"BRUKK."
"Jalan pake mata dong, Om!" seru galak seorang pemuda yang mengenakan jaket kulit warna hitam yang bertubrukan dengan William di Bandara Soekarno-Hatta.
"Maaf, aku keburu-buru!" balas William lalu melanjutkan langkah cepatnya sembari menyeret koper miliknya menuju bagian pengecekan tiket akhir pesawat.
Petugas bandara dengan nametag Diana Sihotang itu tersenyum geli lalu berkata, "Selamat siang, Pak. Maaf, apa Anda penumpang American Airlines tujuan New York?"
"Iya, Mbak. Saya mau boarding sekarang!" jawab William tak sabar sambil melirik jam tangannya.
"Yaahh ... maaf, pesawatnya baru saja take-off dari landasan, Pak. Anda terlambat 15 menit dari panggilan terakhir sebelum pintu pesawat ditutup!" terang Diana turut prihatin.
Sekalipun dirinya gusar, tak ada yang dapat dilakukan lagi oleh William selain membalik badan untuk pulang saja. Dia harus menjadwal ulang keberangkatannya menuju New York. Sopir yang mengantarkannya ke bandara juga sudah meluncur meninggalkan tempat itu usai menurunkannya tadi. Maka William pun merogoh saku jasnya untuk mengambil dompet. Dia akan naik taksi bandara saja.
"Lho, di mana dompet gue sih?!" ujarnya panik sendiri merogoh saku jas dan juga celana kainnya di tengah lobi Bandara Soekarno-Hatta yang sibuk oleh arus penumpang. Dia pun teringat kejadian bertabrakan dengan seorang pemuda berjaket hitam tadi. "Ckk, sialan. Dasar copet, nggak tahu gue lagi sial begini malah ngambil dompet pula!" kesalnya.
Ketika William buru-buru membalik badannya yang tinggi kekar, dia tak sengaja menyenggol seorang gadis bertubuh mungil hingga nyaris terkapar di lantai bandara.
"Aaarrrhhh!" jerit gadis itu seraya memejamkan matanya.
"HA-HA-HA. Hey, kamu aman kok!" ujar William mendekap gadis mungil itu dengan sepasang lengan kekarnya. Dia senyum-senyum sendiri melihat wajah perempuan belia berambut panjang bergelombang di pelukannya.
Gadis itu pun mengomeli William, "Makasih, Om! Tapi, lain kali hati-hati deh, badan Om tuh kayak buldozer begini, bisa bikin orang benjol!" Dia lalu melanjutkan perjalanannya lagi menuju ke sebuah coffee shop untuk membeli minuman sebelum memesan taksi yang akan mengantarkannya pulang ke rumah kakek neneknya.
Emmy melangkah masuk ke Harlem Cafe lalu melihat-lihat papan menu dan harganya di atas konter pemesanan. Dia pun melakukan order, "Caramel Frappuccino satu ya, Mas. Sama muffin blueberry deh dua biji!"
"Oke, Kakak. Silakan ditunggu sebentar ya!" jawab mas-mas barista itu sambil menginput pesanan Emmy ke mesin kasir. Dia lalu menyebutkan jumlah tagihan untuk dibayar oleh Emmy.
Sementara menunggu pesanannya dibuat, Emmy duduk di kursi yang berbatasan dengan jendela cafe di dalam bandara tersebut. Pria blasteran berbadan besar seperti beruang kutub yang tadi menabraknya masih berdiri di tempat sama.
"Si om tadi tuh kenapa sih kok kayak orang linglung gitu nabrak-nabrak? Kasihan juga deh sebenernya—" Emmy bergumam pelan sembari menatap ke luar kaca jendela cafe.
Karena tergelitik oleh rasa simpati, akhirnya Emmy memberanikan dirinya untuk mendatangi pria yang tadi menabraknya. "Emm ... maaf, Om. Apa lagi nunggu orang? Mau kutraktir minum kopi di sana?" tunjuk Emmy ke arah Harlem Cafe.
"Ohh, boleh sih. Kebetulan dompetku habis dicopet di bandara jadi nggak bawa duit deh!" jawab William lalu dia menyeret kopernya mengikuti Emmy masuk ke Harlem Cafe.
"Om mau pesan apa? Bebas aja, aku yang traktir karena tadi sudah ditolongin, nggak mesti nyosor lantai," ucap Emmy dengan suara remaja yang imut-imut.
"Espresso saja," jawab William yang memang suka kopi hitam.
Emmy bertanya lagi, "Apa mau donat, croisant, atau pai?"
"Donat boleh juga!" sahut William tidak rewel. Dia tersenyum melihat gadis yang tak dia kenal sebelumnya mentraktirnya kopi serta donat.
'Gemesin banget deh dia, berapa ya umurnya? Kayak masih teenage gitu penampilannya!' batin William sambil diam-diam mengamati Emmy.
Ketika Emmy kembali ke meja, dia duduk berhadapan dengan William lalu mengulurkan tangan kanannya. "Kenalan dulu dong, Om. Aku Emmy, lengkapnya Emmy Estelia Setiawan!" ucapnya riang.
William menjabat tangan mungil yang ukurannya separuh telapak tangannya itu dan menyeringai geli seraya menjawab, "Will, singkatan dari William Samsons MacRay. Apa kamu baru pulang dolan? Kok sendirian di bandara, Emmy?"
Namun, Emmy malah cekikikan mendengar dugaan si om ganteng di seberangnya itu. "Apa aku masih keliatan ABG banget sih? Padahal aku sudah lulus kuliah lho, Om!" jawabnya tanpa merasa tersinggung.
Waiter cafe mengantarkan pesanan mereka berdua ke meja lalu berkata, "Silakan pesanannya, Mas, Mbak. Kalau mau nambah orderan bisa langsung ke meja display ya!" Dia pun berlalu dari meja tersebut.
"Ohh, keren dong sudah sarjana. Memang umur kamu berapa sih?" selidik William yang mulai penasaran dan tertarik mengenal Emmy lebih dekat.
"Aku dua dua tahun, Om. Kalau Om William usia berapa?" sahut Emmy seperti layaknya orang berkenalan dan sama-sama kepo pastinya.
William terbatuk-batuk karena ditanya umurnya yang memang pantas dipanggil dengan sebutan 'Om'. Dengan sigap Emmy menghampiri William lalu menepuk-nepuk punggung pria itu. "Kucariin air putih ya, Om! Bentar—" Dia lalu berlari kecil ke kasir untuk membelikan William sebotol air mineral untuk melegakan tenggorokan.
'Busettt, kita nih beda lima belas tahun. Hmm ... berasa old banget gue!' batin William sambil meminum air mineral kemasan yang dibelikan Emmy.
"Aku usia tiga tujuh, kenapa emang?" jawab William.
"Nggak kenapa-kenapa, kok gitu amat nanyanya sih, Om!" Emmy pun mencebik lalu memalingkan wajahnya ke kaca jendela cafe sambil mengunyah muffin blueberry favoritnya.
'Wow, kalau seumuran dia kayaknya wajar ya tukang ngambekan. Hmm!' batin William menilai temperamen Emmy yang nampaknya naik turun sesuai mood.
"Oya, selai blueberrynya cemong tuh!" William lalu membersihkan warna biru keunguan lengket itu dari tepi bibir Emmy. Dia menjilat jemarinya sambil menatap wajah gadis itu yang mendadak berwarna merah jambu.
"Thank you," ucap lirih Emmy. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya gelisah sembari meminum Caramel Frappuccino miliknya. Setelah melirik jam tangan di pergelangan tangan William, dia pun berkata, "Om, apa mau nebeng taksi bareng sama aku? Tadi 'kan katanya dompet Om ilang dicopet di bandara!"
Mendengar tawaran yang dia butuhkan, William pun menjawab antusias, "Boleh. Yuk kita pulang, Beb!"
"Beb?!"
"Iya, 'kan kamu masih muda banget dan imut-imut, cocoklah kalau aku panggil 'Baby'," jawab William sambil terkekeh khas om-om.
"Nggak mau, Om. Panggil Emmy aja. Nanti aku dikirain sugar baby-nya, Om Will pula!" protes gadis itu galak dengan alis tertaut kesal.
William menggaruk-garuk kepalanya, nampaknya gadis imut itu super moody. Dia mendadak seperti merasa punya keponakan baru dan harus ekstra sabar momong bocah. Sisi baiknya adalah Emmy sangat simpatik dan gemar menolong orang, William suka itu.
"Oke, yuk cabut, Om. Kita cari taksi buat pulang bareng!" ajak Emmy menyunggingkan senyum berlesung pipitnya seraya bangkit dari kursi cafe.
Mereka berdua pun berjalan bersebelahan sambil menyeret koper masing-masing menuju ke pintu keluar Bandara Soekarno-Hatta. William yang biasanya tinggal perintah ini itu harus rela mencarikan taksi untuk Emmy dan dirinya. Namun, anehnya dia senang melakukannya. Ada apa gerangan dengan William?
"Sudah lama aku nggak menginjakkan kaki di Jakarta, ternyata ada yang nggak berubah juga. Hmm!" ujar Emmy menatap lautan kendaraan bermotor bagaikan sekumpulan cendol di minuman favoritnya; es cendol.
William tertawa mendengar perkataan sarkastik gadis mungil di sampingnya dalam taksi yang terjebak kemacetan lalu lintas kota metropolitan. "Welcome to Jekardah, Emmy!" tukasnya.
"Om William aslinya mana sih? Bule blasteran 'kan, Om?" tanya Emmy terkesan kepo.
"Aku kelahiran Birmingham, Inggris. Papaku asli sana, mama yang orang Indonesia. Sejak usia tiga tahun, aku dibawa menetap di Jakarta jadi fasih berbahasa Indonesia begini sekalipun juga setiap hari masih ngomong pake bahasa Inggris terkait pekerjaanku," tutur William santai seolah tak keberatan dengan keingin tahuan gadis belia itu tentang asal usulnya.
Emmy pun ber-oh beberapa kali. Dia mencerna setiap patah kata William dengan baik karena terbiasa mengikuti kuliah yang sulit di Harvard University, Massachussets. Sementara itu taksi kembali melaju usai kemacetan lalu lintas terurai.
"Kalau kamu gimana, Emmy? Om juga pengin denger dong tentang keluarga kamu," ujar William menatap gadis itu dengan sepasang mata cokelat madunya yang teduh.
"Ehm ... aku yatim piatu, digedein sama kakek nenekku sejak usia tiga tahun sampai remaja. Aku sekolah ke Amrik pake jalur beasiswa penuh, Om. Kalau nggak mana mampu kakek nenek biayainnya, itu mahal banget. Dan aku part time jadi tukang cuci piring selama tinggal di Amrik!" jawab Emmy tanpa menutup-nutupi asal usulnya dari keluarga yang sederhana.
Tentu saja informasi yang mencengangkan bagi William baru saja membuat pria itu menjadi simpatik. Ternyata di balik tubuh mungil dan muka imut Emmy tersembunyi kegigihan bak wonder woman. 'Itu artinya selama sekitar empat tahun pendidikan, gadis belia tersebut menghidupi dirinya sendiri sembari berkuliah. Keren!' batin William terkesan dengan kerja keras Emmy.
"Terus kamu pulang ke Indonesia apa sudah dapat pekerjaan?" tanya William yang makin tertarik mengenal Emmy.
"Sudah dong, Om. Kalau nggak mendingan aku kerja jadi tukang cuci piring aja di sono, gede bayarannya kok!" sahut Emmy tanpa merasa malu.
"Ohh good luck kalau begitu buat kerjaan baru kamu ya!" ujar William lalu dia mengarahkan sopir taksi karena rumahnya sudah dekat lokasinya.
Akhirnya mobil sedan biru itu berhenti di depan sebuah pintu gerbang besi tempa megah dengan ujung-ujung teralis runcing di atasnya. William pun berkata kepada Emmy, "Terima kasih buat traktiran di coffee shop dan tumpangan taksinya, Emmy Sayang!"
"Sama-sama, Om William. Sampai ketemu kapan-kapan ya, kali aja jodoh!" canda riang Emmy seolah tanpa beban.
Mendengar perkataan gadis itu, William sempat tercenung. Dia pun bertanya iseng sambil memegangi daun pintu taksi karena tadinya dia sudah mau turun, "Kamu mau jadi istriku?"
"Haaahh, nggak ... nggaklah, tadi cuma becandaan aja kok!" Emmy merutuki dirinya yang asal bicara dalam hatinya. Dia pun melanjutkan, "Om, nanti sopir taksinya nunggu kelamaan. Turun dulu deh!"
"Hmm ... okay. Byebye, Emmy!" William pun turun dari taksi biru itu dan menerima kopernya yang telah diturunkan sopir taksi dari bagasi belakang.
Sembari menunggu satpam membukakan pintu gerbang depan untuknya, William menatap kepergian taksi yang membawa Emmy. Mengobrol bersama gadis imut itu tak ada bosannya seolah mereka cocok satu sama lain, padahal ada jurang usia lima belas tahun.
"Pak—Pak William!" panggil satpam rumah karena majikannya malah bengong entah sedang melihat apa di depan pintu gerbang yang telah dibukakan.
"Ehh ... Pak Asep, iya. Makasih, Pak. Saya masuk dulu!" jawab William lalu menyeret kopernya melewati halaman depan rumahnya yang bagaikan istana Disneyland. Dia yang merancangnya sendiri. Sayangnya, pangeran yang satu ini tak kunjung menemukan sang puteri cantik nan baik hati.
Di teras depan rumahnya, Haikal Sutrimo, kepala asisten rumah tangganya menyambut kepulangannya dengan heboh, "Ya ampun, Pak Willy. Ini kenapa sih, sudah dianter sampai bandara kok malah balik ke rumah lagi?!"
"Mo ... Mo ... udah pokoknya gue batal ke Amrik. Nih bawain koper ke kamar lagi buat dibongkar, jangan dibanting ya!" balas William geli melihat kepala ART-nya yang agak melambai itu menegurnya.
Kemudian dia melenggang masuk ke rumah dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang yang terlambat itu sendirian. Koki rumahnya otomatis tidak memasak karena tahu majikannya akan bepergian ke luar negeri selama seminggu.
William mengocok dua butir telur dengan tambahan keju cheddar, tomat, dan daun bawang lalu menggorengnya di wajan teflon. Untungnya nasi putih selalu tersedia karena karyawan-karyawati di rumahnya ada selusin mengurusi pintu gerbang, halaman depan, hingga dapur.
Dalam sekejap menu sederhana yang lezat itu dapat dia santap. William pun mengambil ponselnya dan memeriksa email pribadinya. Nama Emmy Estelia Setiawan itu seperti tidak asing dalam benaknya. Hanya saja dia lupa pernah bersinggungan di mana?
Kotak email terkirim itu iseng dia buka dan William menemukan jawaban rasa penasarannya. Sendok yang tengah mengarah ke mulut urung mencapai tujuan dan diletakkan kembali ke piring di hadapannya. "Asisten arsitek baru itu namanya Emmy Estelia Setiawan. Ini pasti orang yang sama dengan gadis imut tadi!" gumamnya sendirian.
Senyuman lebar menghiasi wajah William, dia senang ternyata tak harus menunggu lama bertemu lagi dengan Emmy. Besok pagi gadis imut itu sendiri yang akan mendatanginya ke rumah karena kantor arsitek miliknya jadi satu dengan hunian pribadinya.
"Emmy, ternyata kita jodoh lho. Awas candaan iseng kamu tadi didenger malaikat lewat! HA-HA-HA," ujar William riang. Tak biasanya dia memerhatikan lawan jenis karena otaknya sudah bertahun-tahun tersetel ramah dengan penghitungan RAB dan desain bangunan.
(RAB: Rancangan Anggaran Belanja, untuk pengajuan tender proyek pembangunan gedung)
"Ehh, apa sih Pak Bos kok ketawa ketiwi sendiri? Jadi takut deh aku! Nggak kesambet Nini Lampir di bandara tadi 'kan?" tegur Haikal Sutrimo yang duduk di seberang island table tempat majikannya menikmati makan siang.
William pun menanggapinya ringan dengan kekehannya, tetapi dia ada tugas khusus untuk asisten andalannya itu. "Suka-suka gue dong, Mo! Pokoknya dibawa happy aja. Oya, gue ada tugas nih buat loe. Urusin KTP yang ilang sama surat kehilangan di kantor polisi buat dibawa ke customer service bank ntar gue list bank mana aja. Dompet gue dicopet di bandara tadi. Duitnya sih nggak seberapa cuma males ngurus kartu debit sama kredit plus KTP, SIM A, SIM C. RIBET!!"
"Amsiong deh, pusing tujuh keliling ngurus semua kartu itu, Pak Bos!" seru Haikal nyaris pingsan. Dia meletakkan kepalanya di atas meja.
"Jangan pura-pura pingsan loe! Pokoknya besok dari pagi loe urusin semua isi dompet gue yang raib dicopet itu, okay?!" desak William dengan bossy. Dia tersenyum-senyum ala onta padang gurun memamerkan sederet giginya yang rapi.
Dengan tampang memelas Haikal pun mematuhi perintah bos besarnya. Namun, belum selesai begitu saja titah William. Pria blasteran bermata cokelat madu itu berkata lagi, "Mo, besok pagi ada tamu spesial. Bilang ke Chef Juno buat masakin sarapan ala western. Bikin muffin isi selai blueberry yang enak. Ini spesial request dari gue langsung, inget ya!"
"Wah siapa tuh, Pak Bos? Cewek ya pasti?" Haikal menggoda William dengan bercieh-cieh heboh hingga pria ganteng itu merona wajahnya.
"Mau tahu aza deh loe!" tukas William jutek lalu menyuap sendok terakhir makan siangnya sebelum naik ke kamar tidurnya.
"Neng, udah sampai nih sesuai alamat yang tadi Neng kasih ke saya!" ujar sopir taksi online yang mengantarkan Emmy ke tempat kerja barunya.
Namun, Emmy mendadak salah tingkah sendiri karena seingatnya kemarin siang dia pun sudah sampai ke tempat yang sama. Dengan tujuan berbeda pastinya, dia mengantar Om William pulang dari bandara.
"Ehh ... ohh, ya udah deh, Pak. Makasih ya. Aku turun sekarang, kali Bapak mau kejar setoran mumpung masih pagi gitu!" celoteh Emmy lalu turun dari taksi online itu dengan membawa map plastik berisi portofolio dan CV miliknya.
Akhirnya mobil Avanza hitam itu berlalu dari depan gerbang besi yang tinggi menjulang dan meninggalkan Emmy sendirian di situ. Dengan ragu-ragu gadis itu menekan tombol bel di samping pagar dan sesaat kemudian wajah satpam muncul di layar monitor di atas tombol bel.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" sapa satpam bernama Asep itu melalui layar kecil.
"Ehh ... pagi, Pak Satpam. Saya mau bertemu Bu Rita Sundari, apa beliau ada? Saya karyawati baru Fame Palette Artisans Co," ujar Emmy menyebutkan keperluannya.
Segera pintu gerbang tinggi itu terbuka otomatis di hadapan Emmy. Dia pun bergegas masuk ke dalam sebelum pagar ditutup kembali.
"Wah, luas banget halaman depannya. Lucu juga bangunan rumahnya dibikin kayak mini kastil Disneyland gitu!" komentar Emmy sembari celingukan mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah calon bos barunya.
Satpam yang menyapa Emmy tadi menghampirinya sambil berkata, "Non, masuk aja langsung ke sana, lewat teras depan ya. Pintunya terbuka kok. Bu Rita sudah datang barusan!"
"Siap, Pak Asep. Makasih ya!" tukas Emmy dengan ceria. Kemudian dia bergegas menuju teras depan rumah yang unik tersebut.
"Permisi ... spadaaa!" seru Emmy karena rumah megah itu nampak sepi seolah tak berpenghuni.
Sesaat setelahnya sesosok wanita paruh baya keluar dari sebuah ruangan dan tersenyum menatap Emmy. Dia pun mengulurkan tangan kanannya dan berkata, "Hai, kamu pasti Emmy Estelia Setiawan ya?"
"Halo, Bu. Iya, benar. Saya Emmy yang melamar kerja menjadi asisten arsitek baru di Fame Palette Artisans Co. Apa Anda, Bu Rita Sundari?" jawab Emmy sopan.
"Iya, saya Bu Rita. Ayo saya perkenalkan ke bos baru kamu, saya hanya sekretaris sekaligus merangkap bagian accounting." Bu Rita berjalan mendahului Emmy ke sebuah ruangan yang nampaknya mirip ruangan meeting berskala kecil untuk sepuluh orang.
Di sekitar meja, duduk karyawan-karyawati yang nampak rapi penampilannya. Bu Rita memperkenalkan Emmy ke rekan-rekan kerja barunya, "Teman-teman, ini Emmy Estelia Setiawan. Tolong dibantu biar cepat belajar pekerjaan sebagai asisten arsitek Pak William!"
Tatapan penuh penilaian dari para karyawati di ruangan tersebut membuat Emmy cukup terintimidasi. Para wanita itu nampak modis dan terawat, full make up juga pastinya. Sementara pagi ini, Emmy hanya memakai perawatan kulit tabir surya dan lipstick berwarna pink natural.
"Ohh, sudah datang rupanya asisten baruku! Emmy, ayo ikut aku sebentar," ujar William yang baru saja memasuki ruangan penuh orang itu dan langsung akrab dengan asisten arsitek barunya.
William menggandeng tangan gadis imut itu keluar dari ruang meeting staf diikuti tatapan iri dan bisik-bisik para wanita.
"Si bos kok kayaknya udah kenal sih sama Emmy?" celetuk Virna dengan wajah cemberut.
"Nggaklah, Pak Willy 'kan memang selalu ramah sama bawahannya, Vir!" sanggah Yuni sambil mencoret-coret catatan di kertas dokumen miliknya.
"Moga-moga si Yuni benar. Males bingits kalau nambah saingan buat ngegaet Pak Bos, iya nggak?" timpal Vera yang sudah lama memendam perasaan kepada big boss mereka.
Anneke, karyawati yang paling sexy penampilannya pun menimbrung, "Ahh, casing si Emmy itu B ajah deh. Masa iya Pak Willy lebih demen sama cewek udik begitu?!" Teman-temannya pun menyetujui pendapat Anneke dan berhenti overthinking tentang Emmy.
Berbeda halnya dengan Bu Rita yang sudah kebal mendengar pembicaraan para karyawati di situ. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala tanpa minat untuk berkomentar.
Ternyata William menarik-narik tangan Emmy untuk mengikutinya ke ruang makan. "Duduk dulu deh! Kamu sudah sarapan belum tadi, Emmy?" ujarnya sambil menarikkan kursi untuk gadis itu.
"Sudah sih. Tadi dibikinin nasi pecel sama nenek di rumah," jawab Emmy yang masih bingung juga bagaimana memanggil pria matang yang tak lain adalah bos barunya. Dia pun segera bertanya, "Aku panggil Om atau Pak atau gimana enaknya?"
Mendengar pertanyaan Emmy yang terdengar kebingungan, William pun tertawa. "Mas aja ya? Mas William 'kan lebih mesra, Emmy!"
"Nggak mau. Om aja deh, sudah paling cocok atau Pak juga kesannya profesional!" sahut Emmy keras kepala tanpa senyum di wajah imutnya.
William menggaruk-garuk kepalanya lalu mendesah, "Whatever!" Dia pun teringat muffin isi selai blueberry favorit gadis manis itu. "Cobain deh muffin bikinan Chef Juno, koki rumahku. Mungkin kamu suka. Atau menu lainnya boleh juga! Pokoknya temani aku sarapan dan ini perintah untuk seterusnya kalau aku lagi nggak ada pekerjaan di luar negeri, paham?!"
Perhatian Emmy yang tadinya fokus ke wajah bos barunya segera teralihkan ke hidangan sarapan di atas meja makan. Dia pecinta kuliner juga karena selama di Amerika dulu bekerja di restoran. "Wow, kelihatannya lezat. Aku coba muffinnya ya, Om Will!" ujar Emmy lalu mencomot sebuah muffin blueberry dan menggigitnya.
Tak biasanya William memerhatikan bawahannya seperti yang dia lakukan kepada Emmy. Dia galak sekali apa lagi kalau karyawan atau karyawatinya berleha-leha tak bekerja. Namun, memandangi ekspresi wajah Emmy yang begitu menikmati kue asal Inggris itu membuatnya gemas.
Ketika sebuah muffin habis dilahap oleh Emmy, pria itu segera menyodorkan piring berisi aneka mini pastry ke hadapan gadis imut itu. Dengan senang hati, Emmy mengambil sebuah mini pasty berisi daging asap dan keju.
"Mau minum apa, Dear Emmy?" tanya William yang malah melayani gadis itu padahal dia bos Emmy.
"Air putih aja, Om!" jawab Emmy dengan mulut penuh. Dia mengambil sebuah cupcake berhias krim rasa blueberry berwarna ungu dan mengunyahnya perlahan.
Segelas air mineral diletakkan di hadapan Emmy oleh tuan rumah sendiri. "Makan yang kamu suka ya, bebas! Setelah sarapan baru kita kerja bareng ... di ruanganku!" ujar William dengan senyuman lebar.
Emmy hanya menambah sebuah muffin blueberry saja lalu berhenti makan. Dia tak ingin kekenyangan di hari pertamanya bekerja. Dengan sabar gadis itu menemani William sarapan hingga selesai.
"Okay, back to work! Let's go to office, Beibeh!" ucap William sambil merangkul bahu Emmy menuju ke arah ruang kantornya.
Ketika mereka melewati ruang meeting, para karyawati mendadak kepo dan berlarian menuju ke pintu untuk mengintip kedekatan Emmy dengan William. Pintu kantor pribadi bos mereka pun tertutup rapat dengan pasangan itu berada di dalamnya.
"Ketikung telak loe, Ver. Big boss ternyata seleranya daun muda tuh!" celetuk Yuni sembari menertawakan rekannya yang ngefans berat sedari dulu dengan arsitek ganteng kece badai yang tak lain bosnya sendiri.