Deandrea Fransiska, gadis yang biasa di panggil Dea yang kemarin terakhir menjalankan UN nya. Pecinta Matcha dan Kopi, menyukai lelaki yang sudah mempunyai pacar bernama Adam Malik. Ini hari minggu namun gadis itu terlihat bergegas di jam 2 siang untuk siap-siap bekerja. Salah nya juga ia ketiduran dan baru bangun jam setengah dua, Dea lupa memberitahu orang rumah untuk membangunkannya.
Ya, bekerja sebagai casual di salah satu hotel yang terkenal di kota itu. Sebagai siswi yang mengambil jurusan pariwisata perhotelan tentu saja pekerjaan casual di hotel seperti ini mudah dia dapatkan. Hitung-hitung menambah uang jajan.
“Aduh mana lagi kaosnya!!!” Dea mengerang karena tak menemukan kaos kaki hitamnya dimana-mana.
"Mamah," Menyerah akhirnya Dea memilih memanggil Mama minta Mama yang mencarikan.
"Ya," Balas Mamanya
"Kaos kaki hitam aku dimana ya? kok gak ada di lemari aduhhh ini udah jam berapa aku masuk jam 3 mah." Keluhnya yang kunjung menemukan kaos kaki hitamnya.
"Loh itu mamah cuci dua-dua nya bukannya kemarin kamu pake trus kamu taruh diatas mesin cuci." Jawab mamah nya sambil berjalan ke arah kamar Dea untuk melihat situasi disana.
"Astaga, gak gitu kemarin aku kebelet banget makanya aku tarus disitu dulu terus kelupaan dibawa lagi, lagian juga kan aku make nya baru sebentar mah." Jawabnya putus asa.
"Ya mana Mamah tau kalo itu mau di pakai lagi. Udah nanti beli aja lagi dijalan."
Dengan kesal Dea mengiyakan, iya ini salahnya juga sih karena menaruh nya disitu. Berpamitan tak lupa meminta uang untuk membeli kaus kaki baru kepada Mama nya Dea segera menyalakan motornya dan bergegas menuju ketempat kerjanya.
Sampai, Dea berjalan cepat menuju loker melepas hoodie nya untuk melapisi kemeja putih yang sedang dipakainya, berkaca men touch up sedikit make up nya karena perjalanan cukup jauh kemudian mencepol rambutnya kebelakang mengganti sepatunya dengan flat shoes tak lupa memakai kaus kaki barunya yang tadi ia beli dan selesai.
Dea menyimpan tas nya di loker, kembali berkaca untuk memastikan penampilannya dan oke. Terakhir ia memasang name tag dan pin yang wajib dipakai pekerja hotel itu dan menyemprot kan parfum.
Berjalan dengan sesekali menyapa pegawai lain yang lewat Dea sampai di pantry untuk mengikuti briefing sebelum mulai bekerja. Kemudian dia memulai pekerjaannya, acara hari ini wedding 1000 pax dan itu pasti akan melelahkan.
✨✨✨
Ahhh, akhirnya Dea sampai rumah. Sift nya berakhir jam 7 malam tapi dia harus extend hingga jam 8 malam. Memasukan motornya kedalam garasi Dea membuka pintu yang belum terkunci dan mendapati Mamah dan Baba nya sedang menonton tv.
"Salam." Peringat Baba nya karena Dea langsung nyelonong masuk.
"Assalamualaikum," Ucap Dea lemas Ia berjalan kearah orang tuanya dan menyalimi mereka satu persatu.
"Sudah makan?" Tanya Mamanya. Dea hanya mengangguk. "Nanti kalo laper lagi lauk nya dipanasin dulu ya sudah mama taruh di dalam kulkas soalnya takut basi." Lagi Dea hanya mengangguk
"Mandi dulu terus sholat." Suruh Baba nya.
Ya, Dea memanggil Ayahnya dengan sebutan Baba. Tidak tau mengapa dia hanya suka saja memanggil ayahnya begitu dan tidak ada yang mempermasalahkannya.
Dea beranjak ke kamarnya, merebahkan tubuh lelahnya sebentar kekasur yang terlihat sangat nyaman.
"Arghh magerrr," Geramnya.
"Dea cepat mandi nak, nanti makin malam gak bagus buat mandi." Peringat Baba nya lagi karena tak mendapati Dea keluar kamar untuk membersihkan diri.
"Iya Ba." Jawabnya beranjak dari kasur, menghapus make up nya, mengambil handuk dan pakaian yang akan ia kenakan kemudian mandi.
Selesai mandi tak lupa mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim Dea ikut duduk bersama Baba dan Mamanya di depan TV, nonton bersama.
“Rame tamunya tadi ka?” Tanya Mama saat Dea sudah duduk bersama mereka.
“Ya rame namanya juga nikahan apalagi di Hotel 1000 pax lagi.”
“Pantes pulangnya telat.” Ujar Baba.
“Iya, terus sempet kena komplain juga aku karena makanannya lambat direfil.” Keluh Dea, dia tadi harus menangani tamu yang komplain padahal itu bukan kesalahannya.
“Ya wajar namanya juga kerja.” Baba menatap Dea sejenak melihat ekspresi cemberut anaknya.
"Loh Covid udah masuk indonesia?" Dea mengalihkan topik saat iklan berita menyiarkan Covid sudah memasuki Indonesia dan sekolah kemungkinan akan diliburkan karena sudah beberapa orang yang terkena wabah itu.
"Iya, kamu juga udah selesai kan UN nya. Tinggal nunggu pengumuman lulus." Babanya menjawab
"Iya, tapi masih belum ada pengumuman libur jadi masih masuk sekolah." Jawabnya.
“Alah udah gak papa itu kalo gak masuk juga gurunya juga sibuk ngurus nilai kalian.” Ujar Mama.
Dea hanya diam tak menanggapi.
"Harus pake masker? Tambah sesek dong." Ucapnya saat pembawa berita memberi tahu bahwa harus mengenakan masker dimanapun dan kapanpun agar terhindar dari penularan virus.
"Biasa juga kalo lagi ada kabut kita juga harus pake masker jadi sudah biasa gausa lebay deh." Mama menanggapi.
"Iya sih sekaligus bisa menutupi keburikan ku ini."
Babanya hanya tertawa.
Dikotanya setiap tahun saat musim kemarau selalu saja berkabut, dan saat itu juga masyarakat harus menggunakan masker. Jadi anggap saja mereka sudah terlatih.
"Pendaftaran kuliah kamu sudah di urus?"
"Sudah Ba, tinggal bayar."
"Ya sudah bagus, nanti kasih tau Baba berapa yang harus dibayar."
"Abang kerja mah?" Tanya nya karena sejak tadi tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan dari abangnya.
"Iya tadi masuk siang dia."
Dea mengangguk sebagai jawaban. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dan Dea pun sudah mulai mengantuk karena benar saja hari ini pekerjaannya sangat melelahkan belum dia harus mengatasi komplain dari tamu. Sudah waktunya dia mengistirahatkan badannya.
"Aku mau tidur dulu." Pamit nya dengan orang tua nya. Mereka hanya mengangguk masih asik menonton tv.
Membersihkan muka nya kembali Dea memakai rangkaian skincare nya kemudian menaiki kasurnya yang sudah memanggil-manggilnya sedari tadi, memeluk guling dan boneka nya menarik selimut dan memejamkam matanya. Tak lupa Dea mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur nya karna ia tidak bisa tidur dalam posisi terang.
5 menit, 10 menit Dea hanya mengubah-ubah posisi tidurnya namun tidak kunjung tertidur. Ia menghembuskan nafasnya kesal, mencabut charger handphonenya diatas meja, membuka aplikasi untuk nonton drama Korea favoritnya. Ia memilih menonton dulu saja sampai mengantuk.
Ketukan di pintu kamar mengganggu ke khusyukannya menonton. Dea mempause tontonnya dan membuka pintu, ahh ternyata abangnya yang masih lengkap memakai seragam kerja yang mengganggu nya.
“Adek mu sudah tidur Bang.” Mama memperingatkan Abang sebelum Dea membuka pintu.
"Kenapa?" Tanya nya.
“Ini dibuka.” Ujar Abang kepada Mama.
Tanpa berkata Abangnya menyodorkan bungkusan plastik yang didalamnya terdapat minuman dari brand favoritnya rasa cookies and cream. Abangnya tahu saja apa yang ia butuhkan.
"Maacihhh." Ucapnya dengan senyum lebar di wajah saat mengambil minuman itu.
"Itu abang juga ada bawa martabak dan terang bulan , kalo mau ambil didepan tv sama Mama."
