"Cakra, ini gajimu bulan ini. Kerja dan sekolah juga yang benar. Biar jadi manusia bermanfaat buat banyak orang," Pak Tejo mendekati Cakra yang sudah bersiap pulang, ia mengulurkan tangan berisi amplop putih, tipis. Namun, begitu berarti bagi seorang Cakra.
Ia adalah anak yatim piatu yang berusaha membiayai pendidikannya seorang diri. Setiap hari ia bekerja paruh waktu di rumah makan Sanjaya, sebuah rumah makan yang cukup terkenal di Pacitan.
Cakra menerima uluran amplop itu dengan mata berbinar. Terkadang ia heran sendiri, bekerja paruh waktu, tetapi mendapatkan gaji lebih dari yang lain.
"Makasih, Pak. Saya janji akan sekolah dengan benar. Sekali lagi terima kasih," ucapnya disertai senyuman hangat. Senyum meneduhkan selalu menghiasi wajah tegas milik Cakra. Pembawaannya yang ramah dan supel itu membuatnya mudah bergaul dengan siapa pun.
"Memangnya, kurang berapa semester lagi kuliahmu?" tanya pak Tejo lagi. Pemimpin rumah makan Sanjaya itu selalu bersikap baik pada semua karyawannya, terlebih kepada Cakra. Namun, Cakra sadar sebagai seorang yatim piatu, mungkin membuat orang-orang menaruh simpati kepadanya.
"Sekarang sudah semester enam, Pak. Setahun lagi saya lulus, doakan jadi lulusan terbaik, Pak," jawabnya sambil menggendong tas ranselnya. Sepulang dari kampus tadi siang, ia memang langsung menuju ke tempat kerja.
"Oh, ya pasti. Anakku dulu juga lulusan terbaik. Setahun lulus dari sekolah, tes CPNS langsung lolos," celoteh pak Tejo. Ia merasa bangga menceritakan anak lelakinya yang saat ini hidup enak dengan menjadi pegawai negeri di luar daerah.
"Wah, nasibnya bagus banget ya, Pak?” tukas Cakra
"Tapi ya harus pinter dulu, kan, biar bernasib baik?"
"Hehe ... iya, Pak. Ya sudah, saya pulang dulu," kata Cakra dengan sopan.
"Iya," Pak Tejo menjawab sambil tersenyum bangga, melihat punggung menjauh itu. Pegawai yang terbilang baru, tetapi memiliki disiplin kerja cukup tinggi.
Di luar, Cakra naik ke atas motor butut yang ia beli setahun lalu dari salah satu temannya. Dengan motor itu, ia membelah jalanan ramai malam hari, menuju kediaman rumah Pamannya yang terletak di dekat pasar Arjowinangun.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di depan rumah Pamannya itu, ia mengarahkan motor memasuki halaman berpagar besi setengah badan. Suasana di luar masih ramai, tetapi rumahnya itu telah sepi. Mungkin Paman dan Bibi telah tertidur, pikirnya.
Ia membuka pintu depan, mendapati ruang tamu yang gelap. Meyakinkan dugaannya, bahwa semua orang di rumah ini telah tertidur. Memang yang ia tahu, selama ini paman dan bibinya akan tidur lebih awal, dan bangun tengah malam untuk memasak nasi pecel dan lainnya. Usaha sang Bibi yang digelutinya selama ini.
Cakra menuju ke dapur karena merasa tenggorokannya mengering, "Baru pulang, Mas?" Mata berat menahan kantuk, terpaksa kembali melebar karena sapaan tiba-tiba di dekat pintu menuju dapur. Seketika lampu menyala, menampakkan wajah sepupu, menatap dengan pandangan tak suka.
"Iya. Memang aku selalu pulang malam, kan?" Cakra menyahut santai.
"Yang penting jangan sampai lupa sama tugas malammu di sini," Seloroh Anggara. Sirat matanya penuh kebencian yang tak pernah Cakra tahu apa sebabnya. Hanya satu kemungkinan yang ia duga, karena selama ini selalu menumpang hidup di rumah itu.
"Tuh! Tau, kan?" Anggara menunjuk ke arah dapur, perabotan kotor menumpuk di sana.
"Iya. Memang sudah jadi tugasku."
"Bagus kalo paham!" seru Anggara sambil melenggang pergi. Bukannya ke kamar, pemuda itu malah keluar entah kemana. Membuat Cakra menggeleng tak habis pikir. Sudah sedewasa itu, tetapi belum mengenal pekerjaan apa pun, kecuali nongkrong hingga larut malam. Tak peduli bagaimana orangtuanya bersusah-payah mencari uang untuk kebutuhan hidup dan pendidikannya.
Cakra melanjutkan langkah menuju dapur. Di sana, setiap malam tumpukan perabotan kotor selalu setia menunggu kepulangannya. Mungkin memang ia satu-satunya petugas cuci piring di rumah ini. Bahkan sebanyak itu, seperti bekas makan sejak tadi pagi tetap dibiarkan begitu saja. Hingga ia pulang kerja. Tak peduli lagi bagaimana lelahnya akibat beraktivitas seharian penuh.
Mengingat kondisinya yang hanya menumpang hidup orang rumah ini sejak kecil, ia tak ingin ribut. Segera menyelesaikan pekerjaan meski rasa lelah membuat matanya berat.
Krumpyang!
"Haduh, gelas kesayangan Bibi, pecah?" Seketika matanya melebar, menyadari kesalahan fatal yang dilakukan tanpa sengaja.
"Apa lagi yang kau pecahkan?!"
Sebuah suara melengking, membuat Cakra menoleh. Di belakang, ternyata sang bibi telah berdiri sambil berkacak pinggang. Wanita itu mendekat, dan membeliak ketika melihat gelasnya pecah.
"Gelasku!" pekiknya, “Kamu bisa kerja nggak, sih?!”
"Maaf, Bi. Aku udah ngantuk banget, jadi ya nggak sengaja," jawab Cakra tenang.
"Makanya, jangan terlalu malam kalo pulang!" hardik sang bibi. Masih juga belum mengerti alasan Cakra setiap hari selalu pulang malam, dalam kondisi badan letih. Meski beberapa kali ia memberikan penjelasan, tetapi selalu salah di mata wanita galak itu.
"Iya. Maaf," jawab Cakra.
"Maaf ! Maaf saja terus, awas kalo ada yang pecah lagi!"
"Iya, Bibi."
Setelah punggung itu menjauh dari arah dapur, Cakra kembali berkutat dengan tumpukan cuciannya. Harus selesai secepatnya, agar bisa tertidur, dan besok bisa bangun pagi. Karena biasanya, setiap pagi sebelum berangkat ke kampus ia masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Layaknya pembantu rumah tangga.
Jam setengah sebelas malam, Cakra baru bisa merebahkan badan remuknya. Diatas ranjang tua beralaskan kasur lantai, yang entah kapan ia membelinya waktu itu. Kamar sempit yang biasa ia tempati itu, berbeda jauh dari kamar paman dan bibinya. Juga kamar Anggara yang terbilang mewah.
Namun, lagi-lagi ia tak pernah mempermasalahkannya. Ia sadar betul posisinya saat ini, hanya yatim piatu yang diasuh oleh sang Paman.
Cakra terlelap sangat pulas, akibat raga yang setiap hari diporsir. Hingga tak menyadari bahwa hari telah berganti.
Byur!
"Akh! Apa-apaan ini?"
"Kamu yang apa-apaan! Sudah siang begini masih enak-enakan tidur. Dasar pemalas! Kamu nggak pernah mikir, gimana Paman dan Bibimu ini banting tulang siang dan malam. Untuk cari makan buat kamu!"
Suara uring-uringan itu memang sudah menjadi kebiasaan di rumah itu. Namun, diguyur air karena bangun kesiangan sepertinya baru kali ini. Seketika Cakra melompat dari atas tempat tidur, sibuk menyeka air berbau tak sedap yang baru saja mengguyur wajahnya.
"Maaf, Bi. Aku kesiangan," ucap Cakra tergagap.
"Lihat, jam berapa sekarang?" Teriak Bibi menunjuk ke arah jam dinding, sudah jam tujuh pagi. Cakra membelalak.
"Jam tujuh? Aku pasti telat," gumamnya.
"Paman dan Bibimu sudah bangun sejak tengah malam, sampai sekarang belum istirahat. Kamu malah enak-enakan molor. Ingat, ya. Jangan berangkat sebelum semuanya beres!"
"Iya, Bi,"
"Buk, jangan kasar-kasar sama anak yatim. Nanti kalo kualat, gimana?" Tiba-tiba Paman sudah berada di antara mereka. Melerai, meski tak pernah berhasil. Karena tak pernah menang melawan mulut judes sang istri.
"Terus saja, Bapak bela anak itu. Sampai kita nggak punya apa-apa lagi karena memenuhi kebutuhannya!" seru bibi, membuat paman Karwo terdiam seribu bahasa.
Paman dan Cakra bergeming, saat Bibi hendak pergi dari kamar itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia menoleh, "Kamu harus ganti gelasku yang kamu pecahkan semalam!" tegasnya.
"Iya, Bi. Ini sekarang saja, mumpung saya lagi ada uang," Cakra menyahut sambil membuka amplop yang tergeletak di atas meja sejak tadi malam. Bibi pun mengernyit, ia berjalan mendekati pemuda itu lagi.
"Banyak uang kamu rupanya," gumam Bibi sambil merebut beberapa lembar yang sedang di pegang Cakra.
"Bi. Memang harus sebanyak itu?"
"Iya. Memang kenapa?" Belum sempat ia menjawab, bibi telah menghilang dari balik pintu kamar. Cakra menghela napas berat, sejenak menoleh ke arah sang Paman yang menyentuh lembut pundaknya.
"Sabar ya, Cakra."
Dua tahun telah berlalu, Cakra telah menjadi seorang sarjana. Ia lulus dengan cumlaude, membawa penghargaan tertinggi dari pihak kampusnya waktu itu. Kini, ia telah berhenti dari rumah makan yang ia geluti sejak awal di bangku perkuliahan.
Saat ini, Cakra mulai mengamalkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah. Menjadi pengajar di sebuah SMP negeri, meski hanya sebagai guru honorer yang gajinya tak seberapa. Namun, rasa bangga ketika melihat keceriaan anak didik itu telah melebihi puasnya ketika menerima gaji sebesar apa pun.
"Baiklah anak-anak, cukup dulu pertemuan hari ini, ya. Tugasnya jangan lupa dikerjakan." Titah Cakra siang ini pada seluruh anak didiknya di salah satu kelas sembilan.
"Iya, Pak Cakra." Anak-anak serentak menjawab. Sebagai satu-satunya guru muda di sekolah itu, tak ayal jika ia selalu menjadi idola bagi murid-muridnya. Apa lagi anak perempuan, yang rata-rata anak SMP saat ini sudah pandai bersolek dan memikat lawan jenis.
"Selamat siang, semuanya," ucap Cakra untuk mengakhiri pembelajarannya.
"Siang, Pak."
"Besok ketemu lagi ya, pak. Hehe ...."
Celotehan mereka masih sayup-sayup terdengar ketika Cakra sudah keluar dari kelas itu. Berjalan menuju kantor pun tak luput dari tatapan kekaguman dari siswi yang sedang bergerombol di sepanjang teras sekolah.
Jam dua belas siang, ketika jadwalnya telah selesai, ia harus segera pulang. Pekerjaan rumah selalu menunggunya setiap hari. Iya, Cakra masih tinggal di rumah Paman. Meski sifat Bibi dari dulu tak berubah, mau bagaimana lagi? Untuk membayar kontrakan pun tak ada uang. Apalagi membeli rumah.
Hanya motor butut dan ponsel bekas itu, yang mampu ia beli sejak masih kuliah. Beberapa semester Cakra terbebas dari biaya, karena ada donatur yang membayarnya, dengan alasan ia adalah mahasiswa berprestasi. Kala itu gaji dari kerja paruh waktu utuh, hingga bisa membeli motor dan ponsel. Sering mendapatkan beasiswa, itulah yang menyebabkan Anggara selalu iri kepadanya.
Tiba di rumah, usai mengganti baju dengan kaos oblong berwarna putih dan bawahan jogger. Cakra siap menjalani aktivitas, lantai kotor debu bercampur minyak berceceran. Hingga banyak sekali bekas sepatu dan sendal tercetak, di sepanjang jalur lantai yang sering dilalui.
Di depan TV pun, tumpukan baju berserakan. Baju milik ketiga orang penghuni rumah ini, selain Cakra tentunya. Baju-baju itu bercampur begitu saja, antara yang kotor dengan yang baru diangkat dari tempat jemuran.
Cakra hanya mengintipnya sebentar, lalu berjalan menuju dapur yang kotorannya telah menumpuk. Kadang ia hanya bisa menggeleng sambil menghela napas panjang, selama tinggal di rumah itu, ia hanya diperlakukan layaknya pembantu. Iya, pembantu rumah tangga dengan seabrek pekerjaan rumah yang tiada habisnya.
Semua pekerjaan rumah itu, baru selesai menjelang sore hari. Ketika Anggara baru pulang dari pekerjaannya sebagai teller di salah satu Bank. Yang membuat sikap sombongnya semakin menjadi, karena merasa penghasilannya lebih besar daripada Cakra.
Tok tok tok!
"Masuk," ucap Cakra pada seseorang yang malam ini mengetuk pintu kamarnya. Terlihat sang paman seiring dengan terbukanya pintu.
"Cakra, apa kamu sibuk?" tanya paman Karwo. Ia pun ikut duduk di samping Cakra yang bergeser sedikit dari tempat duduknya.
"Tidak, Paman. Memang ada apa?" tanya Cakra. Ia menatap heran pada pamannya yang tampak tak seperti biasa.
"Cakra ... maafkan Paman." Seperti ada sesuatu yang membuat pemilik wajah setengah abad itu muram, suaranya bergetar lirih. Sambil menyentuh pundak Cakra.
Tentu saja, pemuda itu merasa tak enak hati. Ia raih tangan sang paman dan menggenggamnya erat, dengan memandang lekat wajah tertunduk.
"Paman tidak perlu bicara begitu. Saya sudah terbiasa mengalami ini semua," katanya tenang. Namun, Paman Karwo malah menggeleng penuh rasa bersalah.
"Ini, lebih rumit Cakra. Paman telah melakukan sebuah kesalahan fatal, yang berdampak pada masa depanmu," ucap sang Paman semakin menunduk.
"Mbak Sekar pasti marah, mengetahui adiknya ini tidak bisa menjaga anaknya dengan baik," lanjut paman Karwo. Cakra mengerutkan dahi semakin tak mengerti.
"Maksud Paman apa?" tanyanya makin penasaran. Paman Karwo menatapnya sekilas dan kembali menunduk. Seperti ragu untuk mengutarakan permasalahannya.
"Selama ini, Paman punya hutang cukup besar pada pak Sudarmoko yang rumahnya dekat pantai sana. Dan, Paman ... paman kesulitan untuk melunasinya."
"Memangnya, berapa besar hutang Paman? Barangkali, saya bisa membantu melunasinya." Cakra memberanikan diri bertanya, meski dalam hati merasa ragu. Apalagi dengan gajinya selama ini.
"Hutang Paman sangat besar. Lima puluh juta. Justru itu, Paman tidak bisa melunasinya. Dan Pak Moko kemarin datang kemari, memberikan pertimbangan yang cukup berat."
"Apa itu, Paman?"
Paman Karwo yang awalnya menunduk, kini mendongak. Menatap Cakra dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Raut wajah ragu, juga iba, semua bercampur menjadi satu.
"Cakra, Pak Moko akan menyatakan lunas. Jika, kamu ...mau menikah dengan anak pak Moko yang pendiam itu." Suara paman kali ini terdengar lirih.
Sementara Cakra, yang mendengar ucapan pamannya itu sangat kaget. Saking kagetnya, hingga ia tan bisa mereaksi apapun. Wajahnya terlihat datar, hanya sekilas langsung membuang muka ke arah jendela yang bertirai transparan.
"Paman tidak akan memaksa kamu, Cakra. Jika kamu tidak bersedia pun tidak apa-apa. Lagi pula ini Paman yang punya hutang, Paman juga yang harus bertanggung jawab."
Perih. Itulah yang dirasakan Cakra saat ini. Seharusnya bisa membalas semua jasa sang paman yang telah merawatnya sejak kecil. Namun, haruskah dengan cara seperti ini caranya? Ia menunduk dalam.
"Apakah harus saya yang menikah dengan anak pak Noko itu, Paman?" tanyanya. Meski selama ini belum pernah mencoba merajut cinta, tetapi bukan berarti akan berakhir seperti ini. Menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya, apalagi dengan alasan untuk melunasi hutang Paman.
"Paman juga tidak tau, Pak Moko hanya menyebutkan namamu saja. Padahal beliau tau, ada dua pemuda di rumah ini,"
"Pak Moko pasti juga memiliki perasaan yang sama sebagai seorang Ayah, yang tidak mungkin .... " Cakra menggeleng, tak mampu lagi melanjutkan ucapannya.
"Iya, Cakra. Paman juga tidak akan memaksamu, Paman keluar dulu, ya."
Tanpa menunggu jawaban lagi. Paman Karwo keluar, meninggalkan Cakra di kamarnya.
Ia akhirnya hanya bisa merebahkan badan, terjaga hingga menjelang dini hari. Lalu, tergeragap ketika mendapati tirai jendelanya telah benderang. Lampu-lampu bagai bintang di pegunungan itu telah redup oleh cahaya langit yang mulai memutih.
Usai membersihkan badan, ia penasaran karena ada suara riuh di ruang tamu. Cakra mendekat, dan seketika berhenti di tempat. Ketika ujung telunjuk sang Bibi tiba-tiba terhidang di depan mata, "ini dia orangnya!" Bibi Karwo berseru.
"A, ada apa, ini?" tanyanya. Pandangan menyapu pada setiap wajah yang pagi ini berdiri tegang di ruang tamu. Rupanya ada seseorang bertampang sangar, membuat pagi mereka menjadi setegang ini.
"Mas Cakra. Tunjukkan balas budimu pada kami yang telah benyak berkorban selama ini!" Suara Anggara terdengar lantang, mengalahkan kicauan burung penyambut surya pagi.
"Iya, Cakra. Ikutlah dengan Pak Moko biar kami bisa terbebas dari hutang!" Suara Bibi tak kalah lantangnya.
"Anggap saja itu sebagai balas budimu pada keluarga kami. Lagi pula pamanmu berhutang juga untuk kita semua. Termasuk kamu!" Belum sempat Cakra menjawab. Bibi sudah mencecar dengan kalimat bertubi-tubi, yang semakin membuatnya bungkam.
***
"Anggap saja itu sebagai balas budimu pada keluarga kami. Lagi pula pamanmu berhutang juga untuk kita semua. Termasuk kamu!" Belum sempat Cakra menjawab. Bibi sudah mencecar dengan kalimat bertubi-tubi, yang semakin membuatnya bungkam.
"Aku tidak mau tau, kalian angkat kaki dari rumah ini sekarang juga. Atau, salah satu diantara dua pemuda itu menikah dengan anakku!" Sosok berwajah sangar itu bersuara, dengan suara lantang memekakkan telinga.
Semua orang yang ada di rumah itu terdiam. Paman Karwo menunduk sangat dalam, ia pasti sedang berada di posisi serba salah. Sementara Anggara dan Bibi, menatap tajam ke arah Cakra dengan pandangan menuntut.
"Bagaimana, jadi tidak ada yang mau menikahi anakku? Kalau begitu, sekarang juga kalian harus tinggalkan rumah ini!"
"Pak! Tolong jangan usir kami .... " Rintih Bibi dengan suara serak, sambil menangkupkan kedua tangannya. Memohon dengan sangat pada sosok tak punya hati itu.
"Cakra!" Teriakan bibi beralih ke arah Cakra, "jangan diam saja!"
"Baik." Serentak, semua orang tercengang setelah Cakra berucap singkat tadi. Kecuali Pak Moko yang hanya berwajah datar. Lain halnya dengan Paman Karwo, ia mendongak sambil membulatkan mata tak percaya. Sementara Bibi dan anak lelakinya tersenyum lega.
"Saya bersedia menikah dengan anak Pak Moko." Suara Cakra terdengar tegas. Meski raut wajah sendu tak dapat ditutupi lagi.
"Bagus. Kalau begitu, sekarang juga kemasi barangmu dan ikut bersamaku. Kalian akan menikah nanti siang,"
Bagai mimpi di siang bolong, Cakra tak pernah membayangkan kehidupannya akan seperti ini. Namun, ia masih percaya dengan takdir yang telah digariskan. Semua yang ia ucapkan tadi, tidak boleh disesali. Ia harus berani melangkah, bertanggung jawab atas kesanggupannya.
Cakra tersurut, mundur menuju kamarnya. Mengambil ransel besar untuk memasukkan seluruh barang yang jumlahnya tak banyak.
"Cakra." Ia berbalik. Rupanya, Paman Karwo telah berdiri mematung di belakang. Menatap iba terhadapnya.
"Maafkan Paman, nak. Paman tidak bisa berbuat apapun," ucapnya lirih. Cakra mendekat, tersenyum simpul ke arah sang paman.
"Bibi benar, Paman. Ini adalah saatnya saya harus membalas budi, atas kebaikan keluarga Paman, sejak saya masih kecil," kata Cakra berusaha menenangkan.
"Apa kamu sudah yakin, dengan keputusanmu tadi? Menikah dengan wanita yang belum pernah kamu kenal sebelumnya?"
"Saya sudah dewasa, Paman. Saya tau apa yang harus saya lakukan," ucapnya dengan tegas.
***
Sore hari setelah acara pernikahan kilat dan sederhana itu terjadi, nyaris bagai mimpi. Apa lagi bagi seorang Cakra yang hingga kini belum pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya. Pernikahan yang ia lewati beberapa saat sebelumnya, hanya acara ijab kabul dan syukuran yang dihadiri beberapa keluarga kerabat Pak Moko dan Bu Moko. Hanya beberapa orang saja.
Saat ini kedua pengantin baru masih duduk di tengah-tengah para tamu yang sibuk memperbincangkan apapun yang menurut mereka menarik.
"Mas, menantu barumu itu kerjanya apa sih? Kok sepertinya kuper sekali." Salah satu kerabat Pak Moko bertanya sambil sesekali melirik ke arah Cakra, tentunya dengan tetapan sulit diartikan. Hanya satu yang jelas, pandangan tak suka, juga merendahkan. Karena mereka semua itu termasuk keluarga kelas atas.
"Kenapa kamu tanya begitu? Apa kelihatannya menantuku itu orang miskin?" Sahut Pak Moko sambil tergelak. Dan meledaklah suara tawa di ruangan itu, hingga membuat pendengaran Cakra berdenging. Campur aduk perasannya, telah tak terlukiskan lagi.
"Kelihatannya sih begitu, Mas." Suara yang muncul setelah tawa mereka agak reda. Namun, bukannya menghargai pendatang baru. Mereka malah membuatnya seperti barang mainan.
"Kalian benar. Sayang sekali, ya. Menantuku yang baru ini sangat miskin, nggak seperti yang pertama.” Terdengar suara pak Moko. Mulai memberikan perbandingan pada Cakra dan kakak iparnya. Padahal hingga detik ini, ia belum tau siapa kakak ipar yang dibanggakan mertuanya itu.
Di tempat baru itu, Cakra merasa kerdil. Direndahkan oleh setiap orang, bahkan pak Moko yang sekarang sudah menjadi bapak mertuanya. Bukannya membela, malah ikut membuat hati panas. Apalagi ibu mertuanya itu, meski hingga kini belum terdengar suaranya. Namun, terlihat jelas tatapan tak suka, tersirat di mata lebar menakutkan.
Sementara itu, Mega. Yang mulai detik ini telah menjadi istrinya, sejak tadi hanya diam dan terus menunduk. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis pendiam itu, tak suka dengan perjodohan ini, atau apa? Tidak ada yang tahu.
Acara bincang keluarga itu berlangsung hingga jam sebelas malam. Selama itu pula, sindiran demi sindiran tertuju kepada Cakra yang selalu bingung. Harus menunjukkan sikap seperti apa, marah atau takut.
"Sudah malam ini, ko. Kami sebaiknya pulang dulu. Kasihan itu, pengantinmu sudah pada ngantuk." Sosok paling tua di tempat itu berdiri, mengakhiri perbincangan panas malam itu. Sepertinya, itu adalah saudara tertua dalam keluarga besar pak Moko.
Usai berpamitan mereka meninggalkan rumah mewah itu, tanpa mau bersalaman dengan Cakra. Keberadaannya di tempat itu, hanya seperti bayang-bayang saja, tidak ada orang yang melihatnya.
Ketika rumah telah sepi, satu persatu keluarga pak Moko pergi meninggalkan ruangan indah ini. Mereka meninggalkan Cakra dan istrinya dengan tatapan tajam dan merendahkan.
Bu Moko yang pergi paling belakang, ketika hendak melewati pintu, wanita berbalut gaun mewah itu berbalik. Meraih tangan anak perempuannya yang ternyata sangat cantik.
"Pergilah ke kamar, Mega. Ini sudah malam," ucapnya lembut kepada Mega. Nama yang baru didengar Cakra menjelang acara ijab kabul tadi sore. Gadis itu hanya mengangguk patuh, pergi tanpa menoleh ke arah Cakra yang menatapnya dengan perasaan bingung.
Ia terkesiap, baru sadar bahwa Bu Moko sedang menatapnya sangat tajam.
"Jangan berani masuk kamar, sebelum ruangan ini bersih seperti tadi!" Wanita itu mendesis, penuh bisa mematikan. Cakra mengerjap, logikanya belum bisa menyimpulkan semua kejadian yang menimpa beberapa hari belakangan ini.
Belum sempat ia menjawab, wanita yang katanya telah menjadi ibu mertuanya itu telah pergi dari ruangan mewah berantakan itu. Hanya menyisakan suara sepatu hak tinggi, memantul memenuhi seluruh sudut ruangan terdekat di rumah itu.
Cakra patuh. Mengerjakan semuanya seorang diri, hingga menjelang jam satu malam. Tak membuatnya pusing dengan pekerjaan rumah menggunung, karena ia telah terbiasa mengerjakannya sejak kecil.
Ia masuk ke dalam kamar, yang di dalamnya terdapat sesosok perempuan berbaring di atas kasur lembut. Berbeda sekali dengan tempat tidurnya selama ini, yang hanya beralaskan kasur lantai.
Gadis itu berbaring menghadap ke arahnya, meringkuk memeluk guling. Dengan selimut berwarna biru dengan motif Mickey mouse membalut seluruh badan hingga menutup leher. Netra yang memejam sempurna, serta bahu yang bergerak teratur, menandakan bahwa ia telah tertidur pulas.
Kali ini Cakra bingung sendiri, berdiri mematung di depan pintu, yang disebelahnya terdapat sofa panjang. Tatapan matanya beralih ke sofa itu, apakah ia harus tidur sini, atau di sana? Satu selimut dengan istrinya itu? Batinnya bertanya-tanya.
Ia bergerak, maju beberapa langkah. Mendekati tempat tidur besar itu, matanya membulat ketika sosok bernama Mega itu menggeliat. Gerakannya membuat Cakra tak bisa berkedip. Namun, cepat-cepat ia menepis semua pikiran melintas.
Cakra ikut terperanjat, Mega bangun. Seketika menegakkan badan ketika melihat ada orang lain di dalam kamarnya. Netra yang masih memerah bergerak-gerak, memindai Cakra dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Selamat malam, Mega. Sudah tidur, ya?" Suaranya terlihat kaku. Sesekali merutuk dalam hati, bodoh sekali pertanyaannya. Memang seumur hidup baru kali ini menyapa perempuan dengan momen yang menurutnya luar biasa.
Karena yang disapa masih bergeming, ia berusaha mendekat, "Mega?"
"Pergi! Jangan sentuh aku!" Ia tiba-tiba berteriak sambil meringkuk memeluk lutut. Wajahnya terbenam, dengan bahu bergetar hebat. Cakra mengernyit tak mengerti.
***