Bab 2

Tiga minggu sebelumnya.

Sesampainya di Rumah Permata Biru. Kuceritakan semua temuanku di Benua Baru pada Letta juga Chloe Kecil, mengenai penampakan bentang alam di sana serta bagaimana kehidupan di atasnya ditambah apa yang boleh dan tidak dilakukan di tempat itu. Kuceritakan semua pengalamanku, seperti para awak tambahan menceritakan kisah mereka minggu lalu—penuh semangat.

Namun.

Apa yang kuharapkan dari lawan bicaraku. Beda dengan Chloe Kecil yang memerhatikan setiap detail ceritaku, Letta kurang bersemangat apalagi pas aku menyinggung sesuatu yang tak ada di Benua Lama. Mukanya beganti murung, matanya sesekali kosong dengan gestur berubah-ubah seolah mau bilang ‘Aku gak suka ceritamu.’ Tapi biar pun reaksi dia begitu, cerita tetap kulanjutkan sampai Chloe Kecil terpejam.

Setelahnya.

Kudekati Letta yang lagi duduk dekat jendela, kulingkari pinggangnya pakai lengan kemudian kusandarkan dagu ke bahunya dari belakang. Karena dia tak menolak aksiku saat itu, lanjut kulekatkan dada ke punggungnya dan kutarik ia tuk duduk di pangkuanku. Kali ini ia hendak berontak tapi telat, tangannya keburu pasrah bersandar pada lenganku sambil memeluk erat perut ratanya.

Sesaat ia menghela nafas sebelum akhirnya buka suara, “Jadi, Benua Baru lebih menarik bukan?” Letta mendongak pada rembulan sembari merebah di pangkuanku.

Menanggapi rasa penasarannya, kusilangkan kedua lenganku ke dadanya. Perlahan kuusap dagu Letta menggunakan ujung kuku seperti yang biasa kulakukan lalu bilang, “Gak, di sana gak ada dagu buat digaruk.”

Mendengar jawaban tersebut dia menoleh hingga mata kami pun bertemu.

Cuma. Gak ada adegan ‘aneh’ setelahnya, jadi tolong jangan pikir macam-macam soal kejadian malam itu.

Keesokan harinya. kegiatanku di Rumah Permata Biru berjalan seperti biasa, pergi ke pasar buat belanja terus masak kemudian makan bersama Letta dan Chloe Kecil. Memanen buah dari kebun di halaman belakang, serta sederet kegiatan bareng lain layaknya keluarga bahagia.

Beberapa hari berjalan normal seperti itu, sampai tiba-tiba di satu pagi kudengar bunyi lonceng gerbang depan rumah dipukul. Dan saat kuperiksa, tengah berdiri seorang biksu bersama ransel kayu—nampak penuh dengan macam-macam barang—di sebelahnya.

Setelah mengucap salam ia menawarkan beberapa barang kepadaku tuk ditukar dengan makanan, dan jika ada pekerjaan dengan senang hati akan dia lakukan—katanya.

Karena kebetulan aku punya beberapa kawat bahan zirah yang perlu dibentuk menjadi cincin sebelum dirajut, kupikir tambahan tangan akan sangat membantu. Jadi kupersilahkan sang biksu masuk lalu kubawa ia ke bengkel tempa di halaman belakang, tempatku biasa bekerja dan mengisi waktu senggang beberapa hari ini.

Sembari menjelaskan pekerjaan apa yang perlu dilakukan, kusuguhi ia roti sisa sarapan dengan buah dari kebun di halaman. Maaf saja aku lagi gak selera buat masak jadi belum sempat belanja tadi, lantaran Letta dan Chloe Kecil sudah kembali ke Istana Naga dua hari lalu.

Sesudah itu kami mulai bekerja.

Biksu ini lumayan terampil ternyata—kurasa. Hanya perlu memberitahunya sekali dia cukup bagus meniru pekerjaanku, senang sekali menemukan orang berbakat—jadi aku bisa mengerjakan hal lain tanpa perlu mengawasi pekerjaannya.

Soalnya.

Aku pun lagi bikin kapak satu tangan. Dari kemarin kulebur tujuh batang Waja Putih di tungku dengan Api Naga, dan hari ini lelehannya kukira sudah bisa dituang ke cetakan kapak bermata dua. Cuma menunggu aura merah keunguan memancar darinya saja, setelah itu tinggal siram dengan ramuan mana—kemudian tempa.

Namun. Baru juga kulihat baja cair ini mau berubah warna tiba-tiba lonceng gerbang depan kembali berbunyi.

Kali ini, seorang Pertapa Dao. Selain botol menggantung di pinggang baju, tak kutemukan benda apaun menemaninya beda dengan kesan pertamaku sama si biksu. Karena saat kutanya apakah sedang mencari pekerjaan dia bilang iya, kubawa pertapa ini buat membantu pekerjaan kami di belakang.

Kemudian kulanjutkan lagi kegiatanku.

Saat baja cair dingin oleh ramuan mana serta membentuk kapak pada cetakan, kupanaskan lagi pinggirnya lalu kutempa buat dibikin mata kapak. Tak bisa sekali—sampai kerapatan dan kelenturan yang kumau—jadi, berkali-kali kupanaskan kapak mentah ini di Api Naga sambil terus kujejal pakai palu mitril.

Kemudian. Saat bilah kapak sudah sesuai keinginkanku, kuukir rune kuno—sembari merapal mantra yang diajarkan mendiang Chloe—di atasnya. Sehingga bukan cuma tajam, harapanku kapak ini pun tak boleh digunakan sembarangan orang. Dan waktu rune serta mantranya rampung, kurendam lagi dia dalam ramuan mana sampai residu—dari mana—mengendap.

Ketika semua pekerjaan beres, langit telah menguning.

Di sore itu sang biksu juga pertapa dao tadi kuberi upah mereka, ditambah bingkisan berisi buah dan makanan sebagai hadiah. Karena aku puas dengan bantuan tangan mereka, hari ini jadi lebih produktif—hehe.

Besoknya mereka datang lagi, sama seperti kemarin kubawa keduanya tuk membuat cincin kawat. Karena kapakku masih mengendap dalam ramuan mana, kuputuskan buat merajut zirah dari cincin yang sudah mereka buat.

Tengah hari, ketika zirahku sudah selesai separuh. Kapak buatanku menjadi matang, ditandai oleh ledakan keras dari tong tempat dia kurendam dalam cairan mana saat aku sedang menekuk—menyulam—cincin kawat.

Waktu kuperiksa.

Rune di permukaan kapak tersebut merah membara, bukti bahwa mantra kemarin sudah melakukan tugasnya. Bilahnya pun kini diselimuti hawa panas menyengat, sesuai dengan mauku. Cuma satu belum lengkap, tak ada penyangga yang cocok buat menopang bilahnya ….

“Tuan, ini?”

“Pasangan Kapak Es.” Kujawab rasa penasaran si Biksu saat Kapak Api hinggap di tanganku.

Esoknya kabar megenai Kapak Api menyebar ke penjuru Benua Timur.

Dan.

Terimakasih tuk si Biksu. Berkat dirinya aku langsung menyempurnakan Kapak Api kemarin, setelah dia menawarkan sepenggal tanduk Banteng Magma kepadaku buat bahan pegangannya—tiba-tiba saja.

Hari ini di depan Rumah Permata Biru dirinya berdiri bersama belasan biksu muda, menungguku membuka harga tuk pasangan Kapak Api dan Es yang gak sengaja kubilang mau kujual—keceletuk kemarin.

Si Pertapa Dao pun sama, delapan orang di belakangnya adalah pendekar terbaik dari semua aliran perguruan pedang yang ia tahu katanya. Hematku, buat apa repot-repot menawar sepasang kapak jika orang-orang ini adalah pengguna pedang.

Tapi.

Meski heran, tak baik buatku menelan ludah sendiri. Jadi kubiarkan mereka menunggu di depan rumah, lalu aku ke dalam berpura-pura mengambil Kapak Api dan Es.

Dua kapak itu sebetulnya selalu kubawa dalam Kantong Hati Naga, tapi sepertinya tak bagus bila benda pekat sihir yang bisa menyimpan banyak barang aneh ini kutunjukkan di depan umum. Apalagi kalau di antara mereka ada keturunan penenung mantra naga, akan merepotkan—kurasa.

Tadinya. Kupikir dua kelompok ini bakal jadi satu-satunya penawar buat Kapak Api dan Es, ternyata berdatangan pula kelompok lain yang gak kalah ‘nyeleneh’. Waktu aku keluar membawa Kapak Api dan Es di tangan, depan rumah telah sesak oleh puluhan orang—tebakanku sih calon pembeli.

Biar kuabsen. Aliran Tinju Selatan atau—dikenal—Pukulan Penggenggam Gunung, Dewi Kipas Timur, Tombak Rantai Tiga Tongkat, Belati Sayap Kembar, Pertapa Kaki Emas, dan lain-lain—malas kusebut semua.

Bak mau tawuran usai acara lelang ini selesai, mereka datang berkelompok dengan alat-alat tempur lengkap.

Ckck.

“Kalau kalian berdesakkan di depan rumah seperti ini jalanan akan tertutup, sebaiknya pilih dua perwakilan dari tiap kelompok dan ikut aku ke dalam.” Coba kuatur, jika benar mau dengan kapakku harusnya mereka menurut bukan.

“Baik Tuan!” jawab mereka serentak usai sempat saling lirik.

“Sisanya tolong tunggu di kedai atau penginapan saja,” kataku sambil membuka gerbang Rumah Permata Biru lalu mempersilakan perwakilan mereka masuk.

Eh. Kupikir si biksu tua dan pertapa dao bakal menjadi penawar, mengingat betapa antusias mereka ketika melihat Kapak Api dan Es buat pertama kalinya kemarin. Padahal lucu pas mereka memuji dua kapak buatanku sebagai senjata legendaris, aku pun tak keberatan jika mereka menjadi pemilik baru pasangan kapak ini—tadinya.

“Ini adalah barang yang mau kujual, Kapak Api dan Es,” kataku di depan empat puluh lebih orang penawaran. “Bisa dilihat, Kapak Es membekukan area sekitarnya dan Kapak Api membakar benda yang disentuh. Aku tidak mematok harga tuk dua barang ini, tapi aku percaya mata Anda sekalian sangat bagus buat menakar nilai benda.”

Kulihat mereka sudah gak sabar tuk meneriakan harga.

Jadi. “Seperti aturan lelang lainnya, dua benda ini akan dijual kepada penawar tertinggi.” Dan saat aku mengatakan, “PENAWARAN DIMULAI!” Nominal langsung sahut-menyahut berebut menjadi harga tertinggi, seakan terbawa suasana berusaha mengungguli para pesaingnya.

Karena kesempatan ini sekali seumur hidup, jadi mengeluarkan isi dompet dari awal adalah keharusan—mungkin.

Sampai tengah hari.

Kapak Es mendapat harga satu juta Koin Perak atau setara seratus Koin Platinum, sementara Kapak Api memulai harga dari seratus koin platinum melanjutkan harga tawar pasangannya. Kemudian di sore harinya setelah dihitung, keduanya menghasilkan satu Platinum Bar—setara seribu koin platinum—dan sepuluh ribu Koin Emas.

Aku puas. Pasangan Kapak Api dan Es terjual dengan harga tinggi, bila waja putih biasa dapat kulelang setinggi ini bagaimana dengan Mitril—metal paling langka di benua utama—jika kubikin senjata.

Hahaha. Aku suka acara lelang.

Tapi. Belum sepuluh langkah setelah menutup gerbang rumah bekas acara selesai hendak menuju pasar tiba-tiba ….

“Pemilik Rumah Lelang!”

“Ah ya, sepertinya anda terlambat. Kapak Api dan Es sudah terjual, Tuan?” kataku berbalik menghadap si pemanggil yang kupikir penawar kesiangan.

Namun.

“Apa-apaan barusan itu?” bentakku usai menghindari sabetan aura panas menyerupai ular naga yang tiba-tiba menerjangku.

“Sayang sekali, kami kemari bukan untuk kapakmu,” katanya mengpungku bersama beberapa orang dalam kuda-kuda dengan tangan terkepal.

Dari kuda-kudanya aku tahu mereka adalah murid perguruan Naga Sutra. “Cih, tak kukira anjing Naga Sutra akan menyusul kemari setelah setahun.”

“Tutup mulutmu, DASAR MALING!” pekik salah seorang dari mereka.

“Kalau Pemilik Rumah Lelang bersedia bergabung dengan perguruan kami, urusan dari setahun lalu bisa kita anggap selesai saat ini juga. Bagimana?” kata dia yang sepertinya pemimpin grup ini.

“Begitukah?” tanyaku mengulur waktu sambil diam-diam membuka kuda-kuda Tapak Dewa.

“Tentu saja!” sambutnya antusias. “Dengan keahlianmu membuat senjata, Pemilik Rumah Lelang akan menduduki posisi penting di Perguruan Naga Sutra.”

Cih. Sudah kuduga. “Hem, sayang sekali ... Aku sudah bergabung dengan perguruan lain,” balasku dan ….

CHIAAAT!!! Kulempar pukulan Tapak Dewa tingkat dua, melompat keluar dari kepungan dan berlari menghindari mereka.

“Uhk-uhk, kemana dia?”

“Itu guru, dia lari ke selatan!”

“KEJAAAR!!!”

***

Bab 3

AAA!!!

“Ada apa denganmu, berteriak di siang bolong begini?” bentak Penjaga Perpustakaan Ming usai melempar buku yang sedang dia baca ke arahku dari balik mejanya. “Dasar, anak nakal!”

Hehe, kutersenyum merespon dia yang tengah kesal. “Aku bosan, Penjaga Ming,” kataku kepadanya sambil manyun.

“Lantas kau bebas membuat onar di sini kalau bosan, hah?” rajuknya yang buru-buru menghampiriku dengan rotan di tangan lalu ….

PLAK!

“Apa?” Muka kesalnya berubah kaget lantaran rotan yang dia ayunkan barusan patah ketika menghantam bahuku.

“Penjaga Ming, percuma kau ayunkan ‘lidi’ tipis itu ke tubuhku,” ledekku sembari merebahkan diri ke lantai. “Ilmu kulit bajaku sudah sempurna kau tahu, lihatlah.” Lalu aku buang muka membelakanginya.

Aku tak tahu apa yang para ‘sepuh’ di padepokan pikirkan, semua buku di perpustakaan ini sudah kuno dan kurang efisien. Setelah tiga hari kubaca semua catatan di sini, sama sekali tak kutemukan teknik maupun jurus baru.

Hoaaam!

Bosan sekali cuma sembunyi di perguruan, “Ckck, apa aku pergi saja ya?” Tapi jadwal keberangkatan kapal udara ke Benua Baru tinggal dua minggu … “HEI!”

“Apa?”

‘Orang tua menyebalkan!’ batinku. “Apa-apaan kau ini, PENJAGA MING?” Kusemprot dia karena perbuatanya kepadaku barusan.

Muka Penjaga Ming menjadi menyebalkan. “Bukankah ilmu kulit bajamu sudah sempurna, pasti sangat melelahkan harus terus memadatkan chi ke seluruh permukaan kulit bukan. Aku hanya ingin membantu mendinginkan tubuhmu, itu saja.”

Sungguh menjengkelkan mendengar orang tua satu ini bicara. “Tapi tidak perlu sampai menyiramku seperti ini juga!” protesku padanya.

“Cih, dasar anak muda zaman sekarang, tidak tahu sopan santun,” katanya sambil melengos kembali ke balik mejanya. “Harusnya kau berterima kasih, Mi.”

‘Hah, apa aku tidak salah dengar?’ Baiklah. “Terimakasih, karena sudah membuatku basah kuyup?” Puas kau sekarang, Pak Tua.

Dih. ‘Senyum arogan dari bibir tipismu itu sungguh bikin mataku iritasi, tahu.’ Respon macam apa barusan itu. ‘Arghhh, Aku ingin sekali memukul orang tua satu ini.’ Sayang cuma bisa ngebatin.

“Aku tahu kau sangat bosan, Mi. Ini, ambilah!”

Hah. ‘Ada apa denganmu, Pak Tua. Mana wajah sombongmu yang barusan itu, kenapa juga kau tiba-tiba menyodorkan sebuah token kepadaku.’

“Apa ini?”

“Ambil dulu, akan kujelaskan setelah itu!”

Hem. “Baiklah.” Kuambil token tersebut dari tangannya.

“Itu adalah token Perpustakaan Leluhur Pendiri—.”

“Lalu!”

“DENGARKAN DULU! Dasar bocah tengik!”

Ya-ya-ya. “Baiklah-baiklah.” Mari dengarkan apa yang ingin disampaikan orang tua di depanku ini.

“Ehem.” Kenapa kau jadi memasang pose sok berwibawa begitu. “Token itu hanya dimiliki oleh orang tertentu saja, seperti diriku misalnya. Bahkan ketua perguruan pun tidak memilikinya, token itu ada—”

“Gak mungkin!” Aku tidak sabar mendengar ocehan dari mulutnya, “Ketua sekte kan—AW!”

“Sudah kubilang dengarkan!”

Ya baiklah, akan kudengarkan kau dasar Pak Tua.

“Ehem, sampai mana tadi. Ah, token itu adalah warisan langsung dari Perpustakaan Leluhur Pendiri. Sesuatu yang tidak diberikan kecuali pada penjaga perpustakaan seperti diriku, kau paham betapa berharga benda di tanganmu itu sekarang?”

Hadeuh … “Lantas, apa hubungannya denganku?” Aku tidak mengerti apa maksudmu, Pak Tua. “Aku bukan penjaga perpustakaan seperti dirimu, juga tak punya niat buat menggantikanmu, kau tahu—Aduh!”

Bisakah kau berhenti menggeplak kepalaku, Orang Tua.

“Siapa pula yang ingin kau gantikan, bocah?” Sepertinya dia serius. “Aku memberimu token itu, hanya agar kau segera pergi dari perpustakaan ini. Kau tahu, sudah tiga hari tiga malam kau mengurung diri di tempat ini. Hal itu sangat merusak kedamaian hidupku, Bocah!”

“Ohh.” Kukira kau menyukaiku—malahan.

“Jadi pergilah ke Perpustakaan Leluhur Pendiri, di sini sudah tidak ada lagi buku yang bisa kau baca!”

“Tapi—“ Hei, apa kau menghiraukanku.

“Lokasinya ada di puncak Gunung Karang, di balik bukit yang tempo hari kau disambar petir.”

Bukit itu. Tempatku mempelajari rahasia aliran pukulan Telapak Besi, juga kenangan pertamaku di padepokan ini.

“Jangan terlalu banyak berpikir, cepat pergi!”

“Iya-iya, bawel.” Tak kau usir pun aku akan pergi, Pak Tua.

“Bagus, hush-hush ….”

Gunung Karang. Sepertinya bukan ide buruk tuk pergi ke Perpustakaan Pendiri di sana, lagi pun tempatnya yang terisolasi dari orang luar—serta baru pertama kali kudengar—sepertinya sangat cocok buat bersembunyi dari Aliansi Beladiri Benua Timur. “HAHAHA ….”

“Hei, kenapa anak itu berjalan sambil tertawa sendirian?”

“Abaikan saja, dia murid Dewi Tapak Besi Teratai Perak.”

***

Beberapa hari sebelumnya.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kepungan di kolom Lima-Tiga Benua, aku akhirnya tiba ke depan gerbang Perguruan Telapak Besi. Pagi itu. Bajuku compang-camping bak gelandangan ketika mengetuk Pos Jaga Petugas Du, meski cuma penampilan luar saja sebab titel Pembunuh Naga meregenerasi tubuh serta memulihkan semua lukaku seketika.

“Seben-taar!” Kudengar suara sahutannya dari dalam seperti orang yang—masih—mengantuk.

Tapi. Bodo amat, pokoknya aku harus segera bersembunyi di dalam padepokan sebelum aliansi berhasil menyusulku kemari. “PETUGAS DU, CEPAT BUKA GERBANGNYA!”

“Iya-iya, hoaam.” Bisakah kau bicara dengan nada profesional.

Ah-lupakan saja, sudah bagus orang ini akhirnya muncul. “Minggir Petugas Du, aku harus segera masuk!”

“Eit!” Tangannya menghalauku memasuki gerbang.

Ada apa … “Kenapa menghalangiku?”

“Instruksi Kepala Perguruan, padepokan ditutup selama masa libur murid-murid,” katanya dengan wajah mendongak bak penguasa.

Aku tahu tujuan aslimu, tapi lebih baik pura-pura saja. “Lantas?”

“Kau murid perguruan bukan, harusnya pergi berlibur di waktu ini. Kenapa malah datang kemari, sekarang belum diizinkan masuk!” Masih bersikukuh, hah.

Aku diam dia pun bisu.

‘Apa kita cuma bakal saling tatap di pintu begini?’ batinku. ‘Arghhh!’ Menyebalkan. Kalau bukan karena sedang buron, aku malas meladenimu tahu. “Ehem … semoga ini bisa melonggarkan kunci pintu gerbang ya, Petugas Du.”

“HEI! Apa ini maksudnya. Kau ingin menyuapku, ya?” Apa, masih kurang.

Meh. Dasar lintah—sok jual mahal—kau, Petugas Du. “Ahh maaf, bukan maksudku begitu. Ini hanya hadiah kecil, aku sedang ingin menghabiskan liburan di perguruan.” Kuharap segini cukup dan kita bisa segera sepakat. “Hanya itu saja, boleh?”

“Hemmm … Sebenarnya agak berat, tapi tidak bagus juga menolak maksud baik dari seseorang. Baiklah, kau boleh masuk.”

Yes … “Terimakasih, Petugas Du.”

“Eit-eit-eit!” Kenapa tanganmu masih menghalauku.

Jangan bilang kau mau lebih, aku sudah membayarmu satu koin emas. Kampret, “Apa lagi?”

“Ini hanya antara kita saja, apa kau melihat petugas ‘DU’ membukakan gerbang untukmu?” Lucu mendengarmu mengatakan itu sambil menunjuk diri sendiri, menggelikan.

Dasar rubah. “Ahahaha, tentu saja-tidak. Aku tidak melihat apapun saat menyelinap kemari, aku menerobos dengan melompati dinding.” Puas kau sekarang.

“Eum, pergilah!”

Menyebalkan.

Walau berhasil masuk ke area padepokan, aku masih harus mencari tempat aman tuk bersembunyi. Tempat yang bebas—setidaknya—dari inspeksi petugas jaga, juga tempat paling sedikit mendapat perhatian.

AHA! Aku tahu.

“Penjaga Perpustakaan Ming, sepertinya aku akan merepotkanmu kali ini—mwehehe.”

***

ARGHHH!!! Sialan kau.

Pak Tua Ming, kenapa tak bilang kalau jalan ke Gunung Karang sangat gersang dan begitu curam. Awas saja nanti jika Perpustakaan Pendiri tak sesuai harapan, akan kuhajar kau menggunakan Telapak Besi dan Tapak Dewa sekaligus—lihat saja.

Sudah seharian aku berjalan di bawah sorotan terik matahari mengikuti jalan setapak ini, tapi gapura atau penanda Gunung Karang yang pak tua itu bilang belum juga kelihatan. “Kau pikir dari kuil di Bukit Batu hingga kemari itu cuma butuh sepuluh langkah, Pak Tua. Aku sudah berjalan sepanjang hari, kau dengar itu. PAK TUA MING!!!”

Ha … ha … ha … istirahat dulu.

Salahku sendiri. Selain ciri atau tanda ketika mencapai wilayah Gunung Karang, harusnya aku juga bertanya sejauh apa jalan menuju ke sana sebelum berangkat. “Sialan-sialaan-sialaaan!”

Sudahlah, tak ada gunanya juga memaki di tengah bukit pasir begini. Lagi pun, kurasa aku masih berada di jalur yang benar. Biarlah kali ini aku bermalam di sini saja, di tengah jalan tandus antara Bukit Batu dan Gunung Karang—jauh ke mana-mana.

Tapi.

Ngomong-ngomong langit sore yang mulai malam ini lumayan bagus juga, warna merahnya perlahan memudar bersama gelap serasi dengan sunyi di sekelilingku. Meski berbaring di tanah, aku gak bakal protes sama indahnya langit pas malam datang kemari.

Arghh … Meski begitu, udara kering dan dingin yang berhembus tetap saja sangat mengganggu. ‘Eh, tunggu dulu. Aku masih bisa melakukan ini … juga ini ... dan ini. Mwehehe ….’

Sekarang udara dingin bukan lagi masalah buatku, dinding buatanku ini bisa menghalau hembusan angin. Wahai bintang berkilau di malam yang tenang, kemarilah temani tidurku—hahaha.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED