Di puncak karierku, notaris memberitahuku bahwa ayahku, Farhan Hadisaputro, telah mencabut hak warisku. Seluruh aset keluarga, termasuk bengkel batik legendaris kami, diwariskan kepada asistennya, Dahlia.
Aku hancur, terlebih saat melihat ayah merawat Dahlia yang sedang sakit dengan penuh kasih sayang, cinta yang seharusnya menjadi milikku.
Dahlia, yang ternyata hamil anak ayahku, menjebakku dua kali, membuatnya seolah-olah aku mendorongnya hingga keguguran.
Ayah murka dan mengusirku, bahkan menuduhku mandul. "Anggita tidak akan pernah bisa memberiku anak," ucapnya dingin.
Aku tidak hanya dikhianati, tapi juga dihina oleh ayah kandungku sendiri.
Di tengah keputusasaan, aku menemukan fakta yang mengejutkan: aku hamil anak kekasihku, Sagara.
Aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan semua kepahitan di belakang. Dengan bantuan pengacara, aku mengubah identitasku dan memulai hidup baru di Bali, bersumpah untuk melindungi anakku dan tidak akan pernah kembali.
Bab 1
Anggita POV:
Kata-kata notaris itu terasa seperti palu godam yang menghancurkan seluruh duniaku dalam sekejap.
"Anggita, saya baru saja memeriksa wasiat terakhir Tuan Farhan Hadisaputro," Notaris itu menatapku dengan sorot mata yang penuh belas kasihan.
"Setahun yang lalu, beliau telah mencabut hak warismu."
Aku merasakan napas tertahan di paru-paru.
Tidak mungkin.
Ini pasti salah.
"Apa maksud, Bapak?" Suaraku serak, hampir tidak terdengar.
Notaris itu menghela napas.
"Semua aset keluarga, termasuk bengkel batik 'Hadisaputro' yang legendaris, akan diwariskan sepenuhnya kepada Nona Dahlia Pusponegoro."
Dahliá?
Asisten ayahku?
Duniaku berputar.
Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir kabut yang menyelimuti pikiranku.
Ini pasti mimpi buruk.
Baru saja aku kembali dari pameran internasional di Paris.
Karya-karyaku memenangkan penghargaan, dan aku berhasil mendapatkan kontrak besar yang akan membawa nama 'Hadisaputro' ke panggung dunia.
Aku ingin memberikan kejutan pada ayah.
Membuktikan padanya bahwa inovasi dan tradisi bisa berjalan beriringan.
Tapi sekarang, semua itu terasa seperti lelucon kejam.
Sebuah getaran di saku membuatku terlonjak.
Itu ponselku.
Sagara.
Kekasihku.
Ponsel itu bergetar lagi, menampilkan pesan darinya.
"Selamat, sayang. Aku bangga padamu. Kamu berhasil!"
Melihat pesan itu, hatiku terasa seperti dicabik-cabik.
Bagaimana aku bisa memberikan kejutan ini sekarang?
Kejutan yang seharusnya membahagiakan, kini terasa sangat pahit.
Dadaku sesak.
Udara di ruangan ini terasa menipasku.
Aku ingat senyum bangga ayah saat pertama kali aku menunjukkan desain batik modernku.
Aku ingat pelukannya yang hangat saat aku berhasil menjual karya pertamaku.
Apakah semua itu hanya pura-pura?
Apakah cintanya padaku hanya sebuah topeng?
Kenapa ini terjadi?
Sejak kecil, aku hidup untuk batik.
Batik adalah napasku, darahku.
Ayah mengajarkanku setiap lekuk, setiap makna di balik motif.
"Anggita, kamu adalah penerusku," kata ayah suatu kali.
"Warisan ini ada di tanganmu."
Kata-kata itu terngiang di telingaku, kini terdengar seperti ejekan.
Aku ingin percaya bahwa ini hanyalah kesalahpahaman.
Bahwa ayahku tidak akan pernah melakukan ini.
Namun, firasat buruk merayapi hatiku.
Firasat yang mengatakan bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih buruk.
Aku harus mencari ayah.
Meskipun kakiku terasa berat, aku memaksa diriku bangkit.
Aku harus mendengar langsung darinya.
Mungkin notaris itu salah.
Mungkin ada penjelasan lain.
Pikiranku berpacu, membayangkan berbagai skenario.
Aku hanya ingin melihat ayah, memeluknya, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika aku tiba di rumah sakit, nafasku tercekat.
Bau antiseptik menyengat hidungku.
Di salah satu koridor yang sepi, aku melihatnya.
Farhan Hadisaputro.
Ayahku.
Maestro batik yang kuagumi.
Rambutnya yang beruban kini terlihat lebih berantakan.
Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya…
Sorot matanya menunjukkan kasih sayang yang tak terbatas.
Tapi bukan untukku.
Ayah sedang duduk di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan seorang wanita.
Dahlia.
Asisten ayahku.
Tubuh Dahlia tampak lemah, wajahnya pucat pasi, namun senyum tipis tersungging di bibirnya saat ayah mengusap lembut keningnya.
Ayah membisikkan sesuatu, dan Dahlia terkekeh pelan.
Pemandangan itu menusukku lebih dalam dari pisau manapun.
Asisten yang telah bekerja dengan kami selama bertahun-tahun.
Wanita yang selalu tampak kalem dan patuh.
Wanita yang kini menerima seluruh warisanku.
Aku merasakan jantungku berdebar tak karuan.
Darahku mendidih.
Kepalaku mulai pusing.
Badanku bergetar hebat.
Aku ingin berteriak, ingin menghancurkan apa pun di dekatku.
Namun, suaraku tercekat di tenggorokanku.
Aku hanya bisa berdiri di sana, seperti patung, menyaksikan pengkhianatan ini terkuak di depan mataku.
Ayah, yang selalu kudambakan cintanya.
Ayah, yang selalu kujadikan panutan.
Dia merawat wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi milikku.
Selama ini, aku telah mencurahkan seluruh hidupku untuknya, untuk nama 'Hadisaputro'.
Dua puluh delapan tahun.
Dua puluh delapan tahun aku percaya pada warisan itu.
Dua puluh delapan tahun aku percaya pada cintanya.
Betapa bodohnya aku.
Kini aku tahu.
Cinta itu hanyalah sebuah ilusi yang manis.
Sebuah kebohongan yang kejam.
Anggita POV:
Malam itu, gambar-gambar wasiat yang ditunjukkan notaris kembali berputar di benakku.
Aku ingat samar-samar, sekitar setahun yang lalu, ada beberapa dokumen yang ayah minta aku tanda tangani.
Dia bilang itu hanya formalitas, dokumen rutin perusahaan.
Aku tidak pernah melihat isinya dengan detail, terlalu percaya padanya.
Terlalu sibuk dengan impian batiku.
Aku menandatanganinya tanpa ragu.
Sebuah tanda tangan yang kini terasa seperti jebakan kematian.
Sial!
Aku mencengkeram kepalaku, merasakan nyeri berdenyut di pelipis.
Dia memalsukan tanda tanganku.
Dia berani memalsukan tanda tanganku pada surat pencabutan hak waris itu!
Amurka, amarah, dan rasa sakit yang menusuk bercampur menjadi satu, membuatku ingin berteriak.
Aku bangkit, berjalan gontai menuju kamar mandi.
Kulihat bayanganku di cermin.
Wajahku pucat, mataku bengkak.
Di mataku, aku melihat rasa sakit yang mendalam, rasa sakit yang tak terlukiskan.
Aku benci diriku yang begitu bodoh.
Aku benci diriku yang begitu mempercayai ayahku.
Aku benci diriku yang telah menyerahkan segalanya untuknya.
Aku meraih sikat gigi dan menggosok gigiku dengan kasar, seolah ingin menghilangkan rasa pahit di mulutku.
Saat itulah, pandanganku jatuh pada sebuah kotak kecil yang tersimpan di sudut lemari.
Kotak itu berisi benda-benda kenangan tentang hubunganku dengan Sagara.
Termasuk alat tes kehamilan.
Aku teringat saat-saat putus asa dulu.
Berulang kali aku mencoba.
Berulang kali aku gagal.
Sagara selalu menghiburku.
"Tidak apa-apa, sayang. Kita bisa coba lagi," katanya dengan sabar.
Tapi aku tahu, dia juga menginginkan seorang anak.
Dia ingin membangun keluarga bersamaku.
Aku ingat saat terakhir kali aku mencoba program IVF, diam-diam.
Aku tidak ingin Sagara kecewa lagi.
Aku ingin memberinya kejutan paling indah.
Sebuah harapan kecil kuberikan pada diriku sendiri.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengambil alat tes kehamilan itu.
Tanganku bergetar saat aku mengikuti instruksi.
Menit-menit yang terasa seperti jam.
Satu garis.
Dua garis.
Dua garis merah terang.
Positif.
Aku hamil.
Darahku berdesir.
Sebuah senyum kecil muncul di bibirku, senyum yang terasa begitu asing di tengah kekacauan ini.
Aku hamil.
Anakku.
Anak Sagara.
Aku meraih ponsel, ingin segera memberitahunya.
"Sayang, aku hamil."
Sebuah kebahagiaan yang seharusnya menjadi puncak segalanya.
Kejutan yang seharusnya kubawa pulang dari Paris bersamaan dengan kabar penghargaan.
Tapi semua itu kini hancur berkeping-keping.
Ayahku telah mencabut hak warisku.
Dia memalsukan tanda tanganku.
Dia merawat wanita lain dengan cinta yang seharusnya menjadi milikku.
Dan kini, aku hamil.
Betapa ironisnya hidup ini.
Ayahku tidak hanya mengkhianatiku, dia juga merenggut kebahagiaanku.
Dia merebut impianku.
Dia menghancurkan segalanya.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka mengagetkanku.
"Anggita? Kamu di rumah?"
Itu suara Farhan.
Ayah.
Aku buru-buru menyembunyikan alat tes kehamilan di balik punggungku.
Aku harus menyembunyikannya.
Aku tidak bisa memberitahunya sekarang.
Dia masuk ke kamar mandi, wajahnya tampak khawatir.
"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?"
Dia mendekat, mencoba menyentuh tanganku.
Aku menarik tanganku, menghindarinya.
Aku tidak tahan disentuh olehnya.
Sentuhannya terasa menjijikkan.
Aku teringat saat-saat dulu, ketika aku demam tinggi.
Ayah akan mencariku ke mana-mana, panik.
Dia akan menggendongku, memelukku erat.
"Jangan sakit, sayang. Ayah tidak bisa hidup tanpamu," katanya.
Apakah itu semua hanya kebohongan?
Apakah itu semua hanya bagian dari sandiwara besarnya?
Aku menatapnya, mencoba membaca sesuatu di matanya.
Maaf?
Penyesalan?
Tidak ada.
Hanya kehampaan.
"Aku... aku tidak apa-apa," kataku, mencoba membuat suaraku terdengar normal.
"Aku hanya kurang enak badan."
Dia memelukku erat, dan aku merasakan tubuhku menegang.
Aku ingin mendorongnya, tapi aku tidak punya kekuatan.
"Maafkan ayah, sayang," bisiknya.
"Ayah tahu ayah telah mengecewakanmu."
Kecewa?
Dia bilang mengecewakan?
Mengkhianatiku, memalsukan tanda tanganku, memberikan seluruh warisan kepada wanita lain, itu hanya 'mengecewakan'?
Aku hanya bisa menatap kosong ke dinding.
Ponselnya berdering.
Dia melepaskan pelukannya, melihat layar ponselnya.
Wajahnya berubah.
Ada sedikit kepanikan di matanya.
Dia berjalan keluar dari kamar mandi, menjawab telepon.
"Halo, sayang. Ada apa?"
Suaranya terdengar lembut, penuh perhatian.
Aku tahu siapa yang menelepon.
Dahlia.
Dia kembali masuk, buru-buru mengambil kunci mobilnya.
"Ayah harus pergi sekarang," katanya.
"Dahlia... dia tidak enak badan."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dia menatapku sebentar, seolah menunggu reaksku.
Tapi aku hanya diam, membiarkan dia pergi.
Dia menghilang dari pandanganku.
Aku menjatuhkan alat tes kehamilan itu ke lantai.
Garis merah terang itu kini terlihat begitu menyakitkan.
Anakku.
Aku akan melindungimu.
Aku akan membesarkanmu sendirian.
Tanpa dia.
Tanpa nama 'Hadisaputro'.
Aku akan menunjukkan pada mereka, bahwa aku bisa bersinar lebih terang.
Aku mulai mengemasi barang-barangku.
Sudah waktunya aku pergi.
Anggita POV:
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah sakit lagi.
Kali ini bukan untuk bertemu ayah, melainkan untuk memastikan sesuatu.
Aku harus tahu.
Aku harus memastikan bahwa dugaanku benar.
Perutku terasa mual, bukan hanya karena kehamilan, tapi juga karena kecemasan.
Aku berdoa dalam hati agar aku salah.
Agar semua ini hanyalah kesalahpahaman.
Tapi saat aku mendekati kamar Dahlia, aku melihatnya lagi.
Farhan.
Ayahku.
Dia sedang berbicara dengan seorang dokter, wajahnya tampak sangat serius.
Setelah dokter itu pergi, ayah masuk ke kamar Dahlia.
Aku mengintip dari balik tiang.
Ayah menggenggam tangan Dahlia, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanyanya lembut.
Dahlia tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja, Mas. Jangan terlalu khawatir."
Mas.
Dia memanggil ayahku 'Mas'.
Suara itu menghantamku seperti gelombang.
Mas.
Panggilan yang hanya diucapkan oleh seorang istri kepada suaminya.
Darahku berdesir, mataku berkunang-kunang.
Aku merasakan napasku tersangkut di tenggorokan.
Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekikku.
Aku harus bernapas.
Aku harus tetap tenang.
Aku beringsut lebih dekat, bersembunyi di balik sebuah tanaman besar.
Aku harus mendengar lebih banyak.
"Jangan khawatirkan aku," kata Dahlia.
"Pikirkan saja bayi kita. Dia yang terpenting."
Bayi kita.
Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan telak.
Dunia di sekitarku terasa berputar, dan aku nyaris roboh.
Aku mencengkeram dadaku, rasa sakit itu begitu kuat hingga membuatku terhuyung.
Bayi mereka?
Jadi Dahlia hamil?
Hamil dengan anak ayahku?
Aku merasa mual.
Tiba-tiba, suara lain terdengar.
Seorang wanita muda, teman ayahku, mendekat.
"Farhan, aku turut prihatin," katanya, menatap ayahku dengan prihatin.
"Aku dengar Dahlia keguguran."
Keguguran.
Kata itu bergema di telingaku.
Dahlia keguguran.
Teman ayahku menatapku.
"Bagaimana dengan Anggita? Apakah dia tahu tentang ini?"
Ayahku terdiam sejenak.
Lalu dia menjawab, suaranya dingin, tanpa emosi.
"Anggita tidak akan pernah bisa memberiku anak."
"Dia mandul."
Mandul.
Kata itu menghantamku lebih keras dari apa pun yang pernah kudengar.
Aku mencengkeram tanganku, kukuku menancap di telapak tanganku.
Sakit.
Sakit yang begitu dalam.
Aku tidak hanya dikhianati, tapi juga dihina.
Dihinakan oleh ayah kandungku sendiri.
"Aku tidak bisa membayangkannya, Farhan," kata teman ayahku.
"Kamu sudah mencoba program kehamilan dengan Anggita selama bertahun-tahun."
"Dan Dahlia... dia hanya butuh waktu sebentar..."
"Anggita terlalu sibuk dengan kariernya," Ayahku memotong.
"Dia tidak pernah benar-benar serius ingin punya anak."
"Hanya Dahlia yang bisa memberiku keturunan."
Aku merasa seperti dilemparkan ke dalam jurang kegelapan.
Ayahku tidak hanya mencabut hak warisku, tapi dia juga menghancurkan harga diriku.
Dia membunuh harapanku.
Dia menjadikan Dahlia segalanya.
Dan aku?
Aku tidak lebih dari seorang wanita mandul yang tidak berguna di matanya.
Aku merasakan air mata mengalir di pipiku, panas dan perih.
Aku harus pergi dari sini.
Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi.