Aku berjalan cepat menyusuri jalanan pasar yang sepi pengunjung pada hari itu. Kedua tanganku sibuk karena mencengkeram dua kantong besar berwarna putih dengan bintik hitam yang kurasa akibat lumpur yang kulewati.
Cuaca begitu terik. Mentari menunjukkan dirinya secara terang-terangan dan seakan menantang seisi dunia kalau ada yang berani padanya. Aku terus saja berjalan cepat seraya memicingkan mata agar tidak terkena dampak percaya diri sang mentari saat ini.
“Mama.” Tangis seorang gadis kecil.
Gadis itu berdiri tepat di depanku. Ia menengadah. Menunjukkan wajahnya yang basah karena air mata. Rambutnya sedikit berantakan dengan mata memerah karena menangis. Kedua tangannya tidak berhenti untuk mengucek kedua bola mata tersebut.
Aku menurunkan kantong belanjaanku. Kemudian berjongkok untuk menyamai tinggiku dengan gadis kecil itu. Dia memiliki mata cokelat yang indah dengan alis berwarna hitam gelap yang tebal. Aku menyentuh pipinya. “Ada apa, dek?”
Ia terisak. “Mama,” ujarnya. “Aku kehilangan mamaku, kami terpisah.” Ia kembali terisak. Ia mengelap ingusnya dengan kasar, dan kembali menatapku.
Aku menelan ludahku. Ada begitu banyak bentuk kejahatan akhir-akhir ini. Mungkin ini salah satunya, tapi kurasa aku tidak cukup pandai untuk menghindari ini mengingat diriku selalu terlibat dalam masalah dan terlebih lagi ini menyangkut anak kecil. Kurasa aku akan menolong gadis ini, lagi pula di sini ada cukup banyak orang yang menyaksikan kalau ada yang ingin berbuat jahat padaku.
“Terpisahnya di mana? Di dalam?”
Gadis itu mengangguk.
“Oke, kita cari ya. Tapi kakak mau ngembaliin belanjaan ini dulu ke sana.” Aku mengarahkan pandangan ke mobil jazz berwarna putih.
Gadis itu mengikutiku dari belakang. Ia masih terisak dan sesekali terdengar ia menyedot ingusnya sembari berucap pelan. “Mama.”
Setelah itu aku menyusuri pasar sekali lagi dengan memegang tangan Shilla—gadis kecil tadi. Kami melangkah bersama-sama berusaha untuk mencari mamanya, namun tetap tidak menemukannya selama sepuluh menit yang telah kami lewati. Kemudian terdengar suara perempuan memekik.
“Shilla.”
Sontak aku dan gadis itu menoleh. Shilla segera berlari ke arah mamanya dan memeluknya dengan erat. Cukup untuk kalian ketahui, mereka melakukan adegan yang sangat mengharukan.
Aku menghampiri kedua orang tersebut yang masih menangis bahagia. “Kalau begitu, kakak pamit dulu ya dek.” Aku mengelus kepala Shilla dengan pelan.
Mamanya memberiku ucapan terima kasih yang tak terhitung banyaknya. Ia meraih tanganku dan hampir menyentuhkannya ke keningnya sampai aku menarik tanganku dengan cepat. “Tidak perlu, Bu,” balasku seraya tersenyum. Berusaha menghilangkan rasa tidak enak yang bersarang.
“Saya pamit dulu, ya Bu,” ujarku seraya menundukkan kepalaku sedikit. Kemudian melangkah pergi dari kerumunan orang dan menghampiri mobilku tersayang. Aku sudah lama berada di pasar ini.
“Tunggu,” teriak seseorang.
Aku menoleh. Kulihat seorang gadis berlari ke arahku. Sepertinya ia seusiaku atau mungkin lebih muda dariku.
“Ini.” Ia memberikan bungkusan padaku.
“Ah?”
“Aku kakak dari anak kecil yang kamu tolong tadi.” Ia tersenyum. “Ini rasa terima kasihku, terimalah. Kumohon.” Ia tersenyum sekali lagi.
Aku mengangguk dan meraih bungkusan tersebut. Sepertinya ini berisi buah, pikirku. “Oke, terima kasih kembali.”
“Siapa namamu? Sepertinya kita seumuran.”
“Aura Latisha, kamu bisa panggil aku Rara. Ya, sepertinya kita seumuran, aku baru masuk semester empat,” balasku.
“Aku Hania Putri, bisa dipanggil Hani. Wah, beneran kita seumuran nih. Kuliah di mana?”
Setelah itu kami mengobrol untuk beberapa saat. Ternyata kami satu kampus dan juga satu fakultas, tapi tidak pernah melihat satu sama lain. Aku tidak begitu heran, karena aku jarang berlama-lama di fakultas kami. Aku disibukkan dengan kegiatan organisasi umum di universitas.
Kami bertukar ID line. Dan janjian ketemu besok. Dia juga memberitahuku bahwa besok akan ada temannya dari luar kota yang pindah kampus ke kampus kami, dan dia satu jurusan denganku, Manajemen.
---
Ini hari pertamaku masuk kuliah. Rasanya benar-benar berat meninggalkan liburan. Meninggalkan kasurku di musim hujan seperti ini. Rasanya terlalu berbahaya keluar dari selimut, banyak hal yang menanti di luar sana.
Aku menyibakkan tirai jendela, dan cahaya keemasan masuk menembus kaca. Menyinari kamarku dengan cahaya keemasan yang tampak elegan sekaligus mewah. Aku meregangkan tanganku sembari melihat taman yang ada di bawah. Ada seseorang yang menarik perhatianku, ia melambaikan tangannya.
Aku menahan teriakan dan segera berlari keluar kamar, menuruni tangga secepat kilat. Dan dalam hitungan detik sudah dalam pelukan kakak perempuanku. Aku merindukannya.
“Kapan kakak sampai?” tanyaku setelah melepaskan pelukan darinya.
“Jam tiga tadi.”
“Siapa yang jemput? Kenapa gak ngabarin aku? Oya, di mana Ziva?”
“Whoa whoa, satu-satu dong.” Kak Risya tertawa. “Papa yang jemput. Gak ngabarin kamu, ya biar surprise. Ziva ada di kamar sama papanya.”
“Kalau tahu kalian bakal pulang, kan aku bisa nyiapin sesuatu. Ini aku belum masakin apa-apa. Lagi pula, hari ini aku udah masuk kuliah.”
Kak Risya menepuk pundakku. “Gak perlu siap-siapin sesuatu dek, kakak bisa bikin sendiri,” balasnya terkekeh. “Kalau kamu ada kuliah, cepetan beres-beres. Gak usah masak, kakak udah masak. Cepetan aja mandi, dandan yang cantik biar dapet pacar. Masa secantik gini gak ada yang mau, sih?” godanya.
“Aww, bodo amat!” balasku lalu pergi dari hadapannya. Setiba di dalam rumah, mama udah menggendong Ziva. Aku berlari menghampirinya. “Sini Ma, Rara mau gendong juga.”
Mama menjauhkan Ziva dari jangkauanku. “Mandi dulu sana,” usirnya.
“Bentar doang kok, ah pelit banget. Udah lama gak ketemu sama Ziva juga. Yuk, Ziva mau sama kakak?”
Ziva menggelengkan kepalanya kecil. Aku menurunkan tanganku dengan lemas, dan cemberut. Menoleh ke arah mama yang tersenyum menang.
Omong-omong, Ziva adalah anaknya Kak Risya dan Kak Andre yang baru berumur tiga tahun. Mereka tinggal di Singapura, dan jarang sekali bisa pulang. Ini kepulangan mereka yang pertama setelah hampir delapan bulan.
Aku berjalan menghampiri kak Andre dan memeluknya sebentar seraya berbisik. “Bawain oleh-oleh buatku kan?”
Ia mengangguk dengan mantap. “Ada di kamar, sesuai pesanan.”
“Memang kakak ipar terbaikkkkk.” Rara mengacungkan kedua jempolnya. Aku menitip novel Harry Potter cetakan terbaru, btw.
“Kamu kan emang punya satu kakak ipar,” balasnya.
“Kata siapa cuman punya satu kakak ipar? Ow, Kak Risya belum ngasih tahu kakak ya?”
“Raaaa.” Ia memberikan pandangan menusuknya padaku. Namun aku tahu ia hanya bercanda, karena ia berusaha menahan senyumnya.
“Bye, aku mau mandi. Nanti malem aja aku ambil pesananku ya, kak.”
Aku berlari menaiki tangga, menuju kamarku yang bernuansa biru dan putih. Menarik handuk yang tersampir di belakang pintu dan duduk di atas kasur. Ya, aku masih malas ke kampus. Jadwal hari ini jam delapan, tapi aku bahkan belum siap-siap padahal sudah jam setengah tujuh.
Sepertinya kasur sangat menarik pagi ini. Aku menghela napas panjang dan merebahkan tubuhku di atas kasur empuk seraya menutupi mukaku dengan handuk, aku menghentak-hentakkan kaki dan terus-terusan mengatakan. “Aku butuh liburan lagiiii,”
Dering ponsel memenuhi ruangan. Tanganku mencari-cari ponsel yang berada tak jauh di dekatku, tanpa melihat telepon dari siapa, aku langsung mengangkatnya.
“Halo?”
“Cepetan mandi, hari ini kita ke jurusan. Ada masalah dengan jadwal kita.”
“Masalah a—”
Terputus. Anak itu terus-terusan berbuat seenaknya. Dia salah satu dari dua teman akrabku. Oki Surya Paramita. Dia temanku sejak SMA, dan yang satunya lagi temanku sejak masuk kuliah.
Akhirnya aku menyerah. Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi dengan berat hati.
Liburan berakhir.
[]
Macet.
Seharusnya aku pergi menggunakan motor saja tadi. Aku sudah punya feeling kalau hari ini akan macet total. Sial. Tapi karena kakak perempuanku yang takut terjadi sesuatu pada adiknya terus menyuruh untuk menggunakan mobil. Dan di sinilah aku, terjebak macet yang panjang. Bakal butuh waktu dua jam ke kampus kalau seperti ini, padahal kalau menggunakan motor bisa saja tiga puluh menit.
Aku memijat pelipisku. Menyelipkan rambut di telingaku. Dan mulai mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ujung jari, mengiringi musik yang mengalun. Saat aku sedang asik mendengarkan lagu, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak. Aku menaruh perhatian pada kedua orang yang sedang berteriak tersebut, dan membuka kaca mobil sedikit agar bisa mendengar lebih jelas.
“Ada apa di depan?” tanya sopir taksi
“Ada kecelakaan. Satu pengendara motor tewas, badannya cukup hancur,” balasnya berteriak.
Aku segera menutup kaca mobil. Kecelakan. Tewas. Pilihan yang tepat Kak Risya menyuruhnya untuk menggunakan mobil saja. Mungkin mobil memang lambat, tapi cukup aman.
Untuk kedua kalinya ponselku berdering. Tidak lain dan tidak bukan, temanku yang cerewet akan mengomeliku karena terlambat. Atau aku bisa saja menghindari omelannya dengan tidak mengangkat telepon darinya. Oke, pilihan kedua menarik.
Namun dia terus-terusan meneleponku.
“Apa?”
“Ra, ada anak baru yang nanyain kamu.”
“Hah? Siapa?”
“Radeka Arkaan. Kamu kenal dia?”
“Enggak,” balasku. “Ya udah aku akan segera ke sana, tapi sekarang lagi terjebak macet. Sabar saja. Dan sungguh, aku nggak kenal sama cowok itu.” Aku mematikan telepon darinya karena mobil di depan sudah mulai berjalan. Dan mobil di belakang tidak sabaran.
---
Ternyata tidak memakan waktu dua jam untuk sampai ke kampus. Satu jam cukup, ya syukurlah karena Oki terus-terusan meneleponku. Bukan tentang cowok itu lagi, tapi karena ia bingung harus ambil Mata Kuliah apa semester ini karena ia hanya dapat 21 SKS.
“Aku datang, ada apa?” tanyaku ketika aku sampai di depan jurusan.
“Sebaiknya aku ambil Mata Kuliah apa, Ra?”
Aku memutar bola mataku. Jangankan untuk memberi saran untuknya, untuk mengisi KRS-ku saja aku harus menanyai beberapa teman yang tidak akrab denganku. Aku juga bingung.
“Tanya Kak Helmi aja, Ki. Aku beneran gak ada saran, mungkin bagus ambil pilihan atau mungkin wajib, gak tahu deh.”
Oki berdiri dan langsung masuk ke ruang jurusan yang dipenuhi oleh banyak orang. Sepatu berserakan di depan ruangan. Cowok dan cewek mondar-mandir seraya membawa kertas di tangannya. Tanya ke sana-sini dengan gesit.
Aku mengambil tempat duduk Oki tadi, dan duduk di samping Via. Teman akrabku yang satunya lagi. Hari ini ia memakai celana jin biru dengan blouse pink yang cantik, cocok dengan kulit putihnya.
Aku kembali mengedarkan pandanganku pada sekeliling. Kurasa hanya aku yang terlihat santai-santai saja hari ini. Mereka semua terlihat sangat sibuk mengurusi jadwal yang tabrakan dengan Mata Kuliah yang lain. Sedangkan aku hanya menunggu, karena menurutku untuk apa aku juga masuk ke ruang jurusan kalau tujuan kami semua sama. Biarkan mereka saja yang mengurusnya.
“Tadi ada cowok dan cewek yang nanyain kamu, Ra.” Via bersuara agak nyaring karena sekeliling kami berisik.
“Siapa?” balasku.
“Rara,” teriak seseorang.
Aku menoleh ke sumber suara. Ah, aku mengenalnya. Gadis yang kemarin. Kalau tidak salah namanya Hani. Dan aku baru memperhatikannya, ia memiliki senyum yang bagus dan rambut sebahu dengan ujungnya yang agak keriting.
Juga ada seorang cowok di sampingnya, ia juga tersenyum ke arahku.
“Aku udah lama nungguin kamu.” Ia melihatku dan masih mempertahankan senyum manis miliknya.
“Oh ya? Sori, aku terjebak macet tadi.” balasku. Via menyikutku sedikit. “Ah, dan ya ini temanku Olivia Diana Rista.”
“Hai, panggil saja Via.” Sapa Via.
“Panggil saja Hani,” balas Hani. “Dan ini temanku yang kubilang kemarin. Dia pindahan dari Bandung, dia akan satu jurusan sama kalian, namanya—”
“Aku bisa memperkenalkan diriku sendiri, Han.” potongnya yang membuat Hani mengerucutkan bibirnya. Pemuda itu tertawa geli, kemudian menaruh perhatian penuh padaku. “Radeka Arkaan, kalian bisa panggil aku apa aja. Sayang juga boleh.” Ia bercanda. Kami semua tahu.
“Deka.” Hani memelototi temannya itu.
“Jadi, ini Rara yang udah nolongin Shilla kemarin?”
Aku mengangguk pelan.
“Terima kasih,” ujarnya tersenyum dengan tulus.
Aku memperhatikan pemuda itu. Dia tinggi. Hani yang berdiri di sampingnya hanya sebatas bahunya saja, mungkin aku akan sebatas lehernya jika berdampingan dengannya. Pipinya sedikit tirus hingga memperjelas tulang pipinya sedikit. Alisnya tebal, matanya cokelat, bulu mata lentik, dan senyumnya cukup memesona. Seperti keturunan Timur Tengah, kalau bisa aku menjelaskannya dengan singkat.
Aku tersenyum. “Aku sudah menerima banyak ucapan terima kasih, tidak perlu mengatakannya lagi.”
“Tapi belum dariku.” Dia menaikkan kedua alisnya.
“Oke, terima kasih kembali,” balasku setelah reda dari tertawa.
Setelah itu mereka berdua duduk di sampingku. Deka menanyakan KRS kami berdua, karena ia ingin satu kelas saja dengan kami. Ia mengotak-atik ponselnya, sedangkan kami bertiga mengobrol layaknya sudah saling kenal sangat lama. Hani orangnya begitu supel dan ramah, mudah sekali untuk berbagi cerita dengannya.
Via menyenggolku dengan sikunya, dan melirik ke arah Oki yang berdiri di depan jurusan dengan seorang cowok. Kami semua mengenalnya, sang ketua angkatan Dito. Karena aku sudah mengenal Oki lebih dari tiga tahun, dan Via juga sudah mengenal Oki hampir dua tahun, jadi kami bisa melihat dengan jelas kalau Oki sedang gugup saat ini.
Ia menoleh ke arahku, dan berteriak. “Oh iya Ra, aku segera ke sana.” Padahal aku tidak mengatakan apapun. Ia bergegas menghampiriku dengan napas yang cukup tidak teratur. Dia satu-satunya cewek di antara kami bertiga yang lemah berhadapan dengan cowok, padahal dia cerewet setengah mati pada kami.
“Kenapa dia terus-terusan menghampiriku, sih? Apa dia sudah tahu kalau aku punya rasa padanya?” ia berbisik di antara aku dan Via.
Via dan aku hanya mengangkat bahu kami. Kemudian aku memperkenalkan dia dengan Hani dan Deka yang sedari tadi masih duduk di samping kami.
Tiba-tiba Via menepuk jidatnya dengan kuat sembari meringis karena kesakitan. Dasar bodoh. “Aku lupa! Astaga!” ujarnya melihatku dan Oki bergantian. “Hari ini aku disuruh jaga butik. Dosen pada gak masuk kan hari ini? Kalau gitu aku pulang duluan, ya.” Via melirik Oki. “Ikut gak?”
“Iya deh, aku juga mau pulang. Hemat ongkos kan sekalian.” Ia terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. “Kalau gitu, bye Rara, Hani, dan Deka.” Ia melambaikan tangannya pada kami bertiga.
Mereka berdua meninggalkanku dengan dua orang yang baru saja aku kenal. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku juga harus pulang? Haruskah?
“Ra, main yuk.” Hani menoleh ke arahku seraya tersenyum. “Atau kamu mau ke rumahku? Ketemu sama Shilla, mau?”
Aku membuka mulutku hendak menjawab, kemudian menutupnya lagi dan menggigit bagian dalam bibir bawahku. Aku ingin menolak tapi wajahnya benar-benar tidak bisa membuatku menolaknya. Kenapa dia begitu imut?
Aku berdeham. “Oke, mau. Sekarang?”
Hani mengangguk. Ia melirik Deka, “Kamu juga mau pulang kan? Aku nebeng, oke?”
“Gak mau,” balas Deka cuek.
“Ikut sama aku aja kalau gitu,” ujarku. Mereka berdua serentak menoleh ke arahku. “Kenapa?”
“Gak kok, gak papa biar aku nebeng Deka aja. Entar ngerepotin kamu,”
“Lah, gak papa dong, kita juga mau ke rumahmu. Btw, rumahmu di mana, Han?”
“Kompleks Mutiara Indah, tahu kan Ra?”
“Eh serius? Aku juga tinggal di sana,” balasku tertawa. “Kok bisa gak kenal ya?” Aku masih mempertahankan tawaku.
“Nah, kalau begitu kita bertiga tinggal di kompleks yang sama dong. Wah asik nih bisa main kapan aja.” Ia tersenyum ke arahku.
“Aku cowok lho.” Deka membuka suara setelah cukup lama berdiam mendengarkan cewek-cewek yang menyeret-nyeretnya seakan dirinya ada dalam geng yang sama.
“Emangnya kami bilang kamu cewek? kamu kan cowok terkeren yang pernah aku kenal,” balas Hani mengedipkan sebelah matanya, dan hanya dibalas gelengan kepala dari Deka.
Juga senyum yang sedikit tersembunyi, namun terlihat dengan jelas kalau ia cukup malu.
[]
“Woi, hari ini kita kuis.”
Satu kalimat yang membuat semua orang di kelas terdiam sejenak, sesaat kemudian ricuh. Mengeluh, mengumpat, dan melakukan serangan mulut lainnya. Ada beberapa yang mengutarakannya dengan suara yang nyaring.
“Yang benar aja? Baru pertemuan pertama lho.” Ia menekankan suaranya pada kata pertama. Ungkapan itu langsung saja disetujui oleh semua pihak.
“Katanya sih pre-test. Hehh.” Ia menghela napas dengan berat. “Kita sebaiknya siap-siap.”
Aku yang baru sepuluh menit membaca novel Beyonders segera menutupnya kembali dan menghela napas panjang dan berat sama seperti Yadi barusan—sang pembawa pesan. Yang paling tidak aku mengerti, kami tidak punya buku. Jadi kami harus belajar dari mana? Oh aku lupa, ada Google. Tapi di gedung ini jarang sekali ada sinyal. Wirelessnya juga lambat setengah mati.
Seseorang mencolekku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Deka dengan pena di tangannya. “Baca novel apa?” Ia menunjuk novel yang ada di mejaku dengan pena hitam yang ia pegang.
Aku mengikuti arah penanya, meskipun aku tahu ia menunjuk novel Beyonders-ku yang tergeletak dengan rapi. Aku meraihnya dan memberikannya pada pemuda itu. Ia mengernyitkan dahinya dan membaca sinopsis yang ada di bagian belakang sampul.
“Waw, kamu suka baca genre fantasi terjemahan?” komentarnya.
Aku mengangguk.
“Keren. Kamu tahu kan seberapa sulitnya mencerna kalimatnya? Dan itu semua bisa dicerna oleh otakmu?” Ia menunjukkan kekaguman yang luar biasa dilihat dari ekspresi di wajahnya.
Aku tertawa. “Kamu mengatakannya seolah-olah aku sangat pintar,” balasku. “Sejujurnya tidak begitu sulit untuk memahami dan membayangkan apa yang dijelaskannya, namun memang ada beberapa bagian yang sulit untuk dicerna atau butuh dibaca berulang-ulang kali untuk memahami maknanya. Tapi gak sesulit yang terlintas di pikiranmu,” lanjutku seraya tersenyum.
“Oh benarkah?” Ia menggaruk lehernya dengan canggung, kemudian menatapku dan melayangkan senyumnya.
Jika kalian pernah melihat senyum seorang pemuda yang begitu menawan, kurasa kalian tahu apa yang terjadi padaku sekarang. Aku tidak pernah tahu kalau senyum seseorang bisa membahagiakanku seperti ini, terlebih lagi orang itu adalah orang yang baru kita kenal dalam seminggu.
Aku memperhatikannya yang masih membolak-balik novel di tangannya, seakan novel itu adalah foto wanita cantik yang tidak bisa ia lepas dari pandangannya. Dia sungguh mirip orang Timur Tengah. Aku menghela napas pelan.
“Kenapa?” ia mendongak.
“Eh?” Aku terhenyak untuk sesaat. “Tidak ada,” balasku, lalu memalingkan tubuhku.
“Novelmu ketinggalan,” bisiknya di telingaku.
Oh Tuhan!
Aku mengangguk. Tanpa menoleh ke arahnya, aku menjulurkan tangan dan dia meletakkan novel itu di telapak tanganku. Sesaat kemudian, Bu Opik datang dengan membawa beberapa berkas. Aku duduk di barisan tengah, jadi masih bisa mendengar kalau di barisan belakang ada yang mendecakkan lidahnya dengan kuat.
Setelah itu, beberapa menit yang menyebalkan datang.
---
Tidak ada yang lebih menggoda dari es jeruk dan satu mangkok bakso di saat seperti ini. Perpaduan di atas sungguh tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Terlebih lagi ketika dirimu sedang mendengarkan ocehan dari seorang teman yang tidak bisa berhenti dalam waktu singkat. Kalian sangat membutuhkannya agar tidak emosi.
“Jadi, aku tadi udah bilang sama dia untuk gak deketin aku lagi karena aku punya seseorang yang aku suka. Tapi dia masih aja. Gila ya, jadi cowok tu ya peka dikit kalo cewek gak mau ya udah jangan maksa, ngedeketin mulu. Dibilangnya aku gak risih apa.” Via menusuk-nusuk es batu dengan sedotan yang ada di tangannya. Wajahnya cemberut sejak bergabung dengan kami berdua—Hani dan aku.
Aku tidak mengatakan apapun dan hanya berfokus pada makananku. Dan Hani terlihat sedang berusaha untuk mencari kata-kata yang pas untuk memberi nasihat atau semacamnya.
“Cowok kayak gitu jangan didiemin, Vi. Bilang aja kalau kamu gak suka, jangan rasa-rasa gak enak ngomongnya. Bilang aja dengan tegas, atau ketus. Biar tahu rasa. Jahat sih ya, tapi kita kan juga risih kalau kayak gitu terus.”
Via mengangguk mantap. “Benar, Han. Kurasa aku akan mengatakannya jika dia menggangguku sekali lagi.” Kemudian ia melanjutkan. “Btw, di mana Oki?”
“Dia punya kelas lain,” jawabku disela-sela gigitan bakso yang super lezat dan kenyal.
Tidak ada yang bicara lagi setelah itu. Kami bertiga menghadapi makanan masing-masing, memperhatikan mereka seakan hanya mereka yang menarik di dunia ini. Namun, sesuatu membuyarkan acara penghormatan terhadap satu buah pentol kecil yang terakhir. Suara mic dan juga gitar.
Kami bertiga menoleh serempak. Melihat ada seseorang di atas panggung kecil yang ada di kantin. Memang disediakan panggung kecil untuk bernyanyi, dan menghibur orang-orang yang ada di sini. Entah itu ide siapa awalnya, tapi ini sangat bagus.
Panggung itu berdiri di antara warung bakso yang kami tempati dan juga warung nasi uduk beserta lauk pauknya. Kantin Ekonomi tidak terlalu besar, namun besar dibandingkan kantin fakultas lainnya. Kantin ini juga bisa disebut sebuah kafe karena interior di dalamnya cukup bagus, walaupun tidak sebagus kafe asli.
Deka duduk di kursi dan menyilangkan kakinya. Pemuda yang satunya lagi menjauhkan microphone dari jangkauan Deka, pada awalnya kupikir dia yang akan bernyanyi tapi ternyata tidak. Deka hanya ingin bermain gitar.
“Selamat siang. Aku ingin mempersembahkan sebuah instrumen. Semoga suka.”
Ia mulai memetik senar gitarnya. Alunan musik yang merdu berhasil menenangkan jiwa. Instrumen itu terdengar sedikit menyakitkan untukku. Atau mungkin karena Deka terlalu menggunakan seluruh perasaannya untuk menyampaikan sesuatu dari petikan gitarnya.
Rambutnya berterbangan karena ditiup angin. Menambah kesan bahwa ia benar-benar profesional yang sedang menunjukkan kebolehan.
Aku tertegun. Mungkin karena aku makan bakso terlalu cepat tanpa mengunyahnya dengan benar, hingga membuat hatiku sedikit sakit dan nyeri. Juga detakannya sedikit tidak beraturan. Atau karena aku sedang menyaksikan seorang pemuda yang memetik gitar dengan penuh perasaan, dengan keren, dan sungguh mempesona.
Atau mungkin bisa jadi karena aku tahu instrumen ini ditujukan untuk siapa.
Aku menoleh ke arah Hani yang sedang terdiam dan tersenyum tipis.
Dan aku merasakan sedikit nyeri saat itu.
---
“Aku sudah mengenalnya sejak aku berumur empat tahun. Saat itu ia pindah ke rumah yang ada di depan rumah kami. Dan saat itulah persahabatan kami dimulai.” Hani menceritakan asal mulanya ia kenal dengan Deka. “Dan dia dulu sungguh menggemaskan, Ra. Sungguh.” Ia berhenti sebentar hanya untuk meyakinkan Rara.
Kami berdua sedang dalam perjalanan menuju ke kelas masing-masing. Aku berhenti juga dan meyakinkan kalau aku memercayai Hani sepenuhnya. Aku memeluk tiga buku yang kubawa. “Kelasmu di mana?” tanyaku.
Hani melihat sekeliling. “Oh, di sana.” Ia menunjuk ruangan yang di ujung. “Kamu di lantai tiga, ya?”
Aku mengangguk. “Sana, ke kelasmu.” Aku mengusirnya menggunakan daguku karena kedua tanganku sibuk memegang buku Via dan aku. Ah, anak itu!
“Btw, kamu gak butuh bantuanku untuk membawakan bukumu ke kelas?” tawarnya karena melihatku sedikit kesusahan.
“Ah enggak, udah biasa kok.”
“Ya udah, aku ke kelas ya.” Ia melambaikan tangan dan hanya kubalas dengan anggukan kecil.
Aku mengalihkan pandanganku, dan menghela napas berat karena tangga yang manis sudah menungguku. Baru saja aku akan melangkahkan kakiku, tapi Deka sudah menghadang jalanku.
“Bagaimana penampilanku tadi?”
Aku berpura-pura untuk berpikir sejenak dan meliriknya beberapa kali. “Kurasa lumayan,” jawabku.
“Ah, masih lumayan ya? Kukira udah ada di tingkat keren.” Ia terlihat kecewa. Matanya terfokus dengan buku yang ku peluk. “Sini.”
Aku menunduk, mengikuti arah pandangnya. “Ah, gak usah,” tolakku.
“Biarkan cowok melakukan tugasnya. Sini.”
Aku menurut dan memberikan satu buku ke padanya. Ia mengerutkan dahinya dan tertawa. “Dua buku, Ra. Kalau perlu ketiganya.” Ia masih mempertahankan tawanya.
Aku tersenyum canggung dan memberinya satu buku lagi. Ia mengangguk dan mempersilakanku berjalan duluan. Dia sungguh memperlakukanku seperti cewek dalam film disney dan semacamnya.
“Em.” Aku berdeham. “Sebenarnya penampilanmu sudah berada di tingkat keren, kok.” Aku berkomentar dan meliriknya yang sedang berjalan di belakangku.
Dia mendongak dan tersenyum tipis. “Jadi, pernyataanmu sebelumnya itu? Maksudmu apa?”
“Yah, aku hanya baru menyadarinya,” balasku sekenanya. Padahal aku sudah menyadari kalau ia akan menampilkan sesuatu yang keren sejak ia memetik gitarnya pertama kali.
Ia berjalan di sampingku dan menepuk kepalaku sekali. “Terima kasih.” Ia berhenti sesaat hanya untuk melihatku.
Yang pastinya saat itu, ia pasti sedang melihatku merona.