Sampul Novel Rumah Tanpa Buah Hati

Rumah Tanpa Buah Hati

9.3 / 10.0
Alice hanya bisa melepas rindu akan hadirnya momongan dengan memandangi tawa anak-anak tetangga. Sayangnya, hiburan kecil itu kerap sirna akibat tekanan dan sindiran pedas dari ibu mertuanya. Hubungan mereka kian merenggang karena sang mertua bersikeras enggan menemuinya sebelum ia berhasil menimang bayi. Di tengah kesedihan yang mendalam, Alice kini harus berjuang sendirian menghadapi tuntutan keluarga besar yang terus menyudutkan batinnya.
Ringkasan Rumah Tanpa Buah Hati
Alice hanya bisa melepas rindu akan hadirnya momongan dengan memandangi tawa anak-anak tetangga. Sayangnya, hiburan kecil itu kerap sirna akibat tekanan dan sindiran pedas dari ibu mertuanya. Hubungan mereka kian merenggang karena sang mertua bersikeras enggan menemuinya sebelum ia berhasil menimang bayi. Di tengah kesedihan yang mendalam, Alice kini harus berjuang sendirian menghadapi tuntutan keluarga besar yang terus menyudutkan batinnya.
Baca Selengkapnya

Rumah Tanpa Buah Hati Bab 1

Part 1

"Dasar mandul!"

Alice hanya menahan tangisnya, manakala mendengar ucapan Mariam, sang ibu mertua barusan.

Matanya menatap ke arah Barana, suaminya. Seolah memohon bantuan dan juga pembelaan atas semua cacian dari sang ibu mertua.

Tetapi Alice malah mendapatkan kekecewaan, manakala melihat Barana tidak bereaksi sedikit pun atas ucapan yang dilontarkan oleh Mariam.

"Orang lain mungkin sudah punya anak dua, mengingat usia pernikahan kalian sudah tujuh tahun. Lah ini, satu orang anak pun belum juga dapat kamu berikan kepada kami." Mariam menatap sinis ke arah Alice.

Wanita paruh baya itu memainkan wajahnya, menahan emosi manakala menatap wajah Alice yang terlihat datar, meski menahan air mata.

"Coba kau tengok mantan kekasihmu itu, Bar! Sudah punya anak tiga dia, lucu dan tampan anaknya. Andaikan kau jadi menikah dengannya, takkan malu aku melihat rumah tangga kalian ini." Wanita paruh baya itu pun berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Alice dan juga putranya yang sejak tadi duduk terdiam.

"Kita pulang yuk, Mas. Aku sangat lelah." Alice berkata dengan nada lirih dan menahan tangis agar tidak tumpah di rumah itu.

Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung dan nyaman untuk dia kunjungi itu, malah membuat dirinya merasa bagaikan di neraka setiap kali berkunjung ke sana.

Barana tidak menjawab, namun ia langsung berdiri dan melangkah menuju kamar sang ibu. Tampak terdengar ia tengah berpamitan kepada Mariam, yang enggan untuk keluar menemui Alice.

"Sudah kubilang, aku tidak ingin sering-sering ke rumah ibu." Alice berbicara dengan nada sedikit tercekat, saat keduanya telah berada di dalam mobil.

Barana hanya terdiam, ia tetap fokus membawa kendaraannya melintas di jalanan ibu kota yang cukup lengang. Berulang kali ia menoleh ke arah Alice, namun kembali lagi menatap ke arah depan.

"Apa tidak lelah, ibumu mencaciku sejak dulu, Mas? Apa hanya itu yang ada dalam benak ibu, dalam melihat diriku? Kesempurnaan seorang wanita yang hanya terlihat dari posisinya memberikan seorang keturunan." Alice kembali berucap. Kali ini air matanya sudah membanjiri kedua pipinya yang halus mulus.

"Padahal, kehamilan itu bisa terjadi karena kedua belah pihak. Akan tetapi, mengapa hanya perempuan yang di salahkan, manakala tidak dapat memiliki seorang anak." Suara Alice kembali terdengar. Kali ini suara lembut itu kembali mulai terdengar parau.

Barana segera menoleh, manakala mendengar ucapan Alice barusan. Kedua bola matanya langsung membulat kemudian berkata, "Maksudmu apa bicara seperti itu? Kamu menuduh aku yang mandul gitu? Tidak hanya dirimu saja yang mandul? Enak saja! Jangan bicara sembarangan kamu. Tidak ada dalam sejarah keluarga besarku mandul!"

Alice menatap wajah Barana dengan tersentak. Wajahnya memanas, dan membuat kedua netranya kembali mengeluarkan air mata.

"Jawab Alice! Kamu pasti berpikir jika aku yang mandul. Begitukan?!"

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Mas. Tapi maksudku, cobalah periksakan dirimu juga ke dokter. Jadi kita tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bisa langsung diberikan solusinya." Alice menatap wajah suaminya dengan sendu. Ia tak ingin menyakiti perasaan orang yang sangat dicintainya tersebut.

"Aaah! Apa bedanya? Tetap saja itu berarti kau menuduhku yang mandul. Makanya menyuruhku untuk berobat ke dokter kandungan. Jangan kau limpahkan kekuranganmu, dengan menyuruhku ke sana! Pikirkan saja bagaimana caranya agar kau bisa hamil!" Dengan penuh emosi Barana pun segera membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya ia tersadar setelah beberapa kali hendak menabrak pengguna lain.

**

Selalu seperti itu. Barana akan meluapkan kemarahannya, jika Alice mengajaknya untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Kebetulan sahabat kuliah Alice merupakan seorang dokter. Meskipun hanya seorang dokter umum, namun sahabatnya itu memiliki rekomendasi program bayi tabung bagi keduanya.

Alice pun antusias manakala mendengar semua saran sahabatnya tersebut. Ia pun sejak saat itu mulai menabungkan sebagian penghasilannya, agar dapat melakukan program bayi tabung.

Sayangnya, setiap ia mengajak Barana untuk pergi ke dokter bersama-sama, pria itu malah menolaknya. Bahkan tak jarang marah-marah, karena tidak terima dituduh mandul.

Pernah suatu hari Alice memaksanya untuk menemani ke dokter kandungan.Hal itu merupakan jalan satu-satunya, agar dapat membawa Barana ke dokter kandungan.

Akan tetapi saat itu juga Barana marah besar. Ia tidak pulang ke rumah selama beberapa hari dan pulang ke rumah Mariam. Hingga akhirnya ia mendatangi rumah mertuanya dan meminta maaf.

Semenjak itu, Alice tak lagi meminta Barana ke dokter kandungan. Meski hanya untuk menemani dirinya memeriksakan kandungannya.

**

Beberapa bulan kemudian.

"Mas, bangun. Sudah pukul lima pagi. Bukankah kamu ada meeting hari ini?" Alice membangunkan Barana, yang masih tertidur dengan nyenyak.

"Mas …." Alice kembali membangunkan dengan suara lembutnya.

"Hmmm,"

"Bangun, sudah pukul lima pagi."

"Iya." Suara Barana yang terdengar serak, membuat Alice tersenyum.

Tiba-tiba Barana memeluknya dengan erat dari belakang. Ia menciumi tubuh Alice dengan lembut dan berbisik, "Hamil ya, Sayang. Tunjukkan pada keluargaku jika kamu adalah wanita yang sempurna."

Alice tersenyum dan membalikkan tubuhnya. Ia pun memeluk erat tubuh Barana dan akhirnya mereka pun larut dalam percintaan di pagi hari.

Usai kejadian pagi tadi. Alice terlihat begitu semangat menjalani aktivitasnya di kantor. Senyum manisnya tak pernah lepas dari bibir tipisnya.

Beberapa teman satu ruangannya bekerja hanya menggelengkan kepala mereka. Seolah paham dengan apa yang terjadi pada diri Alice sebelum berangkat ke kantor.

Semua orang menyukai Alice. Wanita cantik, dengan tubuh tinggi semampai. Senyuman selalu menghiasi bibirnya dan bersikap ramah kepada siapapun.

Beberapa teman dekat Alice di kantor juga menyayangkan keadaan rumah tangganya yang belum juga diberikan seorang anak. Bahkan tak jarang dari mereka memberikan referensi untuk menemui dokter kandungan yang terkenal.

Alice sudah mengikuti saran teman-temannya kantornya, ia mendatangi dokter-dokter tersebut dan hasilnya kandungan ia dinyatakan sehat dan baik-baik saja.

Hingga suatu hari, Alice bertemu dengan sahabatnya saat kuliah dan merekomendasikan untuknya melakukan program bayi tabung.

"Lice,"

"Apa,"

"Udah ke dokter lagi?" Kania salah satu rekan kerjanya bertanya dengan hati-hati.

"Baru kemarin malam, Nia. Kenapa? Tumben nanyain?" Alice dengan santai menjawab pertanyaan rekannya tersebut.

"Mas Bara mau nemenin?"

Alice hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Senyum manis yang dapat meluluhkan hati siapapun yang melihatnya, bahkan sesama kaum hawa sekalipun.

"Kamu jangan senyum gitu, ah! Bikin aku gak jadi kesel sama mas Bara." Kania kembali ke kursi kerjanya dengan wajah ditekuk.

Alice kemudian tertawa melihat sikap Kania barusan. Sebenarnya, ia sedikit terhibur jika berada di kantor. Sebab hanya di kantor saja, ia merasa dihargai dan tidak pernah dihina perihal kondisinya saat ini.

"Lice," Kania kembali memanggilnya.

"Apa lagi, Nia?"

"Maaf nih ya. Aku kok jadi mikir, jangan-jangan mas Bara yang mandul." Kania berkata dengan nada berhati-hati, namun mampu membuat Alice terkesiap.

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Rumah Tanpa Buah Hati

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menguak sisi kehidupan tersembunyi yang jarang dibahas. Di balik topeng kesucian, terdapat luka mendalam, dilema, serta kerinduan emosional yang rumit. Melalui penyampaian yang realistis dan eksplisit, Anda diajak merenungkan jati diri di tengah kegelapan demi meraih titik terang. Sebuah bacaan penuh makna tentang pencarian hakikat hidup dan cinta yang berliku, siap memberikan sudut pandang baru yang mendalam bagi pembacanya.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Demi Rania, tunangannya, Baskara tega memaksaku mendonorkan sumsum tulang. Kedekatan masa kecil kami kini musnah, berganti kebencian buta darinya setelah fitnah keji Rania menghancurkanku. Akibat rekaman asusila palsu itu, Baskara menyiksaku dan menculik orang tuaku, memaksaku melihat mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah penyakit parah yang kusembunyikan, dia justru menyuruhku mati. Tanpa ragu, aku menuruti keinginannya dan melompat ke jurang maut.
Sampul Novel PRIME MINISTRE'S DAUGHTER
8.2
Demi menikahi Eleanore, putri perdana menteri yang dingin, Ken nekat memakai cara licik. Kebahagiaan keponakan raja itu sirna setelah pernikahan terwujud, karena Ken justru mengungkap rahasia kelam masa lalu istrinya. Hal ini memicu kebencian mendalam dan mengubah sikap Ken menjadi sangat drastis. Meski hatinya hancur disakiti oleh sang suami, Eleanore tetap bertahan dalam cinta di tengah konflik masa lalu yang sulit dimaafkan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED