Sampul Novel Pelit Bin Medit

Pelit Bin Medit

8.5 / 10.0
Hesti menjalani kehidupan pernikahan yang menyesakkan bersama Pramono, sosok suami yang sangat kikir. Kebebasan finansialnya direnggut total karena seluruh gajinya dikuasai sepihak oleh Pramono. Jangankan biaya untuk merawat diri, uang belanja dapur pun diatur dengan sangat ketat tanpa memberi Hesti uang pegangan sama sekali. Di bawah tekanan nafkah yang jauh dari layak, sang istri terus menderita. Sanggupkah Hesti bertahan menghadapi tabiat pelit suaminya yang kian keterlaluan?
Ringkasan Pelit Bin Medit
Hesti menjalani kehidupan pernikahan yang menyesakkan bersama Pramono, sosok suami yang sangat kikir. Kebebasan finansialnya direnggut total karena seluruh gajinya dikuasai sepihak oleh Pramono. Jangankan biaya untuk merawat diri, uang belanja dapur pun diatur dengan sangat ketat tanpa memberi Hesti uang pegangan sama sekali. Di bawah tekanan nafkah yang jauh dari layak, sang istri terus menderita. Sanggupkah Hesti bertahan menghadapi tabiat pelit suaminya yang kian keterlaluan?
Baca Selengkapnya

Pelit Bin Medit Bab 1

"Mana uangnya Dek?" tanya Mas Pram suamiku, seraya menadahkan tanganya kepadaku.

Aku yang baru pulang langsung disambut Mas Pram, dengan menanyakan gajiku. Ini sudah menjadi rutinitas dia setiap bulan, meminta gajiku, kemudian menyimpannya. Meski berat hati kukeluarkan juga amplop coklat yang berisi gaji dari tasku.

"Ini Mas," ucapku, menyodorkan amplop pada Pria empat puluh empat tahun itu.

Suamiku mengambil amplop dari tanganku, mbukanya, kemudian menghitung kembali uangnya.

"Yang dua ratus kemana?" tanya suamiku dengan tatapan penuh selidik.

"Hhh ...." Aku menghela nafas, membuang sesak yang tiba-tiba menyergap.

Sudah kuduga, dia akan menanyakan uang yang sudah aku gunakan itu. Padahal aku ingin sedikit menikmati gajiku, sekedar beli gamis murah, yang penting bisa buat gonta ganti, tapi Mas Pram seolah tak rela. Padahal itu hasil keringatku sendiri.

"Tadi ada temen bawa gamis Mas, Murah-murah, bagus-bagus. Temanku banyak yang beli, jadi aku ikutan beli satu. Kan gamisku sudah banyak yang lusuh, sekalian nglarisin dagangan temen. Dia itu masih honorer, dia jualan baju buat tambah-tambah. Dengan membeli dagangannya, aku sudah membantu meringankan sedikit bebannya, itung-itung menolong lah, Mas" jelasku kemudian

"Ini yang aku nggak suka dari kamu, boros. Suka belanja barang yang tidak perlu," sergahnya.

"Nggak perlu gimana? Orang gamisku sudah lusuh semua! Aku cuma beli satu, itu pun yang paling murah. Aku malu, tiap pergi kondangan pakai gamis yang itu-itu saja," gusarku.

"Kan bisa di akal. kamu pergi sehabis ngajar, pas masih pakai seragam," ucap suamiku datar.

"Kalau acaranya malam, masa iya pakai seragam sih, Mas!" ketusku.

"Kamu itu ya, dibilangin suami ngeyel terus! Kamu tahu dosa nggak!" Suara Mas Pram mulai naik satu oktaf.

"Habisnya aku sebel sama kamu, Mas. Beli gamis murah aja dipermasalahkan, bagaimana kalau aku kayak orang-orang? Tiap habis gajian, ke mall borong macam-macam, Kamu bisa marah tujuh hari tujuh malam!" ucapku sengit.

"Hhh ...., sudah lah Dek. Kamu jangan ikutan-ikutan orang! Mereka penampilannya saja yang wah, tapi nggak punya apa-apa. Lebih baik terlihat sederhana, tapi aslinya kaya," ucap Mas Pram dengan suara pelan.

Meskipun pelit, Mas Pram bukan tipe laki-laki yang suka kasar sama istri. Kalau aku mulai emosi, dia melunak. Hingga pertengkaran bisa dihindari.

"Kaya tapi kayak gembel, buat apa?" gerutuku pelan. Entah Mas Pram dengar atau tidak, aku tidak peduli

Begitulah aku, bekerja tapi tak punya kuasa atas gajiku sendiri, semua dikuasai suamiku. Sebenarnya suamiku termasuk orang kaya di kampung ini, tapi entah mengapa dia sangat perhitungan dengan pengeluarannya termasuk untuk dirinya sendiri.

Jangan cari skin care di meja riasku, tidak akan ketemu. Yang ada hanya bedak viv* kemasan plastik dan lipstik dengan merk yang sama, kalau membersihkan muka, aku cukup pakai sabun mandi.

Aku terlahir dengan wajah yang tidak bisa dibilang cantik, tubuhku kurus dan tulang punggungku sedikit bungkuk. Efek waktu kecil aku sering sakit-sakitan, aku terlihat lebih tua dari umurku.

Sejak remaja, hingga menginjak kepala tiga. Aku belum pernah dekat dengan laki-laki mana pun. Bukannya aku tidak suka laki-laki, aku juga pengen merasakan jatuh cinta dan dicintai. Tapi sayang aku kurang beruntung, wajahku tak menarik, hingga tak ada lawan jenis yang melirik.

Hingga akhirnya, orang tuaku menjodohkanku dengan seorang pengusaha tambak. Namanya Pramono, empat puluh tiga tahun, perjaka, sudah punya rumah sendiri, sudah pernah naik haji, orangnya baik tidak neko-neko, begitulah penuturan ibuku menggambarkan sosok Pramono.

Aku yang perawan tua dan buruk rupa tentu sangat bahagia, akhirnya dipertemukan dengan jodohku. Cinta bisa tumbuh seiring perjalanan waktu, begitu prinsipku. Setidaknya aku tidak dilangkahi adiku. Karena menurut mitos, kalau perempuan dilangkahi, apalagi adiknya laki-laki, maka akan seret jodoh, dan kemungkinan tidak menikah seumur hidup.

Pernikahanku digelar dengan acara yang mewah dan meriah, karena aku anak pertama dan perempuan satu-satunya, di keluargaku. Mewah atau sederhana bagiku tidak masalah yang penting sah.

Kupikir menikah dengan lelaki mapan dan matang hidupku akan bahagia, ternyata jauh panggang dari api, aku merasa tertekan dengan sifat irit suamiku.

Bukan hanya soal keuangan yang diatur, bahkan urusan belanja, dia turun tangan sendiri. Semua kebutuhan rumah, termasuk kebutuhan dapur, hingga sayur mayur, dia beli sendiri. Aku hanya bertugas mengolahnya.

Perhitungan sekali suamiku itu, setiap rupiah yang dikeluarkan sangat berarti. Rasanya aku tak percaya, menikah dengan laki-laki model seperti dia.

Meski rumah yang kami tempati relatif besar, semua pekerjaan aku kerjakan sendiri, padahal aku harus pergi mengajar jam tujuh pagi. Sehingga aku sering keteteran tapi Mas Pram tak mau perduli, karena dia pergi ketambak pagi-pagi sekali.

"Mas, kayaknya aku butuh ART untuk membantuku. Aku lelah, lagian perut ini makin besar aku jadi kerepotan" Kataku pada Mas Pramono.

"Kok pembantu sih Dek ...? Bayarannya mahal! Kalau masih mampu mending dikerjakan sendiri," jawabnya menolak permintaanku.

Sebenarnya aku tahu, jawabannya akan seperti ini. Tapi aku benar-benar kuwalahan, aku berharap Mas Pram punya sedikit rasa iba, pada istrinya yang sedang hamil besar ini.

"Tapi aku benar-benar butuh Mas ..., rumah ini terlalu besar untuk ku-urus sendiri. Kan aku tahu sendiri, jam tujuh pagi aku sudah harus ngajar pagi-pagi. Apalagi nanti kalau sudah lahiran, ada bayi yang harus di urus, pasti tambah repot.

Kalau dipaksa mengerjakan semuanya sendiri, aku bisa sakit Mas. Biaya rumah sakit mahal, nanti kamu malah nggak bisa kerja. Pekerjaanmu jadi terbengkalai, rugi kan?" Bicara dengan Mas Pram harus menjelaskan untung dan ruginya. Kalau tidak

"Yo wes lah, kupikir dulu, kalau upahnya tidak terlalu mahal bolehlah," akhirnya kata itu terucap dari bibir Mas Pram.

Aku tersenyum senang, semoga Mas Pram segera menemukan pembantu yang mau bekerja di rumah ini.

* * * * *

Sudah sebulan sejak percakapan kami waktu itu, tapi Mas Pram belum juga menemukan ART untukku. Mungkin mereka nggak mau punya majikan pelit seperti suamiku itu. Maklum kepelitan Mas Pram sudah terkenal di mana-mana.

"Mas, kok belum dapat ART sih ... ? Aku sudah kepayahan bawa badan ini, " ucapku kala itu, saat kami sedang berdua di kamar.

"Yang sabar to Dek ... Nyari pembantu jaman sekarang itu susah, mereka maunya kerja ringan, tapi gaji minta ditinggikan," ucapnya dengan nada kesal.

"Memang mereka minta gaji berapa Mas?"

"Lima puluh ribu perhari, kerja dari jam delapan, pulang jam empat sore. Kayak kerja kantoran saja. Bahkan ada yang minta gaji UMR (UMR Jepara 2.200.000,-) gila nggak tuh!"

"Lima puluh ribu itu tidak mahal Mas, memang rata-rata bayarannya segitu, memang Mas tawar berapa?"

"Dua puluh lima ribu."

Aku hanya bisa mengelus dada, kalau begini caranya. Kalau begini caranya, sampai anakku bisa main bola, gak bakalan dapat pembantu.

Bersambung ....

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pelit Bin Medit

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali beruntun di arena tak menghalangi Roderick untuk mengkhianatiku. Tunanganku itu justru asyik bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan perempuan itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick lenyap, digantikan pernyataan cinta untuk wanita lain di depanku. Dengan hati dingin, kuhubungi ayahku yang merupakan bos mafia. Aku meminta pertunangan ini dibatalkan demi mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Demi keselamatan buah hatinya, Neva rela bertahan melewati penderitaan batin dan tekanan konstan. Kisah perjuangan penuh pengorbanan ini memperlihatkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi peliknya dinamika hubungan yang menjerat hidupnya.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi membahagiakan Satria, ia bahkan rela memohon sambil menangis agar sang suami bersedia menikah lagi. Satria sempat menolak rencana itu karena tidak ingin melukai perasaannya. Namun, di balik pengorbanan tulus Fatma sebagai bukti cinta terakhirnya, sebuah kenyataan pahit justru terungkap. Fatma harus menerima fakta menyakitkan bahwa suaminya ternyata tidak pernah mencintainya.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang terjadi menyisakan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan, serta pengorbanan tulus. Walau mengenalmu membawa kesedihan dan rasa sakit, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, saat kesadaran terlambat itu datang, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik berharga bersamamu.
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando diam-diam terobsesi pada adik tirinya, Laily, yang dikenal anggun. Suatu malam, ia mencoba melecehkan Laily saat gadis itu bersiap ibadah. Beruntung, Abdi yang sedang mabuk datang menolong. Sialnya, keadaan justru berbalik hingga Abdi difitnah sebagai pelaku asusila. Akibat tuduhan keji tersebut, Abdi terpaksa menikahi Laily guna mempertanggungjawabkan kesalahpahaman yang merusak nama baiknya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED