Gemuruh petir menggelegar di langit mendung. Rintik air hujan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan.
Di mulut gua, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Dia tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu memanjatkan doa. Berharap hujan akan segera reda.
Mulut gadis itu terlihat komat-kamit sambil memejamkan mata. Wajahnya tampak cantik saat terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan baginya. Walau tak henti memanjatkan doa, nyatanya hujan masih mengguyur dengan deras seiring suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, tadi siang matahari bersinar sangat terik," batinnya seraya melihat sekitar tempat di mana dia berteduh.
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut gua sembari melihat sekeliling. Perlahan, kabut menutupi pandangannya. Dia kini tampak panik hingga membuatnya ketakutan. Dia lalu menyembunyikan wajahnya di balik tekukan lutut dengan kedua tangan yang meremas bajunya. Dia begitu ketakutan hingga menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengarmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, pasti aku tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisnya terdengar. Dia menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagi pula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah. Jika kondisi Ibu sudah sehat, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat lagi."
"Tidak, Bu! Ibu sedang sakit dan ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanaman obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda yang pekerja keras. Dia tinggal dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat.
Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan dijual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan yang mengharuskan keluar masuk gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Setelah berhasil meyakinkan ibunya, Zhi Ruo akhirnya pergi ke gunung untuk mencari tanaman obat.
Berbekal keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk ke hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya. Namun, karena banyaknya tanaman obat yang tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja.
Dengan sedikit berlari, dia lalu meninggalkan hutan itu, tetapi hujan tiba-tiba turun hingga dirinya terjebak di depan mulut gua.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya. Perlahan, dia mengangkat kepalanya dan melihat langit yang sudah menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya.
Suara jangkrik terdengar diiringi suara hujan gerimis. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena jalanan tampak gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu.
Sementara di rumah, ibunya tampak begitu khawatir. Wanita paruh baya itu mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?"
Wanita itu menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini berada di atas gunung sendirian. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tetapi apalah dayanya. Kondisinya tidak memungkinkan untuk bisa naik ke gunung. Apalagi hari sudah malam.
Di dalam gua, Zhi Ruo hanya bisa menangis. Walau sering naik gunung dan menyusuri hutan sendirian tidak membuatnya takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai gelap. Rasanya seperti ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam gua, suasana tampak gelap tanpa ada penerangan. Zhi Ruo duduk menyandarkan punggungnya di dinding gua. Suara tangisnya menggema di dinding ruangan itu. Walau matanya terbuka, nyatanya dia tidak bisa melihat apa pun. Dia hanya bisa melihat cahaya petir yang sesekali menyambar dan samar-samar terlihat dari mulut goa.
Zhi Ruo masih menangis. Tangisnya begitu mengiba. Di luar, hujan mulai reda. Walau begitu, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang menuju ke arahnya. Melihat sumber cahaya, Zhi Ruo lalu bangkit dan mendekati cahaya itu. Cahaya yang beterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam gua.
Kelap-kelip cahaya itu membuatnya sedikit lebih tenang. Sekilas, dia tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang beterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian datang kesini untuk menemaniku?"
Zhi Ruo lalu mendekati cahaya yang beterbangan itu. Dia lantas mengambil salah satu cahaya dan meletakkan di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini."
Zhi Ruo tersenyum seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan gua. Rupanya, ruangan di dalam gua cukup luas. Walau hari telah larut dan angin dingin bertiup dari mulut gua, tetapi sama sekali tidak membuatnya kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan gua terasa begitu hangat seakan-akan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena beterbangan mengelilingi ruangan gua. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depannya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Aku tidak sendirian karena ada kunang-kunang cantik yang menemaniku di sini," ucapnya seraya tersenyum.
Zhi Ruo lantas berbaring di lantai gua beralaskan rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya terbuai dalam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya seakan-akan wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya hewan bersayap itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian."
Terdengar suara seseorang yang berbicara pada kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan-akan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajahnya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam, dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia hanya seonggok daging yang tak berguna?"
Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya belum beranjak dari dalam gua.
"Aku harus pergi. Kalian tetaplah bersamanya dan terima kasih karena kalian sudah membantuku untuk menjaganya. Dengan begitu hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu."
Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam gua dan menghilang di balik kegelapan malam.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan berkokok. Di saat itulah, gadis itu merasa kedinginan karena hawa dingin seketika menyeruak masuk dari mulut gua.
Zhi Ruo membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang menerangi di dalam gua. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut gua.
Aroma rumput dan tanah basah seketika menggelitik hidungnya. Dia lalu menghirup aroma khas itu dan mengembuskannya dengan lembut seraya memejamkan mata.
"Ah, segarnya. Ternyata hutan ini tidak hanya penuh dengan tanaman obat, tetapi juga memiliki udara yang sangat segar. Aku menyukai hutan ini dan aku pasti akan sering datang ke sini," ucapnya.
Gadis itu tampak tersenyum. Wajahnya terlihat cantik seiring senyum yang merekah di sudut bibirnya. Gigi putihnya tersusun rapi yang dipadukan dengan bibir yang merah alami. Hidungnya mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam hasil mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di lantai gua. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipikulnya.
Sebelum pergi, dia masih sempat memandangi sekeliling gua. Perlahan dia menundukkan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja menemaniku. Siapa pun dirimu, aku sangat berterima kasih. Semoga saja aku bisa membalas jasa baikmu."
Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum. Dia lantas meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memperhatikannya. Tatapan mata yang tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya.
Dari balik semak, dia memperhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihatnya datang, sang ibu berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat ibu khawatir." Wanita renta itu menangis karena putri semata wayangnya telah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Bu. Jangan menangis lagi. Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir. Sebenarnya, kemarin aku sudah mau pulang, tetapi tiba-tiba saja hujan turun sangat deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam gua. Kalau tidak, aku mungkin sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasan Zhi Ruo membuat ibunya merasa heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja. Akan tetapi, sekumpulan kunang-kunang datang menghampiriku. Mereka menemaniku dan menerangi di dalam gua. Aku belum pernah merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya aku enggan membuka mata karena kelembutan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa kalau ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun dan kabut yang tiba-tiba muncul bukanlah suatu hal yang kebetulan.
Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu. Konon katanya, hutan itu dijaga oleh makhluk tak kasatmata yang berupa kumpulan kunang-kunang berwujud sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena menurut cerita, ada makhluk menyeramkan yang mendiami hutan itu. Bisa saja semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo hanya tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir. Putrimu ini bisa menjaga diri. Lagi pula, kalaupun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa dengan selamat. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan ibunya.
"Ah, sebaiknya aku bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah kudapat. Pulang nanti aku akan membeli kebutuhan dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaanmu."
Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawa ke pasar. Dia tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
Sementara di dalam hutan, tampak sosok berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.
Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan beterbangan. Suara tawa yang terdengar menakutkan di telinga para penduduk desa.
Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar lagi. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke arah hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang.
Seketika, suara itu tidak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatapnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan mata bak seekor elang yang menatap tajam.
"Manusia aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued...
Berbekal tanaman obat yang sudah disiapkan, Zhi Ruo lantas membawanya ke pasar. Dengan keranjang di punggungnya, gadis itu menyusuri jalanan setapak hingga sampai di pemukiman warga. Rupanya, dia sangat dikenali oleh warga sekitar. Buktinya, dia selalu disapa oleh orang-orang yang dijumpainya.
"Zhi Ruo, bagaimana keadaan ibumu? Apa dia baik-baik saja?" tanya seorang wanita paruh baya saat melihatnya melintas di depan rumah.
"Iya, Bibi, ibuku baik-baik saja. Ibu menitip salam buat Bibi." Zhi Ruo berhenti sejenak untuk menjawab sapaannya.
"Syukurlah. Ayo, singgah dulu sebentar! Kamu pasti lelah karena baru turun gunung."
"Terima kasih, Bi, tapi aku harus segera pergi. Ibu pasti sudah menunggu karena aku harus membeli keperluan dapur. Aku pergi, ya, Bi," jawab Zhi Ruo sambil melambaikan tangan dan meninggalkan rumah itu.
"Zhi Ruo!" panggil seseorang.
Zhi Ruo lantas berbalik saat mendengar seseorang memanggil namanya. Dia tampak tersenyum saat melihat seorang pemuda yang kini berlari ke arahnya.
"Kenapa kamu baru turun? Aku sudah menunggumu dari tadi."
Pemuda itu lantas mengambil keranjang yang tergantung di punggung Zhi Ruo dan menggantung keranjang itu di punggungnya.
"Kenapa? Apa kamu sudah merindukanku?" Zhi Ruo tampak tersenyum pada pemuda itu.
"Ah, walau aku bilang rindu, kamu tetap tidak akan merindukanku," jawab pemuda itu seraya tersenyum kecut.
"Sudahlah, Yuen. Bukankah, kita adalah sahabat? Ayo, sebaiknya kita cepat!" Zhi Ruo lalu menarik tangannya dan berlari menuju kerumunan orang-orang yang memadati pasar.
Di depan sebuah kedai obat, mereka berhenti. Seorang lelaki paruh baya menyapa mereka, "Zhi Ruo, kenapa kamu baru datang? Cepatlah, mana tanaman obat yang Paman pesan waktu itu?"
Zhi Ruo lantas mengeluarkan tanaman obat yang sudah dipisahkan sesuai jenis dan meletakkannya di atas meja. "Ini Paman. Ternyata, aku sangat beruntung karena bisa menemukan tanaman obat yang cukup langka. Apakah Paman akan membayarku sekarang?"
Tatapan mata Zhi Ruo tampak berbinar saat melihat lelaki paruh baya itu mengeluarkan sekantong uang dan menyerahkan kantong itu padanya.
"Itu hasilmu hari ini. Paman sangat puas karena kamu selalu memenuhi permintaan Paman. Lain kali, bawa yang banyak agar kamu bisa mendapatkan bayaran lebih."
"Tenang saja, Paman. Sahabatku ini pasti bisa membawa tanaman obat buat Paman." Yuen tersenyum sambil menepuk bahu Zhi Ruo dengan bangga.
Setelah mendapat bayaran, mereka lantas menuju kedai yang menjual daging dan aneka rempah. Rasanya sudah lama Zhi Ruo dan ibunya tidak menyantap daging.
Dengan ditemani Yuen, Zhi Ruo lantas membeli daging dan memberikan separuh untuk sahabatnya itu.
"Apa perlu kamu memberikannya padaku? Zhi Ruo, bawa pulang saja dan masak buat ibumu."
"Ambil saja, ini hadiahku untukmu. Selama ini, kamu sudah sering membantuku. Ayo, kita pulang!"
Walau enggan, Yuen terpaksa menerimanya. Sambil bercanda, mereka menyusuri jalanan pasar hingga tiba-tiba suara ringkikan kuda terdengar.
Terlihat beberapa pemuda yang menunggangi kuda berlari dengan kencang memecah kerumunan orang-orang di tengah jalan. Sontak, Zhi Ruo terkejut saat melihat mereka berlari ke arahnya. Yuen yang menyadari itu lantas menarik tangannya hingga mereka terjatuh ke sisi jalan.
"Hei, apa kalian tidak punya mata?" Zhi Ruo yang tidak terima lantas berdiri dan berteriak ke arah para penunggang kuda itu.
Mendengar teriakannya, salah satu penunggang kuda lalu berhenti. Dia melihat ke arah Zhi Ruo yang sedang mengibaskan hanfunya yang kotor karena terkena tanah.
"Kenapa? Apa kalian pikir jalan ini punya kalian? Kalau ada orang yang terluka karena kalian, apa kalian akan bertanggung jawab?" Zhi Ruo menatap salah satu penunggang kuda yang kini berjalan ke arahnya.
Melihat pemuda itu, orang-orang lalu meninggalkan mereka. Pemuda dengan wajah yang terlihat datar tanpa ekspresi itu melirik ke arah Zhi Ruo. Dia tersenyum kecut sambil meraih dagu gadis itu dan diarahkan di dekat wajahnya.
"Gadis sepertimu cukup berani untuk menentangku. Apa kamu tahu siapa aku?" tanya pemuda itu dengan tatapan yang tajam.
Dengan kesal, Zhi Ruo mengempas tangan pemuda itu dan mengambil daging yang terjatuh di tanah. Dia begitu kesal karena daging untuk ibunya telah kotor terkena tanah. Dia lantas memandangi pemuda yang masih menatapnya itu.
"Aku tidak peduli siapa dirimu, tapi kamu tidak pantas berbuat seenaknya seperti ini. Dilihat dari pakaianmu, aku yakin kamu pasti salah satu orang yang terpandang, tapi sayang sikapmu itu seperti orang tak punya adab!"
Ucapan Zhi Ruo terdengar menghina hingga membuat beberapa lelaki yang bersama pemuda itu turun dari atas kuda dan mendekatinya dengan tatapan penuh amarah.
"Dasar wanita jalang! Apa kamu tahu dengan siapa kamu bicara?"
"Aku tak peduli karena aku memang tak mau peduli. Untung saja aku tidak terluka. Jika tadi aku sampai terluka, aku akan menuntut kalian!" Zhi Ruo terlihat kesal. Yuen lantas menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu.
"Maaf, Tuan. Tolong maafkan teman saya. Dia tidak tahu dengan siapa dia bicara. Sekali lagi, maafkan kami, Tuan." Yuen menunduk meminta maaf dan menarik tangan Zhi Ruo untuk pergi dari tempat itu. Walau masih kesal, Zhi Ruo akhirnya mengikuti Yuen dan pergi meninggalkan tempat itu.
Melihat tingkah seorang gadis yang berani padanya, membuat lelaki itu menatap Zhi Ruo yang mulai menjauh. Dia tersenyum sinis dengan tatapan mata yang liar.
"Tuan muda, gadis itu sepertinya tidak tahu siapa Anda. Apa tidak sebaiknya kita beri dia pelajaran?" tanya seorang lelaki sambil menundukan wajahnya di depan pemuda yang dipanggilnya tuan muda itu.
"Cari tahu siapa dia. Setelah itu, bawa dia padaku!" Pemuda itu lantas kembali naik ke atas punggung kuda dan pergi meninggalkan tempat itu.
Walau sudah sampai di rumah, Zhi Ruo masih terlihat kesal. Dia terus mengumpat saat sedang membersihkan daging yang terkena tanah. Mulutnya tak berhenti mengoceh karena mengingat pemuda yang hampir menabraknya tadi.
"Zhi Ruo, apa kamu tahu siapa yang kamu marahi tadi? Dia itu adalah tuan muda dari keluarga Zu. Dia itu anak seorang bangsawan dan kamu tahu siapa ayahnya? Ayahnya adalah Perdana Menteri Zu Qi yang sangat dekat dengan raja. Yang aku dengar, tuan muda itu juga sangat dekat dengan pangeran. Jadi, jangan membuat orang-orang seperti mereka kesal pada kita karena kita bisa saja mati dibunuh oleh mereka." Yuen mencoba menjelaskan panjang lebar, tetapi sama sekali tidak digubris oleh gadis itu.
Zhi Ruo tidak ingin menanggapi. Dia tahu dirinya tetap akan disalahkan karena sudah berani melawan orang yang terpandang. Walau Yuen menasihatinya, dia hanya mengangguk dan mempertebal telinga. Ocehan sahabatnya sama sekali tidak dipedulikan dan dia tidak ingin membantah apa yang diucapkan sahabatnya itu.
"Iya, aku dengar. Siapa suruh mereka menerobos jalanan seperti itu. Ah, sudahlah, jangan bahas mereka lagi. Ayo, sebaiknya kita makan!"
Zhi Ruo meletakkan beberapa piring yang sudah terisi lauk pauk dan daging yang sudah dimasaknya. Melihat makanan di atas meja membuat Yuen segera duduk dan menatap makanan hasil olahan sahabatnya itu.
"Bibi, tidakkah Bibi berpikir kalau Zhi Ruo sudah pantas untuk berumah tangga? Lihat saja hasil masakannya. Wah, pasti suaminya kelak akan bahagia karena dimanjakan dengan masakannya ini."
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Zhi Ruo sambil duduk di dekat putrinya itu.
"Kenapa harus aku? Kamu sendiri saja belum menikah. Yuen, jangan pernah berpikir kalau aku akan menikah denganmu." Zhi Ruo mendengus seraya mengerucutkan bibirnya. Melihat ekspresinya itu, Yuen tersenyum kecut.
"Iya, iya, aku tahu. Mana mungkin aku akan menikah denganmu. Lagi pula, wajahku terlalu tampan dan aku tidak suka dengan gadis pemarah sepertimu."
Mendengar ucapannya, Zhi Ruo lantas menarik piring-piring dari atas meja seakan-akan melarang pemuda itu menyentuh masakannya.
"Bibi, lihat sikap anakmu itu! Bagaimana dia bisa menikah jika sikapnya seperti itu? Bibi, bantu aku. Ayolah, aku sudah lapar!"
Yuen berusaha mengambil piring-piring itu, tetapi Zhi Ruo menutupi dengan tubuhnya sambil menjulurkan lidahnya tanda mengejek.
Candaan demi candaan terdengar dari dalam rumah hingga menimbulkan gelak tawa. Keakraban yang terjalin sejak kecil membuat mereka layaknya saudara.
Yuen adalah pemuda sederhana yang ditinggal mati sang ayah saat berperang. Dia telah menjadi sahabat Zhi Ruo sejak mereka masih kecil. Kehidupan sederhana dan sama-sama kehilangan ayah di medan perang membuat keduanya akrab.
Wajah pemuda itu cukup tampan. Tubuhnya kekar karena setiap hari harus bekerja keras mencari nafkah untuk satu-satunya keluarganya, yaitu ibunya.
Warna kulitnya begitu eksotis karena setiap hari harus berjibaku di bawah sinar matahari. Walau begitu, tidak sedikit gadis-gadis di desanya yang mengagumi kegigihannya itu.
Bagi Yuen, Zhi Ruo tak hanya sahabat, tetapi juga adik yang wajib dijaga dan dilindungi. Baginya, Zhi Ruo adalah wanita spesial karena diam-diam dia begitu menyukai gadis manis pemilik lesung pipi itu.
Baginya, Zhi Ruo tak hanya cantik, tetapi sangat menggemaskan. Tawa, canda, dan senyumnya begitu membuai pemuda sederhana itu. Walau diam-diam rasa itu muncul di hatinya, tetapi Yuen lebih memilih untuk memendamnya. Biarlah takdir yang akan menentukan nasibnya. Asalkan, dia bisa selalu bersama gadis yang dicintainya itu.
Hari menjelang malam ketika Yuen meminta undur diri. Pemuda itu pulang tidak dengan tangan kosong. Sambil tersenyum, dia melihat bekal yang dibawa olehnya.
Zhi Ruo tak hanya cantik, tetapi juga baik hati. Dan itulah yang membuat Yuen mencintainya dalam diam.
Saat malam hari, suasana di rumah Zhi Ruo terlihat tenang. Walau suara jangkrik dan lolongan anjing sering terdengar, tetapi sama sekali tidak mengganggunya. Bahkan, suara-suara itu dijadikan lagu pengantar tidur baginya.
Di saat ibunya sudah terlelap, Zhi Ruo masih terjaga. Dengan telaten, dia menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk naik ke gunung di keesokan harinya.
Keranjang, sangkur, dan juga bekal tak luput dia siapkan. Semua itu dia lakukan untuk bisa mencukupi kebutuhannya bersama sang ibu. Dia harus tetap naik ke gunung untuk mencari tanaman obat dan juga ubi-ubian untuk kelanjutan hidup mereka.
Setelah selesai menyiapkan semuanya serta membersihkan rumah, Zhi Ruo lantas berbaring di samping ibunya. Dia tersenyum saat melihat ibunya yang terlihat damai dalam tidur lelapnya.
"Ibu, aku menyayangimu. Aku akan membahagiakanmu dan selalu ada untukmu." Zhi Ruo membelai lembut wajah keriput sang ibu dan mengecup dahinya.
Zhi Ruo kini menatap langit-langit kamar seraya menghitung lubang-lubang di atas atap. Hawa dingin perlahan masuk dari lubang-lubang itu hingga membuatnya menyelimuti diri dan sang ibu di sampingnya.
Saat matanya akan terpejam, seketika dia terkejut. Samar-samar, dia mendengar suara orang berjalan di belakang rumahnya. Walau penasaran, dia tidak ingin beranjak.
Di saat malam seperti itu, dia takut untuk keluar rumah. Walau demi apa pun, dia tidak akan pernah beranjak. Sambil menutup telinganya, dia memaksakan diri untuk tidur. Tak butuh waktu lama, dia kini sudah terbuai dalam mimpi.
Di luar sana, tampak dua orang lelaki berjalan mengendap dan berusaha masuk ke rumah. Mereka punya niat yang buruk pada Zhi Ruo. Mereka begitu berani karena di rumah itu hanya ada Zhi Ruo dan ibunya yang sudah renta. Mereka ingin membalas perlakuan Zhi Ruo yang dianggap telah menghina mereka.
Zhi Ruo ternyata telah menolak pengakuan cinta dari salah seorang di antara mereka. Mereka ingin menodainya dan itu bukan hal yang sulit karena lokasi rumahnya yang jauh dari desa. Otomatis, tidak ada orang yang akan mengetahui perbuatan mereka.
Itulah yang mereka pikirkan saat ini, tetapi ianyatanya mereka harus berpikir seribu kali saat melihat sesosok bayangan hitam yang kini berdiri di depan mereka.
Sontak, mereka terkejut hingga lari terbirit-birit dan jatuh berkali-kali karena dikejar bayangan hitam itu. Bayangan hitam dengan suara serak dan mata yang memerah sekelebat terbang di atas mereka hingga bayangan hitam itu menghilang saat keduanya telah menjauh dari rumah Zhi Ruo.
"Ah, manusia-manusia jahat seperti mereka memang pantas untuk mati. Andai saja aku tidak terikat dengan janji itu, aku pasti sudah menghabisi manusia-manusia seperti mereka!"
Wajah yang terlihat samar itu menampakkan rasa kesalnya dengan menghantam sebatang pohon hingga roboh. Dengan seberkas cahaya yang keluar dari tangannya, pohon itu seketika tumbang tanpa cela dalam sekali tebasan.
Bayangan hitam itu lantas menghilang dalam sekejap. Yang terlihat hanya batang pohon yang teronggok di atas tanah hingga membuat Zhi Ruo terkejut saat pagi hari disuguhkan dengan pemandangan yang tentu saja mencengangkan baginya.
To Be Continued...
Zhi Ruo terkejut saat melihat sebatang pohon dengan ukuran yang tidak terlalu besar teronggok di atas tanah. Bekas tebasan di pohon itu membuatnya merasa heran. Pasalnya, bekas tebasan terlihat begitu rapi tanpa cela.
"Apa manusia biasa bisa melakukan hal semacam ini? Rasanya, itu tidak mungkin!" Zhi Ruo membatin sambil memegang bekas tebasan. "Apa mungkin suara yang aku dengar semalam adalah suara makhluk yang dimaksud oleh ibu?" batinnya kembali.
Zhi Ruo lantas melanjutkan perjalanannya menuju hutan di atas gunung. Kemarin, dia belum sempat mengambil beberapa tanaman obat karena keranjangnya sudah penuh. Dan kini, dia harus kembali untuk mengambilnya.
Zhi Ruo berjalan sambil memperhatikan tanaman-tanaman yang ada di sekeliling tempat itu dan berharap menemukan tanaman ubi atau ginseng yang tumbuh liar.
Pandangannya begitu lincah. Dalam sekali lihat saja, dia bisa tahu kalau tanaman itu mengandung racun atau obat. Semua keahliannya didapatkan dari sang ibu yang selalu mengajaknya ke hutan sejak dirinya masih kecil dulu.
Hutan itu bukan tempat asing bagi Zhi Ruo. Hanya saja, dia tidak pernah melewati batas hutan terlarang. Hutan yang dipercaya mempunyai penunggu yang sangat menyeramkan.
Zhi Ruo masih terus berjalan, tetapi hasil yang didapatnya tidak seperti biasa. Isi keranjangnya masih setengah dan jauh dari harapannya. Padahal, dia yakin kemarin banyak tanaman obat di hutan itu.
"Apa jangan-jangan ada orang lain yang juga mencari tanaman obat di hutan ini?" gumamnya sambil melayangkan pandangan ke sekeliling tempat itu.
Tidak terasa sudah setengah hari dia ada di dalam hutan dan belum juga mendapat hasil yang memuaskan. "Ah, apa aku harus masuk ke hutan terlarang itu? Tapi, jika sesuatu terjadi padaku, ibu pasti akan sedih dan menderita. Ah, sebaiknya aku kembali saja."
Zhi Ruo lantas berbalik dan bermaksud untuk pulang, tetapi tiba-tiba dia menjadi bingung saat melihat jalan di depan yang terasa asing baginya.
"Ini di mana? Bukankah, tadi aku hanya berdiri di depan perbatasan hutan terlarang? Kenapa tiba-tiba saja jalanan ini sangat asing bagiku?" batin Zhi Ruo sambil mengedarkan pandangan dan melihat sekelilingnya. Dan, betapa dia terkejut saat melihat tanaman obat yang tumbuh melimpah di dekatnya. Sontak, rasa takut yang sempat menghantuinya berganti dengan rasa takjub dan gembira hingga membuatnya tersenyum.
Sambil berlari kecil, Zhi Ruo lalu mendekati tanaman-tanaman itu dan mencabutnya. Tak hanya tanaman obat, tetapi tanaman ubi dan ginseng pun tak luput dari jangkauannya. Semuanya terasa begitu mudah bagaikan sengaja disediakan untuknya.
Tak terasa, keranjangnya kini telah penuh dengan tanaman obat, ginseng, dan ubi. Karena kelelahan, Zhi Ruo memilih untuk beristirahat sejenak sambil menyantap bekal yang tadi dibawa olehnya.
"Ah, hari ini aku sangat beruntung. Aku bisa mendapatkan hasil yang cukup melimpah," ucap Zhi Ruo seraya tersenyum.
Tanpa disadarinya, sesosok bayangan tampak memperhatikannya dari balik pepohonan. Wajah makhluk itu terlihat samar dengan sorot mata yang tak biasa.
Matanya tak lagi memerah. Bahkan, tatapan matanya terlihat sendu. Hanya saja, bayangan itu sengaja menyembunyikan diri seakan-akan dia enggan menampakkan sosoknya di depan gadis itu.
Dari balik pohon, bayangan itu masih melihat Zhi Ruo. Terkadang, senyuman gadis itu membuatnya menatap tanpa kedip. Dia begitu terpana dengan paras Zhi Ruo yang nyatanya bisa mengalihkan perhatiannya.
Terkadang, bibirnya memaksa tersenyum saat melihat Zhi Ruo yang tersenyum melihat tanaman obat yang sudah terkumpul di dalam keranjang. Rasanya, senyuman itu begitu menarik perhatiannya.
"Dia ternyata begitu polos. Aku tidak boleh tergoda olehnya. Aku hanya ingin membantunya agar dia bisa menghidupi ibunya. Ah, masih butuh lima purnama lagi agar aku bisa bebas. Rasanya, aku sudah tidak sabar untuk meninggalkan hutan ini dan kembali ke tempat asalku. Sebaiknya, aku harus membawanya kembali dan membuka jalan keluar untuknya."
Benar saja, dengan mudahnya Zhi Ruo kembali menuju ke rumahnya. Tanpa kendala, dia melewati hutan larangan dan tiba tanpa kurang suatu apa pun.
Walau heran, Zhi Ruo berusaha menepis perasaannya dan menganggap kemudahan itu adalah anugerah dari Sang Pencipta untuknya.
Seperti biasa, Zhi Ruo harus membawa tanaman obat untuk dijual. Setelah memilih tanaman obat yang layak jual dan sesuai jenisnya, dia akhirnya membawanya ke pasar. Baru saja dia akan meninggalkan rumahnya, terlihat beberapa orang pemuda datang menghampirinya.
Zhi Ruo masih melihat mereka hingga sampai di depannya, seorang pemuda menyerahkan selembar surat perintah yang menyatakan kalau dirinya wajib mengikuti mereka karena sudah terpilih menjadi salah satu pelayan di kediaman keluarga Zu. Sontak, dia terkejut. Begitu pun dengan ibunya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Apa maksud kalian dengan surat perintah ini? Kalian tidak punya hak untuk memperlakukanku seperti ini! Aku bukan pelayan dan aku tidak akan pernah menjadi pelayan bagi siapa pun! Lepaskan aku!" Zhi Ruo berusaha mengelak saat kedua orang itu tiba-tiba memegang lengannya dengan paksa.
"Lepaskan putriku! Kenapa kalian harus membawanya? Lepaskan dia!"
Wanita itu tidak terima jika putri semata wayangnya dibawa pergi. Walau sakit, dia tak peduli dan berusaha melepaskan tangan salah seorang pemuda dari lengan putrinya. Walau dia menangis, nyatanya mereka tak peduli. Bahkan, mereka mendorongnya hingga jatuh ke belakang.
"Ibu!" seru Zhi Ruo sambil berusaha melepaskan diri, tetapi dia tidak mampu karena tangannya dipegang dengan sangat kuat.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Zhi Ruo masih berusaha berontak, tetapi tetap tiada berguna. Di saat dia lemah dan pasrah, di saat itulah Yuen datang dan menghampiri ibunya yang tengah menangis.
"Bibi, apa yang terjadi?"
"Mereka mau membawa Zhi Ruo untuk dijadikan pelayan di kediaman keluarga Zu. Yuen, tolong bujuk mereka untuk tidak membawa Zhi Ruo. Bibi mohon, tolong jangan biarkan mereka membawa Zhi Ruo!"
Wanita itu menangis hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Melihat ibunya jatuh pingsan, Zhi Ruo tak kuasa menahan tangis.
"Ibu!" pekik Zhi Ruo sambil berusaha melepaskan diri. Namun, kedua pemuda itu membawanya dengan paksa hingga membuatnya meronta di sepanjang jalan.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga ibumu. Zhi Ruo, jaga dirimu. Serahkan ibumu padaku," ucap Yuen sembari menatap kepergian sahabatnya itu.
Melihat mereka membawa Zhi Ruo pergi, dia merasa bagaikan lelaki bodoh karena tidak punya nyali dan kekuatan untuk melawan. Bukannya tak mampu, tetapi dia takut perlawanannya akan membawa dampak buruk baginya dan juga Zhi Ruo.
Yuen lantas membawa ibu Zhi Ruo ke dalam rumah dan merawatnya. Sementara Zhi Ruo masih menangis dalam diam. Dia begitu khawatir dengan keadaan ibunya hingga membuatnya menundukkan wajah.
Zhi Ruo lantas dibawa ke kediaman keluarga Zu. Selama perjalanan, dia hanya diam tanpa berkata apa pun. Walau raganya bersama beberapa pemuda itu, tetapi pikirannya tertuju pada ibunya. Hingga tanpa disadarinya, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang terlihat megah dan mewah.
Rumah dengan halaman yang luas dan pelayan yang tak sedikit itu tampak asri. Sang pemilik rumah rupanya sangat menyukai bunga hingga halaman rumah itu penuh dengan tanaman bunga yang mulai mekar.
Zhi Ruo masih terdiam dan berdiri di depan sebuah ruangan. Wajahnya masih menunduk dengan sisa air mata yang belum mengering.
Perlahan, pintu ruangan terbuka. Tampak seorang pemuda keluar dari dalam ruangan dan berdiri tepat di depannya. "Angkat wajahmu dan lihat aku!"
Suara itu terdengar tegas, tetapi Zhi Ruo tidak menggubrisnya. Wajahnya masih menunduk hingga pemuda itu dengan kasar meraih dagunya dan memaksa untuk melihat ke arahnya.
"Apa kamu masih mau membangkang? Bukankah, waktu itu kamu sangat marah padaku? Ayolah, sekarang aku sudah ada di depanmu dan tunjukan kemarahanmu itu sekali lagi padaku!"
Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membawa gadis yang pernah mempermalukan dirinya di depan banyak orang.
Zhi Ruo menatap pemuda itu dengan tatapan sinis. Tatapan matanya penuh kemarahan dan kebencian yang membuncah. Rasanya, dia ingin membunuh pemuda itu, tetapi apalah dayanya karena dirinya tidak sanggup melakukannya.
"Sekarang, kamu akan menjadi pelayan di rumahku dan kamu hanya akan melayaniku. Aku, Zu Min, sekarang adalah tuanmu. Jika kamu berusaha untuk kabur, maka aku akan membunuh ibumu! Tidak sulit bagiku menyuruh orang untuk membunuhnya. Sekarang, apa kamu masih ingin membantah perintahku?"
Pemuda itu menatap Zhi Ruo dan perlahan menyentuh wajah gadis itu. Sontak, Zhi Ruo mengelak dan mundur ke belakang, tetapi pemuda itu terus mendekat ke arahnya.
"Zu Min, apa yang kamu lakukan?" Pemuda itu terkejut saat seorang wanita paruh baya berjalan mendekatinya.
"Ah, Ibu! Jangan berteriak padaku! Tidak bisakah Ibu membiarkanku bersenang-senang sebentar?" Pemuda itu tampak kesal, tetapi tidak dengan wanita itu.
"Apa dia wanita yang akan menjadi mainanmu lagi?"
"Ibu, ayolah. Semua ini aku lakukan demi keluarga kita. Istriku tidak bisa memberiku keturunan dan aku tidak bisa menceraikannya karena permintaan ayah. Kalau wanita ini sama dengan wanita-wanita sebelumnya, maka aku akan melepaskannya dan mencari wanita lain. Namun, wanita ini sangat menarik perhatianku dan aku hanya ingin bersenang-senang dengannya," ucap pemuda itu sambil melihat ke arah Zhi Ruo.
"Lakukan saja apa maumu, tapi ingat jangan sampai istrimu tahu. Lakukan saja seperti biasanya, tapi kamu harus berhati-hati."
"Iya, Ibu. Aku pasti akan berhati-hati."
Wanita itu kemudian pergi setelah memandangi Zhi Ruo dari kepala hingga ujung kaki. Dia cukup kagum dengan pilihan anaknya yang rupanya pandai dalam menilai kecantikan wanita.
Pemuda itu kembali menatap Zhi Ruo. Sekilas, dia tersenyum seraya meraih tangan gadis itu dan membawanya ke dalam ruangan yang cukup mewah.
"Sekarang, kamu akan menempati kamar ini dan tidak akan pernah meninggalkannya tanpa seizinku. Kamu akan menjadi pelayan dan wanita simpananku. Jika kamu berniat untuk kabur, maka urungkanlah niatmu karena aku tidak akan melepaskanmu."
"Apa hakmu mengurungku di sini? Aku bukan wanita seperti itu! Lepaskan aku dan aku akan melupakan kejadian ini!"
Zhi Ruo berusaha mengontrol dirinya. Namun, lagi-lagi ucapannya itu hanya terjawab lewat senyuman sinis dari pemuda itu.
"Aku punya hak atas dirimu karena sekarang kamu akan menjadi wanitaku. Ah, seharusnya kamu bangga karena menjadi wanita pilihan dari sekian wanita yang aku jumpai. Sekarang, mandi dan berdandanlah yang cantik. Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu." Pemuda itu tersenyum sembari menyentuh pipi Zhi Ruo, tetapi gadis itu mengelak.
Pemuda itu hanya tersenyum dan meninggalkan kamar. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa hanfu pada Zhi Ruo.
"Nona, gantilah pakaian dan izinkan saya untuk mendandani Nona. Sebaiknya, Nona jangan melawan lagi karena tuan muda tidak terima dengan penolakan."
Wanita muda itu seakan-akan paham dengan suasana hati Zhi Ruo. Ini bukanlah tugas yang pertama kali baginya karena sebelumnya dia sudah pernah melakukannya.
Setiap wanita yang dibawa tuannya hanya dijadikan sebagai wanita simpanan dan pemuas hasratnya karena tuntutan sang ayah yang menginginkan seorang cucu.
"Jika kamu peduli, maka bantu aku untuk pergi dari tempat ini. Aku punya ibu yang sedang sakit dan dia sedang menungguku. Nona, tolong bantu aku!" Zhi Ruo menangis di depan pelayan itu, tetapi percuma saja karena wanita muda itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nona, sebaiknya bersikap baiklah pada tuan muda. Jika dia menyukaimu dan Nona bisa memberikannya seorang anak, dia pasti akan menikahimu dan tentu saja Nona akan menjadi nyonya di rumah ini. Untuk saat ini, tidak ada pilihan lain selain menurut apa pun perkataannya. Ayo, Nona, biar saya membantu Nona berdandan."
Mendengar ucapan pelayan itu, Zhi Ruo pasrah. Namun, dia belum menyerah. Bagaimanapun caranya, dia harus keluar dari rumah itu.
Zhi Ruo tampak cantik dengan hanfu berwarna biru laut yang kini dikenakannya. Rambutnya terurai indah dengan hiasan rambut yang menghiasi kepalanya. Wajah polosnya kini telah berubah setelah dipolesi bedak dan gincu merah hingga aura kecantikannya benar-benar terpancar.
"Nona sangat cantik. Ternyata, tuan muda memang tidak pernah salah menilai kecantikan wanita. Nona, sebaiknya bersiaplah dan bersikap baiklah pada tuan muda. Jika dia menyukai Nona, dia pasti akan menuruti apa pun permintaan Nona."
Pelayan itu memandangi wajah Zhi Ruo dari balik ke kaca yang membuatnya kagum dengan kecantikan gadis itu.
Zhi Ruo hanya diam dan tidak menanggapi celotehan pelayan itu. Setelah pelayan itu pergi, dia kembali memutar otak dan mencari cara agar bisa meninggalkan rumah itu.
Saat malam tiba, Zhi Ruo belum juga menemukan jalan keluar hingga dia terkejut saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Seorang pemuda tampak masuk dan mendekatinya yang sementara duduk di sisi ranjang.
Wajah pemuda itu cukup tampan dengan jubah mewah yang dikenakannya. Melihat Zhi Ruo duduk membelakanginya, pemuda itu memilih duduk di depannya. Dia begitu kagum dengan kecantikan Zhi Ruo yang kini ditatapnya.
"Ah, rupanya aku tak salah memilih. Wajahnya ternyata sangat cantik." Lelaki itu membatin dengan senyum di sudut bibirnya.
Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam dengan wanita yang sudah menarik perhatiannya hingga dia tertegun saat tatapan mata Zhi Ruo mengarah padanya. Tatapan mata yang benar-benar membuatnya tak berdaya dan membuatnya terpana.
To Be Continued...