Bab 2

Dua tahun telah berlalu, Cakra telah menjadi seorang sarjana. Ia lulus dengan cumlaude, membawa penghargaan tertinggi dari pihak kampusnya waktu itu. Kini, ia telah berhenti dari rumah makan yang ia geluti sejak awal di bangku perkuliahan. 

Saat ini, Cakra mulai mengamalkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah. Menjadi pengajar di sebuah SMP negeri, meski hanya sebagai guru honorer yang gajinya tak seberapa. Namun, rasa bangga ketika melihat keceriaan anak didik itu telah melebihi puasnya ketika menerima gaji sebesar apa pun. 

"Baiklah anak-anak, cukup dulu pertemuan hari ini, ya. Tugasnya jangan lupa dikerjakan." Titah Cakra siang ini pada seluruh anak didiknya di salah satu kelas sembilan. 

"Iya, Pak Cakra." Anak-anak serentak menjawab. Sebagai satu-satunya guru muda di sekolah itu, tak ayal jika ia selalu menjadi idola bagi murid-muridnya. Apa lagi anak perempuan, yang rata-rata anak SMP saat ini sudah pandai bersolek dan memikat lawan jenis. 

"Selamat siang, semuanya," ucap Cakra untuk mengakhiri pembelajarannya. 

"Siang, Pak."

"Besok ketemu lagi ya, pak. Hehe ...."

Celotehan mereka masih sayup-sayup terdengar ketika Cakra sudah keluar dari kelas itu. Berjalan  menuju kantor pun tak luput dari tatapan kekaguman dari siswi yang sedang bergerombol di sepanjang teras sekolah. 

Jam dua belas siang, ketika jadwalnya telah selesai, ia harus segera pulang. Pekerjaan rumah selalu menunggunya setiap hari. Iya, Cakra masih tinggal di rumah Paman. Meski sifat Bibi dari dulu tak berubah, mau bagaimana lagi? Untuk membayar kontrakan pun tak ada uang. Apalagi membeli rumah. 

Hanya motor butut dan ponsel bekas itu, yang mampu ia beli sejak masih kuliah. Beberapa semester Cakra terbebas dari biaya, karena ada donatur yang membayarnya, dengan alasan ia adalah mahasiswa berprestasi. Kala itu gaji dari kerja paruh waktu utuh, hingga bisa membeli motor dan ponsel. Sering mendapatkan beasiswa, itulah yang menyebabkan Anggara selalu iri kepadanya. 

Tiba di rumah, usai mengganti baju dengan kaos oblong berwarna putih dan bawahan jogger. Cakra siap menjalani aktivitas, lantai kotor debu bercampur minyak berceceran. Hingga banyak sekali bekas sepatu dan sendal tercetak, di sepanjang jalur lantai yang sering dilalui. 

Di depan TV pun, tumpukan baju berserakan. Baju milik ketiga orang penghuni rumah ini, selain Cakra tentunya. Baju-baju itu bercampur begitu saja, antara yang kotor dengan yang baru diangkat dari tempat jemuran. 

Cakra hanya mengintipnya sebentar, lalu berjalan menuju dapur yang kotorannya telah menumpuk. Kadang ia hanya bisa menggeleng sambil menghela napas panjang,  selama tinggal di rumah itu, ia hanya diperlakukan layaknya pembantu. Iya, pembantu rumah tangga dengan seabrek pekerjaan rumah yang tiada habisnya. 

Semua pekerjaan rumah itu, baru selesai menjelang sore hari. Ketika Anggara baru pulang dari pekerjaannya sebagai teller di salah satu Bank. Yang membuat sikap sombongnya semakin menjadi, karena merasa penghasilannya lebih besar daripada Cakra. 

Tok tok tok! 

"Masuk," ucap Cakra pada seseorang yang malam ini mengetuk pintu kamarnya. Terlihat sang paman seiring dengan terbukanya pintu. 

"Cakra, apa kamu sibuk?" tanya paman Karwo. Ia pun ikut duduk di samping Cakra yang bergeser sedikit dari tempat duduknya. 

"Tidak, Paman. Memang ada apa?" tanya Cakra. Ia menatap heran pada pamannya yang tampak tak seperti biasa. 

"Cakra ... maafkan Paman." Seperti ada sesuatu yang membuat pemilik wajah setengah abad itu muram, suaranya bergetar lirih. Sambil menyentuh pundak Cakra. 

Tentu saja, pemuda itu merasa tak enak hati. Ia raih tangan sang paman dan menggenggamnya erat, dengan memandang lekat wajah tertunduk. 

"Paman tidak perlu bicara begitu. Saya sudah terbiasa mengalami ini semua," katanya tenang. Namun, Paman Karwo malah menggeleng penuh rasa bersalah. 

"Ini, lebih rumit Cakra. Paman telah melakukan sebuah kesalahan fatal, yang berdampak pada masa depanmu," ucap sang Paman semakin menunduk. 

"Mbak Sekar pasti marah, mengetahui adiknya ini tidak bisa menjaga anaknya dengan baik," lanjut paman Karwo. Cakra mengerutkan dahi semakin tak mengerti. 

"Maksud Paman apa?" tanyanya makin penasaran. Paman Karwo menatapnya sekilas dan kembali menunduk. Seperti ragu untuk mengutarakan permasalahannya. 

"Selama ini, Paman punya hutang cukup besar pada pak Sudarmoko yang rumahnya dekat pantai sana. Dan, Paman ... paman kesulitan untuk melunasinya."

"Memangnya, berapa besar hutang Paman? Barangkali, saya bisa membantu melunasinya." Cakra memberanikan diri bertanya, meski dalam hati merasa ragu. Apalagi dengan gajinya selama ini. 

"Hutang Paman sangat besar. Lima puluh juta. Justru itu, Paman tidak bisa melunasinya. Dan Pak Moko kemarin datang kemari, memberikan pertimbangan yang cukup berat."

"Apa itu, Paman?"

Paman Karwo yang awalnya menunduk, kini mendongak. Menatap Cakra dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Raut wajah ragu, juga iba, semua bercampur menjadi satu. 

"Cakra, Pak Moko akan menyatakan lunas. Jika, kamu ...mau menikah dengan anak pak Moko yang pendiam itu." Suara paman kali ini terdengar lirih.

Sementara Cakra, yang mendengar ucapan pamannya itu sangat kaget. Saking kagetnya, hingga ia tan bisa mereaksi apapun. Wajahnya terlihat datar, hanya sekilas langsung membuang muka ke arah jendela yang bertirai transparan. 

"Paman tidak akan memaksa kamu, Cakra. Jika kamu tidak bersedia pun tidak apa-apa. Lagi pula ini Paman yang punya hutang, Paman juga yang harus bertanggung jawab."

Perih. Itulah yang dirasakan Cakra saat ini. Seharusnya bisa membalas semua jasa sang paman yang telah merawatnya sejak kecil. Namun, haruskah dengan cara seperti ini caranya? Ia menunduk dalam. 

"Apakah harus saya yang menikah dengan anak pak Noko itu, Paman?" tanyanya. Meski selama ini belum pernah mencoba merajut cinta, tetapi bukan berarti akan  berakhir seperti ini. Menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya, apalagi dengan alasan untuk melunasi hutang Paman. 

"Paman juga tidak tau, Pak Moko hanya menyebutkan namamu saja. Padahal beliau tau, ada dua pemuda di rumah ini," 

"Pak Moko pasti juga memiliki perasaan yang sama sebagai seorang Ayah, yang tidak mungkin .... " Cakra menggeleng, tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. 

"Iya, Cakra. Paman juga tidak akan memaksamu, Paman  keluar dulu, ya."

Tanpa menunggu jawaban lagi. Paman Karwo keluar, meninggalkan Cakra di kamarnya. 

Ia akhirnya hanya bisa merebahkan badan, terjaga hingga menjelang dini hari. Lalu, tergeragap ketika mendapati tirai jendelanya telah benderang. Lampu-lampu bagai bintang di pegunungan itu telah redup oleh cahaya langit yang mulai memutih. 

Usai membersihkan badan, ia penasaran karena ada suara riuh di ruang tamu. Cakra mendekat, dan seketika berhenti di tempat. Ketika ujung telunjuk sang Bibi tiba-tiba terhidang di depan mata, "ini dia orangnya!" Bibi Karwo berseru. 

"A, ada apa, ini?" tanyanya. Pandangan menyapu pada setiap wajah yang pagi ini berdiri tegang di ruang tamu. Rupanya ada seseorang bertampang sangar, membuat pagi mereka menjadi setegang ini. 

"Mas Cakra. Tunjukkan balas budimu pada kami yang telah benyak berkorban selama ini!" Suara Anggara terdengar lantang, mengalahkan kicauan burung penyambut surya pagi. 

"Iya, Cakra. Ikutlah dengan Pak Moko biar kami bisa terbebas dari hutang!" Suara Bibi tak kalah lantangnya. 

"Anggap saja itu sebagai balas budimu pada keluarga kami. Lagi pula pamanmu berhutang juga untuk kita semua. Termasuk kamu!" Belum sempat Cakra menjawab. Bibi sudah mencecar dengan kalimat bertubi-tubi, yang semakin membuatnya bungkam. 

***

Bab 3

"Anggap saja itu sebagai balas budimu pada keluarga kami. Lagi pula pamanmu berhutang juga untuk kita semua. Termasuk kamu!" Belum sempat Cakra menjawab. Bibi sudah mencecar dengan kalimat bertubi-tubi, yang semakin membuatnya bungkam. 

"Aku tidak mau tau, kalian angkat kaki dari rumah ini sekarang juga. Atau, salah satu diantara dua pemuda itu menikah dengan anakku!" Sosok berwajah sangar itu bersuara, dengan suara lantang memekakkan telinga. 

Semua orang yang ada di rumah itu terdiam. Paman Karwo menunduk sangat dalam, ia pasti sedang berada di posisi serba salah. Sementara Anggara dan Bibi, menatap tajam ke arah Cakra dengan pandangan menuntut. 

"Bagaimana, jadi tidak ada yang mau menikahi anakku? Kalau begitu, sekarang juga kalian harus tinggalkan rumah ini!" 

"Pak! Tolong jangan usir kami .... " Rintih Bibi dengan suara serak, sambil menangkupkan kedua tangannya. Memohon dengan sangat pada sosok tak punya hati itu. 

"Cakra!" Teriakan bibi beralih ke arah Cakra, "jangan diam saja!" 

"Baik." Serentak, semua orang tercengang setelah Cakra berucap singkat tadi. Kecuali Pak Moko yang hanya berwajah datar. Lain halnya dengan Paman Karwo, ia mendongak sambil membulatkan mata tak percaya. Sementara Bibi dan anak lelakinya tersenyum lega. 

"Saya bersedia menikah dengan anak Pak Moko." Suara Cakra terdengar tegas. Meski raut wajah sendu tak dapat ditutupi lagi. 

"Bagus. Kalau begitu, sekarang juga kemasi barangmu dan ikut bersamaku. Kalian akan menikah nanti siang,"

Bagai mimpi di siang bolong, Cakra tak pernah membayangkan kehidupannya akan seperti ini. Namun, ia masih percaya dengan takdir yang telah digariskan. Semua yang ia ucapkan tadi, tidak boleh disesali. Ia harus berani melangkah, bertanggung jawab atas kesanggupannya. 

Cakra tersurut, mundur menuju kamarnya. Mengambil ransel besar untuk memasukkan seluruh barang yang jumlahnya tak banyak. 

"Cakra." Ia berbalik. Rupanya, Paman Karwo telah berdiri mematung di belakang. Menatap iba terhadapnya. 

"Maafkan Paman, nak. Paman tidak bisa berbuat apapun," ucapnya lirih. Cakra mendekat, tersenyum simpul ke arah sang paman. 

"Bibi benar, Paman. Ini adalah saatnya saya harus membalas budi, atas kebaikan keluarga Paman, sejak saya masih kecil," kata Cakra berusaha menenangkan.

"Apa kamu sudah yakin, dengan keputusanmu tadi? Menikah dengan wanita yang belum pernah kamu kenal sebelumnya?" 

"Saya sudah dewasa, Paman. Saya tau apa yang harus saya lakukan," ucapnya dengan tegas.

***

Sore hari setelah acara pernikahan kilat dan sederhana itu terjadi, nyaris bagai mimpi. Apa lagi bagi seorang Cakra yang hingga kini belum pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya. Pernikahan yang ia lewati beberapa saat sebelumnya, hanya acara ijab kabul dan syukuran yang dihadiri beberapa keluarga kerabat Pak Moko dan Bu Moko. Hanya beberapa orang saja. 

Saat ini kedua pengantin baru masih duduk di tengah-tengah para tamu yang sibuk memperbincangkan apapun yang menurut mereka menarik. 

"Mas, menantu barumu itu kerjanya apa sih? Kok sepertinya kuper sekali." Salah satu kerabat Pak Moko bertanya sambil sesekali melirik ke arah Cakra, tentunya dengan tetapan sulit diartikan. Hanya satu yang jelas, pandangan tak suka, juga merendahkan. Karena mereka semua itu termasuk keluarga kelas atas. 

"Kenapa kamu tanya begitu? Apa kelihatannya menantuku itu orang miskin?" Sahut Pak Moko sambil tergelak. Dan meledaklah suara tawa di ruangan itu, hingga membuat pendengaran Cakra berdenging. Campur aduk perasannya, telah tak terlukiskan lagi. 

"Kelihatannya sih begitu, Mas." Suara yang muncul setelah tawa mereka agak reda. Namun, bukannya menghargai pendatang baru. Mereka malah membuatnya seperti barang mainan. 

"Kalian benar. Sayang sekali, ya. Menantuku yang baru ini sangat miskin, nggak seperti yang pertama.” Terdengar suara pak Moko. Mulai memberikan perbandingan pada Cakra dan kakak iparnya. Padahal hingga detik ini, ia belum tau siapa kakak ipar yang dibanggakan mertuanya itu. 

Di tempat baru itu, Cakra merasa kerdil. Direndahkan oleh setiap orang, bahkan pak Moko yang sekarang sudah menjadi bapak mertuanya. Bukannya membela, malah ikut membuat hati panas. Apalagi ibu mertuanya itu, meski hingga kini belum terdengar suaranya. Namun, terlihat jelas tatapan tak suka, tersirat di mata lebar menakutkan. 

Sementara itu, Mega. Yang mulai detik ini telah menjadi istrinya, sejak tadi hanya diam dan terus menunduk. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis pendiam itu, tak suka dengan perjodohan ini, atau apa? Tidak ada yang tahu. 

Acara bincang keluarga itu berlangsung hingga jam sebelas malam. Selama itu pula, sindiran demi sindiran tertuju kepada Cakra yang selalu bingung. Harus menunjukkan sikap seperti apa, marah atau takut. 

"Sudah malam ini, ko. Kami sebaiknya pulang dulu. Kasihan itu, pengantinmu sudah pada ngantuk." Sosok paling tua di tempat itu berdiri, mengakhiri perbincangan panas malam itu. Sepertinya, itu adalah saudara tertua dalam keluarga besar pak Moko. 

Usai berpamitan mereka meninggalkan rumah mewah itu, tanpa mau bersalaman dengan Cakra. Keberadaannya di tempat itu, hanya seperti bayang-bayang saja, tidak ada orang yang melihatnya. 

Ketika rumah telah sepi, satu persatu keluarga pak Moko pergi meninggalkan ruangan indah ini. Mereka meninggalkan Cakra dan istrinya dengan tatapan tajam dan merendahkan. 

Bu Moko yang pergi paling belakang, ketika hendak melewati pintu, wanita berbalut gaun mewah itu berbalik. Meraih tangan anak perempuannya yang ternyata sangat cantik. 

"Pergilah ke kamar, Mega. Ini sudah malam," ucapnya lembut kepada Mega. Nama yang baru didengar Cakra menjelang acara ijab kabul tadi sore. Gadis itu hanya mengangguk patuh, pergi tanpa menoleh ke arah Cakra yang menatapnya dengan perasaan bingung. 

Ia terkesiap, baru sadar bahwa Bu Moko sedang menatapnya sangat tajam. 

"Jangan berani masuk kamar, sebelum ruangan ini bersih seperti tadi!" Wanita itu mendesis, penuh bisa mematikan. Cakra mengerjap, logikanya belum bisa menyimpulkan semua kejadian yang menimpa beberapa hari belakangan ini. 

Belum sempat ia menjawab, wanita yang katanya telah menjadi ibu mertuanya itu telah pergi dari ruangan mewah berantakan itu. Hanya menyisakan suara sepatu hak tinggi, memantul memenuhi seluruh sudut ruangan terdekat di rumah itu. 

Cakra patuh. Mengerjakan semuanya seorang diri, hingga menjelang jam satu malam. Tak membuatnya pusing dengan pekerjaan rumah menggunung, karena ia telah terbiasa mengerjakannya sejak kecil. 

Ia masuk ke dalam kamar, yang di dalamnya terdapat sesosok perempuan berbaring di atas kasur lembut. Berbeda sekali dengan tempat tidurnya selama ini, yang hanya beralaskan kasur lantai. 

Gadis itu berbaring menghadap ke arahnya, meringkuk memeluk guling. Dengan selimut berwarna biru dengan motif Mickey mouse membalut seluruh badan hingga menutup leher. Netra yang memejam sempurna, serta bahu yang bergerak teratur, menandakan bahwa ia telah tertidur pulas. 

Kali ini Cakra bingung sendiri, berdiri mematung di depan pintu, yang disebelahnya terdapat sofa panjang. Tatapan matanya beralih ke sofa itu, apakah ia harus tidur sini, atau di sana? Satu selimut dengan istrinya itu? Batinnya bertanya-tanya. 

Ia bergerak, maju beberapa langkah. Mendekati tempat tidur besar itu, matanya membulat ketika sosok bernama Mega itu menggeliat. Gerakannya membuat Cakra tak bisa berkedip. Namun, cepat-cepat ia menepis semua pikiran melintas. 

Cakra ikut terperanjat, Mega bangun. Seketika menegakkan badan ketika melihat ada orang lain di dalam kamarnya. Netra yang masih memerah bergerak-gerak, memindai Cakra dari ujung kepala hingga ujung kaki. 

"Selamat malam, Mega. Sudah tidur, ya?" Suaranya terlihat kaku. Sesekali merutuk dalam hati, bodoh sekali pertanyaannya. Memang seumur hidup baru kali ini menyapa perempuan dengan momen yang menurutnya luar biasa. 

Karena yang disapa masih bergeming, ia berusaha mendekat, "Mega?"

"Pergi! Jangan sentuh aku!" Ia tiba-tiba berteriak sambil meringkuk memeluk lutut. Wajahnya terbenam, dengan bahu bergetar hebat. Cakra mengernyit tak mengerti. 

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED