Bab 1

Kanya terbangun dari tidurnya dengan perasaan aneh. Ia seperti bermimpi , namun mimpinya terasa nyata. Seolah ia bisa merasakan setiap sentuhan, aroma dan suasana yang terjadi dalam mimpinya. Bukan...bukan mimpi buruk, karena hatinya penuh dengan rasa sukacita yang membuncah. Ia memijat dahinya berusaha mengingat tentang apa mimpinya tersebut, namun semakin ia berusaha mengingatnya semakin ia merasakan desakan di dadanya. Suatu luapan kebahagiaan yang ia sendiri tak tahu mengapa dan karena apa. Akhirnya ia memutuskan ke dapur untuk membuat coklat panas agar pikirannya lebih tenang.

Ia menghirup aroma coklat dalam dalam, berharap agar ingatan akan mimpinya kembali, namun nihil. Ia mengenal setiap detail dalam mimpinya. Sangat menyatu dengan jiwanya hingga ia sulit mengungkapkan apa yang sebenranya ia rasakan. "Itu mimpi apa kenyataan ya? Apa aku tidur sambil berjalan?"gumamnya sambil menatap cangkir coklat hangatnya. "Rasanya ada seseorang yang ku kenal dimimpiku, Tapi, siapa ya?" Ia kembali bertanya pada dirinya sendiri.

Kanya memejamkan matanya, mencoba membayangkan sentuhan yang ia rasakan dalam mimpinya. Sentuhan hangat. Terlalu hangat hingga ia merasakan kenyamanan. "Apakah itu sebuah pelukan? Seseorang memelukku?" batinnya. Ia tersenyum membayangkan seseorang memeluknya dengan erat, namun ia lalu menepis khayalannya. " Astaga! Kanya sadar!!! Kamu sudah punya tunangan." Ia meneriaki dirinya ketika bayangan Asad, tunangnanya berkelebat dalam otaknya. "Huff" Kanya menghembuskan nafas kesal karena rasa penasaran yang belum tertuntaskan. "Apa jangan jangan aku memimpikan Asad?" terkanya. "Masa sih Asad?' ketidakyakinan menhampirinya karena aroma yang ia cium bukanlah aroma parfum Asad.

Sudah hampir sebulan Kanya bermimpi yang sama. Ia juga selalu terbangun dengan perasaan yang sama. Bahagia sekaligus penasaran. Tak jarang ketika ia membuka matanya ia mendapati senyuman di bibirnya. Senyuman yang membuat hari harinya terasa berbeda. Ada semangat baru yang menyelimuti dirinya. Semangat yang membuatnya terarah dalam melakukan pekerjaannya sebagai seorang announcer di radio . Ia menjadi tepat waktu, fokus bekerja dan tidak bawel seperti biasanya.

"Ouch" Kanya merasakan kepalaya berdenyut. Ia bergegas menghabiskan coklat panasnya, kemudian kembali ke kamarnya. Saat sakit kepalanya kembali datang, ia buru buru berbaring dan berusaha menutup mata. "Sakit kepala yang aneh" gumamnya. "Sakit kepala kok datangnya setiap terbangun dari tidur." Lanjutnya sambil memegangi kepalanya. Akhirnya tak lama kemudian sakit kepalanya hilang dan rasa kantuk yang luar biasa kembali datang. Setelah menguap, Kanya pun tertidur lagi.

***

"Kanya..." Kanya menoleh dan ada seraut wajah pria yang ia rasa mengenalnya namun ia lupa siapa gerangan yang memanggilnya dengan lembut itu. Jari-jari pria itu menggenggam erat tangannya seolah tak rela jika ia harus terbangun dari mimipinya. "Aku merindukanmu..." bisiknya dan membuat Kanya tersipu. Dalam hatinya ia pun merasakan kerinduan yang sangat luar biasa, namun ia masih bingung. Bingung karena ia merasa begitu dekat dan nyaman dengan si pemilik suara lembut itu, namun ia lupa dimana mereka pernah bertemu dan berkenalan.

Keduanya terdiam. Hanya irama syahdu yang mengalir ke pembuluh darah mereka. Mereka saling menikmati genggaman yang semakin erat dan sentuhan kulit mereka saat duduk berdampingan. Kanya ingin bertanya, namun ia mendadak bisu. Bibirnya terkunci rapat. Ia hanya mampu memandangi wajah tampan yang sedang tersenyum ke arahnya. "Kamu siapa?" tanyanya dalam hati.

Bagai mengetahui isi hati Kanya, pria itu tertawa kecil memamerkan lesung pipinya dan membuat Kanya semakin merasakan kerinduan. " Aku kembaran jiwamu" ujarnya masih dengan senyum yang tersungging hangat. "Kembaran jiwa?" Kanya mencoba menelaah maksud dari perkataan pria tersebut, namun tiba tiba saja pria itu menhadiahinya sebuah pelukan. "Aku akan selalu menjagamu" tuturnya sambil mengelus punggung Kanya. " Sekian ratus purnama aku lalui tanpamu, akhirnya kali ini aku menemukanmu" ujarnya lagi, sementara Kanya masih bergelut dengan perasaannya yang tidak menentu antara bingung dan bahagia. "Sebentar lagi takdir akan mempertemukan kita" kali ini ia tak hanya memeluk tapi juga mengecup kening Kanya dan entah kenapa kerinduan yang merajai hati Kanya semakin menjadi hingga bulir bulir bening berjatuhan seirama dengan detak jantungnya yang terdengar semakin cepat. "Rindu...aku juga rindu..." ia semakin membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan pria misterius itu. Aroma wangi tubuh pria itu menguar membaui indra penciuman Kanya. Terasa nyata. Ia semakin terbawa kesedihan akan kerinduan yang tak terkira. Rasanya telah bearabad abad ia menantikan pelukan ini. Kanya terisak isak. Air matanya semakin deras dan sebelum ia sempat meluapkan rasa ingin tahunya, kembali ia terbangun dari mimpinya.

BRUGG!

Kanya terjatuh dari tempat tidur. Dadanya sesak menahan kerinduan. Ia merasakan pipinya basah. Masih dengan nafas yang memburu, ia berusaha bangkit. Perlahan ia mulai mengatur nafasnya untuk menenangkan diri. Setelah mereda, ia berusaha mengingat kembali mimpinya. Wajah pria dalam mimpinya semakin jelas. Ia dapat mengingat tawa dan senyuman serta tatapan hangatnya, namun ia belum pernah bertemu secara langsung di kehidupan nyata. Anehnya, ia merasa begitu dekat denga pria itu. Ia merasa mereka telah melalui hari hari bersama dalam suka dan duka.

"Kembaran jiwa" Kanya mengulang perkataan pria tersebut. "Apa ya artinya? " ia berusaha menebak, namun ia tak pasti akan jawabannya. "Apakah dia jodohku?" Batinnya. Namun, seketika ia teringat bahwa dirinya telah bertunangan. "Aduh, jangan sampai bikin malu keluarga , Kanya!" umpatnya kepada dirinya sendiri. "Asad adalah pria baik yang ditakdirkan untuk bersamaku" tegasnya dalam hati. "Dia yang terbaik yang Tuhan berikan untukku" ia mengafirmasi positif ke dirinya.

Jam di dinding menunjukkan pukul 4 pagi, bertepatan dengan bel yang berbunyi sebanyak empat kali. Kanya memutuskan untuk surfing internet dan tidak akan meneruskan tidur, mengingat jam tujuh pagi ia sudah harus berada di radio, yang berarti ia harus sudah siap berangkat dari rumahnya pukul 6 pagi atau ia akan terlambat untuk siaran pagi. "Kembaran jiwa", Kanya mengetik kata tersebut di mesin pencarian google. Ada beberapa lagu dengan judul separuh jiwa, ada juga puisi puisi tentang belahan jiwa dan terakhir muncullah laman zodiak dengan simbol api berwarna oranye dan biru.

Mengikuti rasa ingin tahunya, Kanya membuka laman tersebut. Ia tersenyum ketika melihat isinya adalah ramalan mengenai sifat setiap zodiak. Ia terkekeh kekeh membaca zodiaknya, Virgo. Sesekali ia berusaha mencocokkan sifatnya dengan artikel yang ia baca. Kemudian ia membuka artikel lain di laman tersebut. Satu quote membuatnya tertegun.

Every soul has a twin, a reflection of themselves – the kindred spirit. No matter where they are or how far away they are, even in different dimensions, they will always find another. This is destiny; this is love. – Julie Dillon

Bab 2

“A bond between souls is ancient — older than the planet.” — Dianna Hardy

***

Kumba menatap langit senja yang berwarna jingga. Entah mengapa ia begitu menyukai suasana senja.Sisa-sisa hangat mentari yang menyapu kulit memberikan sensasi tersendiri akan sebuah kenangan masa lalunya. Ya...kenangan di kehidupannya yang lampau. Menyeramkan bukan, ketika suatu pagi dirimu terbangun dan mendapati semua kenangan masa lalumu dengan seseorang yang begitu kau cinta terlukis jelas dalam ingatanmu, hingga kau merasakan kehadirannya di setiap jalan ataupun tempat yang pernah ia datangi.

Kumba, seorang pengusaha muda yang sedang merintis usaha kuliner rumahan, sebulan yang lalu terbangun dari tidurnya karena sebuah mimpi yang membuat hari-harinya berubah total. Dalam mimpinya , ia memeluk seorang gadis mungil dengan mata indah yang mempesona. Ia bahkan sempat mencium kening gadis tersebut sambil berujar bahwa ia adalah kembaran jiwa gadis itu. Kejadian mengejutkan terjadi ketika ia bangun tidur setelahnya. Kelebatan masa lalunya bersama gadis di dalam mimpinya mulai bermunculan seperti slide film. Silih berganti dengan berbagai adegan bahagia hingga kesedihan dan kemarahan.

Ia mengingat aroma wangi tubuh gadis itu ketika bergelayut manja dilengannya. Ia merasakan kehangatan ketika gadis itu memeluknya dari belakang di sebuah pesta meriah. Ia juga merasakan nafasnya yang menderu ketika mengejarnya di kala gadis itu marah kepadanya dan memutuskan untuk pergi. Bahkan rasa sakit melihat gadis itu menangis pun terasa menyiksanya.

Semakin aneh dan menyiksa karena ia merasakan kerinduan yang begitu dalam. Kumba mampu merasakan apa yang sedang dirasakan gadis itu walaupun ia tidak tahu dimana kini gadis dalam mimpinya itu berada. Namun, di belahan bumi manapun gadis itu tinggal, ia bisa merasakan kesedihan, kegembiraan dan kemarahannya. Kumba bisa tiba tiba tersenyum sendiri, atau bahkan merasa begitu kesal dan sedih. Ia tahu makanan kesukaan gadis itu, apa yang suka ia lakukan, warna favoritnya, hewan kesayangannya dan apa yang membuatnya bahagia. Kumba tahu semua.

Ketika Kumba melangkahkan kakinya kemana pun, ia juga dapat mengetahui jika sebelumnya gadis itu pernah melewati jalan yang ia lalui. Begitu pula jika ia berkunjung ke suatu tempat. Ia merasakan kehadiran gadis itu tepat sebelum ia mendatangi tempat tersebut. Aneh bukan? Kumba merasa seolah olah ia adalah cenayang.

Namun satu kenangan yang tidak dapat ia ingat adalah kenangan tentang senja. Mengapa ia jadi begitu menyukai suasana senj?. Sesibuk apa pun, ia akan menyempatkan dirinya untuk menikmati senja di luar ruangan. Menghirup udara di waktu senja yang terkadang bercampur dengan bau tanah sehabis hujan memberikan kesan damai tersendiri untuknya. Merasakan hembusan angin yang seolah ingin menerbangkan dirinya ke suatu masa dimana ia merasakan keindahan cinta. Senja, menjadi rahasia untuk dirinya.

Sambil menikmati senja kali ini, Kumba berjalan melewati sebuah taman dengan pepohonan rindang di kanan kiri jalannya. Riuh rendah suara anak-anak yang akan pulang dari bermain tidak menghalangi Kumba untuk terus melangkah. Ia tidak tahu kemana kali ini langkahnya akan terhenti. Ia mengikuti instingnya untuk berbelok di sudut taman ke arah pertokoan. Ia mematung sebentar, menatap deretan toko seolah olah mencari sesuatu. Ia lalu tersenyum lega ketika mendapati sebuah toko perhiasan antik masih buka . ia bergegas mempercepat lajunya , khawatir toko itu akan segera tutup.

Bunyi bel berdenting ketika Kumba memasuki toko itu. “ Hai, paman” sapanya pada seorang laki laki tua dengan janggut putih. “Kumba!” lelaki yang dipanggil paman tersebut terlihat begitu gembira ketika Kumba mengunjungi tokonya. Ia lalu memeluk Kumba denga erat. “Apa kabar? Bagaimana kabar ayah ibumu?” tanyanya dengan bersemangat.

“ Baik paman. Kabarku baik, begitu pula ayah dan ibu” Jawab Kumba. “Paman dan bibi serta anak anak paman bagaimana kabarnya?” Kumba balik bertanya. “Mereka baik baik semua. Mereka sedang sibuk menyiapkan makan malam di atas. Kamu harus makan disini hari ini. Kamu kan sudah lama tidak mengunjungi paman. Padahal kata ayahmu kamu sudah tiga bulan di Kota ini, eh baru sekarang kamu datang” Oceh Paman Kumba. Kumba terkikik melihat amarah pamannya. “Paman Kala ini kalau sudah ngoceh susah berhentinya” canda Kumba.”Aman paman, aku akan makan malam disini. Jangan lupa teh rempah kesukaanku yang biasa bibi buat juga harus ada.” Lanjutnya dan lelaki tua yang bernama Kala itu tertawa senang. “Ayo kita keatas” Ajaknya sumringah.”Pasti bibimu akan terkejut melihatmu” Paman Kala menarik tangan Kumba ke arah tangga.

“Ayo, paman!” balas Kumba tak kalah bersemangat. Ia melewati etalase etalase kaca yang berisi perhiasan perhiasan antik milik pamannya. Beberapa dari perhiasan itu sudah cukup usang hingga harus di cuci terlebih dahulu agar warnanya kembali berkilau. Ketika melewati etalase sebuah kalung dengan liontin bergambar api berhiaskan permata berwarna oranye dan biru, Kumba menghentikan langkahnya. Ia teringat gadis dalam ingatan masa lalunya memakai kalung itu.

“Paman” ia memanggil pamannya yang sudah sampai di ujung tangga.Demi mendengar panggilan keponakannya, Paman Kala turun kembali. Ia mendapati Kumba memandang tak berkedip ke sebuah kalung dengan liontin unik. Ia lalu menghela nafas panjang. “Itu adalah kalung “twinflame”. Itu milik keluarga kita. Konon katanya itu milik seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya” Paman Kala menjelaskan secara singkat asal usul kalung tersebut.

“Bolehkah aku membelinya?” tanya Kumba spontan. Paman Kala membuka etalasenya dan mengambil kalung tersebut. “Ambillah. Ini pusaka keluarga. Anggap ini hadiah dari paman untuk calon istrimu kelak” ujar Paman Kala sambil tersenyum.Kumba menerimanya dengan ragu.”Apakah tidak menjadi masalah jika aku menyimpannya?” tanya Kumba sambil memandangi keindahan kalung itu. Paman Kala menepuk bahu Kumba. “Menurut cerita kuno di keluarga kita, jika seorang pria dalam keluarga kita menginginkan kalung ini, berarti sebentar lagi ia akan menemukan kembaran jiwanya. Dari sekian banyak keponakanku yang mengunjungiku, hanya kamu yang meminta kalung ini. Jadi, ambilah. Kalung ini berjodoh denganmu.”

Kumba mengucapkan terima kasih kepada pamannya. Matanya berbinar-binar melihat kalung yang kini berada di genggamannya. “Oh iya paman, tadi paman bilang tentang kembaran jiwa. Istilah apa itu?” Tanya Kumba penasaran. Paman Kala tersenyum penuh arti. “ Paman tidak bisa menjelaskannya Kumba, karena itu sebuah hubungan spiritual yang paman sendiri pun tidak mengerti bagaimana cara kerjanya. Kamu hanya harus menunggu. Itu saja” Kali ini Kumba mengangguk dan mengikuti langkah pamannya menuju lantai atas sambil bergumam dalam hati “Kembaran jiwa. Lagi-lagi istilah itu muncul. Apa sih kembaran jiwa itu?”

Bab 3

“I hear them say 'Why do I miss someone I haven’t even met?' How about not missing someone because it feels like they’ve been with you all along?”

― Nicola An, 'The Universe at Heartbeat'.

***

Kanya berjalan gontai memasuki kantornya dan bergegas menuju ruang siaran, karena ia akan segera mengudara. Gara-gara mimpi aneh yang berulang, ia jadi kurang tidur. Di tambah, sakit kepalanya yang tiba-tiba datang membuatnya jadi sedikit lemah. Namun, ia tahu ia mempunyai kewajiban dalam pekerjaannya. Lagipula, ia suka bekerja di radio. Ia dapat bekerja dengan santai sambil mendengarkan lagu. Terkadang ia juga berkesempatan bertemu orang-orang hebat untuk ia wawancarai di acaranya. Sungguh, ini adalah pekerjaan yang mengasyikkan selama ia mengenal dunia kerja.

“Woii....Kanyaaaa!!!” Suara Mina si operator lagu sekaligus sahabat Kanya menggelegar ketika Kanya memasuki ruang siaran.

Kanya memegangi dadanya karena terkejut. Ia lalu mentap Mina dengan judes. “Wai...woi..wai..woi! Jantungan aku!” protes Kanya dan Mina tertawa terbahak bahak.

“Aku senang banget lihat kamu semangat kerja , Nya. Datang on time, nggak banyak protes soal lagu. Uh...gemesin!” Mina mencubit kedua pipi Kanya dengan gemas. Kanya mengusap pipinya yang terasa sakit.

“Giliran datang on time dikomentari, datang telat apalagi” Kanya manyun dan Mina sekali lagi tertawa melihat tingkah sahabatnya.

“Iya iya, sebagai permintaan maafku, nanti kita nongkrong cantip di cafe baru yang kemaren kita diskusi itu. Cafe apaan sih namanya? “ Mina berusaha mengingat nama cafe baru yang promosinya ada di mana-mana, baik di radio, dan di media sosial.

“Cafe Atlantiz?” tebak Kanya.

“Nah itu!” Mina mengiyakan. “Cafe Atlantis. Kayak nama kapal yang tenggelam aja, deh.”lanjutnya dan Kanya tertawa geli.

“Kapal yang tenggelam itu Titanic, Mina! Kalau kota yang hilang, baru namanya Atlantis.”ralat Kanya dan Mina ikut tertawa.

“Oh iya! Biasa, belum ngemil, jadi bawaan nggak fokus.” Mina berkilah, menutupi rasa malunya karena alah menyebut antara Titanic dan Atlantis.

“Tapi kamu yang traktir ya, kan udah bikin aku jantungan soalnya” rajuk Kanya dan Mina emngacungkan jempol tanda setuju.

“Eh mau lagu pembuka apa nih? Jam segini enaknya sih lagu yang syahdu melow dan romantis” saran Mina.

“Kita program coffe break kan nih? Berarti ngasih info ringan ringan aja kan?” Kanya memastikan dan Mina mengangguk.

“Informasi yang mau aku baca mana aja nih? “ Kanya membolak balik kertas di atas meja Mina.

“ Yang ini. “ Mina menyerahkan beberapa lembar kertas ke Kanya.

”Oke , sip!” Kanya langsung duduk di singasana kebesarannya, sementara Mina mulai bersiap siap dengan mixer-nya. “Hm...request lagu pembuka,dong” Tiba-tiba Kanya ingin mendengarkan sebuah lagu.

“Iya boleh, lagu apa?” tanya Mina.

“Lagu ‘Rinduku’-Ghea” jawab Kanya dan Mina tersenyum simpul.

“Duh...yang lagi kangen sama tunangan” ledek Mina.

Kanya tersenyum hambar. “Kangen Asad?” Ia menyebut nama tunangannya dalam hati.

Sayangnya, sedikit pun ia tak merasakan kerinduan pada Asad. Ia merindukan sosok pria dalam mimpinya. Sosok pria yang terasa begitu dekat dengannya. Bahkan, tanpa bertemu pun ia tahu bahwa ia mencintai pria itu jauh dari sebelum ia menjalin asmara bersama Asad. Perasaan yang aneh, namun menyenangkan. Seolah ia ditantang untuk menyelami lautan luas tanpa tepi.

Dari hari ke hari, kerinduan itu semakin menggebu-gebu. Kanya seolah-olah melihat kilasan perjalanan kisah kasih antara dirinya dan pria berlesung pipi di dalam mimpinya itu. Ketika ia melewati sungai, ia tiba tiba merasakan kehadirannya dan pria itu pada suatu masa. Ia sekilas merasakan sejuknya air saat ia dan pria tersebut merendam kaki di tepi sungai. Sewaktu ia menemani mamanya ke pinggir kota dan beristirahat di pinggir jalan, ia tahu bahwa dulu ia dan pria dalam mimpinya juga pernah melakukan hal yang sama dengannya saat itu, yaitu duduk santai dipinggir jalan sambil bercanda.

Ia juga mampu merasakan sentuhan lembut ketika pria itu menyeka keringat di dahinya, menghapus sisa mkanan di bibirnya dan membelai tangannya ketika hatinya sedang merasa gundah. Sentuhan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Asad, tidak pernah seromantis itu padanya. Kanya juga terkadang dapat merasakan kehangatan mengelilinginya, seolah pria itu mendekapnya erat. Ia merasakan dirinya dipenuhi oleh cinta, berjuta cinta yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Nyaman dan aman. Itulah yang selalu ia rasakan ketika ia teringat pada sosok yang entah siapa nama dan dimana tinggalnya atau bahkan apakah sosok itu hidup atau tidak.

Lalu, lamunannya buyar ketika matanya menatap cincin emas yang melingkar anggun dijari manisnya. Walaupun kemungkinan bertemu pria dalam mimpinya adalah nihil, namun entah mengapa perasaannya begitu dalam dan ia merasa mengkhianati Asad. “Huff” Kanya menghembuskan nafas menyembunyikan kegalauannya. Ia jadi ingin memikirkan ulang tentang pertunangannya. Iya, memikirkan ulang. Pria dalam mimpinya itu sangat berbeda jauh dengan Asad. Benar-benar pria idamannya. Lalu Kanya menggeleng cepat. “Jangan gila, Kanya.”ingatnya pada dirinya sendiri.

Namun, Kanya tahu bahwa setiap hal pasti memiliki kemungkinan.“ Bagaimana jika pria itu nyata?” gumamnya. “Jika dia nyata, apakah dia juga merasakan seperti yang aku rasakan? Aku harus bagaimana jika akhirnya bertemu dengannya? Apakah aku harus pura-pura tidak mengenalnya? Atau aku justru harus menjauhinya? Lalu asad bagaimana? Apakah ia harus melepaskanya?” dalam kegundahan hatinya, suara mendayu nan merdu Ghea mengalun indah melantunkan lagu “Rinduku”.

Rindu. Ia merasakan rindu yang berbeda. Rindu akan sesuatu yang dia sendiri tidk mengetahuinya pada siapa rindu ini akan berlabuh. Hanya dengan mengingat sekilas mimpinya saja, ia merasakan desir-desir indah dalam hatinya. Jiwanya seakan bernyanyi dan menjadikan kerinduan itu sebuah irama penuh misteri. Bukan, bukan rindu yang menyiksa hingga ia sulit bernafas. Bukan pula rindu yang membuat air matanya jatuh berderai. Ini sebuah kerinduan tentang kisah asmara yang berbalut ketulusan. Ini rindu tentang hujan yang membuat dua insan saling berpelukan. Rindu tentang gemericik air terjun yang membuat dua jiwa bebas berlari melintasi rintangan. Rindu tentang deru angin yang menhempaskan semua beban. Ini rindu yang penuh mimpi-mimpi dan harapan.

Kanya menatap jauh ke depan dengan pandangan kosong. Entah apa yang membuatnya menikmati setiap inci kerinduan yang menyelimutinya saat ini. Apakah ia berhalusinasi? Atau bahkan sudah gila? Kanya akhirnya hanya terdiam menghayati lagu dengan lirik melankolis tersebut. Sesekali ia menarik nafas mencoba mengempaskan kegundahannya. Ia bingung dengan semua kejadian yang menghampirinya dan menimbulkan banyak pertanyaan yang belum tentu dapat terjawab dengan akal sehat. “ Apakah aku punya kehidupan masa lalu yang belum usai?” tanyanya dalam hati. “Apakah ini sebuah karma?” Lanjutnya, namun tetap ia tak tahu apa jawabannya. Rasanya aneh ketika merindukan seseorang yang sama sekali belum pernah ditemui di kehidupan nyata, namun terasa sudah mengenalnya begitu lama. Keanehan yang nyaman.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED