Sampul Novel Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah

Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah

8.0 / 10.0
Hari pernikahan Nadira berujung hancur setelah kedok Fadlan yang ternyata masih beristri terbongkar. Demi menjaga nama baik keluarga, Nadira terpaksa menerima saran sang ibu untuk menikahi Rafli, duda dingin tetangga mereka yang berusia jauh lebih tua. Walau sempat enggan karena tak saling kenal, Nadira perlahan mendapati kehangatan dan tanggung jawab di balik sikap kaku Rafli. Kini, ia mesti beradaptasi dalam rumah tangga barunya demi menemukan cinta sejati.

Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah Bab 1

Pagi itu, rumah keluarga Nadira dipenuhi dengan hiruk-pikuk persiapan pernikahan. Suara keributan dari dapur bercampur dengan dentingan piring porselen dan bisik-bisik para kerabat yang bergegas menata dekorasi. Meski hari itu seharusnya menjadi hari bahagia, hati Nadira justru berdebar kencang, namun bukan karena rasa senang. Ada ketakutan, kecemasan, dan rasa was-was yang menumpuk menjadi satu.

Nadira berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin yang cantik berwarna ivory, tetapi matanya tak mampu menyembunyikan kekhawatiran. Ia menatap bayangan dirinya sendiri, mencoba tersenyum, tapi senyumnya terasa dipaksakan.

"Tenang, Nak. Segalanya akan baik-baik saja," bisik ibunya, Sri, sambil menepuk bahu Nadira dengan lembut.

"Tapi, Bu... aku merasa aneh. Aku belum siap... dan..." Nadira menelan ludah. Suaranya pecah ketika pikirannya kembali pada pesan yang ia baca semalam-sebuah pengakuan yang membuat hatinya hancur.

Fadlan, pria yang akan menjadi calon suaminya, ternyata masih beristri. Nadira menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan air mata yang ingin tumpah. Hatinya terasa hancur, tak percaya dunia bisa begitu kejam dalam satu malam.

Sri menunduk, raut wajahnya menunjukkan campuran kesedihan dan cemas. Ia tahu, pernikahan ini seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi putrinya. Namun kenyataan berkata lain. "Aku tahu, Nak. Aku juga marah dan kecewa. Tapi sekarang... kita harus berpikir cepat. Keluarga kita... sudah malu di depan semua tetangga dan kerabat."

Nadira menunduk lebih dalam. "Aku... aku nggak mau menikah hari ini. Aku nggak mau melihatnya lagi. Bahkan bayangan Fadlan saja membuatku sakit."

Hening sejenak memenuhi ruangan. Lalu terdengar ketukan lembut di pintu. Nadira mengangkat kepala, dan terlihat ibunya membuka pintu sedikit. "Nadira... ada seseorang yang bersedia menggantikan Fadlan. Ia ingin menikahimu hari ini juga."

Nadira menatap ibunya dengan mata membesar. "Siapa, Bu? Aku... aku nggak kenal orang itu!"

Sri menghela napas panjang, menahan emosi. "Ia... ia tetangga kita sendiri. Orang baik. Ia bersedia, demi membantu keluarga kita menutupi rasa malu ini."

Nadira merasa jantungnya tercekat. Pikiran dan emosinya kacau balau. "Aku nggak mau! Aku nggak mau menikah dengan orang yang baru kukenal! Ini gila!"

Ibunya menatap Nadira dengan tatapan penuh ketegasan, sekaligus kesedihan. "Nadira... tolong dengarkan ibumu. Kita sudah tidak punya pilihan lain. Demi harga diri keluarga, demi semua yang telah terjadi... tolong. Namanya Rafli."

Mendengar nama itu, tubuh Nadira seakan membeku. Rafli-tetangga mereka yang selama ini dikenal dingin, jarang tersenyum, dan tampak sombong. Seorang duda yang bahkan Nadira jarang berbicara dengannya.

Ia mencoba menolak dengan sekuat tenaga, tapi waktu terus berjalan. Persiapan pernikahan sudah mendesak, dan pilihan lain tidak ada. Hatinya yang memberontak hanya bisa pasrah.

Acara pernikahan berlangsung di halaman belakang rumah yang sudah dihias indah dengan bunga-bunga putih dan tirai satin. Kerabat dan tetangga menatap dengan campuran rasa penasaran dan simpati. Nadira duduk di kursi pengantin dengan tangan gemetar, sementara Rafli berdiri di depan, rapi dengan setelan jas hitam. Wajahnya tetap tenang, seperti biasa, tanpa senyum yang bisa menghangatkan hati.

"Selamat pagi, Nadira," suara Rafli terdengar tegas namun lembut. Nadira menatapnya sekilas, mencoba membaca ekspresi pria itu. Tapi yang ia lihat hanyalah kesan dingin yang selama ini melekat.

"Selamat pagi..." Nadira menjawab singkat, suaranya nyaris berbisik.

Ritual pernikahan dimulai. Setiap gerakan terasa canggung. Nadira merasakan semua mata tertuju padanya, menunggu reaksinya. Di hatinya, ia memberontak, ingin lari, ingin menolak, tapi tubuhnya seakan tidak bisa bergerak.

Rafli tetap tenang, mengikuti semua prosesi dengan profesionalisme yang luar biasa. Ia bahkan sesekali melirik Nadira dengan pandangan yang sulit diartikan-antara perhatian, kesabaran, dan sedikit rasa iba. Nadira merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia mulai menyadari, meski sikap Rafli dingin, ada keteguhan yang membuatnya merasa aman, meski ia belum siap menerima pernikahan ini.

Hari-hari setelah pernikahan berlangsung canggung. Nadira harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang tiba-tiba ini. Rafli, meski tampak dingin dan kaku, selalu hadir tepat waktu, menepati semua janji, dan menjaga Nadira dengan penuh perhatian, meski caranya tidak manis atau romantis seperti yang biasanya ada dalam kisah pernikahan.

Suatu sore, saat Nadira duduk di balkon rumah sambil menatap langit senja, Rafli datang membawakan secangkir teh hangat. "Ini... untukmu," katanya singkat. Nadira menatapnya, terkejut dengan perhatian sederhana itu.

"Terima kasih..." Nadira mengucap lirih.

Rafli hanya mengangguk, lalu duduk di kursi dekatnya. Hening. Udara terasa berat, tapi tidak menakutkan. "Aku tahu ini sulit. Aku juga tidak ingin menikah seperti ini. Tapi kita harus menjalani kenyataan yang ada."

Nadira menunduk, mencoba menahan tangis. "Aku... aku takut. Takut kalau aku tidak bisa mencintaimu. Takut kalau semuanya hanya pura-pura."

Rafli menatapnya dalam-dalam, kemudian berkata dengan tenang, "Aku juga takut, Nadira. Tapi aku percaya, cinta itu bisa tumbuh perlahan. Kita hanya perlu waktu."

Kata-katanya sederhana, tapi entah mengapa, hati Nadira sedikit tergerak. Ia menyadari bahwa di balik sikap tegas dan dingin Rafli, ada seseorang yang sabar, penuh pertimbangan, dan bertanggung jawab.

Hari-hari pun berlalu, Nadira mulai melihat sisi lain Rafli. Ia bukan lagi tetangga sombong yang selalu membuatnya kesal. Ia seorang pria yang memiliki cerita, rahasia, dan luka sendiri. Nadira perlahan belajar membuka diri, memahami bahwa cinta tidak selalu datang dari kenyamanan dan kegembiraan semata, tapi juga dari pengertian, kesabaran, dan waktu yang dijalani bersama.

Suatu malam, ketika Nadira duduk di ruang tamu, Rafli masuk membawa dua mug cokelat hangat. Ia duduk di samping Nadira, tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk membuat Nadira merasa hangat.

"Kau tahu," Rafli memulai percakapan yang jarang ia lakukan, "dulu aku tidak percaya cinta yang tiba-tiba. Tapi aku belajar, kalau cinta bisa muncul dari hal-hal yang sederhana... seperti dua orang yang belajar menanggung beban bersama."

Nadira menatap Rafli. Kata-kata itu menyentuh sesuatu di hatinya. Ia tersenyum kecil, perlahan merasakan kehangatan yang sebelumnya asing baginya. Mungkin, pikirnya, meski awalnya pernikahan ini terpaksa, bukan berarti tidak bisa menjadi sesuatu yang nyata.

Dan di sanalah, di tengah kebingungan dan rasa cemas, Nadira memulai lembaran baru dalam hidupnya-dengan Rafli, seorang pria yang selama ini hanya dikenal sebagai tetangga dingin, namun kini menjadi bagian dari dunia barunya.

Suara hujan rintik-rintik terdengar di luar jendela kamar Nadira. Ia duduk di tepi ranjang, menatap tumpukan buku yang tertata rapi di rak, mencoba mengalihkan pikirannya dari semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Suasana rumah terasa sunyi, hanya terdengar gemericik hujan dan sesekali derit lantai kayu saat Rafli berjalan di lantai atas.

Sejak pernikahan mendadak itu, Nadira merasa seperti hidupnya dicabut dari kenyamanan dan kesehariannya. Semua yang ia kenal—rutinitas, kebebasan, bahkan teman-temannya—terasa berubah. Rafli, di sisi lain, tampak selalu tenang. Ia tidak pernah memaksa Nadira melakukan sesuatu yang tidak mau ia lakukan, tapi kehadirannya yang konsisten dan disiplin justru membuat Nadira semakin gelisah.

Hari itu, Nadira memutuskan untuk berjalan-jalan di halaman belakang, menahan keinginan untuk menangis sendirian di kamar. Hujan yang menetes di dedaunan memberikan ketenangan yang aneh, seperti dunia sedang menunggu sesuatu. Rafli keluar dari rumah, membawa payung besar untuk dirinya sendiri, lalu menatap Nadira yang masih berdiri di dekat tanaman mawar.

“Kau tidak basah?” tanyanya singkat. Nada suaranya tetap tenang, tapi ada kekhawatiran samar di matanya.

“Aku bisa menahan sedikit hujan,” jawab Nadira sambil menunduk. Suaranya pelan, seolah mencoba menjaga jarak. Namun Rafli tetap melangkah mendekat, tanpa mengganggu ruang pribadinya.

Mereka berdiri dalam diam beberapa saat, hanya suara hujan yang menemani. Nadira merasa canggung, namun ada rasa aman yang tidak ia mengerti dari keberadaan Rafli. Ia menoleh, mencoba membaca ekspresinya, tapi wajah Rafli tetap maskulin dan tegas, tanpa sedikit pun menunjukan kelemahan.

“Kau… apa kau menyesal?” Nadira akhirnya bertanya, suaranya nyaris tak terdengar. Pertanyaan itu terasa berat.

Rafli menatap langit yang mendung, lalu menunduk sejenak. “Tidak. Aku… menyesal tidak bertemu denganmu dalam kondisi berbeda. Tapi aku tidak menyesal memutuskan menikahimu.”

Kata-kata itu membuat dada Nadira sesak. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin cemas. Rasanya dunia baru yang menimpanya ini terlalu cepat, terlalu tiba-tiba.

Seiring hari berganti, Nadira mulai merasakan ketegangan yang berbeda dari sebelumnya. Rafli bukan tipe pria yang suka berbasa-basi, tapi setiap tindakannya memiliki tujuan. Ia memperhatikan makanan yang Nadira makan, memastikan ia tidak terlalu lelah, bahkan menanyakan kabar tidur Nadira. Semua hal kecil itu membuat Nadira sadar—meski tidak pernah diucapkan, Rafli memperhatikannya dengan serius.

Suatu sore, Nadira mendapati Rafli sedang membersihkan gudang yang jarang digunakan. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pria itu dengan rasa penasaran. Rafli tampak berbeda dari citra sombong dan dinginnya di mata tetangga. Tangannya yang besar bekerja dengan cekatan, namun matanya tetap waspada, seolah selalu menilai segala kemungkinan di sekelilingnya.

“Kau selalu melakukan semuanya sendiri?” tanya Nadira, suaranya masih penuh rasa ingin tahu.

Rafli menoleh sebentar, mengangkat alisnya. “Aku tidak suka merepotkan orang lain. Terutama sekarang, aku ingin semuanya tertata rapi.”

Nadira menelan ludah. Ada rasa kagum yang aneh bercampur dengan cemas. Ia belum siap menerima pernikahan ini sepenuhnya, tapi di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa Rafli adalah pria yang berbeda dari bayangan awalnya.

Malam harinya, saat hujan mulai reda, mereka duduk di ruang tamu. Nadira membuka jendela, membiarkan aroma tanah basah masuk. Rafli duduk di seberang, membaca koran. Keheningan mereka bukan lagi canggung, melainkan penuh pertimbangan. Nadira merasa seakan ada ruang yang lambat-laun mulai diisi oleh sesuatu yang belum bisa ia definisikan.

“Rafli… kau selalu terlihat kuat. Tidak ada yang bisa menggoyahmu,” kata Nadira tiba-tiba, menatap pria itu.

Rafli menurunkan korannya, menatap Nadira dalam-dalam. “Kekuatan itu… kadang hanya topeng. Ada banyak hal yang kulalui sendiri, banyak hal yang tidak orang lain tahu. Aku juga takut, Nadira. Aku hanya pandai menyembunyikannya.”

Nadira terdiam, kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ia tidak menyangka Rafli bisa berkata begitu, menyingkap sisi yang jarang ia tunjukkan. Ada kerentanan yang ia lihat, sesuatu yang membuat pria itu lebih manusiawi di matanya.

“Hidup kita… terlalu cepat berubah,” Nadira berbisik. “Aku masih belum mengerti semua ini.”

“Tidak apa-apa,” jawab Rafli, suaranya lembut. “Kau tidak perlu mengerti semuanya sekarang. Kita hanya perlu belajar menjalani hari demi hari. Perlahan.”

Kalimat itu menenangkan, tapi juga membuat Nadira merasa terjebak. Ia mulai bertanya-tanya, apakah hatinya bisa benar-benar menerima pernikahan yang awalnya dipaksakan ini.

Beberapa hari kemudian, Nadira menemukan buku harian lama Rafli yang tidak sengaja terselip di rak ruang tamu. Rasa penasaran membawanya membuka halaman demi halaman. Ia membaca catatan tentang kehilangan, penyesalan, dan rasa kesepian Rafli setelah kehilangan istrinya dulu.

Setiap kata di buku itu seakan memberi Nadira pemahaman baru. Rafli bukan hanya pria sombong dan dingin. Ia adalah seseorang yang pernah terluka, berjuang sendiri, dan kini mencoba memulai hidup baru, meski dengan cara yang tidak biasa.

Malam itu, Nadira duduk termenung sambil memegang buku harian itu. Ia mulai merasa, mungkin ada kemungkinan untuk mempercayai Rafli. Mungkin ada kesempatan untuk membuka hati, meski perlahan.

Keesokan harinya, mereka pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah. Rafli mengendarai mobil, Nadira duduk di samping. Perjalanan itu sunyi, tapi nyaman. Tidak ada kata-kata yang dipaksakan. Hanya ada keheningan yang perlahan menjadi akrab.

Di pasar, Rafli berbicara dengan pedagang dengan cara yang sopan namun tegas. Nadira memperhatikan caranya berinteraksi, caranya membuat orang lain menghormati dirinya tanpa harus menakut-nakuti. Ia mulai menyadari, meski Rafli terlihat dingin, ia memiliki karisma dan sikap yang membuat orang lain percaya padanya.

Malam harinya, di rumah, Nadira mencoba memasak untuk pertama kalinya setelah menikah. Rafli duduk di meja makan, menatapnya dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. “Hati-hati, jangan terlalu panas,” katanya. Nadira tersenyum canggung, tapi merasa hangat di dalam.

“Terima kasih… Rafli,” katanya. “Aku… aku ingin belajar, tapi aku takut salah.”

Rafli mengangguk. “Tidak apa-apa salah. Kita semua belajar dari kesalahan. Bahkan aku pun masih belajar.”

Ada rasa ringan di hati Nadira malam itu. Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami, bahwa pernikahan mendadak ini mungkin bukan kebetulan yang buruk. Ada peluang untuk membangun sesuatu, walau awalnya penuh ketidakpastian.

Hari-hari berikutnya, Nadira mulai terbiasa dengan kehadiran Rafli. Ia masih sering merasa canggung, masih sering takut membuka hati sepenuhnya, tapi setiap interaksi dengan Rafli membuatnya sedikit lebih percaya. Rafli, di sisi lain, tetap konsisten, tidak memaksa, tapi selalu hadir dengan cara yang membuat Nadira merasa aman.

Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam, Nadira duduk di balkon. Rafli keluar dari rumah dengan membawa dua gelas air lemon hangat. Ia duduk di samping Nadira, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Nadira merasa diperhatikan.

“Kau tahu, Nadira… kadang hidup memang tidak adil. Tapi kadang juga memberikan kesempatan kedua. Kita hanya perlu siap mengambilnya,” kata Rafli, menatap mata Nadira dengan serius.

Nadira menatap Rafli, hatinya berdebar. Ia merasa sesuatu mulai tumbuh di dalam dirinya—rasa percaya, rasa aman, dan bahkan sedikit rasa ingin tahu tentang cinta yang mungkin bisa muncul di antara mereka.

Dan malam itu, di bawah langit yang mulai gelap, Nadira menyadari bahwa meski pernikahan ini terjadi secara mendadak dan penuh ketidakpastian, ada kemungkinan bagi hatinya untuk menerima Rafli—perlahan, dengan waktu dan kesabaran.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika yang butuh biaya medis besar dan donor langka, Alya terpaksa menerima tawaran Niko. Pengusaha kaya yang mendambakan keturunan itu mengajukan perjanjian ibu pengganti. Meski awalnya ragu, Alya menyetujuinya demi sang ibu. Tak disangka, benih asmara justru tumbuh di antara mereka hingga memicu pergolakan batin. Ketika sebuah rahasia besar akhirnya terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta matiku pada sang tunangan, Bima Wijoyo, berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang api di studio seni demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Terbangun di masa lalu tepat sebelum rapat keluarga besar dimulai, aku membawa memori pahit tentang kobaran api itu. Kali ini, aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami di hadapan semua orang. Aku bersumpah tidak akan mati konyol untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menguak sisi kehidupan tersembunyi yang jarang dibahas. Di balik topeng kesucian, terdapat luka mendalam, dilema, serta kerinduan emosional yang rumit. Melalui penyampaian yang realistis dan eksplisit, Anda diajak merenungkan jati diri di tengah kegelapan demi meraih titik terang. Sebuah bacaan penuh makna tentang pencarian hakikat hidup dan cinta yang berliku, siap memberikan sudut pandang baru yang mendalam bagi pembacanya.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang di sekitarku tewas secara mengerikan. Mulai dari sahabat, kerabat dekat, hingga musuh-musuh yang pernah berbuat jahat kepadaku, semua berakhir tragis. Sang pembunuh berdarah dingin beraksi sangat rapi tanpa meninggalkan bukti sedikit pun. Teror mencekam ini terus berlanjut, memakan korban baru tanpa bisa dihentikan. Kini, di tengah misteri yang tak terpecahkan, nyawaku sendiri pun terancam menjadi target berikutnya dari sosok misterius yang mengintai.
Sampul Novel Terlahir Kembali
9.1
Selama dua tahun pernikahan, Ryland Payne mengabaikan saya demi sekretarisnya. Puncaknya, ia membawa wanita itu ke pameran kenangan mendiang putra kami. Kemarahan saya tersulut saat melihat liontin anak saya dipakai oleh wanita tersebut. Bukannya melindungi, Ryland justru mencelakai saya hingga saya difitnah publik sebagai pembunuh anak sendiri. Di tengah kekejaman suami dan kehinaan dunia, saya memutuskan untuk pergi dan merelakan segalanya.
Sampul Novel Terpaksa Pelakor
9.7
Kehidupan Levin Mahendra terkekang sejak sang istri koma akibat kecelakaan tragis. Sebagai dokter tampan, ia menghadapi dilema besar saat ibunya terus menuntut kehadiran seorang pewaris. Di tengah tekanan itu, Levin bertemu Asley, seorang gadis remaja depresi korban pemerkosaan yang berniat mengakhiri hidupnya. Demi menyelamatkan nyawa Asley serta janin di kandungannya, Levin akhirnya mengambil keputusan besar untuk menikahi gadis malang tersebut.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED