Sampul Novel Arabella

Arabella

8.3 / 10.0
Akibat luka masa lalu, Arabella, seorang siswi SMA yang biasa dipanggil Bella, bertekad menutup diri dari cinta. Ia berjanji tidak akan membiarkan cowok mana pun singgah di hatinya. Namun, komitmen tersebut mulai goyah ketika seorang pemuda nekat hadir dan berusaha mendekatinya. Walau Bella berulang kali menolak, perjuangan cowok itu tidak pernah surut. Akankah kegigihan dan ketulusannya sanggup meruntuhkan tembok pertahanan yang dibangun Bella?

Arabella Bab 1

"Bella! Bella bangun, nak. Udah pagi. Kamu harus berangkat sekolah."

Bella menggeliat kecil kala sang ibu membangunkannya.

"Ayo mandi dulu. Ingat, kamu udah pindah ke sekolah yang baru. Jangan sampai telat," ucap sang ibu.

"Iya ma." Bella pun beranjak dari kasur lalu bergegas ke toilet untuk mandi. Ini adalah hari pertamanya ia bersekolah di sekolah yang baru. Jangan sampai ia mendapat kesan buruk dihari pertamanya bersekolah.

Tak lama kemudian, Bella sudah selesai mandi dan berpakaian. Bella pun turun ke bawah untuk sarapan bersama kedua orang tua dan juga kakaknya. Ya, Bella memiliki seorang kakak laki-laki yang kebiasaannya menjahili Bella.

"Pagi Pa, Ma, Kak."

"Pagi sayang."

"Ingat pindah ke sekolah baru jangan bikin masalah," ucap sang kakak, Baron.

"Iya bawel." Bella mengunyah roti yang sudah diolesi dengan selai coklat kesukaannya.

Setelah menghabiskan sarapannya, Bella pun berpamitan pada kedua orang tuanya.

"Mau gue antar gak?" tawar Baron.

Bella menoleh pada kakaknya dengan satu alis terangkat. "Tumben? Kesambet apaan lo?"

Tentu saja Bella heran, karena kakaknya itu tidak akan mau mengantarnya ke sekolah setiap kali Bella minta tolong. Kecuali kalau sang mama yang sudah turun tangan.

"Enggak, gue cuma mau antarin adik tersayang gue aja. Sekalian mau liat calon teman-temannya."

"Bilang aja mau liatin cewek-cewek. Dasar cowok." Bella pun pergi.

"Eh, yakin lo gak mau gue antar? Mumpung gue lagi baik, nih."

"Gak! Makasih!"

*****

Bella menarik napas lalu mengembuskannya. Hal itu ia lakukan berulang kali setelah sampai di depan bangunan tinggi yang merupakan sekolah barunya.

Ada rasa gugup dalam diri Bella, karena dirinya merupakan seorang yang cukup sulit untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Bella takut ia tidak mendapatkan teman di sekolah baru.

Setelah meyakinkan dirinya, Bella pun melangkah masuk.

Saat sudah masuk, rasa gugup kembali menyelimuti dirinya, karena kini banyak pasang mata yang tertuju padanya. Dan tatapan mereka membuatnya sangat tidak nyaman. Rasanya Bella ingin menghilang. Namun, Bella memberanikan diri untuk mendekati tiga orang cewek untuk menanyakan ruangan administrasi.

"Permisi, mau nanya ruang administrasi di mana, ya?"

"Nanti lurus aja terus belok kiri."

"Oke, makasih."

Tanpa berlama-lama Bella langsung pergi. Agar tidak membuang waktu. Disamping itu ia juga ingin segera menghindar dari tatapan aneh murid-murid yang ada di situ.

*****

"Tumben banget teman gue yang satu ini udah di kelas."

Seorang cowok yang merupakan teman Vian mengambil duduk di sampingnya. Cowok itu bernama Regan.

"Gak usah ganggu gue. Gue mau tidur." Vian yang menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya sama sekali tidak berniat untuk mengangkat kepalanya. Vian saat ini benar-benar mengantuk. Vian sengaja datang cukup pagi agar bisa tidur di kelas meskipun hanya beberapa menit.

"Pasti begadang lagi. Makanya kalau main game itu tahu batasan. Jangan sampai lupa waktu. Gue aja bisa atur waktu kapan belajar, kapan main game, dan kapan istirahat. Makanya gue gak pernah telat ke sekolah," ucap Regan membanggakan dirinya.

"Bacot!" Karena kesal dengan Regan yang mengganggu tidurnya, Vian pun memasukkan kertas ke dalam mulut Regan.

Regan tentu terkejut. Lalu segera mengeluarkan kertas tersebut dari mulutnya.

"Tega banget sih lo sama gue. Padahal gue aja gak pernah jahat sama lo," ucap Regan dramatis.

"Mau gue kasih makan kaos kaki gue?"

Dengan cepat Regan menggeleng. Tentu saja Vian tidak bercanda.

"Mau kemana lo?" Regan bertanya ketika Vian bangkit berdiri.

"Cari tempat sepi buat tidur. Biar gak ada yang ganggu gue."

"Ya udah, jangan lama-lama. Keburu Pak Edi masuk."

Vian hanya mengangguk. Saat ia baru di depan pintu, seseorang menghadangnya.

"Vian! Gue ada berita penting."

"Gue gak mau dengar," ujar Vian tidak peduli. Vian yakin berita yang dibilang penting oleh temannya yang bernama Beno itu adalah berita yang tidak penting.

"Dengar dulu dong. Kali ini beneran berita penting."

"Berita penting apa?" Regan yang penasaran langsung mendekati Beno.

"Ada anak baru di kelas Mipa 4. Katanya cantik."

Vian berdecak. Sudah ia duga berita penting yang dibilang Beno adalah berita yang sangat-sangat tidak penting untuknya.

"Minggir." Vian mendorong Beno agar tidak menghalangi jalannya.

"Lo gak mau dekatin, Yan? Siapa tahu cocok."

Vian tidak menjawab. Cowok itu terus berjalan menjauh.

"Lo gak bohong, kan, No?" tanya Regan memastikan.

"Ya iyalah masa gue bohong."

"Ya udah, kalau gitu temenin gue ke kelas Ipa 4."

Beno mengernyit heran. "Hah? Mau ngapain?"

"Mau liat cewek itu lah. Sekalian ngajak kenalan."

"Udah gila lo. Gue gak mau. Lo pergi aja sendiri."

*****

Bella hanya tersenyum ketika mendengar teman barunya bercerita. Ya, saat ini Bella sudah mendapatkan teman baru. Sita namanya. Gadis yang cukup cerewet.

Keduanya kini sedang berjalan menuju perpustakaan. Karena guru di kelas mereka menyuruh keduanya untuk meminjam buku paket di perpustakaan.

"Jadi lo pindahan dari Surabaya? Bisa ngomong bahasa Jawa dong."

"Em, dikit."

"Coba ngomong dikit dong. Gue pengin dengar."

"Em, Sita, ini belok kiri atau kanan?" tanya Bella ketika mereka sampai di pertigaan. Pasalnya, Bella belum mengetahui di mana letak perpustakaan.

"Kanan." Bella mengangguk lalu berbelok ke kanan.

"Bell, tungguin gue. Jalannya jangan cepat-cepat dong."

*****

Ketika mereka sampai di perpustakaan, Bella langsung berjalan menuju rak buku. Mencari buku paket yang diminta oleh sang guru.

"Ini Bell, bukunya." Sita langsung menunjukkan letak buku paket tersebut ketika Bella masih mencari-cari.

Mereka berdua mengambil buku paket tersebut sesuai dengan jumlah murid yang ada di kelas.

Saat hendak pergi, Bella menatap seorang cowok yang berada di pojok. Cowok itu menenggelamkan wajahnya di kedua lipatan tangannya. Bella tidak habis pikir kenapa ada orang yang menyalahgunakan perpustakaan seperti ini.

"Lo liat apa Bell?" Sita yang sudah berjalan lebih dulu kembali menghampiri Bella.

Sita mengikuti arah pandangan Bella. Kemudian ia tersenyum. "Cowok itu namanya Vian. Dia ganteng, tapi nakal. Sering PHP-in cewek juga. Dulunya sih gue suka dia, tapi sekarang udah enggak."

"Tiap hari dia emang tidur di perpus?"

"Gak tiap hari sih, tapi lumayan sering."

Bella hanya geleng-geleng kepala, lalu pergi.

"Eh, Bell tungguin!"

Setelah mereka pergi, Vian mengangkat kepalanya. Lalu mengarahkan pandangannya ke segala arah. Vian mendengar suara seorang cewek yang tidak asing di telinganya. Vian menggeleng. Pasti ia salah dengar. Vian pun kembali melanjutkan tidurnya.

*****

"Bell, ayo ke kantin," ajak Sita.

Bella yang cukup lapar hanya mengangguk. Lalu mengikuti Sita.

Saat sampai di kantin mereka langsung membeli makanan. Bella membeli nasi ayam kesukaannya, sedangkan Sita membeli bakso.

Ketika selesai membeli dan hendak berjalan menuju meja mereka, Sita malah menabrak seorang cowok membuat bakso yang dipegangnya tumpah mengenai baju cowok itu.

Sita membulatkan kedua matanya ketika tahu kalau yang ia tabrak adalah Vian.

"So ... Sorry, Vian. Gue gak sengaja. Gue bersihin, ya." Sita hendak menyentuh baju seragam Vian, namun ditepis oleh cowok itu.

"Gan, mana minuman lo?" tanya Vian pada Regan.

"Nih, emang kenapa?" Tanpa menjawab pertanyaan Regan, Vian langsung mengambil alih minuman tersebut.

Seolah tahu apa yang ingin dilakukan Vian, Bella langsung menahan tangan Vian.

Vian yang kesal karena seseorang yang berani menahannya langsung terkejut ketika melihat wajahnya.

"A ... Arabella?"

******************************

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Arabella

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil tanpa sengaja menemukan patung beruang di jalan dan membawanya pulang untuk dirawat dengan tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa benda mati tersebut sebenarnya adalah inkarnasi dari sosok dewa muda yang sangat kuat. Wujud beruang itu terus bertahan menemani Melinda hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik. Namun, sebuah konflik menegangkan mendadak muncul dan menguji ikatan unik mereka. Akankah kisah cinta antara manusia dan dewa ini berujung pada kebahagiaan?
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya yang koma, tetapi saat terbangun, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan umum. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Di hari pernikahan, ia tega membuangku di jalan tol demi Stella. Akhirnya, aku memilih pergi meninggalkan semuanya menuju bandara.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi membahagiakan Satria, ia bahkan rela memohon sambil menangis agar sang suami bersedia menikah lagi. Satria sempat menolak rencana itu karena tidak ingin melukai perasaannya. Namun, di balik pengorbanan tulus Fatma sebagai bukti cinta terakhirnya, sebuah kenyataan pahit justru terungkap. Fatma harus menerima fakta menyakitkan bahwa suaminya ternyata tidak pernah mencintainya.
Sampul Novel LEMBAYUNG CINTA
9.2
Dalam kisah romansa modern ini, Rangga begitu terpikat oleh sosok Davina hingga merasa sangat terobsesi. Demi memikat wanita impiannya tersebut, Rangga rela menyusun berbagai rencana dan menempuh segala metode untuk menarik perhatiannya. Ia tiada henti berupaya membangkitkan simpati Davina, berharap perasaannya yang mendalam akan berbalas. Perjuangan gigih sang pria demi memenangkan hati wanita pilihannya menjadi inti dari perjalanan cinta yang penuh ambisi ini.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters sirna seketika saat mengetahui dirinya hamil. Sang suami, Julian Ryder, sejak awal sudah menegaskan enggan memiliki anak dalam pernikahan mereka. Berada di posisi sulit antara naluri keibuan dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras untuk menggugurkan kandungannya. Demi melindungi sang buah hati, ia pun terpaksa menyusun rencana rahasia untuk melarikan diri dan menyembunyikan kehamilan ini dari suaminya.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED