Bab 1

Moana berjalan lambat di Kota North Port yang gelap. Langkahnya terkadang terhenti karena kakinya yang bersepatu hak tinggi itu tersendat karena lecet di bagian belakang.

"Uh! Kemiskinan ini melelahkan," lirihnya sembari melanjutkan perjalanannya menuju sebuah gubuk reot dekat pelabuhan. "Hari sudah gelap tapi kenapa lampu-lampu jalan masih padam!" Matanya melirik ke atas dan sadar jika banyak lampu yang mati bahkan lebih banyak dari malam sebelumnya.

Dia terus berjalan hingga tiba di depan rumah tuanya kemudian membuka pintu kayu setelah memutar kunci. "Aku lelah!" kesalnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang lampunya sudah putus sejak dua hari yang lalu. "Aku harus cari jalan untuk kaya," gumamnya.

Nafasnya terdengar terengah karena dadanya yang sesak setelah kemiskinan ini membuatnya terpuruk.

Tak ada nasi di meja makan dan sepotong roti pun tak mampu dibeli. Matanya perlahan meneteskan air mata dan tangannya yang biasa penuh dengan lembaran uang kini hanya hampa tanpa makna.

"Aku harus bagaimana sekarang?" bisiknya sambil duduk di atas lantai tanpa alas. "Aku harus cari cara untuk bertahan hidup." Ucapnya berkali-kali sambil terus memutar isi kepalanya berharap menemukan jalan yang dia cari. "Aku harus bagaimana?" Air matanya semakin membasahi pipinya dan perlahan matanya pun terpejam.

Dalam tidurnya Moana melihat seberkas cahaya datang mendekat dan menyinari rumah tua tempatnya kini berada.

Dia hanya bisa terdiam sambil berbaring lemas karena belum makan sejak kemarin. "Siapa mereka?" ucapnya dengan tubuh yang bergetar ketakutan.

Dua orang wanita berambut putih sepinggang lalu mendekatinya kemudian mengulurkan tangannya yang penuh keriput namun sangat hangat ke arah Moana. "Bangunlah," ucapnya lembut dan Moa segera meraih uluran tangan itu.

"Kalian siapa?" tanya Moa yang tak mengenali keduanya.

"Katakan padaku apa yang kau mau?" ucap salah satu dari wanita tua itu dengan suara yang lembut.

"Tapi kalian siapa?"

"Jangan banyak tanya. Tak penting siapa kami. Katakan saja apa yang kau mau dan aku akan membantumu,"

Moa terdiam sesaat. Isi kepalanya mulai berputar dan perasaan lapar yang sangat membuat bibirnya segera bergetar. "Aku mau kaya. Miskin membuatku sangat susah dan aku tak bisa apa-apa dengan keadaan ini!"

"Kau mau kaya," Nenek tak diundang itu terkekeh. "Itu mudah untuk kami!"

"Mudah?" Moa mengernyitkan keningnya lalu menghela nafas berat. "Tapi tidak untukku!"

"Psst! Kau bawa kan alat untuk membuat Money Bowl," bisik Nenek yang berada dekat dengan Moa pada temannya.

"Iya, aku bawa!" Dia lalu berdiri sambil melebarkan senyumannya pada Moa yang memang sudah dia perhatikan gerak-geriknya sejak seminggu belakangan ini.

"Money Bowl?!" Moa tertegun mendengar ucapan tamunya itu.

"Benar ini namanya Money Bowl! Kau akan kaya dengan benda ini!"

"Bagaimana caranya?"

"Akan aku ajarkan padamu caranya dan dengan Money Bowl kau akan dapat uang dengan mudah, tapi kau harus janji ini tak boleh kau gunakan sembarangan!" ucap salah satu nenek dengan suara lembut namun sangat tegas.

"Baiklah, katakan padaku,"

Nenek yang satunya lalu meraih mangkok kosong usang milik Moa kemudian mengisinya dengan garam, beras dan beberapa lembar kayu manis yang dia bawa kemudian meletakkannya di depan Moa.

"Setelah semua masuk kini giliranmu mengucap mantra," tambah Nenek sihir itu kemudian temannya membisikkan mantra yang dimaksud.

"Aku harus mengucapkan mantra itu?"

"Iya, katakanlah. Aku akan berbisik agar tak ada orang yang aku katakan. Ini sangat rahasia jadi kau tak boleh mengatakannya kepada sembarangan orang!"

"Kau yakin aku bisa kaya hanya dengan mangkok jelek dan benda-benda yang kau bawa?"

"Moa, percayalah pada kami. Ini adalah cara untuk keluar dari kemiskinan. Setelah kau ucapkan mantra itu, perlahan hidupmu akan membaik dan kemiskinan akan pergi jauh darimu,"

Moa yang masih tak percaya dengan perkataan dua orang tamunya malam itu lalu mengikuti bisikan nenek tua itu. Dia mengucap satu persatu kata dan setelah selesai keduanya kemudian segera menghilang dari hadapan Moa.

"Apa benar yang mereka katakan? Kenapa aku tak merasakan apa-apa?" bisiknya lalu menghela nafasnya berat. "Mana mungkin bisa kaya hanya dengan cara sesimpel ini. Mereka pasti sedang bermimpi,"

Brak!

Moa terbangun dari tidurnya kemudian bergegas bangkit dari lantai. "Aku bermimpi!" ucapnya lega lalu tersenyum. "Untung hanya mimpi!"

Seperti biasa Moa segera bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. Dia harus kembali bekerja seperti biasa namun baru saja dia melangkah menuju kamar mandi, matanya segera terhenti pada mangkok yang ada dalam mimpinya semalam. "Eh!" bisiknya. "Kenapa ada mangkuk itu?" tunjuknya dengan telunjuk bergetar.

Setelah bertegun dia pun segera melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dengan perasaan masa bodo.

Dia masih saja tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kedua tamu tak diundang semalam dan lebih memilih hidup dalam kenyataan yang sedang dialami.

"Mana mungkin aku bisa kaya hanya dengan mangkok berisi beras itu," lirihnya kemudian lanjut mempersiapkan diri di kamar tidurnya yang sederhana.

Setelah semua siap, Moa lalu mengenakan kembali sepatu hak tingginya yang sempit dan melangkah lambat menuju toko tempatnya bekerja.

Hari ini sama seperti biasa, dia memulai hari dengan membersihkan toko dengan lap seadanya sebelum toko buka jam 10 siang ini.

"Moa!" panggil Tuan Roy, pemilik toko tempat Moa bekerja.

"Tuan, selamat pagi. Ini terlalu pagi untukmu datang. Ada apa gerangan!"

"Aku benar-benar beruntung hari ini!" seru Roy lalu menunjukkan secarik kertas berisi pesanan bunga dari hotel yang akan dibuka sabtu ini.

"Apa itu?" tunjuk Moa dengan mata menyipit.

"Kita kaya, Moa! Aku dapat pesanan untuk lima bulan kedepan dan mereka membayar pesanannya sekaligus!"

"Ow, ya!" Moana melonjak senang kemudian mengulurkan tangannya. "Selamat, Tuan!"

"Eh! Ini kerja keras kita. Kalau bukan kau yang datang ke hotel yang akan dibuka itu kemarin, pesanan ini tak akan masuk padaku."

"Lalu bagaimana sekarang?"

"Aku sudah menerima pesanan ini dan kau harus bantu aku, ya!"

"Siap, Tuan! Ini kabar bagus pagi ini. Jadi aku harus mempersiapkan bunga apa dulu?"

"Oh! Pesanannya bunga apa saja. Asal berwarna merah dan beraroma segar! Kau pilihkan saja untukku, ya!"

"Baik, Tuan!" seru Moana dengan senyum yang mengembang.

Tentu ini kabar yang sangat baik untuknya dan toko tempatnya bekerja setelah hampir 3 bulan ini mereka tak pernah menjual satu rangkaian bunga pun.

Moa lalu melangkah menuju tempat duduknya untuk mulai mencatat pesanan dari hotel yang akan buka sabtu ini.

"Moa!" panggil Roy sekali lagi pada pelayannya itu. "Apa kau melakukan suatu sihir untuk membantuku berjualan?" ucap Roy tiba-tiba.

"Sihir?!" Moa menyipitkan matanya dan seketika teringat pada Money Bowl yang semalam dia buat dalam mimpinya.

Bab 2

"Kau melakukan sihir, ya!" bisik Roy melihat ekspresi wajah Moa yang tiba-tiba berubah.

"Pak! Tidak!"

"Kau bilang apa? Kau yakin?"

"Tidak! Aku tak melakukan apapun! Sungguh!" Moa yang terlanjur kikuk dengan jawabannya lalu terkekeh membuat Roy segera tersenyum simpul.

"Kenapa aku ini? Kau ini gadis baik. Mana mungkin kau melakukan hal bodoh seperti yang aku tuduhkan padamu." Roy terkekeh lalu melangkah pergi meninggalkan Moa yang masih tak percaya dengan pencapaiannya hari ini.

"Apa mungkin ini karena Money Bowl," bisiknya berkali-kali sambil terus mencatat bunga apa saja yang akan dirangkai untuk pesanan hotel yang akan buka sabtu ini.

Lama dia terdiam di atas tempat duduknya hingga hari menjelang siang. Matanya mulai mengantuk dan perutnya mulai berbunyi nyaring. "Aku lapar," bisiknya sambil meraba perutnya. "Uh!" Matanya kembali terpejam dan nafasnya mulai terengah.

Dia sudah dua hari ini tak makan nasi hanya minuman manis saja yang menjadi tenaganya belakangan ini. Itupun pemberian Tuan Roy, kalau bukan pemilik toko ini yang membantunya mungkin dia sudah mati kelaparan.

"Moa!" seru Roy sekali lagi. Kali ini di tengahnya terdapat sebuah nampan aluminium berisi beberapa potong ayam yang diletakkan di atas piring putih dengan nasi yang menggunung. "Kau pasti lapar!"

"Tuan!" Moa spontan berdiri lalu tersenyum senang melihat apa yang dibawa pemilik toko bunga ini. "Kau tau kalau aku sudah tak sanggup menahan lapar ini! Kau benar-benar pria baik!"

"Iya, aku tadi dapat kiriman ayam goreng dari toko ujung jalan. Dia bilang dia dapat pesanan cukup banyak hari ini dan ingin berbagi padaku!"

"Wow!" Moa lalu melihat kalender di ujung mejanya. "Kalau tidak salah ini hari ulang bulan mereka."

"Ulang bulan?"

"Iya, mereka buka tanggal 23 Oktober 1970! Itu tepat sebulan yang lalu!"

"Ah! Pantas saja mereka mengirimiku banyak ayam. Karena kebanyakan aku berikan padamu 3," tunjuk Roy lalu setelah meletakkan nampan di atas meja kerja Moa.

"AH, terima kasih!" seru Moa yang segera meraih potongan ayam pemberian tuannya.

"Makanlah, kita tutup saja tokonya. Toh tak ada yang datang!" ucap Roy sambil membalikkan badannya kemudian bergegas menuju pintu untuk memutar tulisan di kaca pintu. "Close!" serunya setelah tulisan di pintu terbalik dan Moa melanjutkan makan siangnya.

Hari itu hati Moa sungguh sangat senang. Pesanan bunga untuk beberapa bulan yang akan datang plus sepiring nasi dengan lima potong ayam di depannya sungguh sangat membuatnya sangat senang. Entah apa lagi yang akan dia dapatkan setelah membuat Money Bowl yang ternyata begitu drastis merubah hidupnya.

"Enak sekali ayam goreng ini. Pantas saja rumah makan itu ramai sekali," Moa mengelap ujung bibirnya dengan tisu lalu mengelus perutnya yang kekenyangan. "Aku benar-benar beruntung!" ucapnya lagi.

Selepas makan siang, Moa segera mengganti tulisan di kaca pintu dari close menjadi open. Kemudian merapikan meja tempatnya bekerja sebelum akhirnya berdiri tegak karena seorang pria masuk ke dalam toko dengan senyumnya yang lebar.

"Selamat siang," sapa Moa dengan ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan!"

"Saya mau pesan bunga untuk ulang tahun putriku," pesan pria paruh baya berpenampilan perlente itu pada Moa yang cantik dengan dress putih yang dia kenakan siang itu.

"Kami ada beberapa buket bunga yang sudah jadi, Tuan. Tuan bisa pilih," Moa mendekat ke arah contoh buket bunga yang berjejer di dekat etalase toko lalu meraihnya. "Ini sudah layu, kalau Tuan mau, saya bisa buatkan lagi dengan bunga segar yang ada,"

"Tidak untuk hari ini, kok. Aku butuh untuk dua hari lagi jadi aku datang untuk memesan."

"Oh, baiklah. Apa warna bunga yang kau mau!"

"Aku butuh satu ruangan bukan satu buket. Jadi apakah kau bisa memenuhi permintaanmu!"

Mendengar pesanan tamunya tentu jantung Moana segera berdebar kencang. Dia terbelalak mendengar apa yang begitu sulit dia dengar sebelumnya.

"Ka... kau pesan satu ruangan?"

"Benar! Aku mau ruangan ulang tahun putriku dihias bunga-bunga cantik seperti itu!" tunjuk pria tua itu pada sebuah buket dari bunga plastik yang terpasang di depan meja kerja Moana.

"Itu bunga anggrek, Tuan. Jika kau mau akan aku pesankan sekarang agar cukup untuk memenuhi pesananmu!"

"Iya, aku mau bunga itu. Berapapun harganya akan aku bayar! Katakan saja harganya!"

"Baik! Boleh aku tau siapa namamu, biar aku catat agar aku tak lupa akan pesananmu,"

"Aku tuan...,"

"Tuan Wilson!" seru Roy yang masuk ke dalam tokonya dengan bergegas.

"Hah! Tuan Wilson? Bukankah dia Gubernur North Port," bisik Moana tak percaya.

"Hay, Roy! Kau di sini!" sapa pria paruh baya itu yang ternyata sudah buat janji dengan Roy. "Aku datang!"

"Kau jadi merayakan ulang tahun putrimu?"

"Tentu saja jadi. Aku mau bunganya bunga yang itu!" tunjuk Wilson pada bunga yang sudah dia tunjuk tadi.

"Oh, anggrek! Itu,"

"Kenapa?" tanya Wilson memutus perkataan Roy.

"Itu harganya 100$ satu pcs. Kalau kau mau kami butuh waktu untuk memenuhi permintaanmu,"

"Berapapun harganya aku mau beli! Kau dengar!"

"Siap!" ucap Roy yang tau jika perbincangan ini dilanjutkan maka gubernur ini akan merasa terhina dengan perkataannya.

Setelah pesanan dibuat dan Wilson pergi tinggallah Roy dan Moa yang saling melempar senyum di dalam toko.

"Gila! Berarti dia akan membeli bunga dengan harga satu juta dollar hanya untuk ulang tahun putrinya!" gumam Roy dengan senyum yang mengembang.

"Iya, Pak! Aku sudah pesankan bunga pilihan Gubernur dan katanya siap dikirimkan untuk kita besok!"

"Aku tak menyangka akan secepat ini mengumpulkan uang. Aku sangat beruntung, Moa!" seru Roy dengan nafas lega.

"Iya, aku akan bantu sampai semua pesanan terpenuhi, Tuan! Aku akan lakukan semuanya untuk membantumu!" seru Moa yang begitu bersemangat dengan semua pesanan mereka yang semakin menumpuk ini.

Setelah berbincang dengan Roy cukup lama, ini saatnya Moa pulang. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini Roy memberikan Moa beberapa lembar uang untuk ongkosnya pulang.

Roy juga berpesan agar Moa makan banyak karena dia tak mau gadis ini sakit di saat dia sedang kebanjiran orderan.

Tentu Moa menuruti perkataan pemilik toko itu hingga saat pulang dia menyempatkan untuk belok ke toko penjual ayam goreng terlebih dulu sebelum akhirnya kembali pulang sebelum langit semakin gelap.

"Ah!" Moa yang akhirnya tiba di rumah segera membuka pintu dan duduk di meja tempat Money Bowl berada. Dia tersenyum simpul pada benda ajaib yang ternyata memiliki kekuatan luar biasa untuk hidupnya hari ini.

"Terima kasih. Pasti kau yang telah membantuku!" girang Moa lalu mendekatkan wajahnya ke arah Money Bowl itu. "Aku harap besok kita bisa kembali bekerja sama karena aku tak mau hidupku kembali miskin seperti dulu!"

Brak!

Baru saja Moa menyelesaikan perkataannya tiba-tiba suara benturan keras terdengar di atap rumah.

"Apa itu!" teriak Moa ketakutan.

Bab 3

“Hey!” teriak Moa sambil menatap ke arah langit-langit rumahnya. “Siapa di situ!” tambahnya sambil mengumpulkan keberanian jika tiba-tiba pemilik suara itu menyerangnya.

Sesaat kemudian suara yang menggelegar menghilang dan mata Moa yang tajam perlahan menyipit. “Mungkin itu cuma kucing,” lirihnya lalu kembali duduk dekat Money Bowl untuk kembali mengaguminya. “Aku harap bisa kaya dengan benda ini dan punya banyak uang untuk membalas perlakuan kasar orang-orang kaya saat aku terpuruk!” tegas Moa lalu melangkah kembali ke dalam kamar tidurnya.

Malam itu Moa tidur cepat. Perutnya yang masih kenyang setelah makan siang dari ayam pemberian Tuan Roy membuatnya tak sempat makan malam. 

Dia keburu terlelap dan baru bangun di keesokan harinya saat matahari mulai menyingsing.

“Uh!” rintih Moa karena perutnya kembali berbunyi. “Aku lapar!” ucapnya sembari bangkit dari tempat tidur kemudian melangkah menuju meja makan tempat dia meletakkan ayam yang dia beli kemarin.

Meski dibeli kemarin, aroma ayam goreng ini masih nikmat. Tanpa menunggu Moa menyantapnya tanpa memperdulikan sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya.

Tak mau terlambat Moa bergegas masuk ke kamar dan bersiap untuk kembali ke toko bunga untuk bekerja lagi seperti hari-hari sebelumnya.

“Selamat pagi!” salam Moa saat kakinya melangkah masuk ke dalam toko.

Kepalanya segera miring ke kanan saat tau Tuan Roy sudah menunggunya untuk persiapan mereka membuat buket bunga yang akan mereka kirimkan ke pembukaan hotel mewah di ujung jalan. “Pagi sekali Tuan datang?”

“Hey! Aku datang cepat karena aku harus memastikan pesanan Tuan Wilson tiba tepat waktu,” alasan Roy sambil tersenyum.

“Tapi yang Tuan pegang itu kan pesanan hotel?” kekeh Moa yang tau Tuan Roy asal bunyi.

“Ini?” Roy sadar dia salah menjawab pertanyaan Moa lalu terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. “Iya, kau benar!” tambahnya.

“Tak apa, Tuan. Pasti karena banyak orderan kau jadi kurang konsentrasi,”

“Bukan itu yang membuatku kurang konsentrasi, Moa,” Roy melirik ke arah pegawainya itu lalu berbisik. “Kau mau jujur padaku, kan?”

Moa menoleh ke arah Roy lalu menyipitkan matanya untuk tau maksud dari perkataan bosnya itu. “Jujur untuk apa?”

“Boleh aku tau mangkuk apa yang ada di atas meja makanmu?”

Deg!

Jantung Moa seketika berdegup kencang, matanya menatap tajam ke arah Roy. Sebenarnya dia mulai curiga jika pria ini tahu sesuatu tentang Money Bowl tapi senyuman tulus Roy membuatnya menghapus semua pikiran buruk yang ditangkap dari Roy. 

“Jangan marah, aku hanya tanya,” Roy menarik garis senyumnya lebar-lebar.

“Tidak, Tuan! Aku tidak marah. Aku juga dapat itu dari orang yang tak aku kenal,”

“Tidak kau kenal?” Roy semakin penasaran. “Siapa?”

“Mmm!” Bibir Moa seketika kelu seakan terkunci tanpa bisa bergerak. 

“Siapa?” desak Roy tapi Moa semakin tak bisa berkata-kata.

Melihat pegawainya itu membisu, Roy segera menepuk bahu Moa agar gadis ini tak semakin terdesak karena pertanyaannya. “Maaf. Tak usah kau jawab. Anggap saja aku tak bertanya apa-apa padamu!” ucap Roy dengan raut wajah kecewa.

“Tidak!” Moa menghela nafas lalu tersenyum simpul. “Bukan aku tak mau jawab, Tuan. Tapi karena aku tak tau siapa orang itu. Jika kau mau aku akan ajarkan cara buatnya untukmu,”

“Sungguh!” Senyum Roy mengembang lebar, dia tak menyangka jika gadis polos ini bersedia memberikan apa yang dia cari dengan begitu mudah. 

Padahal semalam dia hampir terjatuh dari genteng rumah Moa saat akan mencuri mangkuk yang terus dia perhatikan selama dia memata-matai gadis muda itu.

“Jadi bagaimana caranya?” ucap Roy sekali lagi berharap Moa tak berubah pikiran.

“Mmm!” Moa nampak bingung menjawab pertanyaan Roy, maklum saja saat Money Bowl itu dibuat dia tak melihat dengan jelas apa saja yang disiapkan oleh dua nenek sihir itu. Yang dia ingat hanyalah mantra yang dibisikkan di telinganya.

“Bagaimana?” tanya Roy sekali lagi.

“Aku harus lihat dulu isinya, Tuan. Aku tak ingat apa saja isinya,”

“Oh! Baiklah!” Roy menepuk bahu Moa dengan lembut agar gadis ini tak merasa didesak. “Tenang saja, aku paham apa yang kau rasakan. Tenang saja!”

“Kau tak terburu-buru, kan?”

“Tidak!” Roy menggeleng sambil terus menahan senyumannya lebar agar gadis ini tak curiga.

Meski tak curiga sebenarnya di kepala pria paruh baya ini banyak sekali niatan jahat yang sudah disimpan sejak kemarin. Dia berharap Moa mau memberikan semua resep jimat yang ada di rumahnya itu dan tentunya saat sudah dia miliki tak peduli lagi lah dia pada apa yang akan terjadi.

Hari berjalan cepat dan ini saatnya Moa pulang. Karena tak mau pegawainya ini berubah pikiran, Roy memutuskan untuk mengikutinya pulang.

Sebelum pulang untuk melancarkan niat nya, Roy membelikan dulu Moa makan malam di toko ayam goreng langganannya barulah keduanya melangkah menuju gubuk reot dekat pelabuhan.

“Kita tiba!” seru Roy yang pasti tak sabar menunggu resep pembuatan Money Bowl yang sudah seharian ini dia tunggu-tunggu.

Moa tersenyum simpul, dia tak menyangka jika bosnya bersedia jauh-jauh ke rumahnya yang sederhana ini. Dia lalu duduk di kursi menghadap ke Money Bowl sambil mengumpulkan nafasnya.

“Kenapa dia? Ayo cepatlah sedikit!” desak Roy dan Moa segera meraih mangkuk butut miliknya yang sudah diisi beberapa benda yang asing baginya.

“Apa saja isinya?” tanya Roy mengintip isinya dari balik bahu Moa.

“Ini beras, garam, kayu manis. Aku rasa itu saja.”

“Apa mungkin cuma itu?” 

“Lihatlah, Tuan! Ini saja isinya!” tunjuk Moa yang mulai tak nyaman dengan keberadaan Roy di sampingnya.

“Kalau itu saja aku ada. Tak ada mantra yang harus aku baca?”

“Ada, Tuan!” jawab Moa lugu. “Mantranya begini!” Moa mulai membaca mantra dan pikiran Roy yang licik segera merekamnya baik-baik.

“Baiklah, aku pergi dulu. Aku harus cepat!” ucap Roy kemudian pergi meninggalkan Moa sendirian di rumahnya.

Moa yang lugu tak mengerti kenapa Roy buru-buru, sedang Roy yang licik segera tiba di rumahnya untuk meniru ini Money Bowl untuknya.

Setiba di rumah, Roy yang sudah tak sabar segera membuatnya dan benar saja setelah mengucap mantra Money Bowl milik Roy segera bersinar begitu indah.

“Wah! Jadi ini The Power Of Money Bowl yang diceritakan nenekku selama ini,” serunya sambil tersenyum puas. “Sekarang tinggal menarik uang banyak-banyak untuk membuat seisi kota North Port jadi milikku!” kekeh Roy begitu lantang.

"Sekarang aku akan jadi orang paling kaya di dunia ini!"

Saat Money Bowl milik Roy menyala, langit di North Port perlahan menjadi hitam pekat dan angin badai mulai berhembus.

"Ah! Apa ini?" gumam Moana yang masih saja duduk menghadap ke arah Money Bowl miliknya.

"Ini pertanda buruk!" bisik Nenek yang memberikan mantra kepada Moana.

"Pertanda buruk? Ada apa memangnya, Nenek!"

"Seseorang sedang berniat buruk dengan ilmu yang aku berikan padamu, Moa!" jelasnya membuat Moa tersentak.

"Apa? Mana mungkin?!"

"Kepada siapa kau berikan ilmuku itu, Moa?" tanya Nenek sihir mendekat ke arah Moa.

"Dia orang baik, Nek. Karena itu aku memberikan ilmuku padanya."

"Mmm, kau ini ternyata gadis yang bodoh!" kesal Nenek membuat Moa tersadar jika dia telah salah. 

"Jadi apa yang harus aku lakukan?"

"Kau harus menghancurkan Money Bowl pria jahat itu, kalau tidak dunia ini akan jadi hancur karenanya!"

"Apa?!!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED