"Nah ... bagus kan, Dek?" ucap suamiku usai memasang gelang di tanganku.
"Bagus banget ini, Mas beli di mana?" tanyaku, seraya memutar tangan memperhatikan gelang cantik yang melingkari tangan kurusku.
"Di toko Bulan Purnama Dek, kamu suka kan?" tanya Mas Pramono, matanya nampak berbinar menatapku
Mas Pramono tersenyum sambil menyerahkan suratnya padaku. "Ini suratnya Dek, kamu simpan ya?"
Aku menerima kertas dalam bungkusan plastik transparan itu. Dua puluh lima gram, dengan harga hampir dua puluh juta, begitu yang tertera dalam surat itu.
Begitulah Mas Pram, setiap habis panen selalu membelikan aku emas meskipun hanya cincin lima gram, apalagi kalau hasil panen melimpah aku bisa dibelikan satu set perhiasan emas.
Suratnya diberikan kepadaku tapi aku tidak berani menjualnya, takut ketahuan, dia pasti marah besar. Dan uang gajiku yang dibawa Mas Pram, seratus persen didepositokan atas namaku, tapi buku dan kartu ATMnya disimpan Mas Pram. Katanya biar aku tidak bisa mengambilnya, toh semua kebutuhanku sudah dia cukupi. Begitu dia bilang.
Untuk urusan makan dan pakaian Mas Pram memang pelit, katanya untuk apa makan enak? Ujung-ujungnya jadi t*i. Pakaian bagus paling akhirnya jadi lap juga. Tapi untuk beli emas, dia tak pernah pernah perhitungan.
Jangan tanya berapa jumlah emas simpanannya, banyak! Dari batangan sampai yang berbentuk perhiasan, semua dia punya. Entah lah, untuk apa semua itu dia kumpulkan? Kalau dari masih merasa sayang untuk menikmati.
"Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam hidup kita nanti Dek, jadi kita harus hati-hati dalam mengelola keuangan, jangan menghamburkan untuk hal yang sia-sia, lebih baik investasi untuk masa depan.
Jangan tanya berapa jumlah emas simpanannya, banyak! Dari batangan sampai yang berbentuk perhiasan, semua dia punya. Entah lah, untuk apa semua itu dia kumpulkan? Kalau dari masih merasa sayang untuk menikmati.
"Sebentar lagi kita punya anak, dia juga butuh biaya sekolah, setelah dewasa juga butuh modal untuk usaha, jadi sebagai orang tua kita harus punya persiapan Dek, kamu tahu nggak? Mas punya usaha juga dulu dimodali Bapak." lanjutnya kemudian.
"Iya, tapi aku ingin seperti wanita pada umumnya Mas. Punya baju bagus tas branded, pakai skin care, kadang aku malu Mas, dikatain orang-orang 'wong sugeh kok eman dipangan' (orang kaya kok pelit buat makan)," ucapku mengeluhkan sindiran tetangga dan teman.
"Halah! kamu tidak usah mendengarkan omongan orang, memangnya kalau kita kelaparan mereka memberi kita makan? Mereka hanya iri, kita punya segalanya sedangkan mereka punya apa?" Begitu kata Mas Pram saat aku membahas keinginanku untuk hidup wajar.
Rumahku mewah dengan perabotan wah, mobil innov* terparkir manis di garasiku, tapi kemana-mana kami cukup naik motor saja. Kata Mas Parm boros bensin, jadilah mobil kami terpakai saat mendesak saja.
Menurutku aneh dan tidak masuk akal saja, prinsip Mas Pram ini. Dia ingin dianggap kaya, dihormati dan disegani karena hartanya. Tapi menggunakan untuk dirinya sendiri pun, pelitnya minta ampun.
Orang lain justru tidak respect padanya, mana ada orang kaya dengan penampilan gembel kayak dia. Jangankan nraktir orang, untuk dirinya sendiri aja nunggu gratisan, apa nggak ngenes tuh?
Menu makan kami setiap hari, tak jauh dari tahu, tempe, ikan asin, kadang ayam itu pun ayam sayur. Makan ikan segar hanya saat harga ikan sedang murah atau saat diberi oleh tetangga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan.
Gaya hidup Mas Pram benar-benar mencerminkan kehidupan keluarga pra sejahtera. Hidup seadanya, makan seadanya, tak usah lah memikirkan kebutuhan nutrisi tubuh, yang penting perut kenyang.
Ternyata sifat irit, pelit bin medit ini sudah turun menurun dari keluarga ayah Mas Pram. Ibu mertuaku juga bernasib sama sepertiku, dijatah uang belanja suami setiap jam sepuluh siang, jumlahnya tak seberapa tapi harus pakai nota.
Bahkan sifat pelit ini menghinggapi keluarga besar ayah Mas Pram, gaya hidupnya tak jauh beda denganku, kaya tapi sengsara, di kampung ini sudah terkenal Bani Salam meditnya nuzubillah.
Awalnya aku tidak tahu, karena aku menikah dengan Mas Pram tepat seminggu sebelum aku dipindah tugaskan di kabupaten Blora, di sebuah desa pinggir hutan yang letaknya lumayan terpencil. kami LDR-an selama setahun lebih, selama itu Mas Pram rajin mengunjungiku diakhir pekan.
Waktu itu gajiku masih kupegang sendiri, meskipun Mas Pram memberiku nafkah yang tak seberapa, bagiku tak apa. Aku menyadari belum bisa menjalani peranku sebagai istri sepenuhnya, dan aku sudah punya penghasilan sendiri.
Tapi begitu pindah kesini, aku benar-benar dibuat kaget dengan tabiat suamiku. Apalagi ketika pertama kali dia, memintaku memberikan gajiku padanya. Dengan dalih tabungaku dihari tua.
"Aku tahu ini uangmu, hakmu, aku hanya ingin menyelamatkannya, kamu itu boros jangan sampai kamu kerja tapi tidak punya apa-apa, nanti kalau kamu sudah tua bagaimana?" ucapnya menceramahiku.
Mas Pram kalau ngomong kayak yang paling bener aja. Harusnya omongannya dibalik, buat apa kerja capek-capek, numpuk duit banyak? Paling kalau mati juga nggak dibawa, mending sekarang dinikmati, mumpung masih hidup, masih bernafas. Tapi mana berani aku berkata seperti itu, aku membantah dengan kalimat santun aja, dia jawabnya ngegas.
.
"Kamu tidak perlu menghawatirkan hari tuaku Mas, aku ini PNS punya uang pensiun," bantahku kala itu.
"Begitu tuh, perempuan kalau sudah merasa mandiri, merasa lebih pintar, bisa cari uang sendiri. Kalau dinasehati suami membantah. Yakin hidupmu akan baik-baik saja? Yakin tidak ada kebutuhan yang tiba-tiba mendesak, dan butuh uang besar?
Itu lho Mas Rafi dan istrinya, dua-duanya PNS kan. Tapi mana hasilnya? Rumah gitu-gitu aja, duitnya habis buat bayar cicilan hutang. Bayar kuliah anak-anaknya ngos-ngosan, gara-gara memenuhi gaya hidup."
Tuh kan, bener kataku. Mas Pram mana mau dibantah? Yang ada dia malah ceramah panjang lebar. Pakai nyamain sama kehidupan sepupunya. Jelas mereka ngos-ngosan membayar kuliah anaknya. Wong dua-duanya kuliah di Fakultas Kedokteran. Semua orang juga tahu, mahalnya biaya kuliah calon dokter.
Menurutku hidup mereka nggak gaya-gaya amat, hanya berusaha hidup layak, menghargai diri. Nggak salah juga menikmati hasil jerih payah sendiri kan?
"Sudahlah, kamu manut saja. Ini semua demi kebaikan kamu. Kalau nurutin apa kata orang, nggak akan ada habisnya. Kita bener diomongin, apalagi salah? Makin semangat mereka mengghibah.
Kamu nggak usah khawatir, nggak serupiah-pun uangmu aku pakai. Aku hanya ingin kamu terbiasa hidup sederhana saja." sambungnya lagi.
"Hhh!" Aku hanya bisa mendengkus kesal. Dibantah juga percuma, dia itu penganut paham patrilineal. Baginya laki-laki adalah pemimpin yang wajib ditaati, tanpa boleh dibantah. Titik!
Kadang-kadang aku berharap dalam hati, semoga ada pelakor yang menggoda Mas Pram. Biar dia meninggalkanku, dan aku bebas hidup sendiri.
Gimana nggak pengen hidup sendiri? Lah punya suami pelit bin medit!
Bersambung ....
Ngomong-ngomong soal pelakor, ada kejadian lucu yang nggak bisa aku lupakan sampai sekarang.
Ceritanya, dulu ada janda muda, yang ngontrak rumah depan rumah Mas Pram. Bukan depannya persis tapi agak samping, karena depan rumah Mas Pram ini masih berupa kebun.
Nah, si Janda ini nggak tahu, kalau Mas Pram sudah menikah. Karena waktu itu aku masih dinas di Blora. Menurut cerita Mbak Hana, tetangga sekaligus temanku ngajar di SMP. Janda ini naksir sama Mas Pram, mungkin dia pikir enak kali punya suami kaya.
Si Janda ini hampa setiap hari ngirim makanan ke rumah. Entah itu lauk pauk, atu sekedar makanan ringan, seperti kue, atau kolak buatan Mbak Janda.
Namanya orang pelit tur ngirit, di kasih makanan ya mau-mau saja. Lumayan menghemat pengeluaran, begitu kan yang ada pikiran Mas Pram.
Si Janda ini sudah GR, dia pikir Mas Pram juga punya rasa sama dia. Karena tiap dikirim makanan, Mas Pram selalu tersenyum semringah, bilang terima kasih berkali-kali.
Mereka berdua bahkan pernah kepergok makan bakso di warung pojok pasar Ratu. Jangan tanya siapa yang bayar, sudah pasti si Janda. Mas Pram ngga bakalan mau jajan apalagi nraktir orang, bisa hilang label pelit di jidatnya.
Hubungan yang mengunjungi Mas Pram ini berjalan beberapa bulan, hingga kemudian aku kembali di tugaskan di Jepara. Suatu sore, Mbak Janda yang sudah tampil cantik dan seksi, bertandang ke rumah.
"Mas Pramnya ada, Mbak?" tanya Mbak Janda yang akhirnya kutahu bernama Julaichah, tapi minta dipanggil Juli.
"Belum pulang dari tambak, Mbak," jawabku kala itu.
"Oh, belum pulang ya? Kirain sudah, wong pintu rumahnya terbuka," ucap Mbak Juli, dengan nada kemayu.
"Maaf, Mbak ini ada perlu apa nyari Mas Pram," tanyaku sopan.
"Bukan urusanmu, memang kamu siapa nanya-nanya, kepo!" ucap Mbak Juli ngegas. Padahal aku ngomongnya pelan, dengan nad sopan lho. Kok dia jawabnya judes gitu.
"Saya Hesti, Mbak. Istri Mas Pramono, kalau Mbak ada perlu, bicara sama saya saja, nanti saya sampaikan sama Mas Pram," ucapku masih dengan nada sopan.
Meskipun aku sudah tahu tentang sepak terjang janda yang sering ngecengin suamiku ini, aku tetap berusaha netral. Maksudku aku tidak mau langsung marah, atau melabrak.
"Apa kamu bilang! Kamu istrinya Pramono? Kamu ngaca dong! Masa istrinya Pramono kayak pembantu gini? Cantikan juga aku, glowing dan seksi!" ucapnya dengan nada tinggi, hingga berhasil memancing tetangga kanan kiri untuk mendekat.
"Iya memang bener saya istri nya, nggak percaya? Tanya saja orang sekampung, siapa saya sebenarnya," tantangku kala itu.
"Masak sih? Kok Pramono mau-maunya punya istri dibawah standar gini," hinanya. Mata Mbak Juli memindaiku dari atas kebawa, seolah memastikan apa aku cukup layak menjadi istri Pramono yang kaya raya menurut dia.
"Saya memang jelek, Mbak. Tapi saya istri sahnya," balasku kalem, karena aku tahu Mbak Juli ini hanya korban, dia dimanfaatkan Mas Pram untuk mendapat makanan gratisan.
"Eh, kamu kalau menghalu jangan ketinggian ya? Kamu tuh jadi pembantu yang bener, nggak usah mennghayal jadi istri majikan! Mentang-mentang Pramono kaya, dan belum menikah," ucap Mbak Janda dengan suara lantang.
Hinggap mengundang mertuaku, dan beberapa tetangga mendekat.
"Ini ada apa to? Kok ribut-ribut?" tanya mertuaku.
"Ini lho Bu, Mbak Juli ini nyari Mas Pram. Saya bilang Mas Pram nggak ada, belum pulang. Kalau ada perlu ngomong sama saya aja, biar nanti saya sampaikan. Karena saya ini istrinya. Eh dia nggak percaya, malah ngatain saya jelek, nggak pantes jadi istrinya Mas Pram. Lebih pantes jadi pembantu," jelasku pada mertuaku, sementara Mbak Juli melengos membuang muka.
"Mbak Juli, Hesti ini memang istrinya Pramono," ucap Ibu mertua.
"Kalau Pramono sudah punya istri, kenapa sampeyan nggak cerita!" bentak Mbak Juli.
"Lha situ nggak nanya," jawab mertuaku tanpa merasa bersalah.
"Tanpa saya tanya, harusnya dari awal sampeyan menjelaskan, bahwa Pramono sudah punya istri. Biar saya nggak berharap banyak, nggak perlu kirim-kirim makanan setiap hari!" ujar Mbak Juli sengit.
"Lha situ ngirim makanan sendiri, Pramono nggak minta! Namanya rejeki nggak boleh ditolak!" balas Ibu mertua tak kalah sengit.
"Jadi selama ini kalian hanya memanfatkan saya, biar dapat makanan gratisan? Rugi dong saya! Dasar keluarga matre!" maki Mbak Juli.
"Eh ... Enaknya aja ngatain keluarga saya matre! Situ yang gatel, ngejar laki-laki sampai segitunya, pakai acara ngasih makanan segala! Makanan nggak enak juga, mau melet anak saya, ya? Untung peletnya nggak mempan, anak saya kan rajin ibadah!" ucap nertuaku tak mau kalah sama Mbak Juli.
"Alah, sok-sok an mencela, tapi dimakan juga! Dasar nggragas!"
Pertikaian Mbak Juli dan Ibu mertua semakin sengit, mereka saling balas cacian. Aku dan para tetangga menjadi penonton setia. Nggak ada yang berniat melerai, seolah mendapat hiburan gratis.
Berkali-kali aku meminta Ibu untuk diam saja tidak membalas ucapan Mbak Juli, tapi Ibu tetap meladeni Mbak Juli.
Hingga orang yang diributkan datang.
"Bu, Bu! Ini ada apa to? Kok malah ribut sama Mbak Juli?" Mas Pram yang baru datang, buru-buru memarkirkan motornya, lalu menghampiri ibunya.
"Ini dia biang keroknya! Sudah punya istri, tapi masih memberi harapan pada perempuan lain! Maksudmu apa coba?" Kali ini Mbak Juli memaki Mas Pram.
"Memberi harapan apa to, Jul? Aku kan nggak pernah janji apa-apa sama kamu?" ucap Mas Pram sok innocent.
"Kamu memang nggak pernah janji, tapi sikapmu itu membuatku berharap lebih! Kalau kamu sudah punya istri, harusnya kamu menolak pemberianku, menolak ajakanku!" balas Mbak Juli.
"Lha namanya rejeki, masak ditolak?" ucap Mas Pram enteng.
Mata Mbak Juli melotot, wajahnya merah padam. Sepertinya dia benar-benar marah pada Mas Pram.
"Heh Pramono! Kamu itu guoblok apa gendeng? Memangnya kamu nggak bisa menangkap sinyal dari saya! Lain kali buang saja mukamu yang nggak punya malu itu! Bisa-bisanya memanfatkan perempuan untuk makan gratis!" Mbak Juli melempar wajah Mas Pram dengan tisu yang sudah lecek.
Puas memaki Mas Pram dan ibunya, Mbak Juli pulang ke kontraknya. Tak lama terdengar pintu dibanting keras, oleh janda semlohe itu.
"Yang dikatakan Mbak Juli itu bener, Mas?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam rumah.
"Iya Dek, bener," ucap Mas Pram bener.
"Kamu yo kebangetan kok, Mas. Masak nggak tahu kalau Mbak Juli itu menaruh hati sama kamu?"
"Kan bukan aku yang minta, Dek. Dia sendiri yang ngasih," sanggah Mas Pram, tetap merasa tidak bersalah.
"Tapi kan kasihan Mbak Juli, Mas. DiPHP-in sama kamu?"
"Ya salah dia, kenapa jadi perempuan agresif."
Mas Pram selain pelit, merasa paling benar sendiri. Sudah jelas kalau kelakuan dia membuat Mbak Juli salah mengerti, kenapa tidak langsung dijelaskan dari awal?
Setelah kejadian itu, Mbak Juli memutuskan untuk pindah. Dia sudah terlanjur malu, setiap hari jadi gunjingan tetangga.
Sementara hubunganku sama Mas Pram baik-bain saja sampai sekarang, aku tetap memaafkannya, toh hubungannya dengan Mbak Juli tidak sampai ke ranjang.
Kalau kayak gini, pelakor manapun bakal mikir seribu kali buat deketin Mas Pram.
Bersambung ....