Bab 1

"Pembunuhan di komplek Tronto kembali menjadi sorotan setelah kemarin malam terjadi pembunuhan yang kedua. Polisi menyatakan jika ini akan ditetapkan sebagai pembunuhan berantai. Kini, rekan kami sudah berada di TKP untuk melakukan pengamatan lebih jauh. Terlihat di gang yang menuju komplek memiliki pencahayaan yang minim, menambah keyakinan masyarakat bahwa tempat ini sangat mudah dijadikan lokasi aksi kejahatan. Terlebih, tidak ada CCTV di sekitar gang."

Penyiar berita menyampaikan informasi itu dengan suara lantang dan tenang, lengkap dengan gestur seorang profesional. Namun perhatian seorang pria di ruangan remang itu tidak tertuju pada isi beritanya-melainkan pada kotak kecil di pojok layar, tempat seorang wanita cantik dengan raut tenang menerjemahkan seluruh informasi dalam bahasa isyarat.

Tatapan mata biru tajam itu hanya terpaku pada wanita tersebut. Pandangannya sedingin lautan es, namun sorotnya menyiratkan badai dalam diam.

Klik.

Televisi dimatikan. Sang kepala divisi kriminal, Sato Daneyo, mengembuskan napas panjang sebelum memutar kursinya, menatap para anggotanya.

"Siapa yang menyebarkan informasi kacau ini? Pembunuhan berantai? Media hanya memperkeruh situasi. Pembunuh itu pasti sedang mengawasi kita dan merasa bangga karena karyanya menjadi sorotan publik."

Nada suaranya sarat dengan kekesalan. Ruangan itu dipenuhi dengan aroma kopi yang mulai dingin dan ketegangan yang menggantung berat di udara.

Lalu, tatapannya jatuh pada seorang pria berbadan kekar yang duduk diam dengan wajah termenung.

"Yaaa, apa yang kau pikirkan? Jangan buat masalah dulu. Kepala polisi memerintahkan kita untuk menunggu perintah," ucap Sato dengan nada tegas.

Grey Massimo, sang "Hiu Daratan"-julukan yang ia sandang karena reputasinya yang keras, cepat, dan tak kenal takut-membuang napasnya kasar. Ia membuka minuman kaleng lalu menenggaknya dengan santai, meski jelas ada bara api dalam dadanya.

"Kita harus menunggu korban selanjutnya untuk bertindak?" tanyanya dingin. "Jangan dengarkan pria tua itu. Aku akan tanggung semua konsekuensinya."

Sato memutar bola matanya sambil mendecak. "Kenapa aku harus memimpin mereka?" gumamnya lirih. "Mereka sungguh membuatku mati cepat."

Tanpa menunggu instruksi, Grey berdiri. Ketiga rekannya-Naco, Mores, dan Kezi-langsung ikut berdiri dari kursi masing-masing seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.

"Yaaa, kalian mau ke mana?" Sato hampir berteriak. Tak satupun yang menjawab.

Grey berjalan keluar dengan langkah lebar. Di luar kantor, udara malam begitu dingin, namun rokok yang ia ambil dari tangan Mores segera menghangatkan bibirnya.

"Kita ke TKP," ucap Grey sembari menyulut rokok.

"Bagaimana dengan media?" tanya Naco.

"Aku yang akan menanganinya," jawab Grey singkat.

Tak lama, keempatnya sudah berada di gang sempit di komplek Tronto. Garis polisi masih membentang, dan kapur putih di aspal menandai posisi korban saat ditemukan. Bau darah masih menyengat di udara.

Mereka meneliti sekitar, memperhatikan setiap detil.

"Grey, lihat ini!" seru Naco, menunjuk ke sebuah jejak sepatu yang samar. "Kurasa tim BFN belum menyentuh ini."

Grey menyeringai tipis. "Potret. Panggil BFN sekarang juga."

Baru saja mereka melanjutkan penyelidikan, sebuah mobil bertuliskan HBC MEDIA berhenti tak jauh dari sana.

"Res! Naco! Cepat ke sini, idola kita datang," seru Kezi girang.

Grey mengernyit. Idola?

Perempuan cantik turun dari mobil. Rambutnya dikuncir dengan beberapa helaian menjuntai manis di pipi. Tubuhnya ramping dan sempurna dalam balutan jas formal.

"Launa Corosaine," bisik Mores kagum.

Grey melirik tajam. Dia?Hatinya mengerut.

Launa. Wanita yang diam-diam menyandang status sebagai istrinya-rahasia yang mereka kubur dalam-dalam.

Tiga rekannya hendak menyambut Launa, namun dengan cepat Grey menarik kerah mereka mundur.

Launa menunduk kala Grey berlalu begitu saja. Jemarinya saling memilin, bibirnya digigit pelan.

Apa dia sebenci itu padaku? batinnya nelangsa.

Sesaat kemudian, di sebuah kedai kecil, tawa mereka mengudara sambil menikmati minuman. Namun kebahagiaan itu segera memudar ketika ponsel Grey berdering.

Nomor tak dikenal.

"Grey Massimo," ucap suara berat di seberang.

Grey mendadak diam. Gigi-giginya menggertak.

"Perempuan penerjemah itu... tubuhnya seksi. Apa kau pernah menyentuhnya?" tanya si penelepon dengan nada main-main.

Grey berdiri, meninggalkan meja, keluar kedai.

"Aku tidak tahu siapa kau, tapi kau sedang bermain dengan api."

"Tentu kau tahu siapa aku. Dan hanya aku yang tahu siapa istrimu sebenarnya."

Diam. Jantung Grey berdetak cepat.

"Launa Corosaine, penerjemah bahasa isyarat... dia adalah istrimu, bukan?"

Suara itu terdengar puas.

Grey terkesiap. Siapa orang ini?

"Saat ini, aku melihatnya dari dekat. Sangat dekat... dia cantik sekali."

Seketika Grey berbalik. "Kezi, lacak nomor ini. Naco, Mores, ke mobil. Sekarang!"

Meski telepon sudah terputus, kepala Grey dipenuhi amarah dan kegelisahan. Pikirannya hanya pada satu orang.

Launa.

Dan ia bersumpah-siapapun yang mencoba menyentuh wanita itu, akan berurusan langsung dengan hiu daratan kota Turin.

Bab 2

TKP – Komplek Tronto, 02:17 Dini Hari

Gang sempit itu tenggelam dalam kegelapan. Lampu jalan yang biasa menerangi jalur setapak sudah lama mati tanpa perbaikan, menyisakan hanya cahaya pucat dari bulan yang sesekali tertutup awan. Udara terasa lembap dan berat, seperti menyimpan bisikan kematian yang baru saja terjadi.

Asap rokok dari sisa puntung yang belum lama padam masih menggantung tipis di udara, menyatu dengan aroma anyir darah yang meresap dalam pori-pori aspal. Genangan merah kecokelatan di bawah garis polisi yang kini mulai memudar menjadi saksi bisu tragedi malam kemarin. Di atasnya, kapur putih melingkari bentuk tubuh korban yang ditemukan membeku dalam posisi terjerembab, dengan mata terbuka menatap langit seolah ingin bicara sebelum ajal datang menjemput.

Tak ada siapa pun di sana.

Tidak wartawan. Tidak polisi. Tidak pula rasa kemanusiaan.

TKP itu benar-benar sunyi. Sepi.

Dan entah mengapa, lebih menyeramkan dalam keheningan seperti itu.

Langkah kaki berat milik Grey Massimo memecah keheningan. Sepatu boots-nya menginjak pecahan beling dari botol yang entah sejak kapan berserakan. Mata tajamnya mengedarkan pandangan. Dinding-dinding gang dipenuhi coretan vandal yang tak terbaca, namun satu hal menarik perhatiannya-lambang aneh terukir di pintu besi tua yang sepertinya baru digoreskan. Sebuah simbol seperti jam pasir dengan garis diagonal yang melintasi tengahnya.

Grey mendekat, tangannya menyentuh dinding yang dingin dan lembap.

"Grey, apa yang terjadi? Kenapa kau kembali lagi ke sini seperti orang kesetanan? Siapa orang yang menelponmu tadi?" tanya Naco yang muncul tiba-tiba dari belakang, menyusul dengan napas terengah.

Grey tidak langsung menjawab. Ia mengatur napas, berusaha menelpon Launa.

Tidak aktif.

Ada sesuatu yang salah.

"Apa dia pembunuhnya?" Suara Mores terdengar dari kejauhan-tepat sasaran, langsung menghantam dada Grey.

Dengan gusar, Grey mengusap wajahnya. Ia tak sanggup berkata jujur. Tak sanggup membocorkan rahasia besarnya pada mereka. Rahasia yang selama ini ia jaga mati-matian.

"Ia akan membunuh lagi di tempat yang sama," jawab Grey akhirnya, suaranya datar namun menggigit.

"Apa? Dia berani mengatakan itu? Padamu? Apa dia tidak tahu kalau kau polisi?" seru Naco dengan nada marah.

Mereka berdua langsung menyebar, memeriksa ulang setiap sudut TKP. Senter mereka menyorot dinding, tong sampah, bahkan celah sempit di balik tumpukan kardus. Tapi Grey hanya diam. Otaknya terus memutar ucapan pria itu.

Kring.

Ponsel Grey berdering lagi. Nomor tak dikenal. Lagi.

Ia melangkah menjauh dari teman-temannya, mencari sedikit privasi di bawah bayang-bayang pohon mangga tua yang merunduk menutupi gang.

"Apa yang kau inginkan?" tanyanya tajam.

Terdengar tawa lepas dari seberang sana. Tawa yang sama-menghina, puas, menginjak harga dirinya.

"Benar, kan? Dia istrimu... Kau bahkan datang ke TKP hanya karena ingin memastikan dia baik-baik saja. Kau mudah ditebak, Grey Massimo."

Jantung Grey mencelos. Ia menyesal. Kata-katanya sebelumnya... sudah cukup menjual rahasia yang selama ini ia lindungi mati-matian.

"Tutup kasus tentang pembunuhan kepala pemerintahan distrik Alba... dan bersihkan semua jejak yang kau temukan di TKP. Aku akan berhenti mengincar istrimu," ucap pria itu, kini dengan nada yang gelap, penuh kekuasaan.

Grey terkekeh, perlahan. Bukan karena geli-tapi karena amarah yang mulai membakar ujung nadinya.

"Yaaa... kau senang bermain-main denganku?" ujarnya pelan. "Apa kau tahu siapa yang kau hadapi? Setelah aku menangkap pembunuh distrik Alba... aku akan mengejarmu. Akan kuhabisi semua permainanmu."

Hening.

Lalu suara itu kembali terdengar, dingin dan mengancam. "Baiklah, sepertinya kau memang keras kepala. Tapi jangan salahkan aku kalau kau takkan pernah bertemu istrimu lagi."

Grey memejamkan matanya sejenak. Ia harus tenang. Ia harus tetap satu langkah di depan.

Dengan nada meremehkan, ia menjawab, "Aku tidak pernah menikah dengan siapa pun. Dan aku sangat benci perempuan-terlalu rumit dan menyusahkan. Entah perempuan mana yang kau incar, aku tidak peduli."

Di ujung sana, suara tawa kecil terdengar lagi. "Baiklah. Akan kubuktikan kalau aku bisa membunuh wanitamu... dan akan kubuktikan bahwa dia sungguh istrimu."

Grey berdecih.

"Telpon aku kalau kau berhasil membunuhnya," ucapnya, sebelum menutup telepon dan membanting ponselnya ke dinding bata, membuat retakan kecil di salah satu ujung layar.

Satu hal yang pasti, malam ini bukan hanya pembunuh yang berburu.

Tapi Grey Massimo juga sudah memutuskan: dia akan menjadi pemburu bayangan itu-dan tak akan berhenti sebelum satu peluru menembus jantung iblis yang mencoba menyentuh wanitanya.

Meski nada suara Grey terdengar datar, dingin, bahkan mencemooh, namun detik setelah panggilan itu terputus, ada sesuatu yang tak bisa ia abaikan.

Sebuah gelombang tak kasatmata menyelinap melalui tengkuknya-dingin, merambat, lalu bersarang tepat di dadanya. Ia diam, menatap kosong ke arah TKP yang sunyi. Angin malam menyapu rambutnya pelan, membawa aroma darah yang masih mengendap di sekitar.

Namun pikirannya sudah bukan di sana lagi.

Sudah tidak lagi memikirkan simbol aneh di dinding.

Bahkan suara langkah Naco dan Mores yang masih sibuk memeriksa sudut gang pun tak lagi terdengar di telinganya.

Satu nama terus berputar dalam pikirannya: Launa.

Wanitanya.

Istrinya.

Perempuan yang selama ini ia sembunyikan dari dunia karena ingin melindunginya... tapi kini justru menjadi target nyata permainan gila si pembunuh bayangan.

"Akan kubuktikan bahwa dia istrimu."

Ucapan itu... terus menggaung. Seperti gema neraka yang menertawakannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam kariernya sebagai penyelidik pembunuhan, Grey merasakan sesuatu yang amat langka menyelinap di benaknya.

Takut.

Takut kehilangan.

Takut datang terlambat.

Tanpa sadar, jari-jarinya mulai gemetar saat ia mengembuskan napas. Tangan yang biasanya stabil saat memegang pistol kini seolah tak bisa diam, seperti sedang memberontak.

Ia melirik ponselnya, mencoba menelpon Launa sekali lagi.

Masih tidak aktif.

Sumpah pelan lolos dari bibirnya. Ia menatap ke arah Naco yang sedang menyorot bagian belakang tempat sampah dengan senter, lalu Mores yang masih mengutak-atik sisa jejak sepatu di tanah.

Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Tidak sempat menjelaskan. Tidak ada waktu untuk memberi alasan.

Dengan langkah cepat dan penuh urgensi, Grey membalikkan badan, berjalan dengan napas memburu ke arah mobilnya. Suara pintu mobil yang dibanting tertutup memecah keheningan malam. Mesin meraung, lampu depan menyala tajam menusuk kabut tipis yang mulai turun.

Tanpa memberi aba-aba, tanpa berpamitan, ia tancap gas meninggalkan TKP-meninggalkan semua keraguan, semua protokol, semua yang seharusnya ia laporkan.

Sekarang, bukan lagi soal kasus.

Ini soal hidup dan mati.

Dan Grey Massimo takkan membiarkan satu helai rambut Launa jatuh... jika ia masih bisa menghalangi pelurunya.

Mobil melaju membelah malam, dan dalam dadanya, gelisah itu tak kunjung reda. Setiap detik yang terbuang terasa seperti jarum jam yang mencabik-cabik nuraninya. Ia memandangi jalan dengan rahang mengeras, mata menajam, dan satu harapan menjerit dalam hati.

Bab 3

Langit malam menggantung muram di atas mansion megah yang berdiri tenang seperti penjaga yang tak pernah tidur. Lampu luar masih menyala, dan angin malam menyapu pelan halaman depan saat mobil Grey berhenti mendadak di depan pintu utama.

Pintu mobil dibuka kasar. Derap langkah Grey terdengar tergesa, hampir panik. Nafasnya terengah, tidak karena lelah, melainkan dihantui oleh rasa takut yang menyesakkan dada. Jantungnya berpacu dengan kecemasan yang tak bisa ia kendalikan.

Tanpa membuang waktu, ia menjejalkan anak kunci ke lubang pintu dan membukanya dengan cepat.

Ctak.

Pintu terbuka lebar. Hangatnya udara dalam ruangan menyambutnya, namun tak cukup menenangkan badai dalam dadanya. Matanya menyapu cepat setiap sudut ruang utama dengan cemas.

Kemudian...

Ia melihatnya.

Launa.

Dengan piyama berwarna lembut dan rambut yang terurai lepas, gadis itu berdiri membelakangi Grey sambil membuka pintu kulkas. Ia tampak tenang, bahkan sibuk memilih makanan ringan di dalam lemari pendingin itu. Seketika, napas Grey terhenti-bukan karena panik, tapi karena lega.

Launa baik-baik saja.

Tak ada luka. Tak ada darah. Tak ada jejak teror.

Dunia Grey yang sempat berguncang kini perlahan kembali ke porosnya.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengatur ulang emosi yang bergejolak dalam dirinya. Dengan cepat, ia menegakkan posturnya dan mencoba memasang ekspresi setenang mungkin. Tapi dalam dadanya, jantungnya masih berdetak kencang, seolah belum bisa percaya bahwa semua ini nyata.

Launa menoleh saat mendengar suara langkah kakinya. Alisnya bertaut bingung melihat Grey yang tiba-tiba pulang di tengah malam dengan wajah tegang dan napas memburu.

"Kau belum tidur?" tanya Grey, suaranya datar namun terdengar sedikit gemetar.

Launa menggeleng pelan, matanya masih menatap Grey penuh tanya. Ia tahu, pria itu jarang pulang mendadak seperti ini-terlebih dengan ekspresi yang tampak seolah habis dikejar maut.

Grey menghela napas dalam. Ia tahu Launa tidak bisa menjawab dengan suara, dan ia juga tahu-ia tidak pernah belajar bahasa isyarat. Komunikasi mereka selama ini bergantung pada buku kecil yang selalu dibawa Launa untuk menulis.

Saat Launa hendak berbalik mengambil bukunya, Grey menahan pergelangan tangannya.

"Tidak perlu," katanya cepat. Tatapannya tajam, suaranya dingin. "Cepat tidur."

Launa terdiam, bingung. Tapi ia mengangguk pelan dan menutup kembali pintu kulkas, membiarkan Grey berlalu begitu saja melewatinya dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Grey tak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berjalan menaiki tangga dengan langkah cepat, namun pikirannya masih kacau. Meski ekspresinya dingin dan sarkastik, tapi ketakutan itu belum sepenuhnya sirna. Ia masih dihantui oleh suara dalam telepon tadi-ancaman yang membisikkan kematian, seolah bayangan kelam telah mengetuk pintu rumahnya.

Namun setelah melihat Launa... ia mulai yakin, mungkin itu hanya ancaman kosong. Mungkin hanya tipuan seorang bajingan yang ingin bermain dengan pikirannya.

Sampai di lantai atas, Grey berhenti sejenak. Matanya melirik ke arah kamar Launa yang tertutup rapat. Hening. Tak ada suara.

Tangannya sempat terangkat, ingin menyentuh gagang pintu itu. Tapi ia urungkan.

Ia menarik napas pelan, lalu berjalan masuk ke kamarnya sendiri. Menutup pintu.

Namun dalam gelap kamar itu, untuk pertama kalinya malam ini...

Grey merasakan keheningan yang tidak menenangkan.

Dan meski Launa masih hidup...

Ketakutan itu belum benar-benar pergi.

•••

Pagi harinya, di ruang makan mansion.

Hangat aroma roti panggang dan kopi menyambut pagi yang masih menggigil oleh embun. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar di ruang makan, menari-nari di atas meja yang telah tertata rapi. Pagi ini lebih hening dari biasanya, dan meski tak ada percakapan, ada kehadiran yang terasa... penuh makna.

Grey duduk di ujung meja, mengenakan kemeja gelap yang kontras dengan wajahnya yang terlihat lebih tenang dibanding semalam. Di seberangnya, Launa dengan rambut dikuncir sederhana sedang mengoleskan mentega ke atas roti panggangnya. Ia tampak biasa saja, seolah malam kemarin tidak ada kejadian besar yang sempat membuat Grey nyaris kehilangan kendali.

Suasana sarapan berlangsung dalam diam. Hanya dentingan sendok dan garpu yang sesekali terdengar. Namun diam itu akhirnya dipatahkan oleh suara berat milik Grey.

"Kenapa ponselmu mati kemarin malam?" tanyanya sambil menyesap kopi hitamnya. Tatapannya lurus, tenang, tapi mengandung sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata-kekhawatiran yang tersembunyi.

Launa terdiam sejenak, lalu meraih buku kecil dan pulpen dari sisi kursinya. Ia mulai menulis dengan cepat dan menyerahkan buku itu kepada Grey.

"Ponselku kehabisan baterai. Maaf, aku lupa mengisi dayanya."

Grey membaca tulisan itu sekilas dan mengangguk pelan. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia menelan sepotong roti, lalu kembali fokus ke kopinya. Dalam hati, ia mencoba percaya bahwa jawaban itu cukup... tapi bagian lain dari dirinya belum sepenuhnya yakin.

Setelah sarapan selesai, Grey melangkah menuju garasi.

Garasi yang luas dan bersih itu menyimpan beberapa mobil mewah di dalamnya. Tapi matanya langsung tertuju pada satu mobil-mobil Launa. Matanya menyipit.

Bagian depan mobil itu penyok.

Keningnya mengerut. Langkahnya refleks mendekat, dan ia berjongkok untuk memeriksa kerusakan. Bemper depan terlihat sedikit retak, seperti baru menabrak sesuatu. Tapi tidak ada lecet berlebihan, tak ada darah, tak ada serpihan asing. Hanya kerusakan ringan... tapi cukup membuat Grey waspada.

Ia membuka pintu pengemudi dan memeriksa bagian dalam. Interiornya masih bersih, rapi, dan tak ada tanda-tanda pergumulan atau kekacauan.

Namun satu hal yang membuat jantung Grey berdegup lebih cepat adalah kamera dashboard.

Ia segera melepas kartu memorinya dan memasangnya ke layar kecil yang sudah tersedia di sisi dinding garasi. Matanya fokus. Jari-jarinya cekatan memutar rekaman mundur hingga menemukan waktu yang ia cari.

Dashcam dalam mobil Launa termasuk canggih karena dapat merekam jalanan dan juga memiliki lensa atau fitur untuk merekam bagian dalam mobil, seperti percakapan atau aktivitas di dalam kabin.

Lalu, rekaman itu berhenti pada satu momen yang membuat darahnya membeku.

Launa. Sendirian di dalam mobil.

Wajahnya terlihat lelah, ia hendak menyalakan mesin mobil. Tapi sebelum sempat menggerakkan kemudi, seorang pria bertudung tiba-tiba muncul di depan mobil.

Topi hitam menutupi sebagian wajahnya. Masker hitam mengaburkan sisanya. Tapi yang paling menonjol... adalah pisau di tangannya yang terangkat.

Launa tampak panik dalam video itu, tubuhnya sedikit bergetar. Namun pria itu hanya berdiri di sana selama beberapa detik, sebelum berlari menghilang ke arah jalan samping.

Grey mematung.

Matanya membelalak, nafasnya tercekat.

Itu bukan penipuan.

Telepon semalam...

Ancaman itu...

Nyata.

Tangan Grey mengepal. Rahangnya mengeras. Ia langsung mematikan layar dan berdiri dengan tegas. Matanya menatap kosong ke arah pintu garasi, tapi pikirannya sudah melayang jauh.

Mereka sudah menyentuh batas.

Dan itu berarti-pertarungan baru saja dimulai.

Suara langkah kaki yang ringan dan tergesa terdengar dari arah pintu masuk garasi. Launa muncul dengan penampilan rapi dan tas kerja tergantung di bahunya. Ia terlihat terburu-buru, jelas bersiap menuju kantornya pagi ini. Namun langkahnya terhenti saat melihat Grey berdiri di samping mobilnya dengan wajah tegang dan sorot mata yang nyaris membakar.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Grey mendekat dan mencengkeram kedua bahu Launa dengan kuat.

"Apa kau pikir aku tak akan tahu?!" desis Grey dengan suara rendah namun penuh amarah. Tatapannya tajam, menusuk, seperti sedang menahan badai dalam dadanya. "Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa sesuatu terjadi semalam? Kenapa diam saja, Launa?!"

Launa tampak terkejut. Matanya membesar. Ketakutan jelas tergambar dari sorot matanya yang bening. Ia ingin menghindar, namun cengkeraman Grey terlalu kuat. Tubuh mungilnya sedikit berguncang.

Melihat ketakutan itu, Grey akhirnya sadar. Ia mengembuskan napas panjang, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya. Tangannya turun, namun kemarahan di dalam dadanya belum benar-benar reda. Ia memalingkan wajah, mencoba menenangkan napasnya yang memburu.

Launa menunduk sejenak, lalu buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik. Setelah beberapa detik, ia memperlihatkan layarnya pada Grey.

"Seseorang menghadangku semalam dengan membawa pisau. Aku... aku rasa dia adalah pelaku pembunuhan itu."

Jantung Grey berdentum keras. Ia menatap lekat ke mata Launa. Ada ketakutan yang belum benar-benar padam di sana. Dan fakta bahwa Launa memilih diam selama ini hanya membuat kemarahan dan kekhawatirannya bertambah besar.

"Mulai sekarang..." ucap Grey pelan, tapi tegas, "berhenti bekerja. Tetaplah di rumah."

Launa memandangnya, tampak terkejut. Ia buru-buru mengetik kembali di ponselnya, lalu menunjukkan tulisannya.

"Tidak bisa. Aku harus bekerja. Aku bosan di rumah. Lagipula, hari ini ada pekerjaan di persidangan."

Grey memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras. Ia tidak bisa memaksa, namun membiarkan Launa berkeliaran sendirian setelah kejadian semalam adalah tindakan bodoh. Ia menghela napas panjang dan mengangguk kecil, lalu menoleh ke arah pengawal yang sejak tadi berdiri di kejauhan.

"Awasi dia dari jauh. Jangan sampai terlihat mencolok. Jika ada gerakan mencurigakan, segera laporkan padaku." Suaranya dingin, tak bisa dibantah.

Pengawalnya langsung mengangguk dan bergerak cepat.

Launa melirik jam tangannya dan buru-buru menunduk, memberi isyarat bahwa ia harus segera berangkat agar tidak terlambat. Grey hanya menatapnya dengan dalam. Ia tak mengatakan apa-apa, hanya merebut kunci mobil Launa dan menggantinya dengan kunci mobilnya.

"Aku akan membawa mobilmu ke bengkel!" katanya dingin.

Launa hanya mengangguk dan langsung bergegas pergi.

Grey langsung membawa mobil Launa untuk dibawa ke bengkel nanti. Namun sebelum itu, ia menyusul diam-diam dari belakang. Jaraknya dijaga tetap aman, cukup jauh agar tak mencurigakan namun cukup dekat untuk bisa melihat segalanya. Matanya waspada, mencermati setiap kendaraan di sekitar Launa, setiap sudut jalan yang mereka lewati.

Hingga akhirnya, Launa tiba di depan gedung kantornya.

Grey baru bisa menghela napas lega saat melihat Launa turun dengan aman dan masuk ke dalam kantor medianya.

Namun satu hal pasti mengendap di pikirannya:

Ancaman itu nyata. Dan dia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh Launa. Bukan kali ini. Tidak akan pernah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED