Sampul Novel Tulisan, Basket, & Piano

Tulisan, Basket, & Piano

9.2 / 10.0
Aura Latisha, penulis yang asing dengan asmara, selalu takut menyatakan perasaan. Kehadiran pemuda asal Bandung mengubah segalanya. Alih-alih mendekatinya, Aura justru meminta pemuda itu menolaknya langsung. Keputusan tak biasa ini menjadi awal baru bagi dirinya yang selalu menutup diri dari cinta. Inilah kisah unik tentang pilihan hati.
Ringkasan Tulisan, Basket, & Piano
Aura Latisha, penulis yang asing dengan asmara, selalu takut menyatakan perasaan. Kehadiran pemuda asal Bandung mengubah segalanya. Alih-alih mendekatinya, Aura justru meminta pemuda itu menolaknya langsung. Keputusan tak biasa ini menjadi awal baru bagi dirinya yang selalu menutup diri dari cinta. Inilah kisah unik tentang pilihan hati.
Baca Selengkapnya

Tulisan, Basket, & Piano Bab 1

Aku berjalan cepat menyusuri jalanan pasar yang sepi pengunjung pada hari itu. Kedua tanganku sibuk karena mencengkeram dua kantong besar berwarna putih dengan bintik hitam yang kurasa akibat lumpur yang kulewati.

Cuaca begitu terik. Mentari menunjukkan dirinya secara terang-terangan dan seakan menantang seisi dunia kalau ada yang berani padanya. Aku terus saja berjalan cepat seraya memicingkan mata agar tidak terkena dampak percaya diri sang mentari saat ini.

“Mama.” Tangis seorang gadis kecil.

Gadis itu berdiri tepat di depanku. Ia menengadah. Menunjukkan wajahnya yang basah karena air mata. Rambutnya sedikit berantakan dengan mata memerah karena menangis. Kedua tangannya tidak berhenti untuk mengucek kedua bola mata tersebut.

Aku menurunkan kantong belanjaanku. Kemudian berjongkok untuk menyamai tinggiku dengan gadis kecil itu. Dia memiliki mata cokelat yang indah dengan alis berwarna hitam gelap yang tebal. Aku menyentuh pipinya. “Ada apa, dek?”

Ia terisak. “Mama,” ujarnya. “Aku kehilangan mamaku, kami terpisah.” Ia kembali terisak. Ia mengelap ingusnya dengan kasar, dan kembali menatapku.

Aku menelan ludahku. Ada begitu banyak bentuk kejahatan akhir-akhir ini. Mungkin ini salah satunya, tapi kurasa aku tidak cukup pandai untuk menghindari ini mengingat diriku selalu terlibat dalam masalah dan terlebih lagi ini menyangkut anak kecil. Kurasa aku akan menolong gadis ini, lagi pula di sini ada cukup banyak orang yang menyaksikan kalau ada yang ingin berbuat jahat padaku.

“Terpisahnya di mana? Di dalam?”

Gadis itu mengangguk.

“Oke, kita cari ya. Tapi kakak mau ngembaliin belanjaan ini dulu ke sana.” Aku mengarahkan pandangan ke mobil jazz berwarna putih.

Gadis itu mengikutiku dari belakang. Ia masih terisak dan sesekali terdengar ia menyedot ingusnya sembari berucap pelan. “Mama.”

Setelah itu aku menyusuri pasar sekali lagi dengan memegang tangan Shilla—gadis kecil tadi. Kami melangkah bersama-sama berusaha untuk mencari mamanya, namun tetap tidak menemukannya selama sepuluh menit yang telah kami lewati. Kemudian terdengar suara perempuan memekik.

“Shilla.”

Sontak aku dan gadis itu menoleh. Shilla segera berlari ke arah mamanya dan memeluknya dengan erat. Cukup untuk kalian ketahui, mereka melakukan adegan yang sangat mengharukan.

Aku menghampiri kedua orang tersebut yang masih menangis bahagia. “Kalau begitu, kakak pamit dulu ya dek.” Aku mengelus kepala Shilla dengan pelan.

Mamanya memberiku ucapan terima kasih yang tak terhitung banyaknya. Ia meraih tanganku dan hampir menyentuhkannya ke keningnya sampai aku menarik tanganku dengan cepat. “Tidak perlu, Bu,” balasku seraya tersenyum. Berusaha menghilangkan rasa tidak enak yang bersarang.

“Saya pamit dulu, ya Bu,” ujarku seraya menundukkan kepalaku sedikit. Kemudian melangkah pergi dari kerumunan orang dan menghampiri mobilku tersayang. Aku sudah lama berada di pasar ini.

“Tunggu,” teriak seseorang.

Aku menoleh. Kulihat seorang gadis berlari ke arahku. Sepertinya ia seusiaku atau mungkin lebih muda dariku.

“Ini.” Ia memberikan bungkusan padaku.

“Ah?”

“Aku kakak dari anak kecil yang kamu tolong tadi.” Ia tersenyum. “Ini rasa terima kasihku, terimalah. Kumohon.” Ia tersenyum sekali lagi.

Aku mengangguk dan meraih bungkusan tersebut. Sepertinya ini berisi buah, pikirku. “Oke, terima kasih kembali.”

“Siapa namamu? Sepertinya kita seumuran.”

“Aura Latisha, kamu bisa panggil aku Rara. Ya, sepertinya kita seumuran, aku baru masuk semester empat,” balasku.

“Aku Hania Putri, bisa dipanggil Hani. Wah, beneran kita seumuran nih. Kuliah di mana?”

Setelah itu kami mengobrol untuk beberapa saat. Ternyata kami satu kampus dan juga satu fakultas, tapi tidak pernah melihat satu sama lain. Aku tidak begitu heran, karena aku jarang berlama-lama di fakultas kami. Aku disibukkan dengan kegiatan organisasi umum di universitas.

Kami bertukar ID line. Dan janjian ketemu besok. Dia juga memberitahuku bahwa besok akan ada temannya dari luar kota yang pindah kampus ke kampus kami, dan dia satu jurusan denganku, Manajemen.

---

Ini hari pertamaku masuk kuliah. Rasanya benar-benar berat meninggalkan liburan. Meninggalkan kasurku di musim hujan seperti ini. Rasanya terlalu berbahaya keluar dari selimut, banyak hal yang menanti di luar sana.

Aku menyibakkan tirai jendela, dan cahaya keemasan masuk menembus kaca. Menyinari kamarku dengan cahaya keemasan yang tampak elegan sekaligus mewah. Aku meregangkan tanganku sembari melihat taman yang ada di bawah. Ada seseorang yang menarik perhatianku, ia melambaikan tangannya.

Aku menahan teriakan dan segera berlari keluar kamar, menuruni tangga secepat kilat. Dan dalam hitungan detik sudah dalam pelukan kakak perempuanku. Aku merindukannya.

“Kapan kakak sampai?” tanyaku setelah melepaskan pelukan darinya.

“Jam tiga tadi.”

“Siapa yang jemput? Kenapa gak ngabarin aku? Oya, di mana Ziva?”

“Whoa whoa, satu-satu dong.” Kak Risya tertawa. “Papa yang jemput. Gak ngabarin kamu, ya biar surprise. Ziva ada di kamar sama papanya.”

“Kalau tahu kalian bakal pulang, kan aku bisa nyiapin sesuatu. Ini aku belum masakin apa-apa. Lagi pula, hari ini aku udah masuk kuliah.”

Kak Risya menepuk pundakku. “Gak perlu siap-siapin sesuatu dek, kakak bisa bikin sendiri,” balasnya terkekeh. “Kalau kamu ada kuliah, cepetan beres-beres. Gak usah masak, kakak udah masak. Cepetan aja mandi, dandan yang cantik biar dapet pacar. Masa secantik gini gak ada yang mau, sih?” godanya.

“Aww, bodo amat!” balasku lalu pergi dari hadapannya. Setiba di dalam rumah, mama udah menggendong Ziva. Aku berlari menghampirinya. “Sini Ma, Rara mau gendong juga.”

Mama menjauhkan Ziva dari jangkauanku. “Mandi dulu sana,” usirnya.

“Bentar doang kok, ah pelit banget. Udah lama gak ketemu sama Ziva juga. Yuk, Ziva mau sama kakak?”

Ziva menggelengkan kepalanya kecil. Aku menurunkan tanganku dengan lemas, dan cemberut. Menoleh ke arah mama yang tersenyum menang.

Omong-omong, Ziva adalah anaknya Kak Risya dan Kak Andre yang baru berumur tiga tahun. Mereka tinggal di Singapura, dan jarang sekali bisa pulang. Ini kepulangan mereka yang pertama setelah hampir delapan bulan.

Aku berjalan menghampiri kak Andre dan memeluknya sebentar seraya berbisik. “Bawain oleh-oleh buatku kan?”

Ia mengangguk dengan mantap. “Ada di kamar, sesuai pesanan.”

“Memang kakak ipar terbaikkkkk.” Rara mengacungkan kedua jempolnya. Aku menitip novel Harry Potter cetakan terbaru, btw.

“Kamu kan emang punya satu kakak ipar,” balasnya.

“Kata siapa cuman punya satu kakak ipar? Ow, Kak Risya belum ngasih tahu kakak ya?”

“Raaaa.” Ia memberikan pandangan menusuknya padaku. Namun aku tahu ia hanya bercanda, karena ia berusaha menahan senyumnya.

“Bye, aku mau mandi. Nanti malem aja aku ambil pesananku ya, kak.”

Aku berlari menaiki tangga, menuju kamarku yang bernuansa biru dan putih. Menarik handuk yang tersampir di belakang pintu dan duduk di atas kasur. Ya, aku masih malas ke kampus. Jadwal hari ini jam delapan, tapi aku bahkan belum siap-siap padahal sudah jam setengah tujuh.

Sepertinya kasur sangat menarik pagi ini. Aku menghela napas panjang dan merebahkan tubuhku di atas kasur empuk seraya menutupi mukaku dengan handuk, aku menghentak-hentakkan kaki dan terus-terusan mengatakan. “Aku butuh liburan lagiiii,”

Dering ponsel memenuhi ruangan. Tanganku mencari-cari ponsel yang berada tak jauh di dekatku, tanpa melihat telepon dari siapa, aku langsung mengangkatnya.

“Halo?”

“Cepetan mandi, hari ini kita ke jurusan. Ada masalah dengan jadwal kita.”

“Masalah a—”

Terputus. Anak itu terus-terusan berbuat seenaknya. Dia salah satu dari dua teman akrabku. Oki Surya Paramita. Dia temanku sejak SMA, dan yang satunya lagi temanku sejak masuk kuliah.

Akhirnya aku menyerah. Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi dengan berat hati.

Liburan berakhir.

[]

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Tulisan, Basket, & Piano

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta matiku pada sang tunangan, Bima Wijoyo, berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang api di studio seni demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Terbangun di masa lalu tepat sebelum rapat keluarga besar dimulai, aku membawa memori pahit tentang kobaran api itu. Kali ini, aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami di hadapan semua orang. Aku bersumpah tidak akan mati konyol untuk kedua kalinya.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali beruntun di arena tak menghalangi Roderick untuk mengkhianatiku. Tunanganku itu justru asyik bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan perempuan itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick lenyap, digantikan pernyataan cinta untuk wanita lain di depanku. Dengan hati dingin, kuhubungi ayahku yang merupakan bos mafia. Aku meminta pertunangan ini dibatalkan demi mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang terjadi menyisakan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan, serta pengorbanan tulus. Walau mengenalmu membawa kesedihan dan rasa sakit, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, saat kesadaran terlambat itu datang, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik berharga bersamamu.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Elena mengira hidupnya sempurna bersama Samuel Adinata, CEO Royal Adinata yang menjadi suami sekaligus ayah idaman bagi Eliott. Namun, topeng kepedulian Samuel perlahan terkikis, menyingkap rahasia gelap yang selama ini tersembunyi rapat. Elena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka bukanlah didasari cinta, melainkan sebuah rencana licik. Menyadari dirinya hanya diperalat demi ambisi terselubung sang suami, amarah Elena pun meledak.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED