Bab 2

"A ... Arabella?"

Bella terkejut. Bagaimana tidak terkejut. Vian mengetahui namanya. Dan tatapan cowok itu seolah sudah mengenali Bella sebelum Bella pindah ke sekolah ini. Padahal Bella baru pertama kali bertemu Vian.

Tidak hanya Bella yang terkejut, Sita, Regan dan Beno pun ikut terkejut. Apakah mereka berdua saling mengenal?

"Lo tahu nama gue?" tanya Bella masih terkejut.

Vian mengangguk lalu tersenyum. "Gue yang waktu itu balikin KTP lo."

Bella terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian ia pun sadar. Kini Bella mengingat Vian. Cowok itu yang ia temui saat ia masih di Surabaya.

"Udah ingat, kan?" tanya Vian ketika merasa Bella sudah mengingatnya.

Bella hanya mengangguk.

"Gue yakin lo udah lupa nama gue. Jadi gue mau kita kenalan. Gue Vian." Vian menjulurkan tangannya.

"Bella."

Vian hanya tersenyum karena Bella tidak menyambut tangannya. Sedangkan Regan dan Beno yang berada di belakang Vian hanya menahan tawa. Karena baru kali ini Vian diabaikan oleh cewek.

"Mau gabung sama gue? Kebetulan meja kita masih kosong." Vian menawari dengan tujuan agar bisa mengobrol dengan Bella.

"Ma---"

"Enggak, makasih." Sita yang tadinya senang langsung kecewa dengan jawaban Bella.

Setelah Bella dan Sita pergi, barulah Regan dan Beno tertawa.

Vian menatap tajam keduanya. "Kenapa lo berdua ketawa?"

"Lucu aja. Baru kali ini ada cewek yang nolak lo mentah-mentah."

"Benar banget. Eh, bentar. Waktu itu lo bilang ada cewek Surabaya yang bikin lo tertarik. Apa jangan-jangan ceweknya anak baru itu?" tanya Beno memastikan.

Vian hanya diam. Masih fokus memperhatikan Bella yang kini sedang menikmati makanannya.

"Fix! Benar dugaan lo, No. Kayaknya jodoh lo, Yan." Regan menepuk pundak Vian.

"Tapi kayaknya enggak deh."

"Kenapa?" Vian seketika langsung menoleh pada Beno membuat kedua temannya menertawainya.

"Kayaknya dia beneran suka deh sama anak baru." Beno mengangguk menyetujui ucapan Regan.

"Jawab dulu pertanyaan gue."

"Dari cara dia liat lo aja keliatan banget dia gak tertarik sama lo, Yan. Tipe cewek kayak dia bakal susah didekatin. Ujung-ujungnya lo bakal nyerah sendiri."

Vian menggeleng. "Kalau dia gak tertarik, gue yang bakal buat dia tertarik sama gue," ucap Vian penuh yakin.

"Terserah lo aja deh."

*****

"Bell, Vian daritadi liatin lo terus," ujar Sita.

Bella tidak peduli. Bella tetap sibuk menikmati makanannya.

"Lo kenapa gak mau gabung sama Vian aja?"

"Kita udah ada meja," jawab Bella.

"Iya sih, tapi gue pengin rasain duduk sama Vian. Selama ini kan gue cuma bisa liat dia dari jauh doang."

"Katanya udah gak suka."

Sita cengengesan. "Iya, emang udah gak suka, tapi gue pengin aja dia tahu gue."

"Eh, tapi kayaknya Vian suka deh sama lo, Bell. Baru kali ini dia perhatiin cewek sampai lama gini. Biasanya cewek yang perhatiin dia."

"Eh, Bell, mau ke mana?" Sita bertanya ketika Bella hendak pergi.

"Toilet."

"Ya udah, jangan lama-lama, ya."

Bella hanya mengangguk. Lalu mempercepat langkahnya keluar dari kantin.

Saat sudah keluar dari kantin, ia malah bertemu dengan dua orang cowok.

"Hai, anak baru, ya? Boleh kenalan?"

Bella tidak menjawab. Bella hendak melanjutkan langkahnya, namun ia terjatuh karena salah satu cowok menjegalnya.

Ketiga cowok itu tertawa. "Makanya jadi cewek jangan sok jual mahal. Lo pikir lo paling cantik?"

Bella bangkit berdiri hendak memberi pelajaran pada cowok itu. Namun, sudah ada yang mendahuluinya.

"Gak usah macam-macam lo sama dia," ucap Vian emosi ketika berhasil mendaratkan sebuah pukulan pada wajah cowok itu.

"Santai bro. Gue gak ada masalah sama lo. Kenapa lo malah mukul gue?"

"Ini pertama dan terakhir kalinya lo cari masalah sama dia. Kalau sampai lo masih ulang, gue bikin lo babak belur."

Vian beralih menatap Bella yang hanya diam.

"Lo gak papa, kan?" tanya Vian yang hanya dibalas anggukan oleh Bella.

"Kaki lo luka, gue antarin ke UKS, ya?"

"Gak usah gue bisa sendiri." Bella pun pergi dari sana.

"Gue bilang juga apa tuh cewek jual mahal," sahut cowok yang tadi dipukul oleh Vian.

"Tutup mulut lo kalau gak mau babak belur."

*****

"Bell, kok lo tinggalin gue di kantin, sih? Kan tadi gue suruh lo balik ke kantin." Sita yang baru kembali ke kelas terlihat kesal.

Tentu saja Sita kesal karena Bella meninggalkannya begitu saja.

"Sorry, Sit, gue lupa." Bella jadi merasa bersalah pada Sita. Kalau saja ketiga cowok itu tadi tidak mengganggunya mungkin Bella akan kembali menemui Sita.

Tatapan Sita beralih ke kaki Bella. "Itu dengkul lo luka kenapa? Lo jatuh?"

"Iya jatuh di tangga." Bella berbohong agar Sita tidak khawatir dan bertanya lebih banyak.

"Ayo gue antar ke UKS."

Bella menggeleng. "Gak usah. Cuma luka kecil."

"Gak usah gimana? Nanti bisa infeksi kalau dibiarin."

"Nanti diobatin di rumah." Bukannya tidak mau hanya saja Bella tidak suka pergi ke UKS. Dari dulu ia sangat jarang pergi ke ruangan itu.

*****

"Vian?" Vian tersenyum tipis melihat Bella dan Sita keluar dari kelas.

"Cari siapa?" Sita bertanya.

Vian melirik Bella," Teman lo."

"Oh, ya udah kalau gitu. Gue duluan, ya." Sita hendak pergi, tapi Bella langsung menahannya.

"Kenapa Bell?"

Bella tidak menjawab, tapi Bella memberikan isyarat melalui tatapannya meminta Sita untuk tidak meninggalkannya berdua dengan Vian.

"Gue gak bisa di sini. Ojek online pesanan gue udah di depan soalnya." Sita melepas tangan Bella dari lengannya.

"Duluan, ya, Vian. Ingat, jangan macam-macam sama Bella."

"Iya."

Bella menatap ke arah lain. Sama sekali tidak mau menatap Vian. Bella sangat tidak nyaman. Apalagi sekarang hanya tersisa mereka berdua.

"Gue cuma mau kasih lo plester doang. Gue tahu lo pasti belum obatin luka lo, kan?" Vian memberikan plester pada Bella. "Nih, dipakai biar luka lo gak makin parah."

Bella masih diam. Tidak merespons ataupun menerima plester tersebut.

"Mau pakai sendiri atau gue yang pakein?" Vian hendak membuka plester untuk menempelkannya pada luka Bella. Namun, Bella sudah lebih dulu mengambilnya dari tangan Vian, membuat cowok itu tersenyum.

"Makasih." Tanpa berpamitan Bella langsung pergi begitu saja.

"Sampai ketemu besok, ya."

*****

"Aku pulang." Baron yang sedang menonton televisi langsung menoleh pada adiknya.

"Udah pulang lo?"

"Lo sendiri kok di rumah? Gak kuliah? Bolos ya lo?"

"Enak aja lo dosen gue gak ada yang masuk, makanya gue pulang cepat."

Bella hanya manggut-manggut, lalu mengambil duduk di samping Baron. Bella mengambil alih remote tv dari sang kakak lalu mengganti ke channel lain.

"Ganti pakaian dulu sana."

"Bawel lo."

"Itu dengkul lo kenapa diplester gitu?" tanya Baron menyadari kaki Bella yang diplester.

"Dijegal orang."

"Emang lo ngapain sampai bisa dijegal? Pasti lo yang cari masalah duluan, kan, makanya lo dijegal?" tuding Baron.

"Enak aja lo! Yang ada juga dia yang cari masalah sama gue. Cuma karena gue gak mau kenalan sama dia aja gue dijegal. Untung gak gue pukul."

"Makanya lo jangan kayak gitu. Lagian kan dia cuma mau kenalan doang. Lo harus lupain masa lalu lo. Lo harus bisa jadi diri lo yang dulu. Jangan cuma karena dia lo jadi tertutup sama semua cowok."

Bella melempar bantal sofa ke wajah Baron. "Bacot lo. Berhenti ungkit masa lalu gue." Bella pun pergi ke kamarnya.

"Ingat Bell gak semua cowok sama!"

*****

Bella merebahkan tubuhnya di kasur. Ternyata hari pertama di sekolah baru sangat melelahkan. Padahal saat di sekolahnya yang dulu, Bella tidak secapek ini. Mungkin karena ia bertemu orang-orang yang karakternya jauh berbeda dari sekolah lamanya.

Bella dapat merasakan perbedaan sekolah baru dan lamanya. Di mana sekolah baru lebih banyak orang-orang menyebalkan.

Bella menatap plester pemberian Vian yang masih melekat pada kakinya. Bella melepasnya lalu membuangnya ke tempat sampah.

Bella tidak tahu apa alasan Vian bersikap seperti itu padanya, tapi intinya Bella akan menjauhi cowok itu. Bella sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan berhubungan dengan cowok manapun. Baik itu hubungan pertemanan atau percintaan. Bella akan sangat membatasi pertemanannya. Ia tidak peduli jika tidak punya teman cowok. Walaupun Baron berulang kali mengatakan padanya kalau semua cowok itu berbeda, Bella tidak peduli.

Yang paling Bella tidak suka adalah Baron yang terus mengungkit masa lalunya. Bella tahu kakaknya itu berniat baik dan hanya ingin dirinya menjadi Bella yang seperti dulu, tapi sayangnya tidak mudah dan mungkin Bella tidak akan bisa kembali ke Bella yang dulu.

******************************

Bab 3

Bella baru saja selesai mencuci muka. Ia mengeringkan dengan tisu lalu memakai serangkaian skincare. Saat sedang sibuk dengan kegiatannya, terdapat sebuah notifikasi di ponselnya.

Bella hanya menoleh sejenak, lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang hampir selesai.

Setelah selesai, Bella langsung mengecek ponselnya. Ternyata notifikasi dari media sosialnya yaitu instagram. Di sana tertulis kalau akun dengan nama pengguna Alvian baru saja mengikuti akunnya.

Untuk memastikan kalau tidak salah orang, Bella pun mengecek profilnya. Dan benar saja ternyata akun tersebut adalah milik Alvian yang ia kenal. Alih-alih menekan tombol untuk mengikuti akun Vian, Bella malah menekan tombol blokir.

Bella kembali menaruh ponselnya di nakas, kemudian memilih untuk tidur.

*****

"Kenapa lo?" tanya Regan melihat Vian yang sedari tadi menatap ponsel. Seperti sedang menunggu sesuatu.

Saat ini Regan dan Vian sedang berada di rumah Vian. Keduanya hampir setiap malam datang ke rumah Vian karena cowok itu yang meminta mereka untuk datang.

"Nungguin chat dari ayang, ya?" goda Beno.

"Gak usah sotoy." Vian terus menunggu notifikasi dari media sosialnya, tapi tak kunjung ada.

"Kok dia belum follow gue, ya?" gumamnya.

Pasalnya, sudah hampir satu jam Vian menunggu. Bahkan, Vian tidak menjawab pertanyaan kedua temannya.

"Siapa?"

"Arabella."

Regan dan Beno yang sedang menikmati camilan seketika langsung menoleh pada Vian.

"Arabella?" kompak keduanya.

Vian seketika terkejut kembali dengan jawabannya. Kenapa ia malah keceplosan?

"Arabella yang anak baru itu?" tanya Beno memastikan kalau tidak salah orang.

Vian tidak menjawab. Bahkan, tidak menatap kedua temannya.

"Kalau dia udah diam berarti benar," kata Regan lalu kembali melahap camilan.

"Baru kali ini lo kayak gini."

"Gue diblokir," ujar Vian santai membuat Regan dan Beno membulatkan mata.

"Serius lo? Beneran diblokir?" Regan mengambil alih ponsel Vian untuk memeriksanya.

Regan menoleh pada Beno lalu mengangguk. "Iya, beneran diblokir."

Vian mengambil kembali ponselnya. "Gak papa. Masih ada cara lain buat dekatin dia. Gue punya banyak cara buat dapatin dia."

Beno menepuk-nepuk pundak Vian. "Semoga lo berhasil, deh."

"Walaupun peluangnya kecil," ucap Regan pelan, tapi masih bisa didengar oleh Vian.

"Gak usah sotoy! Peluang gue besar."

*****

"Pagi Bella." Bella yang baru saja tiba dan hendak ke kelas sedikit terkejut ketika Vian sudah berada di sampingnya.

"Gue kemarin follow instagram lo, tapi kayaknya gue diblok, ya?"

Bella hanya diam. Entah kenapa ia malah takut. Padahal saat masih di rumah, Bella sudah menyiapkan jawaban kalau cowok itu bertanya, tapi malah Bella tidak bisa menjawab.

Vian tersenyum, "Gak papa gue tahu lo mungkin gak nyaman. Gue bisa ngerti kok. Gue gak bakal maksa lo buat buka blokirnya. Lo punya hak buat itu. Gue cuma mau temenan sama lo. Kalau gitu gue ke kelas duluan, ya."

Bella mengembuskan napas lega ketika Vian pergi. Padahal Bella tidak melakukan kesalahan, tapi kenapa ia merasa bersalah karena sudah memblokir akun media sosial Vian?

"Bell!" Bella kembali terkejut karena Sita menepuk pundaknya.

Sepertinya jantung Bella sedang diuji pagi ini.

"Cie, yang abis ngobrol sama Vian. Dia ngomong apa?" tanya Sita penasaran.

Bella tidak menjawab. Karena takut dengan reaksi Sita.

"Ya udah deh, kalau gak mau jawab. Ayo ke kelas."

*****

"Oh, jadi lo anak baru yang katanya sok cantik itu?"

Bella dan Sita yang baru tiba di kelas menatap bingung seorang cewek yang berdiri di depan kelas mereka.

Cewek itu memberikan tatapan sinis pada Bella.

"Masih pagi Rin, gak usah cari masalah," ucap Sita.

"Diam lo! Gak usah ikut campur." Cewek itu beralih menatap Bella. "Dengar ya, lo jadi cewek gak usah sok cantik. Teman-teman gue juga belum tentu suka sama lo."

Bella tersenyum miring. "Oh, jadi cowok-cowok kemarin teman lo? Kasih tahu sama mereka jangan jadi cowok banci yang beraninya cuma sama cewek."

Setelah berucap demikian, Bella pun masuk ke dalam kelas diikuti Sita.

"Lo keren banget, Bell. Gue pikir lo bakal diam doang. Rina emang nyebelin. Suka cari masalah sama cewek lain. Takut kalah saing dia." Sita memuji Bella.

"Eh, btw, maksudnya cowok-cowok yang lo bilang itu Frans sama teman-temannya, ya? Mereka gangguin lo? Kok lo gak bilang ke gue?"

"Gue gak tahu. Tapi kemarin ada tiga cowok yang ganggu gue."

"Kayaknya emang mereka. Soalnya mereka suka banget cari masalah. Pasti mereka bilang ke Rina makanya tuh cewek ke sini. Gue lupa bilang sama lo. Kalau bisa lo jauh-jauh dari geng mereka. Karena mereka suka bully orang. Gak ada yang berani sama mereka kecuali Vian."

Bella hanya manggut-manggut. Ternyata di sekolah ini benar-benar berbeda. Bagaimanapun kalau mau hidup tenang di sekolah ini, Bella tidak boleh mencari masalah dengan orang-orang seperti mereka.

*****

"Ups! Sorry, gak sengaja." Bella hanya bisa menghela napas ketika Rina dengan sengaja menumpahkan minuman ke baju seragamnya.

"Bisa gak sih lo gak ganggu Bella?" ujar Sita kesal.

Rina menoleh pada Sita. "Gue kan udah bilang gue gak sengaja. Lagian, gue juga udah minta maaf."

"Lagi-lagi lo yang buat masalah." Ketiganya menoleh pada Vian.

Vian memberikan jaketnya pada Bella agar Bella menutup baju seragamnya yang terkena minuman, tapi Bella menolak. Tidak menyerah, Vian pun berinisiatif memakaikan langsung pada Bella.

Melihat tindakan Vian yang sangat langka itu membuat Regan dan Beno melongo. Tak hanya mereka berdua, Sita dan Rina pun memiliki reaksi yang sama.

"Ini beneran Vian bukan, sih?" bisik Regan pada Beno.

"Gak tahu. Tapi kayaknya emang dia."

"Aneh, ya, kalau dia perhatian gitu ke cewek."

"Jangan pernah cari masalah lagi sama Bella," tekan Vian.

"Gue gak sengaja. Ngapain juga gue cari masalah sama cewek kayak dia." Rina pun melengos pergi.

"Lo gak usah peduliin dia, ya. Itu cewek emang suka cari masalah. Lo pakai aja jaket gue. Nanti baru lo balikin juga gak papa."

"Thanks."

Vian tersenyum. "Sama-sama." Lalu Vian, Regan dan Beno pergi ke meja mereka.

"Ya ampun, perhatian banget Vian sama lo. Makin yakin gue kalau Vian naksir sama lo, Bell," ucap Sita heboh.

Bella tidak merespons. Bella memilih berjalan menuju meja untuk menikmati makanannya.

"Gue harap lo bisa betah di sekolah ini, ya."

Bella mengernyitkan keningnya. "Maksud lo?"

"Kayak yang gue bilang sama lo di kelas tadi. Kalau udah berurusan sama Rina cs, udah pasti mereka gak bakal biarin lo tenang."

Bella hanya diam. Bella memang tidak akan mau mencari masalah dengan mereka, tapi kalau mereka yang cari masalah lebih dulu dengannya bagaimana? Apakah Bella harus tetap diam? Karena Bella tidak suka dengan ketidakadilan.

"Rasain lo! Makanya jangan macam-macam sama gue." Bella dan Sita menoleh ke sumber suara.

Ternyata Rina menyiram minumannya pada seorang cewek. Diikuti ketiga cowok yang menarik rambut cewek itu.

Bella tidak tahan. Ingin menghentikan mereka, namun Vian sudah lebih dulu menghentikan Rina cs. Walaupun Vian terlihat seperti murid nakal, tapi rupanya Vian mempunyai sifat yang cukup baik.

"Ekhem, liatin Vian, ya?" goda Sita.

Bella segera mengalihkan pandangannya. "Enggak."

******************************

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Arabella

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED