Bab 1

Mobil mewah yang ditumpangi Timmy dan Li Xiao Ke melaju dengan cepat di jalanan kota Hefei. Gadis mungil itu tidak banyak bicara, karena sebenarnya dia sangat lelah, setelah delapan jam penerbangan, atau lebih tepatnya, dia sedang mengantuk sekarang. Kepalanya bersandar pada bahu kokoh suaminya, dengan mata terpejam. Sementara Timmy terus merenung, dengan tatapan kosong, pikirannya berkecamuk, begitu banyak pertanyaan terus berdatangan silih berganti di benaknya. Pria tampan itu sangat penasaran, siapa sebenarnya gadis cantik nan imut yang ia nikahi ini? Li Xiao Ke adalah orang Indonesia, tetapi memiliki saudara kandung di Tiongkok, dan dengan pengawalan yang begitu ketat, Timmy yakin Li Xiao Ke memiliki latar belakang yang sangat luar biasa. Kisah ini berawal saat Timmy mengunjungi Li Xiao Ke secara diam-diam, dua bulan lalu di Indonesia.

***

Ting Tong! Bel berbunyi, suaranya kian membahana, memenuhi seluruh isi ruangan rumah Li Xiao Ke.

"Nana ... cepat lihat, siapa yang datang berkunjung pada malam-malam begini!" Sebuah suara nyaring nan melengking, segera berseru dari mulut kecil Li Xiao Ke yang imut, memanggil asistennya, Nana.

Li Xiao Ke, gadis cantik berparas imut, berdarah Jawa-Tionghoa yang gemar membuat vlog, dan mereview berbagai barang favoritnya. Ia mendapatkan hasil yang luar biasa dari hobinya itu.

“Siap Nona ….” Nana segera melesat keluar, dan melihat siapa yang datang.

Beberapa saat kemudian, dari arah luar, Nana berlari melesat kembali masuk ke dalam rumah dengan gagap, seperti baru saja melihat hantu. "Nona ... Nona ...!"

"Ada apa? Kenapa kamu gagap begitu? Siapa yang datang?" Li Xiao Ke tampak bingung dengan sikap asistennya saat ini.

"Itu ... itu Nona, di gerbang ...."

"Ada apa di gerbang?" Li Xiao Ke semakin penasaran.

"I-itu ... di gerbang ...." Nana masih terbata-bata membuat Li Xiao Ke semakin bingung.

Meskipun takut, Li Xiao Ke akhirnya memberanikan diri untuk melihat, apa yang terjadi di luar. Untuk berjaga-jaga, dia berinisiatif mengambil sapu yang ada di garasi. Perlahan-lahan, dia berjalan menuju gerbang sambil memegang gagang sapu, seolah siap menimpuk seseorang, apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Kebetulan, malam ini langit tampak begitu gelap, karena langit tak henti-hentinya menumpahkan airnya, meski tidak begitu deras, tapi cukup untuk membasahi orang-orang yang lalu lalang di jalanan. Kilat juga kian menyambar, bagai kamera yang terus memotret. Perlahan-lahan Li Xiao Ke mulai membuka gerbang, udara dingin nan basah, segera menerpa wajahnya nan ayu rupawan. Dari sudut matanya yang berkilau indah, Li Xiao Ke mulai mengintip siapa yang datang ke rumahnya pada jam selarut ini. Samar-samar … dia bisa melihat siluet, sosok yang sangat tinggi, mengenakan mantel hitam, dan topi yang senada dengan mantel yang ia kenakan. Tanpa disangka, guntur pun menggelegar dengan dahsyatnya, membuat Li Xiao Ke melonjak, dan secara refleks menghajar sosok di depannya.

"Pergi kamu pencuri! Jangan berdiri di depan rumahku!" Li Xiao Ke memekik seraya terus memukul menggunakan sapu dengan mata tertutup.

"Aw ... aw ... Xiao Ke sakit, kenapa kamu memukulku ...! Berhent i...!"

"Nona Li, kenapa kamu memukulinya..! Berhenti ...!" sosok gemuk, di belakang sosok tinggi juga mulai mengeluarkan suara.

Li Xiao Ke sangat takut sehingga dia mengabaikan suara itu, dia terus memukul dengan mata tertutup. Tak tahan lagi, sosok jangkung itu langsung meraih tangan Li Xiao Ke, menggenggamnya dengan erat, hingga tangan kecil nan ramping itu berhenti memukulnya.

"Li Xiao Ke, stop ...! Buka matamu! Ini aku, Timmy ...!"

Sapu di tangan Li Xiao Ke terjatuh, dia segera membuka kelopak matanya, dan betapa terkejutnya dia, begitu bola matanya terbuka sepenuhnya. Segera terlihat olehnya, wajah yang begitu tampan, dengan alis yang begitu tebal, tengah berdiri di depannya. Bibir manis yang biasanya tersenyum padanya, kini tampak cemberut. Kilat terus menyambar, yang cahayanya menegaskan siluet hidung mancung yang begitu tinggi. Mata sipit khas Tionghoa, kini tengah melotot ke arah Li Xiao Ke. Ya, dia adalah Jiang Tim, dia adalah seorang aktor sekaligus model asal Tiongkok. Li Xiao Ke biasa memanggilnya Timmy.

"Ko Timmy, apakah ini benar-benar kamu?" Li Xiao Ke masih tidak percaya, sosok di hadapannya adalah kekasihnya, yang ia temui di kota Shanghai satu tahun lalu.

"Ya, berhenti memukulku!!"

Li Xiao Ke meringis dan langsung membawa Timmy dan asistennya Feng You, alias Gendut masuk ke dalam rumah.

"Ko Timmy, apakah sakit? Sini biar aku lihat?" tanya Li Xiao Ke sesampainya di dalam rumah.

"Tentu saja sakit, kenapa kamu memukulku?"

"Maaf, aku barusan benar-benar sangat takut, jadi refleks terkondisi."

"Asistenmu juga, pecat saja dia. Dia begitu bodoh, bukannya membuka gerbang, dia malah membiarkan kita basah kuyup di luar."

Mendadak Li Xiao Ke menjadi gusar, mengingat dia memukuli Timmy juga karena ulah asistennya yang sok ketakutan itu. "Nana ...!"

Teriakan Li Xiao Ke menggelegar, menembus setiap pori-pori Nana, ia segera berlari ke arah Li Xiao Ke. "Nona Li, maafkan aku, aku terlalu bersemangat tadi, jadi aku tidak dapat berbicara dengan jelas. Sebenarnya aku ingin memberi tahu Nona, kalau Tuan Jiang datang."

"Jangan lakukan itu lagi, atau aku benar-benar akan memecatmu!" Nana mengangguk, tatapan Li Xiao Ke kembali ke Timmy. "Ko Timmy juga, kenapa tidak memberi tahu, kalau ingin datang?!"

"Sebenarnya aku ingin memberimu kejutan, tidak tahunya aku malah kena pukul olehmu. Ditambah lagi sekarang kamu menyalahkanku, nasibku memang begitu sial,"

"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja tadi. Apakah masih sakit?" suara Li Xiao Ke melembut, dia tampak khawatir.

Timmy tersenyum, melihat Li Xiao Ke tampak khawatir, ada sedikit keinginan untuk menggodanya. "Hatiku yang sakit!"

"Iih ...!" dengan kesal Li Xiao Ke memukul lengan Timmy, lagi.

"Aww ... kenapa kamu memukulku lagi, sakit tahu!"

Nana dan Gendut terkikik geli melihat kelakuan majikan mereka, mereka segera meninggalkan Li Xiao Ke dan Timmy di ruang tamu.

"Li Xiao Ke," Panggil Timmy setelah kedua asisten mereka pergi.

"Apa?"

"Setelah sekian lama, akhirnya pacarmu datang jauh-jauh untuk menemuimu. Tidakkah kamu ingin memeluknya sekarang?"

"Tidak!" Li Xiao Ke memalingkan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang mulai bersemu merah.

"Tch...kamu begitu jahat. Baiklah, kalau begitu, aku yang akan memelukmu," Timmy segera menarik pinggang ramping kekasihnya, dan memeluknya dengan erat. "I miss you," bisik Timmy dengan mata terpejam.

Li Xiao Ke tersenyum dan membalas pelukan Timmy, "Aku juga merindukanmu. Kenapa Koko tiba-tiba datang ke Indonesia?"

"Aku sudah bilang, aku merindukanmu."

Li Xiao Ke kembali tersenyum. "Berapa lama Koko akan tinggal di Indonesia?"

"Mungkin agak lama, aku selalu bekerja keras dan jarang menghabiskan waktu untuk liburan, jadi kali ini aku ingin menghabiskan liburanku bersamamu,"

"Apakah kamu lelah? Biarkan aku memberitahu Nana untuk menyiapkan tempat tidur untukmu."

"Sebentar lagi, biar seperti ini dulu," pelukan Timmy semakin erat.

"Apakah Koko sudah makan? Jika belum, aku akan menyiapkan makan malam untukmu."

"Li Xiao Ke, tidak bisakah kamu membiarkanku menikmati hidup, jangan ganggu aku!" Suara Timmy terdengar kesal.

"Aku hanya menawarkan service yang baik sebagai tuan rumah, kenapa kamu marah?"

Bibir pria tampan itu mulai mencekung. "Ngomong-ngomong masalah service, bisakah malam ini kita tidur bersama?"

Mata Li Xiao Ke langsung terbelalak lebar, dia segera melepaskan diri dari pelukan kekasihnya. "Apa kamu gila?! Dasar mesum!"

Timmy langsung tertawa, dia sangat suka menggoda Li Xiao Ke. Gadis mungil itu terlihat sangat imut dan menggemaskan saat sedang marah.

"Berhenti tertawa! Cepat bersihkan dirimu, dan ganti baju, bajumu basah. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu."

"Lihat, kamu sudah seperti istri kecil yang sedang mengomeli suaminya,"

"Diamlah ... dan cepat bersihkan dirimu!" Li Xiao Ke mendorong tubuh Timmy ke kamar mandi.

"Xiao Ke, bantu aku mandi ...." Timmy masih menggoda.

Mata bulat Li Xiao Ke langsung melotot dengan sempurna, dia mendorong tubuh Timmy masuk ke kamar mandi, lantas menutupnya sembari memekik kencang.

"Dasar mesum!"

Bab 2

Sepertinya Timmy sangat lelah, setelah makan malam yang disiapkan Li Xiao Ke tadi malam, dia langsung tertidur lelap. Dinginnya udara di pagi hari, membuatnya enggan keluar dari balik selimut. Hingga sinar mentari pagi menyeruak masuk di sela tirai jendela kaca besar, cahaya kuning keemasan itu begitu lancang, dan jatuh tepat di atas mata pria tampan itu, yang kemudian membuat pria tampan itu terbangun dari tidurnya yang lelap.

Timmy sedikit membuka matanya, mengintip ruangan yang cukup asing, dia baru ingat kalau dia sedang berkunjung ke rumah Li Xiao Ke. Bibirnya tersenyum, akhirnya setelah satu tahun, dia bisa melihat wajah imut yang selalu dirindukannya, bukan melalui ponsel atau layar laptopnya, saat mereka sedang melakukan video call. Kini dia bisa memeluk, dan merasakan, betapa hangatnya tubuh mungil itu. Bibirnya masih tersenyum mengingat betapa imutnya Li Xiao Ke saat gadis itu sedang marah, manakala ia menggodanya tadi malam.

Timmy memalingkan wajahnya ke samping, Gendut yang menemaninya tidur di kamar tamu tadi malam, telah menghilang entah kemana. Dengan perasaan malas, dia mulai bangkit dari tempat tidurnya, langkahnya yang lebar mulai berjalan untuk meraih gawai pintu kamar. Wajah manis Li Xiao Ke menyambut, membuat kesadaran Timmy kembali sepenuhnya. Bibirnya kembali mencekung, perlahan dia mulai mendekati Li Xiao Ke yang berdiri di depan meja makan, entah apa yang sedang dia kerjakan.

"Pagi little wife," sapa Timmy sambil memeluk Li Xiao Ke dari belakang, yang membuat gadis itu sedikit terkejut dan menjatuhkan sendok di tangannya.

"Iih ... apaan sih, pagi-pagi dah main peluk-peluk!" protes Li Xiao Ke yang hanya disambut oleh senyuman manis Timmy.

Ckrek! ckrek!

Sontak, Timmy dan Li Xiao Ke segera menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Gendut yang memotret mereka.

"Wohoho ... kalian memang suami istri yang sempurna," ucap Gendut sembari tersenyum lebar.

"Gendut, cepat hapus sekarang!" Li Xiao Ke mulai berteriak.

"Kenapa dihapus? Ini kan bagus. Biar aku kirim ke akun fanpage Bos Tim, ini akan menjadi trending ter-hot minggu ini."

"Jangan coba-coba melakukan itu!" Li Xiao Ke masih bersikeras. 

"Kenapa kamu melarangnya, apakah kamu malu menjadi pacarku?" wajah Timmy terlihat kesal.

"Bukan begitu Ko, kamu ingat saat aku mengunggah foto kita di Shanghai tahun lalu. Semua fans fanatik mu menghujatku, seolah aku ini bukan manusia."

"Apa yang membuatmu sakit hati?"

"Mereka bilang aku kerdil."

"Hahahaha ... bukankah itu memang benar? Lihat, kamu hanya setinggi bahuku."

"Iih ... lepaskan aku! Kamu membuatku emosi, hingga aku ingin memakan semua telur-telur ini." Li Xiao Ke menunjuk telur-telur di depannya.

Timmy terkekeh lagi, kemudian memegang kepala Li Xiao Ke, "Bagus, makanlah yang banyak, biar cepat tumbuh tinggi, kerdil. Hahahaha ...."

Timmy langsung masuk ke kamar mandi setelah mengatakan itu.

Seperti biasa setelah sarapan, Li Xiao Ke sibuk dengan laptopnya, mengedit foto dan video untuk diunggah ke channel pribadinya. Pada saat itu, Gendut datang dengan amplop di tangannya.

"Ada apa?" tanya Li Xiao Ke yang melihat Gendut mematung di hadapannya.

"Nona Li, Bos menyuruhku untuk mengantarkan ini padamu." Gendut menyodorkan amplop di tangannya.

"Apa ini?"

"Aku tidak tahu, aku hanya disuruh si Bos untuk mengantarnya kepada Nona." 

"Oh … Xie xie," ucap Li Xiao Ke setelah menerima amplop itu.

Setelah Gendut berlalu, Li Xiao Ke segera membuka amplop itu, dan ternyata isinya adalah kartu debit.

"Kenapa dia memberiku uang?" gumam Li Xiao Ke lirih.

Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menemui Timmy di kamarnya.

"Ko Timmy, apa kamu di dalam?" Li Xiao Ke bertanya sambil mengetuk pintu.

"Ya, masuklah." Terdengar suara Timmy menyahut dari dalam kamar.

Li Xiao Ke segera masuk, dan mendapati Timmy baru saja berganti pakaian.

"Ada apa?" tanya Timmy setelah wajah imut itu muncul di depannya.

"Kenapa kamu memberiku uang?"

"Tidak ada alasan, hanya ingin memberi saja."

"Aku tidak mau. Ini, aku kembalikan." Li Xiao Ke menyodorkan amplop itu, berniat mengembalikannya kepada Timmy

Timmy menatap Li Xiao Ke sepersekian detik, kemudian berujar,  "Kamu bisa menyimpannya, aku tidak ingin tinggal di rumahmu secara gratis."

"..." Li Xiao Ke tampak terdiam.

Tiba-tiba bibir Timmy mencekung, sebuah senyuman mulai tersemai di bibirnya yang manis. "Lagi pula, bukankah seorang suami harus menafkahi istrinya?"

"Istri apa, menikah saja belum?"

Tanpa disangka, Timmy langsung meraih tangan Li Xiao Ke dan menekannya ke tempat tidur, Li Xiao Ke terjatuh di atas kasur dan tertindih oleh tubuh Timmy.

"Memangnya kenapa kalau kita belum menikah, hmm?" tanya Timmy lembut yang membuat jantung Li Xiao Ke berdesir.

Li Xiao Ke yang terperanjat merasa sangat gugup, jantungnya mulai terpacu begitu kencang. "Ko Timmy, bisakah kita mengubah posisi? Ini sangat tidak nyaman."

"Posisi seperti apa yang kamu inginkan?" Suara Timmy masih terdengar lembut dengan setengah berbisik.

"Ko Timmy, berhenti bersikap cabul dan mesum seperti ini," suara Li Xiao Ke terdengar sedikit meninggi tapi bergetar.

"Jika aku cabul dan mesum, kenapa aku harus berhenti?" Timmy mulai mencium pipi Li Xiao Ke dengan lembut.

Pada saat itu tiba-tiba pintu kamar terbuka, Gendut masuk ke dalam kamar, dan tentu saja dia menyaksikan adegan yang memalukan itu. Sontak, Timmy dan Li Xiao Ke langsung memiringkan wajah mereka, menoleh ke arah Gendut.

"O.o ... maaf, aku tidak melihat apa-apa." Gendut segera menutup pintu kamar kembali.

Li Xiao Ke mulai kesal, dan mulai berusaha untuk melepaskan diri dari tekanan Timmy, tetapi nyatanya dia tidak cukup kuat untuk melakukan itu.

"Ko Timmy, lepaskan aku!"

"Tidak mau."

"Ko Timmy ...!" Suara Li Xiao Ke naik dua oktaf.

Timmy tertawa, "Baiklah ... tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Kamu tidak boleh mengembalikan kartu debit yang kuberikan padamu."

"Tidak mau!"

"Kalau begitu ...." Timmy hendak mencium Li Xiao Ke lagi.

"Oke ... oke ... aku menerimanya, sekarang lepaskan aku!" Li Xiao Ke langsung menyetujui permintaan Timmy. Tentu saja Timmy langsung tersenyum puas, dan segera melepaskan Li Xiao Ke.

"Hah ... kamu sangat mengerikan, dasar mesum!" Li Xiao Ke langsung memukul lengan Timmy dengan kesal. Sedangkan Timmy hanya membalas dengan tawa renyahnya, dia begitu senang melihat wajah imut Li Xiao Ke yang marah dengan begitu menggemaskan.

Puas memukuli lengan Timmy, Li Xiao Ke segera meninggalkan pria tampan itu. Tapi sesampainya di depan pintu, tiba-tiba dia mulai ragu, bibir kecilnya mulai mencebik, dengan mata yang menyipit, mengingat Gendut telah melihat apa yang telah dilakukan Timmy padanya tadi. Dia mulai menebak-nebak, apa yang sedang dipikirkan Gendut tentang dirinya saat ini. Sepertinya dia sangat malu untuk bertemu dengan Gendut.

"Kenapa, kamu masih ingin berada di sini bersamaku?" tanya Timmy ketika melihat Li Xiao Ke tiba-tiba berdiri membeku di depan pintu.

"Ini semua salahmu. Rasanya sekarang aku tidak punya muka untuk bertemu dengan Gendut" Li Xiao Ke segera menekuk kepalanya dengan lesu.

Timmy terkikik, melihat betapa polos gadisnya itu, "Li Xiao Ke kamu sangat lucu. Memang kenapa kalau Gendut melihat kita? Kita adalah pasangan."

Li Xiao Ke kembali mencebikkan bibirnya, dia sudah tidak mood lagi untuk menjawab pertanyaan Timmy, ia langsung menarik napas panjang, membuka pintu, dan meninggalkan ruangan.

Sesampainya di luar, Li Xiao Ke segera melihat Gendut dan Nana yang sedang duduk di sofa. Begitu melihat Li Xiao Ke, Gendut langsung tersenyum penuh arti dengan sedikit nyengir kepadanya.

"Nona Li, apakah saya perlu memindahkan semua barang Bos Tim ke kamar mu?"

"Diam, kamu, Gendut!" Li Xiao Ke menjawab dengan ketus.

Tawa Gendut langsung pecah seketika mendengar hardikan Li Xiao Ke.

Tatapan Li Xiao Ke beralih pada Nana yang terus memperhatikannya sejak tadi, "Apa lihat-lihat?!" tanya Li Xiao Ke pada Nana masih dengan nada ketus, kemudian berlalu meninggalkan kedua asistennya setelah mengucapkan itu.

Nana yang tidak tahu apa-apa terlihat bingung dengan sikap majikannya. Dengan wajah tak berdosa dia mulai bertanya pada Gendut, "Apa salahku?"

Tawa Gendut semakin menjadi, sampai jumpalitan, mendengar pertanyaan polos dari Nana.

Bab 3

Timmy terlihat bosan dan kesal, karena Li Xiao Ke terus mengabaikannya sepanjang hari, sudah menjadi kebiasaan Li Xiao Ke ketika dia tidak ada kerjaan, dia sibuk bermain game online. Mendadak Li Xiao Ke menjadi sangat gusar ketika Timmy tiba-tiba menutup laptopnya dengan paksa. Alisnya berkerut, dengan bibir kecil yang terkatup rapat, hingga membentuk garis lurus di bibir mungilnya, dia menoleh ke arah Timmy, yang kondisi wajahnya kurang lebih sama buruknya dengan dirinya.

"Ko Timmy, apa yang kamu lakukan? Jangan ganggu aku!"

"Kamu benar-benar menyebalkan. Kamu sibuk seharian dengan laptopmu, sekarang aku tidak akan membiarkanmu mengabaikanku lagi. Kamu hanya boleh memperhatikanku sekarang!"

Li Xiao Ke hanya mencebikkan bibir kecilnya, dengan sudut matanya melirik ke samping mendengar keluhan Timmy.

"Aku bosan, jangan abaikan aku lagi!" lanjut Timmy.

"Baiklah, katakan apa yang kamu inginkan, sebagai tuan rumah yang baik, aku akan mengabulkannya untukmu."

"Janji?"

"Janji, kamu mau apa? Jalan-jalan? Makan es krim? Olahraga di gym? Nonton film? Atau belanja?"

"Aku tidak mau semuanya," jawab Timmy dengan tersenyum, senyuman yang begitu manis, semanis kembang gula yang dijual di pasar malam.

"Senyummu sangat mencurigakan, aku tidak akan mengabulkannya jika permintaanmu tidak masuk akal,"

Masih dengan senyuman, Timmy mulai menggenggam kedua tangan Li Xiao Ke "Uumm ... Li Xiao Ke, bukankah kita sudah lama berpacaran, apa hubungan kita hanya cukup berpegangan tangan dan makan es krim?"

"Memang kenapa? Tidak ada yang salah dengan berpegangan tangan, dan makan es krim?"

"Memang tidak. Tapi, bisakah kita melakukan K-I-S-S?"

Li Xiao Ke segera menarik tangannya dari cengkeraman Timmy, "Apakah itu perlu?"

"Tentu saja, bukankah kita sudah dewasa?"

"..."

"Atau sebenarnya kamu tidak benar-benar menyukaiku?" Timmy mulai memancing.

"Kenapa kamu mengatakan itu, jelas-jelas aku sangat menyukaimu."

"Lalu kenapa kamu melarang mempublikasikan hubungan kita? Kamu juga melarang mengunggah foto kita di akun pribadiku. Apa kamu malu menjadi pacarku?"

"Bukan seperti itu Ko, kamu adalah dewa, sementara aku rakyat jelata, aku hanya tidak ingin menyeretmu ke bawah. Lagi pula, aku akan menjadi satu-satunya yang akan menjadi subjek intimidasi netizen."

"Kamu begitu peduli dengan netizen, tapi kamu sama sekali tidak peduli dengan perasaanku,"

"Maaf, aku tidak bermaksud begitu."

"Lalu apakah hubungan kita hanya cukup untuk mencintai saja, tanpa melakukan apa-apa?"

Li Xiao Ke terdiam, dia memutar otak mencari cara untuk menghindari Timmy. "Umm ... aku haus, aku akan minum dulu."

Li Xiao Ke beranjak meninggalkan Timmy, tapi dengan cepat,Timmy segera meraih pinggang Li Xiao Ke yang terasa ramping di tangannya, hingga tubuh kekasihnya itu jatuh ke dalam pelukannya. Untuk sepersekian detik mereka saling berpandangan dalam diam.

"Jangan pernah mencoba melarikan diri dariku!" ucap Timmy kemudian. Lembut, tapi terdengar tegas di telinga Li Xiao Ke.

Perlahan Timmy mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Li Xiao Ke, begitu dekat, hingga berjarak beberapa milimeter. Jantung Li Xiao Ke berdebar begitu kencang, dia begitu gugup, hingga napasnya mulai berhenti, dengan matanya yang terpejam. Dia tidak tahu berapa lama dia telah menahan napas, dia hanya merasakan lehernya terasa tercekik, meskipun dia ingin mengembuskan napas dengan leluasa.

"Xiao Ke, kenapa kamu berhenti bernapas? Kamu akan mati jika terus menahannya."

Suara Timmy, langsung membuat mata Li Xiao Ke terbuka lebar. Dan benar, dia langsung melihat Timmy yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya. Sekarang dia baru menyadari, kalau Timmy sedang mengerjainya sekarang.

"Sialan! Minggiirrr!" Li Xiao Ke berteriak sambil mendorong tubuh Timmy, lalu berlalu dengan kesal. Sementara itu Timmy terus tertawa terbahak bahak penuh kemenangan.

Li Xiao Ke berjalan ke arah Nana dan Gendut yang sedang menonton drama di ruang tengah. Dengan wajah keruh, Li Xiao Ke menjatuhkan diri di atas sofa dengan kasar. Nana hendak bertanya tetapi Li Xiao Ke segera menginterupsi.

"Jangan bertanya apapun, aku sedang dalam suasana hati yang tidak baik!"

Nana yang sudah mangap segera menutup mulutnya kembali. Tidak lama kemudian, Timmy datang dan langsung menghampiri Li Xiao Ke.

"Pergi sana! Jangan dekat-dekat denganku!" usir Li Xiao Ke.

Melihat Li Xiao Ke tampak kesal, Timmy semakin bersemangat menggodanya. "Memang kenapa, kalau aku dekat-dekat denganmu?"

Timmy segera menjatuhkan kepalanya di pangkuan Li Xiao Ke. Li Xiao Ke ingin mendorong kepala Timmy, namun Timmy langsung menangkap tangan Li Xiao Ke, lalu menciumnya dengan tersenyum mengejek.

"Ih ... lepaskan tanganku!" Li Xiao Ke mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Timmy.

"Haruskah kita melihat adegan ini?" bisik Nana kepada si Gendut.

Gendut: "Benar, pertengkaran mereka begitu imut dan menggemaskan, seperti pasangan suami istri."

Nana terkikik geli.

Gendut: "Ehemm ... Tuan dan Nyonya Jiang, apakah kalian akan terus bermain dan menggoda di depan kita?"

"Diam ...!" pekik Timmy dan Li Xiao Ke serempak.

Mendadak wajah Gendut menjadi keruh, membuat Nana kembali terkikik.

Nana: "Gendut, sepertinya kita yang harus pergi,"

Gendut mengangguk. Tapi begitu mereka bangkit dari tempat duduk mereka, Li Xiao Ke segera protes menghentikan langkah mereka.

"Eh ... eh ... kalian mau pergi kemana? Kalian dilarang pergi, cepat duduk kembali!"

Nana dan Gendut saling berpandangan dan segera duduk kembali.

"Cepat kalian mencari cara agar aku terbebas dari penindas ini!" lanjut Li Xiao Ke.

Gendut: "Nona Li, apakah kamu bercanda, dia akan memecatku jika aku melakukan itu,"

Tentu saja Timmy langsung tersenyum mendengar itu.

Nana: "Aku punya ide, ayo kita bermain."

Gendut: "Main apa?"

Nana: "Lempar botol."

Gendut: "Aku tidak mau, itu pasti akan sangat sakit jika benar-benar terkena."

Nana : “Bukan dilempar beneran, itu hanya diputar di atas meja, orang yang memutar botol bisa bertanya apa saja kepada orang yang tertembak botol. Kalau tidak bisa menjawab, atau tidak mau menjawab, orang yang tertembak harus mencium orang yang mengajukan pertanyaan."

Timmy: "Setuju, ini seperti permainan truth or dare."

Gendut: "Aku juga setuju."

Li Xiao Ke: "Kalau begitu lepaskan tanganku."

Timmy segera melepaskan tangan Li Xiao Ke, dan bangkit dari pangkuannya.

Gendut memulai permainan, dia memutar botol, dan botol itu membidik ke arah Li Xiao Ke "Nona Li, kamu tertembak, sekarang jawab pertanyaan ku."

"Baiklah ...."

"Apa yang kamu lakukan dengan bos, ketika aku melihatmu di kamar kemarin?"

Timmy langsung mengulum bibir menahan tawa mendengar pertanyaan Gendut. Sementara itu, Li Xiao Ke meliriknya dengan kesal dari sudut matanya yang menyipit.

"Tidak ada, hanya sedang menghajar preman mesum." Li Xiao Ke menjawab datar, Timmy masih tersenyum.

"Sekarang giliran ku," Nana memutar botol dan botol berhenti menembak Timmy.

"Tuan Jiang, sudah seberapa jauh hubunganmu dengan Nona Li?"

"Suami istri," jawab Timmy dengan cepat.

Nana dan Gendut sangat terkejut, dan menutup mulut mereka yang menganga dengan kedua tangan mereka. Li Xiao Ke sangat kesal, dan segera memukul lengan Timmy yang tampak berotot.

"Aw ... sakit tau, kenapa kamu memukulku? Kamu bilang aku penindas, tapi kamulah yang sebenarnya menindas. Sejak aku datang ke sini, kamu terus memukuliku," protes Timmy.

"Ya, itu karena kamu terus mengacau."

"Baiklah ... baiklah ...tidak ada hubungan suami istri, hanya sejauh kalian memandang. Puas?!"

Li Xiao Ke tersenyum. Napas Nana dan Gendut yang sejak tadi tertahan, akhirnya berembus kembali. Li Xiao Ke melanjutkan permainan, dan botol itu kembali menembak ke arah Timmy.

"Ko Timmy, sudah berapa banyak adegan ciuman yang telah kamu perankan?"

Timmy hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, dan dengan cepat dia segera mencium pipi Li Xiao Ke. Li Xiao Ke langsung terkesiap, begitu cepat, sampai dia tidak bisa menghindari ciuman itu, membuat pipinya memerah karena tersipu. Nana dan Gendut langsung terkikik.

Masih dengan senyuman, Timmy melanjutkan permainannya, dan botol itu berhenti tepat ke arah Li Xiao Ke. Tiba-tiba, senyuman Timmy, berubah menjadi senyuman licik.

"Berapa banyak jumlah bintang di langit?" tanya Timmy dengan lantang pada Li Xiao Ke.

Nana dan Gendut terkikik dengan berisik, menahan tawa, mendengar pertanyaan itu. Ini jelas-jelas jebakan betmen.

Sontak, mata Li Xiao Ke langsung terbelalak, dan segera protes. "Ko Timmy, kamu sengaja ya?!"

"Ada apa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"

"Bagaimana aku bisa tahu berapa banyak jumlah bintang di langit?"

"Berarti sekarang kamu harus menciumku."

Li Xiao Ke menatap Nana dan Gendut yang terus cekikikan. Ia bingung memilih menjadi pemenang atau pecundang.

"Sudah ... sudah ... aku menyerah, aku tidak ingin melanjutkan permainan. Aku juga tidak ingin menciummu!" seru Li Xiao Ke kemudian, tidak ingin membuat Timmy besar kepala.

Timmy tersenyum sinis, "Pecundang!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED