Hujan begitu deras. Angin berembus kencang dan beberapa ranting pohon patah. Jarak pandang pengendara sangat dekat. Oleh karena itu tidak ada orang berkendara yang lewat. Semua orang memilih untuk diam di rumah. Namun, seorang gadis dengan gaun selututnya yang lusuh berjalan dengan sekuat tenaga. Di tangannya ada tas besar berisi pakaian yang sudah pasti ikut basah terkena hujan. Meskipun ia kedinginan, ia terus berjalan menuju sebuah rumah.
Ia meletakkan tasnya di lantai depan pintu. Teras rumah membuatnya tidak terkena hujan. Ia bisa bernapas lega. Setidaknya ia sudah tiba pada tujuan. Untunglah alamat ini tidak sulit dicari sesuai dengan instruksi orang yang ditanyainya di jalan sebelum hujan.
Gadis bernama Sofia itu menekan bel sembari menggigil. Ia menunggu beberapa saat, tidak ada jawaban sama sekali. Wanita itu menarik napas panjang. Ia mencoba menekan sekali lagi. Mungkin saja penghuninya tidak mendengar bunyi bel. Atau bisa saja di rumah ini memang tidak ada orang sama sekali. Sofia mematung. Air menetes dari gaunnya membasahi teras rumah tersebut.
Pintu rumah terbuka. Pria dengan celana pendek biru muda dan hodie hitam muncul. Ia terlihat bingung melihat ada wanita di teras rumahnya.
“Kau kehujanan?” tanyanya langsung.
Pria itu berpikir kalau gadis tersebut sedang menumpang berteduh.
Sofia mengangguk.”Iya.”
“Tidak apa-apa, kau boleh berteduh sampai hujan reda. Tapi, kau basah~kau boleh masuk untuk mengeringkan badan.”
Melihat keramahan pria tersebut Sofia menjadi bingung. “Ehmm~sebenarnya tujuanku memang ke rumah ini.”
Pria itu tertegun.”Ke rumah ini? Kau mencari siapa?”
“Maximillan,Kaileen, dan~Sean.”
Kening pria itu mengkerut.”Tapi, aku tidak mengenalmu. Kau siapa? Lalu, kenapa mencari kami?”
“Namaku Sofia Miller. Katanya aku masih memiliki kekerabatan dengan kalian. Aku juga tidak tahu pasti, tapi, aku~” Ucapan Sofia terhenti karena ia merasakan tubuhnya membeku.
Pria itu adalah Maximillan. Ia langsung menyadari bahwa Sofia kedinginan. Sungguh tega ia membiarkan gadis itu berdiri cukup lama.”Ah, masuklah lebih dulu.” Max meraih tas Sofia yang basah lalu membawanya ke ruang laundry. Ia segera memasukkan semuanya ke mesin pengering.
“Oh, ya, Sofia~kau harus mengeringkan tubuhmu dan berganti pakaian. Setelah itu baru kita bicara.” Max tidak tega melihat wanita terlihat menderita. Apa lagi wajah Sofia terlihat sangat polos.
“Baik terima kasih.”
“Ini pakaian Ibuku, pakai saja.” Max menyerahkan gaun hitam milik ibunya yang tertinggal di ruang laundry. Tak lupa ia memberikan handuk baru.
Sofia bergegas mengeringkan tubuh dan mengganti pakaiannya sebelum sekujur tubuhnya membeku. Sementara itu, Max menyiapkan minuman hangat dan cemilan untuk tamu tidak diundang tersebut.
Sofia kembali dengan wajah pucatnya karena kedinginan. Ia melihat Max sedang menyajikan minuman hangat.
“Silakan duduk, Sofia.”
Sofia duduk dengan hati-hati.”Terima kasih, maaf merepotkanmu. Siapa namamu? Maksudku, kau ini Max, Sean, atau Kaileen?”
“Namaku Max, aku anak tertua di rumah ini. Minumlah dulu.” Max menyerahkan secangkir cokelat hangat.
Sofia menyesapnya. Suasana hatinya langsung menghangat bersama dengan sekujur tubuhnya.”Terima kasih.”
“Sekarang ceritakan kenapa kau datang ke sini mencari kami?”
“Ayahku meninggal dan aku tinggal bersama Ibu tiriku. Lalu, dia menikah lagi dan aku diminta untuk pergi. Karena aku sebatang kara, salah satu tetanggaku menyuruhku mencari keluarga dari Ibuku. Mereka memberi tahu alamat ini.”
“Kau ini~” Max berusaha mengingat siapa saja keluarga Ibunya.
“Kita mungkin tidak saling kenal. Ibuku juga tidak pernah memperkenalkan keluarganya padaku,”kata Sofia dengan ragu. Cerita yang ia bawa akan sulit dipercaya.
“Aku akan menghubungi Ibuku untuk memastikan. Kau tunggu di sini, ya? Nikmati minuman dan makanan ini.” Max bangkit untuk mengambil ponselnya.
Sofia duduk terdiam cukup lama karena Max tidak kunjung muncul. Ia mulai merasa tidak nyaman. Seharusnya ia memilih tinggal sendirian saja. Namun, ia tidak memiliki apa pun yang bisa ia gunakan untuk hidup sendiri.
“Sofia~” Max muncul sembari tersenyum lembut.
“Max~apa Ibumu memberi tahu sesuatu?”tanya Sofia penuh harap.
Max mengangguk.”Iya. Ibuku tinggal di tempat yang jauh dari sini. Dia datang sesekali menjenguk kami. Ibuku mengenalmu, Sofia. Jadi, kau memang anggota keluarga kami. Maaf kalau aku tidak mengenalmu sebelumnya.”
Sofia mengembuskan napas lega. Perjalanannya yang panjang tidak sia-sia.”Apa aku bisa bertemu dengan Ibumu?”
“Dia sedang melakukan perjalanan. Dia akan datang bulan depan. Tetapi, kau tidak perlu khawatir karena kami akan mengurus segala keperluanmu,”kata Max.
“Jadi, apa maksudnya?”
“Mulai sekarang kau akan tinggal di rumah ini bersama kami. Jadi, kau tidak perlu khawatir dengan rasa kesendirianmu.”
Sofia merasa sedikit aneh karena Max menerimanya begitu saja tanpa banyak bertanya lagi. “Terima kasih, maaf telah merepotkanmu.”
Max bangkit, kemudian menuju sebuah pintu.”Ini adalah kamar tamu. Untuk sementara ini kamarmu, ya. Memang kecil, tapi, ini nyaman untuk istirahat.”
“Tidak masalah. Jika ada kamar di belakang juga aku tidak masalah,”kata Sofia sungkan. Tiba-tiba saja Max berubah menjadi sangat baik padanya, walaupun sejak ia datang pria itu sudah sangat baik.
“Tidak, Sofia. Ini adalah kamarmu. Kau boleh istirahat sekarang.”
Sofia mengangguk dengan penuh rasa sungkan. “Nanti saja. Di mana Kaileen dan Sean?”
“Mereka sedang sibuk, jadi, hanya ada aku di rumah ini. Mereka akan segera kembali. Aku akan memperkenalkannya denganmu nanti.” Max menghampiri Sofia dan memegang tangannya,”tanganmu dingin sekali, ayo istirahat saja.”
“Tap-tapi,” Sofia tidak kuasa menolak. Ia memang sedang kedinginan sekaligus kelelahan akibat perjalanan panjang. Namun, ia merasa tidak enak hati jika ia langsung istirahat. Ia adalah tamu di rumah ini.
Max menepuk ranjang yang empuk.”Kebetulan sekali seisi rumah baru dibersihkan. Sepertinya semesta sudah tahu kau akan datang. Berbaringlah.”
Sofia menatap Max dengan bingung. Karena Sofia mematung di tempat, pria itu segera menarik Sofia dan membaringkannya. Setelah itu ia menyelimuti Sofia. Selimut tebal dan halus itu mampu menghangatkan tubuh Sofia seketika.
“Terima kasih, Max, tubuhku sudah mulai hangat.”
Max duduk di sisi ranjang.”Syukurlah kalau begitu. Kau bisa langsung istirahat.”
“Tapi, kenapa? Maksudku, aku baru datang. Aku ini orang asing. Kenapa kau memperlakukanku dengan sangat baik. Padahal ini pertemuan pertama kita.”
“Ibuku sudah konfirmasi bahwa kau adalah
keluarga Ibu. Ya status kita adalah saudara sepupu. Selain itu, Ibu yang memintaku menjagamu dengan sebaik-baiknya. Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa. Hanya saja, aku tidak pernah membantah Ibu. Jadi, kau tidak perlu mempertanyakan hal ini,”jelas Max sembari mengusap-usap tangan Sofia.
“Terima kasih.” Sofia menatap Max lekat-lekat. Rasanya seperti mimpi ia bisa bernapas dengan tenang di bawah rumah yang nyaman. Meskipun ini sedikit membingungkan, Sofia berusaha menerima apa pun yang terjadi. Ia harus mensyukurinya.
“Tidurlah yang nyenyak. Aku akan datang lagi nanti kalau kau sudah bangun.”
“Baik.” Sofia ingin terpejam ketika Max sudah pergi. Namun, rasa kantuk melandanya. Dalam hitungan detik pandangannya terasa gelap dan ia pun tidur.
Tubuh Sofia terasa ringan dan hangat. Perasaannya terasa tenang dan damai. Wanita itu mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Sofia mencium aroma yang enak, bukan makanan, tetapi seperti wangi yang memabukkan. Ia sulit menjelaskan aroma apa yang sedang menusuk ke hidungnya. Sofia mengerjap, lalu ia melihat ada dua orang pria tengah menatapnya di sisi ranjang.
Sofia langsung tersentak.”Kalian siapa?”
“Halo, cantik, kau sudah bangun, ya?” Pria berambut gelap dengan mata cokelat menatap Sofia takjub,”kau cantik sekali.”
Sofia menatap kedua pria itu dengan bingung.”Ka-kalian mengenalku?”
“Namaku, Kaileen.”
“Namaku Sean.” Sean adalah pria berambut lurus dan gelap dengan mata cokelat. Wajahnya terlihat sangat muda dan terlihat sangat manis dan tampan. Sementara Kaileen memiliki mata tajam dengan rambut sedikit bergelombang berwarna cokelat tua dan bermata cokelat.
“Kalian masih di sini?” Max muncul sembari bersandar di pintu.
“Max~” Sofia lega karena Max ada di antara mereka. Sofia pasti akan canggung menghadapi Sean dan Kaileen. Sofia memandang ketiga pria itu, mereka sangat mirip. Namun, di antara ketiganya Max yang sangat menonjol. Segala hal yang ada pada lelaki itu semuanya mendapat nilai sempurna.
“Ini Sean dan Kaileen. Mereka langsung pulang begitu mendengar kau ada di sini. Maaf kalau mereka mengagetkanmu,”kata Max. Pria itu sudah mengganti pakaiannya.
Sean memegang tangan Sofia.”Mulai sekarang kau adalah milik kami.”
“Jangan bicara sembarangan,”kata Kaileen menggeram,”kau bisa membuatnya takut.”
Sean tersenyum manis pada Sofia.”Ayo kita makan, kau pasti kelaparan.”
“Tapi, sebelum itu kau harus melihat ini dulu.” Kaileen menunjukkan beberapa kantong belanja. Ia mengeluarkan sebuah gaun cantik. Ini pertama kalinya Sofia melihat gaun secantik itu.”Kau harus memakainya.”
“Aku sudah ada gaun.” Sofia menunjukkan gaun yang sedang ia pakai.
“Itu gaun Ibu, tidak cocok denganmu. Ini semua kubelikan untukmu.”Kaileen menyodorkan semua yang ia beli di perjalanan pulang.
“Kalian membuatnya takut.” Max menyela di antara Kaileen dan Sean. Ia menghampiri Sofia dan membantunya bangun,”ayo, kita makan malam.”
Sofia menelan ludahnya. Karena Max orang pertama yang ia temui, maka ia langsung menurut pada lelaki tersebut.
Sean dan Kaileen mengikuti hingga ke ruang makan. Makanan enak sudah tersaji di atas meja berbentuk bundar. Sean dan Kaileen terus memandangi Sofia hingga wanita itu menjadi canggung.
“Jika kalian terus begitu, Sofia tidak akan bisa makan,”protes Max.
“Ah, baiklah aku akan makan juga,”jawab Sean.
“Bagaimana makanannya, Sofia?” Max bertanya karena Sofia terlihat diam saat menikmati makan malamnya.
“Sangat enak.” Sofia melirik ke arah Kaileen dan Sean.
Max memegang tangan kiri Sofia.”Sofia, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan aku, Kai, dan juga Sean. Kau akan tinggal bersama kami mulai sekarang.”
“Aku tidak menyangka akan mendapatkan kehidupan yang luar biasa. Aku akan membersihkan rumah dan melakukan apa pun yang aku bisa. Kalian bisa mengatakan padaku makanan apa yang kalian suka. Aku akan memasakkannya setiap hari.”
“Tidak. Kau tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun di sini!”kata Sean dengan suara tegas.
Sofia tersentak.”Aku~hanya ingin membantu. Anggap saja aku bekerja pada kalian. Kalian tidak perlu memberiku gaji. Aku hanya butuh tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, aku juga akan mencari pekerjaan baru.”
“Tidak begitu, sayang~”Suara Kai terdengar begitu lembut. Namun, Sofia kaget karena mendapat panggilan seperti itu.”Kau tidak boleh melakukan apa pun di rumah ini, itu akan membuatmu kelelahan. Kami yang akan melakukannya sendiri.”
“Tap-tapi, aku ini perempuan, harus melakukan pekerjaan rumah. Lagi pula tidak ada yang bisa kulakukan di sini selain membantu kalian.” Sofia semakin bingung dengan situasi ini. Mana mungkin ia tidak melakukan apa pun. Ia kan sedang menumpang.
“Nanti kami akan meminta sesuatu padamu ketika kami membutuhkan. Kau cukup tinggal di rumah ini dan menemani kami. Menjadi bagian dari hidup keluarga ini,”kata Kaileen lagi.
Sofia menatap Max yang tidak banyak bicara dalam hal ini. Max membalas tatapan Sofia, ia tersenyum dan mengangguk. Kemudian wajahnya menunduk mengecup bibir Sofia. Tubuh Sofia membatu. Wajah gadis itu merona seketika dan segera mengalihkannya dengan menghabiskan makan malam.
Setelah selesai makan malam, Sofia mengganti pakaiannya dengan piyama yang dibelikan oleh Sean. Mereka duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Sofia duduk di sofa. Sean memeluk pundak Sofia dan merapatkan tubuhnya. Kaileen tidak mau kalah, ia duduk di sisi yang kosong dan menggenggam tangan wanita itu. Sementara Max hanya menyaksikan kelakuan keduanya dengan tenang.
“Malam ini kau tidur denganku saja,”kata Sean yang menatap Sofia dengan sangat dekat.
Sofia menelan ludahnya.”Ah, itu~aku sudah ada kamar sendiri.”
“Kalian membuatnya takut saja. Dia sulit bergerak jika kalian terus menghimpitnya,”kata Max mengingatkan. Kaileen dan Sean pun menggeser posisi duduk mereka agar Sofia lebih leluasa.
“Sofia, apa kau pernah berkencan dengan seorang pria?”tanya Sean yang selalu blak-blakan.
Sofia menggeleng.”Tidak pernah.”
“Wah, ada apa dengan pria di sana. Mereka tidak melihat wanita secantik kamu, ya?” Sean memainkan rambut Sofia yang panjang dan bergelombang. Rambutnya sangat indah. Sangat selaras dengan wajah cantiknya yang bagaikan boneka.
“Bukankah itu bagus? Kita akan menjadi pria pertama bagi Sofia,”sahut Kaileen.
“Aku jarang bergaul dengan banyak orang karena aku harus melakukan banyak pekerjaan rumah.” Sofia memberikan sedikit penjelasan. Hidupnya memang tidak menarik karena ia hanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Banyak orang yang tidak menyadari keberadaannya.
Kaileen meraih tangan Sofia dan mengusapnya lembut. “Kau melakukan banyak pekerjaan rumah? Pantas saja tanganmu banyak luka.”
Sean meraih tangan Sofia yang lainnya. Ia menatap tangan itu dengan sedih kemudian mengecupnya.”Tanganmu tidak akan terluka lagi.”
Sofia tersenyum kikuk dan menyembunyikan tangannya secara perlahan.”Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan. Tapi, ini bukan luka yang serius. Ini biasa terjadi pada orang yang mengerjakan urusan rumah tangga.”
“Begitu, ya, yang terpenting kau tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun,”kata Kaileen menegaskan.
“Ah,itu~baiklah.” Sofia tidak ingin memperdebatkannya lebih panjang.
“Sofia, kamar tamu sangat kecil. Bagaimana kalau kau pindah ke kamarku saja?” Sean masih berusaha membujuk Sofia.
“Kamarku tidak sempit.”
“Tapi, tetap saja aku ingin terus bersamamu.”
Sofia merasa sifat dan sikap ketiga pria di rumah ini sangat aneh. Meskipun masih ada hubungan saudara, ia tetaplah wanita asing yang datang. Namun, sikap ketiganya justru sangat manis dan baik. Mereka terus menempel pada dirinya.
“Maaf, tapi, aku di kamar itu saja.” Sofia bangkit. Ia ingin kembali ke kamarnya daripada harus berada dalam situasi seperti ini.
“Kau mau ke mana, sayang?”tanya Kaileen heran.
“Ke kamar.” Sofia menunjuk ke kamarnya sembari berjalan pelan.
Max yang berada dekat dari wanita itu, menarik Sofia dalam pelukannya. Wanita itu terduduk dalam pangkuan Max. Max memeluknya erat dari belakang. Wajahnya ditenggelamkan pada lekukan leher Sofia. Tubuh Sofia menegang. Ia tidak berani berkutik. Kaileen dan Sean pun langsung terdiam.
Sean dan Kaileen kembali ke kamar mereka untuk istirahat. Sementara Max masih saja duduk dengan Sofia di pangkuannya. Malam semakin larut, Sofia semakin tidak nyaman berlama-lama dalam posisi tersebut.
“Ayo kita istirahat.” Max mematikan televisi.
Sofia mengembuskan napas lega. Ia berpikir bisa kembali ke kamarnya. Namun, Max membawa Sofia menaiki anak tangga. “Ayo ke kamarku.”
Sofia terperanjat.”Ke kamarmu? Apa yang harus kulakukan di sana?”
“Tidak ada.” Max tersenyum sembari terus menuntun Sofia ke kamarnya.
Kamar Max sangat besar, rapi, dan wangi. Sofia mematung di tempat sembari menatap Max yang tengah menutup tirai.
“Ayo ke sini!”
Sofia berjalan perlahan. Tubuhnya yang ringan seketika sudah dalam rengkuhan lelaki itu. Max membaringkan Sofia di atas ranjang empuknya. Lalu, Max berbaring di sebelah Sofia. Ia memeluknya dengan begitu hangat.
Max mengusap-usap wajah Sofia dan menatapnya intens. Sofia tidak membalas tatapan Max. Max merapatkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka begitu dekat. Sofia menatap Max. Napas Max menderu mengenai wajah Sofia. Lalu ia merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirnya. Sofia terbelalak, Max tengah melumat bibirya dengan lembut.
Max kembali menatap Sofia, kemudian memeluk dan berbisik.”Selamat tidur, Honey.”
Sofia sangat sulit menyadarkan dirinya. Ciuman Max masih terngiang-ngiang dan terasa berkedut di bibirnya. Ini seperti tindakan yang tidak dibenarkan. Namun, ia diperlakukan sangat lembut dan penuh cinta. Ia tidak akan pernah bisa menolaknya.
Sofia menggeliat ketika merasakan sentuhan pada pipinya. Ia mengusapnya karena merasa gatal. Ternyata itu adalah Kaileen yang sedang menciumi pipi Sofia.
“Sayang~”
Mata Sofia terbuka. Ia langsung melihat wajah tampan Kaileen di hadapannya. ”Kai!” Gadis itu langsung terduduk.
Wanita itu terkejut. Entah bagaimana caranya Kaileen duduk di sisi ranjang milik Max. Ia melihat ke arah Max yang ternyata masih tertidur.
“Kai, bagaimana kau ada di sini?” Sofia berbisik karena takut membangunkan Max.
“Kamar Max tidak pernah dikunci.” Kaileen menunjuk ke pintu yang terbuka lebar.”Tidak ada rahasia di antara kami.”
“Oh begitu. Maafkan aku. Aku kaget.”
Kaileen memperhatikan penampilan Sofia yang baik-baik saja.”Tampaknya kau terlihat baik-baik saja.”
Sofia mengernyit.”Memangnya aku harus terlihat tidak baik?”
Kaileen tertawa geli.”Harusnya begitu. Kupikir Max sudah menelanmu hidup-hidup. Ternyata dia bisa bertahan, sungguh di luar dugaan.”
Sofia terdiam karena tidak mengerti maksud dari ucapan Kaileen.
“Ayo ikut aku,”ajak Kaileen.
“Ke mana?”
“Ikut sajalah,”kata Kaileen yang tidak ingin mengatakan tujuannya.
“Aku harus berpamitan dengan Max,”kata Sofia sembari melihat ke adah Max yang tengah terlelap. Mungkin saja Max akan mencarinya karena mereka tidur bersama semalam.
“Pergilah bersama Kai, Honey. Aku akan menyusul.” Max menjawab dengan mata yang setengah terpejam.
“Oh, baiklah.” Sofia tersenyum malu karena ternyata Max mendengar pembicaraan mereka.
Sofia turun dari ranjang dengan hati-hati.
Kaileen tersenyum senang, ia membawa Sofia bersamanya. Pria itu membawa Sofia ke dalam toilet pribadi Kaileen. Ia sudah menyiapkan air di dalam bak mandi.
“Apa ini?” Sofia tercekat.
“Kita akan mandi. Tenang saja, airnya hangat.”
Sofia mulai panik.”Aku bisa mandi sendiri.”
“Tidak ada salahnya kita mandi bersama.”
Kaileen melepaskan piyama Sofia. Wanita itu menutupi bagian intim tubunnya. Kaileen menatapnya kagum. “Tubuhmu seperti salju, kau terlihat sangat rapuh.”
Sofia segera masuk ke dalam bak mandi dan menenggelamkan dirinya. Kaileen ada di sisi bak mandi, pria itu tidak ikut serta masuk ke dalamnya. Ia mengusap-usap pundak Sofia dengan sponge.
“Aku bisa melakukannya, Kai.” Wajah Sofia terasa panas,”aku malu, Kai, biarkan aku melakukan sendiri.”
“Kau tidak perlu malu mulai sekarang. Tidak perlu menyembunyikan apa pun dari kami. Kau adalah milik kami yang berharga,”bisik Kaileen.
“Tapi, kenapa harus seperti itu? Aku butuh penjelasan,”kata Sofia.
Kaileen memegang dagu Sofia dan menatap gadis itu lekat-lekat.”Bukankah kau yang datang sendiri ke rumah ini? Kau menyerahkan dirimu pada kami untuk dilindungi dan disayangi. Aku sedang melakukan hal tersebut.”
“Kalian sedang apa?”Sean muncul di ambang pintu. Sofia semakin canggung karena ia bertelanjang di dalam bak mandi.
“Aku sedang memandikannya.” Kaileen menjawab dengan santai.
“Apa aku boleh bergabung?” Sean menghampiri bak mandi dan duduk di sisi bak. Ia menyentuh air dan mengusap pundak Sofia. Sofia bagaikan seorang ratu yang sedang dilayani oleh selir-selirnya.
“Bagaimana tidurmu bersama Max?”
“Hmmm~aku tidur nyenyak.” Sofia merasa bingung dengan pertanyaan Sean.
“Max tidak melakukan apa pun pada Sofia,”kata Kaileen pada Sean.
“Wah, sangat tidak terduga.” Sean tertawa.
“Memangnya seharusnya Max melakukan apa padaku?” Gadis itu menatap Sean dengan penuh tanya.
“Tidak ada, cantik, kau tidak perlu memikirkannya. Ngomong-ngomong~kau terlihat seksi kalau dalam keadaan basah seperti ini.” Sean mengusap bibir Sofia,”aku akan masuk ke dalam air.”
Sean melepaskan pakaiannya. Sofia segera membuang pandangannya. Dalam hitungan detik, Sean sudah ada dalam satu bak mandi bersamaanya. Bak mandi berbentuk lingkaran itu cukup besar. Cukup untuk tiga sampai empat orang, tetapi, mereka harus sedikit berdesakan.
Melihat Sean sudah masuk, Kaileen ikut masuk ke dalamnya.
Sean duduk di sebelah Sofia, kulit mereka bersentuhan hingga memercikkan gairah. Sean memindahkan Sofia ke pangkuannya dan memeluk gadis itu. Sofia tertegun saat merasakan bokongnya menduduki sesuatu yang keras. Ia berusaha menyingkirkannya dengan tangan. Namun, Sean mengeluarkan desahan saat Sofia menyentuhnya.
“Ah, kau membuatku tegang.”
“Sial, kau bicara apa?”tanya Kaileen.
“Dia memegang milikku.”
Sofia langsung panik meskipun tidak tahu situasi yang sebenarnya.”Ma-maafkan aku. Kalau begitu, aku harus kembali ke tempat semula.”
“Jangan, Cantik, duduk tenang di pangkuanku.” Sean merengkuh tubuh Sofia dan menciumi pundak wanita itu.
Kaileen mendekat, meraih wajah Sofia dan melumat bibirnya. Suara lumatan Kaileen mengundang hasrat Sean untuk menyentuh dua gundukan kenyal milik Sofia.
Sofia melenguh dalam lumatan Kaileen. Puncak dadanya mengeras karena Sean menyentuhnya. Dalam beberapa saat, mulut Sean sudah menyentuh puncak dadanya. Lidahnya menyapu puncak dada Sofia. Gadis itu menggelinjang diserang dari berbagai arah. Tangan Kaileen ikut meremas dada Sofia, lalu satu tangannya turun menuju pusat diri Sofia di bawah sana. Jemarinya mengusap milik Sofia dengan lembut. Sofia mendesah saat merasakan jemari Kaileen mulai memasukinya.
Sean mencecapi puncak dada Sofia. Satu tangannya memegang miliknya yang mengeras. Suara desahan Sofia membuat ia ingin mengeluarkan cairan miliknya. Kaileen berdiri, mengarahkan miliknya ke mulut Sofia. Mau tidak mau Sofia mengulumnya, mengikuti kata hatinya saja. Rasanya sangat tidak nyaman, mengulum benda yang besar dan keras tersebut. Namun, Kaileen tampak menikmatinya. Pria itu tampak memejamkan mata ketika miliknya masuk ke dalam mulut Sofia.
Max yang masih setengah tidur mendengar suara desahan Sofia. Sesekali ia mendengar erangan Sean dan Kaileen. Ia tahu apa yang sedang dilakukan kedua adiknya itu. Max tahu, mereka tidak akan mendahului Max. Namun, suara desahan itu sangat memanggil Max untuk datang.
Max tiba di toilet milik Kaileen dan melihat pemandangan yang membuatnya kesal. Sean sudah tanpak lemas bersandar di bak mandi. Sementara Kaileen baru saja menyemburkan cairannya ke dada dan mengenai wajah Sofia.
“Kenapa mengenai wajahnya, Kai?” Max menghampiri Sofia dan membersihkan wajah wanita itu.
“Aku terlalu bersemangat, maafkan aku, sayang.” Kaileen mengecup kepala Sofia.
“Max~” Sofia memanggilnya lirih.
Gerakan Max terhenti, ia melihat raut wajah kesedihan Sofia. Sepertinya ia terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ia membersihkan wajag Sofia dengan cepat.”Sebaiknya kamu mandi di kamarku saja.”
Sofia mengangguk setuju. Max membantunya bangkit dan mengenakan baju handuk. Max menatap Sean dan Kaileen.”Lain kali lakukan dengan lembut!”
“Bagaimana kami melakukannya dengan lembut jika tidak memasukinya? Kau saja belum melakukannya,”sahut Kaileen yang sesang mengatur napas.
“Kalian langsung pergi kerja saja. Biar aku yang mengurus Sofia.” Max membawa Sofia ke kamarnya.
“Kau mandi di sini, ya, akan kubiarkan kau sendirian. Aku tunggu di sini,”kata Max.
Sofia mengangguk dan memasuki toilet. Ia sempat menitikkan air mata atas kejadian yang baru saja ia alami.