"Enggak, ini aja cukup."
Abangnya mengangkat bahu tanda tak peduli lalu berjalan menuju kamarnya. Abangnya kelihatan tidak peduli dari luar tapi nyatanya dia peduli dengan Dea, hanya saja gengsi orang itu besar tapi Dea maklum abangnya tidak separah dulu.
Minuman itu sudah cukup menjadi pelengkap menonton dramanya. Dea kembali tenggelam dengan aktivitasnya hingga tak sadar dia tertidur dengan handphone yang masih menampilkan drama yang ia tonton dan earphone yang masih menempel ditelinganya.
"Pengumuman bulan apa sih?"
"Bulan Mei kalo gak salah."
Edith mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu jadi kuliah di Surabaya Dea?" Tanya Raina sembari menyusun kartu UNO nya yang baru di bagikan Edith.
"Iya jadi, tapi kayaknya bakal online deh. Malas banget." Gerutu Dea dengan wajah cemberutnya.
"Iya sih pasti karna Covid dah masuk ke Indonesia, sekolah aja udah pada belajar online lewat zoom atau google meet kan ya?" Edith menanggapi.
3 gadis itu sedang nongkrong di sebuah coffee shop, rutinitas malam minggu mereka sambil memainkan kartu UNO yang di mereka bawa sendiri agar tidak bosan jika kehabisan bahan obrolan.
"Iya, untung aja kita udah selesai tinggal nunggu pengumuman lulus jadi gak perlu online." Jawab Raina, yang kini sudah bisa terlihat bahwa dia akan kalah lagi dalam bermain UNO.
"Bener banget, bakal susah sih apalagi kalo pelajaran mtk ngejelasinnya gimana coba."
"Ya pasti kita juga bakal tetep ngerasa belajar online, emang anak kuliahan gak di rumahkan apa."
Pernyataan Dea mendapat anggukan dari kedua temannya, membenarkan.
"Eh tapi tumben kamu Rai gak jalan sama Rahman."
Yaa karna setiap minggu yang paling susah di ajak kumpul adalah Raina. Dia selalu mempunyai agenda bersama Rahman, atau bahkan Rahman yang mengajak Dea dan Edith untuk nongkrong bersama dengannya dan teman-temannya. Ya mana mereka maulah! Maluuu
"Tadi dia ada ngajak sih cuman aku malas ikut soalnya mereka cuman mau makan-makan doang sama yang lain karna ada yang ulang tahun." Raina menjawab.
"Bagus dong harusnya makan gratis!" Edith berseru.
Edith kalau soal makanan selalu saja nomor 1, apalagi kalau gratis bisa-bisa dia akan datang secepat kilat.
"Malas, lagian udah lama juga aku gak main bareng kalian kalo malam minggu."
"Arghhh malas banget aku kalah terus!!!" Raina melemparkan kartu nya ke meja. Kesal dari pertama main dia belum ada menang.
Edith dan Dea tertawa. Sudah biasa melihat Raina begitu.
"Udahan ahh aku." Ucapnya lalu mengambil minumannya, meredamkan kekesalannya.
Raina sudah menyerah, Dea dan Edith juga berhenti main. Tidak ramai jika hanya berdua yang main.
Mencomot kentang yang ada didepannya Dea kembali membuka obrolan.
"Kalian jadinya ambil jurusan apa?" Tanyanya pada Raina dan Edith.
"Ekonomi pembangunan sih aku." Jawab Edith.
"Aku juga biar ada temennya satu fakultas." Jawab Raina sambil terkekeh.
"Kamu tetep ambil pariwisata perhotelan De?" Kini giliran Raina yang bertanya.
"Iyaa tetep lanjutin hotel aja aku."
Iya, Dea tetap melanjutkan studi nya dengan jurusan yang sama di SMK nya. Dia tidak mau menyimpang dari jalur.
"Kapan berangkatnya?"
"Harusnya Juni atau Juli ini sih tapi gak tau nih belum ada konfirmasi lagi."
Karena ini malam minggu dan mereka juga sudah tidak ada agenda apa-apa lagi di sekolah maka mereka tidak akan dimarahi kalau pulang terlambat. Dea, Edith dan Raina mempunyai jam malam yang sama dari orang tua mereka. Jam 9 harus sudah pulang.
Dea pernah pulang lewat dari jam itu, sekitar jam 10 an karna dia terlalu asik mengobrol dengan mantan pacarnya dahulu dan saat sampai di rumah Dea di kunci tidak bisa masuk oleh Mama sampai ia harus menelpon Baba yang saat itu kena shift malam agar Mama mau membukakan pintu untuknya baru dia bisa masuk setelah itu.
Edith anak itu lebih kasian sekali, dia pernah pulang jam 12 malam karna habis nonton konser dan sampai rumah dia benar-benar tidak dibukakan pintu hingga harus menginap di rumah Raina yang cukup dekat dari situ, besokannya baru dia pulang dan tentu saja omelan dari orang tua menyambutnya.
Raina tidak terlalu parah, karena alasannya pulang telat adalah hujan. Dia tidak ada jas hujan dan mau tidak mau dia harus menunggu hujan reda agar pulang tidak basah karena orang tua nya juga tidak membolehkan anak mereka hujan-hujanan. Namun tetap sampai rumah dia mendapat omelan dan besoknya jas hujan baru sudah ada di kamarnya agar tidak ada alasan lagi untuk nya pulang terlambat.
Begitulah, namanya juga strict parent. Namun bukan tanpa alasan juga mereka begitu, mereka begitu juga karna tidak mau anak gadis mereka kenapa-kenapa terlebih itu sudah malam hari. Jadi Dea, Edith dan Raina memaklumi.
"Udah jam sepuluh nih, pulang yok aku juga udah pegel dari tadi duduk."
Raina mengecek jam yang melingkar ditangannya. Benar sudah jam sepuluh malam, ia juga sebenarnya sudah lumayan sakit pinggang duduk kelamaan. Maklum remaja jompo.
Memasukkan dompet, handphone dan tak lupa membereskan kartu UNO mereka kemudian pulang. Edith bersama dengan Raina karna rumah mereka dekat dan Dea sendiri.
"Dahhh kapan-kapan lagi ya. Aku duluan." Pamit Dea.
"Hati-hati."
"Dahhh."
Jawab Raina dan Edith bersamaan.
✨✨✨
Dea sudah sampai dirumahnya, memasukan motornya di bagasi kemudian mengetuk pintu. Pintu sudah dikunci tapi orang tua nya masih menonton tv di ruang tengah.
"Assalamualaikum," Salamnya pada Mama yang membukakan pintu.
"Waalaikumsalam," Jawab Mama menyambut tangan Dea yang menyalimi nya.
"Bawa apa De?" Tanya abangnya yang ikut nonton bersama saat melihat kepulangan Dea.
"Gak ada, abang juga gak ada nitip apa-apa." Jawab Dea sambil menyalimi abang dan Baba nya kemudian ikut duduk disebelah Baba nya.
"Udah makan kak?" Mama bertanya
"Belum sih Ma, tadi cuman minum doang sama nyemil kentang."
"Iya udah makan dulu sana, itu lauknya masih diatas meja." Suruh Mama.
"Bentar deh belum laper juga masih kenyang."
Mama hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tumben abang gak jalan."
"Sudah baru datang dia." Bukan abang yang menjawab tapi Baba.
"Bawa pacarnya kesini." Mama melanjutkan.
"Ihh parah sih aku gak di kenalin."
Abang hanya menahan senyum. Salah tingkah.
"Gimana-gimana cewe nya Mah?" Tanya Dea kepo.
"Cantik, sopan juga. Ya namanya baru pertama ketemu jadi belum tau banyak nanti sambil dilihat aja cocok apa engga di jadikan menantu."
"Ihh apasih," Lagi. Abang salah tingkah jadi menanggapi ketus begitu.
"Kapan-kapan ajak main kesini lagi Bang, tunggu Mamah libur kerja nanti biar kita bisa masak sama-sama." Usul Mamah kepada Abang.
"Iya kalo dia gak sibuk kuliah nanti Saka bawa." Jawab Abang Saka.
Baba hanya menyimak sambil terus menonton film spiderman yang ditanyangkan di tv. Weekend pasti akan ada film-film rame untuk di tonton.
Dea merogoh tas nya mengambil handphone, membuka instagram dan me repost story dari Edith dan Raina, ya selalu saja begitu setiap habis jalan-jalan. Repost-repostan story, dia tertawa saat melihat video di story Edith yang menampilkan wajah kesal Raina kalah bermain UNO tadi. Lucu sekali melihatnya kesal.