Sampul Novel Tanah Para Naga

Tanah Para Naga

9.2 / 10.0
Puluhan tahun berlalu, perhatian penduduk benua timur kini tertuju pada Benua Baru yang misterius. Awalnya, aku hanya pergi untuk menemani guruku ke sana. Namun, keindahan alam liar di tanah asing tersebut perlahan mulai memikat hatiku. Di balik keseruan petualangan baru ini, aku masih menyimpan api dendam masa lalu yang belum bisa kupadamkan sepenuhnya. Konflik batin tersebut membuat perjalananku di dunia baru ini menjadi jauh lebih rumit dari dugaan semula.
Ringkasan Tanah Para Naga
Puluhan tahun berlalu, perhatian penduduk benua timur kini tertuju pada Benua Baru yang misterius. Awalnya, aku hanya pergi untuk menemani guruku ke sana. Namun, keindahan alam liar di tanah asing tersebut perlahan mulai memikat hatiku. Di balik keseruan petualangan baru ini, aku masih menyimpan api dendam masa lalu yang belum bisa kupadamkan sepenuhnya. Konflik batin tersebut membuat perjalananku di dunia baru ini menjadi jauh lebih rumit dari dugaan semula.
Baca Selengkapnya

Tanah Para Naga Bab 1

KEJAAARRR!!!

Bagaimana caraku mengatakan ini, berlari di antara pohon pinus bersama siluet dengan gemuruh yang mengikutiku dari belakang?

Heh, lucu.

Diburu oleh para maniak beladiri sejak keluar dari rumah, kalimat apa yang cocok buat menjelaskan semua keadaan ini. Suasana riuh ditambah bising juga gema dari teriakan mereka yang bikin pekak telinga, mana mungkin aku memikirkan hal lain selain cara tuk lepas dari kejaran mereka terlebih dahulu.

Sebagai informasi, mereka adalah persatuan seluruh aliran beladiri benua timur. Gabungan berbagai sekolah beladiri tangan kosong dan bersenjata paling kondang—kata mereka—di wilayah ini, bakal panjang kalau kubahas rinci satu persatu.

Singkatnya. Mereka pasukan bantuan sukarela yang tujuan awalnya ingin membantu Perguruan Naga Sutra dan Wihara Lonceng Emas dari Utara, menegakkan keadilan dengan menangkapku yang—mereka sebut—telah mencuri jurus dua perguruan tadi, padahal aku yakin ada maksud lain di balik tuduhan tersebut.

Meski cuman figuran yang meramaikan naskah serta kebetulan kebagian peran di halaman ini, mereka tetap menyebalkan sebab membuatku sukar menarasikan pembuka di awal cerita. Contohnya perguruan Pedang Dewa Tengah, mulanya entah bagaimana kini sudah berhasil mendahului dan lagi menyergapku.

“Pemilik Rumah Lelang, tolong menyerah!”

“Bacot!” Menyerah pada kalian, cuih!

“Semua hati-hati, dia menguasai Pukulan Telapak Besi. Pasang Formasi Tujuh Bintang, sekarang!”

“Ingin mengurungku di formasi tipis begini, jangan mimpi!”

Mungkin satu pukulan telapak besi tak bisa meruntuhkan seluruh formasi, tapi paling tidak aku bisa melumpuhkan satu dari tujuh pilar penopangnya.

“Saudara Tie, AWAS!”

Terimakasih, rasa persaudaraan kalian membantuku meloloskan diri—lebih mudah.

Usai barisan pohon di depan, aku sudah keluar dari Kolom Lima-Tiga dan masuk Kolom Lima-Dua Benua. Sedikit lagi bebas, habis itu cuma perlu sembunyi menunggu mereka lupa dengan masalah ini.

“Benar,” Pohon ini … Ah sial, ngumpet dulu.

“Semua siaga, saudara kita di seberang sedang menggiring Pemilik Rumah Lelang menuju kemari. Tahan semua posisi, ketika ada tanda kepung hutan di depan!”

“HIAAA!!!”

Berisik. Kalian pikir siasat macam begitu bakal mempan terhadapku. “Mimpi!”

Hanya gak bisa maju dan mundur, lari ke samping masih bisa. Bersama bayangan pohon aku akan keluar dari hutan ini tanpa kalian sadari, tunggu saja.

***

Dua bulan sebelumnya.

Bersembunyi di kabin belakang dan menyelinap dari pengawasan guru, aku menumpang kapal udara milik Perguruan Telapak Besi kembali ke Benua Lama. Setelah pembangunan pelabuhan udara atau bandara di Benua Baru selesai.

Niat pulangku ingin menemui Chloe Kecil, buat melepas rindu pada putri kesayanganku tersebut juga tuk memberitahunya kalau ada sumberdaya dan pengetahuan di benua baru yang beda dari benua lama. Sebab bak mendiang ibunya dahulu, dia pun suka sekali dengan ilmu pengetahuan—begitu isi kepalaku.

Mengungkit kehidupan di benua baru, penumpang kabin yang kutumpangi saling berbagi pengalaman satu sama lain. Menggosipkan Raja Sheng dengan orang-orangnya, juga menertawakan kelakuan sendiri menghadapi kaum Pribumi. Obrolan yang langsung akrab dengan kupingku ketika naik bersama muatan terakhir sambil menyaru di antara pembawa barang—geli kalau kuingat hidupku setahun ini.

Kenangan buat diceritakan ke putriku—sebagai oleh-oleh.

Enam jam berlalu. Kami pun tiba ke bandara di Perguruan Telapak Besi, fasilitas khusus yang dioperasikan oleh dan untuk murid perguruan saja. Kalaulah ada orang luar di sini, berarti mereka pastilah kerabat atau paling tidak kenalan dari para tetua.

Usai berlabuh pintu kapal segera dibuka.

Penumpang lalu berbaris dan turun sesuai urutan kabin yang dinaiki, mulai dari tengah ke depan lalu terakhir kabinku di belakang. Kabin tengah yang pertama karena membawa penumpang berstatus khusus, sedangkan isi kabin depan adalah kapten beserta awak kapal, sisanya kabin belakang memuat barang juga tambahan—bisa penumpang atau awak cadangan.

Saat pengurusan administrasi. Awak kapal di kabin depan boleh melewati pemeriksaan sebab berkas mereka ditangani oleh kapten, sedangkan dua penghuni kabin sisanya diperiksa berurutan. Penumpang kabin tengah diperiksa lebih dulu sambil memberikan catatan barang, nantinya catatan tersebut akan jadi berkas pembawanya di kabin belakang.

Di waktu begini kemampuan menyelinapku menjadi begitu berguna. Sebab ‘tak mungkin aku menyerahkan diri sebagai penumpang gelap, bukan?’

“Hey, di mana anak yang tadi bersama kita?”

“Ah! Paling dia sudah turun duluan.”

***

Udara di hutan pinus kian bertambah berat. Setiap kali memejamkan mata aliran energi dari belakang kurasakan makin pekat, walau jauhnya masih belasan mil para pengejarku bergerak begitu konstan, mempersempit celah pelarian dari kanan-kiriku.

Formasi yang disebut sayap bangau ini, “Menyebalkan!”

Selain bentuknya mengerucut dari belakang, sisi kanannya menghalauku bergerak dalam garis lurus yang makin menyempit ke kiri. Jika dibiarkan terus begini, aku bakal jatuh ke tangan mereka sebelum fajar tiba—sial.

Dari banyak kemungkinan di garis kolom mereka mengikutiku ke sisi kiri, barisan dari utara pun menekanku turun seolah membatasi pelarian—kenapa.

Pembuat rencana di pihak mereka memang pintar. “Arrrghh!” Aku benci situasi ini, apa yang harus kulakukan.

“Sudah menyerah?”

Hah. “AAAAA!!!”

“Oops!”

Siapa orang di sebelahku barusan, kehadirannya sama sekali gak terasa.

“Sepertinya, ilmu kulit baja Pemilik Rumah Lelang sudah mendekati sempurna. Jatuh dari pohon setinggi ini saja tubuhmu masih begitu kokoh, huhu ….”

Sembarangan. “Ilmu kulit bajaku memang sudah sempurna sejak awal!”

“Benarkah … Oh, maaf membuatmu terpeleset kalau begitu.”

“BACOT!” Chiaaat.

“Hahaha … jurus kita memiliki aliran chi yang sama. Jangan lupa, aku juga praktisi chi dingin sepertimu. Lihatlah, pukulan barusan tidak berdampak apa-apa terhadapku.”

Sial. Telapak besiku gak mempan melawannya. “Dasar lampir!”

“Apa kau bilang?”

“Tidak ada! Sekarang coba yang ini!” Chiaaat.

“Apa—AAAAA!!!”

Huh. Jatuh dari pohon setinggi itu pasti sakit.

“Itu bukan jurus telapak besi! Uhk-uhk.”

Memang. “Sekarang kita sudah sama-sama di tanah, dan keadaanmu lebih malang dariku, mwee!”

“Kau! Uhk-uhk.”

Aku gak punya waktu meladenimu, beberapa orang lagi menuju kemari. “Aku pergi!”

“Tung—”

“Nyonya Lan!”

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Tanah Para Naga

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta matiku pada sang tunangan, Bima Wijoyo, berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang api di studio seni demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Terbangun di masa lalu tepat sebelum rapat keluarga besar dimulai, aku membawa memori pahit tentang kobaran api itu. Kali ini, aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami di hadapan semua orang. Aku bersumpah tidak akan mati konyol untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam, Shila harus menahan rasa sakit saat Sam menyentuhnya dengan begitu intim. Di tengah situasi yang sangat berisiko ini, Sam berbisik setengah berbisik, meminta Shila agar tidak bersuara. Ia mengingatkan bahwa ayah dan ibu Shila bisa saja terbangun dan memergoki mereka. Ketegangan pun kian memuncak saat keduanya berusaha keras menyembunyikan hubungan rahasia ini dari jangkauan orang tua Shila yang berada di rumah yang sama.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menguak sisi kehidupan tersembunyi yang jarang dibahas. Di balik topeng kesucian, terdapat luka mendalam, dilema, serta kerinduan emosional yang rumit. Melalui penyampaian yang realistis dan eksplisit, Anda diajak merenungkan jati diri di tengah kegelapan demi meraih titik terang. Sebuah bacaan penuh makna tentang pencarian hakikat hidup dan cinta yang berliku, siap memberikan sudut pandang baru yang mendalam bagi pembacanya.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED