Tidak ada yang tidak kenal dengan Hamidah. Perempuan cantik, kembang desa, pulang dari kota dalam keadaan berbadan dua. Tanpa suami yang menyertai.
Penduduk gempar. Bertanya-tanya. Siapakah lelaki yang telah berhasil memerawani sang primadona? Berani-beraninya dia menodai bunga yang jadi incaran banyak pria.
Hamidah tidak berani keluar rumah. Malu. Tidak saja malu pada dirinya sendiri, tapi juga malu pada orang banyak. Apalagi dia dari keluarga miskin. Sekarang ia hanya bisa berharap pada ibunya yang berusia setengah baya.
Tujuan ke kota mencari kerja. Namun, dia tidak menduga, kalau kota penuh tipu daya. Kepolosan dan keluguannya mengantarkannya pada neraka dunia. Terjebak di lembah prostitusi. Sebulan, dua bulan, hingga di bulan ke tujuh ia hamil.
Takut, marah dan benci berkelindan di dalam hatinya. Tempat pelacuran yang menampung dirinya, enggan mempekerjakan wanita hamil. Ia diusir dalam keadaaan hamil tiga bulan.
"Aku butuh uang, Mama. Pinjamkan aku uang, agar aku bisa kembali pulang ke kampung. Jangan usir aku dalam keadaan tiada uang. Aku mohon rasa kasihanmu, Mama."
Si Mama, sang mucikari, tak pernah mau rugi. Bukannya berniat memberikan pinjaman, malah dengan kurang ajar, ia mengantarkan dua orang pria buruk rupa ke dalam kamar Hamidah. Memaksa perempuan hamil itu untuk bersenggama.
"Uang didapat dengan bekerja, Hamidah! Kau cukup kangkangkan kaki, biarkan dua orang lelaki itu menggesekkan ATM mereka. Selepas itu, berhembuslah kau dari tempat ini! Andai saja kau tidak hamil, sudah barang tentu hidupmu bahagia. Di mana lagi kerja bisa seenak ini? Cuma modal selangkangan, uang dapat, birahi pun nikmat. Sayang sekali kau sia-siakan, Hamidah!"
Wanita malang itu hanya bisa menangis sesenggukan. Namun, siapa peduli. Jasanya dibayar. Tubuhnya sudah milik umum begitu ia menganggukkan kepala menerima pekerjaan kotor tersebut.
Salah satu dari lelaki buruk rupa itu menutup pintu kamar. Mereka menyeringai dengan wajah mesum. Berkali-kali mereka mereguk ludah dan membasahi bibir. Menatap Hamidah dengan mata yang seolah enggan untuk berkedip.
"Sudah lama aku menunggu saat ini datang, Cantik. Menggauli pelacur paling mempesona, paling diincar. Walau sekarang kau bunting, setidaknya hargamu tidak lagi begitu mahal! Aku sudah patungan dengan saudaraku untuk bisa merasakan nikmatnya bercinta denganmu, Cantik. Puaskan kami malam ini. Berikan kami apa yang kami dambakan selama ini."
Hamidah memejamkan mata ketika dengan rakus dan penuh nafsu, kedua lelaki itu mulai begerilya di tubuhnya.
"Lakukan apa yang ingin kalian lakukan, tapi aku mohon, jangan sakiti tubuhku. Kasihani bayi yang kukandung."
Kedua lelaki itu tersenyum culas. Hamidah bukannya tidak tahu dengan dua pelanggan rumah bordir ini. Mereka terkenal temperamen dan suka main kasar. Hatinya sangat kecut, takut kalau sampai tubuhnya harus didera dengan pukulan yang tidak sanggup ia tahan.
"Akh, cemas kamu rupanya, Cantik. Justru kami tidak bernafsu kalau tidak melihatmu merintih kesakitan. Apalagi, aku ingin menyesap darah dari bibirmu yang pecah!"
Hamidah terpental ke kasur ketika sebuah tamparan kuat hinggap di wajahnya. Mulutnya terasa asin. Pipinya pun panas. Sekali, dua kali sampai berkali-kali tamparan dilayangkan kedua lelaki itu.
Pipinya terasa kebas dan sakit. Bibirnya benar-benar pecah. Kedua lelaki jahat itu berebutan mencium bibirnya. Perut Hamidah terasa mual membaui aroma napas kedua orang tersebut. Busuk dan ingin sekali Hamidah meludahi mereka.
Puas menampar Hamidah, mereka mulai melakukan kekerasan fisik di bagian tubuhnya yang lain. Remasan, pukulan membuat Hamidah memohon-mohon. Pada puncaknya, Hamidah harus merasakan dual penetrasi yang sangat menyakitkan.
Matanya sampai terbelalak saking perihnya. Napasnya megap-megap karena cekikan salah satu dari mereka.
Hamidah merasa ia akan mati malam itu. Terbayang wajah tua ibunya, mengucapkan ribuan maaf atas ketidakbisaannya menjaga diri.
Di ujung kesadaran, Hamidah menangkap gelak tawa dua lelaki itu setelah akhirnya semua terasa gelap.
***
Ia tersadar ketika tubuhnya terasa diguncang. Perlahan-lahan matanya terbuka. Terlihat langit yang kelabu. Telinganya menangkap deru mesin. Dengan susah payah ia mencoba duduk. Terkejut mendapati dirinya berada di dalam bak mobil pick up. Bersatu dengan beberapa ekor ayam yang terikat.
Matanya mencoba mengenali daerah yang ia lalui. Seketika matanya merebak. Ini jalan pulang. Jalan menuju kampung halaman. Hamidah menangis terisak-isak. Sesakit-sakitnya ia punya badan, lebih sakit lagi rasa hatinya.
"Entah ke mana akan aku sembunyikan rasa malu ini. Ibu, masih maukah engkau menerimaku? Aku pulang dalam keadaan berbadan dua. Akankah hidupku tambah susah, Bu? Ya Tuhan, takdir apa yang kau berikan? Kenapa begitu berat rasanya. Cabut saja nyawaku, Tuhan!" Hamidah terisak-isak dalam kegamangan hati. Dia sangat tahu bagaimana watak penghuni kampung. Mereka akan mendengar berita kehamilannya dan akan mengghibahinya berbulan-bulan. Ke mana pun Hamidah kelak melangkah, akan selalu jadi bahan gunjingan.
Akankah aku kuat menghadapinya? Batin Hamidah terasa ngilu. Mungkin saja ia kuat. Namun, bagaimana dengan ibunya? Usia tua harus diisi dengan peliknya kehidupan Hamidah. Ada ragu yang seketika menyergap. Sudah betulkah keputusannya untuk pulang ke kampung? Bukankah itu sama saja ia menggali kuburannya sendiri? Menyerahkan dirinya untuk dihina oleh penghuni kampung?
Kalau tidak pulang kampung, ia mesti ke mana? Apalagi dalam keadaan hamil begini. Bukankah ia akan tambah susah.
"Biarlah kutahan rasa sakit ini. Biarlah kucoba menghadapi semua yang akan terjadi. Dendamku harus terbalas. Lelaki durjana itu harus membayar mahal hasil perbuatannya. Tunggulah dari sekarang, Mas, kelak akan kukirim iblis ke rumahmu. Menghancurkan keluargamu dan membuatmu mati mengenaskan!" Hamidah mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit.
Sesaat mobil yang ia tumpangi berhenti. Jalanan sungguh sepi. Kiri kanan hanyalah kebun cengkeh dan kulit manis yang terlihat. Ia mendengar batuk kecil. Lalu sesosok tubuh keluar dari bagian depan. Dia berdiri di tepi jalan membelakangi Hamidah.
Terdengar bunyi kucuran air. Lalu desahan lega dari mulut lelaki itu. Ia berbalik dan terkejut mendapati Hamidah yang menatapnya tanpa ekpresi.
"Kamu sudah siuman?" Lelaki itu mendekat. Mata merahnya menatap Hamidah, sementara bibirnya menyunggingkan senyum.
"Kamu tenang saja. Aku akan mengantarkanmu sampai rumah. Ngomong-ngomong, aku Arif. Di kota tadi, aku terkejut mendapatimu ada di bak mobilku. Lalu dua orang pria mendatangiku dan menyuruhku mengantarkanmu pulang. Aku tidak tahu apa yang kamu alami. Jika tidak keberatan, kamu boleh pindah duduk ke depan. Lebih bersih dan tentu saja aku bisa memberimu minuman. Ayok." Lelaki bernama Arif berusaha seramah mungkin. Walau sempat ragu, Hamidah akhirnya memutuskan untuk pindah ke depan.
Dengan sudut matanya, Hamidah menatap lelaki di sampingnya itu. Taksirannya, lelaki itu berusia sekitar tiga puluh tahun. Dengan wajah yang bisa dikatakan cukup gagah. Memelihara kumis tipis dan jenggot yang tidak terlalu panjang. Cuma matanya memang terlihat memerah. Bisa saja karena jauhnya mengendarai mobil.
Hanya keheningan yang tercipta di ruang sempit itu. Hamidah mencoba membasahi kerongkongan dengan air kemasan yang diberikan Arif. Sementara Arif ragu untuk bertanya, kenapa perempuan di sampingnya itu terlihat babak belur.
"Kamu mau bercerita tentang apa yang terjadi?" Arif memberanikan diri bertanya. Hamidah meliriknya sekilas, lalu memejamkan mata.
"Walau aku bisa menduga, cuma menurutku kamu harus kuat. Hidup memang penuh dengan perjuangan. Selalu ada keindahan di balik musibah yang terjadi."
Hamidah mendengkus. Sangat terganggu dengan ucapan lelaki di sampingnya itu.
"Hidupku sudah hancur. Ceramah apa pun yang kamu berikan tidak akan bisa membuat hatiku membaik. Kamu tahu apa yang akan aku temui di kampungku nanti?"
Hamidah menatap tajam ke arah Arif. Lelaki itu jadi kikuk.
"Kesengsaraan! Kamu tahu apa yang aku bawa? Malu dan penderitaan! Semuanya gara-gara makhluk celaka di dalam perutku ini!"
Hamidah lepas kendali. Dia meraung sembari memukul-mukul perutnya. Mobil berhenti mendadak.
"Hei! Kendalikan dirimu! Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri!" Arif meraih tangan Hamidah kuat. Mata mereka saling bertemu. "Dengar! Apa pun yang kamu alami, jangan membuatmu lemah dan rapuh. Jalan yang kamu ambil adalah pilihanmu sendiri. Apa pun yang terjadi, itu adalah resiko yang harus kamu hadapi!"
Hamidah tertawa terbahak-bahak. "Kamu tidak tahu bagaimana aku! Jangan coba-coba terlihat keren di depanku. Aku tidak butuh ceramahmu!"
Hamidah membuka pintu mobil lalu turun dengan cepat. Walau tubuhnya masih terasa sakit, ia paksakan untuk berjalan. Lebih baik aku menjauh dari orang yang hanya bisanya menggurui, batinnya sambil terus menarik langkah.
Namun, rasa perih di selangkangannya membuatnya terhenti. Dia melihat ke bawah. Cairan merah merembes.
Hamidah pucat.
"Tidak! Tidak! Kau tidak boleh mati, Nak! Tidaaak! Kau harus bertahan, Sayang. Tolong, jangan tinggalkan ibu."
Hamidah jatuh perlahan-lahan ke rerumputan kering. Arif yang melihat itu segera turun dari mobil. Mendekati Hamidah dengan khawatir.
"To ... long aku ...." Hamidah mencengkeram kaki Arif dengan kuat. Di saat itulah ia merasa sangat membutuhkan bantuan lelaki tersebut.
Dengan sigap Arif mengangkat tubuh Hamidah ke mobil. Perempuan itu mati-matian menjaga kesadaran. Dia masih merasakan darah keluar dari kemaluannya.
"Selamatkan anakku," desis Hamidah di antara rasa sakit yang mendera. Akhirnya ia kalah. Membiarkan kegelapan memberati matanya. Mengabaikan teriakan Arif yang panik luar biasa.
🌼🌼🌼
"Kamu sadar?"
Hal pertama yang Hamidah lihat adalah seraut wajah tampan yang menyejukkan hati. Lelaki itu mengucapkan syukur sembari menarik napas lega. Ia mengusap lembut kepala Hamidah.
"Aku di mana?" Matanya memeriksa kamar yang dipenuhi nuansa putih.
"Kamu di klinik. Syukurlah, kamu tidak apa-apa. Aku senang melihatmu sudah siuman."
Mengetahui dirinya di rumah sakit, Hamidah menangis. Pikirannya sudah menduga yang bukan-bukan.
"Aku kehilanga dia, bukan?" Ia mengelus perutnya lembut. Arif meraih jemari Hamidah, meremasnya pelan.
"Tidak. Dia aman."
Ucapan Arif membuat separuh nyawa Hamidah kembali. Ia memejamkan mata. Merasakan detak mungil di dalam perutnya. Jangan tinggalkan ibu, Nak.
"Aku akan menemanimu malam ini di sini. Besok pagi kita ke kampungmu. Setelah itu aku akan kembali ke kota. Aku berharap, kamu baik-baik saja. Bertahan dan kuatlah demi anakmu."
Hamidah tahu lelaki itu akan kembali berkhotbah. Ia memilih memejamkan mata. Berharap segera sampai di rumah dan bersembuyi dari dunia.
Aku harus kuat!
Bersambung ....
Nurhayati terkejut, ketika di subuh buta pintu rumahnya diketuk. Tidak bisa menebak, siapakah gerangan yang bertamu di saat azan subuh baru saja selesai dikumandangkan.
Dengan kaki tertatih dan badan sedikit terbungkuk, perempuan tua itu berjalan menuju pintu. Melepas palang kayu dengan hati-hati. Rumah tua dan terlihat uzur dimakan zaman itu mengeluarkan bunyi derit ketika pintunya dibuka.
"Ibu ...."
Siluet hitam seorang perempuan membuatnya berpikir cepat, kalau yang ada di depan dan memeluknya saat ini adalah Hamidah, buah hati tercinta.
"Hamidah?" Nurhayati merenggangkan sedikit pelukan. Heran melihat anaknya pulang sambil menangis. Mata tuanya berusaha melihat dengan jelas wajah Hamidah.
"Ampunkan Hamidah, Bu. Ampunkan anakmu yang kotor ini. Hamidah tidak tahu harus ke mana lagi mengadu. Hamidah tidak tahu lagi harus pulang ke mana. Tolong Hamidah, Bu."
Istighfar digaungkan berkali-kali di dalam hati Nurhayati. Berharap kalau semua yang ia lihat dan dengar adalah mimpi.
"Masuklah dulu, Nak. Masuklah. Tenangkan dirimu. Ibu ... ambilkan air minum, ya?"
Hamidah dipapah menuju ranjang kayu yang biasa digukan ibunya untuk tidur. Menangis terisak-isak.
Sementara itu Arif hanya bisa berdiri di depan pintu. Bingung harus melakukan apa. Namun, dia tidak mungkin berlama-lama di kampung orang. Segala sesuatu bisa saja terjadi. Apalagi dia merasa perempuan yang ia tolong pasti ada kenapa-kenapa.
Berpikir sampai di sana, ia mendekati Hamidah dengan cepat. "Maaf, aku tidak bisa lama-lama. Barang-barangmu kutaruh di sini. Aku harus pamit. Maaf, kalau aku tidak bisa membantu lebih banyak."
Hamidah tidak menjawab. Arif pun tidak berniat menunggu lebih lama. Segera ia keluar dari rumah dan selanjutnya meninggalkan rumah Hamidah secepat yang ia bisa.
"Minum, Sayang?"
Secangkir teh hangat disodorkan ke depan wajah Hamidah. Perempuan itu menerimanya dan menyesapnya dengan pelan.
Dengan penerangan lampu lima watt, Nurhayati memperhatikan wajah Hamidah dengan saksama. Terlihat bengkak di bagian mata, bibir pecah, dan memar-memar di bagian pelipis.
"Siapa yang tega menyakitimu, Nak? Katakan sama ibu. Siapa?"
Nurhayati menangis. Hamidah dengan cepat menaruh gelas di atas meja kayu.
Hamidah menarik napas berat. Dia tahu, apa yang ia sampaikan akan membuat ibunya terkejut.
"Bu, Hamidah sudah tamat. Tidak ada lagi yang tersisa di diri ini. Tujuan baik Hamidah ke kota hanya berakhir petaka bagi diri ini. Hamidah diperkosa, Bu. Dijadikan pelacur! Dan sekarang, Hamidah berbada dua."
Jantung di dalam rongga dada Nurhayati serasa berhenti berdenyut. Tidak percaya dengan pendengarannya. Kembali ia istighfar berkali-kali untuk menenangkan diri.
"Astaghfirulllah, Ya Allah. Hamidaaah! Kenapa buruk sekali peruntunganmu, Nak ...."
Hamidah menangis terisak. "Maafkan Hamidah, Bu. Maafkan anakmu ini."
Dua beranak itu saling berangkulan dalam duka dan nestapa. Hancurnya hati Nurhayati tidak terperi. Satu-satunya putri yang ia punya, sekarang tak ubahnya seperti sehelai daun yang gugur dari ranting pohon.
"Apa salah dan dosaku, Ya Allah? Sehingga Engkau timpakan azab sepedih ini ke anakku? Apa salah kami, Ya Allah?"
Tanya yang kian hari selalu digaungkan oleh Nurhayati. Jiwanya benar-benar terpukul. Tidak sanggup menerima kenyataan atas petaka yang menimpa Hamidah.
Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Pepatah lama itu juga berlaku untuk kasus Hamidah. Walau keluar rumah hanya sekali dua kali, tapi mata ibu-ibu tetangga yang jeli langsung menangkap ada yang tidak beres dengan Hamidah.
Dan mulailah gosip bersileweran di langit kampung yang kecil itu. Mereka tak henti-hentinya mengurusi apa yang terjadi dengan Hamidah. Dari hari ke hari. Bulan ke bulan, topik tentang Hamidah berbadan dua menjadi obrolan panas di antara sesama penghuni kampung.
Semua orang mulai mencari tahu dengan bertanya langsung ke Nurhayati. Perempuan tua itu awalnya mengelak. Namun, ketika rumahnya diserbu warga, mendapati Hamidah sudah pecah ketuban. Menjerit-jerit minta tolong agar ada yang membantunya melahirkan.
Bukannya mendapat pertolongan, warga malah murka. Mereka mengganggap Hamidah membawa bala buat kampung. Melahirkan bayi haram sama saja dengan merusak marwah kampung.
Mereka membakar rumah Nurhayati. Sementara Hamidah berteriak-teriak dan mulai putus asa. Berharap ada rasa kemanusiaan di hati warga yang beringas.
Mereka bersorak-sorai ketika api kian melalap kayu-kayu tua penyangga rumah. Nurhayati sudah kehabisan tenaga berusaha menghentikan orang-orang yang membakar rumahnya.
Di antara deru api yang kian mengamuk, sayup-sayup terdengar bunyi tangisan bayi.
Sontak semua teriakan warga terhenti. Suasana sangat hening, hanya bunyi derik api dan lengkingan bayi Hamidah.
"Astaghfirullah! Apa yang telah kita lakukan?"
Salah satu dari mereka berteriak. Namun, tak ada lagi yang mampu menerobos api yang membakar. Nurhayati menatap kerumunan orang-orang dengan tatapan penuh kebencian.
"Hari ini ... aku ... mengutuk kebiadaban kalian! Jika aku mati, arwahku akan gentayangan dan membunuh kalian semua! Aku bersumpah demi langit dan bumi! Aku akan menuntut balas atas semua kekejaman kalian ini!"
Selepas berteriak seperti itu Nurhayati menerjang kobaran api.
Semua warga terhenyak.
Semua mata melotot tidak percaya.
Dada mereka dipenuhi ketakutan. Satu per satu dari mereka segera memutuskan meninggalkan tempat tersebut seiring dengan jeritan kepedihan Nurhayati yang terbakar bersama puing-puing rumahnya.
Langit bahkan seakan-akan membekukan awan melihat kejahatan manusia. Percikan-percikan bunga api beterbangan di udara. Membawa kabar ke angkasa kalau satu tragedi baru saja menimpa keturunan Adam.
Asap hitam mengepul di kampung kecil yang susah diakses tersebut. Rumah Nurhayati yang memang terpisah cukup jauh dari pemukiman penduduk sekarang hanya tinggal arang yang masih bercampur dengan bara api.
Malam itu, tidak ada yang tahu kalau dari sisi lain rumah Hamidah, yang berada di dekat hutan, di saat api berkobar, seorang lelaki menyerbu masuk, mengangkat Hamidah yang tidak sadarkan diri sekaligus dengan bayinya. Melarikan sekuat tenaga ke dalam hutan.
Terus berlari sehingga dia melewati sungai kecil, keluar dari hutan ilalang dan berada di tepi jalan. Sebuah mobil terparkir di sana. Segera ia masukkan Hamidah dan bayi yang menangis.
Masih sambil berdoa, dia memacu mobil sekencang-kencangnya. Berharap ibu dan anak tersebut bisa diselamatkan. Tidak pernah ia menduga akan mendapati malam jahanam seperti ini. Pengalaman menegangkan dan menakutkan yang pernah ia saksikan.
"Bangsat! Mereka bukan manusia! Tega-teganya membunuh ibu dan bayi tidak berdosa! Ya Tuhan, azablah mereka dengan laknat-Mu!"
Dia terus memacu mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Bagaimanapun, dia sudah terpikat pada pandangan pertama ketika bertemu Hamidah.
***
Bagaimana kelanjutan kisah ini?
Akankah Hamidah selamat? Akankah bayinya selamat?
Penasaran?
Ramaikan kolom komentar.
Kita kembali dulu ke saat-saat api melahap habis rumah Hamidah.
"Hamidah! Di mana kamu, Nak? Hamidaaah! Jawab Ibu! Ya Allah, di mana anakku!?"
Di antara deru api yang kian menggila, Nurhayati mencoba melewati kobaran panas yang menyengat. Matanya yang sedikit rabun, berusaha fokus mengitari area rumah.
Lengkingan bayi terdengar di telinganya sebelah kanan. Harapan pun bergejolak di hatinya. Dalam jutaan do'a yang dia ucapkan, hanya satu keinginanannya agar dikabulkan Tuhan, bisa melihat cucu dan anaknya, walau hanya sekejap saja.
Kaki tua itu melangkah secepat yang ia bisa. Tak peduli kalau beberapa potong bara ia injak, tak peduli kalau ujung bajunya sudah mulai terbakar, tak peduli kalau kayu di langit-langit rumahnya berderik-derik dimakan api, Nurhayati terus bergerak menuju sumber suara.
Selangkah
Dua langkah
Tiga langkah ....
Bummm!
Plafon kayu runtuh. Nurhayati melompat mencoba menghindar. Namun, apa daya tubuh tuanya tak mampu bergerak sigap.
Batang kayu sebesar paha manusia dewasa menghimpit kakinya. Raungan Nurhayati menyayat hati.
"Ya Allah! Tolooong!"
Ia berteriak, memohon ada yang mendengar jeritan kesakitannya. Panasnya bara api membakar daging betisnya. Bajunya pub terbakar dengan cepat. Tangan tuanya kalang-kabut memadamkan api di badannya.
Dalam keremangan matanya yang rabun, hanya sejarak sepuluh jengkal, ia melihat Hamidah tergeletak. Sementara lengkingan bayi terdengar begitu memilukan.
"Cucuku ..., Hamidaaah! Wahai anakku malang. Ini ibu ... bangunlah, Nak! Selamatkan anakmu!" Rintihan dan harapan seakan-akan memenuhi ruang jiwa perempuan tua itu. Ada kemarahan yang ia dendangkan atas cobaan yang diberikan Tuhan.
"Haruskah aku mati dalam keadaan berburuk sangka kepada Engkau, Ya Allah? Begitu berat cobaan yang Engkau berikan. Aku mohon, Ya Allah, berikan sedikit keajaiban untuk tubuh tua ini. Selamatkan anak dan cucuku, Ya Allah."
Walau kayu yang terbakar itu mulai mengoyak-ngoyak dagingnya, Nurhayati menarik kakinya sekuat tenaga. Sakit, perih, dan pedih berusaha dia tahan.
Dia terus bergerak sampai akhirnya daging di kakinya benar-benar terkelupas. Tulang tungkainya terlihat jelas. Namun, ia tidak peduli. Dia terus merayap mendekati Hamidah.
"Hamidah ... bangun, Nak! Bangun ...." Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dia tepuk-tepuk lembut pipi Hamidah.
Mata lelah itu perlahan terbuka, "Ibu ...."
Lemah dan seakan -akan tak mampu Hamidah menggerakkan bibir. Lidahnya terasa kaku, tenggorokannya kering dan pedih.
"Maafkan ibu, Nak. Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk hidup. Marilah kita bersama-sama menghadapi datangnya maut. Mungkin inilah yang terbaik bagi kita. Kamu hanya perlu tahu kalau ibu begitu mencintaimu."
Nurhayati mencium pucuk kepala Hamidah. Api masih berkobar dengan garang. Masih terasa panas membakar.
"Anakku, Bu ... alangkah malangnya anakku ... bahkan ... aku tidak sempat melihat wajahnya ...."
Bagaimana mungkin Hamidah bisa melihat bayi yang mengeak-ngeak di antara dua pahanya. Suaranya terdengar parau dan menyedihkan. Seakan-akan ikut marah atas takdir yang menimpa.
"Relakan, Nak! Relakan ...."
Mendadak Nurhayati terpotong ucapannya ketika tiba-tiba muncul seorang lelaki di depannya. Hamidah pun menatap orang tersebut nanar, lalu penglihatannya memudar, dan akhirnya gelap mengambil alih.
"Hamidaaah!" Nurhayati menjerit, melihat Hamidah terpejam.
"Tolong ... siapa pun kamu adanya. Tolong selamatkan anak dan cucuku. Aku mohon ... mereka tidak bersalah! Tolonglah, demi Allah, hanya kamu yang bisa menolong."
Lelaki itu terlihat tegang dan cemas dalam waktu bersamaan. Dia segera mengangkat bayi Hamidah yang masih ada tali pusarnya. Dia letakkan di atas perut wanita malang itu. Lalu dengan sekuat tenaga dia angkat ibu dan anak tersebut.
"Bagaimana denganmu, Bu?" Lelaki itu terlihat meneteskan air mata.
"Jangan pedulikan aku! Pergilah lekas! Bagiku, keselamatan Hamidah dan anaknya adalah yang terpenting!"
Nurhayati memaksakan diri tersenyum. Lelaki itu mengusapkan wajah ke lengannya.
"Maafkan aku, Bu!"
Seiring dengan ucapannya tersebut, kayu di langit-langit rumah kembali jatuh. Kali ini menghantam kepala Nurhayati dengan telak.
Tak ada lagi teriakan dan jeritan. Hanya saja darah mulai menggenang bersama api yang kian membara.
Lelaki itu berlari sekencang-kencangnya. Dengan hati yang remuk redam.
"Andai aku bisa mencegahnya lebih awal. Hamidah tidak akan seperti ini. Ibunya tidak akan mati mengenaskan. Andai saja aku tidak pengecut, sudah kuselamatkan ia jauh-jauh hari. Andai saja ....!"
Dia menangis terisak-isak sembari menggendong Hamidah dan bayi malang itu.
"Bertahanlah Hamidah! Bertahanlah! Aku akan menyelamatkanmu. Jangan mati dulu. Aku ... aku mencintaimu!"
***
Sementara itu, peristiwa mengenaskan yang baru saja terjadi membuat Kepala Kampung terkejut. Dia yang baru saja pulang dari kota, mendapati tragedi mengerikan tersebut.
Malam itu juga dia menyuruh semua warga berkumpul. Mencari tahu siapa yang telah meletupkan malapetaka mengerikan itu.
"Waluyo, Pak!" Terdengar seseorang berteriak. "Dia yang memprofokasi warga. Kita semua tersulut emosi karena kata-katanya, Pak!"
"Wedon! Di mana Waluyo sekarang?"
"Saya ... di sini, Pak Kepala!" Seorang lelaki muda berusia 25 tahun mengangkat tangan. Wajahnya takut sembari menundukkan kepala.
Kepala Kampung mengusap wajahnya gusar. Kenyataan ini benar-benar membuatnya geram. Waluyo adalah adiknya sendiri. Bagaimana bisa dia menurunkan hukum untuk kesalahan yang telah diperbuat adiknya itu.
"Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan, Waluyo?"
Waluyo terdiam. Namun, wajahnya tidak lagi merunduk.
"Kau baru saja menggerakkan masa untuk membunuh perempuan tua dan perempuan hamil! Kau sadar betapa jahatnya kelakuanmu itu?"
Waluyo bergerak mendekat. "Sudahlah, Bang! Seharusnya abang berterima kasih kepadaku. Perempuan sundal itu sudah sepantasnya mati. Dia telah mencemari kampung kita dengan aib. Apa kata desa tetangga jika tahu akan hal ini? Abang juga yang akan susah."
Kepala Kampung dan penduduk lainnya melengak kaget. Tidak menduga kalau Waluyo tidak takut sama sekali.
"Kita semua di sini terlibat. Kita telah sepakat untuk mengenyahkan wanita murahan tersebut. Jadi kalian tidak boleh menyalahkan aku saja. Ini demi kebaikan kampung! Demi kebaikan kita bersama! Memang terlihat kejam dan jahat. Namun, jika tidak begitu, hukum tidak akan pernah tegak di kampung ini."
Gumaman warga serupa desingan mesin-mesin pabrik. Berisik. Sebagian mengaminkan, sebagian tidak setuju dengan ucapan Waluyo.
"Pokoknya, semua yang terlibat malam ini harus tutup mulut rapat-rapat. Biarkan peristiwa ini terkubur di dalam hati masing-masing. Selama kita bisa merahasiakan kejadian ini, kita aman!"
Hanya keheningan yang menjawab ucapan lantang seorang Waluyo. Dia berdiri dengan pongah di samping abangnya, Sang Kepala Kampung.
"Sekarang, kita pulang dan besok kita rapikan tempat kebakaran tersebut. Kunci mulut kalian rapat-rapat! Ingat, jika sampai bocor ke telinga penduduk kampung lain, maka aku tidak segan-segan membunuh kalian!"
Waluyo mengacungkan tangannya ke udara.
Dor!
Andai Waluyo sadar, kalau malam itu istrinya juga melahirkan di rumah sakit. Namun, ia malah sibuk membakar rumah Hamidah.
Akankah takdir akan mempertemukan mereka kembali? Di mana mata rantai baru saja tercipta. Dan ujung kematian akan menghampiri hidup seorang Waluyo.
Bersambung ....