Sampul Novel Reinkarnasi Dewi Kemem

Reinkarnasi Dewi Kemem

8.2 / 10.0
Yi Yuen menjalani takdir sebagai reinkarnasi Dewi Keabadian demi mengungkap jati diri aslinya di tengah berbagai intrik dan pengorbanan. Di sisi lain, sebuah momen romantis hadir saat Zhi Ruo terbangun dalam dekapan hangat suaminya, Li Quan. Dengan penuh kasih, Zhi Ruo membelai wajah Li Quan. Meski sempat tersipu malu, kecupan hangat dari sang suami menegaskan kuatnya ikatan cinta mereka. Penantian panjang yang melelahkan kini berbuah kebahagiaan yang mendalam bagi pasangan ini.
Ringkasan Reinkarnasi Dewi Kemem
Yi Yuen menjalani takdir sebagai reinkarnasi Dewi Keabadian demi mengungkap jati diri aslinya di tengah berbagai intrik dan pengorbanan. Di sisi lain, sebuah momen romantis hadir saat Zhi Ruo terbangun dalam dekapan hangat suaminya, Li Quan. Dengan penuh kasih, Zhi Ruo membelai wajah Li Quan. Meski sempat tersipu malu, kecupan hangat dari sang suami menegaskan kuatnya ikatan cinta mereka. Penantian panjang yang melelahkan kini berbuah kebahagiaan yang mendalam bagi pasangan ini.
Baca Selengkapnya

Reinkarnasi Dewi Kemem Bab 1

Gemuruh petir menggelegar di langit mendung. Rintik air hujan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan.

Di mulut gua, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Dia tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu memanjatkan doa. Berharap hujan akan segera reda.

Mulut gadis itu terlihat komat-kamit sambil memejamkan mata. Wajahnya tampak cantik saat terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan baginya. Walau tak henti memanjatkan doa, nyatanya hujan masih mengguyur dengan deras seiring suara petir yang menggelegar bersahutan.

"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, tadi siang matahari bersinar sangat terik," batinnya seraya melihat sekitar tempat di mana dia berteduh.

Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut gua sembari melihat sekeliling. Perlahan, kabut menutupi pandangannya. Dia kini tampak panik hingga membuatnya ketakutan. Dia lalu menyembunyikan wajahnya di balik tekukan lutut dengan kedua tangan yang meremas bajunya. Dia begitu ketakutan hingga menitikkan air mata.

"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengarmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, pasti aku tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisnya terdengar. Dia menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.

"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagi pula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah. Jika kondisi Ibu sudah sehat, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat lagi."

"Tidak, Bu! Ibu sedang sakit dan ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanaman obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"

Zhi Ruo, gadis muda yang pekerja keras. Dia tinggal dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat.

Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan dijual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan yang mengharuskan keluar masuk gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Setelah berhasil meyakinkan ibunya, Zhi Ruo akhirnya pergi ke gunung untuk mencari tanaman obat.

Berbekal keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk ke hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya. Namun, karena banyaknya tanaman obat yang tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja.

Dengan sedikit berlari, dia lalu meninggalkan hutan itu, tetapi hujan tiba-tiba turun hingga dirinya terjebak di depan mulut gua.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya. Perlahan, dia mengangkat kepalanya dan melihat langit yang sudah menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya.

Suara jangkrik terdengar diiringi suara hujan gerimis. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena jalanan tampak gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu.

Sementara di rumah, ibunya tampak begitu khawatir. Wanita paruh baya itu mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?"

Wanita itu menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini berada di atas gunung sendirian. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tetapi apalah dayanya. Kondisinya tidak memungkinkan untuk bisa naik ke gunung. Apalagi hari sudah malam.

Di dalam gua, Zhi Ruo hanya bisa menangis. Walau sering naik gunung dan menyusuri hutan sendirian tidak membuatnya takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai gelap. Rasanya seperti ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.

Di dalam gua, suasana tampak gelap tanpa ada penerangan. Zhi Ruo duduk menyandarkan punggungnya di dinding gua. Suara tangisnya menggema di dinding ruangan itu. Walau matanya terbuka, nyatanya dia tidak bisa melihat apa pun. Dia hanya bisa melihat cahaya petir yang sesekali menyambar dan samar-samar terlihat dari mulut goa.

Zhi Ruo masih menangis. Tangisnya begitu mengiba. Di luar, hujan mulai reda. Walau begitu, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.

Tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang menuju ke arahnya. Melihat sumber cahaya, Zhi Ruo lalu bangkit dan mendekati cahaya itu. Cahaya yang beterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam gua.

Kelap-kelip cahaya itu membuatnya sedikit lebih tenang. Sekilas, dia tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang beterbangan dan mendekat ke arahnya.

"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian datang kesini untuk menemaniku?"

Zhi Ruo lalu mendekati cahaya yang beterbangan itu. Dia lantas mengambil salah satu cahaya dan meletakkan di atas telapak tangannya.

"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini."

Zhi Ruo tersenyum seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan gua. Rupanya, ruangan di dalam gua cukup luas. Walau hari telah larut dan angin dingin bertiup dari mulut gua, tetapi sama sekali tidak membuatnya kedinginan.

Entah mengapa, udara di dalam ruangan gua terasa begitu hangat seakan-akan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena beterbangan mengelilingi ruangan gua. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depannya.

"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Aku tidak sendirian karena ada kunang-kunang cantik yang menemaniku di sini," ucapnya seraya tersenyum.

Zhi Ruo lantas berbaring di lantai gua beralaskan rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya terbuai dalam mimpi.

Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya seakan-akan wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya hewan bersayap itu.

"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian."

Terdengar suara seseorang yang berbicara pada kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan-akan mengikuti perintah suara itu.

Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajahnya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam, dan terurai lepas.

"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia hanya seonggok daging yang tak berguna?"

Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya belum beranjak dari dalam gua.

"Aku harus pergi. Kalian tetaplah bersamanya dan terima kasih karena kalian sudah membantuku untuk menjaganya. Dengan begitu hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu."

Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam gua dan menghilang di balik kegelapan malam.

Sementara kunang-kunang masih mengelilingi Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan berkokok. Di saat itulah, gadis itu merasa kedinginan karena hawa dingin seketika menyeruak masuk dari mulut gua.

Zhi Ruo membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang menerangi di dalam gua. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut gua.

Aroma rumput dan tanah basah seketika menggelitik hidungnya. Dia lalu menghirup aroma khas itu dan mengembuskannya dengan lembut seraya memejamkan mata.

"Ah, segarnya. Ternyata hutan ini tidak hanya penuh dengan tanaman obat, tetapi juga memiliki udara yang sangat segar. Aku menyukai hutan ini dan aku pasti akan sering datang ke sini," ucapnya.

Gadis itu tampak tersenyum. Wajahnya terlihat cantik seiring senyum yang merekah di sudut bibirnya. Gigi putihnya tersusun rapi yang dipadukan dengan bibir yang merah alami. Hidungnya mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam hasil mahakarya dari Sang Pencipta.

Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di lantai gua. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipikulnya.

Sebelum pergi, dia masih sempat memandangi sekeliling gua. Perlahan dia menundukkan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja menemaniku. Siapa pun dirimu, aku sangat berterima kasih. Semoga saja aku bisa membalas jasa baikmu."

Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum. Dia lantas meninggalkan tempat itu.

Dari jauh, sepasang mata tampak memperhatikannya. Tatapan mata yang tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya.

Dari balik semak, dia memperhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.

Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihatnya datang, sang ibu berlari ke arahnya dan memeluknya.

"Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat ibu khawatir." Wanita renta itu menangis karena putri semata wayangnya telah kembali dengan selamat.

"Sudahlah, Bu. Jangan menangis lagi. Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir. Sebenarnya, kemarin aku sudah mau pulang, tetapi tiba-tiba saja hujan turun sangat deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam gua. Kalau tidak, aku mungkin sudah mati kedinginan di hutan itu."

Penjelasan Zhi Ruo membuat ibunya merasa heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.

"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di sana?"

"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja. Akan tetapi, sekumpulan kunang-kunang datang menghampiriku. Mereka menemaniku dan menerangi di dalam gua. Aku belum pernah merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya aku enggan membuka mata karena kelembutan dan kenyamanan tempat itu."

Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa kalau ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun dan kabut yang tiba-tiba muncul bukanlah suatu hal yang kebetulan.

Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu. Konon katanya, hutan itu dijaga oleh makhluk tak kasatmata yang berupa kumpulan kunang-kunang berwujud sosok manusia.

"Putriku, mulai saat ini kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena menurut cerita, ada makhluk menyeramkan yang mendiami hutan itu. Bisa saja semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."

Zhi Ruo hanya tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir. Putrimu ini bisa menjaga diri. Lagi pula, kalaupun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa dengan selamat. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan ibunya.

"Ah, sebaiknya aku bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah kudapat. Pulang nanti aku akan membeli kebutuhan dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaanmu."

Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawa ke pasar. Dia tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

Sementara di dalam hutan, tampak sosok berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan beterbangan. Suara tawa yang terdengar menakutkan di telinga para penduduk desa.

Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar lagi. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke arah hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang.

Seketika, suara itu tidak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatapnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan mata bak seekor elang yang menatap tajam.

"Manusia aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued...

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Reinkarnasi Dewi Kemem

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Alicia Huang rela mendonorkan sumsum tulang belakang demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun setuju dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka wajib dirahasiakan dari publik. Kini, Alicia harus menjalani hari-hari sebagai istri yang disembunyikan layaknya wanita simpanan. Akankah pernikahan kontrak penuh rahasia ini menumbuhkan benih cinta sejati, atau justru menyisakan luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Pasca dikhianati saudara angkat dan tunangannya sekembalinya dari desa, Sabrina memilih membalas dendam lewat Charles, paman sang mantan. Walau Charles sempat menolak perasaan setelah malam intim mereka, Sabrina berhasil memicu harga diri pria itu hingga terikat selamanya. Kini berstatus sebagai bibi mantannya, Sabrina yang kerap diremehkan ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar. Ia membuktikan diri bukan pemburu harta, melainkan pemilik takhta yang sesungguhnya.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang terjadi menyisakan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan, serta pengorbanan tulus. Walau mengenalmu membawa kesedihan dan rasa sakit, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, saat kesadaran terlambat itu datang, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik berharga bersamamu.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Puluhan ribu anak berusia di bawah sepuluh tahun berkumpul khidmat di Puncak Lundao, Pulau Sepuluh Ribu Binatang. Sebagai murid baru yang telah menemukan akar spiritual mereka, mereka menyimak kisah dari tetua berjubah hijau. Ia menceritakan sejarah sekte yang dirintis oleh sang pendiri legendaris, Wan Beast Immortal Li. Sebelum meraih keabadian, Li hanyalah seorang kultivator biasa dari Kerajaan Qin di Alam Qianyang.
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Elena mengira hidupnya sempurna bersama Samuel Adinata, CEO Royal Adinata yang menjadi suami sekaligus ayah idaman bagi Eliott. Namun, topeng kepedulian Samuel perlahan terkikis, menyingkap rahasia gelap yang selama ini tersembunyi rapat. Elena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka bukanlah didasari cinta, melainkan sebuah rencana licik. Menyadari dirinya hanya diperalat demi ambisi terselubung sang suami, amarah Elena pun meledak.
Sampul Novel SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR
8.3
Eliza terjebak dalam pernikahan toksik bersama Karan, pria yang hanya memanfaatkannya demi kepuasan nafsu. Malam pertama mereka yang traumatis bahkan merusak kesehatan mental Eliza. Penderitaannya kian berat saat suaminya itu berselingkuh dengan banyak wanita. Di tengah kehancuran hidupnya, Eliza bertemu Sean, seorang dokter tampan yang juga sahabat dekatnya. Kehadiran Sean perlahan menyembuhkan luka batin Eliza dan menjadi sandaran hati yang baru untuknya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED