Ini hari terakhirnya mengikuti UN di SMK nya, dan katanya ini juga angkatan terakhir yang akan melaksanakan UN karna UN akan segera di hapuskan. Tidak terasa akhirnya dia akan segera lulus dan menjadi mahasiswa kemudian akan menjalankan hidup nya seperti yang sudah direncanakannya.
Berkuliah di luar kota, memiliki teman-teman baru yang berasal dari berbagai kota ahh dia tidak sabar rasanya untuk itu. Yahh walaupun saat ini ia sedang mengerjakan soal IPA yang selama dia bersekolah di SMK ini hanya dipelajari di tahun pertama saja dan sekarang sewaktu UN malah ada pelajaran IPA. Guru hanya bisa memberinya buku pelajaran dari kelas 10-12 yang ada di perpustakaan untuk dipelajari dalam waktu singkat.
"Huftttt." Hembusan nafasnya terasa berat melihat rumus-rumus kimia fisika atau apalah itu yang ada di komputer di hadapannya.
"Stttt Deaa," Panggil temannya pelan takut ketahuan pengawas.
Dea yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya melihat temannya yang ada disebelah sambil memberikan gerakan seperti bertanya 'apa?kenapa?'
Tangan temannya bergerak membentuk angka 15 pertanda dia ingin tahu jawaban Dea nomor 15.
"Aku ngasal Dith." Jawabnya sambil memperlihatkan wajah letih nya dengan rumus-rumus yang ada didepannya.
"Gapapa, aku udah pusing banget."
"C."
Edith mengacungkan jempolnya pada Dea dan segera menjawab soal di komputer miliknya.
Maafkan dirinya jika nilai UN nya dalam IPA dibawah rata-rata karena 80% persen jawabannya adalah perolehan dari cap cip cup.
Waktu terus berjalan, begitupun Dea yang sudah selesai mengerjakan UN nya di menit-menit terakhir juga teman-temannya, Edith dan Raina. Mereka bergegas mengambil tas nya yang di kumpulkan didepan kelas sebelum masuk tadi kemudian keluar dan langsung pergi ke kantin.
“Marilah pulang marilah pulang marilah pulangggg bersama-samaaaaaa.” Edith bernyanyi sambil keluar kelas dengan tingkahnya.
“Makan dululah baru pulang.” Sanggah Raina, Dea hanya tertawa.
Ini sudah pelajaran terakhir, kantin sebenarnya juga sudah tutup tapi mereka selalu membawa bekal dengan alasan agar lebih hemat, tentu juga agar uang saku mereka bisa menjadi tambahan untuk jalan-jalan. Terlalu malas makan pada jam istirahat karena tidak banyak waktu untuk istirahat saat UN, kedua karna mereka tau jika kantin akan full dan akan sulit mendapatkan tempat duduk. Maka dari itu mereka memilih untuk makan saat pulang, agar lebih leluasa.
"Gila mumet banget anjir ngerjain soal begitu. Bayangin aja kita cuman dapet setahun pelajaran IPA trus UN di keluarin. Iya gapapa kalo materi cuman pas dikelas 10 doang lah ini." Oceh Edith yang begitu kesal.
"Iyaya, trus angkatan kita juga katanya angkatan terakhir UN. Enak banget adek kelas ga kedapetan UN." Sahut Raina membenarkan.
Sedangkan Dea sudah asik dengan bekal yang dibawanya dari rumah.
"Hallo maniez maniez quhhh." Sapa Rahman the one and only laki-laki yang berteman dekat dengan mereka.
"Baru keluar?" Tanya Raina.
"Udah dari tadi tapi aku ngerundingin mau futsal dimana sama anak-anak."
Yah, seperti yang terlihat dan seperti yang kalian tahu, jelas saja si Rahman ini mau berteman dengan mereka karena pacarnya, belahan jiwanya dan cintanya adalah teman Dea dan Edith.
"Ini makan," Raina menyodorkan kotak bekal lain yang dibawa untuk Rahman makan, Raina tidak selalu membawakan Rahman bekal, kadang juga mereka bisa saja makan bekal sama-sama.
"By the way, Man si Adam mana?" Tanya Dea sembari berdeham salah tingkah.
"Gak cape apa mengagumi dia mulu. Dia juga udah ada cewek De." Jawab Rahman. Raina yang mendengar itu melotot kan matanya.
"Lah aku kan cuman suka sama muka nya karna dia ganteng, jadi kalo liat dia buat cuci mata aja."
Bohong, Rahman, Edith dan Raina juga tahu kalo Dea menyukai Adam sejak pertama melihat Adam duduk di lapangan bersama dengan Rahman dan teman-temannya yang lain.
"Udah pulang kayaknya tadi sama anak-anak mau pada ke basecamp katanya."
Dea hanya menganggukan kepalanya tanda paham.
"Ntar dia ikut futsal kok kalo mau nonton aja sama Raina juga sekalian temanin dia habis magrib, tapi bakal ada ceweknya juga deh kayaknya De."
"Mmm bisa sih, ntar liat aja deh, aku jadi apa engga." Jawab Dea.
"Kalo jadi kabarin aja ya De kita berangkat sama-sama aja." Usul Raina.
"Kok kalian gak ngajak aku ya?" Edith nyeletuk karena berasa tidak terlihat di sana.
Mereka tertawa, "Ya kamu kalo aku ikut, kamu harus ikut jugalah." Ucap Dea
Sudah menghabiskan makannya mereka bergegas menuju parkiran untuk pulang kerumah masing-masing karena dilihat-lihat sekolah juga sudah mulai lenggang.
Parkiran sudah banyak kosong, bersyukurlah Rahman hari ini ia tidak perlu menjadi tukang parkir dadakan untuk mengeluarkan motor Dea dan Edith dari parkiran.
"Dadahhh, hati-hati ya." Ucap semuanya sebagai perpisahan.
✨✨✨
Dea merebahkan tubuh lelahnya di kasur miliknya, memainkan handphonenya untuk me repost story instagram dari Raina dan Edith saat nonton futsal dan jalan-jalan tadi.
Melihat foto bersama dengan tim futsal distory instagram Rahman, ahhh Adam sugguh tampan apalagi saat dia mencetak gol lalu merayakan dengan selebrasi khas Messi rasanya jatung Dea ingin meledak saking salah tingkahnya ia melihat ketampanan Adam.
"Arghhhh ini Mamah nya kira-kira ngidam apa ya bisa jadi secakep ini!!!" Erangnya
Rasanya Dea sedang euforia sekali hanya dengan melihat ketampanan Adam. Tapi tentu saja hal itu tidak bertahan lama karna setelah lama stuck di story Rahman untuk melihat Adam selanjutnya muncul story Adam. Sebuah foto, Adam merangkul pinggang kekasihnya sembari tersenyum lebar ke kamera.
Foto itu diambil tadi, tentu saja Dea melihatnya! Dan yaaa hatinya terasa seperti terbakar melihatnya mood nya langsung hancur berantakan maka dari itu Raina dan Edith mengusulkan untuk membawa Dea jalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang.
"Cantik sih, pantes Adam suka." Gumamnya menatap gadis yang berfoto dengan Adam.
Dia tau gadis itu, anak kelas 11 adik kelas mereka. Memang Dea akui cantik, hidung mancung, wajah simetris, bulu mata lentik. Yahhh seperti tipe-tipe kebanyakan laki-laki.
Malas, Dea menyudahi aktivitasnya. Jam sudah menunjukkan jam setengah sebelas, matanya sudah mulai mengantuk. Bangkit dari rebahan nyamannya ia berjalan keluar kamar menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya lalu setelah itu dia tidur, besok dia masih harus ke sekolah class meeting agenda rutin sekolahnya sehabis ulangan atau ujian pasti mengadakan class meeting.
Yah walaupun sebenarnya dia malas karna pasti membosankan menonton futsal lagi futsal lagi atau tidak peragaan busana dari jurusan tata busana. Tapi tetap saja absensi jalan, jadi dia harus tetap hadir setidaknya biar tidak ada alpa nanti di rapotnya.
Dea hanya berharap besok harinya baik-baik saja atau jika bisa dia tidak melihat Adam bersama dengan pacarnya sudah cukup kemarin saja yang membuat hati Dea panas walaupun dia tahu dia bukan siapa-siapa tidak berhak cemburu pada gadis yang notabenenya pacar Adam.
Deandrea Fransiska, gadis yang biasa di panggil Dea yang kemarin terakhir menjalankan UN nya. Pecinta Matcha dan Kopi, menyukai lelaki yang sudah mempunyai pacar bernama Adam Malik. Ini hari minggu namun gadis itu terlihat bergegas di jam 2 siang untuk siap-siap bekerja. Salah nya juga ia ketiduran dan baru bangun jam setengah dua, Dea lupa memberitahu orang rumah untuk membangunkannya.
Ya, bekerja sebagai casual di salah satu hotel yang terkenal di kota itu. Sebagai siswi yang mengambil jurusan pariwisata perhotelan tentu saja pekerjaan casual di hotel seperti ini mudah dia dapatkan. Hitung-hitung menambah uang jajan.
“Aduh mana lagi kaosnya!!!” Dea mengerang karena tak menemukan kaos kaki hitamnya dimana-mana.
"Mamah," Menyerah akhirnya Dea memilih memanggil Mama minta Mama yang mencarikan.
"Ya," Balas Mamanya
"Kaos kaki hitam aku dimana ya? kok gak ada di lemari aduhhh ini udah jam berapa aku masuk jam 3 mah." Keluhnya yang kunjung menemukan kaos kaki hitamnya.
"Loh itu mamah cuci dua-dua nya bukannya kemarin kamu pake trus kamu taruh diatas mesin cuci." Jawab mamah nya sambil berjalan ke arah kamar Dea untuk melihat situasi disana.
"Astaga, gak gitu kemarin aku kebelet banget makanya aku tarus disitu dulu terus kelupaan dibawa lagi, lagian juga kan aku make nya baru sebentar mah." Jawabnya putus asa.
"Ya mana Mamah tau kalo itu mau di pakai lagi. Udah nanti beli aja lagi dijalan."
Dengan kesal Dea mengiyakan, iya ini salahnya juga sih karena menaruh nya disitu. Berpamitan tak lupa meminta uang untuk membeli kaus kaki baru kepada Mama nya Dea segera menyalakan motornya dan bergegas menuju ketempat kerjanya.
Sampai, Dea berjalan cepat menuju loker melepas hoodie nya untuk melapisi kemeja putih yang sedang dipakainya, berkaca men touch up sedikit make up nya karena perjalanan cukup jauh kemudian mencepol rambutnya kebelakang mengganti sepatunya dengan flat shoes tak lupa memakai kaus kaki barunya yang tadi ia beli dan selesai.
Dea menyimpan tas nya di loker, kembali berkaca untuk memastikan penampilannya dan oke. Terakhir ia memasang name tag dan pin yang wajib dipakai pekerja hotel itu dan menyemprot kan parfum.
Berjalan dengan sesekali menyapa pegawai lain yang lewat Dea sampai di pantry untuk mengikuti briefing sebelum mulai bekerja. Kemudian dia memulai pekerjaannya, acara hari ini wedding 1000 pax dan itu pasti akan melelahkan.
✨✨✨
Ahhh, akhirnya Dea sampai rumah. Sift nya berakhir jam 7 malam tapi dia harus extend hingga jam 8 malam. Memasukan motornya kedalam garasi Dea membuka pintu yang belum terkunci dan mendapati Mamah dan Baba nya sedang menonton tv.
"Salam." Peringat Baba nya karena Dea langsung nyelonong masuk.
"Assalamualaikum," Ucap Dea lemas Ia berjalan kearah orang tuanya dan menyalimi mereka satu persatu.
"Sudah makan?" Tanya Mamanya. Dea hanya mengangguk. "Nanti kalo laper lagi lauk nya dipanasin dulu ya sudah mama taruh di dalam kulkas soalnya takut basi." Lagi Dea hanya mengangguk
"Mandi dulu terus sholat." Suruh Baba nya.
Ya, Dea memanggil Ayahnya dengan sebutan Baba. Tidak tau mengapa dia hanya suka saja memanggil ayahnya begitu dan tidak ada yang mempermasalahkannya.
Dea beranjak ke kamarnya, merebahkan tubuh lelahnya sebentar kekasur yang terlihat sangat nyaman.
"Arghh magerrr," Geramnya.
"Dea cepat mandi nak, nanti makin malam gak bagus buat mandi." Peringat Baba nya lagi karena tak mendapati Dea keluar kamar untuk membersihkan diri.
"Iya Ba." Jawabnya beranjak dari kasur, menghapus make up nya, mengambil handuk dan pakaian yang akan ia kenakan kemudian mandi.
Selesai mandi tak lupa mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim Dea ikut duduk bersama Baba dan Mamanya di depan TV, nonton bersama.
“Rame tamunya tadi ka?” Tanya Mama saat Dea sudah duduk bersama mereka.
“Ya rame namanya juga nikahan apalagi di Hotel 1000 pax lagi.”
“Pantes pulangnya telat.” Ujar Baba.
“Iya, terus sempet kena komplain juga aku karena makanannya lambat direfil.” Keluh Dea, dia tadi harus menangani tamu yang komplain padahal itu bukan kesalahannya.
“Ya wajar namanya juga kerja.” Baba menatap Dea sejenak melihat ekspresi cemberut anaknya.
"Loh Covid udah masuk indonesia?" Dea mengalihkan topik saat iklan berita menyiarkan Covid sudah memasuki Indonesia dan sekolah kemungkinan akan diliburkan karena sudah beberapa orang yang terkena wabah itu.
"Iya, kamu juga udah selesai kan UN nya. Tinggal nunggu pengumuman lulus." Babanya menjawab
"Iya, tapi masih belum ada pengumuman libur jadi masih masuk sekolah." Jawabnya.
“Alah udah gak papa itu kalo gak masuk juga gurunya juga sibuk ngurus nilai kalian.” Ujar Mama.
Dea hanya diam tak menanggapi.
"Harus pake masker? Tambah sesek dong." Ucapnya saat pembawa berita memberi tahu bahwa harus mengenakan masker dimanapun dan kapanpun agar terhindar dari penularan virus.
"Biasa juga kalo lagi ada kabut kita juga harus pake masker jadi sudah biasa gausa lebay deh." Mama menanggapi.
"Iya sih sekaligus bisa menutupi keburikan ku ini."
Babanya hanya tertawa.
Dikotanya setiap tahun saat musim kemarau selalu saja berkabut, dan saat itu juga masyarakat harus menggunakan masker. Jadi anggap saja mereka sudah terlatih.
"Pendaftaran kuliah kamu sudah di urus?"
"Sudah Ba, tinggal bayar."
"Ya sudah bagus, nanti kasih tau Baba berapa yang harus dibayar."
"Abang kerja mah?" Tanya nya karena sejak tadi tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan dari abangnya.
"Iya tadi masuk siang dia."
Dea mengangguk sebagai jawaban. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dan Dea pun sudah mulai mengantuk karena benar saja hari ini pekerjaannya sangat melelahkan belum dia harus mengatasi komplain dari tamu. Sudah waktunya dia mengistirahatkan badannya.
"Aku mau tidur dulu." Pamit nya dengan orang tua nya. Mereka hanya mengangguk masih asik menonton tv.
Membersihkan muka nya kembali Dea memakai rangkaian skincare nya kemudian menaiki kasurnya yang sudah memanggil-manggilnya sedari tadi, memeluk guling dan boneka nya menarik selimut dan memejamkam matanya. Tak lupa Dea mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur nya karna ia tidak bisa tidur dalam posisi terang.
5 menit, 10 menit Dea hanya mengubah-ubah posisi tidurnya namun tidak kunjung tertidur. Ia menghembuskan nafasnya kesal, mencabut charger handphonenya diatas meja, membuka aplikasi untuk nonton drama Korea favoritnya. Ia memilih menonton dulu saja sampai mengantuk.
Ketukan di pintu kamar mengganggu ke khusyukannya menonton. Dea mempause tontonnya dan membuka pintu, ahh ternyata abangnya yang masih lengkap memakai seragam kerja yang mengganggu nya.
“Adek mu sudah tidur Bang.” Mama memperingatkan Abang sebelum Dea membuka pintu.
"Kenapa?" Tanya nya.
“Ini dibuka.” Ujar Abang kepada Mama.
Tanpa berkata Abangnya menyodorkan bungkusan plastik yang didalamnya terdapat minuman dari brand favoritnya rasa cookies and cream. Abangnya tahu saja apa yang ia butuhkan.
"Maacihhh." Ucapnya dengan senyum lebar di wajah saat mengambil minuman itu.
"Itu abang juga ada bawa martabak dan terang bulan , kalo mau ambil didepan tv sama Mama."
"Enggak, ini aja cukup."
Abangnya mengangkat bahu tanda tak peduli lalu berjalan menuju kamarnya. Abangnya kelihatan tidak peduli dari luar tapi nyatanya dia peduli dengan Dea, hanya saja gengsi orang itu besar tapi Dea maklum abangnya tidak separah dulu.
Minuman itu sudah cukup menjadi pelengkap menonton dramanya. Dea kembali tenggelam dengan aktivitasnya hingga tak sadar dia tertidur dengan handphone yang masih menampilkan drama yang ia tonton dan earphone yang masih menempel ditelinganya.
"Pengumuman bulan apa sih?"
"Bulan Mei kalo gak salah."
Edith mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu jadi kuliah di Surabaya Dea?" Tanya Raina sembari menyusun kartu UNO nya yang baru di bagikan Edith.
"Iya jadi, tapi kayaknya bakal online deh. Malas banget." Gerutu Dea dengan wajah cemberutnya.
"Iya sih pasti karna Covid dah masuk ke Indonesia, sekolah aja udah pada belajar online lewat zoom atau google meet kan ya?" Edith menanggapi.
3 gadis itu sedang nongkrong di sebuah coffee shop, rutinitas malam minggu mereka sambil memainkan kartu UNO yang di mereka bawa sendiri agar tidak bosan jika kehabisan bahan obrolan.
"Iya, untung aja kita udah selesai tinggal nunggu pengumuman lulus jadi gak perlu online." Jawab Raina, yang kini sudah bisa terlihat bahwa dia akan kalah lagi dalam bermain UNO.
"Bener banget, bakal susah sih apalagi kalo pelajaran mtk ngejelasinnya gimana coba."
"Ya pasti kita juga bakal tetep ngerasa belajar online, emang anak kuliahan gak di rumahkan apa."
Pernyataan Dea mendapat anggukan dari kedua temannya, membenarkan.
"Eh tapi tumben kamu Rai gak jalan sama Rahman."
Yaa karna setiap minggu yang paling susah di ajak kumpul adalah Raina. Dia selalu mempunyai agenda bersama Rahman, atau bahkan Rahman yang mengajak Dea dan Edith untuk nongkrong bersama dengannya dan teman-temannya. Ya mana mereka maulah! Maluuu
"Tadi dia ada ngajak sih cuman aku malas ikut soalnya mereka cuman mau makan-makan doang sama yang lain karna ada yang ulang tahun." Raina menjawab.
"Bagus dong harusnya makan gratis!" Edith berseru.
Edith kalau soal makanan selalu saja nomor 1, apalagi kalau gratis bisa-bisa dia akan datang secepat kilat.
"Malas, lagian udah lama juga aku gak main bareng kalian kalo malam minggu."
"Arghhh malas banget aku kalah terus!!!" Raina melemparkan kartu nya ke meja. Kesal dari pertama main dia belum ada menang.
Edith dan Dea tertawa. Sudah biasa melihat Raina begitu.
"Udahan ahh aku." Ucapnya lalu mengambil minumannya, meredamkan kekesalannya.
Raina sudah menyerah, Dea dan Edith juga berhenti main. Tidak ramai jika hanya berdua yang main.
Mencomot kentang yang ada didepannya Dea kembali membuka obrolan.
"Kalian jadinya ambil jurusan apa?" Tanyanya pada Raina dan Edith.
"Ekonomi pembangunan sih aku." Jawab Edith.
"Aku juga biar ada temennya satu fakultas." Jawab Raina sambil terkekeh.
"Kamu tetep ambil pariwisata perhotelan De?" Kini giliran Raina yang bertanya.
"Iyaa tetep lanjutin hotel aja aku."
Iya, Dea tetap melanjutkan studi nya dengan jurusan yang sama di SMK nya. Dia tidak mau menyimpang dari jalur.
"Kapan berangkatnya?"
"Harusnya Juni atau Juli ini sih tapi gak tau nih belum ada konfirmasi lagi."
Karena ini malam minggu dan mereka juga sudah tidak ada agenda apa-apa lagi di sekolah maka mereka tidak akan dimarahi kalau pulang terlambat. Dea, Edith dan Raina mempunyai jam malam yang sama dari orang tua mereka. Jam 9 harus sudah pulang.
Dea pernah pulang lewat dari jam itu, sekitar jam 10 an karna dia terlalu asik mengobrol dengan mantan pacarnya dahulu dan saat sampai di rumah Dea di kunci tidak bisa masuk oleh Mama sampai ia harus menelpon Baba yang saat itu kena shift malam agar Mama mau membukakan pintu untuknya baru dia bisa masuk setelah itu.
Edith anak itu lebih kasian sekali, dia pernah pulang jam 12 malam karna habis nonton konser dan sampai rumah dia benar-benar tidak dibukakan pintu hingga harus menginap di rumah Raina yang cukup dekat dari situ, besokannya baru dia pulang dan tentu saja omelan dari orang tua menyambutnya.
Raina tidak terlalu parah, karena alasannya pulang telat adalah hujan. Dia tidak ada jas hujan dan mau tidak mau dia harus menunggu hujan reda agar pulang tidak basah karena orang tua nya juga tidak membolehkan anak mereka hujan-hujanan. Namun tetap sampai rumah dia mendapat omelan dan besoknya jas hujan baru sudah ada di kamarnya agar tidak ada alasan lagi untuk nya pulang terlambat.
Begitulah, namanya juga strict parent. Namun bukan tanpa alasan juga mereka begitu, mereka begitu juga karna tidak mau anak gadis mereka kenapa-kenapa terlebih itu sudah malam hari. Jadi Dea, Edith dan Raina memaklumi.
"Udah jam sepuluh nih, pulang yok aku juga udah pegel dari tadi duduk."
Raina mengecek jam yang melingkar ditangannya. Benar sudah jam sepuluh malam, ia juga sebenarnya sudah lumayan sakit pinggang duduk kelamaan. Maklum remaja jompo.
Memasukkan dompet, handphone dan tak lupa membereskan kartu UNO mereka kemudian pulang. Edith bersama dengan Raina karna rumah mereka dekat dan Dea sendiri.
"Dahhh kapan-kapan lagi ya. Aku duluan." Pamit Dea.
"Hati-hati."
"Dahhh."
Jawab Raina dan Edith bersamaan.
✨✨✨
Dea sudah sampai dirumahnya, memasukan motornya di bagasi kemudian mengetuk pintu. Pintu sudah dikunci tapi orang tua nya masih menonton tv di ruang tengah.
"Assalamualaikum," Salamnya pada Mama yang membukakan pintu.
"Waalaikumsalam," Jawab Mama menyambut tangan Dea yang menyalimi nya.
"Bawa apa De?" Tanya abangnya yang ikut nonton bersama saat melihat kepulangan Dea.
"Gak ada, abang juga gak ada nitip apa-apa." Jawab Dea sambil menyalimi abang dan Baba nya kemudian ikut duduk disebelah Baba nya.
"Udah makan kak?" Mama bertanya
"Belum sih Ma, tadi cuman minum doang sama nyemil kentang."
"Iya udah makan dulu sana, itu lauknya masih diatas meja." Suruh Mama.
"Bentar deh belum laper juga masih kenyang."
Mama hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tumben abang gak jalan."
"Sudah baru datang dia." Bukan abang yang menjawab tapi Baba.
"Bawa pacarnya kesini." Mama melanjutkan.
"Ihh parah sih aku gak di kenalin."
Abang hanya menahan senyum. Salah tingkah.
"Gimana-gimana cewe nya Mah?" Tanya Dea kepo.
"Cantik, sopan juga. Ya namanya baru pertama ketemu jadi belum tau banyak nanti sambil dilihat aja cocok apa engga di jadikan menantu."
"Ihh apasih," Lagi. Abang salah tingkah jadi menanggapi ketus begitu.
"Kapan-kapan ajak main kesini lagi Bang, tunggu Mamah libur kerja nanti biar kita bisa masak sama-sama." Usul Mamah kepada Abang.
"Iya kalo dia gak sibuk kuliah nanti Saka bawa." Jawab Abang Saka.
Baba hanya menyimak sambil terus menonton film spiderman yang ditanyangkan di tv. Weekend pasti akan ada film-film rame untuk di tonton.
Dea merogoh tas nya mengambil handphone, membuka instagram dan me repost story dari Edith dan Raina, ya selalu saja begitu setiap habis jalan-jalan. Repost-repostan story, dia tertawa saat melihat video di story Edith yang menampilkan wajah kesal Raina kalah bermain UNO tadi. Lucu sekali melihatnya kesal.