"Tika, Kartika kau harus cepat pulang," kata Ida. Dia datang dengan tergopoh-gopoh menjemput Kartika di kali.
Kartika yang sedang menanjak di jalan setapak tertegun sejenak. Memandang heran kepada Ida. Dia membetulkan ember cucian yang digendongnya.
"Ada apa?" tanya Kartika dengan napas memburu.
"Bapakmu ... bapakmu digebukin orang!"
"Apa!?"
Gadis itu berlari cepat meninggalkan Ida. Hatinya begitu tersentak mendengar bapaknya digebukin orang. Bapaknya memang sering mabuk, tetapi tidak pernah berkelahi, apalagi sampai dihajar orang.
"Ada persoalan apakah gerangan? Sehingga Bapak seperti itu?" batinnya. Berjuta tanya berkecamuk dalam hati Kartika. Gadis itu terus berlari, dia meninggalkan sandal jepitnya yang terputus di tengah jalan.
Namun, gadis itu mematung saat tiba di depan rumahnya. Tampak bapaknya babak belur dihajar seorang lelaki kekar. Ia berdiri di depan bapaknya dengan kesombongannya.
"Bayar hutangmu!" bentak lelaki itu.
Kartika melihat bapaknya hanya terdiam, sembari menyeka lelehan darah di sudut bibirnya. Mukanya biru lebam bekas tonjokan, tetapi bapaknya diam tidak melawan.
Gadis itu tidak tahan, dia tidak mempedulikan bajunya yang basah. Dia juga tidak mempedulikan badannya tercetak jelas pada pakaiannya tersebut, gadis itu ingin melawan.
Ingin sekali rasanya menendang mulut yang sudah meludahi muka bapaknya. Mempraktikkan ilmu silat yang diajarkan ustadz selepas ngaji. Walau tidak mungkin menang, tetapi setidaknya dia sudah membela bapaknya.
"Hentikan!" jerit Kartika.
Orang asing itu membalikkan badan, matanya membola melihat tubuh Kartika yang seolah-olah telanjang. Ia menelan ludahnya yang seketika memenuhi mulutnya. Jakunnya turun naik. Tiba-tiba ia merasa sesak di bagian bawah celananya.
"Harso!" teriak bapaknya.
Orang yang dipanggil Harso itu tetap memandang Kartika. Napasnya seketika terasa megap-megap melihat pemandangan di depan matanya.
Ibunya Kartika tergopoh-gopoh datang dengan menggendong adiknya. Secepatnya menyeret tangan Kartika dan membawanya masuk.
"Aku ingin melawan dia, Mak," sungut Kartika. Hatinya kesal karena niatnya tidak kesampaian.
"Sudahlah, gak usah ikut campur, ganti bajumu!" suruh ibunya.
Kartika masih sempat mengintip keluar, dia melihat Harso dan bapaknya tidak lagi berkelahi. Bapaknya sudah berdiri dan terlibat pembicaraan serius. Beberapa kali bapaknya menggelengkan kepalanya.
******
Kartika berganti pakaian dengan hati penuh tanda tanya. Mengapa secepat itu bapaknya dengan Harso berbaikan. Sungguh tidak masuk di akal. Mereka kini berbicara di ruang tamu rumahnya. Obrolan tentang juta-juta terdengar samar sampai ke telinganya. Kartika menduga, mungkin mereka sedang menghitung utang bapaknya.
Kartika masih ingat pandangan Harso padanya tadi. Bagaikan seorang musafir yang kehausan di tengah padang pasir, kemudian melihat sumur dengan airnya yang jernih. Dia seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat. Bulu kuduknya meremang seketika.
Kartika memandang ke luar lewat jendela. Kemarau sedang memperlihatkan keperkasaannya. Daun-daun merangkul dahannya dengan erat. Mereka tidak mau terpisah karena kekeringan, layu dan lepas tertiup angin.
Ibunya masuk dengan wajah masygul. Raut wajahnya kusut seperti cucian yang belum disetrika. Dia duduk di pinggir tempat tidur milik Kartika. Wajahnya pucat, membisu tak mampu bicara.
"Mak." Kartika menegur. Ibunya bergeming, seperti tidak mendengar suara Kartika.
Kartika turut diam, menunggu perkataan keluar dari mulut ibunya. Gadis lugu itu memperhatikan kucing yang bergelung di kakinya. Menguap dan menggesek-gesekkan bulunya yang lembut.
"Tika ... kau harus berbenah!" suruh ibunya lirih.
"Apakah laki-laki itu mengusir kita, Mak?" tanya Kartika.
Ibunya menggeleng lemah, bulir air mata yang sejak tadi ditahannya meluncur juga di pipinya. Kantung matanya seperti tak kering-kering sebab air itu tidak berhenti menetes.
"Lalu?"
"Dia menginginkanmu sebagai pelunasan utang Bapakmu," jawab ibunya.
"Maksudnya?" Kartika masih tidak mengerti.
"Kau harus bekerja padanya."
"Aku bersedia, Mak," jawab Kartika.
Meledak tangis ibunya di pundak Kartika. Menangisi kepolosan anaknya yang belum genap berusia dua puluh tahun. Dia tidak tahu pekerjaan macam apa yang akan dijalaninya nanti. Sebagai seorang ibu, perasaannya begitu hancur.
Kartika berpikir, dia hanya akan menjadi pembantu rumah tangga. Tidak apa-apa, dia rela. Asalkan ibu dan bapaknya serta adiknya hidup tentram tanpa ada yang mengganggu.
Kartika berkemas, memasukkan sebagian baju lusuhnya ke tas besar. Ibunya memandang dengan hati yang terluka.
"Emak tidak usah menangis, aku memang harus bekerja kan, Mak? Sekolahku sudah selesai," hibur Kartika.
****
"Besok aku datang lagi, menyerahkan sisa uangmu!" teriak Harso kepada bapaknya Kartika.
Lelaki itu tertawa penuh kepuasan melihat Kartika ikut dirinya. Tadi dia sudah menyelesaikan pembicaraan dengan temannya dari kota. Ada sebuah harga yang disebutkan yang membuat dirinya begitu bersemangat. Lima puluh juta, dia bisa ambil empat puluh juta, sisanya buat bapak Kartika. Meski utang bapak Kartika itu hanya beberapa juta saja.
Kartika pergi diiringi tangisan ibu dan adiknya. Bapaknya hanya duduk mematung di kursi reyot ruang tamunya. Mukanya merah, menahan perasaan haru serta bekas pukulan Harso tadi. Biarpun bapaknya seorang laki-laki brengsek, tetap saja hati kecilnya tidak rela Kartika pergi. Namun, lelaki miskin seperti dia, tidak mempunyai banyak pilihan.
"Nanti pulang lagi ke desa, bajumu akan bagus-bagus seperti artis," kata Harso di bis.
Kartika diam saja, mencoba menikmati perjalanannya dengan melihat ke luar. Pikirannya berkelana, teringat ibunya, adiknya, bapaknya juga ... Saiful. Lelaki itu selalu mampu membuat Kartika menyembunyikan senyum saat sedang mengaji. Tatapannya teduh membuat murid-muridnya selalu betah belajar dengannya.
"Sudah sampai," kata Harso. "Ayo!"
Lelaki itu menuntun Kartika menuju suatu tempat. Di sana sudah menunggu seorang lelaki berkacamata hitam. Dari penampilan serta mobilnya yang mengkilap, sudah bisa ditebak kalau ia orang kaya.
Harso bersama orang kaya itu berjalan menjauhi Kartika. Sebuah amplop coklat cukup tebal berpindah tangan. Kartika berdiri sambil menjinjing tasnya, tidak berani mendekat hanya memperhatikan dari kejauhan.
Harso mendekati Kartika, menyelipkan sesuatu di tangan gadis itu. Entah senyum atau seringai yang lelaki itu pamerkan. Dia berkata,"Ikutlah dengan Tuan Heru."
Kartika tidak menjawab, dia sudah pasrah dengan takdirnya. Dia sudah mengikhlaskan dirinya untuk menjadi pembantu rumah tangga. Nilai-nilai bagus di ijazahnya tidak berguna kini.
Tuan Heru membawa Kartika ke sebuah rumah kecil yang asri. Kartika suka melihatnya, dia akan betah tinggal di sini. Tuan Heru tidak banyak berbicara, lelaki ganteng itu hanya diam ketika menyetir mobilnya tadi.
"Siapa namamu?" tanya Tuan Heru.
"Kartika, Tuan," jawab Kartika.
Sejenak Tuan Heru seperti berpikir, entahlah, Kartika tidak tahu isi pikirannya. Lelaki itu melihatnya tanpa kedip, seperti hendak menelanjangi gadis cantik itu.
"Sekarang namamu, Kamilia," ujar Tuan Heru.
"Ka ... Ka ... Kamilia, Tuan?" tanya Kartika terbata-bata.
"Ya, persiapkan dirimu, nanti malam aku ke sini," jawabnya tanpa ekspresi. "Kamu boleh memakan apa pun yang ada di sini."
Setelah Tuan Heru pergi, tinggal Kartika yang tetap berdiri. Hatinya bertanya-tanya, "Pekerjaan apa sebenarnya yang harus aku lakukan?"
"Namaku Kamilia ... Kamilia." Berulang kali Kartika mengeja nama tersebut.
Gadis itu memandang kepalan tangannya. Ada dua lembaran merah yang tadi Harso selipkan ke tangannya.
Kamilia melangkah masuk kamar. Memeriksa isi lemari yang berisi baju-baju bagus. Entah milik siapa.
Kamilia heran, mengapa pembantu seperti dirinya diperlakukan seperti ini.
Kamilia melangkah ke luar kamar, perutnya lapar sejak pagi belum diisi. Banyak makanan yang bisa dia makan. Diambilnya sepotong roti serta segelas air. Kamilia duduk di meja makan. Pikirannya menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kenyang sudah perutnya kini. Kamilia membuka tas bajunya, ada kain sembahyang di sana. Kamilia membersihkan diri kemudian berserah kepada sang pemilik untuk nasibnya kali ini. Dia cemas kalau pekerjaan yang akan dijalaninya ternyata bukan sebagai pembantu.
Malam hari, Tuan Heru datang. Minyak wangi seperti tumpah di badannya, harum sekali. Kamilia menyambutnya dengan diam.
"Mengapa kau tidak memakai baju yang kusediakan?" tanya Tuan Heru.
Kamilia tidak menjawab, mulutnya terkunci padahal ingin sekali dia berkata, kalau baju itu tidak cocok dengan dirinya. Kamilia malu memakainya. Di kampung dia selalu memakai kerudung walaupun asal sampir.
Tuan Heru marah sebab Kamilia tidak menjawab. Lelaki itu menyeret gadis itu ke kamar. Memilihkan baju dan melemparnya ke muka Kamilia.
Gadis itu tertunduk, dalam hati rasa marahnya bangkit. Namun, tetap memilih bungkam.
Tuan Heru mendandani Kamilia ke salon kecantikan. Hasilnya, Kamilia seperti tidak mengenali wajahnya sendiri. Tuan Heru tersenyum puas, uang tips dia berikan kepada petugas salon.
"Bagus, kamu luar biasa cantik, tidak sia-sia aku membelimu seharga lima puluh juta," kata Tuan Heru.
"A apa?" tanya Kamilia kaget.
"Harso sudah menjualmu kepadaku."
"Oh Tuhan, takdirkah ini?" Dalam keterkejutannya dia masih teringat Tuhan dalam hatinya. Gadis itu limbung mau pingsan. Tuan Heru cepat-cepat mengajaknya pulang.
Di rumah, Tuan Heru memberinya minuman hangat dan sebuah pil. Entahlah pil apa, Kamilia tidak tahu. Dia hanya perlu menurut, bayangan menjadi seorang pembantu semakin kabur.
****
Kamilia menjerit saat Heru menghujamkan rasa sakit di tubuhnya, berulang kali. Dia hanya mampu menangis tanpa suara. Rasa sakit itu mengisi setiap rongga dalam tubuhnya, mengalir lewat darahnya, memenuhi celah hatinya.
Sebelumnya, lelaki itu menjamah setiap inchi tubuhnya tanpa terlewati. Memamerkan auratnya yang penuh bulu dan menjijikkan. Pria itu sudah tumpul otaknya melihat kemolekannya. Memghentikan pikiran hanya pada wanita .
Kantung mata Kamilia tidak lagi berair. Dia pasrah ketika takdir menjejalkan penderitaan dalam hidupnya. Dia malu saat lembah dan gunung miliknya tak sanggup lagi dia jaga. Nuraninya berteriak minta pertolongan.
"Kamilia kamu hebat, ternyata kamu benar-benar masih asli." Pria bejat itu memuji Kamilia.
"Ya, Tuan." Kamilia hanya mampu mengiyakan. Sebenarnya dia ingin meludahi muka yang kini berada di atas mukanya. Memeluk dirinya dengan erat, seperti tak ingin terpisah. Ingin rasanya Kamilia merobek mulut bau itu. Tuan Heru sempat minum saat tadi membawanya ke salon.
Tak cukup sekali Tuan Heru menjelajahi tubuhnya. Dingin malam yang menggeliat menambah beringas sang tuan mengagahi hambanya. Berpacu berlomba untuk lebih dulu sampai ke puncak.
Kamilia ingin mengeluhkan rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Seumpama singa Tuan Heru mencabik-cabik tubuhnya, tanpa kelembutan sedikit pun.
"Aku bukan pelacur!" Ingin dia teriakkan kata itu di telinga Tuan Heru. Namun bibirnya kelu, hanya mampu meringis dengan mata terpejam.
Hasrat lelaki itu seperti tidak pernah padam. Dia tidak peduli dengan setitik noda pada sprei putih tanpa corak. Napasnya mendengkus seperti banteng. Badan Kamilia yang kecil tak berdaya mengimbanginya.
Saat terdengar kumandang adzan subuh, barulah siksaan di badan Kamilia berhenti.
Tuan Heru mendengkur sekeras beruang, sesaat setelah menghamburkan lembaran uang ke tubuh Kamilia yang telanjang.
"Ini sisa uangmu, upah untuk malam yang luar biasa."
"Apa dia bilang? Sisa uangmu?" batin Kamilia. Ternyata dia tidak melunasinya tadi kepada Harso.
Hatinya perih seperti terkoyak. Sembilu yang sering menyayatnya saat bertelanjang kaki ke kebun tidaklah seberapa, ini lebih sakit lagi.
Kamilia bangkit, dia teringat Tuhannya saat mendengar suara adzan. Hatinya kecewa, "Mengapa Tuhan meninggalkanku? Mengapa Tuhan tidak datang tepat waktu? Mengapa Tuhan tidak menolongku?" batinnya.
Gadis itu menutup tubuh telanjangnya dengan selimut. Berjalan menuju tempat baju lusuhnya tersimpan, mengambil kain sembahyang. Menyimpannya jauh ke dasar tas. Gadis itu benci Tuhan yang tidak menolongnya, sehingga harus menanggung rasa sakit saat ini.
*****
Duduk diam di bawah kran shower, Kamilia membiarkan tubuhnya diguyur air. Berbaur dengan air yang berlomba turun dari matanya, sehingga tidak bisa dibedakan lagi yang mana air mata.
Dia menggosok tubuhnya kuat-kuat, agar seluruh bekas gigitan lelaki itu luntur tak berbekas. Dia tak ingin dosa-dosa itu masih tercium aromanya. Lelaki itu terlalu wangi, sampai keharumannya menempel pula di tubuh Kamilia.
Kamilia teringat kembali dengan muka bapaknya yang duduk di kursi reyot, teringat kembali muka pucat ibunya. Celotehan adiknya dengan air liur yang berceceran. Begitu pula dengan seringai wajah Harso yang kegirangan.
"Bangsat! Kau sudah menjualku!" geramnya.
Perlahan-lahan api dendam menjalari hatinya. Kamilia bukanlah wanita lemah. Dia bertekad akan membalas semua perbuatan Harso.
Rasa malu tiba-tiba menyeruak saat dirinya teringat Saiful. Dia tidak mungkin lagi mampu memandang wajah teduh itu. Dirinya teramat kotor kini.
Kamilia menelan ludah, kerongkongannya terasa kering, menyiksanya dengan dahaga.
Air matanya kembali berlomba dengan air kran. Gadis itu membenturkan kepalanya ke dinding, meraung seperti orang gila. Menggosok badannya semakin keras, sehingga menyisakan bilur-bilur merah.
"Aku tidak akan memaafkan kalian!" jeritnya.
Suara ketukan keras di pintu kamar mandi menyadarkannya. Kamilia memandang nanar ke arahnya. Ketukan itu terdengar semakin keras disertai teriakan tak sabar.
"Mila, Kamilia!"
Itu suara Tuan Heru. Lelaki itu kini akan selalu mengganggu hidupnya. Saat menangis pun dia datang mengusik. Kamilia bangkit, menyeka air matanya. Setelah menyambar handuk dan membelitkannya ke tubuh, dia membuka pintu.
"Apa yang kau lakukan, kau mengganggu tidurku!" bentaknya.
Kamilia diam, menatap mata lelah itu sekilas. Melangkah dengan rambut basah melewatinya, menuju lemari tempat baju-bajunya kini.
Aroma sabun menguar dari tubuh Kamilia. Membangkitkan kembali syahwatnya yang sudah mereda. Tuan tampan itu memburu tubuh Kamilia. Mengangkat lalu melemparnya ke atas kasur.
Rambut gadis itu membasahi bantal. Belum reda perih yang tadi, kini ditambahkannya pula. Kamilia ingin mengeluhkan, tak mau lagi beradu peluh. Namun, dirinya bisa apa? Hati gadis itu semakin terluka, luka yang akhirnya menggerogotinya.
Kadung ternoda, Kamilia mencoba berdamai dengan hatinya. Dia menurut saat Tuan Heru menuntut extra, sesuatu yang tak pernah diketahuinya. Dia hanya menyelamatkan raganya, agar bisa mengatur siasat.
"Dendamku harus terbalaskan!"
Sumpah terlanjur terpatri, mengakar ke dalam dadanya. Semakin kuat saat Kamilia setiap hari menerima pelecehan-pelecehan terhadap raganya.
Rupanya Tuan Heru mempunyai istri dan anak. Itu diketahui Kamilia saat tidak sengaja menguping pembicaraan mereka di telepon. Istrinya tahu keberadaannya.
"Pelacur mana lagi yang kau simpan di rumah itu, hah?" tanya istri Tuan Heru di telepon.
"Aku tidak menyembunyikan siapa pun," jawab Tuan Heru mencoba berkilah.
"Aku pastikan ia akan babak belur di tanganku!" ancam istri Tuan Heru.
Kamilia yang mendengar suara sayup-sayup itu meremang bulu kuduknya. Terus terang dirinya takut mati, apalagi keadaannya kini tengah berlumur dosa. Sekuat apa pun dirinya menekan kecemasannya, tak urung mukanya pucat pasi membayangkan hal yang mungkin terjadi kepadanya. Dikepalkan tangannya, memastikan ilmu bela diri yang tidak sepenuhnya dia kuasai, masih ada kekuatannya.
Saat ini Kamilia menemani makan tuannya di rumah. Tentu saja setelah tuannya puas menjungkir-balikkan tubuhnya di ranjang. Seperti mainan baru bagi Tuan Heru, gadis itu disentuhnya dari berbagai arah.
Kamilia makan dalam diam, sejak dirinya bekerja pada Tuan Heru, nafsu bicaranya lenyap. Berganti dengan hatinya yang kini ramai berteriak. Ya, Kamilia menyebutnya bekerja karena upahnya sudah diambil oleh Harso, si keparat.
"Cepat makannya, Mila!" perintah Tuan Heru.
"Ya, Tuan," jawabnya pelan.
"Sudah berapa kali aku ingatkan, jangan panggil Tuan!" bentak Tuan Heru.
Gadis itu hanya diam, dia memang tidak mau menciptakan kedekatan terhadap tuannya itu, dengan hanya memanggil nama. Bentakan-bentakan yang sudah mulai biasa dia terima, dihadapi dengan sabar. Seperti binatang peliharaan, dirinya tidak perlu melawan sampai tiba waktunya menggigit.
Tuan Heru pergi setelah puas segalanya. Puas perutnya dan juga bawah perutnya. Kamilia tidak tahu ada masalah apa tuannya dengan istrinya itu, sehingga dirinya harus turut andil memuaskan hasratnya.
Tepat dua bulan menjadi penghuni rumah ini. Kamilia menghitung lembaran-lembaran merah yang berserakan di kasur. Tuan Heru memang selalu memberi dirinya uang setiap hari. Ditambah dengan sisa harga kegadisannya dulu, lembaran itu semakin banyak. Ada sekitar seratus lembar. Gemetar Kamilia memegangnya, ibunya pasti senang kalau nanti dia pulang. Separuh dari lembaran itu dia simpan di bawah kasur. Separuh lagi akan dia simpan di lemari.
Suara ketukan pintu yang teramat keras, mengurungkan niatnya. Dia bergegas lari ke arah pintu, berpikir kalau Tuan Heru kembali lagi.
Satu tamparan menghadiahi mukanya begitu pintu terbuka. Kamilia limbung, matanya berkunang-kunang. Terlihat olehnya dua orang wanita cantik.
"Rupanya kau orangnya, Wanita Jalang!" Seorang perempuan cantik memakinya.
Kamilia mengerti kini, kalau wanita di hadapannya adalah istri Tuan Heru. Kembali tamparan harus dia terima. Pipinya perih, terlebih lagi hatinya.
Merasa tidak mendapat perlawanan, wanita itu kian beringas. Dia bermaksud menjambak rambut panjang Kamilia. Kali ini gadis itu melawan. Tangan kanannya melindungi kepalanya, tangan kiri mengambil tangan wanita tersebut. Dipelintirnya kemudian didorong ke arah tembok.
Dukkk.
Punggung wanita itu menghantam tembok, matanya kian menyala geram.
"Sinta!" Wanita satunya lagi memburu ke arah istrinya Tuan Heru. Rupanya nama istri Tuan Heru adalah Sinta.
Sinta kalap, dia menepis tangan sahabatnya. Dia maju menabrakkan tubuhnya ke arah Kamilia. Begitu mudah Kamilia menghindar, sehingga Sinta kembali menabrak tembok. Kali ini tubuh Sinta ambruk.
Kamilia menatapnya tanpa ekspresi, kali ini dia akan melawan. Harga dirinya tidak akan dibiarkan diinjak-injak istri Tuan Heru. Namun, tiba-tiba pandangan matanya gelap. Kamila ambruk diantara kursi tamu yang mewah.
"Mengapa dia kau bunuh?" Samar-samar masih terdengar oleh Kamilia suara istrinya Tuan Heru. Selanjutnya gelap dan dingin.
***
Suara orang memaki menyadarkan Kamilia. Dia mendapati dirinya di kasur dalam kamarnya. Lembaran yang tadi hendak dia simpan, raib entah ke mana.
"Bodoh! Mengapa kau melawan?" bentak Tuan Heru. Dia sangat marah saat tahu Kamilia melawan Sinta.
Gadis itu terbit amarahnya. Diam-diam dia mengumpulkan kekuatan untuk melawan Tuan Heru. Biarlah mati berkalang tanah, daripada hidup berkubang nista.
Tuan Heru masih saja memaki-maki Kamilia, panas kuping wanita muda itu mendengar cercaan ditujukan padanya. Kamilia bangkit sambil menendang selimut.
Dukkk.
Sebuah tonjokan yang dilayangkan Kamilia berhasil membungkam mulut Tuan Heru.
"Kau ... kau, berani sekali!" serunya tak percaya. Saat itu pula Tuan Heru mengambil sabuk dan melecutkannya ke tubuh Kamilia.
"Aw sakit ... ampun ... ampun!" Jeritan gadis itu tidak meredakan amarah Tuan Heru. Pecutannya berhenti, saat gadis itu terkapar tak berdaya dengan bilur-bilur merah di sekujur tubuhnya.
Tuan Heru pergi meninggalkan Kamilia yang sekarat. Secuil tenaga penghabisan berhasil membawa gadis itu ke tempat tidur. Dirinya bergelung di bawah hangatnya selimut, antara sadar dan tidak.
***
Sinar matahari membangunkan Kamilia dari tidurnya yang gelisah. Rasa sakit di sekujur tubuh menyongsongnya. Dia mencoba bangkit, di benaknya tergambar satu siasat. Dia akan melarikan diri.
Uang di bawah kasur yang dia sembunyikan, membawanya duduk melamun kini di sebuah bis. Perjalanan yang akan membawanya ke desa kembali. Di sepanjang jalan terlihat pohon-pohon yang meranggas. Telanjang tanpa daun menyelimuti. Terpaksa berlaku seperti itu karena batang ingin tetap tumbuh.
Ibunya menangis saat Kamilia pulang. Dia membaluri tubuh gadis itu dengan beras kencur. Perih sekali Kamilia rasakan, namun hatinya lebih perih lagi. Membusuk dan tak mungkin sembuh lagi.
Uang dari Harso rupanya sudah habis di meja judi oleh bapaknya. Dengan tidak ada belas kasihnya, bapaknya meminta uang kepada Kamilia.
"Mana uangmu, Kartika? Sini Bapak minta!"
"Uang apa? Bukankah uangnya sudah Bapak ambil dari Harso, Si Bedebah itu. Dia sudah menjualku seharga lima puluh juta, apa masih kurang!?" Kamilia berteriak sambil menangis.
"Bangsat, dia cuma memberiku lima juta!" Bapaknya mengamuk. Sebuah kursi reyot menjadi sasarannya, dibantingkan ke lantai. Hancur seperti hati Kamilia saat ini. "Besok kau harus pergi lagi ke kota, cari duit yang banyak, kalau perlu jual lagi dir ...."
"Pak! Nyebut, Pak ... nyebut!" teriak istrinya memotong perkataan lelaki itu.
"Aaah!" Dengan membanting lagi kursi, bapak Kamilia pergi.
Kamilia keluar rumah sambil menangis. Berjalan membawa sakit hatinya. Entah ke mana harus membawanya. Pundaknya ternyata terlalu lemah untuk memikulnya.
Kamilia duduk dalam kegelapan, menengadah memandang bintang. Badannya terasa remuk redam dan dia mengadukannya kepada malam. Kembali kantung matanya dipenuhi air. Bulir-bulir bening membentuk anak sungai di pipinya. Sakit raga dan jiwa seperti menyentuh langit rasanya.
Dia pulang berharap sebuah perlindungan dari bapaknya. Orang yang seharusnya paling depan membela. Namun, dia malah memintanya untuk menjual diri kembali.
"Aaah, aku benci!" Tiba-tiba Kamilia berteriak. Suaranya keras seperti menembus langit, mengadukan segala keluh kesahnya.
"Kartika ... Kartika, kaukah itu? Kami kehilanganmu selama ini."
Kamilia seperti tersambar petir, mendengar suara yang begitu dikenalnya.