Bab 2

Tubuh Sofia terasa ringan dan hangat. Perasaannya terasa tenang dan damai. Wanita itu mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Sofia mencium aroma yang enak, bukan makanan, tetapi seperti wangi yang memabukkan. Ia sulit menjelaskan aroma apa yang sedang menusuk ke hidungnya. Sofia mengerjap, lalu ia melihat ada dua orang pria tengah menatapnya di sisi ranjang.

Sofia langsung tersentak.”Kalian siapa?”

“Halo, cantik, kau sudah bangun, ya?” Pria berambut gelap dengan mata cokelat menatap Sofia takjub,”kau cantik sekali.”

Sofia menatap kedua pria itu dengan bingung.”Ka-kalian mengenalku?”

“Namaku, Kaileen.”

“Namaku Sean.” Sean adalah pria berambut lurus dan gelap dengan mata cokelat. Wajahnya terlihat sangat muda dan terlihat sangat manis dan tampan. Sementara Kaileen memiliki mata tajam dengan rambut sedikit bergelombang berwarna cokelat tua dan bermata cokelat.

“Kalian masih di sini?” Max muncul sembari bersandar di pintu.

“Max~” Sofia lega karena Max ada di antara mereka. Sofia pasti akan canggung menghadapi Sean dan Kaileen. Sofia memandang ketiga pria itu, mereka sangat mirip. Namun, di antara ketiganya Max yang sangat menonjol. Segala hal yang ada pada lelaki itu semuanya mendapat nilai sempurna.

“Ini Sean dan Kaileen. Mereka langsung pulang begitu mendengar kau ada di sini. Maaf kalau mereka mengagetkanmu,”kata Max. Pria itu sudah mengganti pakaiannya.

Sean memegang tangan Sofia.”Mulai sekarang kau adalah milik kami.”

“Jangan bicara sembarangan,”kata Kaileen menggeram,”kau bisa membuatnya takut.”

Sean tersenyum manis pada Sofia.”Ayo kita makan, kau pasti kelaparan.”

“Tapi, sebelum itu kau harus melihat ini dulu.” Kaileen menunjukkan beberapa kantong belanja. Ia mengeluarkan sebuah gaun cantik. Ini pertama kalinya Sofia melihat gaun secantik itu.”Kau harus memakainya.”

“Aku sudah ada gaun.” Sofia menunjukkan gaun yang sedang ia pakai.

“Itu gaun Ibu, tidak cocok denganmu. Ini semua kubelikan untukmu.”Kaileen menyodorkan semua yang ia beli di perjalanan pulang.

“Kalian membuatnya takut.” Max menyela di antara Kaileen dan Sean. Ia menghampiri Sofia dan membantunya bangun,”ayo, kita makan malam.”

Sofia menelan ludahnya. Karena Max orang pertama yang ia temui, maka ia langsung menurut pada lelaki tersebut.

Sean dan Kaileen mengikuti hingga ke ruang makan. Makanan enak sudah tersaji di atas meja berbentuk bundar. Sean dan Kaileen terus memandangi Sofia hingga wanita itu menjadi canggung.

“Jika kalian terus begitu, Sofia tidak akan bisa makan,”protes Max.

“Ah, baiklah aku akan makan juga,”jawab Sean.

“Bagaimana makanannya, Sofia?” Max bertanya karena Sofia terlihat diam saat menikmati makan malamnya.

“Sangat enak.” Sofia melirik ke arah Kaileen dan Sean.

Max memegang tangan kiri Sofia.”Sofia, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan aku, Kai, dan juga Sean. Kau akan tinggal bersama kami mulai sekarang.”

“Aku tidak menyangka akan mendapatkan kehidupan yang luar biasa. Aku akan membersihkan rumah dan melakukan apa pun yang aku bisa. Kalian bisa mengatakan padaku makanan apa yang kalian suka. Aku akan memasakkannya setiap hari.”

“Tidak. Kau tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun di sini!”kata Sean dengan suara tegas.

Sofia tersentak.”Aku~hanya ingin membantu. Anggap saja aku bekerja pada kalian. Kalian tidak perlu memberiku gaji. Aku hanya butuh tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, aku juga akan mencari pekerjaan baru.”

“Tidak begitu, sayang~”Suara Kai terdengar begitu lembut. Namun, Sofia kaget karena mendapat panggilan seperti itu.”Kau tidak boleh melakukan apa pun di rumah ini, itu akan membuatmu kelelahan. Kami yang akan melakukannya sendiri.”

“Tap-tapi, aku ini perempuan, harus melakukan pekerjaan rumah. Lagi pula tidak ada yang bisa kulakukan di sini selain membantu kalian.” Sofia semakin bingung dengan situasi ini. Mana mungkin ia tidak melakukan apa pun. Ia kan sedang menumpang.

“Nanti kami akan meminta sesuatu padamu ketika kami membutuhkan. Kau cukup tinggal di rumah ini dan menemani kami. Menjadi bagian dari hidup keluarga ini,”kata Kaileen lagi.

Sofia menatap Max yang tidak banyak bicara dalam hal ini. Max membalas tatapan Sofia, ia tersenyum dan mengangguk. Kemudian wajahnya menunduk mengecup bibir Sofia. Tubuh Sofia membatu. Wajah gadis itu merona seketika dan segera mengalihkannya dengan menghabiskan makan malam.

Setelah selesai makan malam, Sofia mengganti pakaiannya dengan piyama yang dibelikan oleh Sean. Mereka duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Sofia duduk di sofa. Sean memeluk pundak Sofia dan merapatkan tubuhnya. Kaileen tidak mau kalah, ia duduk di sisi yang kosong dan menggenggam tangan wanita itu. Sementara Max hanya menyaksikan kelakuan keduanya dengan tenang.

“Malam ini kau tidur denganku saja,”kata Sean yang menatap Sofia dengan sangat dekat.

Sofia menelan ludahnya.”Ah, itu~aku sudah ada kamar sendiri.”

“Kalian membuatnya takut saja. Dia sulit bergerak jika kalian terus menghimpitnya,”kata Max mengingatkan. Kaileen dan Sean pun menggeser posisi duduk mereka agar Sofia lebih leluasa.

“Sofia, apa kau pernah berkencan dengan seorang pria?”tanya Sean yang selalu blak-blakan.

Sofia menggeleng.”Tidak pernah.”

“Wah, ada apa dengan pria di sana. Mereka tidak melihat wanita secantik kamu, ya?” Sean memainkan rambut Sofia yang panjang dan bergelombang. Rambutnya sangat indah. Sangat selaras dengan wajah cantiknya yang bagaikan boneka.

“Bukankah itu bagus? Kita akan menjadi pria pertama bagi Sofia,”sahut Kaileen.

“Aku jarang bergaul dengan banyak orang karena aku harus melakukan banyak pekerjaan rumah.” Sofia memberikan sedikit penjelasan. Hidupnya memang tidak menarik karena ia hanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Banyak orang yang tidak menyadari keberadaannya.

Kaileen meraih tangan Sofia dan mengusapnya lembut. “Kau melakukan banyak pekerjaan rumah? Pantas saja tanganmu banyak luka.”

Sean meraih tangan Sofia yang lainnya. Ia menatap tangan itu dengan sedih kemudian mengecupnya.”Tanganmu tidak akan terluka lagi.”

Sofia tersenyum kikuk dan menyembunyikan tangannya secara perlahan.”Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan. Tapi, ini bukan luka yang serius. Ini biasa terjadi pada orang yang mengerjakan urusan rumah tangga.”

“Begitu, ya, yang terpenting kau tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun,”kata Kaileen menegaskan.

“Ah,itu~baiklah.” Sofia tidak ingin memperdebatkannya lebih panjang.

“Sofia, kamar tamu sangat kecil. Bagaimana kalau kau pindah ke kamarku saja?” Sean masih berusaha membujuk Sofia.

“Kamarku tidak sempit.”

“Tapi, tetap saja aku ingin terus bersamamu.”

Sofia merasa sifat dan sikap ketiga pria di rumah ini sangat aneh. Meskipun masih ada hubungan saudara, ia tetaplah wanita asing yang datang. Namun, sikap ketiganya justru sangat manis dan baik. Mereka terus menempel pada dirinya.

“Maaf, tapi, aku di kamar itu saja.” Sofia bangkit. Ia ingin kembali ke kamarnya daripada harus berada dalam situasi seperti ini.

“Kau mau ke mana, sayang?”tanya Kaileen heran.

“Ke kamar.” Sofia menunjuk ke kamarnya sembari berjalan pelan.

Max yang berada dekat dari wanita itu, menarik Sofia dalam pelukannya. Wanita itu terduduk dalam pangkuan Max. Max memeluknya erat dari belakang. Wajahnya ditenggelamkan pada lekukan leher Sofia. Tubuh Sofia menegang. Ia tidak berani berkutik. Kaileen dan Sean pun langsung terdiam.

Sean dan Kaileen kembali ke kamar mereka untuk istirahat. Sementara Max masih saja duduk dengan Sofia di pangkuannya. Malam semakin larut, Sofia semakin tidak nyaman berlama-lama dalam posisi tersebut.

“Ayo kita istirahat.” Max mematikan televisi.

Sofia mengembuskan napas lega. Ia berpikir bisa kembali ke kamarnya. Namun, Max membawa Sofia menaiki anak tangga. “Ayo ke kamarku.”

Sofia terperanjat.”Ke kamarmu? Apa yang harus kulakukan di sana?”

“Tidak ada.” Max tersenyum sembari terus menuntun Sofia ke kamarnya.

Kamar Max sangat besar, rapi, dan wangi. Sofia mematung di tempat sembari menatap Max yang tengah menutup tirai.

“Ayo ke sini!”

Sofia berjalan perlahan. Tubuhnya yang ringan seketika sudah dalam rengkuhan lelaki itu. Max membaringkan Sofia di atas ranjang empuknya. Lalu, Max berbaring di sebelah Sofia. Ia memeluknya dengan begitu hangat.

Max mengusap-usap wajah Sofia dan menatapnya intens. Sofia tidak membalas tatapan Max. Max merapatkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka begitu dekat. Sofia menatap Max. Napas Max menderu mengenai wajah Sofia. Lalu ia merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirnya. Sofia terbelalak, Max tengah melumat bibirya dengan lembut.

Max kembali menatap Sofia, kemudian memeluk dan berbisik.”Selamat tidur, Honey.”

Sofia sangat sulit menyadarkan dirinya. Ciuman Max masih terngiang-ngiang dan terasa berkedut di bibirnya. Ini seperti tindakan yang tidak dibenarkan. Namun, ia diperlakukan sangat lembut dan penuh cinta. Ia tidak akan pernah bisa menolaknya.

Bab 3

Sofia menggeliat ketika merasakan sentuhan pada pipinya. Ia mengusapnya karena merasa gatal. Ternyata itu adalah Kaileen yang sedang menciumi pipi Sofia.

“Sayang~”

Mata Sofia terbuka. Ia langsung melihat wajah tampan Kaileen di hadapannya. ”Kai!” Gadis itu langsung terduduk.

Wanita itu terkejut. Entah bagaimana caranya Kaileen duduk di sisi ranjang milik Max. Ia melihat ke arah Max yang ternyata masih tertidur.

“Kai, bagaimana kau ada di sini?” Sofia berbisik karena takut membangunkan Max.

“Kamar Max tidak pernah dikunci.” Kaileen menunjuk ke pintu yang terbuka lebar.”Tidak ada rahasia di antara kami.”

“Oh begitu. Maafkan aku. Aku kaget.”

Kaileen memperhatikan penampilan Sofia yang baik-baik saja.”Tampaknya kau terlihat baik-baik saja.”

Sofia mengernyit.”Memangnya aku harus terlihat tidak baik?”

Kaileen tertawa geli.”Harusnya begitu. Kupikir Max sudah menelanmu hidup-hidup. Ternyata dia bisa bertahan, sungguh di luar dugaan.”

Sofia terdiam karena tidak mengerti maksud dari ucapan Kaileen.

“Ayo ikut aku,”ajak Kaileen.

“Ke mana?”

“Ikut sajalah,”kata Kaileen yang tidak ingin mengatakan tujuannya.

“Aku harus berpamitan dengan Max,”kata Sofia sembari melihat ke adah Max yang tengah terlelap. Mungkin saja Max akan mencarinya karena mereka tidur bersama semalam.

“Pergilah bersama Kai, Honey. Aku akan menyusul.” Max menjawab dengan mata yang setengah terpejam.

“Oh, baiklah.” Sofia tersenyum malu karena ternyata Max mendengar pembicaraan mereka.

Sofia turun dari ranjang dengan hati-hati.

Kaileen tersenyum senang, ia membawa Sofia bersamanya. Pria itu membawa Sofia ke dalam toilet pribadi Kaileen. Ia sudah menyiapkan air di dalam bak mandi.

“Apa ini?” Sofia tercekat.

“Kita akan mandi. Tenang saja, airnya hangat.”

Sofia mulai panik.”Aku bisa mandi sendiri.”

“Tidak ada salahnya kita mandi bersama.”

Kaileen melepaskan piyama Sofia. Wanita itu menutupi bagian intim tubunnya. Kaileen menatapnya kagum. “Tubuhmu seperti salju, kau terlihat sangat rapuh.”

Sofia segera masuk ke dalam bak mandi dan menenggelamkan dirinya. Kaileen ada di sisi bak mandi, pria itu tidak ikut serta masuk ke dalamnya. Ia mengusap-usap pundak Sofia dengan sponge.

“Aku bisa melakukannya, Kai.” Wajah Sofia terasa panas,”aku malu, Kai, biarkan aku melakukan sendiri.”

“Kau tidak perlu malu mulai sekarang. Tidak perlu menyembunyikan apa pun dari kami. Kau adalah milik kami yang berharga,”bisik Kaileen.

“Tapi, kenapa harus seperti itu? Aku butuh penjelasan,”kata Sofia.

Kaileen memegang dagu Sofia dan menatap gadis itu lekat-lekat.”Bukankah kau yang datang sendiri ke rumah ini? Kau menyerahkan dirimu pada kami untuk dilindungi dan disayangi. Aku sedang melakukan hal tersebut.”

“Kalian sedang apa?”Sean muncul di ambang pintu. Sofia semakin canggung karena ia bertelanjang di dalam bak mandi.

“Aku sedang memandikannya.” Kaileen menjawab dengan santai.

“Apa aku boleh bergabung?” Sean menghampiri bak mandi dan duduk di sisi bak. Ia menyentuh air dan mengusap pundak Sofia. Sofia bagaikan seorang ratu yang sedang dilayani oleh selir-selirnya.

“Bagaimana tidurmu bersama Max?”

“Hmmm~aku tidur nyenyak.” Sofia merasa bingung dengan pertanyaan Sean.

“Max tidak melakukan apa pun pada Sofia,”kata Kaileen pada Sean.

“Wah, sangat tidak terduga.” Sean tertawa.

“Memangnya seharusnya Max melakukan apa padaku?” Gadis itu menatap Sean dengan penuh tanya.

“Tidak ada, cantik, kau tidak perlu memikirkannya. Ngomong-ngomong~kau terlihat seksi kalau dalam keadaan basah seperti ini.” Sean mengusap bibir Sofia,”aku akan masuk ke dalam air.”

Sean melepaskan pakaiannya. Sofia segera membuang pandangannya. Dalam hitungan detik, Sean sudah ada dalam satu bak mandi bersamaanya. Bak mandi berbentuk lingkaran itu cukup besar. Cukup untuk tiga sampai empat orang, tetapi, mereka harus sedikit berdesakan.

Melihat Sean sudah masuk, Kaileen ikut masuk ke dalamnya.

Sean duduk di sebelah Sofia, kulit mereka bersentuhan hingga memercikkan gairah. Sean memindahkan Sofia ke pangkuannya dan memeluk gadis itu. Sofia tertegun saat merasakan bokongnya menduduki sesuatu yang keras. Ia berusaha menyingkirkannya dengan tangan. Namun, Sean mengeluarkan desahan saat Sofia menyentuhnya.

“Ah, kau membuatku tegang.”

“Sial, kau bicara apa?”tanya Kaileen.

“Dia memegang milikku.”

Sofia langsung panik meskipun tidak tahu situasi yang sebenarnya.”Ma-maafkan aku. Kalau begitu, aku harus kembali ke tempat semula.”

“Jangan, Cantik, duduk tenang di pangkuanku.” Sean merengkuh tubuh Sofia dan menciumi pundak wanita itu.

Kaileen mendekat, meraih wajah Sofia dan melumat bibirnya. Suara lumatan Kaileen mengundang hasrat Sean untuk menyentuh dua gundukan kenyal milik Sofia.

Sofia melenguh dalam lumatan Kaileen. Puncak dadanya mengeras karena Sean menyentuhnya. Dalam beberapa saat, mulut Sean sudah menyentuh puncak dadanya. Lidahnya menyapu puncak dada Sofia. Gadis itu menggelinjang diserang dari berbagai arah. Tangan Kaileen ikut meremas dada Sofia, lalu satu tangannya turun menuju pusat diri Sofia di bawah sana. Jemarinya mengusap milik Sofia dengan lembut. Sofia mendesah saat merasakan jemari Kaileen mulai memasukinya.

Sean mencecapi puncak dada Sofia. Satu tangannya memegang miliknya yang mengeras. Suara desahan Sofia membuat ia ingin mengeluarkan cairan miliknya. Kaileen berdiri, mengarahkan miliknya ke mulut Sofia. Mau tidak mau Sofia mengulumnya, mengikuti kata hatinya saja. Rasanya sangat tidak nyaman, mengulum benda yang besar dan keras tersebut. Namun, Kaileen tampak menikmatinya. Pria itu tampak memejamkan mata ketika miliknya masuk ke dalam mulut Sofia.

Max yang masih setengah tidur mendengar suara desahan Sofia. Sesekali ia mendengar erangan Sean dan Kaileen. Ia tahu apa yang sedang dilakukan kedua adiknya itu. Max tahu, mereka tidak akan mendahului Max. Namun, suara desahan itu sangat memanggil Max untuk datang.

Max tiba di toilet milik Kaileen dan melihat pemandangan yang membuatnya kesal. Sean sudah tanpak lemas bersandar di bak mandi. Sementara Kaileen baru saja menyemburkan cairannya ke dada dan mengenai wajah Sofia.

“Kenapa mengenai wajahnya, Kai?” Max menghampiri Sofia dan membersihkan wajah wanita itu.

“Aku terlalu bersemangat, maafkan aku, sayang.” Kaileen mengecup kepala Sofia.

“Max~” Sofia memanggilnya lirih.

Gerakan Max terhenti, ia melihat raut wajah kesedihan Sofia. Sepertinya ia terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ia membersihkan wajag Sofia dengan cepat.”Sebaiknya kamu mandi di kamarku saja.”

Sofia mengangguk setuju. Max membantunya bangkit dan mengenakan baju handuk. Max menatap Sean dan Kaileen.”Lain kali lakukan dengan lembut!”

“Bagaimana kami melakukannya dengan lembut jika tidak memasukinya? Kau saja belum melakukannya,”sahut Kaileen yang sesang mengatur napas.

“Kalian langsung pergi kerja saja. Biar aku yang mengurus Sofia.” Max membawa Sofia ke kamarnya.

“Kau mandi di sini, ya, akan kubiarkan kau sendirian. Aku tunggu di sini,”kata Max.

Sofia mengangguk dan memasuki toilet. Ia sempat menitikkan air mata atas kejadian yang baru saja ia alami.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED