“Ketika seorang gadis menginjak usia 27 tahun, bertambahlah bebannya.” Kalimat ini terdengar sangat horor bagi seorang gadis berparas cantik, namun sedikit ugal-ugalan bernama Kejora.
Ya ... diusianya yang sebentar lagi menginjak 30 tahun, gadis itu sangat banyak menerima cacian juga pertanyaan-pertanyaan, yang membuatnya ingin enyah dari kehidupan dunia yang menyeramkan ini. Setidaknya ... ia pernah berpikir ingin menetap di bulan, begitulah kegilaan pikirannya.
“Kapan sih anak gadis yang sudah hampir kepala tiga ini menikah?”
“Apa kamu nggak punya keinginan buat punya pasangan Kejora?”
“Atau ... kamu nunggu dunia runtuh dulu, baru nyari yang sempurna?”
“Kasihan, anak gadis kok malah sibuk sama karir bukannya menikah. Apalagi umurnya sudah akan masuk usia kepala tiga!”
Setidaknya semua kalimat itu selalu dan bahkan hampir setiap saat Kejora dengarkan dari orang yang tidak mengenalnya dengan baik.
Dan, menutup telinga serta pergi, kemudian memilih menyibukkan diri dengan dunianya adalah hal yang sering Kejora lakukan untuk megurangi beban pikiran dan juga mentalnya.
Namun, semua prinsip dan juga masa bodonya seketika hilang, ketika tidak sengaja bertemu dengan teman masa sekolahnya dulu.
“Jor ... Jor!” teriak salah satu manusia yang paling membuat Kejora cukup naik pital selama ini.
Eh ... emang bosen hidup itu nenek lampir! Gue sumpahin, kepalanya sengklek, biar tahu rasa. Nama sebagus Kejora, seenak jidat manggilnya Jor, emang aku Jorok? – gerutu gadis berpakaian kantor itu dalam hati, sambil membalikkan badannya.
“Iya ... Keli cantik.” jawabnya dengan sudut bibir yang terpaksa di gerakkan ke atas. Kecantikanya kini bahkan mengalahkan senyum manis seekor kuda. Meringis tanpa ada rasa ikhlas di dalamnya.
Mulutku rasanya ternoda nyebut dia begitu, ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini – batin Kejora sambil menepuk pelan bibir tipis miliknya itu.
“Long time no see,” ucap wanita yang Kejora sapa Keli itu, sambil mencium pipi kanan dan kiri Kejora.
Sok enggres banget, dasar Keli! – batin Kejora lagi, sambil mencaci teman SMA-nya itu. Agaknya membual adalah salah satu kebiasaan gadis berpawakan mungil, dengan rambut hitam yang dikuncir itu.
Dengan segera, Kejora mengurai pelukannya dan menepuk-nepuk bajunya untuk membuang debu kotor yang Keli bawa. Keli yang tahu maksud Kejora, langsung merasa sedikit kesal.
Mereka berdua, sebenarnya bukanlah teman karib atau pun sahabat. Bahkan, mereka cenderung seperti musuh di sekolah dulu. Keli dengan kesombongannya dan Kejora dengan apa adanya dia. Jika ada yang salah, gadis itu pasti akan menegurnya, termasuk dan terutama Keli.
Di SMA mereka dulu, ayah Keli adalah ketua komite. Mana ada yang berani membantah ataupun mengkritiknya, kecuali Kejora. Luar biasa! Bahkan mereka pernah hampir terlibat adu jotos. Apa nggak takut Kejora dengan ayah Keli? Jawabannya, sama sekali tidak. Bahkan, ayah Keli sendiri yang memintanya untuk mengawasi putri manjanya itu. Dan, setelah tamat SMA keluarga Keli pindah ke Ibu Kota. Sekitar beberapa tahun tak berjumpa, hari ini mereka akhirnya kembali bertemu.
“Aku bawa ini, nih,” ucap Keli dengan wajah yang tampak bahagia. Bahkan sungut iblisnya seketika hilang, dengan sebuah undangan yang ada di tangan kanannya. Dengan kecepatan, Keli menyerahkan undangan itu dan mengibaskannya di wajah ayu Kejora.
“Datang ya, makhluk jomblo. Kasihan! Nggak masa remajanya, nggak sekarang, status itu nggak pernah berganti ya Jor?!” ucap Keli yang membuat Kejora mengepalkan tangannya.
Siap-siap dengan tenaga yang ekstra ia tampak akan mendaratkan tonjokan manja ke wajah Keli, tapi urung sebab Kejora tidaklah seburuk itu.
“Gue udah nikah, ya!” ucap Kejora, dengan memamerkan cincin hadiah jajan yang ia beli pagi tadi. Setidaknya, cincin mainan itu menyelamatkan harga dirinya kali ini.
Keli kaget bukan main. Setelah lama tidak bertemu dan ia pindah ke luar kota, kemudian bertemu lagi di Jakarta, berita pernikahan Kejora yang mengejutkan itu terdengar merdu di telinganya.
“Serius? Kapan Lo nikah? Perasaan makhluk kesepian kayak Elo bakalan susah, deh dapetin suami. Dulu aja, waktu sekolah Lo di selingkuhin! Makanya jangan sibuk dengan karir. Jomblo karatan, ‘kan, jadinya.”
“Kapan pun itu, emang kalau kami gelar resepsi lagi, mau dateng? Terus ... entar jantung Elo lagi yang copot. Sorry ya Keli ... suami gue itu tajir melintir, tujuh turunan tambah tanjakan, belok kanan, belok kiri. Nggak ada ujungnya!” ucap Kejora dengan wajah yang tanpa dosa, karena apa? Dia sangat lihai berakting dan menipu mangsanya, yang tampak terkejut dengan pernyataan yang ia lontarkan.
“Oh iya? Calon suami gue juga pengusaha, batu bara malahan. Yah ... masalah duwit mah, tinggal petik, beres!”
“Yah ... perkara petik! Suami gue tinggal gesek! Srreeett ... mati kutu Lo entar!” ucap Kejora sambil memperagakan bagaimana ketika seseorang yang memiliki banyak uang.
Inilah puncak emosi yang selalu Kejora redam. Perasaannya tidak sekuat dulu, waktu masih muda. Di usianya yang hampir kepala tiga ini, dirinya terpaksa berbohong dan menghayalkan seorang pangeran dari negeri seberang, kapanpun ia butuhkan, seperti saat ini.
“Gue harap, itu bukan imajinasi dan mimpi di siang bolong Lo, Kejora. Siapa namanya?” tanya Keli yang masih penasaran dengan kebenaran cerita Kejora. Agaknya, Keli memang memiliki insting yang kuat dan tidak akan mudah untuk ditipu.
“Namanya, emm ....” ucap Kejora dengan pikiran yang keras menyebutkan nama yang cocok dan cukup gagah untuk di pamerkan di depan Keli.
“Iya .... namanya siapa? Bambang, atau ---" ucap Keli dengan kekehan. Di dalam kepala gadis itu kini sedang berputar rencana licik untuk membuktikan kebohongan Kejora.
Gue tahu, itu pasti cuma akal-akalan Lo, Kejora. Dan siap-siap aja, gue bakal bikin Lo malu di pernikahan Gue nanti. Semua teman SMA yang sudah berkeluarga dan bahagia akan datang. Sedangkan Elo, akan merana di pojokan. Good job, Keli – batin Keli yang tampak puas dengan gelagat gugup gadis di depannya itu.
“Namanya ... Al! Iya, itu panggilan kesayangan gue ke doi,” sambar Kejora asal menyebutkan nama.
Siapa Al? Bahkan Kejora pun berpikir keras tentang nama yang spontan ia sebutkan itu. Gadis itu bahkan sama sekali tidak pernah melihat bentuk dari pria yang ia sebut Al itu.
Berbeda dengan Kejora, Keli malah tampak tercengang dengan mulut yang terbuka lebar. Melihat wanita di depannya yang seperti itu, Kejora langsung menangkupkan mulut Keli dengan kedua tangannya.
“Biasa aja! Nggak usah mangap gitu, kayak dugong aja!”
“Jor! Al! Maksud Lo, Albirru Elfathan?” ucap keli terjeda, ia kemudian mengguncang tubuh Kejora. Bahkan, gadis itu tampak histeris dan membuat Kejora heran bukan kepalang.
Emang ada manusianya? Keli terlalu berlebihan! – batin Kejora lagi.
“Jor. Bilang ke gue, beneran suami Lo Albirru Elfathan?” tanya Keli lagi, sebab tadi Kejora belum memberikannya jawaban.
Albirru Elfathan?! Bahkan nama itu juga asing ditelingaku. – batin Kejora yang malah bingung akan menjawab Keli bagaimana.
“I-iya! Albirru. Tepat!”
Setidaknya Keli akan berhenti dan membiarkanku pergi kali ini. – batin Kejora yang tampak lega setelah menyebutkan nama itu.
Kali ini, Keli malah makin penasaran dan jika kabar yang ia dengar dari Kejora itu benar, maka ekspresinya kali ini sangat mewakili kekagetannya pada teman sekolahnya itu.
“OMG! Putra konglomerat plus direktur di perusahaan Wijaya Group!” Keli mengguncang tubuh Kejora. “Elo, menantu mereka? Wow!” ucap Keli dengan mata yang membola, dan mulut yang terbuka.
“Biasalah ....” jawab Kejora sambil berakting tersipu dan mengibaskan tangannya di wajah Keli.
Meskipun tampak amatiran, setidaknya untuk saat ini Kejora memiliki bakat untuk berakting dan menipu temannya itu.
“Tapi ... kok dia masih izinin istrinya, kerja jadi karyawan di kantor biasa?” tanya Keli sekali lagi, dengan bumbu kecurigaan yang masih belum percaya dengan apa yang Kejora katakan.
Lihat saja, wajah puas Kejora seketika hilang dan kembali berpikir keras untuk memberikan alasan yang lebih meyakinkan untuk Keli.
“Emm ... gue, ‘kan, emang wanita karir. So ... setelah berdiskusi panjang, dia izinin gue buat terus kerja. Hitung-hitung, biar nggak bosen di rumah aja, gitu,” jawab Kejora enteng. Gadis berkaca mata itu tampak sudah semakin percaya diri dan berpikir Keli akan percaya padanya.
“Fix! Gue bakal kasih undangan couple buat kalian! Gue juga mau lihat kalian bareng, setidaknya itu sebagai bukti!” Keli lagi-lagi berulah, ia bahkan memberikan undangan yang baru untuk Kejora, dengan imbuhan nama Albirru di sampingnya.
“Dia nggak di Indonesia, Keli! Dia lagi ke luar negeri, entah kapan pulangnya. Jadi ... gue bakal datang sendiri aja,” ucap Kejora dengan tingkat kegugupan yang melonjak tinggi.
Bagaimana mungkin ia akan membawa pria itu. Sementara, selama ini bahkan Kejora tidak pernah berpikir ada manusia bernama Al itu. Yang ia tahu, hanya selebriti yang memiliki nama Al.
“Owh! Ke luar negeri. Ya ... ‘kan, acaranya dua pekan lagi, pasti dia udah pulang ‘kan? So ... persiapkan diri kalian, dan gue akan tunggu sampai Lo bawa si Albirru itu ke hadapan muka gue. Barulah nanti, gelar jomblo karatan Elo gue hilangkan.”
Keli benar-benar menguji kesabaran Kejora, lihat saja wajah Kejora kini sudah berubah menjadi merah padam dan sebentar lagi nampak ingin meledak menahan emosinya pada gadis bernama Keli itu.
Mendengar itu, Kejora jadi lemas. Tubuhnya bahkan sangat berat dijalankan, dan dengan langkah yang malas ia harus kembali lagi ke kantor, sebab masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
*
Ketika berada di perjalanan, ada sedikit kejadian yang kembali mengasah tingkat kesabaran seorang Kejora.
Brak!
Mobil yang Kejora kemudikan agaknya menabrak kendaraan yang ngerem mendadak di depannya. Sambil menyingsingkan lengan bajunya, Kejora pun turun dan memeriksa mobil kesayangannya itu.
“Oh! Aku bahkan belum gajian, dan sekarang bemper mobilku penyok! Ini pasti gara-gara mobil ini!” ucapnya sambil menendang keras bemper mobil berwarna hitam di depannya.
“Aw aw!” Sakit. Itulah satu kata yang tepat menggambarkan keadaan kaki Kejora saat ini dan membuatnya berjalan pincang dan menepikan diri di pembatas jalan.
Sementara, pria dengan pawakan tinggi dan tampan dengan berhiaskkan kaca mata hitam, yang bertengger indah di hidung bangirnya keluar dari sarang, setelah menutup penggilan dari ponselnya.
Pria itu tampak dingin dan tanpa senyuman melihat keadaan mobilnya. Dan ia juga terkejut, melihat seorang gadis yang terduduk di pembatas jalan dan trotoar. Siapa lagi jika bukan Kejora, gadis itu kini sedang memeriksa kakinya yang merah akibat menendang bemper mobil mewah itu.
Kejora yang menyadari pemilik mobil yang membuatnya mengalami dua kerugian, langsung berdiri. Dan dengan langkah yang sedikit pincang, gadis pemberani itu menghampiri pria berjas hitam itu dan menjentikkan jari jempol juga telunjuk di depan wajahnya.
“Tuan kacamata hitam yang terhormat,” ucapnya terjeda dan mulai menarik nafasnya dalam. “Hah! Saya tidak akan berlama-lama menjelaskan dan saya harap Tuan mendengarkan penjelasan saya dengan baik!”
Kejora sudah menunjuk bemper miliknya. “Tuan sadar nggak? Kalau mobil si --- maksud saya, mobil mewah Tuan ini menyebabkan bemper mobil saya penyok. Tuan tahu? Ini karena rem mendadak yang Tuan lakukan!”
Cukup panjang Kejora menjelaskan, tapi pria itu hanya menatapnya dari balik kacamata, tanpa satu kalimat pun yang ia katakan.
“Tuan tuli ya? Atau ... mau menghindar dari masalah dengan diam? Gaya kuno! Saya tidak akan melepaskan manusia yang menyebabkan kerugian bagi saya, lihat saja!” ucap Kejora dengan kesabaran yang sedikit goyah.
“Anda lihat? Mobil saya juga penyok, menurut saya itu impas! Dan saya, tidak punya waktu untuk melayani gadis bringas seperti Anda. Permisi!” tukas pria itu yang langsung melenggang pergi.
Kejora bahkan jadi bungkam dan menatap kesal ke arah pemuda yang masuk ke dalam mobilnya itu. Kekesalannya kini memuncak. Daripada terjadi hal yang tidak-tidak, Kejora memilih diam dan tidak mengejar pria itu. Namun, suatu hari nanti ia pasti akan meminta ganti untung dari pria itu.
“Ke ujung duniapun, kalau aku ketemu sama pria itu aku akan tagih ganti untung untuk mobil kesayanganku ini. Enak aja, setelah melakukakan kesalahan, bukannya minta maaf malah enak-enakan pergi, tanpa maaf atau basa-basi!” cicit Kejora kesal sambil memukul setir mobilnya.
*
Setibanya di kantor, Kejora kembali mendapatkan sedikit cobaan. Pasalnya saat ini ada sosok bertubuh gempal, yang sudah bersiap menyemburkan air aki dari mulutnya, untuk Kejora. Sebenarnya bukan air aki sungguhan, hanya Kejora yang menyebutnya demikian.
“Alamat lagi! Ini makhluk pluto kenapa lagi?” cicit Kejora yang baru saja keluar dari mobilnya.
“Siang, Pak ....” ucapnya mencoba santai dan hendak melenggang masuk ke dalam kantor.
Rupanya usaha gadis ayu itu sia-sia saja. Sang bos yang memiliki kekuatan untuk mengangkat seseorang, langsung menarik kerah kemeja Kejora. Dan akibat dari tarikan super itu, kini Kejora sudah berdiri sambil menunduk di hadapan sang bos.
“Kenapa bisa telat baliknya, Kejora?!” ucap pria botak nan gempal itu dengan nada yang cukup tinggi.
Kejora saja sampai terhenyak dan jantungnya memburu mendengar bariton itu. Walaupun itu sudah biasa, tapi Kejora tetap saja kaget. Namanya juga manusia biasa, begitulah yang gadis itu pikirkan.
“Bapak bisa lihat, mobil saya mengalami kecelakaan, Pak. Emangnya Bapak nggak iba begitu sama saya?” ucap Kejora dengan nada sendu sambil menggaruk punggung tangannya yang tidak gatal, untuk mendapatkan perhatian dan rasa iba dari bosnya.
“Itu tandanya kamu perlu pendamping hidup. Cantik iya, berpenghasilan besar iya. Apa yang membuat kamu belum menikah, sih, Kejora?!” tanya bos gendut itu yang membuat Kejora memutar bola matanya malas.
Pertanyaan seperti itu cukup bahkan sangat sering ia dengarkan, dari orang tua, teman, bahkan sampai bosnya, yang acap kali membuatnya muak.
“Itu tandanya kamu perlu pendamping hidup. Cantik iya, berpenghasilan besar iya. Apa yang membuat kamu belum menikah?!”
“Aduhai! Bosen ngomongin itu terus, Pak. Mau saya nikah sekarang atau nanti, apa Bapak mau nanggung biayanya? Saya suka herman sama ---” ucap Kejora terpotong.
“Siapa Herman? Pacar kamu ya? Atau malah calon suami?” tanya bos gendut itu tanpa ada noda dosa di wajahnya.
Lucu, tapi geli juga. Kejora jadi pengen narik kumis lele milik bosnya itu. Tangannya saja sudah gatal, untung masih ada sedikit kesabaran dalam diri gadis ayu itu.
“Pak e ... bukan Herman nama orang, maksud saya tadi heran. Ck! Bapak nggak asyik, masak nggak paham dengan bahasa-bahasa gaul anak muda? Kalau gitu saya masuk dulu, ya Pak, daripada nanti perusahaan Bapak bangkrut karena karyawan yang rajin ini keasyikan ngobrol dengan Bapak. Bye ... Pak!” pamit Kejora yang langsung beringsut, meninggalkan pria setengah baya dengan ekspresi konyolnya itu.
“Herman, bisa juga jadi heran? Terus kalau Bagong jadi apa?” ucapnya bermonolog, agaknya ia belum menyadari bahwa sang karyawan sudah pergi.
Setelah sadar, barulah bos botak itu mengeluarkan jurus andalan seorang bos, yang terdengar percuma. Bagaimana tidak? Dia hanya bicara sendiri tanpa ada orang yang mendengarkan.
Hubungan Kejora dengan bos dan para karyawan di kantor ini sangat baik. Maklumlah, gadis itu sudah mengabdikan diri selama lima tahun di sini. Jadi, bercanda seperti itu tadi sangat lumrah, dan cukup sering terjadi.
Dan, jika ditanya apa yang membuat Kejora betah sendiri? Jawabannya bukan karena ia tidak laku, hanya saja gadis itu tidak tertarik dengan sebuah hubungan dan memilih fokus dengan karir. Tanpa ia sadari, usianya semakin tua, mau tidak mau, Kejora harus berdamai dengan keadaan, sampai nanti sang pangeran datang dengan kuda besinya untuk menjemput ia, diwaktu yang tepat.
Sebuah pandangan dan prinsip hidup yang bagi orang awam sangat merugikan masa mudanya. Dan saat ini, itulah yang gadis itu sedang pikirkan.
“Apa aku benar-benar salah ketika harus fokus dengan karir sampai melupakan kehidupan pribadiku? Lagi pula, manusia ‘kan, memiliki caranya masing-masing untuk hidup. Sekarang aku mengaku menyerah dan kalah!”
Kejora mematut dirinya di depan layar komputer, pikirannya melayang mengenai sosok Albirru, juga tantangan yang diberikan Keli padanya. Bagaimana caranya bisa menemukan si Albirru itu? Wajah dan alamatnya saja ia tidak tahu. Dan, kalaupun tahu, apa mungkin pemuda itu mau membantunya keluar dari jeratan kata jomblo karatan itu?
Ini benar-benar situasi yang sangat sulit untuk Kejora, terlebih lagi ia harus memenuhi tuntutan satu orang dan mencari cara yang terbaik untuknya agar tidak dihina lagi.
“Arghh!” teriak Kejora yang terdengar frustasi. Sangking frustasinya, ia sampai langsung menghabiskan secangkir kopi yang masih panas kuku di hadapannya.
“Kejora? Are you oke?” tanya salah seorang karyawan yang duduk di samping Kejora, mereka hanya dibatasi dengan sebuah penyekat dari triplek.
“Keli datang lagi, Kasih. Dan dia lagi-lagi ngebuat hidupku semakin runyam,” jawab Kejora sambil mengalihkan matanya ke arah wanita yang ia sapa Kasih itu.
Ya ... Kasih dan Kejora sudah bersahabat cukup lama, bahkan sebelum seorang makhluk bernama Keli datang mengusik ketenangan hidupnya dan membuat ia kehilangan prinsip dalam hidup.
“Ngapain lagi, sih, dia?” tanya kasih yang dengan langkah pelan mencoba menghampiri tempat duduk Kejora.
“Dia nanyain, aku udah nikah apa belum,” sahut Kejora dengan tingkat kemalasan yang menjadi-jadi.
“Terus?” tanya Kasih lagi.
“Ya ... karena aku nggak mungkin ngomong belum. Terus aku jawab udah, untung ada cincin ini,” katanya sambil menunjukkan jari manisnya, yang berhiaskan cincin hadiah kepada Kasih. “Awalnya dia percaya, tapi lama-lama kayaknya curiga, deh," jelas Kejora lagi dengan air muka yang entah apa sebutannya.
“Maksudnya? Curiga gimana?” tanya Kasih lagi. Wanita itu kini dengan posisi siap, juga penuh perhatian untuk mendengarkan curhatan sang sahabat.
“Aku bilang nama suamiku itu Al!” ucapnya sambil menyedot air mineral yang berada di tangan Kasih.
“Terus dia bilang, Albirru. Ya ... aku iyain aja, lagian aku nggak tahu, bentuk si Biru itu gimana. Dan dengan sifat keras kepalanya, itu cewek malah ngasih undangan pernikahannya ke aku. Dengan nama Albirru di sampingnya,” jawab Kejora sambil merogoh undangan dari tasnya, dan memberikannya kepada Kasih.
“Dengan nama Albirru?” ucap Kasih membeo sambil mengingat sesuatu.
Wanita hamil itu langsung melebarkan mata, pasalnya ia baru teringat seseorang. “Kejora! Albirru itu putra konglomerat plus direktur di perusahaan papanya. Dan dia itu ... ganteng banget. Aku kalau belum nikah, mau kali jadi istrinya.”
Mendengar apa yang diucapakan oleh Kasih, membuat Kejora meringis. Emangnya si Biru itu makhluk macam apa sih? - batin Kajora dengan membayangkan sosok Albirru, yang katanya tampan itu.
“Kamu cek deh di internet, ketik nama Albirru. Pasti muncul itu wajah tampan juga prestasinya. Ya ampun Kejora!”
“Biasa aja kali, Bumil. Lagian dia makan nasi juga ‘kan? Ck! Yang aku bingungin sekarang itu, gimana caranya aku bisa minta tolong sama dia” ucap Kejora yang tampak frustasi dengan kebohongannya sendiri.
“Emm ... oke. Aku nanti coba tanya suamiku, mungkin dia kenal atau pernah gitu ketemu sama Albirru itu.”
“Oke! Aku tunggu kabar dari kamu. Semoga aja suamimu kenal, dan akan mudah bagiku minta tolong sama si Biru itu.”
Setelah mendengar ucapan Kasih yang cukup membuatnya lega, Kejora kemudian melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda beberapa menit lalu. Begitu pun dengan Kasih sang sahabat.
*
Usai bertempur dengan banyaknya tugas kantor, Kejora akhirnya bisa menghirup udara bebas. Pukul 17.00 WIB, Kejora berjalan pelan bersama Kasih menuju parkiran. Seperti biasa, Kasih menunggu jemputan, sedangkan makhluk yang dicap jomblo itu hanya duduk bertemankan lamunan.
“Mobil kamu, kok, bisa penyok?” tanya Kasih yang baru menyadari, keadaan yang tidak baik-baik saja dari mobil sahabatnya itu.
“Aku nabrak mobil orang, tapi itu bukan salahku! Dia yang ngerem mendadak. Pas aku minta ganti rugi, malah dia bilang impas.”
“Oh no! Seperti adegan drama. Waw! Gimana orangnya, ganteng nggak?” tanya Kasih dengan candaan untuk menggoda Kejora.
“Nggak lihat. Entah ... aku cuma perhatiin kaca mata hitamnya doang. Lagian, laki-laki tak bertanggung jawab kayak gitu, nggak penting untuk diingat wajahnya. Entar juga luntur tuh, ketampanannya,” ucap Kejora tanpa sadar.
“Berarti kamu lihat dong wajah tampannya. Cieee ... mana tahu itu jodohmu. Biasanya di drama suka begitu. Awalnya tabrak-tabrakan mobil, akhirnya tabrak-tabrakan hati, deh,” ledek Kasih yang membuat Kejora sadar akan kesalahannya.
Ya ... kesalahan mulutnya yang keceplosan menyebut pemuda itu tampan.