Sampul Novel Menantu Tak Diharapkan

Menantu Tak Diharapkan

7.9 / 10.0
Cakra menjalani hidup yang berat sejak kecil di bawah asuhan paman dan bibinya. Kemalangan kembali menimpanya saat sang paman terlilit utang besar pada keluarga terpandang. Demi melunasi kewajiban tersebut, Cakra dipaksa menikahi putri dari keluarga kaya itu. Bukannya mendapat kebahagiaan, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam penderitaan baru. Akibat perbedaan kasta sosial yang tajam, ia harus menerima penolakan serta perlakuan dingin dari mertua yang sangat membencinya.

Menantu Tak Diharapkan Bab 1

"Cakra, ini gajimu bulan ini. Kerja dan sekolah juga yang benar. Biar jadi manusia bermanfaat buat banyak orang," Pak Tejo mendekati Cakra yang sudah bersiap pulang, ia mengulurkan tangan berisi amplop putih, tipis. Namun, begitu berarti bagi seorang Cakra.

Ia adalah anak yatim piatu yang berusaha membiayai pendidikannya seorang diri. Setiap hari ia bekerja paruh waktu di rumah makan Sanjaya, sebuah rumah makan yang cukup terkenal di Pacitan.

Cakra menerima uluran amplop itu dengan mata berbinar. Terkadang ia heran sendiri, bekerja paruh waktu, tetapi mendapatkan gaji lebih dari yang lain. 

"Makasih, Pak. Saya janji akan sekolah dengan benar. Sekali lagi terima kasih," ucapnya disertai senyuman hangat. Senyum meneduhkan selalu menghiasi wajah tegas milik Cakra. Pembawaannya yang ramah dan supel itu membuatnya mudah bergaul dengan siapa pun. 

"Memangnya, kurang berapa semester lagi kuliahmu?" tanya pak Tejo lagi. Pemimpin rumah makan Sanjaya itu selalu bersikap baik pada semua karyawannya, terlebih kepada Cakra. Namun, Cakra sadar sebagai seorang yatim piatu, mungkin membuat orang-orang menaruh simpati kepadanya. 

"Sekarang sudah semester enam, Pak. Setahun lagi saya lulus, doakan jadi lulusan terbaik, Pak," jawabnya sambil menggendong tas ranselnya. Sepulang dari kampus tadi siang, ia memang langsung menuju ke tempat kerja. 

"Oh, ya pasti. Anakku dulu juga lulusan terbaik. Setahun lulus dari sekolah, tes CPNS langsung lolos," celoteh pak Tejo. Ia merasa bangga menceritakan anak lelakinya yang saat ini hidup enak dengan menjadi pegawai negeri di luar daerah. 

"Wah, nasibnya bagus banget ya, Pak?” tukas Cakra

"Tapi ya harus pinter dulu, kan, biar bernasib baik?" 

"Hehe ... iya, Pak. Ya sudah, saya pulang dulu," kata Cakra dengan sopan.

"Iya," Pak Tejo menjawab sambil tersenyum bangga, melihat punggung menjauh itu. Pegawai yang terbilang baru, tetapi memiliki disiplin kerja cukup tinggi. 

Di luar, Cakra naik ke atas motor butut yang ia beli setahun lalu dari salah satu temannya. Dengan motor itu, ia membelah jalanan ramai malam hari, menuju kediaman rumah Pamannya yang terletak di dekat pasar Arjowinangun. 

Tak butuh waktu lama untuk tiba di depan rumah Pamannya itu, ia mengarahkan motor memasuki halaman berpagar besi setengah badan. Suasana di luar masih ramai, tetapi rumahnya itu telah sepi. Mungkin Paman dan Bibi telah tertidur, pikirnya. 

Ia membuka pintu depan, mendapati ruang tamu yang gelap. Meyakinkan dugaannya, bahwa semua orang di rumah ini telah tertidur. Memang yang ia tahu, selama ini paman dan  bibinya akan tidur lebih awal, dan bangun tengah malam untuk memasak nasi pecel dan lainnya. Usaha sang Bibi yang digelutinya selama ini. 

Cakra menuju ke dapur karena merasa tenggorokannya mengering, "Baru pulang, Mas?" Mata berat menahan kantuk, terpaksa kembali melebar karena sapaan tiba-tiba di dekat pintu menuju dapur. Seketika lampu menyala, menampakkan wajah sepupu, menatap dengan pandangan tak suka. 

"Iya. Memang aku selalu pulang malam, kan?" Cakra menyahut santai. 

"Yang penting jangan sampai lupa sama tugas malammu di sini," Seloroh Anggara. Sirat matanya penuh kebencian yang tak pernah Cakra tahu apa sebabnya. Hanya satu kemungkinan yang ia duga, karena selama ini selalu menumpang hidup di rumah itu. 

"Tuh! Tau, kan?" Anggara menunjuk ke arah dapur, perabotan kotor menumpuk di sana. 

"Iya. Memang sudah jadi tugasku."

"Bagus kalo paham!" seru Anggara sambil melenggang pergi. Bukannya ke kamar, pemuda itu malah keluar entah kemana. Membuat Cakra menggeleng tak habis pikir. Sudah sedewasa itu, tetapi belum mengenal pekerjaan apa pun, kecuali nongkrong hingga larut malam. Tak peduli bagaimana orangtuanya bersusah-payah mencari uang untuk kebutuhan hidup dan pendidikannya. 

Cakra melanjutkan langkah menuju dapur. Di sana, setiap malam tumpukan perabotan kotor selalu setia menunggu kepulangannya. Mungkin memang ia satu-satunya petugas cuci piring di rumah ini. Bahkan sebanyak itu, seperti bekas makan sejak tadi pagi tetap dibiarkan begitu saja. Hingga ia pulang kerja. Tak peduli lagi bagaimana lelahnya akibat beraktivitas seharian penuh. 

Mengingat kondisinya yang hanya menumpang hidup orang rumah ini sejak kecil, ia tak ingin ribut. Segera menyelesaikan pekerjaan meski rasa lelah membuat matanya berat. 

Krumpyang!

"Haduh, gelas kesayangan Bibi, pecah?" Seketika matanya melebar, menyadari kesalahan fatal yang dilakukan tanpa sengaja. 

"Apa lagi yang kau pecahkan?!" 

Sebuah suara melengking, membuat Cakra menoleh. Di belakang, ternyata sang bibi telah berdiri sambil berkacak pinggang. Wanita itu mendekat, dan  membeliak ketika melihat gelasnya pecah. 

"Gelasku!" pekiknya, “Kamu bisa kerja nggak, sih?!”

"Maaf, Bi. Aku udah ngantuk banget, jadi ya nggak sengaja," jawab Cakra tenang.

"Makanya, jangan terlalu malam kalo pulang!" hardik sang bibi. Masih juga belum mengerti alasan Cakra setiap hari selalu pulang malam, dalam  kondisi badan letih. Meski beberapa kali ia memberikan penjelasan, tetapi selalu salah di mata wanita galak itu. 

"Iya. Maaf," jawab Cakra.

"Maaf ! Maaf saja terus, awas kalo ada yang pecah lagi!" 

"Iya, Bibi."

Setelah punggung itu menjauh dari arah dapur, Cakra kembali berkutat dengan tumpukan cuciannya. Harus selesai secepatnya, agar bisa tertidur, dan besok bisa bangun pagi. Karena biasanya, setiap pagi sebelum berangkat ke kampus ia masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Layaknya pembantu rumah tangga. 

Jam setengah sebelas malam, Cakra baru bisa merebahkan badan remuknya. Diatas ranjang tua beralaskan kasur lantai, yang entah kapan ia membelinya waktu itu. Kamar sempit yang biasa ia tempati itu, berbeda jauh dari kamar paman  dan bibinya. Juga kamar Anggara yang terbilang mewah. 

Namun, lagi-lagi ia tak pernah mempermasalahkannya. Ia sadar betul posisinya saat ini, hanya yatim piatu yang diasuh oleh sang Paman. 

Cakra terlelap sangat pulas, akibat raga yang setiap hari diporsir. Hingga tak menyadari bahwa hari telah berganti. 

Byur! 

"Akh! Apa-apaan ini?" 

"Kamu yang apa-apaan! Sudah siang begini masih enak-enakan tidur. Dasar pemalas! Kamu nggak pernah mikir, gimana Paman dan Bibimu ini banting tulang siang dan malam. Untuk cari makan buat kamu!" 

Suara uring-uringan itu memang sudah menjadi kebiasaan di rumah itu. Namun, diguyur air karena bangun kesiangan sepertinya baru kali ini. Seketika Cakra melompat dari atas tempat tidur, sibuk menyeka air berbau tak sedap yang baru saja mengguyur wajahnya. 

"Maaf, Bi. Aku kesiangan," ucap Cakra tergagap. 

"Lihat, jam berapa sekarang?" Teriak Bibi menunjuk ke arah jam dinding, sudah jam tujuh pagi. Cakra membelalak.

"Jam tujuh? Aku pasti telat," gumamnya.

"Paman dan Bibimu sudah bangun sejak tengah malam, sampai sekarang belum istirahat. Kamu malah enak-enakan molor. Ingat, ya. Jangan berangkat sebelum semuanya beres!" 

"Iya, Bi," 

"Buk, jangan kasar-kasar sama anak yatim. Nanti kalo kualat, gimana?" Tiba-tiba Paman sudah berada di antara mereka. Melerai, meski tak pernah berhasil. Karena tak pernah menang melawan mulut judes sang istri. 

"Terus saja, Bapak bela anak itu. Sampai kita nggak punya apa-apa lagi karena memenuhi kebutuhannya!" seru bibi, membuat paman Karwo terdiam seribu bahasa. 

Paman dan  Cakra bergeming, saat Bibi hendak pergi dari kamar itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia menoleh, "Kamu harus ganti gelasku yang kamu pecahkan semalam!" tegasnya. 

"Iya, Bi. Ini sekarang saja, mumpung saya lagi ada uang," Cakra menyahut sambil membuka amplop yang tergeletak di atas meja sejak tadi malam. Bibi pun mengernyit, ia berjalan mendekati pemuda itu lagi. 

"Banyak uang kamu rupanya," gumam Bibi sambil merebut beberapa lembar yang sedang di pegang Cakra. 

"Bi. Memang harus sebanyak itu?" 

"Iya. Memang kenapa?" Belum sempat ia menjawab, bibi telah menghilang dari balik pintu kamar. Cakra menghela napas berat, sejenak menoleh ke arah sang Paman yang menyentuh lembut pundaknya. 

"Sabar ya, Cakra."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Menantu Tak Diharapkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika yang butuh biaya medis besar dan donor langka, Alya terpaksa menerima tawaran Niko. Pengusaha kaya yang mendambakan keturunan itu mengajukan perjanjian ibu pengganti. Meski awalnya ragu, Alya menyetujuinya demi sang ibu. Tak disangka, benih asmara justru tumbuh di antara mereka hingga memicu pergolakan batin. Ketika sebuah rahasia besar akhirnya terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Kehidupan Ratih Apsari hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh. Usai bercerai, sebuah ketidaksengajaan membuatnya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka melewati malam bersama. Tak disangka, pria itu adalah CEO baru di tempatnya bekerja. Sempat curiga telah dijebak, Ratih justru mulai jatuh cinta seiring kebersamaan mereka. Kini ia bimbang karena status sosial dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Haruskah ia menerima cinta baru ini atau kembali pada mantan suaminya?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari rela menjual kesuciannya pada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Di tengah kemalangan itu, ia tanpa sengaja bertemu dengan duda tampan bernama Damian di supermarket. Kini, Daiva berada di persimpangan jalan ketika Keyko dan Damian sama-sama berjuang memenangkan hatinya. Siapa pria yang akan dipilih Daiva untuk menemani masa depannya dan melepaskannya dari bayang-bayang masa lalu?
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun, harus membanting tulang sebagai pekerja paruh waktu di kota besar. Nasib buruk menimpanya saat ia terlibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tanpa ragu merendahkan harga diri Cyra dan menyiksanya dalam penderitaan. Meski terus tersakiti oleh perlakuan sang pewaris tunggal, Cyra malah terpikat oleh pesona pria itu. Akankah ia tetap bertahan atau memilih memberontak untuk lepas?
Sampul Novel Rahasia Kelam Seorang Istri
9.4
Kehidupan pernikahan Alina dan Arya kini terancam oleh bayang-bayang masa lalu Alina yang kelam. Di satu sisi, Alina sangat mencintai suaminya, namun di sisi lain ia takut rahasia lamanya akan merusak segalanya. Arya, seorang duda yang menjunjung tinggi kejujuran, mulai menaruh curiga pada kesucian masa lalu sang istri. Alina pun terjebak dalam pilihan sulit: terus bungkam atau berterus terang meski kejujuran itu bisa dianggap sebagai pengkhianatan besar bagi Arya.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED