POV Purple
Tring.....
Dering ponselku berbunyi ini sudah ke 5 kalinya dalam setengah jam sebenarnya apa sih yang membuat lelaki itu sibuk menelepon ku
"Halo..!! Aku sedang siap-siap bisakah kau sabar sebentar...!" Ucapku dengan nada kesal,
"Cepatlah baby...aku merindukanmu." Ucapnya dengan nada nakal tanpa dosa
"Simpan omong kosong mu dan matikan panggilan ini biarkan aku bersiap Gery, atau aku cancel saja ,kau cari wanita lain saja." Jawabku.
Siapa Gery? Dia adalah pelanggan ku, dan apa yang aku jual?
Aku menjual tubuhku,
Gery adalah lelaki tampan berusia mungkin 25 atau 26 entahlah dia pernah mengatakannya padaku namun aku tidak terlalu mengingatnya.
Gery bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan bernama LzT,
Jika kalian bertanya sifatnya,
Dia playboy dengan sikap yang terkadang sulit aku pahami tetapi aku tau dia seorang lelaki ambisius dan penuh rahasia.
***
Aku melangkah menuju kamar hotel yang telan Gery pesan seperti biasa lelaki itu selalu memesan Presidential Suit dengan nomor yang sama seperti yang biasa kami gunakan untuk bersenang-senang.
"Kenapa lama sekali baby." Ucapnya yang ternyata sudah menungguku di lorong pintu
"Aku harus bersiap kau kan pelanggan VIP." Jawabku sambil mengecup bibirnya sesaat dan melewatinya begitu saja
Jujur Gery sangatlah mempesona wajah dan tubuhnya bisa dikatakan sempurna beruntung wanita yang akan menjadi istrinya, mungkin? Jika di lihat dari sikap mesum dan playboy lelaki ini maka akan menderita sekali jika menjadi istrinya.
"Apa yang kau pikirkan." Ucapnya tepat di telingaku. Sial! Dia sengaja memancing gairahku entah mengapa lelaki ini tau betul titik kelemahan ku mungkin karena dia sudah menjadi pelanggan ku selama hampir 3 tahun
"Tidak ada,apa kau sudah membersihkan diri?"
"Tentu..." Jawabnya sambil merengkuh erat pinggulku dengan tangan kekarnya
"Apa ada masalah wajahmu terlihat lelah." Aku mengelus pipinya dapat kulihat sedikit warna gelap di bawah matanya
Bukan hanya Gery yang memahami ku tapi seiring waktu aku pun tanpa sadar juga memahaminya beberapa detail tentang lelaki itu yang tanpa sadar aku ketahui .
Tidak ada jawaban lelaki itu hanya langsung melumat bibirku dengan perlahan lumatan itu semakin dalam dan menuntut membuatku hanya pasrah menerima segala yang ia lakukan
"Mengapa tidak ada yang mengerti aku seperti dirimu." Ucapnya sesaat setelah merebahkan tubuhku di kasur
Raut mata lelaki itu meredup seolah banyak hal telah terjadi.
"Ada apa? Apa seseorang menyulitkna mu," entah mengapa aku harus peduli dengan apa yang terjadi padanya terkadang aku pun tidak mengerti.
"Aku lelah, aku muak dengan semuanya." Jawab lelaki itu sambil merebahkan kepalanya dia atas dada ku,
Aku memeluk Gery dan mengusap rambut lelaki itu perlahan, aku cukup sadar siapa diriku aku hanya seorang jalang yang ia sewa tapi jujur aku selalu tidak tega melihat tatapan sendu lelaki ini.
"Aku ada di sini...aku akan membantumu melupakan semuanya, aku akan membuatmu lelah hingga kau tidak mempunyai tenaga memikirkan hal lain." Aku menarik wajah Gery mendekat dan membisikan kata-kata sensual pada lelaki itu dapat ku liat kini raut wajahnya menghangat tatapannya mulai berkabut sambil menatap tubuhku yang sudah setengah telanjang
"Kau selalu bisa membuatku tenang..itulah kenapa aku tidak bisa berpaling darimu." Ucap Gery sambil memberikan sentuhan-sentuhan mengairahkan pada setiap inci tubuhku, Gery selalu bisa membuatku merasa nyaman berbeda dengan yang lain yang memperlakukanku seperti alat, Gery selalu melakukannya dengan penuh gairah walau saat sudah lepas kendali lelaki itu bisa sangat ganas dan panas
"Ger...." Desahku saat beberapa kecupan basah terasa menghangatkan perut dan pinggulku
Lelaki itu membalikan posisi membuatku kini berada di atas miliknya yang sudah mengeras
" give me a kiss baby." Ucapnya yang membuatku langsung menyambar bibir seksi lelaki itu, aku menciumnya dalam sembari meraba dadanya yang bidang,
"Do it now," bisiknya dengan nada berat yang membuat sekujur tubuhku meremang, ku gigit pelan bibirnya sesaat sebelum aku melakukan apa yang ia inginkan
Tatapan Gery tajam yang berarti lelaki itu sudah berada pada gairah yang tinggi
" Now baby." Ucapnya
"Ohh...shit,kau yang terbaik Rachel." Aku tersenyum mendengar racauan kenikmatan lelaki itu, melihat wajah tampannya yang penuh peluh membuatku semakin semangat untuk segera membawanya ke dalam puncak kenikmatan.
POV off
***
Tring...
Dering ponsel Gery berbunyi membuat dua orang yang sedang tertidur lelap itu mulai menjerap
"Halo," ucap Gery dengan suara parau khas orang bangun tidur
"Halo pak, saya di beri tahu kalau Presdir akan datang hari ini."
"Hari ini? Bukannya dia akan datang lusa?"
"Saya juga tidak tau pak, beliau mengganti jadwal kedatangannya tiba-tiba,"
Gery meremas rambutnya si brengsek itu selalu saja melakukan sesuatu sesuka hatinya
"Baiklah aku akan ke sana dalam 1 jam." Jawab Gery sabelum mengakhiri panggilan nya
Tatapan Gery beralih pada kasur yang sudah kosong sayup terdengar suara gemericik shower dari kamar mandi, Gery melangkah perlahan menuju kamar mandi yang kemudian membuatnya kembali bergairah karena mendapati Rachel sedang mandi dengan tubuh polosnya yang menggoda
Rachel? Ya dibanding memanggilnya Purple Gery lebih senang memanggil wanita itu dengan nama aslinya yaitu Rachel
"Kenapa tidak mengunggu ku," tanya Gery yang langsung bergabung bersama Rachel
"Ku pikir kau masih menjawab telepon." Jawab Rachel
Gery melingkarkan tangannya di erut ramping Rachel terkadang tangan lelaki itu nakal menyentuh beberapa area sensitif wanita itu
" Bisa kah kau beri aku Morning seks.," Tanya Gery
"Kita sudah lakukan seks beberapa kali tadi malam apa kau belum puas..dasar pria mesum." Ucap Rachel yang tidak memperdulikan ucapan Gery dan hanya asik melanjutkan kegiatan mandinya
"Aku tidak pernah puas jika denganmu,ayolah baby." Ucap Gery memelas..
" Maaf Tuan Gery jam kerja saya sudah habis." Jawab Rachel acuh
Toh memang benar lelaki itu hanya menyewanya untuk satu malam
"Apa aku pernah meminta sesuatu dengan gratis." Cela Gery
"Beri aku itu baby, maka aku akan memberimu pagi yang indah dan bayaran yang setimpal."
Rachel terkejut saat Gery menarik rambutnya hingga membuat kepalanya mendongak, Gery melumat kasar bibir Rachel bahkan sesekali menggigit
"Ahh...Ger," desah Rachel saat merasakan tangan lelaki itu bergelayar di tubuhnya dan tanpa peringatan. Lelaki itu melakukan penyatuan merek
" Ah...Ger, aku belum siap." Pekik Rachel namun hanya diabaikan oleh Gery lelaki itu hanya fokus pada ritme pinggulnya tanpa memperdulikan rintihan Rachel
Ini lah Gery yang Rachel maksud, terkadang lelaki ini berubah dan kasar tanpa dia pernah mengerti penyebabnya apa
"Ah..." Desahku saat pelepasan kami berdua cukup melelahkan bagi Rachel melakukan seks dengan posisi seperti itu
Gery memeluk Rachel erat sebelum merubah posisi mereka dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya
Deru nafas mereka bersahut-sahutan akibat permainan panas yang barusan mereka lakukan
"Aku harus pergi...." Ucap Rachel yang berniat bangun namun tangan kekar Gery menahan tubuh wanita itu
Gery menyandarkan kepalanya di ceruk leher Rachel seolah itu mampu memenangkan pikirannya
"Tapi aku harus."
"Sebentar...sebentar saja kumohon aku butuh pelukanmu." Ucap Gery dengan nada sendu di sisi lain Rachel tidak mampu menolak permintaan Gery, Mengapa? Wanita itupun tidak mengerti
***
Selamat membaca, jangan lupa vote dan tinggalkan jejak ....
Purple melangkah masuk kedalam rumahnya wanita itu merebahkan tubuhnya di sofa sekedar beristirahat sejenak sebelum ia membersihkan dirinya
Beberapa minggu sudah berlalu semenjak terakhir kali dia bertemu Gery. Purple menghela nafasnya untuk apa juga ia harus perduli toh masih banyak pelanggan lain yang menyewanya
Walau...
Tidak ada yang bisa membuatnya senyaman saat bersama Gery lelaki itu benar-benar membuatnya merasakan hal aneh serta pelukan terakhir mereka waktu itu benar-benar membuat Purple kepikiran.
"Sial!! Untuk apa juga aku peduli, sadarlah hubungan ini hanya sebuah keuntungan belaka aku butuh uang dia butuh tubuhku." guman Purple pada dirinya sendiri. Hal itulah yang selalu ia lakukan saat perasaanya mulai keluar jalur sedangkan dalam pekerjaan nya ini tidak boleh ada perasaan lebih selain gairah dan nafsu jika tidak dia akan hancur.
"Aku lapar....ada baiknya aku makan di luar, aku juga lama tidak jalan-jalan." Ucap Purple yang kembali bangkit kemudian bergegas keluar rasa lapar dan jenuh sedang menganggu maka ini waktunya untuk makan ayam goreng dan beberapa kaleng bir.
Purple berjalan menyusuri area rumahnya sambil sesekali merasakan hembusan angin malam yang terasa lebih hangat dari biasanya
"Tidak!!! Lepaskan aku?" Jerit seorang gadis di jalan dengan penerangan minim. Awalanya Purple tidak perduli toh itu bukan urusannya juga sering ia dapati pasangan yang bertengkar di sana lalu kemudian berdamai pada akhirnya
"Kumohon jangan, tolong aku...biarkan aku pergi." Jerit gadis itu berganti tangisan putus asa membuat langkah kaki Purple terhenti
Perlahan purple memperhatikan apa yang terjadi ternyata ada beberapa bajingan yang sedang mencoba melecehkan seorang gadis kecil...
"Dasar brengsek miskin, apa tidak mampu menyewa jalang sampe harus melakukan hal menjijikan seperti ini." Guman Purple dengan nada kesal
"Hei....!!!" Teriak Purple dengan nada berani
Gadis dan beberapa lelaki itu menoleh kearahnya tatapan mata lelaki itu berkilat saat melihat Purple yang hanya menggunakan celana pendek dengan t-shirt crop, apa itu aneh? Tidak aneh hanya otak mesum para lelaki itu saja yang sudah akut
"Ada apa cantik? Ingin bergabung," ucap salah satu lelaki itu
Purple menyeringai siapa juga yang mau dengan lelaki seperti mereka
Hello..aku Purple tarif ku bahkan yang paling mahal di antara yang lain
"Tidak aku hanya ingin kalian lepaskan gadis itu." Ucapnya dengan wajah datar.
***
Tuk..tuk..tuk..
Suara ketukan jari lelaki yang kini tengah duduk di sebuah restoran mewah
"Maaf aku terlambat." Ucap seorang lelaki yang langsung mendudukan dirinya di hadapan Gery
"Selalu seperti itu," ucap Gery dengan raut kesal
"Maaf bro kau tau kan aku sedikit kesulitan beradaptasi di sini." Jawab lelaki itu
Gery melirik kearah Logan lelaki yang berpura-pura polos yang ceroboh sungguh membuat Gery muak.
"Kau harus terbiasa, kau tau betapa pentingnya posisi itu kan? Banyak yang menginginkan nya." Ucap Gery dengan raut datar sedangkan Logan hanya tersenyum kecil
"Tenang-tenang...kau tau kan aku tidaklah sebodoh itu." Jawab Logan seolah menganggap remeh semua yang Gery katakan
"Aku tau,maka dari itu aku disini...untuk mengawasimu." Ucap Gery dengan nada serius
"Kenapa kau harus mengawasia aku? Kau kan punya pekerjaan sendiri." Jawab Logan dengan nada yang membuat Gery kesal
"Apa kau merasa hebat? Karena kakek memilihmu sebagai penerus perusahaan?" Cetus Gery membuat tatapan mereka saling bertemu
"Kenapa kau merasa tidak suka dengan pilihan kakek?." Jawab Logan dengan nada dingin kini raut wajah lelaki itu serius
"Ya...pilihan kakek selalu melukaiku."
"Kau selalu menyalahkan kakek, padahal ketidak mampuanmu lah yang melukaimu." Gery meremas sendok ditangannya dengan kuat untuk menahan emosinya
"Apa kau tidak lelah hidup dengan topeng." Cetus Gery
"Maksudmu?" Tanya Logan menelaah apa yang sepupunya itu katakan
"Mengapa kau selaku berpura-pura polos dan lugu?" Tanya Gery
Logan tertawa mendengar apa yang Gery katakan lelaki itu menenggak anggur dan menatap Gery dengan tatapan yang sulit di jelaskan
"Aku melakukannya untuk bertahan hidup," jawab Logan.
Logan bangkit dari kursinya dan melempar senyum kearah Gery yang hanya menatapnya dingin
"Jadi kau mengundangku makan hanya untuk interogasi, kau membuat selera makanku hilang saja, baiklah aku pergi dulu sampai jumpa di kantor sepupu." Ucap Logan sesaat sebelum pergi meninggalkan Gery
Gery menatap kepergian Logan dengan penuh rasa kesal, Logan selalu menjadi duri dalam kehidupannya,
****
Purple melangkah santai sambil bersenandung dengan seorang gadis yang setia mengikutinya
"Sudah sampai, setelah ini akan ramai dan mereka juga tidak akan ada yang mengganggumu lagi." Ucap Purple pada gadis yang masih terlihat takut itu
"Itu...terima kasih kak, kau sudah mau menolongku." Ucap gadis itu
"Tidak perlu berterima kasih, lain kali jangan nekat melewati jalan yang gelap kau tidak tau apa yang ada di sana dan saat kau terjebak mungkin kau tidak akan bisa keluar lagi." Ucap Purple
"Baik...aku hanya sedang mencari ayahku ibuku sedang sakit tapi dia malah membawa pergi uang tabungan utuk berjudi." Ucap Gadis itu sambil menangis,
Purple merasa prihatin dan menepuk pundak gadis itu terkadang hidup memang kejam di saat gadis seusia ini harusnya fokus belajar dan bermain kehidupan malah membawanya ke tempat ini
"Aku harus bagaimana ibuku butuh obat..hikss,hikss dia selalu mengatakan sakit dan aku hanya menjadi orang yang tidak berguna." Rengek gadis itu
"Ini untuk berobat ibumu."ucap Purple sambil menyodorkan
Sejumlah uang kepada gadis itu,
Gadis itu menatap uang dan Purple bergantian
"Uang ini..."
"Ambilah kesehatan ibumu yang terpenting." Ucap Purple. Namun reaksi gadis itu membuat Purple heran dia terlihat takut dan melangkah menjauhi Purple
"Kenapa?" Tanya Purple heran
"Apa..apa kau akan menjualku?" Purple melongok sesaat sebelum akhirnya tertawa dan membuat gadis itu keheranan
"Kau...kau kan." Perkataan gadis itu terhenti saat ia merasa tidak mengatakan apa yang ingin ia katakan
"Kau pikir aku mucikari?" Ucap Purple sambil tertawa wanita itu mengacak pucuk kepala gadis itu
"Aku bukan, tapi aku mengenal seseorang yang seperti itu mau aku kenalkan?" Gurau Purple yang di tanggapi serius oleh gadis itu
"Tidak,aku tidak mau!!"
"Aku hanya bercanda, pergilah ibumu pasti menunggumu simpan uang jangan sampai ayahmu tau." Ucap Purple penuh ketulusan
"Apa kakak serius?" Tanya gadis itu
"Aku serius...dan ingat jangan pernah datang ke tempat seperti itu lagi, yang bisa melindungi masa depanmu hanyalah dirimu sendiri,mengerti."
Gadis itu mengangguk dan perlahan berjalan menjauh meninggalkan Purple
"Jika bukan mucikari lalu apa pekerjaan kakak?" Tanya anak itu dengan raut wajah penasaran
"Aku hanya seorang jalang." Ucap Purple dengan senyum tipis di bibirnya
Ya itulah dirinya...wanita yang terjebak dan tidak memiliki jalan kembali adalah dia sendiri
***
Gery tersenyum saat wanita berambut ombre itu sudah datang dan duduk di depannya,
"Ada apa?." Tanya Purple ketus membuat Gery mengerutkan keningnya
"Tidak biasanya kau bertanya seperti itu kalau kita bertemu." Jawab Gery heran
Purple berdeham menutupi salah tingkahnya buat apa juga dia kesal karena Gery baru menghubungi nya sekarang
"Sadarlah Purple berhenti mempermalukan dirimu sendiri." Batin wanita
"Oke lupakan, apa yang membuatmu meminta bertemu denganku terlebih di restoran bukannya di hotel." Tanya Purple
"Aku hanya ingin bertemu saja, apa tidak boleh?."
Kali ini Purple yang menyeringit dengan tingkah laku Gery
"Kenapa menatapku seperti itu?." Ucap Gery
"Tidak aku hanya rasa kau bertingkah aneh,"
"Aneh? Apanya yang aneh?" Tanya Gery
"Selama ini kau tidak pernah mengajak bertemu selain di hotel, wajar bukan aku merasa heran." Jawab Purple
"Rachel..." Panggil Gery dengan raut wajah serius kedua tangan lelaki itu terulur dan menggenggam lembut tangan Purple,
"Apa?." Tanya Purple dengan wajah bingung, Purple mencoba menarik tangannya namun lelaki itu mengeratkan genggamannya
"Ada apa denganmu?." Purple merasa tidak nyaman dengan sikap Gery bukan dia tidak suka hanya saja dia takut terbawa perasaan dan berakhir jatuh hati pada lelaki ini.
"Aku membutuhkanmu.." ucap Gery dengan wajah putus asa, di saat bersamaan jantung Purple berdebar kencang
Apa maksudnya? Apa dia merindukanku? Atau menyukaiku?
Kilat mata Purple berubah terbesit harapan besar akan perasan Gery untuknya
"Apa? Kau membutuhkanku, katakan dengan jelas." Pinta Purple
"Aku membutuhkanmu, aku tidak memiliki siapapun yang bisa aku percayai hanya kau. Maka itu kumohon Rachel.." Gery menatap wajah Purple dalam sedangkan wanita itu tanpa sadar semaki larut alam perasaan dan harapan nya
"Jadilah orangku." Ucap Gery
"Orang mu?"
"Jadilah senjataku, maka aku akan membayar mu dengan sangat mahal." Lanjut Gery
Sedangkan saat itu juga pikiran Purple terhenti seakan tidak ingin memahami apapun yang lelaki itu katakan
"Rachel...apa kau mendengarkan aku." Seru lelaki itu saat melihat tatapan kosong wanita yanga ada di depannya itu
"Katakan apa yang kau inginkan agar kau mau membantuku." Tidak ada jawaban apapun wanita itu hanya diam mematung seolah rohnya entah pergi kemana
"Rachel... Rachel.... Purple." Panghilan Gery akhirny menyadarkan Purple dari segala pikirannya
"Ya aku Purple.." guman Wanita itu tanpa semangat
Sebenarnya apa yang ia harapkan dari hubungannya dan Gery, dia hanya wanita hina dari tempat kotor apa yang membuatnya begitu percaya diri bahwa lelaki ini menyukainya
Bagi wanita sepertinya tidak ada kepercayaan bahwa ada yang akan menyukainya dengan tulus, semu hanya menginginkan tubuhnya.
"Ada apa denganmu,kau sakit." Ucap Gery khawatir. Tangan lelaki itu terulur hendak memeriksa kening Purple namun dengan cepat wanita itu mengelak
Tidak lagi,dia tidak ingin menyakiti dirinya dengan harapan palsu sekali lagi, semu yang lelaki itu lakukan tidaklah tulus itu semua hanya kepalsuan itulah yang coba Purple tanamkan di pikirannya saat ini
"Aku baik-baik saja." Jawab wanita itu
"Bagaiman apa kau menerima permintaanku, aku akan bayar berapapun agar kau mau membantuku." Ucap Gery
Purple menatap dalam manik lelaki itu,sebelum akhirnya mengulas senyum manisnya
"Tentu saja, tapi bisakah katakan lebih jelas apa yang sebenarnya kau rencanakan.?." Jawab Purple. "Aku harus tau lebih dulu apa yang akan kau lakukan agar aku bisa menaruh tarif ku." Lanjut wanita itu.
"Aku ingin kau menaklukan seorang lelaki dan buat dia jatuh cinta padamu." Ucap Gery
"Hanya itu?."
Gery menyeringai seolah memberi jawaban lain atas pertanyaan yang Purple berikan.
"Tentu tidak sesederhana itu."
***
Purple melangkah masuk kesebuah restoran mewah yang sudah Gery siapkan untuknya. Purple melangkah anggun membuat beberapa pelanggan disana menatap takjub kearahnya
"Siang Nona," sapa salah satu pelayan restoran
"Aku ada janji di meja 6 atas nama Logan." Ucap Purple tanpa melepas senyum anggunnya tidak ada lagi rambut ombre ungu dan abu-abu kini wanita itu berubah 180°
Riasan elegan, pakaian yang anggun serta rambut berwarna coklat yang tanpa terpikirkan sangat cocok untuknya
"Baik, silahkan ikut saya Nona."
Purple berjalan sambil sesekali mengamati interior restoran itu. Gila! Ini sangat mewah bahkan meja yang dipesan untuknya ternyata adalah sebuah ruangan khusus
Purple duduk dengan anggun sambil sesekali tersenyum kecil ia penasaran seperti apa Seorang Presdir dari sebuah perusahaan sebesar LzT. Jika Gery yang hanya seorang direktur saja bisa sekaya itu apa lagi seorang Presdir kini pikiran Purple beralih pada sosok Logan jika dia masih kerabat Gery maka pastilah dia sangat Tampan mengingat Gery saja sudah seperti dewa Yunani dengan wajah tampan dan tubuh atletis.
Sial!!
Bisa-bisanya dia membayangkan tubuh polos Gery di saat seperti ini.
Purple mengipas wajahnya yang memanas akibat pikiran kotornya
Sendiri dan tanpa dia sadari seorang lelaki sedang melangkah masuk dan duduk di depannya...
"Nona..Rachel?" Ucap lelaki itu penuh keraguan
Sedangkan Purple hanya menatap bingung kearah lelaki yang sedang duduk di depannya itu
"Anda?"
"Itu....saya,.."
"Apa anda salah satu bawahan Tuan Logan?" Ucap Purple pada lelaki berhodie hitam dengan kacamata itu
"Apa?"
"Apa Tuan Logan sibuk," ucap Purple
"ah sayang sekali kupikir aku bisa menemui nya." Sambung Purple dengan nada kecewa
"Maaf Nona Rachel, tapi saya adalah Logan," ucap lelaki itu sambil menyodorkan tangannya
Sedangkan Purple menatap lelaki itu dengan tatapan tidak menyangka
Holy shit!!
Dia Logan? Dia? Lelaki yang sedang duduk di depanku ini?
"Senang bertemu denganmu Nona Rachel." Ucap Logan
Purple tersenyum kecil tidak ada salah satupun dari ekspetasi nya yang ada pada Logan bagaimana bisa Gery dan lelaki di depannya ini bersaudara
"Maaf, saya pikir anda bukan Tuan Logan." Ucap Purple dengan canggung
"Oh iya saya belum memperkenalkan diri saya secara formal, Saya Rachel Aghata senang bisa bekerja. Mulai hari ini saya akan bekerja sebagai asisten pribadi anda." Ucap Purple sambil sedikit membungkuk dan sengaja memperlihatkan belahan dadanya pada Logan.
" Nona Rachel..." Panggil Logan
"Ya Tuan."
" Itu .... kancing bajumu terlepas." Ucap Logan sesaat sebelum ia pergi meninggalkan Purple yang hanya melongo melihat sikap cuek dan datar Logan seolah lelaki itu tidak tertarik pada belahan dada Rachel
"Apa...apa,Dia Homo?" Guman wanita itu
Rachel berjalan membuntuti Logan dari belakang sambil menilai lelaki itu dari atas sampai bawah
"Tubuhnya tinggi,kakinya panjang dan bahunya juga lebar,kulitnya kecoklatan tapi seksi...sayang wajahnya tidak terawat apa dia jarang mandi?" Batin Rachel
"Nona Rachel,"
Duk...
"Aww..."pekik Rachel saat menabrak dada bidang Logan yang tiba-tiba berhenti dan berbalik kearahnya hanya sesaat sebelum Rachel malah kagum dengan beberapa otot keras lelaki itu no
"Wah,dadanya keras berotot,apa dia sering fitness,aku penasaran apa perutnya juga keras? Ah aku raba saja mumpung dalam posisi seperti ini." Pikiran kotor wanita itu kembali bersarang.
"Maaf Nona Rachel, tapi mau berapa lama kau bersandar di sana?" dengan cepat Rachel membenarkan posisinya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa
"Maaf Tuan, silahkan lanjutkan apa yang ingin anda katakan."
"Apa kau berpengalaman?"
"Pengalaman?"
Rachel terlihat sedikit berpikir jika di pikir-pikir dia sangatlah berpengalaman dalam "pekerjaanya"
"Saya sangat berpengalaman." Jawab wanita itu dengan penuh keyakinan
(Sudah hampir 5 tahun aku menjadi PSK tentu saja aku sangat berpengalaman)
***