Bab 1

Plakkk

"Dasar wanita j*lang."

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Silvi Ananda. Seorang gadis berusia 19 tahun yang merupakan istri dari adik ipar Nadia Antika. Amarah Nadia tidak bisa dibendung saat melihat kelakuan adik ipar dan suaminya di kamar tamu sedang bercumbu.

Amarah Nadia tidak bisa ditahan lagi. Kepercayaannya selama ini dipatahkan begitu saja oleh Askara. Kesetiaan yang selama ini Nadia jaga, dibalas dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan.

"Aww, sakit Mbak," pekik Silvi sambil memegangi pipinya yang merah.

"Sakit? Lebih sakit terkhianati atau sakit karena ditampar?" tanya Nadia masih dengan napas terengah-engah karena emosi.

"Sudah lah Nadia, ayo sekarang kita keluar," ajak Askara dengan lembut.

"Mas," ucap Silvi manja.

"Apa Alden kurang membuatmu puas, sehingga kamu juga bermain dengan suamiku?" tanya Nadia geram.

"Nadia sudah. Ayo kita keluar," ajak Askara menuntun Nadia.

Nadia Antika, wanita pekerja keras berusia 20 tahun. Setiap hari, bekerja pergi pagi pulang malam untuk menutup mulut ibu mertua yang sering menghina karena miskin dan yatim piatu. Saking sibuknya Nadia, sampai-sampai tidak tahu jika suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri. Perselingkuhan terungkap saat Nadia baru saja pulang dari kantor hingga larut malam.

Rasa lelahnya seharian bekerja, dibayar tunai dengan melihat suaminya bermesraan dengan adik iparnya sendiri. Rasa kecewa, hancur, marah, dan sakit hati melebur menjadi satu. Ternyata lelaki yang diperjuangkan selama ini menggoreskan luka yang amat dalam di lubuk hatinya.

"Yang tidak puas itu pelayananmu Mbak," ejek Silvi membuat Nadia kembali melayangkan tamparan untuk Silvi. Tidak hanya tamparan, tetapi Nadia juga menarik rambut Silvi dengan kuat.

Askara berusaha melepaskan tangan Nadia yang menjambak rambut Silvi. Semakin Silvi meringis kesakitan, semakin kuat Nadia menjambaknya. Askara sedikit kewalahan mencegah Nadia. Silvi merengek agar Nadia berhenti menyiksanya. Setelah Nadia puas membuat Silvi kesakitan. Barulah Nadia mendorong Silvi hingga jatuh.

"Kita bicarakan baik-baik." Askara menarik lengan Nadia untuk keluar dari kamar itu.

"Lepaskan!" Nadia berusaha melepaskan tangannya.

"Ini tidak seperti yang kamu lihat Nadia, aku hanya ...."

"Hanya mencumbui adik iparmu sendiri. Begitu, 'kan maksudnya! Dasar b*jing*n!" Nadia menampar Askara dengan keras.

"Dengarkan penjelasan aku dulu Nadia," pinta Askara dengan wajah melasnya.

"Semuanya sudah jelas, Mas. Aku tidak habis pikir jika kamu akan setega ini. Bahkan, kamu menancapkan belati dalam rumah tangga kita," ucap Nadia begitu kecewa.

Askara Brahma pria berusia 25 tahun. Askara menikahi Nadia Antika sejak dua tahun yang lalu. Kedatangan Silvi setengah tahun belakangan ini, mampu membuat Askara yang butuh perhatian dan pelayan dari seorang istri. Silvi mampu memenuhinya, hingga Askara jatuh hati pada Silvi.

Tidak hanya pelayanan Silvi saja. Namun, kemolekan tubuh Silvi mampu menggoda iman Askara untuk menggaulinya. Perselingkuhan mereka tidak diketahui oleh siapa pun selama ini. Perselingkuhan mereka benar-benar tertutup rapat.

"Ini semua bukan hanya salahku Mbak. Tetapi Mbak ikut andil dalam hal ini," ucap Silvi saat dia sudah keluar dari kamar.

"Diam kamu!" teriak Nadia, "harusnya kamu itu sadar diri Silvi, dia ini kakak ipar kamu." Nadia menunjuk ke arah Askara.

"Aku tahu itu Mbak, tapi aku nyaman saat bersama dengannya," jawab Silvi terang-terangan.

Tangan Nadia kembali mulai mengepal mendengar pernyataan Silvi. Saat tangan Nadia mulai terangkat dan akan menampar Silvi kembali. Askara segera mencegahnya.

Melihat perhatian Askara terhadap Silvi, membuat Nadia semakin sakit hati. Ternyata Silvi benar-benar membuat Askara berubah. Dulu saat Nadia sering dihina oleh Mayang, Askara selalu melindunginya dan kali ini Askara melakukan itu untuk Silvi.

"Lepaskan!" Nadia berontak.

"Aku akan lepaskan jika kamu berjanji tidak akan memukul Silvi lagi," ucap Askara menatap tajam Nadia.

"Hah! Apa kamu mencintainya, Mas?" Nadia membalas tatapan Askara dengan tajam.

"A-aku ...." Askara menoleh ke arah Silvi.

"Tanpa kamu jawab pun aku sudah tahu," tungkas Nadia beralih menatap Silvi.

"Hei! Kamu, apakah suamimu tahu kelakuanmu saat ini?" tanya Nadia diiringi senyum kecut. "Aku harap Alden juga akan segera tahu kelakuan istri liarnya itu." Nadia melangkah mendekati Silvi.

Tangan Nadia memegang tubuh Silvi dengan kuat hingga Silvi meringis kesakitan. Askara langsung menghampiri mereka berdua. Askara menarik tubuh Nadia agar menjauh dari tubuh Silvi.

Malam sudah semakin larut. Askara takut jika membuat Mayang dan Alden terbangun dan bisa menimbulkan masalah besar. Sekaligus Askara takut jika kandungan Silvi kenapa-napa.

"Stop, Nadia!" Askara menggenggam tangan Nadia dengan kuat.

"Kamu selalu saja melindunginya Mas, segitu besarnya cintamu terhadapnya," ucap Nadia kecewa.

"Silvi itu sedang hamil, Nadia. Kamu jangan terlalu kasar terhadapnya," ucap Askara masih menggenggam erat tangan Nadia.

"Hamil anakmu atau anak Alden? Mengapa kamu begitu perhatian terhadap Silvi?" Nadia menyudutkan Askara.

"A-anak Alden lah, masak anakku," jawab Askara terbata.

"Mas!" teriak Silvi seakan tidak mau jika anak yang dikandung itu anak Alden.

Askara mengedipkan sebelah mata agar Silvi tidak membuka rahasia mereka selama ini. Jika anak yang dikandungnya itu adalah anak Askara. Karena Silvi hamil setelah melakukan hubungan bersama Askara tiga bulan yang lalu. Silvi merasa kesal dengan Askara saat meminta dirinya agar tetap diam.

Mayang yang merasa haus keluar dari kamar menuju dapur. Mendengar suara berisik di ruang tamu membuatnya mengurungkan niatnya pergi ke dapur. Dengan mata yang masih mengantuk Mayang datang menghampiri mereka bertiga.

"Ada apa ini?" tanya Mayang sambil mengucek matanya.

"Tidak apa-apa kok, Bu. Hanya saja Nadia lelah seharian bekerja," jawab Askara berbohong.

"Ah Nadia lagi, Nadia lagi. Memang dasar orang miskin ya begitu, capek sedikit saja sudah mengeluh," hina Mayang dengan ketus.

"Kalian berdua itu jujur saja, toh itu lebih baik," ujar Nadia merasa kesal karena dikambinghitamkan.

"Apanya yang jujur Nadia? Kamu itu jadi wanita jangan sering mengeluh. Tuh lihat Silvi, dia setiap hari harus melayani ibu, Alden dan juga Askara saja tetap diam. Tidak berisik sepertimu," ucap Mayang dengan wajah mengejek Nadia dan tersenyum ke arah Silvi sebagai sanjungan.

Nadia sudah biasa mendengar Mayang memuji Silvi. Apalagi setelah mendengar Silvi hamil, Mayang semakin memojokkan Nadia karena tidak kunjung hamil. Bahkan kadang dibilang mandul oleh Mayang.

Namun, Nadia hanya diam dan tidak pernah menjawab. Karena Nadia yakin jika dirinya itu bisa hamil. Rencananya Nadia akan mengajak Askara program hamil satu bulan lagi, sayangnya Askara terlebih dulu mengkhianatinya.

"Ohh, pantas saja Mas Askara nyaman berduaan di kamar bersama Silvi," sindir Nadia menatap Askara dan Silvi bergantian.

"Sudah kuduga," ucap seseorang sambil bertepuk tangan dari balik pintu.

Bab 2

"Al-Alden," ucap Silvi terbata saat melihat suaminya kini berdiri di depan pintu kamar.

Dengan santainya Alden menghampiri mereka. Sejak awal Alden memang sudah curiga jika istrinya ada main dengan Askara. Terlihat gerak-gerik Silvi yang berbeda saat menatap Askara.

Malam itu dengan tidak sengaja, Alden baru saja pulang dari meeting dan melihat Silvi sedang merapikan bajunya keluar dari pintu kamar tamu. Sama persis seperti saat Nadia memergoki mereka malam ini. Hanya saja Alden tidak memiliki bukti untuk mengungkap perselingkuhan mereka berdua.

"Tidakkah kamu ingat malam kemarin Silvi." Alden menatap Silvi tajam.

"Malam kapan Sayang? Aku lupa," jawab Silvi berpura-pura lupa.

Padahal Silvi ingat betul kejadian malam itu, karena kejadian itu hanya berselang tiga malam dari malam ini. Namun, Silvi seolah tidak ingin jika Mayang tahu kelakuannya bersama dengan Askara. Sebab Silvi berharap jika Mayang akan terus membela dirinya.

"Alden, jangan menyudutkan istrimu sendiri. Jelas-jelas Nadia yang bersalah, dia itu hanya lelah bekerja dan suka mencari masalah," ketus Mayang menatap sebal Nadia.

"Benar Al, Nadia hanya lelah. Kamu tahu sendiri bukan, kalau kita ini saudara. Mana mungkin aku mengkhianati Adikku sendiri," ucap Askara masih membela Silvi.

"Iya benar apa kata Ibu dan Mas Askara kalau aku itu tidak mungkin mengkhianati kamu," ucap Silvi sambil tangannya menggelayut di tangan Alden.

"Lepaskan Silvi, jangan sampai aku berbuat kasar padamu," ancam Alden, lalu Silvi melepaskan tangannya.

"Jangan seperti itu Alden. Dia itu istri kamu," ujar Askara terus membela Silvi.

Dalam hati Silvi, dia sangat bahagia karena Askara dan Mayang benar-benar masuk dalam perangkapnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika Askara akan meninggalkannya. Sebab Askara lebih membela dirinya ketimbang Nadia.

Askara menarik tangan Nadia dengan kasar untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar. Namun, dengan tegas Nadia menolak. Nadia ingin Askara menjelaskan semuanya malam ini di depan semua orang.

"Apa yang harus dijelaskan Nadia?" ucap Askara, lalu berbisik pada Nadia. "Apa kamu mau membuat rumah tangga Alden hancur? Ha!"

"Kamu sendiri ingin rumah tangga kita hancur Mas, lalu buat apa kamu peduli dengan rumah tangga orang lain," jawab Nadia dengan keras.

Dalam pikiran Nadia, buat apa berbisik-bisik. Lebih baik bicara jelas agar Askara dan Silvi mengakui perselingkuhan mereka di depan Mayang dan Alden. Bahkan saat ini Alden pun sudah tidak percaya lagi dengan Silvi.

Alden menatap tajam ke arah Silvi. Pertanyaan Alden menyudutkan Silvi agar dia berbicara jujur. Silvi akhirnya membuka mulut dan mengakui semuanya.

"Memang benar Al, kalau aku bermain api dengan Kakakmu," jawab Silvi terang-terangan.

"Silvi." Askara tampak kecewa karena Silvi mengakuinya.

"Aku mencintaimu, Mas," jawab Silvi tanpa rasa malu sedikit pun.

"Tapi aku tidak mau kehilangan Nadia, Silvi," jawab Askara beralih menatap Nadia.

"Cinta itu tidak ada lagi setelah ada pengkhianatan," ketus Nadia tanpa peduli lagi apa itu cinta.

Bagi Nadia, cinta yang sudah ternoda tidak akan bisa kembali pulih seperti dulu lagi. Ibarat gelas pecah, meskipun direkatkan, bekas itu akan tetap ada. Jikapun memaafkan, belum tentu hati akan bisa menerima kembali.

"Sudah, sudah. Aku lebih setuju kalau Silvi bersama dengan Askara daripada bersama Nadia. Dia itu hanya wanita mandul dan aku yakin jika Nadia tidak bisa memberikan keturunan untuk Askara," ucap Mayang yang sama sekali tidak peduli dengan perasaan Nadia dan juga Alden.

"Hari ini aku talak kamu Silvi." Lantang Alden.

"Terima kasih Al, kamu telah menceraikan aku," jawab Silvi tersenyum penuh kemenangan. "Kita akan hidup bersama, Mas." Silvi memeluk Askara.

"Al, jangan ceraikan Silvi. Dia ini sedang hamil, Al." Askara menatap Alden penuh harap.

"Dia itu hamil anakmu Mas, lalu buat apa aku mempertahankan dia. Hanya menyusahkanku saja," jawab Alden tegas.

"Apa kamu tidak mau memperjuangkan aku, Mas?" Silvi mengiba pada Askara.

"Askara, lebih baik kamu ceraikan Nadia. Jelas-jelas Silvi yang lebih perhatian sama kamu ketimbang Nadia. Dia itu hanya wanita benalu dalam rumah ini," sinis Mayang melirik ke arah Nadia.

Mendengar hinaan dari Mayang. Nadia merasa sudah tidak tahan lagi, sudah cukup dia bertahan dalam hinaan selama dua tahun ini. Kini saatnya dia membebaskan diri dan merubah nasib hidupnya tanpa bergantung pada Askara.

Alden mendekati Nadia, menguatkan Nadia meski sebenarnya dirinya juga sama-sama rapuh saat ini. Akan tetapi, Nadia lebih sakit ketimbang dirinya. Di mana ibunya selalu saja melontarkan ucapan pedas pada Nadia.

"Mbak," ucap Alden sembari mengelus bahu Nadia.

"Tidak apa-apa Al, Mbak baik-baik saja," jawab Nadia meski kini air matanya mulai menganak sungai.

Sejak tadi mereka bertengkar, Nadia masih bisa menahan tangis. Namun, saat Mayang mengatakan jika Nadia hanya benalu dalam rumah itu. Hati Nadia terasa sakit. Sebab selama ini, Nadia berusaha mandiri dan tidak serta-merta semuanya meminta Askara.

Akan tetapi, bagi Mayang, Nadia hanyalah orang miskin yang numpang hidup di rumahnya. Walaupun Nadia banting tulang, tetap saja Nadia tidak ada harganya dimata Mayang. Sejak awal, Mayang memang tidak pernah setuju jika Askara menikahi Nadia. Namun, demi menjaga nama baiknya. Mayang menyetujui pernikahan mereka.

"Aduh, perutku sakit." Silvi berpura-pura meringis kesakitan demi mendapatkan perhatian dari Askara dan Mayang.

"Ya ampun, Silvi. Kamu kenapa Sayang," ucap Mayang langsung ikut memegang perut Silvi.

"Sakit Bu, perut Silvi tiba-tiba sakit," jawab Silvi dengan wajah melas.

"Askara bantu Silvi masuk ke dalam kamar," pinta Mayang dengan gusar.

"Mas, bantu aku. Sakit sekali, Mas," rengek Silvi sambil terus memegangi perutnya. Sebab Silvi tidak ingin kehilangan Askara.

Aksara menatap Nadia sebelum dia membawa Silvi masuk ke dalam kamar. Meski Askara bermain api dengan Silvi. Namun, dalam hati Askara masih sangat mencintai Nadia.

Nadia sama sekali tidak merasa iba dengan Silvi. Dia yakin jika Silvi hanya berpura-pura. Bahkan saat Askara menatapnya, Nadia malah memalingkan wajahnya.

"Mas buruan, sakit ini." Silvi meraih tangan Askara dengan cepat dan minta digendong.

"Askara!" bentak Mayang, sehingga Askara segera menggendong Silvi.

Dengan berat hati, Askara menggendong Silvi tepat di depan Nadia dan Alden. Nadia sama sekali tidak memperhatikan Askara. Alden pun enggak melihat kemesraan mereka berdua, dan lebih memilih memainkan ponselnya. Askara melangkah mendekati kamar Silvi dan Alden, lalu menurunkan tubuh Silvi.

"Kok kamu antar aku ke sini sih, Mas," ucap Silvi sedikit kesal.

"Lah, memangnya kamu mau tidur di mana?" tanya Askara yang tidak tahu keinginan Silvi saat ini.

"Aku mau tidur di kamar kamu, Mas," jawab Silvi lalu menatap Nadia yang masih berdiri di samping Alden.

"Iya, 'kan Mbak?" tanya Silvi tersenyum mengejek.

Bab 3

"Nggak. Itu kamar aku sama Mas Askara. Kalau kalian mau tidur berdua, kalian tidur di kamar tamu buat lanjutkan hal tadi yang belum selesai." Nadia mendekati Silvi lalu mendorong tubuh Silvi menjauh dari kamar.

Silvi berdecak kesal. Ternyata Nadia tidak mudah disingkirkan. Silvi berniat melakukan sesuatu untuk membuat Nadia membiarkan dirinya tidur di kamar itu bersama Askara.

"Aduh Mbak, sakit perutku," rengek Silvi meminta belas kasihan pada Nadia.

"Aku nggak peduli!" Nadia menutup pintu kamar dengan dibanting.

"Nadia buka!" teriak Mayang yang merasa geram dengan kelakuan Nadia.

Mayang terus menggedor pintu kamar Nadia, karena tidak kunjung dibuka. Mayang meminta Askara membuka pintu dengan paksa. Dengan berat hati Askara melakukan itu karena paksaan ibunya.

Alden masih berdiri di tempatnya dan masih belum beranjak sama sekali. Terus setia menyaksikan adegan istrinya yang kini sama sekali tidak lagi peduli dengan rumah tangganya. Alden hanya menggelengkan kepala melihat perubahan Silvi saat ini. Bahkan dulu Silvi sangat mencintainya, ternyata seiring berjalannya waktu, cinta itu hilang tidak tersisa.

"Sudahlah, kalian berdua tidur di kamar tamu saja." Alden melangkah mendekati mereka dan berlalu meninggalkan begitu saja setelah berucap. Bahkan Alden juga mengunci pintu kamarnya hingga terdengar suara pintu dibanting.

Mayang terus meminta Nadia membukakan pintu, tetapi Nadia di dalam kamar malah menutup mukanya dengan bantal. Meski berkali-kali Askara berusaha mendobrak pintu, tetap saja Nadia tidak bergerak dari tempat tidurnya. Bahkan Nadia juga menggunakan earphone dan mendengarkan musik.

****

"Jam segini baru bangun, mau jadi istri apa kamu!" ketus Mayang yang melihat Nadia baru saja membuka pintu kamarnya.

Nadia berjalan melenggang tanpa peduli ucapan Mayang. Bagi Nadia ini adalah hari terakhir dirinya di rumah itu. Bukan karena mengalah dengan Silvi, tetapi Nadia ingin hidup tenang tanpa ada yang menghina dirinya.

Askara berjalan cepat demi bisa menemui Nadia pagi itu. Namun, Silvi lebih gesit, membuat Askara menghentikan langkahnya. Askara sedikit kesal karena niatnya ingin meminta maaf pada Nadia terhalangi oleh kedatangan Silvi.

"Lepasin!" bentak Askara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Silvi.

"Pagi-pagi udah pacaran aja, malu 'lah sama ayam. Mereka saja sudah nyari makan," sindir Nadia saat dia selesai mencuci muka.

"Sayang, kamu hari ini libur 'kan? Kita weekend yuk," ajak Askara setelah tangannya terlepas dari genggaman Silvi.

"Kamu pikir aku sudi kalau jalan berdua sama kamu Mas? Tidak sama sekali. Aku meminta kamu ceraikan aku sekarang juga," ucap Nadia dengan yakin.

"Tidak Sayang, aku tidak mau kita cerai," jawab Askara dengan lemas.

"Kamu harus sadar Mas, Silvi hamil anak kamu. Jadi, kamu harus ikhlasin pernikahan kita," ujar Nadia sinis.

"Aku masih mencintai kamu, Sayang," ucap Askara tulus.

"Lupakan cinta itu, kita tetap bercerai," ucap Nadia berlalu meninggalkan Askara.

Askara terduduk lemas. Kini rumah tangga yang dia bina selama dua tahun berakhir karena kesalahannya sendiri. Nadia wanita yang dia perjuangkan untuk dijadikan istrinya dulu. Kini Nadia telah memilih jalannya sendiri.

Tepat pukul sembilan siang. Nadia keluar dari kamarnya menenteng koper berisi penuh dengan baju-baju miliknya. Berjalan melewati Askara, Silvi dan Mayang yang sedang asik menyaksikan televisi.

"Sayang, kamu mau ke mana?" Askara bangkit dari duduknya.

"Pergi," jawab Nadia, ketus. Tanpa peduli dengan Askara yang kini mendekatinya.

"Apa kamu sudah yakin meninggalkan aku, Nadia?" tanya Askara mencoba memegang tangan Nadia yang dengan cepat ditepis oleh Nadia.

"Sudah," jawab Nadia singkat dan sedikit menahan tangis. Meski bagaimanapun, cinta yang pernah ada tidak akan mudah hilang begitu saja.

"Tinggal beberapa hari di rumah ibu, Nadia. Sampai kita bercerai," pinta Askara penuh harap.

Nadia tidak peduli sama sekali dengan Askara yang kini menangisi kepergiannya. Saat Nadia akan membuka pintu, Askara berlari mengejarnya hingga hampir terjatuh. Silvi dengan cepat mengejar Askara agar berhenti mengejar Nadia dan membiarkan Nadia pergi dari rumah.

"Sudah Mas, biarkan dia pergi. Atau aku akan melukai bayi yang kukandung saat ini!" ancam Silvi sambil menangis.

Namun, Askara tidak mengindahkan ucapan Silvi. Dia terus saja mengejar Nadia. Bahkan Silvi kini juga ikut berlari mengejar Askara.

"Aww," pekik Silvi saat dirinya jatuh.

"Silvi!" teriak Askara yang kini dalam kebimbangan.

"Askara, kembali!" teriak Mayang saat Askara tidak segera menolong Silvi.

Askara berjalan menghampiri Silvi. "Kamu itu nggak becus Silvi," kesal Askara menatap sebal Silvi.

"Mas, aku mohon. Biarkan Mbak Nadia pergi, demi bayi kita, Mas," ucap Silvi lemas. "Jika kamu terus mengejar Mbak Nadia, aku akan bunuh diri saja," ancam Silvi yang akhirnya Askara membiarkan Nadia benar-benar pergi meninggalkannya.

Askara tetap memandang Nadia hingga kini tubuh tinggi semampai itu tidak terlihat lagi. Dengan banyak penyesalan, Askara menggendong Silvi masuk ke dalam rumah. Setelah menidurkan Silvi, Askara kembali termenung.

"Mas." Silvi memegang tangan Askara. "Lebih baik aku dan bayi ini mati saja." Silvi bangkit dari tidurnya dan akan mengambil pisau di dapur.

"Askara, Ibu menginginkan cucu. Apa kamu tega menghilangkan bayi yang tidak bersalah ini? Hm?" Mayang menyudutkan Askara..

"Silvi jangan. Aku minta maaf, tapi jangan lakukan itu," cegah Askara saat Silvi akan menyayatkan pisau di tangannya.

Silvi menghentikan aksinya dan memeluk Askara. "Ini anak kamu, Mas," lirih Silvi setelah melepaskan pelukannya yang dijawab anggukan oleh Askara.

***

Nadia kini tinggal di apartemen. Nadia memulai hidup tanpa Askara. Pagi itu, Nadia meminta izin pada Rangga untuk ke tempat pengadilan mengurus perceraiannya dengan Askara.

"Aku akan mengantarmu," ujar Rangga saat Nadia keluar dari pintu kantor.

"Apakah kamu yakin, Rangga?" tanya Nadia mengulas senyum.

"Tentu, aku akan menemani kamu mengurus surat perceraian itu." Rangga tersenyum ke arah Nadia dengan penuh kebahagiaan. Berharap setelah Nadia bercerai dari Askara, Rangga bisa mendapatkan hati Nadia.

Gugatan cerai dari Nadia diterima oleh pengadilan. Surat perceraian akan dikirim satu bulan setelah Nadia menggugat. Hari ini, surat itu datang dan diterima oleh Nadia.

"Kamu mau ke mana, Nadia?" tanya Rangga saat bertemu Nadia di parkiran dan akan naik taksi.

"Mengantar surat ini, Rangga," jawab Nadia yang kini sudah masuk ke dalam mobil. 

"Biar aku antar," tawar Rangga akan membuka pintu mobil taksi tersebut.

"Tidak perlu Rangga, aku sudah membayar taksi ini. Aku akan kembali dengan baik-baik saja," ucap Nadia yang melihat wajah kekhawatiran di wajah Rangga.

"Baiklah, berhati-hatilah," balas Rangga dengan terpaksa.

***

Nadia kini sudah berada di depan rumah Mayang. Askara mengulas senyum dan segera menghampiri wanita yang sangat dirindukan. Kebetulan di rumah itu Askara hanya di rumah sendiri.

"Ini surat perceraian kita." Nadia menyerahkan surat itu.

"Kita pergi sekarang," ajak Askara dengan menarik  lengan Nadia.

"Aku mengantarkan surat perceraian kita, Mas. Bukan …."

"Iya Nadia, aku tahu, tapi aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Aku mohon Nadia, sebentar saja." Askara merengek menatap melas ke arah Nadia.

"Baiklah," jawab Nadia dengan terpaksa.

Mereka kini naik mobil bersama meninggalkan rumah Askara. Meski ada rasa takut dalam hati Nadia. Dengan terpaksa Nadia mengikuti kemauan Askara saat ini.

"Loh Mas, kita mau ke mana?" tanya Nadia khawatir.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED