"Kamu sudah yakin akan hal ini?"
Pria bersnelli putih di hadapannya tersenyum, lalu mengangguk mantap.
"Aku mendapatkannya dari Dokter Attiyah. Dia adalah rekanku di rumah sakit, jadi kami punya kontak. Istrimu tiga hari lalu menemuinya dan positif."
Arham menarik napasnya panjang, lalu membuangnya kemudian. Dia benar-benar tak menyangka. Diambang kegundahan yang dia rasakan setahun terakhir, akhirnya punya alasan untuk bertahan.
Di sambarnya amplop dari rumah sakit itu, lalu membuka laci dan mengambil sebuah surat.
"Terima kasih atas bantuanmu, Alzam . Aku pulang dulu, ya?" ujarnya sambil memukul bahu dokter pria itu. "Nanti uangnya kutransfer."
"Oke." Alzam tersenyum, melihatnya yang beranjak keluar.
Sepanjang jalan di lobby perusahaan, Arham menimbang-nimbang keputusannya agar lebih matang. Dia akan melakukan banyak hal agar tidak jadi mendapatkan apa yang ibunya mau. Di bukanya pintu mobil, lalu segera memasukinya dan berpacu meninggalkan pekarangan perusahaan.
***
"Aku sudah tahu kedatanganmu untuk apa." Launa tersenyum, sambil meletakkan kopi untuk suaminya yang tampak menegang di sofa.
Arham Afsanur Rumman. Pria yang menikahinya akibat kontrak. Pria ini sudah hampir tiga bulan tak mendatanginya dan dia tahu karena adanya sang tunangan yang sudah membahagiakannya.
"Selamat, ya? Atas pertunanganmu dengan Felina. Kalian cocok sekali, kuharap kau bisa bahagia dengannya."
Arham menarik napasnya, menunjukkan rasa tak senang akibat ungkapan istrinya. Dia memandang wajah lonjong itu. Putih bersih dengan dress kuning telur yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
Launa Amsya Lathira. Namanya sama cantik dengan orangnya. Launa adalah istrinya dalam tiga tahun terakhir. Istri yang dia nikahi demi menghalangi niat ibu tiri yang akan merebut harta ayahnya, juga istri yang terpaksa harus menandatangani surat kontrak dengannya agar wanita berkepala ular itu bisa mati kutu. Pasalnya, wanita itu amat berbisa. Mulutnya seakan banyak cabangnya dan bisa membuat siapa saja teracuni.
"Ekhm." Launa memperbaiki posisi duduknya, mulai tahu diri karena tetap mengakrabkan diri dengan Arham yang justru tak bersuara apa-apa sejak datang tadi. "Ini sudah tanggal delapan belas bulan dua," gumamnya sambil menunduk sedikit. "Kau membawa surat perceraiannya, 'kan? Berikan padaku."
Arham menggeleng, baru kali ini merespons dan tidak mengenakkan bagi Launa.
"Aku tidak bisa bercerai denganmu."
Deg!
"Kenapa? Bukankah sudah jatuh tempo? Mau berapa kali lagi kamu akan mengundur? Ingatlah, kamu sebentar lagi akan menikah, Arham. Felina tidak mungkin kamu gantung-"
"Felina itu tidak sungguh-sungguh kucintai, Launa." Arham memalingkan wajah. "Aku tidak sungguh-sungguh bertunangan dengannya. Aku hanya ingin mengecoh ibuku."
"Tidak begitu caranya, Arham." Launa menggigit bibirnya. "Kau tidak harus mempermainkan wanita lagi. Cukup hanya aku.".
Arham tertunduk sedikit. "Ya, cukup hanya kau. Tidak lagi."
Launa menatapnya yang sudah mengangkat kepala dan mengambil tas. Dia mengeluarkan surat perceraian, hingga Launa tersenyum melihatnya.
Itu yang dia inginkan!
Segera di ambilnya bolpen dari balik vas bunga di meja itu. Lalu menatap Arham yang ternyata menangkap ulahnya.
"Kemarikan, biar aku tandatangani," pintanya bersemangat, tapi Arham malah tersenyum dan meletakkan surat perceraian itu di meja.
Dia sendiri bangkit, lalu duduk di sebelah istrinya. "Aku tidak mau bercerai," ujarnya lagi, mengatakan kalimat yang sama.
"Bagaimana mungkin-"
"Tidak akan ada perceraian di antara kita." Arham bicara lagi, kali ini wajahnya di bubuhi senyum hingga terlihat lebih baik. "Apakah yang kau kejar dengan perceraian, Launa? Kenapa kau se-excited itu?"
Launa terdiam. Tangannya perlahan naik, lalu hinggap di perutnya. Arham menangkap gerakan itu, hingga bibirnya tersenyum dan mengambil tangan Launa yang tengah mengusap perutnya itu.
Launa sampai tersentak. Namun, saat melihat Arham hanya menggenggam tangannya, dia mencoba mengembalikan raut wajahnya.
"Arham ..., bukankah ini yang kau inginkan? Kau akan menceraikanku, tapi mengapa sekarang tidak jadi?" tanya Launa lembut, seraya membalas genggaman tangan Arham yang lebar. "Kebersamaan kita tidak ada yang indah, Arham. Kau tidak harus menyayangkannya."
Arham menarik napasnya perlahan. "Bukan aku menyayangkannya, Launa ...."
Launa menatapnya penuh perhatian. "Lalu?"
Arham menggeleng. "Aku tidak bisa melepaskanmu setelah apa yang kita lalui bersama tiga tahun ini-"
"Itu tidak benar." Launa menggeleng pelan. "Kau bahkan menghabiskan waktu kurang lebih hanya sembilan bulan denganku dalam tiga tahun ini. Tidak ada yang spesial."
"Ada," tegasnya membuat Launa menelan ludah. "Mau kau bawa kemana kehamilanmu? Kau mau terus merahasiakannya dariku? Lalu pergi dari rumah ini dan mengandungnya susah payah seorang diri? Tidak, Launa! Tidak akan kubiarkan!"
Wajah Launa langsung memucat mendengar ucapan itu. Segera di tariknya tangan dari genggaman itu, lalu mundur ke belakang dan menyentuh perutnya sendiri.
Arham memandangnya dalam, melihat dengan jelas bagaimana gugupnya Launa akibat ketahuan.
"Ak-aku tidak hamil-"
"Masih mau membantah?" Arham mengerutkan dahinya. "Aku ingat malam itu, Launa. Berhentilah menolak kenyataan kalau kau sedang mengandung anakku sekarang ini."
Launa sudah payah menelan ludahnya. Dia menggeleng tegas, tidak mengakui kehamilannya karena hal itu akan membuatnya merasa sakit sendiri. Arham bisa menungguinya melahirkan, lalu mengambil anaknya sebagai pewaris yang diinginkan oleh ayah mertuanya.
Bagaimanapun tujuan Arham menikahinya dalam kontrak adalah hal itu. Dia mengelabui ayahnya yang termakan hasutan ibu tiri. Perusahaan dan kekayaan ayahnya akan jatuh menjadi milik istri keduanya jika Arham tidak segera memberikan cucu. Begitu, 'kan?
"A-aku tidak hamil, Arham. Salah paham ...," ujarnya dengan tangis tersendat. "Maafkan aku karena malam itu. Please, tidak ada kehamilan, Arham. Kau salah paham .... Darimana kau tahu kabar palsu itu? Ayolah, jangan percayai. Bisa saja itu kehamilan orang lain yang ingin menghancurkan kebahagiaan pertunanganmu."
Arham melihatnya yang tampak sesenggukan takut. Ucapan dan kegugupan wanita itu justru membuatnya melihat sisi lainnya. Launa hamil akibat jebakannya sendiri. Dia yang membuatnya meminum obat malam itu hingga akhirnya mereka menghabiskan malam bersama.
"Aku tidak hamil. Kau bisa ceraikan aku sekarang." Masih melanjutkan, Launa tampak amat sangat berharap dengan tatapan memelasnya. "Aku tahu aku salah malam itu karena sudah menjebakmu. Namun, aku tidak-"
"Berhentilah menangis." Arham tersenyum melihatnya. "Kau tidak harus sampai menangis mengatakannya. Aku tidak bodoh, Launa. Meski malam itu kau mempengaruhiku dengan obat. Aku tahu apa tujuanmu melakukannya."
Launa menggeleng hingga Arham terkekeh melihatnya yang amat sangat keras kepala. Pria itu beringsut mendekat, lalu meraih tangan halus Launa dan menatap matanya.
"Tidak perlu memaksakan dirimu," ujarnya pelan membuat Launa makin terisak. "Aku juga tidak akan memaksakan diriku. Ada banyak hal rahasia yang tersembunyi di antara kita karena memang kita tidak pernah terbuka. Tetapi aku akan menyelaminya perlahan hingga kau benar-benar kukenali dengan baik. Dan selama itu, kumohon ..., jangan tutupi kehamilanmu dariku. Karena aku akan bertanggung jawab atasmu dan dia."
Launa melotot mendengar ucapannya. "Kamu bercanda? Bagaimana mungkin? Aku tidak hamil, Arham."
Arham menarik napasnya perlahan.
"Ayolah, kalaupun aku hamil itu karenaku. Aku yang salah karena sudah menjebakmu. Itu kulakukan-"
"Aku tahu." Arham memotong ucapannya, lalu menatap wajah Launa yang tampak keberatan. "Malam ini terlalu melelahkan untuk membahas semuanya, Launa. Aku mau istirahat."
Launa bungkam beberapa saat, lalu melihat Arham yang tampak meraih surat perceraian mereka dan meremasnya. Sontak saja wanita itu mencegah, merampasnya dan bangkit berdiri.
"Apa yang kamu lakukan?" sentaknya kesal. "Ini surat perceraian kita. Mengapa mau kamu hancurkan? Kamu tahu? Aku menunggunya dua bulan terakhir. Kamu tidak bisa menghancurkan ini begitu saja."
Arham berdecak, lalu bangkit dan menatap wajahnya. "Dengar, Launa. Aku tidak mau bercerai."
"Itu katamu saat ini." Launa menggeleng tak percaya. "Bagaimana nanti? Kau bahkan sudah mengumumkan rencana perceraian kita ke media. Semua orang sudah tahu. Namaku sekarang sudah menjadi calon mantan istrimu. Kau tidak bisa bermain-main, Arham."
Arham menghela napasnya panjang, lalu mengambil tangan Launa untuk di genggam.
"Dengarkan aku, Launa." Arham menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya sedikit. "Aku terpaksa melakukan itu. Aku tidak berniat untuk menikah lagi. Tapi kamu tahu bagaimana rumitnya hidupku, bukan? Tidak mudah. Aku bahkan tidak mau pulang hanya karena ada Mama tiriku itu. Dia terlalu berambisi. Aku tidak sanggup melihat dan memikirkan semua yang ingin dia lakukan."
Napas Arham memburu, berharap agar Launa mengerti. "Dia sudah menjadi istri kedua ayahku. Mengambil hati ayahku dari Mama kandungku. Dan sekarang dia mengincarku, hanya karena warisan yang akan dia rebut. Aku tidak akan membiarkan. Enak saja anak bawaannya mendapat harta Papa. Kau adalah orang yang paling mengerti tentangku. Kau banyak tahu tentang bagaimana sulitnya aku. Aku mohon, jangan berniat untuk berpisah dariku, Launa. Aku tidak bisa ..., kau juga sudah hamil anak kita."
Launa menggeleng pelan tapi Arham segera menangkup pipinya. "Jangan berbohong padaku."
"Aku memang tidak hamil." Launa menggeleng tegas, takkan mengatakan tentang kehamilannya.
Itu akan merugikannya. Baik dari segi hubungan Arham dan Felina, dari segi perebutan aset warisan dan juga dari segi pernikahan ini. Arham tak mau menceraikannya hanya karena tahu dia hamil? Padahal sebelumnya, pria ini begitu semangat dan bersungguh-sungguh untuk menceraikannya.
Artinya, Arham memang memakainya untuk mendapatkan tujuannya. Pria ini menikahinya sejak awal juga karena tuntutan ayah dan ibu tirinya, dia harus berumah tangga agar ayahnya bisa memikirkan tentang warisan yang akan jatuh padanya karena dia sudah berkeluarga. Sedangkan dia, dia hanya di pakai sebagai alat agar semua itu terwujud. Dan setelah dia, Arham juga akan memakai anaknya. Bagaimana bayi yang tidak berdosa ini akan mendapatkan semua masalah keluarga dan perebutan warisan saat terlahir nanti? Dia bahkan tidak tahu apa-apa.
"Please, Arham .... Kita harus tetap bercerai. Bukan masalah karena kau yang akan mendapatkan warisan dengan menikahi Felina. Tetapi, aku memang tidak hamil. Bagaimana kau tahu aku hamil? Dari siapa kabar itu?" Launa bertanya frustasi, hingga Arham menggeleng menenangkannya.
"Aku tahu dari dokter Alzam."
Deg! Launa susah payah mempertahankan raut wajahnya agar tidak terlihat kaget. Namun, dia terlambat. Matanya yang berkedip itu sudah di tangkap lebih dulu oleh Arham yang memang memandanginya.
"Kamu lihat." Arham melepaskan genggaman tangannya, lalu meraih tasnya dan mengambil amplop yang di berikan Dokter Alzam. "Ini surat pernyataan resmi bahwa kau benar-benar hamil. Masih mau mengelak?"
Launa merampas amplop itu dengan tubuh gemetar. Dia membacanya dengan cepat lalu lemas seketika. Bagaimana bisa dia ketahuan? Padahal dia sudah meminta agar Kesya merahasiakannya. Apakah mungkin langkahnya yang di ketahui Arham? Bagaimana mungkin? Padahal dia sudah sangat berhati-hati saat akan pergi kemanapun. Bagaimana bisa mereka tetap mengetahuinya?
"Sekarang bagaimana caraku mengelak? Aku tidak mungkin tetap bersamanya dan terkurung. Apa sebenarnya yang diinginkan pria ini dariku?" Launa memejamkan matanya, menahan sesak dan tangis yang siap jatuh.
Rencana yang dia susun roboh seketika hanya karena Arham mengetahui kehamilannya. Sejak awal dia memberanikan diri untuk menjebak dan memasukkan obat perangsang dalam kopi Arham tiga bulan lalu, agar pria itu mau menyentuhnya. Dan rencananya berhasil malam itu.
Arham menyentuhnya, bahkan menanamkan benih seperti yang diinginkannya. Dia yang sudah tahu takkan lama lagi dengan Arham ingin ada satu peninggalan berharga dari suaminya yang bisa dia jaga dan dia rawat. Dia ingin mengandung anaknya tanpa diketahui Arham sendiri. Namun, bagaimana mungkin pria ini tahu bahkan saat dia pertama tahu? Apa yang diinginkannya?
"Launa ..., berhentilah memikirkan hal-hal yang berat." Suara Arham terdengar, sudah duduk di sampingnya dan menyentuh kedua bahunya.
Launa membuang napasnya panjang. Kepalanya berpikir untuk menemukan cara bagaimana dia akan berkelit dari Arham demi menyangkal kehamilannya.
"Ini bohong, Arham ...."
Arham meraup udara dengan kesal. "Launa ...."
Launa menggeleng tegas. "Aku tidak hamil. Dengarkanlah, kau sentuh, tidak ada apa-apa di sini ...," ujarnya sambil menelan ludah.
Namun begitu, dia tetap mengambil tangan Arham yang lebar dan kekar untuk diarahkan ke perutnya.
"Kau rasakan ..., apakah ada bayimu di sini? Tidak ada, Arham." Launa menggigit bibirnya saat wajah Arham justru berbinar menyentuh dan mengusap perutnya itu. "Arham ..., please. Kau tidak mungkin ikut mempermainkannya jika seandainya dia ada, bukan? Ayolah, kau mencintai Felina. Kau beberapa kali mengatakannya di televisi saat show dan syuting. Tidak mungkin kau melakukan setingan. Aku tidak percaya sama sekali."
Arham tak menjawab. Dia hanya tersenyum, mengusapi perut Launa yang masih datar. Perasaannya hangat, dia akan menjadi ayah beberapa bulan lagi.
"Arham ...." Launa mengambil tangan pria itu, menyingkirkannya dari perut hingga Arham mendongak. "Please ..., don't mess with our marriage again. It's enough, Arham," ujarnya dengan nada yang benar-benar lelah.
Arham menghela napasnya perlahan. "Aku tahu aku salah karena melibatkanmu sejauh ini, Launa," ujarnya dengan nada rendah, sama-sama lelah dan tak ingin menyerah. "Maafkan aku karena sempat menjadikan ini kontrak pernikahan. Namun, aku benar-benar merasa tidak bahagia dalam beberapa bulan terakhir menjelang perceraian kita," jedanya sambil membasahi kerongkongan.
"Aku benar-benar bingung, cara apalagi yang bisa kulakukan untuk mempertahankanmu. Bahkan saat aku bertunangan dengan Felina, rasanya tidak sama seperti aku mengajakmu menikah tiga tahun lalu. Aku nyaman denganmu, walaupun kau sering ku tinggal. Kau tahu, hanya kau yang cocok dan memahamiku. Makanya saat aku mendengar dan mengetahui kalau kau hamil, aku seakan mendapat keringanan yang sangat besar. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu lagi. Ini kulakukan agar aku bisa tetap denganmu, Launa."
Launa menggeleng pelan dengan mata yang perlahan berair. "Aku yang tersiksa, Arham. Kau tidak tahu bagaimana sakitnya menjadi istri tapi sebagai alat untuk mencapai tujuanmu. Aku juga ingin punya kehidupan sendiri."
Launa melangkah mendekati Arham yang sudah meletakkan handuk. Pria itu baru saja mandi, setelah menghabiskan sore untuk berbincang dengannya.
"Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu," gumamnya saat sudah dekat, hingga Arham menatapnya dengan senyuman kecil dan tulus yang dia berikan. "Makanlah, setelahnya kau bisa istirahat."
Arham mengangguk, menyugar rambutnya yang masih basah. "Kau sudah makan?"
"Sudah." Launa menjawab seraya menghela napasnya. "Aku mau ke kamarku sebentar, ada yang mau kulakukan."
"Hmm." Arham mengusap rambut istrinya itu, lalu melangkah kearah dapur.
Launa sendiri tampak sulit menarik napasnya, hingga kakinya perlahan melangkah menuju pintu kamar.
Rumah ini minimalis dua lantai yang di berikan oleh Arham padanya saat pertama kali menikah dulu. Rumah yang sudah dia tempati tiga tahun dan rencananya akan dia tinggalkan dan pergi begitu saja tanpa memberitahu Arham setelah mereka bercerai. Namun nyatanya, memang tidak semudah itu. Dia merasa kalau apa yang terjadi sore tadi tak membuahkan hasil sama sekali. Dia mengira sudah menjadi janda sekarang, tapi Arham tak mau menandatangani surat perceraian mereka.
"Apa yang harus kulakukan?" Launa menyanggakan tubuhnya di nakas sebelah ranjang.
Rasa pusing kembali menggerogotinya, hingga dia memejamkan mata demi mencoba tetap berdiri. Di ambilnya ponsel, lalu menatap layarnya dan melihat list kontak. Seraya duduk, Launa menempelkan ponsel itu ketelinganya.
"Halo? Launa? Ada apa menghubungiku?"
Launa menghela napas terakhir.
"Ada yang salah denganmu? Apakah ada keluhan?"
"Tidak," jawabnya perlahan, lalu memijat pangkal hidungnya. "Aku hanya pusing, juga merasa sedikit mual di ulu hati."
"Ah, itu faktor hamil muda yang kau alami. Tidak apa-apa, kamu bisa minum air hangat dan juga obat yang sudah kuberikan."
"Hmm." Dia mengembuskan napas perlahan. "Attiyah ...."
"Hmm? Butuh sesuatu lagi? Kau butuh teman?" Wanita yang di hubunginya itu tampak menunggu santai jawaban pertanyaan yang dia berikan.
"Kau tahu, 'kan, tujuanku ingin hamil untuk apa? Kenapa kau beritahukan pada Arham?"
Hening, tak ada jawaban dari sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter itu. Launa menghela napas, tapi tak berniat untuk kecewa pada Kesya yang selama ini selalu baik dan ada untuknya.
"Kan sudah kukatakan, jangan beritahu. Aku ingin mengandung anaknya diam-diam, Kesya. Karena aku akan berpisah dengannya hari ini." Launa menggigit bibirnya, mencoba menahan agar tidak menangis. "Kau tahu, 'kan? Aku mencintai dia walaupun dia tidak pernah menganggapku istri. Aku sudah tabah ingin berpisah darinya dan mengandung anaknya sebagai kenang-kenangan. Namun kenapa kau malah memberitahu? Sekarang dia tidak mau menceraikanku hanya karena kehamilan ini."
"Emm, maaf, Launa." Wanita dengan rambut tergerai dan snelli putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya itu bergumam. "Aku tidak tahu kalau jadinya seperti itu. Dokter Alzam yang bertanya padaku, makanya aku bilang. Bagaimanapun dia seniorku, dia melihat laporanku dan juga jam kerjaku kemarin itu. Rekaman cctv juga membuatku tidak bisa berkelit. Maafkan aku, ya? Please, kau tidak bisa membenciku karena itu. Maaf, Launa."
Launa menghela napas perlahan. "Aku tidak membencimu kok. Hanya saja, maukah kau menolongku?"
"Pertolongan apa? Aku akan bantu sebisaku. Ini juga karenaku, jadi aku akan membantumu."
Launa tersenyum, melihat kearah pintu yang terlihat mulai terbuka.
"Sebentar ya, nanti aku kirim pesan." Launa yang semula bersuara amat pelan, kini berbisik. "Ada Arham, nanti kita lanjut lagi."
"Oke, bye."
"Bye juga." Launa menurunkan ponsel dari telinganya, lalu melihat Arham yang sudah melangkah masuk saat dia menatapnya. "Perlu sesuatu?"
Arham mengangguk, terus melangkah dan duduk di sebelah Launa yang mulai bergeser sedikit.
"Felina menghubungiku, dia ingin kita bertemu dengannya."
Launa menelan ludah, hingga Arham menoleh dan melihat reaksi istrinya hingga senyumnya terbit.
"Dia tidak mau menikah denganku awalnya, Launa. Aku yang memaksa, sama sepertimu dulu."
Launa memalingkan wajah, enggan bersitatap dengan Arham karena hela napasnya yang terasa sedikit sesak.
"Aku akan membawamu padanya. Aku akan membatalkan rencana pertunangan dan membebaskannya. Aku tidak membutuhkan dia karena ada kau-"
"Arham ...," ucap Launa memotong ucapannya. "Coba pikirkan lagi, kau bisa menyesal karena melepaskan calon istrimu yang kaya raya itu."
Arham menggeleng pelan, dia menatap wajah Launa yang tampak keberatan untuk hidup dengannya. Dan dia tahu, itu karenanya. Dulu karena kesibukan dan pekerjaan, dia tak pernah mempedulikan Launa dan sering tidur di apartmentnya daripada pulang kemari.
Pasalnya, kepala Arham berat dan tidak mampu memikirkan orang lain. Dia menikah awalnya hanya formalitas dan alasan, agar ayahnya tidak menyerahkan warisan atau hak kekuasaan pada anak tirinya itu. Arham adalah anak tunggal, dia yang berhak bukan orang lain.
Ayahnya adalah pengusaha tambang kaya raya. Cabangnya banyak dan asetnya jutaan di negara Timur Tengah ini bahkan sudah hampir setara perdana menteri. Di samping menjalankan tugas negara, ayahnya juga pedagang besar dan sekarang Arham hanya di berikan salah satu perusahaan yang bahkan masih di katakan cabang untuk di kelola.
Ayahnya gila karena menuruti ucapan istri Mudanya. Arham dan ibunya tak pernah lagi tersentuh kasih sayangnya karena sibuk memanjakan wanita perebut kebahagiaan ibunya itu. Inilah tujuan Arham, dia ingin mengembalikan kesadaran ayahnya agar bisa menjadi seperti dulu.
Permintaan pertama adalah Arham harus menikah. Dan Arham sudah menikahi Launa hingga ayahnya sedikit respeck padanya sebab suka dengan istri pilihannya. Launa juga mampu menjalankan dirinya menjadi istri yang segalanya di hadapan keluarga. Wanita yang dia nikahi ini berbakat dan pandai menghadapi situasi hingga selalu berhasil mendapatkan hati ayahnya.
"Kalau aku bercerai denganmu, keluargaku akan berantakan lagi." Arham berkata pelan, menatap wajah Launa yang tampak sendu hingga pria itu mengambil tangannya. "Bukan aku membuatmu sebagai alat, Launa. Hanya saja, aku benar-benar membutuhkanmu saat ini. Terlepas dari apa yang sudah kita lakukan dan apa yang kau alami sekarang."
Launa menggigit bibirnya, kepalanya tertunduk karena merasa tidak akan bahagia jika hidup begini terus dengan Arham yang sibuk mengejar kebahagiaan keluarganya.
"Aku akan berusaha mencintaimu."
Ucapan Arham membuatnya mengangkat wajah. Dia menatapi wajah sang suami yang tampak mengangguk meyakinkan.
"Kita akan mulai perjalanan pernikahan yang baru. Aku akan mencoba mencintaimu lebih besar. Bukan karena kau hamil, bukan karena aku membutuhkanmu. Tetapi aku memang ingin mencintaimu. Kau mau, 'kan?"
Launa menghela napasnya, masih menatapi wajah Arham yang tampak tersenyum di depannya.
"Aku akan pulang padamu setiap hari. Kita akan tinggal bersama dan kau hanya perlu ada di sisiku. Aku yang akan berjuang mendapatkan kebahagiaan keluargaku lagi. Please, atas nama ibuku, Launa .... Kau mau, 'kan?"
Terasa genggaman tangan Arham mengerat, hingga Launa menarik napas. Dia memang mencintai pria ini tanpa diketahuinya, tapi tak pernah dia memikirkan untuk hidup bersamanya karena dulu itu adalah suatu kemustahilan baginya yang hanya istri kontrak.
"Launa ..., kau maukan? Kita akan batalkan semua perjanjian kontrak yang sudah terjadi. Kita buat hidup yang baru mulai hari ini. Bersediakah kau?"