Pria itu menggedor pintu kayu di depannya dengan keras, tidak peduli kalau tetangga rumah itu akan keluar dan meneriakinya untuk ingat waktu. Ya ... ini sudah pukul tiga malam dini hari. Di mana orang-orang sudah beristirahat dari penatnya siang hari. Tetapi tidak dengan dirinya, dia harus secepatnya bertemu dengan sang empu rumah ini.
Lima menit kemudian pintu kayu itu terbuka. Menampakkan seorang gadis dengan wajah pucat, belum lagi dengan mata sembabnya yang sudah membengkak. Lagi dan lagi gadis itu pasti sudah menangis.
“Hai, Ga!” Gadis itu mencoba menyapa dengan raut senang meski terlihat sia-sia. “Ada apa malam-malam ke sini? Masuk, yuk!”
Pria itu hanya diam. Tetap bertahan di tempatnya berdiri. Hanya menatap lamat ke arah gadis itu yang juga balas menatapnya.
“Kenapa nangis, Ga?” Ibu jari gadis itu sudah bergerak menyentuh pipinya, menghapus air mata yang ternyata terjatuh tanpa dia sadari. “Mama kamu marah lagi?”
Menggeleng.
“Lalu apa? Jangan membuatku khawatir seperti ini, Ga.”
Pria itu terus diam. Tatapannya hanya tertuju ke arah gadis bertubuh kurus itu. Sahabatnya. Hal itu, membuatnya terus mengeluarkan air mata.
“Kamu harus bahagia, Flora!” Pria itu mencoba berbicara dalam tangisanya.
Gadis yang di panggil Flora itu tersenyum kecut. “Kamu aneh. Ayo bicara sama aku, ada apa?”
Pria itu semakin menangis. “Siapa yang akan jaga kamu kalau aku pergi?”
Gadis itu kaget, wajahnya sedikit pias. Tentu saja. “Memangnya kamu mau pergi ke mana?”
“Mama memaksaku melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dan aku tidak bisa menolak perintahnya, kamu tahu itu 'kan?”
Gadis itu berseru senang, meskipun gurat kesedihan tetap ada. “Bagus dong. Bukankah itu mimpi kamu sejak dahulu. Selamat, ya!”
“Itu tidak lagi menjadi mimpiku setelah apa yang terjadi sama kamu. Aku nggak mau ninggalin kamu sendiri.”
“Jangan seperti itu, Gaga. Ayo, kejar mimpi kamu. Jangan jadikan aku sebagai alasan untuk menghambat mimpimu.” Gadis itu kembali tersenyum, meski kembali terlihat sia-sia. “Aku bahkan sudah melupakan peristiwa itu.”
Bohong. Satu detik pun ia tidak pernah melupakan malam itu. Mimpi buruk itu masih terus datang dan menghantuinya setiap malam. Membuatnya histeris ketakutan dan menangis. Tetapi mana bisa ia menunjukkan rasa traumanya itu di depan pria tersebut.
“Tetapi aku nggak bisa, Flo. Aku nggak mau!”
“Kamu masih ingat janji kamu sama aku?” Pria itu mengangguk. “Kamu janji akan membawaku pergi dari sini kalau kamu punya kekuasaan. Ini jalannya, Ga. Inilah jalannya.”
Pria itu maju dan memeluk erat tubuh itu. “Flora, tetapi kamu harus janji satu hal sama aku.”
Gadis itu semakin merapatkan kepalanya ke dada pria itu, menikmati detak irama jantungnya. “Apa?”
“Kamu jangan lagi punya pemikiran untuk bunuh diri. Aku mau kamu hidup dan menungguku di sini untuk menjemputmu.”
Gadis dalam pelukannya menegang. Pria itu menyadarinya. Jadi, ia melepas pelukan itu dan menatap sang gadis yang membuang pandangan ke arah lain memilih tidak mau balas menatapnya. “Aku mohon, jangan lakukan hal gila itu lagi!”
Gadis itu tahu diri. Karena memang seminggu yang lalu ia memang melakukan hal gila itu. Mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadinya. Kalau bukan karena Gaga, sahabatnya. Mungkin, ia sudah meregang nyawa hari itu karena kehabisan darah.
Gadis itu mendongak, balas menatap sahabatnya. “Iya, aku janji!”
Pria itu kembali merengkuh tubuh ringkih gadis itu, sesekali membubuhi kecupan di kepala.
“Jadi, kapan kamu berangkat?” gadis itu kembali bertanya.
“Besok pagi. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Makanya aku datang untuk pamit langsung di tengah malam buta seperti ini.”
Gadis itu menunduk, mencoba menghalau air mata yang sejak tadi ditahannya. “Selamat tingg—”
“Sampai jumpa lagi, Flo.” Pria itu merevisi kalimatnya. “Sampai jumpa adalah kata yang pantas untuk kita. Karena dalam kasus kita tidak ada yang meninggalkan, yang ada kita hanya mencoba mengerti dari keegoisan orang tuaku. Mungkin, beberapa tahun lagi aku akan datang dengan kekuasan di tanganku dan kita lawan dunia yang kejam ini.”
Gadis itu mengangguk. Kemudian mencicit, “Terima kasih, Jingga!”
“Aku harus pergi, Flo. Mama akan marah besar kalau tahu aku tidak ada di dalam kamar.” Lelaki itu maju dan mengecup kening gadis itu lama. “Jaga diri baik-baik. Dan tunggu aku, Flora.”
Satu titik menetes. Bukan dari langit. Air mata itu jatuh, tanpa sempat Flora seka. Dia tidak mau Jingga mengetahui kalau ia sedang menangis. Jadi, Flora hanya menunduk. Sampai Jingga menjauh dari pandangannya. Lalu, pergi.
Tanpa mereka sadari, sayap-sayapnya sudah patah. Bahkan sebelum mereka belajar terbang.
****
Lima tahun kemudian.
“Ga!” Flora menggedor pintu apartemen Jingga, sahabat sekaligus tetangga apartemennya. Posisi kamar mereka saling berhadapan. Jadi, tidak salah kalau dia berkunjung ke sahabatnya meski sudah tengah malam buta seperti ini. “Duh ... Gaga, buka dong!”
Jingga membuka pintu apartemen dengan wajah kantuk, menatap heran seorang wanita dalam balutan piyama kekanakannya dan jangan lupakan sebuah boneka Panda berada dalam dekapan wanita itu yang sedang berdiri di depan apartemennya. Entahlah, perempuan di depannya ini seseorang yang telah berumur dua puluh tiga tahun atau anak yang masih duduk di bangku TK?
“Ada apa, Flo?” tanyanya sambil mengucek kedua bola matanya, setelah melihat pergelangan tangannya yang dibalut jam. “Demi tuhan! Ini sudah pukul dua, Flo. Dan aku baru saja tidur.”
Kalimat tersebut hanya dibalas cengiran lebar ala Flora. “Aku numpang tidur di sini, ya.” Flora mendorong Jingga yang masih memegang gagang pintu, meski sang empu tidak bergeser sedikitpun untuk memberi jalan.
“No! Nggak ada ya yang namanya numpang tidur, di kamar pria pula, masih lajang lagi. Emang kamu mau kalau tengah malam tiba-tiba aku perkosa kamu, mau nggak?”
Flora memutar bola mata kesal, “Apaan sih, kok ngomongnya ngelantur gitu. Lagian ya, aku tahu betul kamu tidak akan bernafsu sama aku apalagi sampai memperkosa. Pelit banget sih.” Dia mendorong lebih keras tubuh Jingga agar memberi jalan, melangkah masuk dan menyimpan boneka Panda kesayangannya ke sofa lalu menyusul duduk di sampingnya.
Jingga menutup pintu lalu menyusul Flora yang sudah berhasil memasuki area pribadinya. Kalau bukan sahabat, sudah ia tendang keluar dari tadi, batinnya.
“Suka banget tidur di sini?” tanya Jingga, lalu mengambil tempat di depan Flora.
Flora mengangkat kedua bahunya, “Entah, aku cuma merasa kesepian kalau nggak ada kamu.”
“Dari awal aku sudah bilang, lebih baik kita tinggal bersama. Daripada aku nyewa apartemen untuk kamu tetapi jarang kamu tinggali. Pemborosan itu namanya," ucap Jingga, masih tidak mengerti keinginan wanita di depannya.
“Nggak!” teriak Flora. “Nggak ada ya tinggal berdua atau apa pun itu. Apa kata tetangga nanti, belum menikah tetapi sudah tinggal serumah.”
Jingga memutar kedua bola matanya. Kesal, sangat kesal. “Jadi ini apa? Tengah malam masih ke kamar pria, berniat bermalam lagi. Jadi apa bedanya seperti katamu tadi?”
“Ya ... beda lah,” ralatnya, setelah berpikir lama. “Pertama, kita tidak tinggal serumah, setaunya tetangga kita punya kamar masing-masing, mana dia tahu kalo tengah malam buta seperti ini aku bermalam di kamar kamu. Kedua, kamu sahabat aku dan satu-satunya keluargaku, nggak salah dong kalau aku minta tolongnya hanya sama kamu. Ketiga, aku sangat tahu kalau kamu itu tidak pernah memandangku sebagai wanita, jadi aku aman-aman saja untuk berada dekat kamu bahkan tidur sama kamu. Aku tidak akan pernah takut. Karena aku percaya sama kamu.” Flora tersenyum lebar setelah mengakhiri kalimatnya.
Di depannya, Jingga membenarkan semua perkataan Flora. Sampai kapan pun Flora tidak akan masuk daftar untuk menjadi wanita yang akan menghangatkan ranjang ataupun istri masa depan. Mungkin ... karena Flora terlalu sering menolaknya.
“Ya sudah, bagaimana kalau kita menikah.”
“Nggak!”
See ... ditolak lagi.
Dua tahun lalu saat mereka kembali bertemu. Hal pertama yang keluar dari mulut Jingga adalah ‘ayo menikah!’ yang dijawab oleh Flora dengan gelengan keras, sambil berteriak ‘kita hanya sahabat, harusnya kamu tahu itu'.
“Kenapa?”
Pertanyaan ini sudah sering dilontarkan setiap ditolak. Tetapi entah kenapa ia selalu mempertanyakan pertanyaan yang tidak akan pernah dijawab oleh Flora.
Flora menatapnya nanar. “Ga, aku ngantuk.” Lalu berlalu pergi memasuki kamarnya. Kamar Jingga lebih tepatnya.
Di belakang, Jingga menyugar rambutnya kasar. Kenapa? Kenapa wanita itu selalu menolaknya bahkan setelah lima tahun berlalu saat mereka berpisah dan kembali bertemu dua tahun lalu.
Jingga berdecak, lalu berdiri mengikuti Flora memasuki kamar, yang sudah tertidur membelakanginya.
“Maaf ya, Flo," bisik Jingga, sambil memeluk Flora dari belakang.
Bahu itu bergetar pelan. Tangan Jingga berpindah ke lengan Flora. Mengusapnya dengan pelan. “Flo, aku nyakitin kamu ya?”
Tidak dijawab.
“Aku minta maaf, Flo. Tetapi jangan nangis.”
Flora masih menangis dalam diam.
Jingga tidak akan memaksa lagi. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Ada kesenangan tersendiri bagi Xeraina saat Nathan mendorongnya hingga menabrak dinding kamar yang dingin. Tubuh Nathan yang menekan tubuhnya terasa sempurna. Dada keras dan bidang menekan dadanya, perut menekan perut, atau paha yang menekan paha. Semuanya terasa tepat dan menjanjikan, ditambah dengan kecupan dalam yang tidak kunjung berhenti sejak mereka tersandung-sandung dalam perjalanan menuju kamar hotel tersebut.
Dan kesenangan itu dilontarkan oleh Xeraina lewat desahan nikmat saat tangan nakal Nathan mulai bergerilya menggerayangi tubuhnya dan sampai pada kedua gundukan yang tengah membusung tengah menantang. Darahnya berdesir dan tubuhnya bergetar ketika gelombang rangsangan itu menerpa tubuhnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cerai na memberikan kecupan pada Regan dengan penuh nafsu, seakan kecupan panjang itu adalah oksigen yang membuatnya tetap hidup.
Mereka melanjutkan kecupan mereka sambil saling melucuti pakaian masing-masing. Gaun merah Xeraina yang berdada rendah dan memperlihatkan bokong sexy-nya kini sudah terkoyak dan teronggok di lantai. Menyisakan pakaian dalam yang sesungguhnya nyaris tidak menutupi apa pun. Dan tangan terlatih milik Nathan terus menggerayangi tubuhnya tanpa henti hingga Xeraina merasakan kelembaban berkumpul di pangkal pahanya.
“Oh shit, Xeraina. I want you so bad right now!” desah Nathan di antara kecupan saat dia menghentakkan jemarinya untuk melepaskan kaitan pakaian dalam Xeraina.
Sial! Laki-laki ini tidak mengenal kelembutan sama sekali. Dan karena itulah Xeraina menyukai bermain dengan pria itu.
“Pelan-pelan, Nathan!" ucap Xeraina sambil tersenyum menggoda. “Apakah ini kenikmatan yang kau janjikan sebelumnya?”
“Ya, malam ini aku adalah milikmu sepenuhnya,” ucap Nathan sembari tatapannya terus tertuju pada kedua gundukan padat itu yang kini tengah menjulang dan tengah menantangnya.
Dada Xeraina yang bulat sempurna kini terpampang bebas dan tidak disia-siakan oleh Nathan yang langsung mengecapnya. Desahan nikmat tiada henti terus keluar dari bibir Xeraina terlebih saat Nathan mulai memberikan kecupan-kecupan di dada kanannya dan memainkan bagian yang kiri. Pria itu benar-benar tidak akan melewatkan seinci pun keindahan dari tubuhnya.
“Yes, baby. Please ... don't stop!” ucapnya sambil menekankan kepala Nathan semakin rapat pada dadanya. Tangan Xeraina sendiri sibuk membuka resleting celana panjang Nathan dan sibuk memainkan milik pria tersebut yang sudah sekeras batu.
“Baby, l want you inside me, right now!” ucap Xeraina menyerah pada rangsangan yang diberikan Nathan.
Mereka berada dalam kamar hotel mewah yang didominasi warna putih dan merah dan Nathan kemudian membopong tubuh Xeraina menuju ranjang king size.
"Nathan …" ucap Xeraina dengan suara yang parau, sembari tangannya bergerak memainkan dadanya sendiri.
Nathan tersenyum sambil membuka habis semua pakaian yang melekat di tubuhnya tanpa melepaskan pandangan panasnya dari Xeraina yang sedang memainkan dirinya sendiri. Kini tubuh atletis milik Nathan terpampang jelas dan begitu pula dengan miliknya yang sudah sangat keras itu. Xeraina mendesah nikmat membayangkan milik Nathan berada dalam dirinya, memasukinya, dan bergerak dengan kasar dan dalam.
“Malam ini tidak akan aku lewatkan, Baby. Dan kenikmatan yang tak akan terlupakan akan aku berikan untukmu malam ini.”
Mendengar kalimat tersebut, Xeraina semakin dibuat bernafsu. Dia kemudian bangun dari pembaringan dan membubuhkan kecupan di bibir Nathan keras dan dalam. Begitu menggebu-gebu, campuran antara nafsu dan kekesalan penuh akan perlakuan kasar pria itu.
“Easy, Baby. Kita harus melewati malam ini dengan perlahan dan takkan terlupakan,” ucap Nathan lembut sementara tangannya menarik lepas penutup terakhir yang masih digunakan oleh Xeraina. Menghilangkan pemisah terakhir mereka.
Nathan mengusap-usap lembut milik Xeraina sebelum memasukkan jari tengahnya dan membuat gerakan keluar masuk. Xeraina hanya bisa menggelinjang penuh nikmat sambil tetap memainkan dada miliknya sendiri. Matanya terpejam dan tubuhnya menegang sementara mulutnya terus meracau tak kuasa menahan kenikmatan yang diberikan oleh tangan Nathan.
“Yes, baby. Seperti itu ... don't stop!” Xeraina sungguh menikmati lidah Nathan yang sudah bermain-main di daerah miliknya. Sesekali digigit lembut, dan Xeraina merasa akan pingsan saat itu juga.
“Please! Please inside me, now!” erang Xeraina dengan frustasi.
“Kau akan mendapatkannya, baby!”
Xeraina memamerkan senyuman penuh godaannya. Mulai menyangga tubuhnya menggunakan kedua tangannya dan membuka kakinya lebar-lebar di hadapan Nathan yang sedang memasang pengaman dan segera memposisikan miliknya yang sudah mengeras.
Ada jeda yang hanya diisi dengan deru napas yang semakin menderu saat perlahan Nathan mendorong tubuhnya memenuhi Xeraina. Dan pekikan kecil Xeraina membuat Nathan menyeringai bangga dan memberikan kecupan panjang di bibir wanita itu sejenak untuk membiasakan diri mereka berdua sebelum mulai menggerakkan tubuhnya.
“Yeah, tepat di situ, baby,” racau Xeraina yang merasa dirinya penuh bahkan sesak oleh tubuh Nathan.
Gerakan yang begitu keras dan dalam yang dilakukan oleh Nathan terasa begitu nikmat dan Xeraina nyaris kehilangan akal sehatnya. Ia ikut menggerakkan pinggulnya, mengikuti ritme gerakan Nathan. Dan sebentar lagi dia akan sampai pada puncaknya.
Xeraina terpekik ketika mendadak Nathan menghentikan gerakannya.
“No! No!” ucap Xeraina nyaris frustasi.
Nathan hanya menyeringai mendapati kekagetan Xeraina di bawahnya. Dia kemudian kembali mempertemukan bibir mereka, saling menautkan lidah masing-masing, sementara tangannya bergerak kembali naik turun pada tubuh lembut di bawahnya. Xeraina gemetar karena gairahnya yang nyaris meledak dan perlakuan Regan yang tampaknya sedang ingin menghukumnya.
Namun, ternyata Nathan tidak sekejam itu karena kemudian dia mulai merangkak di sepanjang tubuh Xeraina sementara bibirnya terus meninggalkan jejak-jejak panas di kulit Xeraina. Sekali lagi Nathan membenamkan wajahnya di antara kedua paha Xeraina sementara lidahnya bergerak mencapai apa pun yang bisa disentuhnya. Xeraina semakin dibuat histeris sementara tangannya meraup helai-helai rambut Nathan dan menekan kepala laki-laki itu ke dalam dirinya. Kemudian Nathan mengangkat wajahnya dan tersenyum nakal lantas memberikan cubitan lembut yang membuat Xeraina meledak tanpa sempat meneriakkan nama pria itu.
Xeraina masih melayang-layang bersama kenikmatan dan rasa sakit saat Nathan kembali mengecup bibirnya dan kembali memenuhi dirinya. Dan ketika Nathan bergerak dengan ganas dan panas, gairah yang sebelumnya tidak sempat padam itu kembali membakar diri Xeraina. Disentuhnya pundak Nathan, mencoba mencari pegangan sementara matanya menatap liar pada pria itu yang sedang memejamkan matanya untuk mengejar kepuasannya sendiri.
“Baby, you’re so tight. This is so good, Nathan!”
Mendengar kalimat itu, Nathan semakin mempercepat gerakannya tanpa memperdulikan di bawahnya Xeraina tengah menjerit penuh kepuasan atas kenikmatan yang diberikan oleh tubuh Nathan.
“Baby, l wanna cum ....”
Akhirnya Nathan berbisik lirih di antara napasnya yang tersengal dan wanita itu merasakan dirinya nyaris kembali mendapatkan kepuasannya yang kedua.
“Yeah, inside me!” desah Xeraina dan mereka sama-sama menjerit nikmat ketika mencapai kepuasan mereka.
“Selamat pagi!” sapa Flora lengkap dengan senyuman cerah yang hampir mengalahkan sinar mentari pagi di luar sana. Bersamaan dengan suara pintu kamar yang terbuka dan melihat Jingga keluar dari kamar itu tengah menguap sambil meregangkan tubuh.
Sedangkan yang disapa hanya memberi anggukan samar lalu beralih ke mesin pembuat kopi—menyeduh sendiri kopinya. Kopi adalah paket lengkap untuk memulai pagi hari.
“Lagi buat sarapan apa?” tanya Jingga, sambil menyimpan gelas kopi di atas meja untuk Flora dan satunya lagi dia pegang sambil menyeruputnya sesekali.
Flora menyodorkan piring berisi nasi goreng dengan aroma yang menggugah selera, membuat Jingga seketika lapar. “Nasi goreng untuk kamu lengkap dengan telur ceplok matang dan untukku telur setengah matang.”
“Nggak jijik?” tanya Jingga bergidik ngeri melihat Flora menyendok kuning telur yang masih mengental itu.
“Nggak, justru ini sangat nikmat. Di sini letak kenikmatan dari sebuat telur ceplok," jawab Flora acuh tak acuh.
Jingga mengedikkan bahunya, ikutan acuh sama apa yang dimaksud dengan nikmat oleh Flora. Baginya telur seperti itu adalah hal menjijikkan, baginya telur matang adalah kenikmatan yang haqiqi.
“Pertanyaan kamu yang tadi malam aku anggap lelucon. Seperti jokes yang kamu buat. Sangat lucu.” Flora memulai setelah mereka duduk berhadapan di atas meja makan.
Jingga berdeham. “Tetapi kamu nangis. Bukannya tertawa," ujar Jingga singkat, lalu kembali menyendok nasi gorengnya.
“Itu karena aku sudah muak mendengar itu semua. Aku bosan, Jingga. Dan aku tidak mau mendengar lagi jokes yang kamu buat. Itu sudah terdengar payah di telingaku.”
“Muak, ya?” Jingga menyimpan sendok dan garpunya dengan kasar, dentingan sendok yang bertemu dengan piring begitu memekakkan telinga. Laparnya sudah hilang terganti dengan rasa amarah. “Tetapi aku serius, Flora. Itu bukan jokes seperti yang kamu maksud. Aku ingin kita menikah, aku ingin menjadi suami kamu."
“Jawabanku masih sama. Aku harap kamu mengerti.”
“Oke. Aku juga muak mendengar jawaban itu, Flo. Ingatkan aku kalau aku akan kembali mengungkit hal itu. Ini pembicaraan terakhir kita tentang pernikahan.” Lalu pria itu berdiri meninggalkan meja makan untuk kembali memasuki kamarnya. Dia tidak ingin memancing pertengkaran lebih lama lagi dengan Flora. Jadi, dia lebih memilih menghindar dari obrolan menyesakkan itu.
Flora yang ditinggalkan begitu saja. Hanya menatap nanar ke arah Jingga yang menghilang di balik pintu kamar.
Ini adalah pilihan. Pilihan yang sudah dibuatnya bertahun-tahun lalu. Dia hanya tidak ingin membuat Jingga menanggung lebih dari yang seharusnya.
Dia bahagia, 'kan? Tentu saja! Tetapi kenapa ada satu titik menetes dari matanya, yang kemudian disusul titik berikutnya yang kali ini menetes lebih deras.
Iya, Flora memang sedang menangis.
****
“Aku butuh asisten baru!” pinta Xeraina begitu masuk ke ruangan wakil direktur, Nathan.
“Hai, Sayang. Ada apa?” sapa Nathan menatap Xeraina yang tampak begitu marah.
“Rana mengundurkan diri. Wanita sialan itu berhenti jadi asistenku.”
“Seriously ... dia baru satu minggu kerja sama kamu. Dan sudah mengundurkan diri?” Nathan berdecak heran.
“Kesalahan apa lagi yang kamu lakukan?” tanyanya kembali. Nathan tahu betul artis satunya ini, terkenal bergonta-ganti asisten karena sifat semena-menanya yang membuat mereka tidak bisa bertahan lama.
Xeraina memutar bola matanya kesal. “Dia yang bodoh, Nathan. Sudah tahu tidak pandai berenang masih saja nekat untuk terjung ke kolam renang.”
Mendengar informasi itu, Nathan tersentak kaget. “Jelaskan! Secara terperinci jangan ada yang dikurangi ataupun dilebih-lebihkan.”
“Jadi waktu pemotretan bikini di kolam renang, kalung pemberianmu tidak sengaja terjatuh.”
“Jadi kamu paksa Rana turun dan mencarinya langsung?” tembak Nathan cepat.
Xera tersentak. Menimbang, apakah harus jujur atau berbohong. Tetapi dilihat dari ekspresi Nathan, pria itu akan semakin marah kalau sampai dia bohong. Jadi, mengangguk adalah jalan satu-satunya.
Nathan menyugar rambutnya kasar, tidak mengerti lagi dengan artisnya yang satu ini. “Astaga ... kamu hampir saja membunuhnya. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran kamu sampai melakukan hal itu?”
“Dia yang salah, Nath.” Xeraina mencoba membela diri. “Kalau dari awal sudah bilang tidak bisa berenang pasti aku nggak akan memaksanya.” Xeraina sebenarnya tidak suka dihakimi seperti ini, tetapi Nathan mana mau berhenti kalau belum mengais sampai ke akar-akarnya. Huffftt ....
“Aku tahu betul tabiat kamu, Xera. Seseorang tidak akan melakukan hal yang membahayakan dirinya kalau tanpa ada paksaan dan kamu memaksanya. Pasti dengan ancaman, iya 'kan?”
Mengangguk lagi. Kenapa pria di depannya sangat pintar menebak kelakuannya. Sialan!
“Xera ... Xera ... aku sudah tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Dalam satu bulan sudah sepuluh kali kamu bergonta-ganti asisten. Dan ini rekor terlama, bertahan satu minggu. Tetapi ternyata sama saja, pada akhirnya dia mengundurkan diri juga.”
Xeraina menunduk dengan rasa bersalah. “Ya sudah, maaf.”
“Sana minta maaf sama Rana, jangan sama aku,” ucap Nathan ketus.
Lagi dan kesekian kalinya dia kembali mengangguk. Kalau bukan permintaan Nathan dia tidak akan melakukan hal itu. Wanita sialan itu bakalan besar kepala kalau seorang Xeraina Agatha meminta maaf. Sial!
Tetapi kalau tidak melakukan hal itu, asisten barunya tidak akan ada. Dan yang akan repot dirinya sendiri. Tidak! dia tidak akan mau hal itu terjadi. Biarlah dia buang harga dirinya, berpura-pura sedikit bukanlah masalah. Bukankah itu memang pekerjaan seorang artis. Akting, yang juga bisa dipraktekkan di dunia nyata.
“Tetapi kamu cari ya asisten baru untukku.” Xeraina sudah memasang puppy eyes andalannya.
“Apa yang bisa kau lakukan untukku bila aku mencari asisten baru untukmu?” tanya Nathan dengan senyuman kurang ajar. See ... wajah marah tadi dengan cepat berganti dengan wajah menyeringai.
Xeraina melipat tangan di depan dada. “Tidak adakah hal lain yang terpikir di kepala tampanmu selain pikiran kotor?”
Alih-alih marah, Nathan justru tertawa kencang mendengar kelancangan wanita itu. “Itulah kenapa kau selalu menjadi favoritku, Xera! Karena kau perempuan cantik bermulut tajam. Baiklah, aku akan mencari asisten baru untukmu.”
Dan Xera melompat ke dalam pelukan Nathan sebelum pria itu sempat mengambil napas setelah menyelesaikan kalimatnya. “Ya! Kamu memang yang terbaik, Nath,” ucapnya sambil tertawa memamerkan giginya yang rapi.
Nathan tersenyum. “Oke! Ayo kita pergi.”
Xeraina mengikuti langkah laki-laki itu sambil melingkarkan tangannya di lengan Nathan dan menikmati tatapan iri sesama artis dan model di sana yang berulang kali mencari perhatian Nathan dan diacuhkan begitu saja.
****
Ada kesenangan tersendiri bagi Xeraina ketika Nathan mengecup bibirnya keras. Bagaimana Nathan menahannya ketika Xeraina bergerak menuruni pria itu. Ia melakukannya dengan lambat sambil menatap mata Nathan yang menggelap. Xeraina merasakan pria itu memenuhinya dan ia masih dipenuhi dengan kekaguman yang sama. Pria itu begitu besar dan selalu mengisinya begitu dalam. Begitu dalam ... hingga napasnya nyaris berhenti ketika ia tidak mampu lagi bergerak.
Nathan menggerung pelan sebelum menggulingkan tubuh mereka berdua ke atas ranjang. Pria itu menjulang di atasnya, menuntut untuk mengklaim bibir Xeraina sementara dia bergerak di dalam tubuhnya. Mereka sempurna. Tubuh mereka seolah diciptakan untuk saling mengisi.
Xeraina menyukai pria itu. Ia suka pada pengaruh yang ditimbulkan Nathan padanya. Ia suka ketika pria itu berada di atasnya, bergerak jauh di dalam dirinya. Xeraina menyukai segalanya tentang pria itu dan segala yang dilakukan pada tubuhnya. Ia mungkin saja naif, tetapi Xeraina tidak tolol. Ia tahu hubungan mereka berdua tidak lebih dalam dari sekedar bercinta yang memuaskan.
Dan apa pun yang sedang dirasakannya untuk Nathan, jatuh cinta adalah area terlarang. Terkutuklah ia kalau sampai harus jatuh cinta dengan saudaranya sendiri.