Keyra, gadis berusia 20 tahun itu dengan sangat terpaksa memakai gaun pengantin, gaun warna putih lengkap dengan kerudung yang menutupi mahkota hitamnya. Gadis itu masih bersungut, memperlihatkan kekecewaannya, bayangan menjadi ratu sehari dengan gaun putih mewah bak seorang putri raja, pupus sudah.
Sebuah pernikahan yang amat sederhana, karena terkesan tergesa-gesa, dekorasi bunga sederhana, bahkan tidak ada pelaminan yang mewah, sungguh tidak menggambarkan pernikahan putri dari pemilik salah satu supermarket terbesar di kota Jakarta.
“Sempurna, Anda kelihatan cantik,” ucap sang perias memuji kecantikan Keyra.
“Cantik dari mana, jika rambut indahku tertutup kerudung seperti ini,” keluh Keyra.
Sang perias hanya mengulum senyum, melihat kekesalan sang calon pengantin wanita.
“Maaf, permisi, kami akan mendekorasi kamar pengantin,” ucap seseorang di ambang pintu.
Seketika mata Keyra melotot ke arahnya.
”Tidak usah di dekorasi, kamu pikir aku bahagia dengan pernikahan ini, bahkan membayangkan melakukan malam pengantin pun, tak pernah terpikirkan, sana pergi!” hardik Keyra, sambil berkacak pinggang.
Sang dekorator kamar pun segera pergi, melihat kemarahan Keyra
“Apa Anda sudah melihat calon suami Anda?” tanya sang perias.
“Aku bahkan tidak ingin melihat bayangannya, apalagi wajahnya, apa pria jelek itu sudah datang,” ketus Keyra.
“Sudah dari tadi Nona.”
“Ahh sudah kuduga, pria tak tahu malu itu, bersemangat untuk menikahiku,” gerutu kesal Keyra.
Sang perias sekali lagi hanya tersenyum.
”Jika Anda sudah melihat wajahnya, aku yakin Anda akan menyesali perkataan Anda.”
“Non Keyra sudah siap, jika sudah turunlah, calon pengantin pria sudah siap untuk melakukan ijab qobul,” ucap wanita paruh baya bernama Mbok Sum Asisten rumah tangganya, yang muncul di balik pintu.
Keyra mengangguk pelan, dengan langkah berat ia di dampingi Mbok Sum, turun ke lantai bawah. Di ruang tengah sudah ada tamu wanita yang duduk, sedangkan di ruang tamu yang dibatasi dinding terlihat tamu laki-laki.
Keyra duduk di antara tamu wanita, ia tidak diperkenankan duduk di antara tamu pria, begitulah ritual sesuai pernikahan islami terjadi, sebelum ijab qobul terlaksana, kedua mempelai dilarang saling bertatapan apalagi bersentuhan.
Keyra terduduk lemas, ia merasa dunianya akan hancur dengan menikahi, pria yang belum sekalipun dilihat wajahnya apalagi mengenalnya.
Semuanya terdiam, dan suasana menjadi hening, ketika suara penghulu memulai acara ijab qobul.
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, waliyyu taufiq.”
Suara lantang seoarang pria ketika mengucapkan ijab Qobul dengan bahasa Arab.
“Bagaimana sah?” tanya penghulu.
“Sah.”
“Sah.”
Beberapa saksi berucap. Hampir bersamaan.
Suasana menjadi hangat, para tamu wanita mengucapkan selamat pada Keyra.
“Selamat Keyra, kalian telah sah menjadi suami istri.”
Keyra tidak menjawab ucapan selamat dari para tamu, tiba-tiba Keyra berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Para tamu memaklumi sikap Keyra.
Lain halnya dengan pengantin pria, ia selalu mengembangkan senyumnya menyambut ucapan dan doa untuk dirinya.
Terutama pelukan hangat dari Papi mertuanya. ”Mulai saat ini, aku serahkan tanggung jawabku kepadamu,”ujar Praja, seraya menahan tangis haru.
“Saya akan berusaha menjadi imam yang baik untuk Keyra, Pak Praja.”
Sementara itu, Keyra terduduk di tepi ranjang, air mata sudah jatuh di pipi, diiringi rasa kecewa dan marah yang teramat sangat, hingga terdengar ketukan pintu yang membuat Keyra segera mengusap air matanya.
“Siapa?” Keyra bertanya, karena ia merasa belum siap, jika yang mengetuk pintu adalah lelaki yang kini resmi bergelar suami.
“Ini Papi Key, boleh Papi masuk?”
“Masuklah Pi.”
Ceklek!... Pintu terbuka, Praja berjalan pelan ke arah putrinya dan duduk di sebelahnya, tangannya meraih telapak tangan Keyra.
“Key, terima kasih sudah memenuhi keinginan Papi, sekarang Papi tenang, jika harus berpulang menghadap Allah.” Praja berucap dengan nada sendu.
Seketika Keyra memeluk Praja, sambil terisak. ”Papi kenapa bicara seperti itu, Papi masih lama ‘kan menemani Keyra, kepergian Mami adalah hal terberat Keyra rasakan, aku tidak mau kehilangan Papi juga.” Keyra menyandarkan kepalanya di bahu Praja.
“Makanya Papi memilihkan pendamping untukmu, yang akan menjagamu, percayalah, suamimu pria yang baik, kamu akan dibimbingnya untuk menjalani ibadah sesuai keyakinan kita, kamu mualaf Key, Papi ingin kamu bisa menjadi seorang wanita muslimah, suamimu pria yang paham akan agama, kamu pasti akan mencintainya, seiring berjalannya waktu.”
“Bagaimana jika aku tak ‘kan pernah mencintainya?” Keyra menatap wajah Papinya seakan meminta jawaban atas pertanyaanya.
“Jalani saja dulu Key, Papi yakin, kamu akan mencintainya.”
“Jika dalam waktu 3 bulan tidak rasa cinta, izinkan Key, memutuskan masa depan Keyra sendiri Pi,” pinta Keyra, sambil berlutut di kaki Papinya.
Praja menghela napas panjang melihat aksi Keyra yang memohon sambil berlutut dan menggenggam erat tangannya.
“Aku mohon Pi, aku berhak menentukan masa depanku ‘kan?” pintanya lagi.
“Baiklah Key, terserah kamu...”
Akhirnya Praja mengalah, diusapnya pelan kepala putrinya, dengan lembut. ”Tapi berusahalah untuk mencintai suamimu Key, Papi yakin, kalian akan saling jatuh cinta.”
Keyra hanya terdiam, ia merasa perkataan Papinya adalah hal yang mustahil, bagaimanapun ia tidak akan mencintai pria yang bahkan wajahnya pun tak ingin dilihatnya, itulah yang ada di pikiran Keyra. Dan demi rasa tenang sang Papi, Keyra hanya membalas dengan anggukan kecil.
Malam semakin larut, setelah Keyra berbicara dengan Papinya, gadis itu, kembali murung dan kesal, sepertinya di dalam kamar tak ubahnya di dalam sebuah penjara yang sesak.
“Tidak akan aku biarkan kamu menyentuhku pria jelek, kamu bakalan menyesal menikahiku,” gerutu Keyra sambil melepas gaun pengantinnya dengan kasar.
“Apa kamu kira aku akan menyambutmu di kamar ini dengan sleep dres berbahan katun tipis yang memperlihatkan indahnya lekuk tubuhku,” gerutunya lagi, sambil mengenakan hoodie warna hitam dan celana training tebal
“Apa kamu pikir kamar ini akan dihias dengan bunga dan beraroma mawar.” Keyra masih mengerutu, kali ini, ia mengusapkan seluruh tubuhnya dengan minyak urut yang berbau menyengat, dan menyemprotkan kamarnya dengan bahan pengusir nyamuk.
Heuk!..Keyra sendiri hampir muntah, ketika aroma menyengat sudah menguar di kamarnya, ia segera menutup hidungnya dan berbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tidak lama kemudain terdengar pintu dibuka pelan.
Ceklek !.. setelah itu terdengar langkah kaki masuk ke dalam ruangan.
“Keyra, kamu sakit?”suara barito terdengar pelan.
“Ya, aku sakit, jangan dekati aku, dan ingat selama aku tidak berkenan kamu dekati, jangan sekali-kali kamu tidur di sebelahku,” jawab Keyra ketus tanpa melihat pria yang berbicara dengannya dengan nada pelan, dan sedang berusaha sekuat tenaga menahan napas, karena aroma menyengat yang memenuhi kamar itu.
“Baiklah, aku akan tidur di sofa, selamat beristirahat.”
Keyra tersenyum simpul, usaha pertama membuat suaminya tidak mendekatinya berhasil, tapi gadis itu harus menahan juga aroma yang membuat perutnya mual.
Sial, aroma ini seperti mengaduk-aduk perutku, batinnya kesal sambil berusaha memejamkan matanya.
Sinar mentari menyapa wajah Keyra, dengan pelan ia mengerjabkan matanya dan membuka perlahan, korden jendela kamar telah terbuka sempurna, dan di balkon, ia melihat sosok pria mengenakan kaos putih dan celana training, sambil meregangkan otot –ototnya, terlihat tubuh yang tegap dan punggung yang besar, kulitnya putih bersih, dengan potongan rambut yang rapi.
“Hai siapa kamu?” tanya Keyra seraya duduk di tepi ranjang menatap penasaran pungung pria yang masih mengerak-gerakan tangan dan kakinya.
Pria itu pun menoleh, ”Apa kamu lupa, kalau aku ini suamimu, Keyra Aninda Dinata.”
Mata Keyra seakan mau keluar, mulutnya menganga seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan berbicara dalam hati sambil menatap lekat pria didepannya, Aku menikahi manusia atau bidada... oh kalau dia cewek bidadari, tapi dia cowok, disebut apa coba pria setampan itu...batinnya.
Jantung Keyra tiba-tiba bertalu-talu, entah apa yang ia rasakan pada pandangan pertama pada pria yang beberapa jam yang lalu bergelar suaminya itu.
“Key,” sapaan barito tapi lembut membuyarkan lamuan Keyra dengan netra yang tak lepas mengagumi ketampanan yang nyaris sempurna, wajah tegas tapi bermata teduh, dan memliki hidung bangir, ditambah kulit putih yang bersih.
“Heum... jadi kamu suamiku, Afnan Noor Malik.”
“Mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan ‘kamu’ setuju,” pinta Afnan.
“Lalu aku harus panggil apa?”
“Bisa abang, mas, atau kakak, kedengarannya lebih manis dan romantis.” Afnan mengulum senyum pada gadis belia yang cantik dan berstatus istrinya.
“Kak Afnan, aku akan memanggilmu ‘kak’ okey.” Keyra menjawab sambil bangkit berdiri.
Keyra membaui dirinya yang beraroma minyak urut yang menyengat, dan ia rasanya mau muntah.
“Mandilah, Key, jika kamu sendiri mual, dengan aroma badanmu, apalagi orang lain,” ejek Afnan.
Keyra hanya mencelos kesal, tapi tak bisa dipungkuri, ia sudah tidak tahan dengan aroma tubuhnya. Tanpa membalas celotehan Afnan, Keyra bergegas masuk ke kamar mandi. Seusai membersihkan diri dari ujung rambut sampai ujung kaki yang telah ternoda bau minyak urut, tubuh Keyra tercium wangi, aroma vanilla lembut sudah menguar di seluruh tubuhnya, lalu dengan segera Keyra berganti baju.
Kini gadis itu sudah keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.
“Jangan manatapku seperti itu, aku tidak bernapsu denganmu walau wajahmu setampan pangeran dalam dongeng,”oceh Keyra seraya tajam menatap Afnan yang masih berdiri di balkon.
“Aku suamimu, jangankan menatap, jika aku mencium dan memelukmu itu bukan perbuatan dosa, malah akan mendatangkan pahala,” Afnan berbicara sambil tersenyum.
“Jangan harap aku akan bersedia kamu sentuh, aku menyetujui pernikahan ini karena memenuhi keinginan Papiku yang sedang sakit, aku tidak ingin kesehatannya menurun, paham!” bentak Keyra memperlihatkan wajah ketusnya.
Walau terlihat garang, tapi wajah Keyra tetaplah cantik, mata cokelat dan bulu lentiknya adalah sesuatu yag membuat wajah gadis keturunan indo Jepang itu terlihat menawan dengan tubuh mungilnya.
“Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu di pagi hari, aku akan ke bawah, perutku sudah minta diisi makanan daripada ocehanmu yang tidak bermanfaat,” balas Afnan.
Keyra mendelik tapi Afnan acuh, dan berjalan keluar setelah berganti baju.
“Dasar pria bodoh, masih mau di jodoh-jodohkan di jaman semodern ini,” gerutu kesal Keyra
Tok!...tok!...
“Masuk,” perintah Keyra pada si pengetuk pintu.
Ceklek!... “Maaf Non Keyra, Nona sudah ditunggu tuan besar dan Tuan muda di ruang makan, Oh ya non, minyak urut mana? Gara-gara Non Key pinjam semalam Mbok nggak bisa tidur,” ucap wanita paruh baya itu.
“Iya, sebentar, minyak urut bikin perut mual,” balas Keyra, seraya meraih botol kecil di atas nakas.
“Siapa yang suruh pakai Non, ini mah minyak orang tua,” sela Mbok Sum sambil berlalu pergi.
Keyra melangkah menuruni tangga, menuju ruang makan, disana ia melihat Afnan sudah duduk sambil menyerutup secangkir teh, tapi tidak di dapati Papinya.
“Mana Papi?”
“Papi sudah berangkat ke kantor Key, makanlah, aku menunggumu untuk sarapan bareng, setelah sarapan, aku juga akan pergi bekerja,” balas Afnan
“Kakak bekerja dimana?”
“Di kebun.”
“Kak Afnan tukang kebun?”
Afnan tersenyum, iya begitulah, aku mengurusi kebun buah, kamu mau ikut?”
“Nggak ahh, kotor bergelut dengan tanah.” Keyra menjawab sambil bergedik jijik membayangkan, pekerjaan Afnan yang bergelut dengan tanah dan pupuk kotoran hewan.
“Baiklah, aku akan pulang sore, jaga diri di rumah ya,” Afnan menyuap sepiring nasi goreng hingga tandas.
“Assalamu’alaikum, Key, aku pergi dulu,” pamit Afnan sambil mengulurkan tangannya.
Keyra hanya menatap uluran tangan Afnan dan tak mengerti dengan tingkah Afnan yang menurutnya aneh. Ia menatap pria itu dengan bingung.
“Cium tangan dong Non, ‘kan suami mau pergi bekerja,” sela Mbok Sum.
“Ohhh cium tangan,” balas Keyra tampak ragu meraih tangan Afnan, lalu dengan terpaksa diciumnya punggung tangan suaminya.
“Lalu jawab, Waalaikumsalam,” sela Mbok Sum lagi.
“Waalaikumsalam,” ucap Keyra pelan, mengikuti perkataan Mbok Sum.
Afnan tersenyum, lalu melangkahkan kaki menuju halaman rumah, diam-diam Keyra mengintipnya dari jendela ruang makan. Terlihat Afnan memasuki mobil bak terbuka miliknya, yang sudah tua.
“Hemmm... sayang ganteng kayak begitu, ternyata hanya tukang kebun,” gerutu Keyra, sambil melipatkan kedua tanganya di dada.
“Siapa yang tukang kebun Non?”
“Itu, suami pilihan Papi, dia hanya tukang kebun, benar-benar tidak selevel denganku.”
“Masak sih Non, Tuan Afnan tukang kebun,” gerutu Mbok Sum, sambil jarinya menempel di pelipisnya.
“Lihat saja waktu pergi tadi, hanya kaos dan celana jeans, memang penampilan seperti itu seperti eksekutif muda, pria impianku,” sahut Keyra dengan nada ketus.
“Tidak ada yang bisa aku banggakan darinya, kecuali wajah tampannya saja,” gerutu kesal Keyra lagi seraya menghempaskan patat kasar di kursi makan.
Mbok Sum hanya bisa tersenyum simpul, menyaksikan nona mudanya terlihat kesal.
Sementara itu, kemarahan terlihat di tempat lain, di sebuah apartemen, Samuel, terlihat kesal, mendengar pernikahan Keyra, yang sudah berlangsung. Wajah tegas kian memerah mengingat, jika dia sudah 3 tahun menjalin kasih dengan Keyra.
Dan merasa di khianati oleh Keyra.
“Key, kamu tega Key, meninggalkanku begitu saja,” gerutunya sambil mengepalkan telapak tanganya dan dipukulnya di dinding apartemen.
Dug!...
Bunyi pesan masuk terdengar, membuat Samuel menghentikan kemarahnnya.
{Ha...ha... niatmu untuk menikahi Keyra, sudah hancur, cita-ciatmu untuk menjadi CEO Star Supermarket, sudah hancur}
Sebuah pesan yang dikirim dari temannya, membuat kemarahan Samuel semakin membuncah. Tidak bisa dipungkiri awal mula mendekati Keyra yang waktu itu masih sekolah menengah atas, adalah untuk menjadi menantu pewaris Star Supermarket, tempat orang tuanya ikut andil dalam mendirikan Star Supermarket.
Dengan ketampanan wajah yang ia miliki dan perhatian Samuel sebagai kakak kelas di sekolah yang sama, akhirnya Keyra terpikat, dan sudah 3 tahun ini menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
{jangan tertawa seperti itu, perjuanganku mendapatkan Keyra belum berakhir, Dia berjanji akan tetep berhubungan denganku meskipun sudah menikah, dan jika aku berhasil mendapatkan jandanya, kamu orang pertama yang aku singkirkan dari Star supermarket}
Samuel membalas chat disertai emoticon marah.
{Ha..ha... semoga berhasil}
Balas sang pengirim chat, kembali dengan tawa jahatnya, menertawakan Samuel.
Samuel membanting ponselnya di sofa, ia mengacak rambutnya berkali-kali. Setelah itu meraih ponselnya kembali dan berusaha menghubungi Keyra, tapi ponsel gadis yang dicintai itu tidak aktif sejak kemarin. Samuel dengan sangat kecewa pergi ke kantor.
Dengan langkah gontai Samuel memasuki ruangan Praja, kerena sekretaris Praja menyuruhnya untuk bertemu dengan pemilik Star Supermarket.
“Bekerjalah dengan baik, seandainya aku tidak mengingat jasa ayahmu, mungkin aku sudah mengeluarkanmu dari sini!” ancam Praja dengan wajah menegang
“Maaf Pak Praja, atas kejadian berbeberapa hari yang lalu, saya tidak berniat untuk menodai Keyra, Anda tahu ‘kan, kami sudah lama menjalin hubungan dekat dan aku selalu menjaga Keyra.”
“Kamu itu sebatas kekasihnya bukan suaminya, apapun alasanmu kamu tidak berhak menyentuh wanita yang bukan mukrimmu.” Praja mengepalkan telapak tangannya diatas meja.
”Keyra sekarang sudah menikah, jangan kamu anggap kekasihmu lagi!” bentaknya pada Samuel.
“Baik Pak Praja.” Samuel menunduk, tapi dalam hatinya memendam kemarahan yang teramat sangat.
Samuel keluar ruangan, tepat ketika ia membuka pintu, ia mendapati Keyra sudah berdiri di balik pintu dengan tangan siap mengetuk.
“Sam...”panggilnya
“Hallo Key, selamat atas pernikahanmu,” ucap Samuel tampak wajahnya kecewa.
“Sam, kita harus bicara,” ajak Keyra sambil menarik tangan Samuel dan membawanya menjauh dari ruangan Praja.
Keduanya sampai di atas roof top dan berdiri di pinggiran pagar pembatas.
“Sam ...aku minta maaf,” ucap Keyra lirih.
“Hanya minta maaf dan semuanya selesai.” Samuel terlihat kesal, tak di tatapnya Keyra.
“Tunggulah selama 3 bulan. Aku akan segera bercerai dengan Kak Afnan, Papiku sudah berjanji, selepas 3 bulan ini, ia tidak akan mencampuri keputusanku dan disaat itulah aku akan minta cerai dari suamiku.”
Samuel tampak ragu, lalu ditatapnya wajah Keyra, dan kemudian ia tersenyum. ”Akan aku pegang janjimu Keyra Aninda Dinata.”
“Aku berjanji padamu Sam..” Keyra meraih tangan Samuel dan menatap penuh arti.
“Hemmm” deheman seseorang di ujung pintu masuk, mengagetkan Samuel dan Keyra, membuat Keyra segera melepaskan genggaman tangannya.
“Kak Afnan, kenapa kakak kesini?”
“Aku ada urusan pekerjaan dengan Papi Praja, dan kebetulan kita bertemu disini, bisakah kita bicara berdua saja,” pinta Afnan, ekor matanya melirik pada Samuel.
“Key, aku pergi dulu,” pamit Samuel, lalu melangkah meninggalkan Afnan dan Keyra.
“Tidak pantas wanita yang sudah menikah memegang tangan seorang laki-laki yang bukan mukrimnya.”
“Ini diriku, terimalah aku seperti ini,” timpal Keyra, tanpa menunjukkan rasa bersalah.
“Tidak Key, kamu istriku, aku berhak penuh atas dirimu, termasuk mengaturmu.”
“Baiklah Kak Afnan, aku akan menjadi istrimu selama 3 bulan ini, tapi selepas itu kita bercerai.”
Afnan terkejut dengan permintaan Keyra, tapi pria yang berusia 27 tahun itu, berusaha menahan amarah dan tampak tenang.
“Baiklah, tapi berjanjilah selama 3 bulan itu, jadilah istri yang sholehah, jangan keluar rumah tanpa izin dariku, bagaimana Key, apa kamu setuju.”
“Baiklah, aku juga akan mengajukan persyaratan, selama tiga bulan, jangan menyentuhku karena aku tidak menginginkanmu.”
Afnan hanya tersenyum, untuk membalas keinginan Keyra, baginya Keyra masih seorang gadis kecil yang perlu dibimbing, ia juga memaklumi jika pengetahuan Keyra tentang ajaran agama nol besar, karena Keyra seorang mualaf yang perlu banyak bimbingan.
“Sekarang ikut aku ke perkebunan, sekalian kita akan melihat tempat tinggal kita yang baru,” ajak Afnan tanpa ragu menggandeng Keyra.
“Tempat yang baru, maksudmu kita akan keluar dari rumah Papi Praja?”
“Iya Key, aku ‘kan suami, sudah kewajibanku memberimu tempat tinggal, ya walaupun tidak semewah rumah Papi Praja.”
Keyra mulai mencemaskan dirinya, dalam benaknya sudah tergambar rumah sederhana tipe 21 yang kecil dan sesak.
Tiga bulan, Key hanya 3 bulan , batinnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil pick up, Afnan melajukan mobilnya menuju pinggiran kota Jakarta. Mobilnya berhenti di area parkir sebuah perkebunan, yang mendominasi perkebuan itu adalah buah mangga dan buah pepaya, juga banyak buah lainnya .
“Woow sejuk sekali perkebunan ini, Kak Afnan bekerja disini?”
“Iya..”
Keduannya turun dari dalam mobil. Seoarang security datang menyambut Afnan.
“Assalamu’alikum, Pak,” sapa salamnya dengan penuh hormat.
“Waalailkumsalam, Pak, tolong antar istri saya ke gazebo samping, saya akan menyelesaikan pekerjaan dulu,” pinta Afnan.
“Siap Pak Afnan,” jawab security.
“Key, tunggu aku di gazebo, ada perkerjaan yang harus aku selesaikan.”
Keyra mengangguk pelan, kemudian melangkah mengikuti security.
“Sehormat itu bapak pada tukang kebun,” tukas Keyra merasa heran akan sikap seorang penjaga perkebunan yang begitu terlihat menghormati Afnan.
“Tukang kebun? Siapa?”
“Kak Afnan.”
Tawa kecil terdengar dari security, ketika mendengar pertanyaan Keyra.
“Oh Pak Afnan bukan tukang kebun, ia pemilik perkebunan ini...”
“Apa! Kak Afnan pemilik perkebunan ini.” Keyra terkejut kakinya mendadak lemas.
“Silahkan Nyonya, duduklah, sebentar lagi minuman akan segera diantar,” ujar security.
Keyra hanya mengangguk, ia masih shock dengan kenyataan tentang pria yang menikahinya, dugaanya selama ini salah. Wajah rupawan yang terlihat sempurna dengan kulit putih bersih, hidung mancung dan alis tebal, adalah pahatan sang pencipta yang sangat sempurna. Ditambah lagi dugaan jika pria pilihan Papinya adalah pria miskin yang tak berguna juga salah.
“Assalamu’alikum Non,” sapaan wanita tua tiba-tiba terdengar, membuat Keyra langsung menoleh ke arah suara.
“Iya, ibu siapa?”
“Saya Ratmi, pengasuh Gus Afnan sejak kecil. Tadi Gus Afnan meminta saya untuk menemani Non Keyra.” Wanita tua itu berjalan dan duduk di gazebo, sambil menaruh nampan makanan yang berisi makanan kecil dan minuman dingin.
“Ayo Non, jangan dipandang saja, cicipi, ini buatan Mbok sendiri.”
“Siapa sebenarnya Kak Afnan Mbok. Tolong ceritakan pada saya?” tanya Keyra begitu sangat penasaran.
Dari tadi pagi saat membuka matanya hingga saat ini, kejutan-kejutan selalu ia temui tentang sosok Afnan Noor Malik.
Wanita berkebaya khas jawa itu tersenyum hangat, mendengar pertanyaan Keyra.
“Jadi... Non Keyra belum tahu sosok pria yang menikahi Nona?”
Keyra menggeleng. ”Papi yang memutuskan segalanya, dan aku harus mengikuti keinginan Papi,” balas Keyra sambil tangannya meraih jus mangga di atas nampan.
“Keputusanmu sudah benar, Non Keyra. Menikah dengan Gus Afnan adalah suatu keberuntungan bagi seorang wanita. Banyak gadis yang mendambakan menikahi Gus Afnan. Tapi ketika perjodohan datang dari Pak Praja, Gus Afnan langsung menerimanya,” jawab Mbok Ratmi.
“Mbok, belum menjawab pertanyaanku, siapa Kak Afnan?” Keyra mengulangi pertanyaan, kali ini dengan penekanan kata.
Wanita yang berusio tahun itu, kembali tersenyum. ”Afnan Noor Malik, adalah cucu dari Kiai Damar Jati, putra dari Kyai Sastra Diningrat dan Ibu Nyai Rumini mereka adalah pendiri pondok pesantren Amanah.”
“Lalu dimana kedua orang tuanya?”
“Mereka sudah meninggal satu tahun yang lalu, tewas dalam kecelakaan pesawat. Sayang, Gus Afnan, tidak berkenan untuk menjadi pimpinan pondok, dan akhirnya diserahkah pada saudara sepupunya.
Keyra tampak berpikir, suaminya adalah pria tampan dan sekaligus kaya-raya, tapi lagi-lagi Keyra mendesah dalam hati Kaya dan tampan, sempurna, tapi aku tidak merasakan cinta padanya.
“Non Keyra dan Gus Afnan akan tinggal di vila perkebunan ‘kan?”
“Vila perkebunan?”
“Iya Vila, tadi Mbok sudah memerintahkan beberapa pegawai untuk membersihkan rumah utama, makanya Gus Afnan tidak langsung membawa Non Keyra kesana.”
“Oh..” Keyra terbengong dan hanya bisa ber ‘oh’ ria, mendengarkan satu kejutan lagi.
Sebuah mobil jeep terbuka berhenti didepan gazebo, terlihat Afnan ada di atas sana di balik kemudi, kemudian ia turun dan mendekati ke arah gazebo.
“Terima kasih Mbok, mau menemani Keyra. Dan sekarang aku akan mengajak Kerya berkeliling perkebunan,ucap Afnan, seraya tersenyum.
“Iya Gus, sama-sama, Mbok akan siapkan makan siang dulu, “pamit wanita tua itu.
Keyra menatap dalam pria yang masih berdiri di depannya.
“Kenapa Kak Afnan tidak memberitahukan padaku, jika perkebunan ini adalah milikmu?”
“Kamu tidak bertanya ’kan, siapa pemilik perkebunan ini, seingatku kamu bertanya apa aku bekerja disini? Iya ‘kan Key.”
“Ah... Kak Afnan pandai ngeles..” balas Keyra sambil bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Afnan.
“Ayolah ajak aku berkeliling kebun, tapi jangan anggap aku akan terpikat olehmu, waktu kita hanya 3 bulan sebagai sepasang suami istri, dan itu hanya membuat Papiku tenang dan tentunya bahagia.”
“Baik Key , aku mengerti, tapi jika dalam waktu 3 bulan kamu berubah pikiran, aku juga siap menerima keputusanmu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi 3 bulan ke depan ‘kan?”
Tanpa menjawab, Keyra langsung naik di atas jeep terbuka, kemudian disusul Afnan. Mobil pun mulai bergerak pelan, menyusuri jalanan setapak, sepanjang perjalanan mata Keyra dimanjakan dengan pemandangan yang menyejukan, aneka pohon buah-buahan berjajar rapi sesuai jenis buahnya ada pohon mangga, kelengkeng, pepaya dan masih banyak lainnya.
“Luas sekali perkebunan ini. Hemmm dijual dimana buah-buahan ini?”
“Di banyak supermarket, salah satunya Star Supermarket milik Papi Praja, dan untuk buah kualitas rendah akan dibawa ke pasar tradisional.”
“Oh, jadi kamu bekerjasama dengan Star Supermarket, aku jadi mengerti kenapa Papi sangat menyukaimu.“ Mata Keyra melirik ke arah Afnan.
”Itu Papi lho ya, bukan aku,”sambungnya lagi.
Afnan tertawa kecil, mendengar ucapan Keyra.
“Kenapa Key, apa aku kurang tampan dan kaya?”
“Cinta, itu yang kurang dalam hubungan kita Kak. Aku tidak bisa bersama pria yang tidak aku cintai.”
“Cinta, jangan terlena dengan cinta. Dan cintamu pada seseorang jangan melebihi cintamu pada Allah.”
“Heumm aku tidak paham dengan apa yang Kakak katakan, jadi janganlah berkata hal-hal yang tidak aku pahami.”
“Suatu saat kamu akan paham. Kita turun disini dulu, aku akan perkenalkan dirimu pada seseorang,” ajak Afnan, sambil menghentikan laju mobilnya menuju sebuah bangunan panjang sederhana mirip seperti sekolahan, tapi hanya ada beberapa kelas saja, sederhana tapi telihat bersih dan rapi, di depannya banyak tanaman bunga yang warna–warni.
Setelah turun dari mobil, Afnan dan Keyra berjalan di salah satu ruangan.
“Assalamu’alikum,” sapa salam Afnan bediri di depan pintu.
“Waalaikumsalam,” ucap seseorang dengan suara yang lembut dan terasa menenangkan.
“Gus Afnan,” wajah gadis itu berseri, ketika tatapannya bertemu Afnan.
“Bagaimana kabarmu Latisha, aku mendengar dari beberapa pegawai, katanya kamu sudah kembali kesini dan mengajar anak-anak.”
“Iya Gus, baru kemarin aku datang.” Lathisa memindai matanya ke arah Keyra yang sejak tadi berdiri disamping Afnan.
“Oh ya Tisha, kenalkan ini Keyra, istriku.” Afnan memperkenalkan Keyra.
Keyra tersenyum dan mengulurkan tangannya, dalam hati Keyra terkagum dengan gadis di depannya, sangat cantik, balutan baju khimar warna cokelat beserta hijabnya tidak mengurangi kecantikan wanita itu, meskipun tubuhya hampir tertutup.
“Aku Latisha, aku membantu Gus Afnan mengajar anak-anak yang putus sekolah dan orang tuanya bekerja di perkebunan ini,” ungkap Lathisa.
“Jadi Kak Afnan juga mengajar disini?”
“Iya, tapi lebih banyak Lathisa mengurusi sekolah kecil ini, aku hanya sangat menyayangkan anak-anak usia sekolah dipaksa orang tuanya untuk membantu mencari nafkah, sebenarnya setelah mereka belajar mereka bisa mengerjakan pekerjaan ringan di perkebunan.”
“Sempat-sempatnya Ya, Kak Afnan mengajar sambil mengurus perkebunan,” sela Keyra.
“Bukannya sempat Key, tapi sayang jika ilmu tidak dimanfaatkan,” balas Afnan.
“Betul Key, karena amal yang tidak akan terputus saat kita meninggal nanti salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat, untuk semua orang,” timpal Latisha.
Keyra hanya tersenyum. ”Kak, aku sudah lapar, bisakah kita makan siang dulu.”
“Baiklah, kita kembali ke rumah perkebunan, ayo Tisha, kamu juga harus ikut, sudah selesai ‘kan perkerjaanmu?”
“Sudah Gus, aku juga kangen dengan masakan Mbok Ratmi.”
Ketiganya berjalan menuju mobil, tidak lama kemudian mobil melaju menuju sebuah rumah yang berada di tengah perkebunan. Perbincangan hangat dan ringan mewarnai perjalanan mereka, sesekali Afnan menyapa para pegawai perkebuan yang berpapasan di jalan setapak.
Afnan terlihat sangat ramah dan tetap santun pada para pegawainya, tidak sekalipun terlihat keangkuhan dan kesombongan pada dirinya.
Mobil memasuki pintu gerbang vila, terlihat vila minimalis berlantai dua, walaupun tak sebesar rumah Praja, tapi Keyra sangat terpesona, dengan halaman vila yang dipenuhi aneka bunga, hamparan bunga mawar dengan warna–warni terlihat seperti permadani.
“Wow indah sekali taman bunga itu Kak?” ujar Keyra sambil telunjuknya menunjuk taman bunga mawar dan tulip.
“Itu yang menanam Almarhumah Umi, beliau sangat menyukai bunga mawar,” jawab Afnan.
“Jadi kangen sama Umi Rukmini,” sela Latisha.
“Kamu juga dekat dengan orang tua Kak Afnan, Tisha?”
“Tentu saja sangat dekat, sejak berusia 8 tahun aku sudah mondok di pesantren Amanah, milik orang tua Gus Afnan.”
“Tisha, juga santri kesayangan Umi dan Abi. Bahkan rasa sayangnya melebihi rasa sayangnya padaku,” timpal Afnan.
Tiba-tiba hati Keyra terasa perih, entah apa yang dirasakan kini, melihat keakraban Latisha dan Afnan, kenapa membuatnya tidak suka.