagaimana orang bersetubuh, tetapi tubuhnya belum pernah disentuh lelaki. Dia hanya tahu dari apa yang dibacanya.

Farhan tampak canggung. Meskipun dia sudah sangat berpengalaman dalam urusan bercinta, tetapi dia belum pernah menghadapi perempuan yang pasif seperti Kirana. Saat malam pertamanya bersama mantan istrinya dulu, mantan istrinya lebih agresif darinya.

"Dik, aku mulai ya," ujar Farhan kaku. Dia tampak canggung seperti seorang lelaki naif yang baru pertama bersetubuh dengan perempuan.

Kirana hanya mengangguk menatap suaminya. Degup jantungnya semakin kencang bak seorang pesakitan menghadapi eksekusi mati. Tubuhnya menegang.

Farhan mulai menjamah tubuh Kirana. Dipegangnya pipi kanan istrinya, lalu bibirnya mengecup bibir indah itu. Kirana tak membalas kecupan itu. Bibirnya hanya diam menerima serangan.

Setelah mencoba melumat bibir istrinya berkali-kali tanpa ada balasan, Farhan mulai putus asa. Diarahkannya bibirnya ke leher istrinya. Dia mengecupi leher jenjang itu sampai ke belakang telinga istrinya.

"Aahh ...." Kirana mendesah geli. Tubuhnya masih menegang.

Sambil terus mengecupi leher istrinya, Farhan mulai meremas-remas buah dada Kirana yang berukuran sedang. Buah dada itu begitu kencang dan menantang. Mendapat serangan di dadanya, tubuh Kirana menggelinjang geli. Mulutnya terbuka dan napasnya mulai berat.

Meski rangsangan Farhan mulai menyerang tubuhnya, Kirana belum bisa sepenuhnya menikmatinya. Dia hanya bertahan. Tubuhnya masih tegang. Dia tak tahu bagaimana cara merespons serangan suaminya.

Kecupan-kecupan Farhan perlahan turun ke buah dada istrinya. Dilumatnya buah dada kencang itu sambil tangannya meremas-remas buah dada yang satu lagi. Kirana semakin mendesah-desah kegelian mendapatkan serangan yang semakin gencar. Farhan gemas melihat keluguan istrinya dalam menerima serangannya.

Tangan Farhan mulai merambah ke selangkangan Kirana. Mendapatkan serangan tiba-tiba itu membuat tangan Kirana refleks menahan tangan Farhan. Naluri mempertahankan kewanitaannya membuatnya tak sadar bahwa yang menyerangnya adalah tangan suami yang sudah selayaknya menggauli istrinya.

Farhan bertambah gemas dan semakin gencar menyerang. Disingkirkannya tangan istrinya lalu jarinya menyentuh celah selangkangan istrinya. Kirana mengejang. Dia tak siap menerima rasa geli yang dirasakannya. Tubuhnya seakan belum ikhlas menerima persetubuhan.

Seiring usapan-usapan jari Farhan di wilayah sensitifnya, tubuh Kirana menggeliat-geliat. Tubuhnya tak kuasa menolak rangsangan. Selangkangannya perlahan mulai basah. Jari Farhan semakin lancar bermain di sana.

Farhan merentangkan kedua kaki Kirana. Dia menempatkan tubuhnya di antara kedua paha istrinya. Perlahan digesekkannya batang kejantanannya yang menegang di sana. Tubuh Kirana menggelinjang geli. Mulutnya mendesah-desah. Farhan tambah terangsang.

"Aaaahhh ...." Kirana menjerit saat Farhan mulai memasuki celah selangkangannya. Surti melihat sejenak putrinya sedang ditindih suaminya itu, lalu memalingkan lagi mukanya ke arah semula.

"Saaa ... kiiiit ...," jeritnya ketika Farhan menerobos memasukinya perlahan.

Farhan tak tega memaksakan masuk lebih jauh. Baru seperempat jalan batang kejantanannya memasuki istrinya. Didiamkannya sejenak otot-otot rongga itu berkontraksi.

Tubuh Kirana mengejang. Dia tak siap disumpal benda asing hingga terasa memenuhi sebagian rongganya. Napasnya berdengus cepat.

"Aaaahhh ... saaa ... kiiiit ...," jerit Kirana lagi ketika Farhan melanjutkan menembus memasukinya hingga mentok.

Air matanya menetes menahan perih di tengah tubuhnya. Ingin rasanya untuk protes, tetapi dia tak kuasa menolak perlakuan suaminya. Dia tak menyangka bahwa persetubuhan begitu menyakitkan.

Setelah mendiamkan beberapa saat kemaluannya di dalam rongga tubuh istrinya, Farhan mulai bergerak perlahan, memompa celah yang terasa sangat rapat itu. Kirana tak henti merintih-rintih kesakitan. Setelah beberapa kali genjotan, Farhan tak tega melanjutkan permainannya. Ditariknya tubuhnya dari istrinya.

"Aaaahhh ...," rintihan Kirana keluar dari mulutnya seiring gerakan Farhan yang bergerak menarik diri.

"Mbak ...." Farhan memanggil Surti yang masih duduk dalam posisinya.

Surti menoleh dan memandang tubuh telanjang Farhan yang berdiri di tepi ranjang. Meski dirinya malu, tetapi pandangannya tak berpaling dari Farhan.

"Lihat, tak ada darah di sana!" ujar Farhan menunjuk kemaluannya yang mengacung tegang.

Surti menatapnya dari kejauhan, lalu dia berdiri dan mendekat. Diamatinya bagian yang dimaksud Farhan. Sudah janjinya akan menjadi saksi bahwa putrinya masih perawan. Mau tak mau dia harus menjalankan tugasnya.

Batang kemaluan itu tegang mengkilap basah oleh cairan dari putrinya. Tak tampak noda darah di sana. Mata Surti masih memandanginya dengan teliti mencari noda darah di sana, tetapi tak menemukannya.

Dengan putus asa dipegangnya benda itu sambil terus mengamatinya. Tanpa sadar darahnya berdesir berhadapan dengan batang yang tegang dan berukuran cukup besar itu. Naluri kewanitaannya bangkit dari tidurnya. Surti mulai terangsang.

"Mbak sudah janji untuk mengajari Kirana bagaimana menjadi istri yang baik. Lihatlah! Dia belum bisa melaksanakan tugasnya memuaskan suaminya." Farhan mulai terangsang melihat tubuh sintal dengan tampang polos di hadapannya.

Nafsunya sudah kepalang naik. Dia berpikir keras bagaimana caranya bisa merasakan kenikmatan dari tubuh itu sebagai pelampiasan nafsunya. Dicarinya cara agar tubuh itu dengan sukarela melayani nafsunya.

Surti cemas. Putrinya telah gagal memenuhi dua persyaratan. Pertama, tak ada darah perawan yang tampak, berarti dia tak bisa membuktikan bahwa putrinya masih perawan. Kedua, putrinya tak bisa melayani suaminya di ranjang.

Kecemasannya membuatnya berinisiatif untuk mengajukan tawaran. Dia harus menyelamatkan kebahagiaan putrinya.

"Mas, tolong pahami bahwa Kirana belum terbiasa." Surti mulai memohon kepada Farhan.

"Apa pembelaan Mbak atas hal ini? Dia tampaknya sudah tak perawan." Farhan sengaja menekan Surti.

Surti sulit melakukan pembelaan terhadap putrinya. Belum terbiasa bukan berarti milik putrinya tak berdarah ketika dimasuki milik suaminya.

"Mungkin bisa dicoba lagi, Mas." Surti mencoba menawar.

"Mbak lihat, dia sudah kesakitan," tekan Farhan.

"Mungkin bisa dicoba besok malam," jawab Surti.

"Jadi mau kuapakan ini?" tukas Farhan menunjuk kemaluannya yang masih mengacung tegang. Dia sengaja memojokkan Surti.

"Ya, mau gimana lagi, Mas?" ujar Surti putus asa.

"Mbak janji mau mengajari putri Mbak melayani suaminya, 'kan?" tanya Farhan.

"Iya ...." Surti mengangguk.

"Sekarang Mbak harusnya gak keberatan menunjukkan padanya bagaimana caranya melayani seorang lelaki di ranjang."

Surti terjebak. Dia tak mampu berdalih. Tak mungkin baginya menghancurkan kebahagiaan putrinya jika Farhan meninggalkannya.

Surti memandang wajah putrinya yang terbaring lemas. Mereka berpandangan sejenak.

"Kamu gak keberatan, Nduk?" tanya Surti kepada putrinya.

Kirana tak punya pilihan selain mengangguk tanda setuju. Dia merasa telah gagal melayani suaminya di malam pertamanya. Dan, yang lebih parah lagi adalah bahwa dia tak mampu membuktikan dirinya masih perawan. Bagaimanapun, itu aib baginya. Dia terpaksa merelakan ibunya mengajari cara melayani suaminya di ranjang.

Surti telah bertekad bulat memenuhi janjinya. Kebahagiaan putrinya lebih penting dari segalanya. Dengan sukarela dibukanya kancing kebayanya, lalu dijatuhkannya ke lantai. Tampaklah buah dada montoknya di hadapan mata Farhan. Buah dada itu tampak sangat menantang meski masih terbungkus BH.

Dengan mantap Surti melepas BH-nya hingga buah dada montoknya mencuat menantang. Buah dada itu begitu montok, tetapi sudah sedikit turun. Meskipun demikian, buah dada itu tampak sangat terawat dan menantang untuk dinikmati.

Surti lalu melepas kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Dilepaskannya juga celana dalamnya hingga tak sehelai benang pun menutupi tubuh sintalnya. Surti siap melayani lelaki yang ada di hadapannya. Itu dilakukannya demi kebahagiaan putrinya.

Kirana terdiam memandang tubuh telanjang ibunya. Dia pasrah atas apa yang akan dilihatnya kemudian.

Perlahan Surti melangkah mendekati Farhan. Dia siap melaksanakan tugasnya. Meski tekadnya sudah bulat, tak urung dirinya merasa tegang.

Farhan mencabut tusuk konde di sanggul Surti. Rambut panjang Surti jatuh tergerai. Wajah anggun Surti berubah saat sanggulnya terlepas. Farhan memandangi wajah manis yang masih terlihat menarik itu. Surti sebenarnya lebih muda dua tahun darinya. Perempuan itu masih pantas jadi istrinya.

Disentuhnya muka Surti, lalu dilumatnya bibir perempuan itu. Surti yang awalnya menanggapinya dengan kaku mulai balas melumat bibir Farhan. Mereka berpagutan dengan serunya. Tangan Farhan tak tinggal diam, diremas-remasnya buah dada montok itu.

"Mmmhhh ...." Surti melenguh kenikmatan. Dia mulai bernafsu melayani menantunya.

Farhan lalu melepaskan ciuman dan remasannya.

"Jongkok!" perintah Farhan pada Surti yang masih berdiri tegak di hadapannya.

Surti menuruti perintah Farhan. Setelah jongkok, dia bingung apa yang harus dilakukannya pada benda keras yang mengacung di hadapannya.

"Jilati, terus kulum itu!" perintah Farhan lagi.

Surti kaget. Dia tak biasa melakukan itu. Dia belum pernah berbuat begitu pada suaminya. Selama ini dia hanya pasang badan dalam melayani suaminya.

Dengan canggung, Surti memegang milik Farhan. Dijulurkannya lidahnya, lalu perlahan dijilatinya benda tegang milik menantunya itu.

"Ooohh ...." lenguh Farhan merasakan kenikmatan di bagian sensitifnya.

"Kamu lihat bagaimana perempuan seharusnya melayani suaminya, Dik!"ujar Farhan pada Kirana yang sejak tadi menonton adegan suami dan ibunya. Kirana hanya diam dan terus memandang apa yang dilakukan ibunya.

*** Bersambung ***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED