Bab 1

Yang paling dibenci Rina adalah orang yang malas dan tidak disiplin. Sialnya entah kenapa tahun ini dia harus sekelas dengan murid-murid yang terkenal dengan rangking terendah dan paling bermasalah dari semua kelas di sekolah ini.

Dari mulai kelas yang ribut dan kotor sampai pertengkaran yang terjadi tiap kali pada jam pelajaran.

Sudah berkali-kali Mama Rina memprotes wali murid untuk memindahkan anaknya ke kelas lain tetapi tidak pernah dikabulkan. Rina terpaksa harus terjebak selama setahun kedepan bersama berandalan-berandalan yang dia benci.

Seperti biasanya Rina masuk ke kelasnya setengah jam sebelum bel masuk. Seperti biasa pula dia segera menarik kursinya dengan anggun dan tak lupa merapikan roknya terlebih dahulu—kebiasaan yang diajarkan mamanya sejak dulu. Setelah itu, dia mulai mengeluarkan peralatan tulis dan meletakkannya sejajar dengan buku-bukunya di atas meja.

Sambil menunggu pelajaran yang masih lima belas menit kemudian baru dimulai, Rina mengeluarkan sandwich dan susu organik yang dibawanya dari rumah dan memakannya perlahan sambil membaca buku pelajaran bab selanjutnya yang akan diajarkan hari ini.

Tiba-tiba saja, tanpa disadarinya, sebuah tas melayang tepat ke arahnya, menumpahkan susu dan sandwich yang terletak di meja dan terakhir mengenai dadanya.

Teriakan pertama Rina lebih dikarenakan rasa sakit yang lumayan tajam di bagian dadanya dan diikuti oleh tumpahan susu yang terasa dingin dan lengket di bagian roknya.

Teriakan kedua yang sebenarnya jauh lebih keras dan dipenuhi rasa syok yang hebat setelah melihat siapa yang melempar tas itu ke arahnya.

Aditya Harsono, sang iblis yang paling ditakuti murid-murid di sekolah Cita Utama. Reputasinya yang menakutkan, tak ayal membuat Rina pun membeku di tempatnya berdiri.

Ini kedua kalinya Rina bertemu dengan si iblis yang menatapnya dengan ekspresi malas.

Aditya memang jarang sekali masuk kelas. Dalam seminggu di kelas dua ini, dia cuma datang tiga kali, itu pun kebanyakan dihabiskan dengan tidur atau membolos ke kantin.

"Sorry!" kata si iblis itu santai setelah mengambil tasnya dan berjalan ke tempat duduk yang berada tepat di belakang bangku Rina.

Seperti biasa Adit menaruh tas di mejanya dan menempatkan kepalanya di atas benda tipis tersebut dan mulai tertidur.

Rina kesalnya bukan main, tapi dia tahu dia tak bisa memprotes manusia yang terkenal kejam itu. Dengan lesu dia mengambil tisu basah dan kering dari tasnya dan berlari ke arah toilet.

Dengan kesal Rina mulai membersihkan tumpahan susu tersebut dengan tisu basah untuk menghilangkan bau dan rasa lengket yang tersebar di baju dan di badannya. Setelah cukup bersih, dia dengan frustasi menyapukan tisu kering ke area yang masih basah, sambil dalam hatinya mengutuki si iblis sialan itu!

Bel masuk mulai berbunyi dan dengan panik, Rina segera berlari ke dalam kelas. Sialnya, Bu Rahma, guru bahasa Indonesia sudah berada di dalam kelas dan berdiri tepat di depan meja Rina serta tampak sedang bertanya mengapa meja itu terlihat begitu kotor.

Alhasil, begitu dia masuk, Bu Rahma langsung memarahinya dan menyuruhnya membersihkan mejanya sampai bersih.

Rasanya ingin kabur saja! Tidak pernah dia diperlakukan seperti ini sebelumnya. Dia selalu menjadi murid teladan dan tidak pernah mendapat hukuman sekalipun. Namun sekarang, guru favoritnya memarahi dan menghukumnya—diiringi oleh suara tawa ejekan dari yang lain.

Si iblis yang mengakibatkan ini semua malah memandanginya dengan tampang tak berdosa.

Ejekan itu berlangsung sampai beberapa hari dan membuat Rina semakin stres. Seakan semuanya bersepakat untuk membuatnya menderita.

Hal itu cukup mengganggunya dan merusak konsentrasinya habis-habisan, sehingga nilai-nilainya pun jadi ikutan merosot jauh karenanya. Bagaimana bisa dia yang termasuk siswa terpandai di kelasnya tiba-tiba mendapat nilai yang lebih buruk daripada murid peringkat 3 di kelasnya.

Rasa sebal yang dirasakan Rina memuncak dan berganti menjadi amarah. Keesokan harinya dia mengambil dua kotak susu dari tasnya dan menuangkan tepat di atas kepala Adit yang sedang tidur di mejanya saat istirahat.

Layaknya macan yang bangun dari tidurnya, Adit menggeliat perlahan dan bangun dari tempat duduknya.

Tatapan mata yang dipenuhi api kemarahan sontak membuat Rina melangkah mundur ke belakang.

Tapi dia tahu nasi sudah menjadi bubur. Jalan satu-satunya adalah menghadapinya.

"Brengsek! Udah gila ya?!" bentak Adit seraya mendorong bahu Rina kasar.

"Pem...pem...pembalasan! S-sekarang kita satu sama!" jawab Rina terbata-bata dengan badan yang gemetar.

Entah kekuatan apa yang masih bisa membuatnya menggerakkan kakinya dan berjalan ke arah tempat duduknya.

Namun belum lagi lagi dia sempat duduk, Adit memegang kerah di belakang kepalanya dan menyeretnya ke arah gudang penyimpanan alat-alat olahraga.

Dengan kasar Adit mendorong Rina masuk dan menutup pintunya dengan kuat.

Melihat pintu yang terkunci dan ekspresi wajah Adit yang bagaikan binatang buas yang siap memangsa korbannya, membuat tubuh Rina semakin gemetar.

"B-bu... buka pintunya! A-aku mau kembali ke kelas!"

"Enak aja! Kau pikir setelah melakukan semua itu tadi, kau bisa keluar dari tempat ini dengan selamat!" ancam Adit seraya mendorong Rina hingga terjatuh ke lantai gudang yang kotor.

Kepanikan mulai melanda Rina. Dia yakin si iblis ini akan melakukan hal yang jahat di tempat ini padanya.

Dengan masih berusaha mengatasi tubuhnya yang gemetar, Rina berusaha bangkit.

Tapi Adit mendorongnya lagi hingga terjerembab begitu saja di atas lantai gudang dan dengan ekspresi menakutkan pria itu berdiri mengintimidasi di atas tubuhnya. Namun yang tak diduga Rina adalah saat pria menakutkan itu tiba-tiba berjongkok dan membuka kancing kemejanya satu persatu.

"Adit! Kau sudah gila!" teriak Rina histeris.

"Buka bajumu! Cepat!" perintah Adit tanpa menghiraukan teriakan Rina.

Sontak Rina memegang erat kemejanya dan berusaha menjauh dari Adit. Namun dengan sigap tangan Adit menekan pundaknya hingga membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana.

"Tenang, kau bukan seleraku! Buka kemejamu dan tukar dengan kemejaku yang basah dan bau ini!"

Adit tahu kemeja Rina akan muat untuknya karena badan cewek itu yang memang jauh lebih gendut dan kebiasaannya yang selalu memakai baju yang lebih besar.

"Kalau gitu kenapa harus di sini! Kan bisa di toilet! Lagian gimana aku bisa membuka bajuku di hadapanmu seperti ini!" protes Rina dengan suara yang bergetar.

"Anggap saja sebagai hukumanmu! Lagipula mau kamu telanjang di sini, aku enggak akan bereaksi apapun. Kan sudah kubilang, kau bukan seleraku!" Setelah itu Adit melemparkan kemejanya ke wajah Rina.

Sambil menahan tangisnya, Rina membuka kancing bajunya perlahan. Otaknya bekerja keras memikirkan bagaimana cara agar dia bisa segera kabur.

"Lama banget sih! Perlu aku bantu supaya cepat!" seru Adit tak sabaran sambil membungkuk dan memegang kemeja Rina.

Waktu itu Rina sadar selangkangan Adit tepat berada di atas badannya. Tanpa berpikir panjang lagi, sekuat tenaga dia mengarahkan tinjunya ke daerah yang sensitif itu dan memukul dengan cukup keras. Satu pukulan saja dan si iblis yang mengancamnya tadi tiba-tiba berteriak menahan sakit dan terjengkang ke belakang sambil memegangi bagian tubuhnya yang sedang berdenyut nyeri tanpa henti.

Tampaknya pembalasan Rina belum selesai. Karena cewek tambun itu segera bangkit, mengambil beberapa bola basket sekitarnya dan melemparkannya kuat ke arah kepala Adit. Sumpah serapah pun memenuhi ruangan itu seketika. Rina tahu dia harus cepat-cepat kabur sebelum Adit bisa berdiri lagi dan dapat melampiaskan kemarahan padanya.

Secepat kilat dia berlari ke arah pintu, membuka kuncinya dan kabur keluar tanpa melihat ke belakang sekalipun.

Dia tahu kalau setelah ini Adit pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia masuk ke dalam kelas, memasukkan barang-barangnya dan meminta ijin pulang lebih cepat pada wali kelasnya dengan alasan perutnya yang tiba-tiba sakit.

Wali kelas yang melihat wajah pucat Rina dan wajahnya yang penuh keringat, menyangka jika anak didiknya itu benar-benar sakit.

Lagipula Rina tidak pernah absen atau ijin pulang awal sebelumnya. Itulah yang buat Rina dengan mudahnya mendapat ijin dari gurunya tersebut.

Keesokan harinya sakit yang dikarangnya kemarin tiba-tiba jadi kenyataan. Perutnya terasa melilit dan mulai diare.

Kemungkinan besar karena stres yang diakibatkan oleh rasa takut atas apa yang akan menimpanya jika dia masuk sekolah nanti.

Namun Rina tahu mau tak mau dia harus masuk dan menghadapi si iblis itu cepat atau lambat. Dia yakin sejahat apapun si iblis itu, mana mungkin dia melakukan hal yang jahat padanya di area sekolah.

***

Bab 2

Dua hari lamanya Rina absen dari sekolah. Namun dia tahu, mau tak mau, keesokan harinya dia harus masuk sekolah. Apapun yang terjadi, dia harus siap menghadapi si iblis itu besok.

Sebenarnya dia juga takut menghadapi apa yang akan dilakukan Adit besok padanya. Tapi tak ada gunanya juga bersembunyi terus dari si iblis itu. Toh... kalau sampai nanti keadaan menjadi tambah parah, dia bisa melaporkan si iblis itu ke wali kelas dan dia yakin setelah itu dia jadi bisa dipindahkan ke kelas lain.

Pada waktu Rina tiba tepat di depan gerbang sekolah, dia menoleh ke sana ke mari dan mencari sosok musuhnya itu. Setelah melihat bahwa keadaan aman, dengan waspada, dia berjalan masuk dan langsung menuju ke dalam kelasnya.

Saat dia masuk, semua mata memandang padanya. Pandangan seakan-akan dia adalah orang teraneh yang pernah mereka lihat.

Rina merasa risih diperlakukan seperti itu. Namun dia sedikit lega juga saat melihat meja Adit yang kosong. Setidaknya dia masih punya waktu untuk menguatkan diri menghadapi anak itu nanti.

Jam pelajaran pun dimulai, namun Adit sama sekali tak terlihat. Rina yakin betul si iblis itu pasti absen seperti yang sering dilakukannya.

Sedikit lega dengan hal itu, Rina memutuskan untuk berkonsentrasi pada pelajarannya dan melupakan soal Adit sejenak. Walaupun dia tahu, musuhnya itu bisa muncul kapan saja.

Jam terakhir pelajaran pun berakhir. Rina berjalan santai menuju gerbang sekolah dan menunggu angkutan umum yang biasanya lewat persis di depan sekolah.

Tiba-tiba saja, bahunya dicengkram dari belakang dan memaksanya untuk berbalik.

Wajah si iblislah yang dilihatnya berdiri tepat di depannya, memandang lekat ke wajahnya dengan senyuman yang membuatnya tak nyaman.

Otaknya sontak menyuruhnya segera kabur. Namun cengkraman kedua tangan Adit pada bahunya membuatnya tak bisa bergerak.

Sebelum dia bisa berteriak meminta tolong, Adit menangkup wajahnya dan menciumnya dengan kasar.

Bibir musuhnya itu bergerak cepat dengan cara yang tak bisa diprediksi oleh Rina. Otaknya seakan-akan berhenti bekerja. Dia merasa aneh. Tidak pernah sebelumnya dia merasakan sensasi aneh seperti ini.

Dia ingin sekali menjerit dan menyuruh Adit untuk berhenti supaya dia bisa menyerap apa yang baru saja melandanya. Sialnya, tanpa ampun bibir pria itu semakin melumat bibirnya dan membuatnya seakan-akan lumpuh dan tak bisa melawan.

Hanya bibir dan rasa pria ini yang ada di pikirannya sekarang. Dia tak menyadari dimana dia sekarang dan siapa saja yang sedang mengawasi mereka. Dia bahkan tak menyadari dimana kini tangannya berada.

Entah sensasi apa atau getaran aneh dari mana yang tanpa ampun menyengatnya sekarang, dari puncak kepala hingga ujung kakinya dan membuatnya kehilangan akal dan diam saja diperlakukan seperti ini.

Namun yang jauh membuatnya kesal adalah tindakan Adit yang tiba-tiba saja melepaskan pelukannya dan memutuskan untuk berhenti menciumnya begitu saja, tanpa ada isyarat atau pemberitahuan lebih dulu.

Terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba itu, tubuh Rina tiba-tiba limbung dan terjatuh tepat di depan Adit. Murid-murid lain yang menyaksikan tindakan mencengangkan itu tampak luar biasa girang dan sibuk menyoraki mereka.

Suara bising itu sontak membuatnya sadar dan bingung. Rina mendongak ke atas dan memandang Adit yang tertawa puas ke arahnya.

Kata-kata yang terlontar dari bibir Aditlah yang membuatnya mengerti akan apa yang baru saja terjadi padanya.

"Bagaimana rasanya pembalasanku?! Lebih hebat kan dari tendanganmu! Dua sama berarti kita sekarang!"

Setelah melontarkan perkataan dengan nada penghinaan tersebut, dengan santainya dia meninggalkan Rina begitu saja di depan murid lainnya yang semakin girang bertepuk tangan. Seakan-akan mereka juga ikut berkomplot dengan Adit untuk mempermalukannya.

Dengan tangan yang gemetar, Rina merapikan bajunya dan mengangkat dirinya dari lantai sambil mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah diinjak-injak oleh si iblis itu tadi.

Seperti tidak terjadi apa-apa, dia berjalan masuk ke dalam angkutan umum yang kebetulan juga sedang berhenti untuk menunggu penumpang masuk.

Badannya masih saja bergetar. Hatinya luar biasa sakit dan rasa malunya sudah setinggi gunung rasanya.

Tapi sekalipun begitu, dia tidak akan menangis!

Harga dirinya melarangnya melakukan itu.

Adit Harsono, si berandalan kotor tak tahu malu itu tak akan bisa menghancurkannya!

Air matanya terlalu mahal untuk menangisi apa yang sudah diperbuat si iblis itu padanya.

Sesampainya di rumah, Rina langsung menuju kamarnya, meletakkan tasnya di ranjang, membuka bajunya dan membasuh tubuh dan wajahnya berulang-ulang di kamar mandi.

Dia ingin menghapus jejak-jejak Adit dari tubuhnya. Dia tak ingin tertidur dan mencium bau cowok itu di badannya.

Setelah merasa badannya cukup bersih, Rina memakai daster tua favoritnya dan segera merebahkan diri di atas kasur.

Masih jam tiga sore tapi dia benar-benar lelah dan mengantuk. Dia ingin tertidur dan melupakan kejadian buruk yang menimpanya tadi.

Ketukan mamanya berkali-kali di pintu untuk mengajaknya makan pun tak dihiraukannya. Kali ini dia sungguh tak selera melakukan apapun, termasuk menikmati makan siang favoritnya.

Entah kenapa hari ini dia merasa aneh. Rasanya dia bukan dirinya lagi.

"Jangan-jangan ini gara-gara ciuman si brengsek tadi!" serunya dalam hati.

"Jangan-jangan ada racunnya? Kalau nggak kok aku merasa aneh gini?!" tambahnya lagi sambil berguling-guling gelisah di tempat tidurnya.

Rina memang tak pernah berciuman sebelumnya dan memang tidak pernah berpikir kalau suatu hari dia akan dicium seseorang. Di dalam kepalanya hanyalah ambisi yang tinggi tentang kesuksesan dan percintaan atau ciuman tak termasuk di dalamnya.

Parahnya lagi yang mencium dia bukanlah pangeran tampan atau paling tidak pria yang terpandai di sekolahnya. Yang terjadi malah si brengsek Aditlah yang alih-alih mencuri ciuman pertamanya.

Mungkin inilah penyebab datangnya perasaan aneh itu. Mungkin karena yang menciumnya adalah si pembuat keonaran jadi dia merasa semuanya jadi serba salah.

Tiba-tiba saja pemikiran itu membuatnya marah. Dia berguling-guling terus dan menepuk-nepuk kasurnya kuat saking kesalnya.

Apalagi dia ingat saat ciuman itu berlangsung, matanya jelas-jelas terpejam dan seingatnya tangannya sudah berada di balik baju Adit dan mendarat di perutnya.

Dia yakin jelas dia bukan tipe perempuan gampangan dan Adit bukanlah tipe cowok yang disukainya, lantas mengapa dia malah bereaksi sebaliknya?!

"Ah... sudahlah! Tambah dipikir, tambah emosi aku jadinya! Pokoknya besok tinggal lapor sama wali kelas saja kalau Adit yang memaksanya. Toh wali kelas tau kalau aku anak baik-baik, dia pasti lebih membelaku!"

Rina merancangkan banyak hal di kepalanya untuk mengatasi after effect atas kejadian ciuman tadi. Dia yakin semua akan kembali normal setelah dia melaporkan Adit ke wali kelas.

Seperti rencananya semula, dia akan di pindahkan ke kelas yang lebih layak untuknya dan Adit tidak akan bisa mengganggunya lagi.

Memikirkan dia akan terbebas dari kelas yang dibencinya dan orang-orang menjijikkan di dalamnya besok, membuatnya sedikit tenang.

Tak lama kemudian, dia pun tertidur nyenyak berharap semua berjalan sesuai rencananya.

***

Bab 3

Rina menarik tubuhnya turun dari ranjang dan terhuyung-huyung berjalan ke arah kamar mandi. Dengan malas dia membasuh wajahnya yang masih mengantuk.

Menyadari perutnya yang keroncongan, Rina keluar dari kamarnya menuju dapur.

Hanya Mbok Sah saja yang ada di sana sedang mencuci piring.

"Non kok baru bangun? Dari tadi dibangunin Nyonya mau diajak makan malam di luar tapi non nggak bangun-bangun," tanya Mbok Sah sambil mengeringkan tangannya.

"Nggak apa-apa Mbok. Palingan juga diajak ke resto teman papa. Nggak enak makanannya. Enakan masakan Mbok. Ada lauk apa aja Mbok? Aku lapar berat!"

"Ada sayur kangkung, ayam kecap dan ikan pindang bumbu balado kesukaannya Non. Duduk aja dulu di meja makan, nanti saya siapkan!"

Rina sebenarnya benci makan sendiri tapi dia sudah terbiasa ditinggal seperti ini berkali-kali. Mempunyai kedua orang tua yang pedagang dan gemar bersosialisasi membuat Rina harus sering ditinggal sendirian.

Usaha karaoke orang tuanya yang biasanya ramai malam hari, membuat mereka berdua sering berada di luar rumah pada malam hari dan baru pulang subuh atau bahkan sampai pagi hari saat Rina baru saja berangkat sekolah. Kesempatan bertemu dengan mama dan papanya kadang hanya bisa siang atau sore hari. Tapi sebenarnya Rina sudah tak terlalu peduli.

Yang harus dilakukannya adalah belajar dan belajar. Ambisinya untuk menjadi seorang yang jauh lebih sukses dari kedua orangtuanya membuatnya bisa bertahan walaupun harus sering menghabiskan waktu sendirian.

Makanan sudah disiapkan di hadapannya dan dia memakannya dengan lahap sambil melihat isi instagramnya satu persatu.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Nissa si ketua kelas mengirim pesan singkat di instagramnya. Tanpa pikir panjang Rina membuka apa isinya dan betapa kagetnya dia saat melihat beberapa foto yang dikirimkan Nissa padanya. Tepatnya ada sepuluh foto yang kelihatannya diambil dari sudut yang berbeda beberapa kali.

"Apa-apaan ini, ngapain kamu ngambil foto ginian?!" ketik Rina membalas pesan singkat dari Nissa

"Bukan aku. Itu aku aja dikirimin Paul, temannya Adit! Aku juga kaget dikirimin foto ciuman kalian berdua kayak gini. Makanya aku kirim ke kamu supaya kamu tau!" balas si ketua kelas.

"Kurang ajar! Kerjaan Adit nih pasti! Kamu tau nomer HP Adit nggak, biar aku yang nanya ke dia langsung."

"Ya... tapi jangan bilang aku yang kasih tau kamu ya, aku nggak mau kena masalah."

Tak lama kemudian, nada pesan masuk berdering di ponsel Rina dan segera dia mendapati nomer ponsel Adit yang dikirimkan padanya. Tanpa mempedulikan makanannya yang belum habis dan omelan pembantunya, Rina lari ke kamarnya dan langsung menghubungi Adit.

Nada suara dalam dan rendah Aditlah yang terdengar saat panggilan tersambung.

Rina langsung saja mendamprat makhluk yang pernah mempermalukannya di depan gerbang sekolah tersebut.

"Maumu apa sih? Kamu kan sudah balas dendam siang tadi. Masih kurang puas memangnya? Brengsek! Hapus foto-foto sialan itu atau aku akan melaporkanmu ke kepala sekolah besok!"

"Oh soal itu. Kalau soal itu bukan urusanku sih. Itu kan ulahnya si Paul. Tanya aja anaknya sendiri kalau nggak percaya."

Rina seakan bisa mendengar senyuman geli lirih dari mulut musuhnya itu. Saat seperti ini pun Adit tak membuang kesempatan untuk mempermainkannya.

"Alasan! Aku tau kok kamu yang nyuruh dia! Pokoknya aku nggak mau tau, malam ini semuanya harus sudah beres. Foto-foto itu harus sudah lenyap. Ancamanku tadi bukan gertak sambal belaka. Jadi kalau kamu nggak mau di skors, foto-foto itu harus kamu musnahkan secepatnya!" tegas Rina sebelum menyudahi panggilannya.

Saking kesalnya, Rina mematikan ponselnya dan melemparnya begitu saja ke atas ranjang. Tapi yang penting dia sudah menyelesaikan masalah foto-foto terkutuk itu. Menurutnya, Adit pasti juga tak mau foto mereka sampai tersebar dan dilhat lebih banyak orang lagi. Tak ada keraguan sedikitpun di benaknya bahwa laki-laki itu akan segera melakukan permintaannya dengan segera. 

Dengan sedikit perasaan lega, Rina melirik ke arah jam dan melihat waktu masih menunjukkan jam delapan malam. Masih ada waktu beberapa jam untuk belajar, pikirnya.

Dengan cepat dia mengambil buku soal matematika yang didapatnya dari guru privatnya dan melampiaskan stres dengan mengerjakan beberapa halaman soal yang bahkan belum dibahas oleh guru matematikanya di sekolah.

Belajar dan segala sesuatu yang menyangkut di dalamnya, membuatnya tenang dan melupakan masalahnya sejenak. Baru setelah waktu menunjukkan jam dua belas malam lebih, dia berhenti dan langsung melompat ke tempat tidurnya dan tertidur lelap.

.

"Tumben makannya dikit. Biasanya harus tambah beberapa piring dulu baru kenyang!" tanya Sigit Wibowo, papa Rina yang baru pulang kerja pagi itu dan tiba-tiba saja menghampiri meja makan, hanya untuk mengkritiknya seperti biasa.

"Lagi males!"

"Baguslah! Semoga aja kayak gitu seterusnya. Emang kamu nggak pengen punya badan langsing kayak teman-temanmu! Malu papa setiap ngajak kamu ke pesta pasti repot cari baju yang muat atau cocok dulu buat kamu. Tapi itu juga ujung-ujungnya setiap gaun atau baju yang dibeli malah kelihatan kayak daster pas kamu pakai!"

Perkataan ini sudah ratusan atau bahkan ribuan kali didengar oleh Rina. Ritual yang tidak lagi asing di telinganya. Anehnya, seberapa sering pun perkataan pedas itu terdengar oleh telinganya, hatinya masih saja tak terbiasa. Karena setiap kali mendengar perkataan penuh hinaan itu, hatinya selalu saja merasa sakit dan terluka.

"Sejak kapan papa tau bentuk dan berat badan teman-temanku? Banyak kok dari mereka yang jauh lebih gendut dari aku tapi biasa aja—"

"Selalu aja melawan kalau dibilangin orang tua! Udah... pergi sana ke sekolah. Lama-lama kamu disini, tambah bertengkar kalian!" potong mama Rina yang baru saja datang dari dapur.

Dengan kesal Rina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar.

"Jangan pakai angkot lagi, Rin! Ada mobil dan sopir kok malah naik angkot terus!" teriak mamanya saat dia sampai di depan pintu.

Rina ingin sekali membalas mamanya dengan menolak, tapi setelah kejadian kemarin, dia merasa risih juga satu kendaraan dengan anak-anak lain yang kemungkinan besar sudah melihat atau mengetahui kejadian kemarin.

Hanya perlu waktu sepuluh menit sebenarnya kalau naik angkot dari rumahnya ke sekolah. Namun yang paling disukainya adalah dia tak perlu kesepian dan merasa bosan, tidak seperti saat dia naik mobil sendiri.

.

Saat Mas Ridho, sopir papanya menurunkan dia di depan pintu gerbang sekolah, sebenarnya Rina sudah melihat beberapa anak yang melihatnya dan berbisik-bisik. Namun tetap saja dia menegakkan kepalanya dan berjalan terus dengan tak menghiraukan sekitarnya.

Sialnya... dia melihat sesuatu yang membuatnya syok saat dia berjalan melewati ruang guru. Sesuatu yang terpampang di majalah dinding sekolah yang terletak di depan ruang gurulah yang membuatnya berhenti dan membelalakkan matanya.

Gimana nggak syok? Foto-foto yang dikirimkan Nissa tadi malam terpampang dengan lengkapnya di sana.

Foto-foto yang sudah disuruhnya dilenyapkan oleh Adit, ternyata malah dengan kurang ajarnya ditempelkan satu persatu di majalah dinding yang berukuran sebesar papan tulis di kelasnya tersebut. Entah kegilaan apa yang ada di otak si iblis itu, yang jelas sekarang dia sudah berhasil mempermalukannya sekali lagi.

Satu per satu murid bahkan guru-guru mengerubungi majalah dinding tersebut dan menunjuk-nunjuk ke arahnya.

Namun di tengah-tengah kerumunan itu, terlihat satu orang yang memandangnya dengan ekspresi marah. Bu Rahma melambaikan tangannya ke arah Rina dan berkata, "Ayo ikut ibu ke ruang guru! Ibu perlu bicara dengan kamu!"

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED