Bab 1

Adira menatap cermin di kamar hotel yang gelap. Hujan deras yang jatuh di luar hanya menambah kesedihan yang menggerogoti hatinya. Setiap tetes air yang membentur jendela seperti mengingatkannya pada kenangan yang pahit, kenangan tentang bagaimana pria yang ia cintai bertahun-tahun, Rio, kini memilih untuk menikahi sahabatnya, Nadya. Sakitnya seperti ditusuk berkali-kali. Dunia yang dulu dia kenal, dunia yang penuh dengan harapan dan impian, kini hancur berkeping-keping.

"Kenapa aku bodoh sekali?" Adira berbisik pada dirinya sendiri, suara itu terdengar serak, hampir tenggelam oleh gemuruh hujan yang beradu dengan langit. "Kenapa aku tidak bisa lebih kuat? Kenapa aku harus menunggu sampai semuanya hancur?"

Dia melangkah mundur, berusaha menghindari bayangannya di cermin. Wajah yang masih terlihat cantik, namun penuh dengan keremangan kesedihan. Mata yang biasanya bercahaya kini tampak kosong, suram, dan jauh dari kilau yang dulu pernah ada. Pikirannya melayang kembali pada hari itu-hari ketika Rio melamarkan Nadya di depan matanya, di tempat yang dulu mereka sering kunjungi bersama, di restoran favorit mereka. Semua yang pernah dia impikan, semuanya patah dalam sekejap.

Perasaan terkhianati itu membakar dalam dirinya, membuatnya merasa kecil dan tak berharga. Bahkan cinta yang ia berikan selama bertahun-tahun tak cukup untuk mempertahankan pria itu di sisinya. Mengapa dia begitu mudah berpaling? Mengapa Nadya, sahabat yang selama ini dia percayai, bisa begitu tega?

Tangannya gemetar saat ia meraih gelas di meja sampingnya, memandang isinya yang berwarna kemerahan. Anggur. Minuman yang biasa ia nikmati bersama Rio dalam suasana santai. Tapi malam ini, tidak ada kebersamaan, hanya kesendirian yang menyesakkan. Dia merasa lelah-lelah dengan dirinya sendiri, lelah dengan perasaan yang terus-menerus membebaninya.

"Jika aku tidak bisa mendapatkan cinta itu, mungkin aku bisa melupakan semua ini, kan?" pikirnya, mencoba mencari cara untuk mengusir kesedihan yang menyesakkan.

Tanpa berpikir panjang, Adira mengenakan mantel dan keluar dari kamar hotel. Teriakan hujan yang semakin keras hanya menambah rasa kacau dalam dirinya. Dia butuh pelarian, sesaat saja, agar bisa melupakan rasa sakit ini. Agar bisa berhenti merasa begitu rapuh.

Di bar yang gelap itu, Adira duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Ia memesan segelas anggur lagi, berharap cairan itu mampu mengalirkan kesedihannya pergi. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak gelas yang kosong, semakin dalam rasa hampa itu merayapi jiwanya. Hatinya yang terluka seolah membutuhkan pelarian lebih jauh lagi-sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, dan lebih liar.

Tidak ada yang mengganggu kesendiriannya sampai pria itu datang.

Kian. Namanya terdengar di telinganya seperti bisikan dari dunia yang tidak dikenalnya. Pria itu masuk dengan langkah pasti, penuh karisma, dan aura yang begitu kuat. Tidak seperti kebanyakan pria yang ada di bar itu, dia bukan hanya sekadar tampan-dia seperti sebuah kekuatan yang menahan segala perhatian. Wajahnya yang tajam, rambut hitam berkilau, serta tubuh tegap yang tampak sempurna dalam balutan jas gelap, membuatnya seolah keluar dari dunia yang berbeda.

Kian mendekat, matanya yang tajam tidak melepaskan pandangan dari Adira yang duduk sendiri, tenggelam dalam pikirannya. Tanpa berbicara, dia menarik kursi dan duduk di hadapan Adira. Ada kekuatan dalam dirinya yang begitu sulit untuk diabaikan, seperti sebuah magnet yang menariknya ke dalam dunia yang asing dan berbahaya.

"Apakah kamu sedang merayakan kesedihanmu atau sedang mencoba untuk melarikan diri?" suaranya dalam dan tenang, namun ada sedikit tantangan yang mengalir di sana.

Adira, yang sedang kebingungan dengan keberadaan pria ini, hanya bisa terdiam. "Aku tidak ingin berbicara," jawabnya pelan, berusaha untuk menjaga jarak, meskipun hatinya berdebar lebih cepat karena kehadiran pria ini.

Namun, Kian hanya tersenyum tipis, senyum yang mengisyaratkan bahwa dia tahu lebih banyak dari yang Adira perkirakan. "Kamu datang ke sini untuk melupakan sesuatu, bukan?" tanyanya, suaranya serak dengan penuh rasa ingin tahu.

Adira menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Aku... aku baru saja kehilangan seseorang yang sangat penting bagiku," katanya, meskipun rasanya sulit untuk mengucapkannya. "Dan sekarang, aku merasa hancur."

Kian menatapnya dalam-dalam, seolah menilai setiap kata yang keluar dari bibir Adira. Tanpa memperdulikan suasana hati Adira, ia justru lebih dekat lagi, suaranya semakin rendah dan memikat. "Jika kamu benar-benar ingin melupakan, maka izinkan aku membantumu," katanya.

Adira, yang hampir tidak bisa berpikir jernih karena campuran antara anggur dan rasa perih di hati, hanya bisa terdiam. Hatinya bergejolak. Apa yang sedang dia lakukan? Ini bukan dirinya. Ini bukan Adira yang selama ini dia kenal.

Namun, tatapan Kian begitu tajam dan menguasai. Seperti ada kekuatan di dalamnya yang mampu memengaruhi setiap langkah yang dia ambil. Dalam beberapa detik, semua rasionalitas itu lenyap, tergantikan oleh kebutuhan untuk melepaskan dirinya dari rasa sakit yang semakin mendalam.

Dia mengangguk pelan, seolah sudah tidak punya pilihan lain.

"Baiklah," jawabnya, suara itu hampir tenggelam dalam kebingungannya. "Aku... aku ingin melupakan semuanya."

Kian tersenyum, dan senyum itu-senyum yang penuh dengan kekuatan dan keinginan-membuat Adira merasakan perasaan yang aneh, sekaligus menakutkan. Senyum itu seperti peringatan, tapi juga janji akan sesuatu yang lebih besar.

Malam itu, Adira menyerahkan dirinya pada dunia yang begitu jauh dari yang ia kenal-dunia yang dipenuhi dengan pesona, godaan, dan janji yang tidak pernah dia duga akan datang.

Bab 2

Keesokan harinya, Adira terbangun dengan rasa sakit yang mengerikan di kepalanya. Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai hotel terasa begitu menyakitkan, seolah cahaya itu ingin menembus ke dalam jiwanya yang hancur. Matanya masih berat, tubuhnya lelah, dan pikirannya berkelindan antara penyesalan dan kebingungannya sendiri. Ia menatap sekeliling, ruang hotel yang kosong, terasa sepi, kecuali untuk suara hujan yang masih terdengar di luar sana. Namun, yang lebih menonjol adalah kekosongan yang mengisi ruang hatinya.

"Astaga," desahnya, mengingat kembali kejadian malam itu. Bagaimana ia menyerahkan dirinya begitu saja pada seorang pria yang baru dikenalnya. Pada Kian. Bagaimana ia mengabaikan setiap perasaan yang pernah ia miliki untuk Rio. Semua itu terasa seperti mimpi buruk, dan kini, ia terjebak di dalamnya.

Namun, saat matanya melirik ke meja samping tempat tidur, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di sana tergeletak sebuah kartu nama. Kartu nama itu mengingatkannya pada sesuatu yang tak ingin ia ingat-pada Kian. Pria itu, yang dengan mudahnya mampu membuatnya menyerah pada godaan yang datang begitu kuat, begitu menggoda. Hatinya berdegup kencang saat mengingat kata-kata Kian yang terdengar begitu mendalam dan penuh kekuatan.

"Kau tidak bisa melarikan diri dariku, Adira," ucapnya di malam itu, begitu dekat, begitu penuh pesona, seolah Kian tahu bahwa dia sedang berada di ambang kehancuran. "Malam ini, kau akan melupakan segala sesuatunya. Kau akan merasakan kebebasan dalam pelukanku."

Adira menutup matanya, merasakan gelombang emosi yang datang begitu cepat. Tapi saat ia membuka matanya, rasa takut itu kembali muncul. Bagaimana bisa ia begitu mudah terperangkap dalam pesona seorang pria yang tidak ia kenal? Mengapa ia harus begitu rapuh malam itu? Mengapa ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri?

Namun, rasa penyesalan yang mengalir dalam dirinya tidak mengurangi kenyataan bahwa ia telah melakukannya-ia telah tidur bersama Kian. Dan sekarang, ia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat.

Dia bangkit dari tempat tidur dengan perasaan tak menentu, menatap sekeliling kamar yang kini terasa asing. Namun, sebelum ia sempat beranjak, ponselnya berdering. Adira mengerutkan kening, melihat nama yang muncul di layar. Itu adalah nama seseorang yang tidak pernah ia harapkan muncul dalam hidupnya lagi-Kian.

Dengan ragu, ia mengangkat ponsel itu, merasa terjepit di antara rasa bersalah dan rasa ingin tahu yang menggelayuti pikirannya.

"Adira," suara Kian terdengar dalam telinga, dalam dan menggoda, seperti selalu. "Bagaimana tidurmu malam ini?"

Adira menahan napasnya, menutup mata sejenak, mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya berdegup keras. "Kian, aku... aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin malam," katanya dengan suara gemetar, merasa malu dan cemas. "Aku... aku tidak seharusnya..."

"Tidak seharusnya apa?" Kian memotong, suaranya lebih rendah, namun penuh penekanan. "Apa yang terjadi kemarin malam, Adira, adalah sesuatu yang sudah lama kita berdua inginkan, bukan? Kau tidak bisa menyangkalnya. Aku tahu betul bahwa kau juga merasakannya."

Adira terdiam, kata-kata Kian mengguncang dirinya. Apa maksudnya dengan 'kau juga merasakannya'? Tidak, ini tidak benar. Tidak seharusnya dia merasa terikat dengan pria itu. Tetapi, dalam hatinya, ada perasaan yang tidak bisa ia hindari. Perasaan yang membingungkan, yang ia coba untuk tidak akui, tapi tetap saja merayapi setiap bagian dari dirinya.

"Kian, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang," akhirnya Adira berkata, suaranya hampir patah. "Aku merasa... aku merasa kehilangan kendali atas diriku sendiri."

Kian tertawa pelan, sebuah tawa yang penuh dengan kepercayaan diri, seolah dia tahu segalanya tentangnya. "Tidak ada yang hilang dari dirimu, Adira. Justru, kini kau lebih hidup dari sebelumnya, bukan? Kau hanya perlu menyadari satu hal-kau tak akan bisa melepaskan dirimu dari aku. Kau sudah terjebak."

Adira merasakan punggungnya menegang, rasa sakit itu kembali muncul, namun kali ini bukan hanya karena penyesalannya terhadap apa yang telah terjadi. Rasa takut juga merayapi dirinya. Dia merasa terperangkap dalam cengkeraman Kian, dan meskipun ia tahu itu adalah kesalahan, ia tak tahu bagaimana cara untuk melepaskan diri.

"Apa yang kamu inginkan dariku, Kian?" Adira bertanya dengan suara serak, mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. "Aku tidak ingin terjebak dalam permainanmu."

"Terlambat, Adira," Kian menjawab dengan nada yang penuh keyakinan. "Permainan ini sudah dimulai. Dan kau sudah menjadi bagian darinya. Aku ingin kau berada di sisiku, mengerti? Kau akan bekerja sama denganku, bahkan jika itu berarti kau harus menjalani hidup yang berbeda dari apa yang kau bayangkan."

Adira merasa jantungnya terhimpit. Apa yang dia katakan? Apa maksudnya? Mengapa semua ini terasa semakin membingungkan?

"Kau tidak punya pilihan," lanjut Kian, suaranya semakin dalam dan lebih menggoda. "Aku akan memastikan kita bertemu lagi, Adira. Dan saat itu terjadi, kau akan tahu bahwa kau tidak bisa melarikan diri dari apa yang telah terjadi malam itu."

Adira merasakan tubuhnya kaku. Kata-kata Kian mematikan setiap keberaniannya untuk menentang. Ada kekuatan dalam suara itu, dalam cara dia berbicara, yang seolah mengendalikan pikirannya. Mungkin Kian benar-mungkin dia sudah terjebak.

"Tunggu," Adira berusaha mengumpulkan pikiran yang kacau. "Kian, apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"

Ada keheningan beberapa detik sebelum Kian menjawab dengan suara yang lebih dingin, lebih penuh tekad. "Aku ingin semuanya, Adira. Aku ingin kau berada di bawah kendaliku. Dan aku tahu, kau akan memilih untuk tetap bersamaku. Kau tak akan bisa menolakku."

Setiap kata yang keluar dari mulut Kian semakin membuat Adira merasa kehilangan kendali. Setiap detik yang berlalu, semakin jelas bahwa dirinya sudah terperangkap dalam perangkap yang tidak bisa ia hindari. Ia merasa dirinya semakin dekat dengan jurang yang dalam, dan Kian adalah pria yang akan memastikan dia jatuh ke dalamnya.

"Jangan lari, Adira. Ini baru permulaan," suara Kian bergema dalam telinga Adira, dan ia tahu, tak ada jalan keluar lagi.

Bab 3

Hari itu, Adira merasa seperti hidup dalam sebuah mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Suara detak jam di dinding seolah menjadi pengingat waktu yang terus bergerak, tak peduli betapa ia berusaha melarikan diri dari kenyataan. Ia duduk di meja kerjanya, berusaha fokus pada buku-buku yang harus ia ajarkan kepada mahasiswanya. Namun, pikirannya terus melayang, kembali pada percakapan yang terjadi pagi itu dengan Kian.

Seperti sebuah mantra yang terus berulang dalam benaknya, kata-kata Kian tak pernah benar-benar hilang: "Kau tak akan bisa menolakku, Adira. Kau sudah terperangkap."

Dia ingin berteriak, ingin melemparkan semua perasaan ini jauh-jauh, tetapi setiap kali ia mencoba untuk mengalihkan pikirannya, bayangan Kian muncul lagi, dengan tatapan tajam dan senyum misterius yang selalu membuatnya merasa seolah-olah ia tak pernah benar-benar mengendalikan hidupnya.

Pagi itu, ketika ia tiba di kampus, ia merasa seolah-olah semua orang bisa melihatnya. Semua orang tahu tentang kesalahannya-tentang bagaimana ia menyerahkan dirinya pada seorang pria yang tak ia kenal hanya untuk melupakan rasa sakit yang begitu mendalam. Dia bisa merasakan tatapan teman-temannya, walaupun mereka tak mengatakannya, mereka tahu ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang terguncang dalam dirinya, sesuatu yang tak bisa ia sembunyikan.

Namun, yang lebih buruk lagi adalah kenyataan bahwa Kian ada di sana, di dunia yang tak pernah ia bayangkan akan ada. Saat ia melangkah masuk ke ruang dosen, ia hampir terjatuh melihat sosok pria itu berdiri di sana, seolah dunia ini adalah permainan yang sudah ia kuasai.

"Kian?" Suara Adira serak, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menarik perhatian pria itu yang sudah berdiri dengan sikap penuh percaya diri, menatapnya dengan tatapan yang membuat darahnya berdesir.

Kian tersenyum dengan cara yang sangat menggoda, senyum yang selalu membuat Adira merasa semakin terperangkap. "Adira," katanya, suaranya tenang namun penuh dengan ketegangan yang tak bisa ia hindari. "Aku kira kita akan bertemu lagi. Bagaimana hari pertama mengajarmu?"

Adira merasa seolah ada sesuatu yang menggelisahkan dalam dirinya. Setiap kata Kian adalah senjata, setiap gerakan pria itu adalah jebakan yang semakin mempersempit ruangnya. Ia tidak bisa lari, dan ia tahu itu. Tidak ada tempat yang aman di dunia ini selain berada di dekat Kian, meskipun hatinya meronta menolaknya.

"Saya... Saya tidak mengerti, Kian," jawab Adira dengan suara tertekan, berusaha menjaga jarak meskipun jantungnya berdebar begitu cepat. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"

Kian tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia mendekat, langkahnya lambat namun pasti, dan Adira bisa merasakan setiap gerakan tubuhnya yang penuh kekuatan. "Apa yang aku inginkan darimu?" Kian bertanya, seolah ia sedang berpikir, namun ada sinis dalam nada suaranya. "Aku ingin kamu, Adira. Itu sudah jelas."

Adira merasa tubuhnya menegang. "Tidak, Kian," jawabnya cepat, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Aku tidak bisa-"

"Terlambat," Kian menyela dengan senyum tipis. "Kau sudah terjerat dalam permainan ini sejak malam itu. Tidak ada jalan keluar lagi. Kamu tahu itu, bukan?"

Adira menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya, tetapi hatinya terus berdegup kencang. Ia tahu bahwa pria ini bukan orang sembarangan. Dia bukan hanya seorang gigolo yang ia temui di bar, dia adalah seorang Presiden Direktur, pria yang memiliki segalanya, termasuk kendali atas setiap orang di sekitarnya. Dan dia, Adira, hanyalah seorang wanita yang terjebak dalam pesonanya yang tak terelakkan.

"Kenapa kamu begitu yakin, Kian?" Adira bertanya, matanya menantang meskipun ia tahu itu adalah tindakan yang bodoh. "Kenapa kamu begitu percaya diri bisa mengendalikan hidupku?"

Kian tertawa pelan, tawa yang terasa sangat dalam dan penuh makna. "Karena aku tahu, Adira, bahwa kau tidak bisa menolak apa yang kita miliki. Kau ingin merasa hidup lagi, kan? Kau ingin merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa sakit itu. Dan aku... aku bisa memberikannya padamu."

Sesuatu dalam kata-katanya membuat perasaan Adira semakin kacau. Apa yang dia maksud dengan "aku bisa memberikannya padamu?" Perasaan itu, rasa takut dan gairah yang tercampur aduk, mengalir begitu cepat dalam tubuhnya. Ia merasa sangat terperangkap, seolah dunia ini telah dipenuhi dengan kegelapan yang diciptakan oleh Kian.

"Apakah kamu mencoba untuk menggoda saya, Kian?" tanya Adira, suaranya hampir tak terdengar, namun penuh dengan ketegangan yang terasa menyesakkan.

Kian mendekat, hampir berdiri di depan Adira, dan untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua. "Goda?" Kian mengulang, suaranya rendah, penuh dengan godaan yang begitu kuat. "Adira, kau tahu lebih dari itu. Apa yang kita miliki bukan sekadar godaan. Ini... sebuah kebutuhan. Kita saling membutuhkan."

Adira merasa tubuhnya terhimpit, setiap kata-kata Kian seperti racun yang merayapi darahnya. Apa yang dia katakan benar-mereka saling membutuhkan. Tidak, bukan mereka. Hanya dia yang membutuhkan Kian. Hanya dia yang merindukan sesuatu yang lebih besar, lebih intens, meskipun itu berarti ia harus tenggelam dalam dunia gelap yang penuh dengan kekuasaan dan godaan ini.

"Kian..." Adira merasa kata-kata itu tersekat di tenggorokannya, namun di dalam hatinya, ada keraguan yang semakin tumbuh. "Apa yang kamu inginkan dariku?"

Kian menatapnya dalam-dalam, senyumnya semakin lebar, dan Adira tahu bahwa dia sudah tak punya pilihan. "Aku ingin kamu bersamaku," jawab Kian dengan suara yang penuh dengan kekuatan. "Aku ingin kamu menjadi milikku. Selamanya."

Adira merasa jantungnya terhimpit, dan hatinya merasa seperti terbakar. Di hadapan Kian, ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Ia hanya bisa menjadi bagian dari dunia yang diciptakannya, dunia yang penuh dengan ketegangan, rasa takut, dan godaan. Dan meskipun ia berusaha keras untuk menolaknya, semakin lama ia semakin terperangkap dalam pesona pria itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED