Bab 1

Hujan turun membawa air dari langit. Tidak bagiku, hujan juga membawa kenangan. Sebongkah kenangan yang entah mengapa seketika membuat dadaku menjadi sesak. Sekarang, hatiku tak lagi memiliki ruang untuk mencintai hujan seperti dulu.

***

Rumah

05.55

Ini adalah kisahku, namaku Adina Candra Elsa. Orang-orang lebih sering memanggilku, Adina. Aku adalah anak yang lahir dari orang tua sederhana. Ibuku hanyalah karyawan biasa di salah satu perusahaan kecil di kotaku. Ayahku entahlah, sejak kecil aku telah ditinggalkan olehnya. Tepatnya saat usiaku menginjak 5 tahun.

"Adina, cuci piringnya sebelum berangkat." Omelan Yani bundaku, yang setiap harinya nyaris tanpa pernah libur. Persis setelah selesai sarapan aku disuruhnya membersihkan piring.

"Iya Bunda, udah aku berisihin tuh. Noh liat sendiri." Puas rasanya aku membalas omelannya itu.

"Iya-iya, makasih yaa Cantik," Ujar Bunda yang saat itu berada di dalam kamarnya.

"Ayo berangkat Bunda..."

Ajakanku itu membuatnya sedikit terburu-buru. Setiap harinya memang kita berangkat berdua, dengan roda dua bermesin negeri sakura keluaran tahun 2015. Tidak terlalu tua untuk motor matic yang memang sengaja Bunda beli saat aku merayakan ulang tahun. Untukku itu katanya.

"Sana buruan masuk, nanti keburu telat loh." Wanita cantik separuh baya dengan ekspresi manyun itu selalu aku lihat saat Bunda sedikit kesal.

"Iya Bunda, aku masuk kelas dulu."

Aku mencium tangan bundaku, setiap kali aku mau pergi. Aku mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri. Bagiku dialah penawar di saat semua masalah tiba-tiba memelukku secara kasar.

***

Sekolah

09.00

"Aku bakal lebih giat belajar, seperti tahun lalu. Beasiswa berprestasi bakal aku dapetin lagi. Buat Bunda" gumamku.

Tiba-tiba cowok tengil itu mengagetkanku dari belakang kursi, tepat di belakang bangku yang aku duduki.

"Eh, ngapain belajar terus? Dah pintar masih belajar terus?" katanya.

Namanya Devano Samuel Escapra, anak 11 IPA 1 (kelas 2 SMA). Teman sekelasku, cowok tampan, badboy, anggota geng motor, dan anak tunggal pemilik perusahaan Emas, Escapra Gold Company. Sayangnya, dia adalah siswa terajin yang selalu hadir di ruang Bimbingan Konseling. Bukan karena prestasi, tapi karena masalah yang sering dibuatnya.

"Iish,..apaan? Biarin kek. Suka-suka akulah." Aku berbicara dengan nada sedikit membentaknya.

"Ihh..cupu kamu."

"Biarin..."

Aku pergi meninggalkannya sendiri di kelas, dengan wajah kesal menuju ruangan outdor dengan banyak pepohonan dan bunga di sekelilingnya. Lima warung modern dan beberapa meja dan kursi yang terbuat dari kayu jati yang di atasnya tidak memiliki payung. Estetik dan romantis menurutku. Aku bisa melihat awan di sini, tanpa pembatas.

Anak-anak dari sini selalu meramaikan tempat ter-hits di sekolah. Waktu itu masih jam istirahat. Siswa SMA Zidduya kebanyakan memilih untuk menikmati beberapa menu spesial di kantin ini. Salah satunya aku, nasi goreng bebek mbak Lastri.

"Biasa ya Mbak," ucapku pada Mbak Lastri.

"Nasi goreng bebek sama es jeruk ya Din?"

"Iya Mbak," sembari aku menganggukan kepala.

***

Sekolah

12.30

SMA Zidduya adalah sekolah menengah atas dengan segudang fasilitas kelas mewah yang ada di kotaku, Malang. Salah satu fasilitas yang aku sukai dan sering aku datangi adalah Balairoom Teater.

Ruang jumbo berukuran dua kali seluas lapangan basket, dengan dinding bercorak cokelat muda dan beberapa ornamen lampu klasik. Di dalamnya terdapat kursi besi cantik yang dapat diduduki lebih dari 1500 orang. Tidak tepat jika disebut ruangan, namun begitulah namanya. Balairoom Teater yang memiliki panggung utama yang cukup luas.

Aku menyukainya, seni teater dan ruangan ini. Apalagi di bawah hujan yang turun, aku paling menyukainya. Suasana kali ini sangat membuatku terdiam, hening dan menenangkan.

Hujan adalah canduku. Bagiku dialah penenang di saat aku terdesak. Saat dunia seperti tidak lagi bersamaku untuk mengajaku berbahagia. Aku mencintai hujan, seperti mencintai diriku sendiri. Terimakasih Tuhan, Sang Pemilik Hujan. Aku mencintai salah satu milik-Mu bernama hujan.

"Ngapain lama-lama di sini?" Cowok tampan dengan rambut pendek, kulit putih, tinggi dan populer di sekolah, bernama Devano itu.

"Terserah gua, mau ngapain!" Nadaku kesal karena sering diganggu sama dia. Entahlah, untuk apa dia begitu suka menggangguku.

"Kamu suka sama pentas drama?." Tanyanya dengan wajah penasaran.

"Iya suka, kenapa?"

"Gak papa, nanya doang."

"Kenapa basah-basah gitu?"

"Tadi kehujanan dikit."

Rintihan hujan yang mengalun indah di atas atap rumah. Ditemani secangkir cokelat panas dan tentunya mie rebus dengan telur di dalamnya. Membuat seketika mulut ini tak bisa menolak, hanya untuk menikmati apa yang tersaji. Begitulah caraku menikmati hujan secara sederhana.

***

Rumah

09.12

Ruang tamu dengan interior bernuansa retro, dindingnya cokelat muda, ada plafon putih di atapnya dan lantainya terbuat dari ubin kuning tua khas tempo dulu. Aku duduk dengan Bunda di kursi kayu jati, di depanku terdapat cokelat dan mie rebus dengan telur buatan Bunda tercinta, chef andalan di rumah ini.

Rumah kecil ini adalah peninggalan Kakek Buyut dari Bunda. Rumah yang telah menemaniku sejak aku dilahirkan dan sekaligus saksi bisu perjuangan Bunda membesarkanku sendirian, tanpa Suami. Maklumlah sejak kepergian Ayah setalah usiaku 5 tahun. Ayah tak pernah datang mengunjungi kami. Entahlah, kini dia seolah telah menghilang untuk selamanya.

Ayah padahal aku benar-benar merindukanmu. Kunjungi kami, temui aku meski cuman sekejap. Kata Bunda, Ayah mengadu nasib di Jakarta. Ayah berusaha mencari peruntungan untuk masa depanku di sana. Berhari-hari, berminggu-minggu hingga bertahun-tahun sampai aku menjadi remaja di SMA. Ayah tak pernah kembali, seperti hilang di telan bumi. Aku selalu mengela nafas tak kala mengingat hal ini.

Tiba-tiba Bunda mengagetkan lamunanku.

"Gimana Din, enak nggak?"

"Buatan Bunda selalu enak, Adina suka Bunda."  Aku terlalu lahap dengan apa yang selalu dibuatkannya untukku, meski terlihat sangat sederhana.

"Belajar masak Din..!!" pintanya kepadaku.

"Buat apa Bunda?"

"Kan kamu udah kelas 2 SMA, nanti kuliah. Habis kuliah kan nikah. Masak gak bisa masak."

"Bunda apaan sih? Adina masih belum kepikiran nikah!"

"Iya kan belajarnya dari sekarang Din." Seloroh Bunda yang sedikit kesal karena aku sulit dinasehati tentang hal ini.

"Iya-iya, besok-besok ya Bunda," jawabku sambil membersihkan bekas piring dan gelas yang habis kami gunakan.

"Udah bersih semua ya Bunda."

"Makasih ya Cantik."

***

Sekolah

06.37

"Eh Din, bawa dasi lagi nggak?" tanya Devano kepadaku di kelas. Pastinya dia lupa tak membawa dasinya lagi.

"Lu, gak bawa lagi ya?

"Lupa Din."

"Ah kebiasan sih lu, apa sih yang kamu inget?. Nih ada tapi di kembaliin ya!" Aku sedikit kesal karena dasi yang ku pinjamkan minggu lalu katanya telah hilang.

"Iya-iya gampang."

Saat hari senin sekolah kami SMA Zidduya pasti akan melakukan upacara di lapangan. Selama upacara berlangsung sekitar 60 menit. Anak-anak Zidduya harus mengenakan atribut lengkap dan sesuai aturan.

Para guru akan mengecek secara detail, termasuk dasi. Bila peraturan ini dilanggar maka siswa akan mendapat hukuman.

Teringat saat pertama kali bertemu, waktu semester satu di kelas 11 IPA 1 (2 SMA). Aku mendapati Devano sebagai siswa pindahan dari Jakarta. Beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya tujuh bulan yang lalu. Dia tinggal di Malang bersama sopir dan pembantunya di rumahnya, kota Malang. Sedangkan ayah dan bundanya tinggal di rumah utama, kota Jakarta. Di sanalah Escapra Gold Company salah satu cabang perusahaan ayahnya berada.

Aku banyak mengetahui jika ayahnya jarang sekali mengunjunginya, karena kesibukan ayahnya sebagai pengusaha dengan grade international. Aku sebagai sesama anak tunggal sangat memahami kesedihan yang dialami cowok tampan itu. Terlebih, dia hidup sendiri tanpa bundanya di rumah.

Itulah kenapa kita sangat akrab, dan mungkin karena itulah aku mulai mencintainya. Rasa itu ada namun entah sejak kapan.

Bersambung….

Bab 2

***

Rumah

14.30

Sepulangnya dari sekolah. Bunda sedang asik menonton teve. Kantor Bunda bekerja mengadakan acara jadilah Bunda harus pulang lebih awal dari biasanya. Aku diantar oleh tukang ojek online langgananku. Kata Bunda, setelah kemarin kerja lembur hingga larut malam Bunda ingin istirahat sejenak. Kasihan sekali Bunda kelelahan.

"SELAMAT UNTUK ESCAPRA GOLD COMPANY"

Kalimat yang ada di layar teve yang ditonton oleh Bunda. Tayangan berita, terutama sesi wawancara mengenai pencapaian salah satu perusahaan yang berbasis di Sungapura itu. Menurut salah satu pakar bisnis, perusahaan yang dulunya dirintis dari nol di Jakarta itu sekarang telah berbasis di Singapura dan semakin mendunia.

Atas pembukaan baru tambang emas di Afrika. Kini, perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Escapra ini telah berubah menjadi perusahaan global kelas dunia dengan valuasi terbesar nomor satu di kelasnya. Diperkirakan perusahaan ini telah menjadi perusahaan dengan nilai milyaran dollar.

Harga saham Escapra telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah menjadi 150 USD per lembar saham. Padahal harga saham IHSG dunia sedang menurun, Escapra tetap eksis berada di puncaknya.

Aku sedikit banyak mendengar berita tentang perusahaan ayah Devan di teve. Kebetulan saat aku berjalan menuju dapur mencari minum di kulkas.

"Devan pasti suatu hari nanti akan menjadi CEO sekaligus Komisaris Utama, pewaris tunggal Escapra Gold Company. Ah, bagaimana ini?? Apa Devano mau sama aku? Apa keluarganya ngebolehin aku sama Devano? Aku cuman anak dari keluarga sederhana. Lebih-lebih, ayahku tak jelas kemana," gumamku sendiri.

"Din, ganti baju dulu baru minum."

"Bentar Bunda, nanggung. Sudah minum nih."

"Makan sekalian bareng Bunda ya?"

"Iya Bunda, aku ganti dulu"

Aku berjalan menuju kamar, namun tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku melihatnya sebentar, ternyata chat masuk dari Devano. Entah darima anak ini mendapatkan nomerku. Namun aku senang, sekaligus bingung.

"Din, aku mau ke rumahmu." Chat masuk dari Devano.

"Lah ngapain?" balasku, send Devano.

"Kan ada tugas kelompok tadi. Aku sama Ghandi dan Icha, sekalian ngembaliin dasi milikmu," jawabnya di chat sembari memberi emoticon kesel.

Ah, aku saja ternyata yang ke-ger-an ketika dia mau ke rumah. Padahal niatnya hanya untuk mengerjakan tugas kelompok bersama, tidak lebih. Sampai kapan aku harus berharap dengan cowok seperti Devano. Dia yang tampan, kaya, dan populer. Sedangkan aku hanyalah, cewek biasa, sederhana dan tidak populer.

Mirip hujan. Aku mencintainya namun aku juga takut saat berada bersamanya. Wajahnya menenangkan. Namanya itu seakan mememiliki kilatan petir tersendiri di relung terdalam pada jiwaku. Pikiranku menghening sejenak. Pun dengan perasaan ini, ikut luruh dalam satuan volume air yang turun. Persis seperti pada kalimat pertama.

***

Rumah

15.33

"Tok....tok..tok..."

Suara daun pintu yang diketuk-ketuk oleh seseorang dari luar rumah, terdengar dari ruang tamu. Aku mencoba sengaja menghiraukannya. Perasaan malu tiba-tiba mengunjungiku. Selalu seperti itu saat Devano ke rumah Bunda.

"Itu bukan Din, ada orang yang ngetuk pintu tuh." Perintah Bunda dari dapur kecil di rumah ini.

"Bunda aja ya, aku mau ke kamar dulu ambil buku."

Aku yang dari tadi bingung campur malu, setelah mendapat chat dari Devano. Kebingungan aku alami karena cowok tampan itu akan datang ke rumahku. Meski bersama Ghandi dan Icha. Kakiku memilih kabur sejenak ke kamar dan meninggalkan ruang tamu.

"Eh kalian...., temannya Adina. Ternyata ada Devano juga"

"Iya Bunda."

Devano menimpali sembari matanya tertuju pada semua detail ruangan rumah ini. Dia mencoba mencari diriku, namun aku belum terlihat oleh kedua bola matanya.

"Adina ada nggak bun?" tanya Icha pada Bunda.

"Ada di kamar. Ayo masuk dulu. Duduk di sini."

Sembari menunjuk ruang tamu yang juga sekaligus ruang keluarga di rumah ini. Devano, Ghandi dan Icha langsung duduk di kursi yang terletak di sana.

"Bunda, buatkan minum sama cemilan dulu ya"

"Aku bantuin Bunda," sahut Icha yang langsung menuju ruang dapur di sana.

"Boleh, sini Icha cantik."

Bunda terlihat senang karena sering sekali Icha membantunya saat berkunjung ke rumah. Berbeda denganku yang harus membantu Bunda memasak karena dipaksa Bunda.

Rumah yang meski terlihat kecil ini, tetaplah membuatnya merasa kesepian karena kepergian suami tercinta yang tidak jelas, ayahku. Kini, saat teman-temanku datang. Rumah ini menjadi terasa ramai baginya.

Wanita separuh baya, cantik dan putih alami ini tidak pernah mau bila harus dipanggil dengan sebutan tante oleh teman-temanku. Terlebih, mereka sudah akrab dan sering berkunjung ke rumah ini kecuali hanya Devano yang bisa dihitung menggunakan jari. Hanya sempat beberapa kali.

"Sini Din, bantuin Bunda." Panggilnya yang melihatku berjalan dari depan kamar.

"Iya Bunda."

Seolah aku ingin terlihat sebagai gadis manis pada Bunda saat di depan Devano. Entahlah batinku terasa bergejolak saat melihatnya. Bahkan saat mendengar namanya disebutkan.

Aku begitu mencintainya, setiap detail dari dirinya. Parasnya yang tampan, kulitnya yang putih, hidungnya yang mancung, dan badanya yang tinggi. Tapi dari semua itu, aku mencintai caranya menatapku.

Beberapa saat setelah kita bertiga memasak. Lebih tepatnya Bunda dan Icha yang memasak. Aku hanya sebatas membantu. Pisang goreng manis yang terbuat dari pisang raja yang sering kali bunda beli di pasar Malang. Aku selalu menyukai masakan Bunda. Apalagi ditambah minuman favoritku, cokelat panas.

"Ini pada di makan pisang gorengnya. Ada cokekat panas di minum. Nanti kalau kurang bilang, masih ada tuh di dapur." Perhatian Bunda kepada kami semua. Bunda memang chef yang terbaik, di rumahku.

"Eh Din, aku kemaren di suruh apa sih?" Icha nampak kebingungan dengan tugas kelompok kami.

"Kalian pada paham tugasnya?"

Aku menanyai Devano dan Ghandi. Meski mataku dari tadi hanya fokus pada Devan saja.

"Engg...ggak." Mereka menggeleng secara kompak.

"Gini loh, kalian pada gak didiengerin sih kalau Bu Asih jelasin. Kan kita disuruh buat bikin cerita nanti di skenariokan di kelas. Mirip pementasan drama gitu. Temanya tentang cinta dalam kehidupan."

"Lah itu kesukaan lu, Din," celetuk Devano padaku.

Aku terdiam. Seketika Ghandi dan Icha juga memandangi wajah tampan yang keceplosan itu. Rupanya Dia mengingat kesukaanku yang hampir setiap hari menonton latihan ekskul drama. Aku ingin ikut ekskul itu, namun beberapa kali aku masih belum lolos juga dalam seleksi penerimaan anggota.

"Iya aku suka drama," ucapku.

"Besok-besok ikut ekskul drama yuk Din?"

Ajakan Icha kepadaku, rupanya dia juga tertarik dengan drama.

"Oke Cha, besok kita daftar."

"Aku juga mau daftar." Tiba-tiba Devan juga mau ikut.

"Wah, aku juga-lah,” seru Ghandi yang tak mau kalah.

Aku tahu bahwa Ghandi diam-diam suka dengan Icha, begitupun Icha yang diam-diam juga menyukainya.

"Oke kita mau bikin drama apa? ujar Ghandi kepada kami.

"Romeo dan Juliet," celetuk Devano.

Bersambung…

Bab 3

***

Biasanya hujan meneteskan air kepada tanaman dan segala makluk di bumi. Dari sanalah kehidupan di bumi dapat tumbuh dan berkembang. Namun, sejak saat itu hujan malah meneteskan air rindu kepada rasaku ini. Juga dari sanalah cinta di jiwaku berkembang.

"Juliet, aku tak akan rela bila dirimu dimiliki oleh laki-laki seperti Paris. Menikahlah denganku. Aku mencintaimu sejak kita bertemu pertama kali di pesta." Romeo dengan tubuh yang berlutut di hadapan Juliet.

"Bukan begitu Remeo, aku juga mencintaimu tapi..." jawaban Juliet kepadanya.

Belum selesai Julet menyelesaikan jawabannya. Romeo berdiri lalu menatap tajam mata Juliet dan mencium pipinya sebelah kanan lalu memeluk tubuh Juliet. Seketika rona wajah Juliet memerah seperti bunga mawar yang baru mekar.

"Bagaimana dengan Rosaline?" tanya Juliet setelah dia dipeluk oleh tubuh tinggi dan bidang seorang remaja bernama Romeo.

"Aku akan meninggalkannya untukmu, Juliet. Aku tidak pernah mencintainya. Aku dipaksa oleh keluargaku umtuk menikahi wanita itu suatu hari nanti." Penjelasan Romeo. Sebenarnya Juliet juga dipaksa akan menikah oleh keluarganya.

"Aku juga dipaksa Romeo, aku tak cinta Paris," kata Juliet dengan raut kesedihan.

"Mari kita kabur untuk menikah denganku Juliet. Kita bisa hidup bahagia" Romeo mengenggam erat tangan Juliet.

"Aku mau Romeo. Bagaimana aku bisa menolakmu. Aku juga mencintaimu." Seketika mata Juliet berbinar-binar lalu mengangguk mengiyakan permintaan Romeo. Juliet juga mencintai Romeo.

Mereka berdua bergandengan tangan kemudian meninggalkan panggung drama ini. Berjalan membelakangi para penonton. Drama itupun berjalan dengan sangat lancar dan sukses.

Romeo dan Juliet, juga Paris dan Rosaline yang baru masuk di atas panggung drama. Mereka berdiri lalu membungkuk, seketika disambut dengan riuh tepuk tangan para penonton.

Guru Bahasa Indonesia, Bu Asih dan teman-teman mereka sekelas, telah menyaksikan pertunjukan seni drama pendek tentang "Kisah Cinta Romeo dan Juliet." Baliroom Teater lagi-lagi telah menyaksikan secara bisu kisah cinta mereka berdua, Adina dan Devano.

***

Rumah

08.14

Sangat manis sekali pertunjukan drama itu, meski hanya drama pendek. Meski hanya sekedar tugas sekolah. Mereka semua terhibur, tersentuh lebih tepatnya. Pada setiap adegan drama kami. Aku sebagai Juliet, Devano sebagai Romeo, Ghandi sebagai Paris, dan Icha sebagai Rosaline. Kami semua merasa sangat bahagia. Lebih tepatnya aku, yang tenggelam dalam sentuhan Romeo di panggung sana.

Aku tenggelam dalam hangatnya cinta Romeo, maksudku tentu Devano. Tidak seharusnya aku membawa perlakuan dan perasaan manis Romeo dalam kehidupanku. Meski drama kisah cinta Romeo dan Juliet berakhir dengan kisah yang tragis. Namun perasaanku tetaplah tenggelam manis.

"Oh Adina, kamu terlalu larut dalam imajinasimu sendiri. Ingatlah siapa Devano, siapa kamu." Gumamku setelah seharian ini di rumah, sembari mengingat pentas drama kami kemarin.

Kisah cinta di balik Romeo dan Juliet sebenarnya hanyalah karangan naskah dari Shakespeare yang dibuatnya dari sebuah puisi. Pada tahun 1562 seorang penyair berkebangsaan Inggris, Arthur Brooke menciptakan maha karya puisi berjudul "The Tragical History of Romeus and Juliet." Bahkan, Arthur sendiripun menerjemahkan puisi itu dari kisah Italia yang berjudul "Mariotto and Ganoza" yang lahir dari tangan seorang Massuccio Salernitano pada tahun 1476.

Aku yang berada di kamar.

"Din, sarapan dulu nih," kata Bunda.

"Iya bun, bentar ya...," aku

"Bunda tinggal nih, ayo sarapan bareng."

"Ish.. iyaa-iyaa aku kesana..."

Aku berjalan dari kamar menuju dapur, dan aku menemukan nasi goreng bebek buatan bunda. Kami sarapan bersama di meja makan dapur. Meski rasanya tak seenak masakan mbak Lastri, namun tetaplah masakan bunda tidak bisa begitu saja dibilang tidak enak. Makanan favoritku di rumah ini.

"Din besok Bunda bakal masak banyak." Seloroh Bunda.

"Emang buat apa Bunda?" Tanyaku padanya.

"Kamu lupa ya. Kamu kan ulang tahun besok. Gimana yaa anak Bunda ini. Ish..ish... Masih muda udah pikun."

Bunda menjawab sambil menggelengkan kepala perlahan. Sembari bercanda denganku.

"Oh..iya bun. Aku nggak inget malahan."

"Sama hari ulang tahun sendiri masak lupa?"

"Asyikk....besok makan banyak."

"Oh..iyaa.. Temen-temenmu kemarin diajakin ya. Minta tolong Icha biar bantuin Bunda masak."

"Lah, Devano gimana Bunda?"

"Ajak juga Din. Semua Adhina. Ghandi juga. Kan kalian berempat temenan."

"Oke Bunda," aku menjawab Bunda sambil tersenyum senang tak jelas.

Setiap kali aku ulang tahun pasti bunda merayakannya secara sederhana. Khas Bunda tentunya. Bunda membuat masakan nasi kuning beserta beberapa pelengkap kesukaanku.

Umumnya nasi kuning dipadu dengan daging ayam yang digoreng. Beda dengan kami, ketika aku ulang tahun bebek gorenglah pasangan yang tepat untuk nasi kuning. Entah mengapa memang aku paling suka dengan makanan itu. Terlebih nasi goreng bebek. Hmmmm...terfavorit.

"Van, besok bisa ke rumah?" Jari-jemariku mengetik melalui layar ponsel di genggaman.

Ini kali pertama bagi Devano yang akan ikut untuk merayakan aku berulangtahun. Aku bingung, jari-jari ini menghapus lalu merubah kata-kata yang tertulis pada layar ponsel ini.

"Bagaimana harus memberitahu Devano, kalo besok adalah hari ulang tahunku. Lalu mengundangnya untuk merayakannya di rumah. Ahh,....kenapa jadi rumit sendiri sih..!" gumamku. Padahal Ghandi dan Icha sudah aku kirim pesan via chat. Mereka mengatakan akan datang. Seperti tahun lalu, mereka juga menyempatkan ke rumah untuk merayakannya.

Hujan menarilah di atas langit. Bawa aku bersamamu. Biar dia tahu selain pelangi yang cantik. Ada aku yang juga pantas untuk dinantikan.

***

Sekolah

09.00

Bel berbunyi menandakan kami akan memulai istirahat yang pertama. Bangku berbentuk persegi berukuran sekitar 30an centi terbuat dari stainles, beserta mejanya yang berukuran lebih besar hanya mampu menopang diriku sendiri.

Maklum, sekolah kami adalah sekolah mahal dengan isi kelas yang terbatas. Hanya boleh diisi dengan 20 siswa dengan kursi dan meja yang sebanding, sesuai jumlah siswa.

Semua pembelajaran di sini menggunakan projector dan metode ter-upgrade. Banyak hal di sini serba modern dan tentunya berbiaya mahal. Beruntungnya aku yang mendapatkan beasiswa. Sehingga semua fasilitas Zidduya bisa dinikmati dan dimanfaatkan.

Suasana kelas menjadi kosong, hanya ada aku yang duduk sendirian termenung. Teman-temanku sudah melangkahkan kaki semua ke kantin. Aku yang masih sama, dengan perasaan yang belum pernah seperti ini. Malu, bingung campur cemas soal bagaimana memberitahu Devano. Nanti malam kami akan mengadakan perayaan hari jadiku yang ke-16 tahun.

"Din,..."

Seorang cowok tampan, manis, tinggi dan sialnya aku menyukainya. Tiba-tiba entah dari mana dia membuyarkan lamunanku. Devano Samuel Escapra idaman hampir segala jenis perempuan di sekolah, dari yang cewek biasa hingga cewek idola seperti geng ekskul drama.

Ekskul paling populer di sekolah ini, khususnya bagi kalangan para remaja perempuan.

"Ehh....iyyaaa.." jawabku yang sedikit terkaget.

"Ngapain sendirian di sini?"

"Oh...nggak apa-apa. Belum pengen ke kantin kok."

"Nih...!" Tanganya menyodorkan sebuah kado berbentuk kotak kecil berukuran sekitar 5 centi. Berwarna pink dengan gambar bunga-bunga di bungkusanya.

"Apa ini Van..?" Aku masih belum mengerti dengan yang dia lakukan.

"Hadiah ulangtahunmu"

"Hah..apaa...?"

Aku masih belum mengerti juga dia mengatakan itu. Aku masih tak percaya dia memberiku kado. Padahal dialah orang pertama yang memberikanku hadiah ulangtahun. Harusnya aku jadi senang. Tapi justru aku malah merasa bingung.

"Astaga Tuhan, cobaan apa lagi ini? Dia kan terkenal gonta-ganti cewek, haduh... Masak suka sama aku sih." Pikiranku kemana-mana memikirkannya.

"Itu hadiah buat ulangtahunmu. Kalo gak mau sini, kembaliin aja...!"

"Ish.....kamu niat ngasih atau enggak sih? Kok diminta lagi?"

Aku sedikit kesal dengan cowok tengil yang ada di depanku. Tidak ada kata-kata manis yang dilontarkan selayaknya seseorang memberikan kado. Setidaknya perlakuan manis atau apalah yang membuatku bisa lebih menyukainya. Untungnya tampan, jadi ku mafkan.

"Iyaa..udah buruan ambil, terus buka."

"Aku buka ya..”

Aku terdiam sejenak setelah membukanya..

Bersambung….

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED